click here for the word frequency
Sejarah Al-Qur’an: Rejoinder
Mengkaji sejarah Al-Qur’an dengan melihat proses-proses pembentukannya, baik pada masa Nabi dan masa-masa sesudahnya sangat penting, untuk mengingatkan kita selalu bahwa Al-Qur’an adalah manifestasi manusiawi dari kalamullah. Seperti juga kitab-kitab suci lainnya di dunia ini, Al-Qur’an memiliki keterbatasan-keterbatasan pada lingkup kebahasaan dan kesejarahan di mana ia diturunkan.
Oleh: Luthfi Assyaukanie
Pertama-tama,
saya ingin mengucapkan terimakasih kepada siapa saja yang telah memberikan
komentar dan kritik terhadap artikel saya tentang “Merenungkan Sejarah Al-Qur’an”
yang dipublikasikan di website Jaringan Islam Liberal (JIL). Pada mulanya,
artikel itu adalah bagian dari refleksi kegiatan spiritual saya selama bulan
Ramadhan. Pada bulan itu, saya mencoba membaca Al-Qur’an dengan model bacaan
saya sendiri yang menurut saya lebih berkesan dan mempengaruhi intensitas
keberagamaan saya. Secara khusus, saya membaca beberapa buku Nasr Hamed Abu Zayd
dan juga beberapa artikel yang ditulis oleh sarjana Al-Qur’an dari Barat. Saya
selalu terobsesi untuk membaca karya-karya semacam ini, sebagai “balance” (penyeimbang)
dari bacaan saya selama ini yang terlalu banyak dengan karya-karya apologetis.
Saya pikir, rasanya kurang adil kalau saya hanya mensuplay ke dalam memori
pikiran saya pengetahuan apologetis saja.
Inilah latar belakang mengapa artikel itu saya tulis. Semula saya ragu
menuliskan apa yang saya baca. Tapi, rasanya masih terus ada yang mengganjal
kalau belum ditulis. Ketika menulis artikel itu, saya mendapat panduan dari
karya-karya sarjana Al-Qur’an dari Barat untuk membuka kitab-kitab klasik
seperti kitab al-masahif, al-fihrist, al-itqan, dan al-burhan. Saya beruntung
karena semua kitab itu bisa saya dapatkan, sehingga saya bisa merujuk setiap
klaim yang dibuat oleh para sarjana Al-Qur’an dari Barat itu.
Saya pikir, para sarjana Al-Qur’an dari Barat atau yang biasa disebut dengan
nada permusuhan sebagai “orientalis” itu telah banyak berjasa bagi tradisi
kesejarahan Al-Qur’an. Saya bukan tidak sadar bahwa sebagian dari mereka,
seperti dengan baik telah diperlihatkan oleh para kritikus orientalis semacam
A.L. Tibawi dan Edward Said, adalah para sarjana yang bekerja untuk kepentingan
proyek kolonialisme dan penaklukkan dunia Islam. Tapi, saya meyakini, tidak
semua mereka seburuk apa yang dicurigai kaum Muslim. Dunia sekarang ini sudah
sangat terbuka dan tanpa batas. Akses kepada informasi bisa diperoleh semua
orang dengan mudah. Apa yang dikatakan oleh para orientalis itu bisa kita rujuk
dan buktikan ke sumber-sumber aselinya. Dan ini yang saya coba lakukan dalam
menulis artikel itu.
Untuk menulis artikel singkat itu, saya merujuk semua buku yang disebut para
orientalis, khususnya kitab al-masahif karya Ibn Abi Daud, al-Fihrist karya Ibn
Nadiem, dan al-Itqan karya al-Suyuthi. Dalam artikel itu, sengaja saya tidak
menyebut nama orientalis satupun, karena saya sadar bahwa kaum Muslim memiliki
apriori dan prasangka yang luar biasa pada nama-nama mereka. Saya pikir, kalau
saya kutip nama-nama orientalis itu, paling-paling artikel saya akan dicampakkan
begitu saja. Agaknya, ini yang pernah terjadi dengan rekan saya, Taufik Adnan
Amal, yang lebih piawai, lebih ahli, dan lebih produktif dari saya dalam
menuliskan sejarah Al-Qur’an. Namun, hanya karena tulisan-tulisan dia sarat
dengan nama-nama seperti Jeffrey, Wansborough, dan semacamnya, tulisan-tulisan
itu tampaknya tidak banyak diperhatikan orang. Di website JIL sendiri, ada tiga
artikel Taufik, yang menurut saya, memiliki pesan yang sama dengan refleksi yang
saya buat.
Para pengkritik dan pengecam artikel saya berusaha dengan tak sabar ingin
mendengar pengakuan dari saya bahwa saya merujuk kepada orientalis, agar
kemudian mereka bisa berteriak: “tuh kan Luthfi ujung-ujungnya pake orientalis.”
Saya sedih jika ada yang berkomentar seperti ini. Seolah-olah, ilmu itu milik
umat Islam saja, dan yang boleh meneliti sesuatu hanya orang Islam saja.
Sedangkan orang lain, apalagi orang di luar Islam, meskipun mereka punya
keahlian untuk itu, dianggap tak layak, dan bahkan kalau perlu dianggap “najis”
yang harus dicampakkan. Padahal Sayyidina Ali jauh-jauh hari sudah mengingatkan
kita: Undzur ma qaala wa la tandhur man qaala (lihat apa yang dikatakan, dan
jangan lihat siapa yang berkata). Para ulama mantiq (ahli logika) jauh-jauh hari
juga sudah mengingakan agar kita jangan mudah terjatuh pada apa yang mereka
sebut sebagai ughluthat al-askhash (ad hominem), yakni menghukumi sebuah
pendapat semata-mata melihat siapa yang berkata, dan bukan apa yang dikatakan.
Bagi saya, kajian para orientalis telah membuka banyak dimensi tak terpikirkan
dari sejarah Al-Qur’an selama ini. Pada gilirannya, kerja keras dan
temuan-temuan mereka bisa digunakan untuk menjelaskan apa yang selama ini
menjadi concern ulama dan intelektual Muslim. Bagaimanapun, kritik teks (khususnya
teks-teks suci) adalah disiplin baru yang tak memiliki preseden dalam sejarah
intelektualisme umat manusia. Di masa silam, teks-teks suci dianggap sebagai
korpus tertutup yang sudah selesai dan tak boleh diganggu-gugat. Siapa saja yang
mencoba mengkritisinya, dia akan dianggap “murtad,” “kafir,” “zindiq,” atau
istilah-istilah lain yang sejenis. Untuk membentengi kesucian dan kemaksuman
kitab suci, mitos-mitos pun diciptakan, misalnya seperti masalah i’jazul Qur’an
(e.g. angka 19, dll). Siapa saja yang menolak mitos-mitos ini, juga akan dicap
dengan istilah-istilah seram di atas. Itulah yang terjadi dengan banyak ulama
dan intelektual Muslim yang mencoba “membaca” Al-Qur’an dengan perspektif lain,
seperti yang dialami oleh Arkoun, Syahrour, dan Abu Zayd.
Kajian historis terhadap Al-Qur’an membantu kita, di antaranya, untuk
menjelaskan persoalan-persoalan klasik hubungan antara wahyu, kitab suci, dan
risalah kenabian, secara umum. Selanjutnya, masalah ini juga dapat membantu kita
menjelaskan peran dan fungsi agama-agama di dunia ini bagi umat manusia. Saya
menganggap kajian Al-Qur’an dengan melihatnya sebagai sebuah satu-kesatuan kitab
suci dan sekaligus melihat detil-detil peristiwa kesejarahannya yang manusiawi,
seperti kita memahami sejarah alam semesta. Menurut para astrofisikawan, alam
semesta tak bisa dipahami kecuali kita menggabungkan dua teori utama: (i) yang
berkaitan dengan hal-hal maha-besar seperti big bang, gravitasi, dan ekspansi;
dan (ii) hal-hal maha-kecil seperti quantum, singularity, dan string. Begitu
juga Al-Qur’an, ia tak bisa dipahami dengan baik jika kita hanya melihat satu
dimensi saja dan mengabaikan dimensi lainnya. Menurut saya, dimensi historis Al-Qur’an
adalah modal penting bagi kita memahami fungsi dan peran Al-Qur’an yang
sesungguhnya.
Dari kajian sejarah pembentukan Al-Qur’an, kita mengetahui bahwa kitab suci ini
berkembang dengan sangat dinamis, berinteraksi dengan kehidupan umat manusia,
yang kadang sangat bersifat lokal dan temporal. Ayat-ayat yang dimulai dengan
pertanyaan-pertanyaan para sahabat Nabi, misalnya (yas’alunaka anil khamr, anil
ahillah, anil mahidh, dan seterusnya), adalah refleksi dari kehidupan yang
dijalani Nabi dan para sahabatnya. Kasus-kasus seperti minuman keras dan
menstruasi (yang disebutkan dalam ayat yas’alunaka itu), adalah persolan manusia
di dunia yang muncul tiba-tiba karena desakan situasi yang dihadapi para sahabat
nabi saat itu. Dengan kata lain, jika tidak ada situasi yang mendesak tersebut,
maka ayat-ayat tentang khamar dan menstruasi akan absen dari Al-Qur’an.
Fenomena lokal-temporal yang dijumpai dalam ayat-ayat Al-Qur’an telah lama
menjadi kajian para ulama dan ilmuwan Muslim. Dalam ‘Ulum al-Qur’an dan juga
Ushul al-Fiqh, mereka menciptakan kaedah-kaedah yang tujuannya meuniversalkan
pesan-pesan Al-Qur’an, seperti al-’ibrah bi ‘umum al-lafdh la bi khusus al-sabab
(mendahulukan kata-kata yang umum di atas sebab-sebab yang khusus).
