click here for the word frequency
Membangun Ushul Fikih Alternatif
Mestinya, metodologi Islam klasik diletakkan dalam konfigurasi dan konteks umum pemikiran pada saat formatifnya. Sebab, fakta akademis kontemporer seringkali menayangkan ketidakberdayaan bahkan kerapuhan metodolgi klasik tersebut. Metodologi lama terlalu memandang sebelah mata terhadap kemampuan akal publik di dalam menyulih dan menganulir ketentuan-ketentuan legal-formalistik di dalam Islam yang tidak lagi relevan.
Oleh: Abd Moqsith Ghazali
Banyak pemikir
Muslim memandang metodologi (ushul fikih) klasik tanpa cacat epistemologis
apapun. Ajakan sejumlah ulama Indonesia untuk mengubah pola bermadzhab dari yang
qawliy ke manhaji mengandung pengertian bahwa metodologi klasik yang telah
dikerangkakan oleh para ulama dahulu memang sudah tuntas dan sempurna. Sehingga,
kewajiban umat yang datang kemudian bukan untuk mengubahnya, tetapi mengikuti
dan melaksanakannya. Di sini, sebuah metodologi yang sejatinya lahir dari pabrik
intelektualitas manusia yang nisbi telah diposisikan sebagai sesuatu yang mutlak.
Tak terbantah. Mereka telah melakukan idealisasi dan universalisasi terhadap
metodologi lama yang provisionaris.
Mestinya, metodologi Islam klasik diletakkan dalam konfigurasi dan konteks umum
pemikiran pada saat formatifnya. Sebab, fakta akademis kontemporer seringkali
menayangkan ketidakberdayaan bahkan kerapuhan metodolgi klasik tersebut. [1]
Metodologi lama terlalu memandang sebelah mata terhadap kemampuan akal publik di
dalam menyulih dan menganulir ketentuan-ketentuan legal-formalistik di dalam
Islam yang tidak lagi relevan. Ditegaskan bahwa ketika terjadi pertentangan
antara akal publik dan bunyi harfiah teks ajaran, metodologi lampau selalu
mengambil cara penundukan terhadap akal publik. [2] Metodologi klasik kurang
hirau terhadap kemampuan manusia di dalam merumuskan konsep kemaslahatan walau
untuk umat manusia sendiri. Manusia tidak memiliki reputasi dan kedudukan apapun
dalam ruang ushul fikih klasik, kecuali sebagai sasaran hukum yang tak berdaya (mukallaf)
[3] Pemberhalaan teks dan pengabaian realitas merupakan ciri umum dari
metodologi lama. Aktivitas ijtihad selalu digerakkan di dalam areal teks.
Ijtihad yang tidak berkulminasi pada teks adalah illegal, sebab teks merupakan
aksis dari seluruh cara pemecahan problem.
Tentu saja ini merupakan kelemahan metodologis tersendiri yang mesti mendapatkan
penanganan. Dengan segala keterbatasan, tulisan ini kiranya bermaksud untuk
mereformasi kaidah-kaidah ushul fikih yang problematis dari sudut
ontologis-epistemologis tersebut. Dengan merekonstruksi kaidah-kaidah ushul ini
niscaya produk pemikiran Islam akan lebih solutif bagi problem-problem
kemanusiaan yang terus melilit. Karena, betapa pun canggihnya sebuah metodologi
jika kandas pada tingkat pemecahan problem tersebut, maka ia tidaklah banyak
guna dan manfaatnya. Kecanggihan sebuah metodologi terutama dalam imu-ilmu
terapan Islam semacam ushul fikih ini akan berkoresponden secara persis dengan
kepiawaiannya di dalam menciptakan kemaslahatan bagi sebesar-besarnya umat
manusia.
1. al-’Ibrah bi al-maqashid la bi al-alfadz.
Kaidah ini berarti bahwa yang mesti menjadi perhatian seorang mujtahid di dalam
mengistinbatkan hukum dari al-Qur`an dan al-Sunnah bukan huruf dan aksaranya
melainkan dari maqashid yang dikandungnya. Yang menjadi aksis adalah cita-cita
etik-moral dari sebuah ayat dan bukan legislasi spesifik atau formulasi
literalnya. Nah, untuk mengetahui maqashid ini maka seseorang dituntut untuk
memahami konteks. Yang dimaksudkan bukan hanya konteks personal yang
juz`iy-partikular melainkan juga konteks impersonal yang kulli-universal.
Pemahaman tentang konteks yang lebih dari sekadar ilmu sabab al-nuzul dalam
pengertian klasik itu merupakan prasyarat utama untuk menemukan maqashid al-syari’ah.
Syathibi di dalam al-Muwafaqat mendengungkan sebuah pernyataan genial bahwa
seorang mujtahid diharuskan untuk melengkapi diri dengan pengetahuan yang
memadai menyangkut tradisi dan kebiasaan masyarakat Arab sebagai masyarakat awal
yang menjadi sasaran wahyu. Pengetahuan tentang konteks tentu bukan untuk
konteks itu sendiri, melainkan untuk menimba dan memperoleh prinsip-prinsip
dasar Islam atau yang dikenal dengan istilah maqashid al-syari’ah. Begitu
maqashid al-syari’ah sudah dicapai, maka teks harus segera dilepaskan dari
konteks kearabannya (dekontekstualisasi) untuk kemudian dilakukan
rekontekstualisasi. Yaitu, melabuhkan prinsip-prinsip dasar Islam itu di tempat
dan di belahan bumi non-Arab. Maka, kontekstualisasi, dekontekstualisasi, dan
rekontekstualisasi merupakan mekanisme kerja penafsiran sepanjang masa.