Kaedah-kaedah seperti ini sangat membantu dalam menafsirkan Al-Qur’an, tapi
tidak membantu dalam menyelesaikan persoalan-persoalan yang lebih substansial
yang umumnya dihadapi oleh para filsuf Muslim di masa klasik dan intelektual
Muslim di masa modern, menyangkut hubungan antara risalah kenabian, kitab suci,
posisi Allah, wahyu, dan beragamnya agama-agama di dunia.
Para filsuf Muslim klasik mencoba menjelaskan persoalan-persoalan itu dengan
menggunakan analisa-analisa yang rumit yang hanya dipahami oleh kalangan
tertentu, khususnya mereka yang mempelajari disiplin filsafat. Al-Farabi
misalnya menjelaskan proses turunnya wahyu Allah kepada Nabi Muhammad sebagai
proses yang sepenuhnya bersifat psikologis (al-nafsiyyah). Agen penyampai wahyu
yang umumnya disebut “Jibril” hanyalah salah satu daya (quwwah) saja yang ada
dalam diri manusia. Setiap manusia, secara potensial (bil quwwah), memiliki daya
kenabian, hanya saja intensitas kenabian itu berbeda satu dengan lainnya. Daya
kenabian yang dimiliki Nabi Muhammad merupakan yang terbesar, sehingga dia mampu
mengaktualisasikan wahyu Tuhan dari potensi (bil quwwah) menjadi kenyataan (bil
fi’il).
Dalam proses aktualisasi wahyu dari bil quwwah menjadi bil fi’il ada sejumlah
proses reduksi. Hal ini lumrah belaka, karena pesan-pesan Allah yang universal
disampaikan dalam bentuk bahasa manusia, yakni bahasa Arab, yang tunduk pada
aturan-aturan retoris, gramatis, semantik, leksikal, dan sintaks. Bahasa Arab
bukanlah bahasa baru yang muncul tiba-tiba karena Al-Qur’an. Bahasa ini telah
ada sejak lama dan digunakan oleh masyarakat Arabia sebagai alat komunikasi
dalam interaksi sosial, bisnis, puisi, literatur, graffitti, kecaman, dan juga
obrolan-obrolan porno. Puisi-puisi jahiliah yang banyak mengumbar syhawat dan
pornografi diekspresikan dalam bahasa Arab. Puisi-puisi dan literatur yang
dianggap “menyimpang” dari Islam juga ditulis dalam bahasa Arab.
Persoalan utama Al-Qur’an, menurut saya, bukanlah persoalan penafsiran semata,
tapi memahaminya sebagai sebuah produk ilahiah (al-intaj al-ilahy) yang berada
dalam ruang sejarah manusia yang tidak suci dan terbatas. Teks-teks yang
tertulis dalam bahasa Arab yang kemudian disebut “Al-Qur’an” adalah artikulasi
manusia terhadap kalamullah yang abadi dan eternal. Kalamullah yang abadi dan
eternal inilah yang terus dijaga oleh Allah, seperti dijanjikan dalam salah satu
ayatnya (Inna nahnu nazzalna al-dhikra wa inna lahu lahafidhun Q.S. 15:9).
Adapun Al-Qur’an, pada dasarnya adalah sesuatu --meminjam istilah para pemikir
Muktazilah-- “yang diciptakan” (makhluq) dalam kebaharuan (muhdath), dan
karenanya, ia tidak eternal dan tidak abadi.
Upaya koleksi, modifikasi, dan unifikasi, yang dilakukan baik oleh para sahabat
maupun orang-orang yang sesudahnya adalah contoh dari proses-proses keterciptaan
Al-Qur’an dalam ruang yang tidak permanen dan tidak abadi. Menurut Al-Qur’an,
Allah mengutus Nabi Muhammad sebagai pembawa risalah (message), dan risalah itu
bernama “Islam.” Sebagai sebuah risalah, Islam, seperti diberitakan Al-Qur’an,
bukanlah agama yang baru, dan Muhammad bukanlah satu-satunya pembawa risalah.
Sebelumnya, risalah itu telah disampaikan kepada Ibrahim, Musa, dan Isa (Q.S.
42:13). Al-Qur’an menggunakan bahasa Arab. Tidak ada yang unik dari bahasa ini,
karena seperti kata Al-Qur’an sendiri: “Tidaklah kami utus seorang rasul kecuali
dengan bahasa kaumnya, agar ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada
mereka” (Q.S. 14:4). Dengan kata lain, alasan mengapa Al-Qur’an berbahasa Arab
karena semata-mata ia diturunkan kepada orang-orang Arab. Tidak lebih dan tidak
kurang.
Bahasa manusia adalah instrumen komunikasi yang terbatas pada budaya, tempat,
dan waktu di mana ia digunakan. Kosakata dari bahasa selalu berkembang, sesuai
dengan perkembangan zaman. Keterbatasan kosakata Al-Qur’an bukanlah keterbatasan
pesan-pesan Allah (kalamullah) yang universal, tapi keterbatasan bahasa Arab
yang tunduk pada situasi dan kondisi saat Al-Qur’an diturunkan. Sejarah
pembukuan Al-Qur’an adalah sejarah pereduksian kalamullah yang universal dan
eternal. Seperti juga yang terjadi pada kitab-kitab suci lainnya, seperti Taurat,
Injil, Zabur, Al-Qur’an adalah manifestasi dari kalamullah yang eternal dan
universal. Karena manifestasi dilakukan dalam bahasa manusia yang beragam dan
tidak sempurna, maka terjadilah perbedaan-perbedaan di antara kitab-kitab suci
itu (dan selanjutnya juga di antara para pemeluk agama).
Al-Qur’an sendiri adalah produk pemanusiaan (humanizing) pesan-pesan Allah (kalamullah)
yang universal dan eternal. Dalam sejarahnya, ada dua tahap pemanusiaan
kalamullah itu hingga menjadi bentuknya yang kita lihat sekarang. Tahap pertama
adalah tahap pengaturan ayat-ayat yang diturunkan secara kronologis (tartib al-nuzul)
menjadi urutan bacaan seperti kita kenal sekarang (tartib al-tilawah). Ini
dilakukan pada masa Nabi dan dilengkapi pada masa Uthman bin Affan. Tahap
selanjutnya adalah pemberian tanda baca (tasykil) yang dilakukan sepanjang
sejarah Islam hingga digunakannya mesin cetak pada masa modern.
Seperti kita ketahui, susunan Al-Qur’an yang diturunkan secara kronologis
berbeda dengan susunan yang kita lihat sekarang. Perubahan susunan ini memiliki
dua dampak yang cukup penting: pertama, ia menghancurkan konteks peristiwa dan
kesejarahan setiap wahyu yang diturunkan; dan kedua, ia menjadikan Al-Qur’an
sebagai sebuah bacaan “magis” (karena yang ditekankan bukan makna kronologisnya,
tapi struktur kebahasaannya). Dampak yang terakhir ini kemudian mendorong
sebagian ulama untuk membesar-besarkan apa yang mereka sebut sebagai “i’jaz al-balaghi
al-Qur’ani” (mu’jizat sastrawi Al-Qur’an).
Dalam tulisan saya yang ringkas itu, saya telah berusaha memperlihatkan bahwa
hingga abad ke-4 (masa Ibn Nadiem dan Ibn Abi Daud) dan bahkan hingga abad ke-10
(masa Jalaluddin al-Suyuthi), persoalan penulisan dan penertiban ayat-ayat Al-Qur’an
tetap menjadi isu hangat yang terus diperdebatkan. Tidak ada yang tabu bagi
ulama Islam kala itu untuk mendiskusikan kesejarahan Al-Qur’an. Ibn Nadiem
bebas-bebas saja membuat pernyataan bahwa Mushafnya Ibn Abbas tidak memiliki al-Fatihah,
dan al-Suyuthi bebas-bebas saja meriwayatkan Hadith ‘Aisyah bahwa Mushaf Uthmani
telah menghilangkan surah al-Ahzab dan karenanya Al-Qur’an yang dibuat Uthman
menjadi lebih ramping dari Mushaf yang dimilikinya.
Menurut saya, keyakinan akan imanensi dan permanensi Al-Qur’an, selain
bertentangan dengan prinsip tauhid yang paling asasi (yakni hanya Allah yang
imanen dan permanen, adapun yang lainnya hanyalah manifestasi dari kalam-Nya),
juga bertentangan dengan konteks kesejarahan Al-Qur’an sendiri yang dinamis,
progresif, dan manusiawi.
Mengkaji sejarah Al-Qur’an dengan melihat proses-proses pembentukannya, baik
pada masa Nabi dan masa-masa sesudahnya sangat penting, untuk mengingatkan kita
selalu bahwa Al-Qur’an adalah manifestasi manusiawi dari kalamullah. Seperti
juga kitab-kitab suci lainnya di dunia ini, Al-Qur’an memiliki
keterbatasan-keterbatasan pada lingkup kebahasaan dan kesejarahan di mana ia
diturunkan. Namun demikian, sebagai sebuah manifestasi dari kalamullah, Al-Qur’an
memiliki kesamaan-kesamaan dengan kitab-kitab suci lainnya (yang juga merupakan
manifestasi kalamullah). Aspek kesamaan inilah (dalam bahasa Al-Qur’an disebut
“kalimatun sawaa”) yang harus selalu ditekankan oleh kaum Muslim secara khusus
dan seluruh umat beragama secara umum.