Dalam khazanah ushul fikih, maqashid al-syari’ah itu adalah keadilan,
kemaslahatan, kesetaraan, hikmah-kebijaksanaan, dan cinta kasih. Maqashid inilah
yang sejatinya menjadi sumber inspirasi tatkala al-Qur`an hendak melabuhkan
ketentuan-ketentuan legal-spesifik di lapangan. Dengan perkataan lain, maqashid
al-syari’ah adalah sumber dari segala sumber hukum dalam Islam, termasuk sumber
dari al-Qur`an sendiri. Oleh karena itu, sekiranya ditemukan sebuah teks agama
baik di dalam al-Qur`an maupun al-hadits (apalagi di dalam tafsir dan fikih)
yang tidak lagi menyuarakan maqashid al-syari’ah, maka ia batal atau dapat
dibatalkan demi logika maqashid al-syari’ah itu.
Kaidah yang diajukan di atas merupakan antipoda dari kaidah lama yang berbunyi
al-’ibrah bi khushûsh al-sabab lâ bi ‘umûm al-lafadz. Bahwa yang harus menjadi
pertimbangan adalah keumuman lafadz, bukan khususnya sebab. Maka, jika suatu
nash menggunakan redaksi yang bersifat umum, maka tidak ada pilihan lain selain
menerapkan nash tersebut, sekalipun nash itu hadir untuk merespons suatu
peristiwa yang khusus. “Pasrah pada keumuman lafdz ( al-taslim bi ‘umum al-lafdz)
hanya akan menyebabkan kita senantiasa berada dalam kerangka makna linguistik (fiy
ithar al-dalalah al-lughawiyah)”, tandas Nahr Hamid Abu Zaid dalam bukunya yang
berjudul al-Nash, al-Sulthah, al-Haqiqah.
Terdapat sekian banyak kritik terhadap kaidah konvensional ini. Misalnya,
pertama, kaidah ini dipandang terlalu banyak berkonsentrasi dan bergerak pada
medan semantik dengan menepikan peranan sabab al-nuzul. Implikasinya, para
pengguna kaidah ini kerap terjebak pada suatu kenaifan. Bahwa semakin harafiah
seseorang membaca al-Qur`an, maka semakin dekat ia pada kebenaran. Sebaliknya,
semakin jauh yang bersangkutan dari makna literal al-Qur`an, maka ia semakin
terlempar dari kebenaran. Maka, semakin literal seseorang di dalam memperlakukan
al-Qur`an, maka semakin dekat ia pada ketakwaan. Dan semakin substantif
seseorang di dalam memandang al-Qur`an, maka jauh ia dari ketakwaan.
Kedua, dalam kaidah yang terakhir itu, realitas hendak disubordinasikan ke dalam
bunyi harafiah teks. Yang dituju adalah kebenaran teks dengan konsekuensi
mengabaikan konteks (al-siyaq al-tarikhi) yang mengitari. Konteks didudukkan
dalam posisi yang rendah dan sekunder. Ini menjadi maklum, oleh karena para
pemakai kaidah ini menganut ideologi universalisme dan ketidak-berhinggan
kebenaran huruf (shalahiyyah al-nansh dalaliyan li kulli zaman wa makan).
Sehingga kita tidak perlu kaget ketika ushul fikih lama berbicara tentang lafdz
dalam porsi yang demikian besar. Segala jenis perbincangan kebahasaan (abhats
lughawiyah min mabahits al-alfadz) seperti mengenai ‘amm-khashsh,
muthlaq-muqayyad, mujmal-mubayyan, muhkam-mutasyabih, qath’iy-dhanniy merupakan
upaya untuk menegakkan otoritas teks semata. Para pemakai kaidah kedua ini
mungkin tepat sekiranya disebut sebagai penyembah kata (‘ubbad al-alafdz),
semantara kata (lafdz) adalah shanam yu’bad (patung yang disembah).
Segera tampak bahwa analisis yang berhenti hanya pada konteks linguistik saja
tidak akan cukup memadai untuk mengejar kebenaran hakiki (maqashid asasiyah)
yang diusung oleh teks. Analisis mestinya dilanjutkan pada penyingkapan makna
yang terdiamkan (al-maskut ‘anhu), yaitu makna yang tak tercakup secara verbatim
di dalam aksara sebuah teks. Pencapaian terhadap makna-makna itu akan
meniscayakan adanya sebuah analisa yang bukan hanya terhadap struktur kalimat
per se melainkan yang justeru fondasional adalah analisa kelas dan struktur
sosial dan budaya yang melingkupi sejarah kehadiran teks. Maka, kejarlah
maqashid al-syari’ah dengan pelbagai cara, tanpa terlalu banyak terpesona
terhadap keindahan sebuah teks. Sebab, keterpesonaan merupakan tindakan
ideologis yang hanya akan menumpulkan kreativitas dalam pencarian makna obyektif.
[2] Jawaz Naskh al-Nushush bi al-Mashlahah
Terdapat sebait pertanyaan ontologis dalam ranah ushul fikih, jika terjadi
pertentangan antara teks (nash) dan maslahat mana yang mesti dimenangkan? Dalam
menjawab pertanyaan ini, umumnya ulama ushul fikih klasik mengatakan bahwa yang
dimenangkan adalah nash. Bahkan, al-Thufi menyatakan bahwa tidak mungkin terjadi
pertentangan antara nash dan mashlahah, karena apa yang diujarkan oleh nash
adalah kemaslahatan itu sendiri. Sering disinyalir bahwa kemaslahatan yang
diandaikan oleh manusia adalah kemaslahatan semu dan relatif, sementara
kemaslahatan yang ditetapkan Tuhan melalui bunyi harafiah nash adalah
kemaslahatan hakiki dan obyektif. Manusia tidak memiliki kewenangan untuk
mempertanyakan dan menggugat kemaslahatan literal teks. Kewajiban manusia adalah
mengamalkan dan mengimaninya secara sepenuh hati.Secara pribadi, saya tidak
dalam posisi bersetuju dengan jawaban di atas. Pada hemat saya, maslahat
memiliki otoritas untuk menganulir kententuan-ketentuan teks suci. Inilah yang
dimaksud dengan ungkapan “naskh al-nushush bi al-mashlahah”. Sebagai spirit dari
teks (nushush) al-Qur`an, kemaslahatan merupakan amunisi untuk mengontrol balik
dari keberadaan teks dengan menganulir beberapa teks suci yang sudah aus. Dengan
cara ini, maka cita kemaslahatan akan senantiasa berkreasi untuk memproduksi
formulasi bahkan teks keagamaan baru di tengah kegamangan dan kegagapan
formulasi dan teks keagamaan lama.Praktek dari kaidah ini dapat diketahui dari
pembatalan demi pembatalan terhadap sejumlah syari’at Islam, yang dikenal dengan
istilah nasikh-mansukh. Semua pelajar Islam mesti tahu cerita tentang
penganuliran beberapa syari’at yang dipandang tidak lagi bersendikan
kemaslahatan. Dijelaskan bahwa nasakh itu bukan hanya berlaku terhadap syari’at
nabi-nabi terdahulu (syar’u man qablana) saja, tetapi melainkan juga berlangsung
dalam batang tubuh syari’at Nabi Muhammad sendiri. Betapa syari’at Islam yang
baru diundangkan, kerap dalam 3 sampai 5 tahun dianulir kembali oleh Nabi
Muhammad karena tidak bermaslahat lagi.