Imani billahi akbar wa huwa khayrul musta’an.
pre- text |
WORD |
post- text |
% |
| Fatihah, dan al-Suyuthi bebas-bebas saja meriwayatkan Hadith | ‘aisyah | bahwa Mushaf Uthmani telah menghilangkan surah al-Ahzab dan | 92 % |
| lah lama menjadi kajian para ulama dan ilmuwan Muslim. Dalam | ‘ulum | al-Qur’an dan juga Ushul al-Fiqh, mereka menciptakan kaedah- | 50 % |
| a meuniversalkan pesan-pesan Al-Qur’an, seperti al-’ibrah bi | ‘umum | al-lafdh la bi khusus al-sabab (mendahulukan kata-kata yang | 51 % |
| s-teks yang tertulis dalam bahasa Arab yang kemudian disebut | “al-qur’an” | adalah artikulasi manusia terhadap kalamullah yang abadi dan | 66 % |
| alu terobsesi untuk membaca karya-karya semacam ini, sebagai | “balance” | (penyeimbang) dari bacaan saya selama ini yang terlalu banya | 7 % |
| ulama untuk membesar-besarkan apa yang mereka sebut sebagai | “i’jaz | al-balaghi al-Qur’ani” (mu’jizat sastrawi Al-Qur’an). Dal | 88 % |
| is (al-nafsiyyah). Agen penyampai wahyu yang umumnya disebut | “jibril” | hanyalah salah satu daya (quwwah) saja yang ada dalam diri m | 56 % |
| llah). Aspek kesamaan inilah (dalam bahasa Al-Qur’an disebut | “kalimatun | sawaa”) yang harus selalu ditekankan oleh kaum Muslim secara | 99 % |
| an; dan kedua, ia menjadikan Al-Qur’an sebagai sebuah bacaan | “magis” | (karena yang ditekankan bukan makna kronologisnya, tapi stru | 86 % |
| jadi dengan banyak ulama dan intelektual Muslim yang mencoba | “membaca” | Al-Qur’an dengan perspektif lain, seperti yang dialami oleh | 36 % |
| n dalam bahasa Arab. Puisi-puisi dan literatur yang dianggap | “menyimpang” | dari Islam juga ditulis dalam bahasa Arab. Persoalan utam | 63 % |
| memberikan komentar dan kritik terhadap artikel saya tentang | “merenungkan | Sejarah Al-Qur’an” yang dipublikasikan di website Jaringan I | 4 % |
| tuk itu, dianggap tak layak, dan bahkan kalau perlu dianggap | “najis” | yang harus dicampakkan. Padahal Sayyidina Ali jauh-jauh hari | 27 % |
| Barat atau yang biasa disebut dengan nada permusuhan sebagai | “orientalis” | itu telah banyak berjasa bagi tradisi kesejarahan Al-Qur’an. | 13 % |
| unik dari bahasa ini, karena seperti kata Al-Qur’an sendiri: | “tidaklah | kami utus seorang rasul kecuali dengan bahasa kaumnya, agar | 73 % |
| ujuk kepada orientalis, agar kemudian mereka bisa berteriak: | “tuh | kan Luthfi ujung-ujungnya pake orientalis.” Saya sedih jika | 25 % |
| adalah sesuatu --meminjam istilah para pemikir Muktazilah-- | “yang | diciptakan” (makhluq) dalam kebaharuan (muhdath), dan karena | 68 % |
| ringkas itu, saya telah berusaha memperlihatkan bahwa hingga | abad | ke-4 (masa Ibn Nadiem dan Ibn Abi Daud) dan bahkan hingga ab | 89 % |
| ad ke-4 (masa Ibn Nadiem dan Ibn Abi Daud) dan bahkan hingga | abad | ke-10 (masa Jalaluddin al-Suyuthi), persoalan penulisan dan | 89 % |
| l-Qur’an” adalah artikulasi manusia terhadap kalamullah yang | abadi | dan eternal. Kalamullah yang abadi dan eternal inilah yang t | 66 % |
| terhadap kalamullah yang abadi dan eternal. Kalamullah yang | abadi | dan eternal inilah yang terus dijaga oleh Allah, seperti dij | 66 % |
| diem bebas-bebas saja membuat pernyataan bahwa Mushafnya Ibn | abbas | tidak memiliki al-Fatihah, dan al-Suyuthi bebas-bebas saja m | 91 % |
| isebut para orientalis, khususnya kitab al-masahif karya Ibn | abi | Daud, al-Fihrist karya Ibn Nadiem, dan al-Itqan karya al-Suy | 18 % |
| mperlihatkan bahwa hingga abad ke-4 (masa Ibn Nadiem dan Ibn | abi | Daud) dan bahkan hingga abad ke-10 (masa Jalaluddin al-Suyut | 89 % |
| tersebut, maka ayat-ayat tentang khamar dan menstruasi akan | absen | dari Al-Qur’an. Fenomena lokal-temporal yang dijumpai dal | 49 % |
| n saya. Secara khusus, saya membaca beberapa buku Nasr Hamed | abu | Zayd dan juga beberapa artikel yang ditulis oleh sarjana Al- | 6 % |
| pektif lain, seperti yang dialami oleh Arkoun, Syahrour, dan | abu | Zayd. Kajian historis terhadap Al-Qur’an membantu kita, d | 37 % |
| agu menuliskan apa yang saya baca. Tapi, rasanya masih terus | ada | yang mengganjal kalau belum ditulis. Ketika menulis artikel | 10 % |
| nya tidak banyak diperhatikan orang. Di website JIL sendiri, | ada | tiga artikel Taufik, yang menurut saya, memiliki pesan yang | 23 % |
| kan Luthfi ujung-ujungnya pake orientalis.” Saya sedih jika | ada | yang berkomentar seperti ini. Seolah-olah, ilmu itu milik um | 25 % |
| api para sahabat nabi saat itu. Dengan kata lain, jika tidak | ada | situasi yang mendesak tersebut, maka ayat-ayat tentang khama | 48 % |
| disebut “Jibril” hanyalah salah satu daya (quwwah) saja yang | ada | dalam diri manusia. Setiap manusia, secara potensial (bil qu | 57 % |
| m proses aktualisasi wahyu dari bil quwwah menjadi bil fi’il | ada | sejumlah proses reduksi. Hal ini lumrah belaka, karena pesan | 59 % |
| aru yang muncul tiba-tiba karena Al-Qur’an. Bahasa ini telah | ada | sejak lama dan digunakan oleh masyarakat Arabia sebagai alat | 61 % |
| n Isa (Q.S. 42:13). Al-Qur’an menggunakan bahasa Arab. Tidak | ada | yang unik dari bahasa ini, karena seperti kata Al-Qur’an sen | 73 % |
| h (kalamullah) yang universal dan eternal. Dalam sejarahnya, | ada | dua tahap pemanusiaan kalamullah itu hingga menjadi bentukny | 81 % |
| ’an tetap menjadi isu hangat yang terus diperdebatkan. Tidak | ada | yang tabu bagi ulama Islam kala itu untuk mendiskusikan kese | 90 % |
| ngat penting, untuk mengingatkan kita selalu bahwa Al-Qur’an | adalah | manifestasi manusiawi dari kalamullah. Seperti juga kitab-ki | 1 % |
| site Jaringan Islam Liberal (JIL). Pada mulanya, artikel itu | adalah | bagian dari refleksi kegiatan spiritual saya selama bulan Ra | 5 % |
| ara kritikus orientalis semacam A.L. Tibawi dan Edward Said, | adalah | para sarjana yang bekerja untuk kepentingan proyek koloniali | 14 % |
| Muslim. Bagaimanapun, kritik teks (khususnya teks-teks suci) | adalah | disiplin baru yang tak memiliki preseden dalam sejarah intel | 32 % |
| an dimensi lainnya. Menurut saya, dimensi historis Al-Qur’an | adalah | modal penting bagi kita memahami fungsi dan peran Al-Qur’an | 43 % |
| naka anil khamr, anil ahillah, anil mahidh, dan seterusnya), | adalah | refleksi dari kehidupan yang dijalani Nabi dan para sahabatn | 46 % |
| dan menstruasi (yang disebutkan dalam ayat yas’alunaka itu), | adalah | persolan manusia di dunia yang muncul tiba-tiba karena desak | 47 % |
| tertulis dalam bahasa Arab yang kemudian disebut “Al-Qur’an” | adalah | artikulasi manusia terhadap kalamullah yang abadi dan eterna | 66 % |
| lahu lahafidhun Q.S. 15:9). Adapun Al-Qur’an, pada dasarnya | adalah | sesuatu --meminjam istilah para pemikir Muktazilah-- “yang d | 68 % |
| an baik oleh para sahabat maupun orang-orang yang sesudahnya | adalah | contoh dari proses-proses keterciptaan Al-Qur’an dalam ruang | 69 % |
| -orang Arab. Tidak lebih dan tidak kurang. Bahasa manusia | adalah | instrumen komunikasi yang terbatas pada budaya, tempat, dan | 75 % |
| ndisi saat Al-Qur’an diturunkan. Sejarah pembukuan Al-Qur’an | adalah | sejarah pereduksian kalamullah yang universal dan eternal. S | 78 % |
| -kitab suci lainnya, seperti Taurat, Injil, Zabur, Al-Qur’an | adalah | manifestasi dari kalamullah yang eternal dan universal. Kare | 79 % |
| nya juga di antara para pemeluk agama). Al-Qur’an sendiri | adalah | produk pemanusiaan (humanizing) pesan-pesan Allah (kalamulla | 80 % |
| ga menjadi bentuknya yang kita lihat sekarang. Tahap pertama | adalah | tahap pengaturan ayat-ayat yang diturunkan secara kronologis | 82 % |
| dan dilengkapi pada masa Uthman bin Affan. Tahap selanjutnya | adalah | pemberian tanda baca (tasykil) yang dilakukan sepanjang seja | 83 % |
| ngat penting, untuk mengingatkan kita selalu bahwa Al-Qur’an | adalah | manifestasi manusiawi dari kalamullah. Seperti juga kitab-ki | 96 % |
| nahnu nazzalna al-dhikra wa inna lahu lahafidhun Q.S. 15:9). | adapun | Al-Qur’an, pada dasarnya adalah sesuatu --meminjam istilah p | 67 % |