Tidaklah mustahil bahwa sesuatu yang bernilai maslahat dalam suatu tempat dan
waktu tertentu, kemudian berubah menjadi mafsadat dalam suatu ruang dan waktu
yang lain. Bila kemaslahatan dapat berubah karena perubahan konteks, maka dapat
saja Allah menyuruh berbuat sesuatu karena diketahui mengandung maslahat,
kemudian Allah melarangnya pada waktu kemudian karena diketahui di lapangan
aturan tersebut tidak lagi menyuarakan kemaslahatan. Ibnu Rusyd dalam bukunya
yang bertitelkan Fashl al-Maqal fiy Taqrir Ma Bayna al-Syari’at wa al-Hikmah min
al-Ittishal menyatakan bahwa hikmah (kemaslahatan) itu merupakan saudara kandung
dari syari’at-syari’at yang telah ditetapkan Allah Swt.
Teks suci tanpa kemaslahatan memang tak berfungsi apa-apa buat manusia, kecuali
untuk teks itu sendiri. Teks baru bermakna sekiranya menyertakan cita
kemaslahatan bagi umat manusia. Kemaslahatan adalah fondasi paling pokok dari
setiap perundang-undangan syari’at Islam. Ini bukan karena ajaran Islam memang
perlu dicocok-cocokkan secara opurtunistik dengan perkembangan kemaslahatan,
melainkan karena tuntutan kemaslahatan itu secara obyektif niscaya mengharuskan
demikian. Menarik mendengar pernyataan Izzuddin Ibnu Abdissalam, “innama al-takalif
kulluha raji’atun ila mashalih al-’ibad” [ seluruh ketentuan agama diarahkan
untuk sebesar-besarnya kemaslahatan umat manusia ]. Dengan ini, maka
kemaslahatan itu merupakan ajaran agama yang tsawabit (tidak berubah, pokok, dan
universal), sementara wujud pelaksanaan cita kemaslahatan itu merupakan perkara
agama yang mutaghayyir (berubah-berubah mengikuti perubahan alur sejarah dan
peradaban).Maka, yang perlu mendapatkan proviso penegasan di sini adalah bahwa
nasakh tidak dapat dilakukan terhadap teks al-Qur`an yang mengandung
prinsip-prinsip ajaran yang universal, ajaran mana telah melintasi ruang dan
waktu, mengatasi pelbagai etnis dan keyakinan. Ayat-ayat ini ingin saya katakan
sebagai ayat dengan kedudukan paling tinggi (al-ayat al-’ala qiymatan), atau al-ayat
al-ushuliyat atau ushul al-Qur`an. Ayat-ayat seperti ini memang tidak banyak
jumlahnya, bahkan bisa dihitung dengan jari tangan. Masuk dalam kategori ayat
yang tidak bisa dinasakh ini, seperti ayat “wa idza hakamtum bayna al-nas an
tahkumu bi al’adl”, “I’dilu huwa aqrabu li al-taqwa”, dan sebagainya. Nasakh
terhadap ayat yang demikian bukan saja berpunggungan dengan semangat kehadiran
Islam awal, melainkan juga bertentangan dengan logika nasakh sendiri. Sementara
ayat-ayat mu’amalah dalam al-Qur`an yang bersifat tehnis-operasional--saya suka
menyebutnya dengan al-ayat al-adna qiymatan atau al-ayat al-furu’iyyat atau
fikih al-Qur`an, seperti ayat yang berbicara tentang bentuk-bentuk hukuman (‘uqubat),
sanksi bagi para pelaku pidana (hudud), bilangan waris dan sebagainya, maka
tetap terbuka kemungkinan untuk dinasakh dan difalsifikasi, sekiranya ayat tadi
tidak efektif lagi sebagai sarana untuk mewujudkan cita kemalahatan. Dalam
sejarahnya, nasakh selalu hadir untuk terus-menerus memperbaharui teks-teks
agama yang tidak lagi merepresentasikan prinsip-prinsip dasar Islam.
[3] Tanqih al-Nushush bi al-’Aql al-Mujtama’
Kaidah ini hendak menyatakan bahwa akal publik memiliki kewenangan untuk
menyulih dan mengamandemen sejumlah ketentuan “dogmatik” agama yang menyangkut
perkara-perkara publik, baik dalam al-Qur`an maupun dalam al-Sunnah. Sehingga
ketika terjadi pertentangan antara akal publik dengan bunyi harfiah teks ajaran,
maka akal publik berotoritas untuk mengedit, menyempurnakan, dan
memodifikasikannya. Modifikasi ini terasa sangat dibutuhkan ketika berhadapan
dengan ayat-ayat partikular, seperti ayat hudud (seperti potong tangan, rajam,
dan sebagainya), waris, dan sebagainya. Ayat-ayat tersebut dalam konteks
sekarang, alih-alih bisa menyelesaikan masalah-masalah kemanusian, yang terjadi
justeru merupakan bagian dari masalah yang harus dipecahkan melalui prosedur
tanqih yang berupa taqyid bi al-’aql, takhshish bi al-’aql, dan tabyin bi al-’aql.
Ayat-ayat semacam itu, sebagaimana dikatakan sebelumnya disebut sebagai fikih
al-Qur`an. Sebagai sebuah fikih, ayat-ayat tersebut sepenuhnya merupakan respons
al-Qur`an terhadap kasus-kasus tertentu yang berlangsung dalam lokus tertentu
pula, masyarakat Arab. Dengan demikian, kebenaran ayat-ayat tadi bersifat
relatif dan tentatif, sehingga memerlukan penyempurnaan, pembaharuan, dan
penyulingan. Dalam tataran itu, universalisasi fikih al-Qur`an tanpa melalui
proses tanqih harus dihindari. Sebab, membiarkan fikih al-Qur`an persis seperti
dalam bunyi harfiahnya hanya akan mengantarkan al-Qur`an pada perangkap yang
mematikan spirit dan elan vital al-Qur`an.
Kerja tanqih ini hakekatnya inheren di dalam diri setiap manusia yang berakal
budi. Dalam jiwa manusia terdapat impuls abadi yang tak pernah padam untuk
bertanqih. Terdapat dorongan adekuat untuk senantiasa berpihak pada kebenaran
dan keadilan. Selalu ada kecenderungan untuk mengoreksi pelbagai kekeliruan dan
menyempurnakan segala kekurangan. Akal publik dan bukan akal privat ini
dibutuhkan tentu untuk menghindari oligarki pendapat atau otoritarianisme dalam
merumuskan dan memecahkan urusan-urusan publik. Bagaimanapun di dalam ruang
publik tidak boleh ada satu pihak atau golongan dalam masyarakat yang berhak
memaksa pandangannya pada orang lain, karena pandangannya dinilai lebih benar.
Mereka memiliki kedudukan dan derajat yang sama.
Pandangan di atas sangat berbeda dengan pandangan mainstream, baik yang klasik
maupun yang kontemporer yang terus menerus mendevaluasi akal di bawah
kedigdayaan teks. Baik kalangan Asy’ariyah maupun Mu’tazilah hakekatnya
sama-sama memposisikan akal sebagai pengelola data-teks, sementara data-teks
merupakan pangkal atau asal. Sebagai pengelola, maka akal tidak bisa bertindak
terlampau jauh, kecuali hanya untuk melakukan rasionalisasi terhadap
barang-barang irrasional yang ada dalam al-Qur`an dan al-Sunnah. Akal hanya
berguna untuk membuka tabir kegelapan teks-teks dhanniyat al-Qur`an saja. Di
tangan Mu’tazilah, akal hanya berfungsi untuk menakwil ayat-ayat yang mutasyabih.
Akal tidak cukup percaya diri untuk melakukan peninjauan ulang apalagi
mempertanyakan ayat-ayat partikular yang tergolong qath’iyat dari sudut struktur
gramatika bahasanya.
Akal manusia dalam buku-buku teologi klasik telah diletakkan sebagai sub-ordinat
dari teks. Akal mengalami penyusutan peran. Seolah-olah akal manusia itu begitu
rendah, sehingga kalau dibiarkan maka manusia secara massal akan bertelanjang
bulat di jalan-jalan sebagaimana binatang, berzina beramai-ramai, mencuri secara
berjemaah, saling bunuh-membunuh, dan sebagainya. Ini, tentu saja sebuah sikap
yang tidak apresiatif bahkan merendahkan akal sebagai karya agung Allah Swt.
Allah menciptakan akal sesungguhnya agar manusia sanggup memilah dan memilih
mana-mana tindakan yang baik dan mana-mana pula perbuatan yang buruk.
Menurut saya, sekali lagi, akal publik harus diberi posisi yang penting. Akal
publik tidak cukup hanya tampil sebagai pengelola data-teks. Menyangkut
perkara-perkara mu’amalah yang mundan, akal publik perlu mendapatkan wewenang
untuk mengevaluasi efektivitas dan kinerja beberapa ketentuan al-Qur`an dan al-Hadits
di dalam mengimpelementasikan maqashid al-syari’ah di bumi realitas. Sekiranya
dari data lapangan diketahui ketidak-berdayaan sebuah teks di dalam mengatasi
perkara-perkara publik, maka akal publik mesti mempertimbangkan ulang ketentuan
tersebut. Akal publik bertugas untuk mengeluarkan spirit dasar Islam dari
lipatan huruf-huruf agama. Akal publik mempunyai tanggungjawab moral untuk
mentanqih ayat-ayat yang problematik.
Akhirnya, jangan lupa bahwa itu hanya sebagian kaidah ushul fikih alternatif
yang bisa disodorkan untuk membenahi kelemahan-kelemahan metodologi istinbath
yang telah lama dirisaukan. Tentu saja ada sekian banyak lagi kaidah ushul fikih
yang perlu direformasi dengan menyertakan banyak orang yang berkompeten. Dengan
cara ini, niscaya kita bisa menghindari kebekuan dan kemandulan metodologi-ushul
fikih.