| ng paling asasi (yakni hanya Allah yang imanen dan permanen, | adapun | yang lainnya hanyalah manifestasi dari kalam-Nya), juga bert | 94 % |
| ak dengan karya-karya apologetis. Saya pikir, rasanya kurang | adil | kalau saya hanya mensuplay ke dalam memori pikiran saya peng | 8 % |
| . Agaknya, ini yang pernah terjadi dengan rekan saya, Taufik | adnan | Amal, yang lebih piawai, lebih ahli, dan lebih produktif dar | 21 % |
| buah risalah, Islam, seperti diberitakan Al-Qur’an, bukanlah | agama | yang baru, dan Muhammad bukanlah satu-satunya pembawa risala | 71 % |
| ah ini juga dapat membantu kita menjelaskan peran dan fungsi | agama-agama | di dunia ini bagi umat manusia. Saya menganggap kajian Al-Qu | 39 % |
| ah kenabian, kitab suci, posisi Allah, wahyu, dan beragamnya | agama-agama | di dunia. Para filsuf Muslim klasik mencoba menjelaskan p | 54 % |
| ar pengakuan dari saya bahwa saya merujuk kepada orientalis, | agar | kemudian mereka bisa berteriak: “tuh kan Luthfi ujung-ujungn | 25 % |
| a mantiq (ahli logika) jauh-jauh hari juga sudah mengingakan | agar | kita jangan mudah terjatuh pada apa yang mereka sebut sebaga | 29 % |
| aklah kami utus seorang rasul kecuali dengan bahasa kaumnya, | agar | ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka” (Q. | 73 % |
| i proses yang sepenuhnya bersifat psikologis (al-nafsiyyah). | agen | penyampai wahyu yang umumnya disebut “Jibril” hanyalah salah | 56 % |
| a kutip nama-nama orientalis itu, paling-paling artikel saya | akan | dicampakkan begitu saja. Agaknya, ini yang pernah terjadi de | 20 % |
| diganggu-gugat. Siapa saja yang mencoba mengkritisinya, dia | akan | dianggap “murtad,” “kafir,” “zindiq,” atau istilah-istilah l | 34 % |
| ngka 19, dll). Siapa saja yang menolak mitos-mitos ini, juga | akan | dicap dengan istilah-istilah seram di atas. Itulah yang terj | 36 % |
| desak tersebut, maka ayat-ayat tentang khamar dan menstruasi | akan | absen dari Al-Qur’an. Fenomena lokal-temporal yang dijump | 49 % |
| ng dari Mushaf yang dimilikinya. Menurut saya, keyakinan | akan | imanensi dan permanensi Al-Qur’an, selain bertentangan denga | 93 % |
| sus dan seluruh umat beragama secara umum. Imani billahi | akbar | wa huwa khayrul musta’an. | 100 % |
| im. Dunia sekarang ini sudah sangat terbuka dan tanpa batas. | akses | kepada informasi bisa diperoleh semua orang dengan mudah. Ap | 16 % |
| (bil quwwah) menjadi kenyataan (bil fi’il). Dalam proses | aktualisasi | wahyu dari bil quwwah menjadi bil fi’il ada sejumlah proses | 59 % |
| yang tujuannya meuniversalkan pesan-pesan Al-Qur’an, seperti | al-’ibrah | bi ‘umum al-lafdh la bi khusus al-sabab (mendahulukan kata-k | 51 % |
| adith ‘Aisyah bahwa Mushaf Uthmani telah menghilangkan surah | al-ahzab | dan karenanya Al-Qur’an yang dibuat Uthman menjadi lebih ram | 92 % |
| kesejarahannya yang manusiawi, seperti kita memahami sejarah | alam | semesta. Menurut para astrofisikawan, alam semesta tak bisa | 40 % |
| memahami sejarah alam semesta. Menurut para astrofisikawan, | alam | semesta tak bisa dipahami kecuali kita menggabungkan dua teo | 41 % |
| dengan terang kepada mereka” (Q.S. 14:4). Dengan kata lain, | alasan | mengapa Al-Qur’an berbahasa Arab karena semata-mata ia ditur | 74 % |
| mudah terjatuh pada apa yang mereka sebut sebagai ughluthat | al-askhash | (ad hominem), yakni menghukumi sebuah pendapat semata-mata m | 29 % |
| ada sejak lama dan digunakan oleh masyarakat Arabia sebagai | alat | komunikasi dalam interaksi sosial, bisnis, puisi, literatur, | 62 % |
| untuk membesar-besarkan apa yang mereka sebut sebagai “i’jaz | al-balaghi | al-Qur’ani” (mu’jizat sastrawi Al-Qur’an). Dalam tulisan | 88 % |
| rti dijanjikan dalam salah satu ayatnya (Inna nahnu nazzalna | al-dhikra | wa inna lahu lahafidhun Q.S. 15:9). Adapun Al-Qur’an, pada d | 67 % |
| rtentu, khususnya mereka yang mempelajari disiplin filsafat. | al-farabi | misalnya menjelaskan proses turunnya wahyu Allah kepada Nabi | 55 % |
| a orientalis, khususnya kitab al-masahif karya Ibn Abi Daud, | al-fihrist | karya Ibn Nadiem, dan al-Itqan karya al-Suyuthi. Dalam artik | 18 % |
| u dianggap “najis” yang harus dicampakkan. Padahal Sayyidina | ali | jauh-jauh hari sudah mengingatkan kita: Undzur ma qaala wa l | 27 % |
| masahif karya Ibn Abi Daud, al-Fihrist karya Ibn Nadiem, dan | al-itqan | karya al-Suyuthi. Dalam artikel itu, sengaja saya tidak meny | 19 % |
| iversalkan pesan-pesan Al-Qur’an, seperti al-’ibrah bi ‘umum | al-lafdh | la bi khusus al-sabab (mendahulukan kata-kata yang umum di a | 51 % |
| lsafat. Al-Farabi misalnya menjelaskan proses turunnya wahyu | allah | kepada Nabi Muhammad sebagai proses yang sepenuhnya bersifat | 55 % |
| ah proses reduksi. Hal ini lumrah belaka, karena pesan-pesan | allah | yang universal disampaikan dalam bentuk bahasa manusia, yakn | 60 % |
| uang yang tidak permanen dan tidak abadi. Menurut Al-Qur’an, | allah | mengutus Nabi Muhammad sebagai pembawa risalah (message), da | 70 % |
| batasan kosakata Al-Qur’an bukanlah keterbatasan pesan-pesan | allah | (kalamullah) yang universal, tapi keterbatasan bahasa Arab y | 77 % |
| n sendiri adalah produk pemanusiaan (humanizing) pesan-pesan | allah | (kalamullah) yang universal dan eternal. Dalam sejarahnya, a | 81 % |
| ntangan dengan prinsip tauhid yang paling asasi (yakni hanya | allah | yang imanen dan permanen, adapun yang lainnya hanyalah manif | 94 % |
| juk semua buku yang disebut para orientalis, khususnya kitab | al-masahif | karya Ibn Abi Daud, al-Fihrist karya Ibn Nadiem, dan al-Itqa | 18 % |
| Sejarah Al-Qur’an: Rejoinder Mengkaji sejarah | al-qur’an | dengan melihat proses-proses pembentukannya, baik pada masa | 0 % |
| udahnya sangat penting, untuk mengingatkan kita selalu bahwa | al-qur’an | adalah manifestasi manusiawi dari kalamullah. Seperti juga k | 1 % |
| amullah. Seperti juga kitab-kitab suci lainnya di dunia ini, | al-qur’an | memiliki keterbatasan-keterbatasan pada lingkup kebahasaan d | 2 % |
| selama bulan Ramadhan. Pada bulan itu, saya mencoba membaca | al-qur’an | dengan model bacaan saya sendiri yang menurut saya lebih ber | 5 % |
| Abu Zayd dan juga beberapa artikel yang ditulis oleh sarjana | al-qur’an | dari Barat. Saya selalu terobsesi untuk membaca karya-karya | 7 % |
| artikel itu, saya mendapat panduan dari karya-karya sarjana | al-qur’an | dari Barat untuk membuka kitab-kitab klasik seperti kitab al | 10 % |
| saya bisa merujuk setiap klaim yang dibuat oleh para sarjana | al-qur’an | dari Barat itu. Saya pikir, para sarjana Al-Qur’an dari B | 12 % |
| arjana Al-Qur’an dari Barat itu. Saya pikir, para sarjana | al-qur’an | dari Barat atau yang biasa disebut dengan nada permusuhan se | 12 % |
| is telah membuka banyak dimensi tak terpikirkan dari sejarah | al-qur’an | selama ini. Pada gilirannya, kerja keras dan temuan-temuan m | 31 % |
| n banyak ulama dan intelektual Muslim yang mencoba “membaca” | al-qur’an | dengan perspektif lain, seperti yang dialami oleh Arkoun, Sy | 36 % |
| Arkoun, Syahrour, dan Abu Zayd. Kajian historis terhadap | al-qur’an | membantu kita, di antaranya, untuk menjelaskan persoalan-per | 37 % |
| agama di dunia ini bagi umat manusia. Saya menganggap kajian | al-qur’an | dengan melihatnya sebagai sebuah satu-kesatuan kitab suci da | 39 % |
| mengabaikan dimensi lainnya. Menurut saya, dimensi historis | al-qur’an | adalah modal penting bagi kita memahami fungsi dan peran Al- | 43 % |
| ’an adalah modal penting bagi kita memahami fungsi dan peran | al-qur’an | yang sesungguhnya. Dari kajian sejarah pembentukan Al-Qur | 44 % |
| an. Fenomena lokal-temporal yang dijumpai dalam ayat-ayat | al-qur’an | telah lama menjadi kajian para ulama dan ilmuwan Muslim. Dal | 49 % |
| ma menjadi kajian para ulama dan ilmuwan Muslim. Dalam ‘Ulum | al-qur’an | dan juga Ushul al-Fiqh, mereka menciptakan kaedah-kaedah yan | 50 % |