pre- text |
WORD |
post- text |
% |
| tiwa yang khusus. “Pasrah pada keumuman lafdz ( al-taslim bi | ‘umum | al-lafdz) hanya akan menyebabkan kita senantiasa berada dala | 31 % |
| idah lama yang berbunyi al-’ibrah bi khushûsh al-sabab lâ bi | ‘umûm | al-lafadz. Bahwa yang harus menjadi pertimbangan adalah keum | 29 % |
| wenangan untuk menyulih dan mengamandemen sejumlah ketentuan | “dogmatik” | agama yang menyangkut perkara-perkara publik, baik dalam al- | 74 % |
| i ayat “wa idza hakamtum bayna al-nas an tahkumu bi al’adl”, | “i’dilu | huwa aqrabu li al-taqwa”, dan sebagainya. Nasakh terhadap ay | 69 % |
| kian. Menarik mendengar pernyataan Izzuddin Ibnu Abdissalam, | “innama | al-takalif kulluha raji’atun ila mashalih al-’ibad” seluru | 63 % |
| an-ketentuan teks suci. Inilah yang dimaksud dengan ungkapan | “naskh | al-nushush bi al-mashlahah”. Sebagai spirit dari teks (nushu | 51 % |
| nash itu hadir untuk merespons suatu peristiwa yang khusus. | “pasrah | pada keumuman lafdz ( al-taslim bi ‘umum al-lafdz) hanya aka | 31 % |
| lam kategori ayat yang tidak bisa dinasakh ini, seperti ayat | “wa | idza hakamtum bayna al-nas an tahkumu bi al’adl”, “I’dilu hu | 69 % |
| ketidakberdayaan bahkan kerapuhan metodolgi klasik tersebut. | 1 | Metodologi lama terlalu memandang sebelah mata terhadap kema | 8 % |
| ampau selalu mengambil cara penundukan terhadap akal publik. | 2 | Metodologi klasik kurang hirau terhadap kemampuan manusia di | 9 % |
| akan menumpulkan kreativitas dalam pencarian makna obyektif. | 2 | Jawaz Naskh al-Nushush bi al-Mashlahah Terdapat sebait pe | 46 % |
| k, kecuali sebagai sasaran hukum yang tak berdaya (mukallaf) | 3 | Pemberhalaan teks dan pengabaian realitas merupakan ciri umu | 11 % |
| ri. Betapa syari’at Islam yang baru diundangkan, kerap dalam | 3 | sampai 5 tahun dianulir kembali oleh Nabi Muhammad karena ti | 56 % |
| ng tidak lagi merepresentasikan prinsip-prinsip dasar Islam. | 3 | Tanqih al-Nushush bi al-’Aql al-Mujtama’ Kaidah ini hend | 73 % |
| a syari’at Islam yang baru diundangkan, kerap dalam 3 sampai | 5 | tahun dianulir kembali oleh Nabi Muhammad karena tidak berma | 56 % |
| anusia yang berakal budi. Dalam jiwa manusia terdapat impuls | abadi | yang tak pernah padam untuk bertanqih. Terdapat dorongan ade | 83 % |
| formalistik di dalam Islam yang tidak lagi relevan. Oleh: | abd | Moqsith Ghazali Banyak pemikir Muslim memandang metodolog | 2 % |
| tik (fiy ithar al-dalalah al-lughawiyah)”, tandas Nahr Hamid | abu | Zaid dalam bukunya yang berjudul al-Nash, al-Sulthah, al-Haq | 32 % |
| uatu nash menggunakan redaksi yang bersifat umum, maka tidak | ada | pilihan lain selain menerapkan nash tersebut, sekalipun nash | 30 % |
| ntuk senantiasa berpihak pada kebenaran dan keadilan. Selalu | ada | kecenderungan untuk mengoreksi pelbagai kekeliruan dan menye | 83 % |
| rusan publik. Bagaimanapun di dalam ruang publik tidak boleh | ada | satu pihak atau golongan dalam masyarakat yang berhak memaks | 85 % |
| lakukan rasionalisasi terhadap barang-barang irrasional yang | ada | dalam al-Qur`an dan al-Sunnah. Akal hanya berguna untuk memb | 88 % |
| metodologi istinbath yang telah lama dirisaukan. Tentu saja | ada | sekian banyak lagi kaidah ushul fikih yang perlu direformasi | 99 % |
| dalam areal teks. Ijtihad yang tidak berkulminasi pada teks | adalah | illegal, sebab teks merupakan aksis dari seluruh cara pemeca | 12 % |
| elainkan dari maqashid yang dikandungnya. Yang menjadi aksis | adalah | cita-cita etik-moral dari sebuah ayat dan bukan legislasi sp | 18 % |
| asa. Dalam khazanah ushul fikih, maqashid al-syari’ah itu | adalah | keadilan, kemaslahatan, kesetaraan, hikmah-kebijaksanaan, da | 25 % |
| fik di lapangan. Dengan perkataan lain, maqashid al-syari’ah | adalah | sumber dari segala sumber hukum dalam Islam, termasuk sumber | 27 % |
| lâ bi ‘umûm al-lafadz. Bahwa yang harus menjadi pertimbangan | adalah | keumuman lafadz, bukan khususnya sebab. Maka, jika suatu nas | 29 % |
| k disubordinasikan ke dalam bunyi harafiah teks. Yang dituju | adalah | kebenaran teks dengan konsekuensi mengabaikan konteks (al-si | 36 % |
| ai penyembah kata (‘ubbad al-alafdz), semantara kata (lafdz) | adalah | shanam yu’bad (patung yang disembah). Segera tampak bahwa | 41 % |
| p struktur kalimat per se melainkan yang justeru fondasional | adalah | analisa kelas dan struktur sosial dan budaya yang melingkupi | 44 % |
| a ulama ushul fikih klasik mengatakan bahwa yang dimenangkan | adalah | nash. Bahkan, al-Thufi menyatakan bahwa tidak mungkin terjad | 47 % |
| tara nash dan mashlahah, karena apa yang diujarkan oleh nash | adalah | kemaslahatan itu sendiri. Sering disinyalir bahwa kemaslahat | 48 % |
| g disinyalir bahwa kemaslahatan yang diandaikan oleh manusia | adalah | kemaslahatan semu dan relatif, sementara kemaslahatan yang d | 49 % |