| ang sesudahnya adalah contoh dari proses-proses keterciptaan | al-qur’an | dalam ruang yang tidak permanen dan tidak abadi. Menurut Al- | 70 % |
| elah disampaikan kepada Ibrahim, Musa, dan Isa (Q.S. 42:13). | al-qur’an | menggunakan bahasa Arab. Tidak ada yang unik dari bahasa ini | 72 % |
| ab. Tidak ada yang unik dari bahasa ini, karena seperti kata | al-qur’an | sendiri: “Tidaklah kami utus seorang rasul kecuali dengan ba | 73 % |
| kepada mereka” (Q.S. 14:4). Dengan kata lain, alasan mengapa | al-qur’an | berbahasa Arab karena semata-mata ia diturunkan kepada orang | 74 % |
| ang, sesuai dengan perkembangan zaman. Keterbatasan kosakata | al-qur’an | bukanlah keterbatasan pesan-pesan Allah (kalamullah) yang un | 76 % |
| atasan bahasa Arab yang tunduk pada situasi dan kondisi saat | al-qur’an | diturunkan. Sejarah pembukuan Al-Qur’an adalah sejarah pered | 77 % |
| asi dan kondisi saat Al-Qur’an diturunkan. Sejarah pembukuan | al-qur’an | adalah sejarah pereduksian kalamullah yang universal dan ete | 77 % |
| pada kitab-kitab suci lainnya, seperti Taurat, Injil, Zabur, | al-qur’an | adalah manifestasi dari kalamullah yang eternal dan universa | 79 % |
| uci itu (dan selanjutnya juga di antara para pemeluk agama). | al-qur’an | sendiri adalah produk pemanusiaan (humanizing) pesan-pesan A | 80 % |
| sin cetak pada masa modern. Seperti kita ketahui, susunan | al-qur’an | yang diturunkan secara kronologis berbeda dengan susunan yan | 85 % |
| rahan setiap wahyu yang diturunkan; dan kedua, ia menjadikan | al-qur’an | sebagai sebuah bacaan “magis” (karena yang ditekankan bukan | 86 % |
| in al-Suyuthi), persoalan penulisan dan penertiban ayat-ayat | al-qur’an | tetap menjadi isu hangat yang terus diperdebatkan. Tidak ada | 90 % |
| haf Uthmani telah menghilangkan surah al-Ahzab dan karenanya | al-qur’an | yang dibuat Uthman menjadi lebih ramping dari Mushaf yang di | 92 % |
| ari kalam-Nya), juga bertentangan dengan konteks kesejarahan | al-qur’an | sendiri yang dinamis, progresif, dan manusiawi. Mengkaji | 95 % |
| yang dinamis, progresif, dan manusiawi. Mengkaji sejarah | al-qur’an | dengan melihat proses-proses pembentukannya, baik pada masa | 95 % |
| udahnya sangat penting, untuk mengingatkan kita selalu bahwa | al-qur’an | adalah manifestasi manusiawi dari kalamullah. Seperti juga k | 96 % |
| amullah. Seperti juga kitab-kitab suci lainnya di dunia ini, | al-qur’an | memiliki keterbatasan-keterbatasan pada lingkup kebahasaan d | 97 % |
| Namun demikian, sebagai sebuah manifestasi dari kalamullah, | al-qur’an | memiliki kesamaan-kesamaan dengan kitab-kitab suci lainnya ( | 98 % |
| manifestasi kalamullah). Aspek kesamaan inilah (dalam bahasa | al-qur’an | disebut “kalimatun sawaa”) yang harus selalu ditekankan oleh | 99 % |
| Sejarah | al-qur’an: | Rejoinder Mengkaji sejarah Al-Qur’an dengan melihat prose | 0 % |
| an kritik terhadap artikel saya tentang “Merenungkan Sejarah | al-qur’an” | yang dipublikasikan di website Jaringan Islam Liberal (JIL). | 4 % |
| sar-besarkan apa yang mereka sebut sebagai “i’jaz al-balaghi | al-qur’ani” | (mu’jizat sastrawi Al-Qur’an). Dalam tulisan saya yang ri | 88 % |
| Al-Qur’an, seperti al-’ibrah bi ‘umum al-lafdh la bi khusus | al-sabab | (mendahulukan kata-kata yang umum di atas sebab-sebab yang k | 51 % |
| aan bahwa Mushafnya Ibn Abbas tidak memiliki al-Fatihah, dan | al-suyuthi | bebas-bebas saja meriwayatkan Hadith ‘Aisyah bahwa Mushaf Ut | 91 % |
| ncoba menjelaskan persoalan-persoalan itu dengan menggunakan | analisa-analisa | yang rumit yang hanya dipahami oleh kalangan tertentu, khusu | 54 % |
| un diciptakan, misalnya seperti masalah i’jazul Qur’an (e.g. | angka | 19, dll). Siapa saja yang menolak mitos-mitos ini, juga akan | 35 % |
| rtanyaan-pertanyaan para sahabat Nabi, misalnya (yas’alunaka | anil | khamr, anil ahillah, anil mahidh, dan seterusnya), adalah re | 46 % |
| tanyaan para sahabat Nabi, misalnya (yas’alunaka anil khamr, | anil | ahillah, anil mahidh, dan seterusnya), adalah refleksi dari | 46 % |
| ahabat Nabi, misalnya (yas’alunaka anil khamr, anil ahillah, | anil | mahidh, dan seterusnya), adalah refleksi dari kehidupan yang | 46 % |
| ranya, untuk menjelaskan persoalan-persoalan klasik hubungan | antara | wahyu, kitab suci, dan risalah kenabian, secara umum. Selanj | 38 % |
| k dan intelektual Muslim di masa modern, menyangkut hubungan | antara | risalah kenabian, kitab suci, posisi Allah, wahyu, dan berag | 53 % |
| m dan tidak sempurna, maka terjadilah perbedaan-perbedaan di | antara | kitab-kitab suci itu (dan selanjutnya juga di antara para pe | 80 % |
| daan di antara kitab-kitab suci itu (dan selanjutnya juga di | antara | para pemeluk agama). Al-Qur’an sendiri adalah produk pema | 80 % |
| mengapa artikel itu saya tulis. Semula saya ragu menuliskan | apa | yang saya baca. Tapi, rasanya masih terus ada yang mengganja | 9 % |
| dunia Islam. Tapi, saya meyakini, tidak semua mereka seburuk | apa | yang dicurigai kaum Muslim. Dunia sekarang ini sudah sangat | 15 % |
| es kepada informasi bisa diperoleh semua orang dengan mudah. | apa | yang dikatakan oleh para orientalis itu bisa kita rujuk dan | 16 % |
| ngatkan kita: Undzur ma qaala wa la tandhur man qaala (lihat | apa | yang dikatakan, dan jangan lihat siapa yang berkata). Para u | 28 % |
| juga sudah mengingakan agar kita jangan mudah terjatuh pada | apa | yang mereka sebut sebagai ughluthat al-askhash (ad hominem), | 29 % |
| h pendapat semata-mata melihat siapa yang berkata, dan bukan | apa | yang dikatakan. Bagi saya, kajian para orientalis telah m | 30 % |
| as dan temuan-temuan mereka bisa digunakan untuk menjelaskan | apa | yang selama ini menjadi concern ulama dan intelektual Muslim | 31 % |
| ni kemudian mendorong sebagian ulama untuk membesar-besarkan | apa | yang mereka sebut sebagai “i’jaz al-balaghi al-Qur’ani” (mu’ | 88 % |
| neliti sesuatu hanya orang Islam saja. Sedangkan orang lain, | apalagi | orang di luar Islam, meskipun mereka punya keahlian untuk it | 26 % |
| aya hanya mensuplay ke dalam memori pikiran saya pengetahuan | apologetis | saja. Inilah latar belakang mengapa artikel itu saya tuli | 9 % |
| ntalis satupun, karena saya sadar bahwa kaum Muslim memiliki | apriori | dan prasangka yang luar biasa pada nama-nama mereka. Saya pi | 19 % |
| n retoris, gramatis, semantik, leksikal, dan sintaks. Bahasa | arab | bukanlah bahasa baru yang muncul tiba-tiba karena Al-Qur’an. | 61 % |
| idak suci dan terbatas. Teks-teks yang tertulis dalam bahasa | arab | yang kemudian disebut “Al-Qur’an” adalah artikulasi manusia | 65 % |
| 14:4). Dengan kata lain, alasan mengapa Al-Qur’an berbahasa | arab | karena semata-mata ia diturunkan kepada orang-orang Arab. Ti | 74 % |
| Allah (kalamullah) yang universal, tapi keterbatasan bahasa | arab | yang tunduk pada situasi dan kondisi saat Al-Qur’an diturunk | 77 % |
| ahasa ini telah ada sejak lama dan digunakan oleh masyarakat | arabia | sebagai alat komunikasi dalam interaksi sosial, bisnis, puis | 62 % |
| iapa saja yang telah memberikan komentar dan kritik terhadap | artikel | saya tentang “Merenungkan Sejarah Al-Qur’an” yang dipublikas | 4 % |
| sikan di website Jaringan Islam Liberal (JIL). Pada mulanya, | artikel | itu adalah bagian dari refleksi kegiatan spiritual saya sela | 5 % |
| membaca beberapa buku Nasr Hamed Abu Zayd dan juga beberapa | artikel | yang ditulis oleh sarjana Al-Qur’an dari Barat. Saya selalu | 7 % |
| engetahuan apologetis saja. Inilah latar belakang mengapa | artikel | itu saya tulis. Semula saya ragu menuliskan apa yang saya ba | 9 % |
| erus ada yang mengganjal kalau belum ditulis. Ketika menulis | artikel | itu, saya mendapat panduan dari karya-karya sarjana Al-Qur’a | 10 % |
| umber aselinya. Dan ini yang saya coba lakukan dalam menulis | artikel | itu. Untuk menulis artikel singkat itu, saya merujuk semu | 17 % |
| aya coba lakukan dalam menulis artikel itu. Untuk menulis | artikel | singkat itu, saya merujuk semua buku yang disebut para orien | 17 % |
| hrist karya Ibn Nadiem, dan al-Itqan karya al-Suyuthi. Dalam | artikel | itu, sengaja saya tidak menyebut nama orientalis satupun, ka | 19 % |
| ir, kalau saya kutip nama-nama orientalis itu, paling-paling | artikel | saya akan dicampakkan begitu saja. Agaknya, ini yang pernah | 20 % |
| banyak diperhatikan orang. Di website JIL sendiri, ada tiga | artikel | Taufik, yang menurut saya, memiliki pesan yang sama dengan r | 23 % |
| gan refleksi yang saya buat. Para pengkritik dan pengecam | artikel | saya berusaha dengan tak sabar ingin mendengar pengakuan dar | 24 % |
| s dalam bahasa Arab yang kemudian disebut “Al-Qur’an” adalah | artikulasi | manusia terhadap kalamullah yang abadi dan eternal. Kalamull | 66 % |
| ur’an, selain bertentangan dengan prinsip tauhid yang paling | asasi | (yakni hanya Allah yang imanen dan permanen, adapun yang lai | 94 % |
| b suci lainnya (yang juga merupakan manifestasi kalamullah). | aspek | kesamaan inilah (dalam bahasa Al-Qur’an disebut “kalimatun s | 99 % |
| asaan dan kesejarahan di mana ia diturunkan. Oleh: Luthfi | assyaukanie | Pertama-tama, saya ingin mengucapkan terimakasih kepada siap | 3 % |
| h la bi khusus al-sabab (mendahulukan kata-kata yang umum di | atas | sebab-sebab yang khusus). Kaedah-kaedah seperti ini sangat m | 51 % |
| Barat itu. Saya pikir, para sarjana Al-Qur’an dari Barat | atau | yang biasa disebut dengan nada permusuhan sebagai “orientali | 13 % |
| ngkritisinya, dia akan dianggap “murtad,” “kafir,” “zindiq,” | atau | istilah-istilah lain yang sejenis. Untuk membentengi kesucia | 34 % |
| m bentuk bahasa manusia, yakni bahasa Arab, yang tunduk pada | aturan-aturan | retoris, gramatis, semantik, leksikal, dan sintaks. Bahasa A | 60 % |
| seperti minuman keras dan menstruasi (yang disebutkan dalam | ayat | yas’alunaka itu), adalah persolan manusia di dunia yang munc | 47 % |
| mat manusia, yang kadang sangat bersifat lokal dan temporal. | ayat-ayat | yang dimulai dengan pertanyaan-pertanyaan para sahabat Nabi, | 45 % |
| ta lain, jika tidak ada situasi yang mendesak tersebut, maka | ayat-ayat | tentang khamar dan menstruasi akan absen dari Al-Qur’an. | 48 % |
| ri Al-Qur’an. Fenomena lokal-temporal yang dijumpai dalam | ayat-ayat | Al-Qur’an telah lama menjadi kajian para ulama dan ilmuwan M | 49 % |
| g kita lihat sekarang. Tahap pertama adalah tahap pengaturan | ayat-ayat | yang diturunkan secara kronologis (tartib al-nuzul) menjadi | 82 % |
| a Jalaluddin al-Suyuthi), persoalan penulisan dan penertiban | ayat-ayat | Al-Qur’an tetap menjadi isu hangat yang terus diperdebatkan. | 90 % |
| terus dijaga oleh Allah, seperti dijanjikan dalam salah satu | ayatnya | (Inna nahnu nazzalna al-dhikra wa inna lahu lahafidhun Q.S. | 67 % |
| a Uthman bin Affan. Tahap selanjutnya adalah pemberian tanda | baca | (tasykil) yang dilakukan sepanjang sejarah Islam hingga digu | 84 % |
| Pada bulan itu, saya mencoba membaca Al-Qur’an dengan model | bacaan | saya sendiri yang menurut saya lebih berkesan dan mempengaru | 5 % |
| arya-karya semacam ini, sebagai “balance” (penyeimbang) dari | bacaan | saya selama ini yang terlalu banyak dengan karya-karya apolo | 8 % |
| iturunkan secara kronologis (tartib al-nuzul) menjadi urutan | bacaan | seperti kita kenal sekarang (tartib al-tilawah). Ini dilakuk | 83 % |
| iturunkan; dan kedua, ia menjadikan Al-Qur’an sebagai sebuah | bacaan | “magis” (karena yang ditekankan bukan makna kronologisnya, t | 86 % |
| ada permusuhan sebagai “orientalis” itu telah banyak berjasa | bagi | tradisi kesejarahan Al-Qur’an. Saya bukan tidak sadar bahwa | 13 % |
| ta melihat siapa yang berkata, dan bukan apa yang dikatakan. | bagi | saya, kajian para orientalis telah membuka banyak dimensi ta | 30 % |
| u kita menjelaskan peran dan fungsi agama-agama di dunia ini | bagi | umat manusia. Saya menganggap kajian Al-Qur’an dengan meliha | 39 % |
| enurut saya, dimensi historis Al-Qur’an adalah modal penting | bagi | kita memahami fungsi dan peran Al-Qur’an yang sesungguhnya. | 43 % |
| adi isu hangat yang terus diperdebatkan. Tidak ada yang tabu | bagi | ulama Islam kala itu untuk mendiskusikan kesejarahan Al-Qur’ | 90 % |
| ringan Islam Liberal (JIL). Pada mulanya, artikel itu adalah | bagian | dari refleksi kegiatan spiritual saya selama bulan Ramadhan. | 5 % |
| na pesan-pesan Allah yang universal disampaikan dalam bentuk | bahasa | manusia, yakni bahasa Arab, yang tunduk pada aturan-aturan r | 60 % |
| ang universal disampaikan dalam bentuk bahasa manusia, yakni | bahasa | Arab, yang tunduk pada aturan-aturan retoris, gramatis, sema | 60 % |
| n-aturan retoris, gramatis, semantik, leksikal, dan sintaks. | bahasa | Arab bukanlah bahasa baru yang muncul tiba-tiba karena Al-Qu | 61 % |
| matis, semantik, leksikal, dan sintaks. Bahasa Arab bukanlah | bahasa | baru yang muncul tiba-tiba karena Al-Qur’an. Bahasa ini tela | 61 % |
| bukanlah bahasa baru yang muncul tiba-tiba karena Al-Qur’an. | bahasa | ini telah ada sejak lama dan digunakan oleh masyarakat Arabi | 61 % |
| banyak mengumbar syhawat dan pornografi diekspresikan dalam | bahasa | Arab. Puisi-puisi dan literatur yang dianggap “menyimpang” d | 63 % |
| tur yang dianggap “menyimpang” dari Islam juga ditulis dalam | bahasa | Arab. Persoalan utama Al-Qur’an, menurut saya, bukanlah p | 64 % |
| yang tidak suci dan terbatas. Teks-teks yang tertulis dalam | bahasa | Arab yang kemudian disebut “Al-Qur’an” adalah artikulasi man | 65 % |
| a Ibrahim, Musa, dan Isa (Q.S. 42:13). Al-Qur’an menggunakan | bahasa | Arab. Tidak ada yang unik dari bahasa ini, karena seperti ka | 72 % |
| Al-Qur’an menggunakan bahasa Arab. Tidak ada yang unik dari | bahasa | ini, karena seperti kata Al-Qur’an sendiri: “Tidaklah kami u | 73 % |
| an sendiri: “Tidaklah kami utus seorang rasul kecuali dengan | bahasa | kaumnya, agar ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepa | 73 % |
| unkan kepada orang-orang Arab. Tidak lebih dan tidak kurang. | bahasa | manusia adalah instrumen komunikasi yang terbatas pada buday | 75 % |
| udaya, tempat, dan waktu di mana ia digunakan. Kosakata dari | bahasa | selalu berkembang, sesuai dengan perkembangan zaman. Keterba | 76 % |
| n-pesan Allah (kalamullah) yang universal, tapi keterbatasan | bahasa | Arab yang tunduk pada situasi dan kondisi saat Al-Qur’an dit | 77 % |
| ng eternal dan universal. Karena manifestasi dilakukan dalam | bahasa | manusia yang beragam dan tidak sempurna, maka terjadilah per | 79 % |
| upakan manifestasi kalamullah). Aspek kesamaan inilah (dalam | bahasa | Al-Qur’an disebut “kalimatun sawaa”) yang harus selalu ditek | 99 % |
| pun mereka punya keahlian untuk itu, dianggap tak layak, dan | bahkan | kalau perlu dianggap “najis” yang harus dicampakkan. Padahal | 27 % |
| ahwa hingga abad ke-4 (masa Ibn Nadiem dan Ibn Abi Daud) dan | bahkan | hingga abad ke-10 (masa Jalaluddin al-Suyuthi), persoalan pe | 89 % |
| sa sesudahnya sangat penting, untuk mengingatkan kita selalu | bahwa | Al-Qur’an adalah manifestasi manusiawi dari kalamullah. Sepe | 1 % |
| a bagi tradisi kesejarahan Al-Qur’an. Saya bukan tidak sadar | bahwa | sebagian dari mereka, seperti dengan baik telah diperlihatka | 14 % |
| ya tidak menyebut nama orientalis satupun, karena saya sadar | bahwa | kaum Muslim memiliki apriori dan prasangka yang luar biasa p | 19 % |
| erusaha dengan tak sabar ingin mendengar pengakuan dari saya | bahwa | saya merujuk kepada orientalis, agar kemudian mereka bisa be | 24 % |
| Dari kajian sejarah pembentukan Al-Qur’an, kita mengetahui | bahwa | kitab suci ini berkembang dengan sangat dinamis, berinteraks | 44 % |
| an saya yang ringkas itu, saya telah berusaha memperlihatkan | bahwa | hingga abad ke-4 (masa Ibn Nadiem dan Ibn Abi Daud) dan bahk | 89 % |
| an Al-Qur’an. Ibn Nadiem bebas-bebas saja membuat pernyataan | bahwa | Mushafnya Ibn Abbas tidak memiliki al-Fatihah, dan al-Suyuth | 91 % |