| maslahatan yang ditetapkan Tuhan melalui bunyi harafiah nash | adalah | kemaslahatan hakiki dan obyektif. Manusia tidak memiliki kew | 49 % |
| n dan menggugat kemaslahatan literal teks. Kewajiban manusia | adalah | mengamalkan dan mengimaninya secara sepenuh hati.Secara prib | 50 % |
| enyertakan cita kemaslahatan bagi umat manusia. Kemaslahatan | adalah | fondasi paling pokok dari setiap perundang-undangan syari’at | 62 % |
| aban).Maka, yang perlu mendapatkan proviso penegasan di sini | adalah | bahwa nasakh tidak dapat dilakukan terhadap teks al-Qur`an y | 66 % |
| teks. Pencapaian terhadap makna-makna itu akan meniscayakan | adanya | sebuah analisa yang bukan hanya terhadap struktur kalimat pe | 43 % |
| adi yang tak pernah padam untuk bertanqih. Terdapat dorongan | adekuat | untuk senantiasa berpihak pada kebenaran dan keadilan. Selal | 83 % |
| an sendiri. Oleh karena itu, sekiranya ditemukan sebuah teks | agama | baik di dalam al-Qur`an maupun al-hadits (apalagi di dalam t | 27 % |
| kulluha raji’atun ila mashalih al-’ibad” seluruh ketentuan | agama | diarahkan untuk sebesar-besarnya kemaslahatan umat manusia | 64 % |
| anusia . Dengan ini, maka kemaslahatan itu merupakan ajaran | agama | yang tsawabit (tidak berubah, pokok, dan universal), sementa | 64 % |
| ra wujud pelaksanaan cita kemaslahatan itu merupakan perkara | agama | yang mutaghayyir (berubah-berubah mengikuti perubahan alur s | 65 % |
| akh selalu hadir untuk terus-menerus memperbaharui teks-teks | agama | yang tidak lagi merepresentasikan prinsip-prinsip dasar Isla | 73 % |
| tuk menyulih dan mengamandemen sejumlah ketentuan “dogmatik” | agama | yang menyangkut perkara-perkara publik, baik dalam al-Qur`an | 74 % |
| i karya agung Allah Swt. Allah menciptakan akal sesungguhnya | agar | manusia sanggup memilah dan memilih mana-mana tindakan yang | 93 % |
| yang tidak apresiatif bahkan merendahkan akal sebagai karya | agung | Allah Swt. Allah menciptakan akal sesungguhnya agar manusia | 93 % |
| ologi (ushul fikih) klasik tanpa cacat epistemologis apapun. | ajakan | sejumlah ulama Indonesia untuk mengubah pola bermadzhab dari | 3 % |
| i setiap perundang-undangan syari’at Islam. Ini bukan karena | ajaran | Islam memang perlu dicocok-cocokkan secara opurtunistik deng | 62 % |
| umat manusia . Dengan ini, maka kemaslahatan itu merupakan | ajaran | agama yang tsawabit (tidak berubah, pokok, dan universal), s | 64 % |
| ukan terhadap teks al-Qur`an yang mengandung prinsip-prinsip | ajaran | yang universal, ajaran mana telah melintasi ruang dan waktu, | 66 % |
| ur`an yang mengandung prinsip-prinsip ajaran yang universal, | ajaran | mana telah melintasi ruang dan waktu, mengatasi pelbagai etn | 67 % |
| n konteks umum pemikiran pada saat formatifnya. Sebab, fakta | akademis | kontemporer seringkali menayangkan ketidakberdayaan bahkan k | 1 % |
| n konteks umum pemikiran pada saat formatifnya. Sebab, fakta | akademis | kontemporer seringkali menayangkan ketidakberdayaan bahkan k | 7 % |
| ologi lama terlalu memandang sebelah mata terhadap kemampuan | akal | publik di dalam menyulih dan menganulir ketentuan-ketentuan | 2 % |
| ologi lama terlalu memandang sebelah mata terhadap kemampuan | akal | publik di dalam menyulih dan menganulir ketentuan-ketentuan | 8 % |
| relevan. Ditegaskan bahwa ketika terjadi pertentangan antara | akal | publik dan bunyi harfiah teks ajaran, metodologi lampau sela | 9 % |
| metodologi lampau selalu mengambil cara penundukan terhadap | akal | publik. 2 Metodologi klasik kurang hirau terhadap kemampua | 9 % |
| i al-’Aql al-Mujtama’ Kaidah ini hendak menyatakan bahwa | akal | publik memiliki kewenangan untuk menyulih dan mengamandemen | 74 % |
| dalam al-Sunnah. Sehingga ketika terjadi pertentangan antara | akal | publik dengan bunyi harfiah teks ajaran, maka akal publik be | 75 % |
| an antara akal publik dengan bunyi harfiah teks ajaran, maka | akal | publik berotoritas untuk mengedit, menyempurnakan, dan memod | 75 % |
| si pelbagai kekeliruan dan menyempurnakan segala kekurangan. | akal | publik dan bukan akal privat ini dibutuhkan tentu untuk meng | 84 % |
| dan menyempurnakan segala kekurangan. Akal publik dan bukan | akal | privat ini dibutuhkan tentu untuk menghindari oligarki penda | 84 % |
| asik maupun yang kontemporer yang terus menerus mendevaluasi | akal | di bawah kedigdayaan teks. Baik kalangan Asy’ariyah maupun M | 87 % |
| y’ariyah maupun Mu’tazilah hakekatnya sama-sama memposisikan | akal | sebagai pengelola data-teks, sementara data-teks merupakan p | 87 % |
| ta-teks merupakan pangkal atau asal. Sebagai pengelola, maka | akal | tidak bisa bertindak terlampau jauh, kecuali hanya untuk mel | 88 % |
| ng-barang irrasional yang ada dalam al-Qur`an dan al-Sunnah. | akal | hanya berguna untuk membuka tabir kegelapan teks-teks dhanni | 89 % |
| an teks-teks dhanniyat al-Qur`an saja. Di tangan Mu’tazilah, | akal | hanya berfungsi untuk menakwil ayat-ayat yang mutasyabih. Ak | 89 % |
| al hanya berfungsi untuk menakwil ayat-ayat yang mutasyabih. | akal | tidak cukup percaya diri untuk melakukan peninjauan ulang ap | 90 % |
| tergolong qath’iyat dari sudut struktur gramatika bahasanya. | akal | manusia dalam buku-buku teologi klasik telah diletakkan seba | 90 % |
| ologi klasik telah diletakkan sebagai sub-ordinat dari teks. | akal | mengalami penyusutan peran. Seolah-olah akal manusia itu beg | 91 % |
| inat dari teks. Akal mengalami penyusutan peran. Seolah-olah | akal | manusia itu begitu rendah, sehingga kalau dibiarkan maka man | 91 % |
| u saja sebuah sikap yang tidak apresiatif bahkan merendahkan | akal | sebagai karya agung Allah Swt. Allah menciptakan akal sesung | 93 % |
| dahkan akal sebagai karya agung Allah Swt. Allah menciptakan | akal | sesungguhnya agar manusia sanggup memilah dan memilih mana-m | 93 % |
| na pula perbuatan yang buruk. Menurut saya, sekali lagi, | akal | publik harus diberi posisi yang penting. Akal publik tidak c | 94 % |
| , sekali lagi, akal publik harus diberi posisi yang penting. | akal | publik tidak cukup hanya tampil sebagai pengelola data-teks. | 94 % |
| data-teks. Menyangkut perkara-perkara mu’amalah yang mundan, | akal | publik perlu mendapatkan wewenang untuk mengevaluasi efektiv | 95 % |
| sebuah teks di dalam mengatasi perkara-perkara publik, maka | akal | publik mesti mempertimbangkan ulang ketentuan tersebut. Akal | 97 % |
| akal publik mesti mempertimbangkan ulang ketentuan tersebut. | akal | publik bertugas untuk mengeluarkan spirit dasar Islam dari l | 97 % |
| geluarkan spirit dasar Islam dari lipatan huruf-huruf agama. | akal | publik mempunyai tanggungjawab moral untuk mentanqih ayat-ay | 97 % |
| ruksi kaidah-kaidah ushul ini niscaya produk pemikiran Islam | akan | lebih solutif bagi problem-problem kemanusiaan yang terus me | 14 % |
| erutama dalam imu-ilmu terapan Islam semacam ushul fikih ini | akan | berkoresponden secara persis dengan kepiawaiannya di dalam m | 16 % |
| rah pada keumuman lafdz ( al-taslim bi ‘umum al-lafdz) hanya | akan | menyebabkan kita senantiasa berada dalam kerangka makna ling | 31 % |
| lisis yang berhenti hanya pada konteks linguistik saja tidak | akan | cukup memadai untuk mengejar kebenaran hakiki (maqashid asas | 42 % |
| alam aksara sebuah teks. Pencapaian terhadap makna-makna itu | akan | meniscayakan adanya sebuah analisa yang bukan hanya terhadap | 43 % |
| Sebab, keterpesonaan merupakan tindakan ideologis yang hanya | akan | menumpulkan kreativitas dalam pencarian makna obyektif. | 45 % |
| suci yang sudah aus. Dengan cara ini, maka cita kemaslahatan | akan | senantiasa berkreasi untuk memproduksi formulasi bahkan teks | 53 % |
| fikih al-Qur`an persis seperti dalam bunyi harfiahnya hanya | akan | mengantarkan al-Qur`an pada perangkap yang mematikan spirit | 81 % |
| rendah, sehingga kalau dibiarkan maka manusia secara massal | akan | bertelanjang bulat di jalan-jalan sebagaimana binatang, berz | 92 % |
| nhu), yaitu makna yang tak tercakup secara verbatim di dalam | aksara | sebuah teks. Pencapaian terhadap makna-makna itu akan menisc | 43 % |
| tinbatkan hukum dari al-Qur`an dan al-Sunnah bukan huruf dan | aksaranya | melainkan dari maqashid yang dikandungnya. Yang menjadi aksi | 18 % |
| berkulminasi pada teks adalah illegal, sebab teks merupakan | aksis | dari seluruh cara pemecahan problem. Tentu saja ini merup | 12 % |
| anya melainkan dari maqashid yang dikandungnya. Yang menjadi | aksis | adalah cita-cita etik-moral dari sebuah ayat dan bukan legis | 18 % |
| engabaian realitas merupakan ciri umum dari metodologi lama. | aktivitas | ijtihad selalu digerakkan di dalam areal teks. Ijtihad yang | 11 % |
| katakan sebagai ayat dengan kedudukan paling tinggi (al-ayat | al-’ala | qiymatan), atau al-ayat al-ushuliyat atau ushul al-Qur`an. A | 67 % |
| n prinsip-prinsip dasar Islam. 3 Tanqih al-Nushush bi | al-’aql | al-Mujtama’ Kaidah ini hendak menyatakan bahwa akal publ | 74 % |
| bdissalam, “innama al-takalif kulluha raji’atun ila mashalih | al-’ibad” | seluruh ketentuan agama diarahkan untuk sebesar-besarnya kem | 64 % |
| an kemaslahatan bagi sebesar-besarnya umat manusia. 1. | al-’ibrah | bi al-maqashid la bi al-alfadz. Kaidah ini berarti bahwa | 17 % |
| an di atas merupakan antipoda dari kaidah lama yang berbunyi | al-’ibrah | bi khushûsh al-sabab lâ bi ‘umûm al-lafadz. Bahwa yang harus | 29 % |
| fat tehnis-operasional--saya suka menyebutnya dengan al-ayat | al-adna | qiymatan atau al-ayat al-furu’iyyat atau fikih al-Qur`an, se | 71 % |
| gan kedudukan paling tinggi (al-ayat al-’ala qiymatan), atau | al-ayat | al-ushuliyat atau ushul al-Qur`an. Ayat-ayat seperti ini mem | 68 % |
| ng bersifat tehnis-operasional--saya suka menyebutnya dengan | al-ayat | al-adna qiymatan atau al-ayat al-furu’iyyat atau fikih al-Qu | 71 % |