| dan al-Suyuthi bebas-bebas saja meriwayatkan Hadith ‘Aisyah | bahwa | Mushaf Uthmani telah menghilangkan surah al-Ahzab dan karena | 92 % |
| sa sesudahnya sangat penting, untuk mengingatkan kita selalu | bahwa | Al-Qur’an adalah manifestasi manusiawi dari kalamullah. Sepe | 96 % |
| jarah Al-Qur’an dengan melihat proses-proses pembentukannya, | baik | pada masa Nabi dan masa-masa sesudahnya sangat penting, untu | 1 % |
| bukan tidak sadar bahwa sebagian dari mereka, seperti dengan | baik | telah diperlihatkan oleh para kritikus orientalis semacam A. | 14 % |
| n string. Begitu juga Al-Qur’an, ia tak bisa dipahami dengan | baik | jika kita hanya melihat satu dimensi saja dan mengabaikan di | 42 % |
| Upaya koleksi, modifikasi, dan unifikasi, yang dilakukan | baik | oleh para sahabat maupun orang-orang yang sesudahnya adalah | 69 % |
| jarah Al-Qur’an dengan melihat proses-proses pembentukannya, | baik | pada masa Nabi dan masa-masa sesudahnya sangat penting, untu | 95 % |
| ance” (penyeimbang) dari bacaan saya selama ini yang terlalu | banyak | dengan karya-karya apologetis. Saya pikir, rasanya kurang ad | 8 % |
| isebut dengan nada permusuhan sebagai “orientalis” itu telah | banyak | berjasa bagi tradisi kesejarahan Al-Qur’an. Saya bukan tidak | 13 % |
| borough, dan semacamnya, tulisan-tulisan itu tampaknya tidak | banyak | diperhatikan orang. Di website JIL sendiri, ada tiga artikel | 23 % |
| ikatakan. Bagi saya, kajian para orientalis telah membuka | banyak | dimensi tak terpikirkan dari sejarah Al-Qur’an selama ini. P | 30 % |
| an istilah-istilah seram di atas. Itulah yang terjadi dengan | banyak | ulama dan intelektual Muslim yang mencoba “membaca” Al-Qur’a | 36 % |
| n, dan juga obrolan-obrolan porno. Puisi-puisi jahiliah yang | banyak | mengumbar syhawat dan pornografi diekspresikan dalam bahasa | 63 % |
| aya mendapat panduan dari karya-karya sarjana Al-Qur’an dari | barat | untuk membuka kitab-kitab klasik seperti kitab al-masahif, a | 11 % |
| uk setiap klaim yang dibuat oleh para sarjana Al-Qur’an dari | barat | itu. Saya pikir, para sarjana Al-Qur’an dari Barat atau y | 12 % |
| n dari Barat itu. Saya pikir, para sarjana Al-Qur’an dari | barat | atau yang biasa disebut dengan nada permusuhan sebagai “orie | 13 % |
| apun, kritik teks (khususnya teks-teks suci) adalah disiplin | baru | yang tak memiliki preseden dalam sejarah intelektualisme uma | 32 % |
| semantik, leksikal, dan sintaks. Bahasa Arab bukanlah bahasa | baru | yang muncul tiba-tiba karena Al-Qur’an. Bahasa ini telah ada | 61 % |
| la itu untuk mendiskusikan kesejarahan Al-Qur’an. Ibn Nadiem | bebas-bebas | saja membuat pernyataan bahwa Mushafnya Ibn Abbas tidak memi | 91 % |
| ushafnya Ibn Abbas tidak memiliki al-Fatihah, dan al-Suyuthi | bebas-bebas | saja meriwayatkan Hadith ‘Aisyah bahwa Mushaf Uthmani telah | 91 % |
| hi intensitas keberagamaan saya. Secara khusus, saya membaca | beberapa | buku Nasr Hamed Abu Zayd dan juga beberapa artikel yang ditu | 6 % |
| sus, saya membaca beberapa buku Nasr Hamed Abu Zayd dan juga | beberapa | artikel yang ditulis oleh sarjana Al-Qur’an dari Barat. Saya | 7 % |
| orientalis itu, paling-paling artikel saya akan dicampakkan | begitu | saja. Agaknya, ini yang pernah terjadi dengan rekan saya, Ta | 20 % |
| hal-hal maha-kecil seperti quantum, singularity, dan string. | begitu | juga Al-Qur’an, ia tak bisa dipahami dengan baik jika kita h | 42 % |
| emacam A.L. Tibawi dan Edward Said, adalah para sarjana yang | bekerja | untuk kepentingan proyek kolonialisme dan penaklukkan dunia | 15 % |
| ri pikiran saya pengetahuan apologetis saja. Inilah latar | belakang | mengapa artikel itu saya tulis. Semula saya ragu menuliskan | 9 % |
| ya baca. Tapi, rasanya masih terus ada yang mengganjal kalau | belum | ditulis. Ketika menulis artikel itu, saya mendapat panduan d | 10 % |
| a, karena pesan-pesan Allah yang universal disampaikan dalam | bentuk | bahasa manusia, yakni bahasa Arab, yang tunduk pada aturan-a | 60 % |
| nya, ada dua tahap pemanusiaan kalamullah itu hingga menjadi | bentuknya | yang kita lihat sekarang. Tahap pertama adalah tahap pengatu | 82 % |
| minya sebagai sebuah produk ilahiah (al-intaj al-ilahy) yang | berada | dalam ruang sejarah manusia yang tidak suci dan terbatas. Te | 65 % |
| rsal. Karena manifestasi dilakukan dalam bahasa manusia yang | beragam | dan tidak sempurna, maka terjadilah perbedaan-perbedaan di a | 79 % |
| u ditekankan oleh kaum Muslim secara khusus dan seluruh umat | beragama | secara umum. Imani billahi akbar wa huwa khayrul musta’an. | 100 % |
| ntara risalah kenabian, kitab suci, posisi Allah, wahyu, dan | beragamnya | agama-agama di dunia. Para filsuf Muslim klasik mencoba m | 53 % |
| eka” (Q.S. 14:4). Dengan kata lain, alasan mengapa Al-Qur’an | berbahasa | Arab karena semata-mata ia diturunkan kepada orang-orang Ara | 74 % |
| , memiliki daya kenabian, hanya saja intensitas kenabian itu | berbeda | satu dengan lainnya. Daya kenabian yang dimiliki Nabi Muhamm | 58 % |
| ketahui, susunan Al-Qur’an yang diturunkan secara kronologis | berbeda | dengan susunan yang kita lihat sekarang. Perubahan susunan i | 85 % |
| tahui bahwa kitab suci ini berkembang dengan sangat dinamis, | berinteraksi | dengan kehidupan umat manusia, yang kadang sangat bersifat l | 45 % |
| dengan nada permusuhan sebagai “orientalis” itu telah banyak | berjasa | bagi tradisi kesejarahan Al-Qur’an. Saya bukan tidak sadar b | 13 % |
| ipahami kecuali kita menggabungkan dua teori utama: (i) yang | berkaitan | dengan hal-hal maha-besar seperti big bang, gravitasi, dan e | 41 % |
| pembentukan Al-Qur’an, kita mengetahui bahwa kitab suci ini | berkembang | dengan sangat dinamis, berinteraksi dengan kehidupan umat ma | 44 % |
| ’an dengan model bacaan saya sendiri yang menurut saya lebih | berkesan | dan mempengaruhi intensitas keberagamaan saya. Secara khusus | 6 % |
| fi ujung-ujungnya pake orientalis.” Saya sedih jika ada yang | berkomentar | seperti ini. Seolah-olah, ilmu itu milik umat Islam saja, da | 25 % |
| Muhammad sebagai pembawa risalah (message), dan risalah itu | bernama | “Islam.” Sebagai sebuah risalah, Islam, seperti diberitakan | 71 % |
| rinteraksi dengan kehidupan umat manusia, yang kadang sangat | bersifat | lokal dan temporal. Ayat-ayat yang dimulai dengan pertanyaan | 45 % |
| yu Allah kepada Nabi Muhammad sebagai proses yang sepenuhnya | bersifat | psikologis (al-nafsiyyah). Agen penyampai wahyu yang umumnya | 56 % |
| ya, keyakinan akan imanensi dan permanensi Al-Qur’an, selain | bertentangan | dengan prinsip tauhid yang paling asasi (yakni hanya Allah y | 93 % |
| apun yang lainnya hanyalah manifestasi dari kalam-Nya), juga | bertentangan | dengan konteks kesejarahan Al-Qur’an sendiri yang dinamis, p | 94 % |
| wa saya merujuk kepada orientalis, agar kemudian mereka bisa | berteriak: | “tuh kan Luthfi ujung-ujungnya pake orientalis.” Saya sedih | 25 % |
| kitab al-masahif, al-fihrist, al-itqan, dan al-burhan. Saya | beruntung | karena semua kitab itu bisa saya dapatkan, sehingga saya bis | 11 % |
| yang saya buat. Para pengkritik dan pengecam artikel saya | berusaha | dengan tak sabar ingin mendengar pengakuan dari saya bahwa s | 24 % |
| -Qur’an). Dalam tulisan saya yang ringkas itu, saya telah | berusaha | memperlihatkan bahwa hingga abad ke-4 (masa Ibn Nadiem dan I | 89 % |
| nnya meuniversalkan pesan-pesan Al-Qur’an, seperti al-’ibrah | bi | ‘umum al-lafdh la bi khusus al-sabab (mendahulukan kata-kata | 51 % |
| esan-pesan Al-Qur’an, seperti al-’ibrah bi ‘umum al-lafdh la | bi | khusus al-sabab (mendahulukan kata-kata yang umum di atas se | 51 % |
| . Saya pikir, para sarjana Al-Qur’an dari Barat atau yang | biasa | disebut dengan nada permusuhan sebagai “orientalis” itu tela | 13 % |
| r bahwa kaum Muslim memiliki apriori dan prasangka yang luar | biasa | pada nama-nama mereka. Saya pikir, kalau saya kutip nama-nam | 20 % |
| utama: (i) yang berkaitan dengan hal-hal maha-besar seperti | big | bang, gravitasi, dan ekspansi; dan (ii) hal-hal maha-kecil s | 41 % |
| enyataan (bil fi’il). Dalam proses aktualisasi wahyu dari | bil | quwwah menjadi bil fi’il ada sejumlah proses reduksi. Hal in | 59 % |
| ). Dalam proses aktualisasi wahyu dari bil quwwah menjadi | bil | fi’il ada sejumlah proses reduksi. Hal ini lumrah belaka, ka | 59 % |
| cara khusus dan seluruh umat beragama secara umum. Imani | billahi | akbar wa huwa khayrul musta’an. | 100 % |
| Ini dilakukan pada masa Nabi dan dilengkapi pada masa Uthman | bin | Affan. Tahap selanjutnya adalah pemberian tanda baca (tasyki | 83 % |
| -itqan, dan al-burhan. Saya beruntung karena semua kitab itu | bisa | saya dapatkan, sehingga saya bisa merujuk setiap klaim yang | 11 % |
| ung karena semua kitab itu bisa saya dapatkan, sehingga saya | bisa | merujuk setiap klaim yang dibuat oleh para sarjana Al-Qur’an | 12 % |
| sudah sangat terbuka dan tanpa batas. Akses kepada informasi | bisa | diperoleh semua orang dengan mudah. Apa yang dikatakan oleh | 16 % |
| ng dengan mudah. Apa yang dikatakan oleh para orientalis itu | bisa | kita rujuk dan buktikan ke sumber-sumber aselinya. Dan ini y | 17 % |
| a bahwa saya merujuk kepada orientalis, agar kemudian mereka | bisa | berteriak: “tuh kan Luthfi ujung-ujungnya pake orientalis.” | 25 % |
| a ini. Pada gilirannya, kerja keras dan temuan-temuan mereka | bisa | digunakan untuk menjelaskan apa yang selama ini menjadi conc | 31 % |
| alam semesta. Menurut para astrofisikawan, alam semesta tak | bisa | dipahami kecuali kita menggabungkan dua teori utama: (i) yan | 41 % |
| ntum, singularity, dan string. Begitu juga Al-Qur’an, ia tak | bisa | dipahami dengan baik jika kita hanya melihat satu dimensi sa | 42 % |
| i ini. Seolah-olah, ilmu itu milik umat Islam saja, dan yang | boleh | meneliti sesuatu hanya orang Islam saja. Sedangkan orang lai | 26 % |
| dianggap sebagai korpus tertutup yang sudah selesai dan tak | boleh | diganggu-gugat. Siapa saja yang mencoba mengkritisinya, dia | 33 % |
| elah banyak berjasa bagi tradisi kesejarahan Al-Qur’an. Saya | bukan | tidak sadar bahwa sebagian dari mereka, seperti dengan baik | 13 % |
| sebuah pendapat semata-mata melihat siapa yang berkata, dan | bukan | apa yang dikatakan. Bagi saya, kajian para orientalis tel | 30 % |
| Qur’an sebagai sebuah bacaan “magis” (karena yang ditekankan | bukan | makna kronologisnya, tapi struktur kebahasaannya). Dampak ya | 87 % |
| oris, gramatis, semantik, leksikal, dan sintaks. Bahasa Arab | bukanlah | bahasa baru yang muncul tiba-tiba karena Al-Qur’an. Bahasa i | 61 % |
| lam bahasa Arab. Persoalan utama Al-Qur’an, menurut saya, | bukanlah | persoalan penafsiran semata, tapi memahaminya sebagai sebuah | 64 % |
| ebagai sebuah risalah, Islam, seperti diberitakan Al-Qur’an, | bukanlah | agama yang baru, dan Muhammad bukanlah satu-satunya pembawa | 71 % |
| iberitakan Al-Qur’an, bukanlah agama yang baru, dan Muhammad | bukanlah | satu-satunya pembawa risalah. Sebelumnya, risalah itu telah | 71 % |
| i dengan perkembangan zaman. Keterbatasan kosakata Al-Qur’an | bukanlah | keterbatasan pesan-pesan Allah (kalamullah) yang universal, | 76 % |
| yang dikatakan oleh para orientalis itu bisa kita rujuk dan | buktikan | ke sumber-sumber aselinya. Dan ini yang saya coba lakukan da | 17 % |
| itas keberagamaan saya. Secara khusus, saya membaca beberapa | buku | Nasr Hamed Abu Zayd dan juga beberapa artikel yang ditulis o | 6 % |
| tu. Untuk menulis artikel singkat itu, saya merujuk semua | buku | yang disebut para orientalis, khususnya kitab al-masahif kar | 18 % |
| u adalah bagian dari refleksi kegiatan spiritual saya selama | bulan | Ramadhan. Pada bulan itu, saya mencoba membaca Al-Qur’an den | 5 % |
| refleksi kegiatan spiritual saya selama bulan Ramadhan. Pada | bulan | itu, saya mencoba membaca Al-Qur’an dengan model bacaan saya | 5 % |
| dilakukan sepanjang sejarah Islam hingga digunakannya mesin | cetak | pada masa modern. Seperti kita ketahui, susunan Al-Qur’an | 84 % |
| uk dan buktikan ke sumber-sumber aselinya. Dan ini yang saya | coba | lakukan dalam menulis artikel itu. Untuk menulis artikel | 17 % |
| bisa digunakan untuk menjelaskan apa yang selama ini menjadi | concern | ulama dan intelektual Muslim. Bagaimanapun, kritik teks (khu | 32 % |
| oleh para sahabat maupun orang-orang yang sesudahnya adalah | contoh | dari proses-proses keterciptaan Al-Qur’an dalam ruang yang t | 69 % |
| hat sekarang. Perubahan susunan ini memiliki dua dampak yang | cukup | penting: pertama, ia menghancurkan konteks peristiwa dan kes | 85 % |
| aya pikir, rasanya kurang adil kalau saya hanya mensuplay ke | dalam | memori pikiran saya pengetahuan apologetis saja. Inilah l | 9 % |
| an ke sumber-sumber aselinya. Dan ini yang saya coba lakukan | dalam | menulis artikel itu. Untuk menulis artikel singkat itu, s | 17 % |
| al-Fihrist karya Ibn Nadiem, dan al-Itqan karya al-Suyuthi. | dalam | artikel itu, sengaja saya tidak menyebut nama orientalis sat | 19 % |
| yang lebih piawai, lebih ahli, dan lebih produktif dari saya | dalam | menuliskan sejarah Al-Qur’an. Namun, hanya karena tulisan-tu | 21 % |
| s-teks suci) adalah disiplin baru yang tak memiliki preseden | dalam | sejarah intelektualisme umat manusia. Di masa silam, teks-te | 32 % |
| -kasus seperti minuman keras dan menstruasi (yang disebutkan | dalam | ayat yas’alunaka itu), adalah persolan manusia di dunia yang | 47 % |
| sen dari Al-Qur’an. Fenomena lokal-temporal yang dijumpai | dalam | ayat-ayat Al-Qur’an telah lama menjadi kajian para ulama dan | 49 % |
| ’an telah lama menjadi kajian para ulama dan ilmuwan Muslim. | dalam | ‘Ulum al-Qur’an dan juga Ushul al-Fiqh, mereka menciptakan k | 50 % |
| ebab yang khusus). Kaedah-kaedah seperti ini sangat membantu | dalam | menafsirkan Al-Qur’an, tapi tidak membantu dalam menyelesaik | 52 % |
| at membantu dalam menafsirkan Al-Qur’an, tapi tidak membantu | dalam | menyelesaikan persoalan-persoalan yang lebih substansial yan | 52 % |
| but “Jibril” hanyalah salah satu daya (quwwah) saja yang ada | dalam | diri manusia. Setiap manusia, secara potensial (bil quwwah), | 57 % |
| han dari potensi (bil quwwah) menjadi kenyataan (bil fi’il). | dalam | proses aktualisasi wahyu dari bil quwwah menjadi bil fi’il a | 59 % |
| belaka, karena pesan-pesan Allah yang universal disampaikan | dalam | bentuk bahasa manusia, yakni bahasa Arab, yang tunduk pada a | 60 % |
| dan digunakan oleh masyarakat Arabia sebagai alat komunikasi | dalam | interaksi sosial, bisnis, puisi, literatur, graffitti, kecam | 62 % |
| h yang banyak mengumbar syhawat dan pornografi diekspresikan | dalam | bahasa Arab. Puisi-puisi dan literatur yang dianggap “menyim | 63 % |
| literatur yang dianggap “menyimpang” dari Islam juga ditulis | dalam | bahasa Arab. Persoalan utama Al-Qur’an, menurut saya, buk | 64 % |
| ebagai sebuah produk ilahiah (al-intaj al-ilahy) yang berada | dalam | ruang sejarah manusia yang tidak suci dan terbatas. Teks-tek | 65 % |
| anusia yang tidak suci dan terbatas. Teks-teks yang tertulis | dalam | bahasa Arab yang kemudian disebut “Al-Qur’an” adalah artikul | 65 % |
| rnal inilah yang terus dijaga oleh Allah, seperti dijanjikan | dalam | salah satu ayatnya (Inna nahnu nazzalna al-dhikra wa inna la | 67 % |
| stilah para pemikir Muktazilah-- “yang diciptakan” (makhluq) | dalam | kebaharuan (muhdath), dan karenanya, ia tidak eternal dan ti | 68 % |
| hnya adalah contoh dari proses-proses keterciptaan Al-Qur’an | dalam | ruang yang tidak permanen dan tidak abadi. Menurut Al-Qur’an | 70 % |
| lah yang eternal dan universal. Karena manifestasi dilakukan | dalam | bahasa manusia yang beragam dan tidak sempurna, maka terjadi | 79 % |
| ) pesan-pesan Allah (kalamullah) yang universal dan eternal. | dalam | sejarahnya, ada dua ta |