| --saya suka menyebutnya dengan al-ayat al-adna qiymatan atau | al-ayat | al-furu’iyyat atau fikih al-Qur`an, seperti ayat yang berbic | 71 % |
| senantiasa berada dalam kerangka makna linguistik (fiy ithar | al-dalalah | al-lughawiyah)”, tandas Nahr Hamid Abu Zaid dalam bukunya ya | 32 % |
| uka menyebutnya dengan al-ayat al-adna qiymatan atau al-ayat | al-furu’iyyat | atau fikih al-Qur`an, seperti ayat yang berbicara tentang be | 71 % |
| a ditemukan sebuah teks agama baik di dalam al-Qur`an maupun | al-hadits | (apalagi di dalam tafsir dan fikih) yang tidak lagi menyuara | 28 % |
| asi efektivitas dan kinerja beberapa ketentuan al-Qur`an dan | al-hadits | di dalam mengimpelementasikan maqashid al-syari’ah di bumi r | 95 % |
| ertitelkan Fashl al-Maqal fiy Taqrir Ma Bayna al-Syari’at wa | al-hikmah | min al-Ittishal menyatakan bahwa hikmah (kemaslahatan) itu m | 60 % |
| , dan sebagainya. Ayat-ayat tersebut dalam konteks sekarang, | alih-alih | bisa menyelesaikan masalah-masalah kemanusian, yang terjadi | 77 % |
| hl al-Maqal fiy Taqrir Ma Bayna al-Syari’at wa al-Hikmah min | al-ittishal | menyatakan bahwa hikmah (kemaslahatan) itu merupakan saudara | 60 % |
| atan dapat berubah karena perubahan konteks, maka dapat saja | allah | menyuruh berbuat sesuatu karena diketahui mengandung maslaha | 58 % |
| rbuat sesuatu karena diketahui mengandung maslahat, kemudian | allah | melarangnya pada waktu kemudian karena diketahui di lapangan | 59 % |
| saudara kandung dari syari’at-syari’at yang telah ditetapkan | allah | Swt. Teks suci tanpa kemaslahatan memang tak berfungsi ap | 60 % |
| tidak apresiatif bahkan merendahkan akal sebagai karya agung | allah | Swt. Allah menciptakan akal sesungguhnya agar manusia sanggu | 93 % |
| iatif bahkan merendahkan akal sebagai karya agung Allah Swt. | allah | menciptakan akal sesungguhnya agar manusia sanggup memilah d | 93 % |
| emaslahatan. Ibnu Rusyd dalam bukunya yang bertitelkan Fashl | al-maqal | fiy Taqrir Ma Bayna al-Syari’at wa al-Hikmah min al-Ittishal | 59 % |
| an bagi sebesar-besarnya umat manusia. 1. al-’Ibrah bi | al-maqashid | la bi al-alfadz. Kaidah ini berarti bahwa yang mesti menj | 17 % |
| carian makna obyektif. 2 Jawaz Naskh al-Nushush bi | al-mashlahah | Terdapat sebait pertanyaan ontologis dalam ranah ushul fikih | 46 % |
| p-prinsip dasar Islam. 3 Tanqih al-Nushush bi al-’Aql | al-mujtama’ | Kaidah ini hendak menyatakan bahwa akal publik memiliki kewe | 74 % |
| a untuk menemukan maqashid al-syari’ah. Syathibi di dalam | al-muwafaqat | mendengungkan sebuah pernyataan genial bahwa seorang mujtahi | 21 % |
| rsalisme dan ketidak-berhinggan kebenaran huruf (shalahiyyah | al-nansh | dalaliyan li kulli zaman wa makan). Sehingga kita tidak perl | 38 % |
| idak bisa dinasakh ini, seperti ayat “wa idza hakamtum bayna | al-nas | an tahkumu bi al’adl”, “I’dilu huwa aqrabu li al-taqwa”, dan | 69 % |
| itas dalam pencarian makna obyektif. 2 Jawaz Naskh | al-nushush | bi al-Mashlahah Terdapat sebait pertanyaan ontologis dala | 46 % |
| ntuan teks suci. Inilah yang dimaksud dengan ungkapan “naskh | al-nushush | bi al-mashlahah”. Sebagai spirit dari teks (nushush) al-Qur` | 51 % |
| representasikan prinsip-prinsip dasar Islam. 3 Tanqih | al-nushush | bi al-’Aql al-Mujtama’ Kaidah ini hendak menyatakan bahw | 74 % |
| Pemahaman tentang konteks yang lebih dari sekadar ilmu sabab | al-nuzul | dalam pengertian klasik itu merupakan prasyarat utama untuk | 20 % |
| rhatian seorang mujtahid di dalam mengistinbatkan hukum dari | al-qur`an | dan al-Sunnah bukan huruf dan aksaranya melainkan dari maqas | 17 % |
| ashid inilah yang sejatinya menjadi sumber inspirasi tatkala | al-qur`an | hendak melabuhkan ketentuan-ketentuan legal-spesifik di lapa | 26 % |
| r dari segala sumber hukum dalam Islam, termasuk sumber dari | al-qur`an | sendiri. Oleh karena itu, sekiranya ditemukan sebuah teks ag | 27 % |
| ena itu, sekiranya ditemukan sebuah teks agama baik di dalam | al-qur`an | maupun al-hadits (apalagi di dalam tafsir dan fikih) yang ti | 28 % |
| sini adalah bahwa nasakh tidak dapat dilakukan terhadap teks | al-qur`an | yang mengandung prinsip-prinsip ajaran yang universal, ajara | 66 % |
| n logika nasakh sendiri. Sementara ayat-ayat mu’amalah dalam | al-qur`an | yang bersifat tehnis-operasional--saya suka menyebutnya deng | 70 % |
| ik” agama yang menyangkut perkara-perkara publik, baik dalam | al-qur`an | maupun dalam al-Sunnah. Sehingga ketika terjadi pertentangan | 75 % |
| ebuah fikih, ayat-ayat tersebut sepenuhnya merupakan respons | al-qur`an | terhadap kasus-kasus tertentu yang berlangsung dalam lokus t | 79 % |
| an, dan penyulingan. Dalam tataran itu, universalisasi fikih | al-qur`an | tanpa melalui proses tanqih harus dihindari. Sebab, membiark | 81 % |
| lalui proses tanqih harus dihindari. Sebab, membiarkan fikih | al-qur`an | persis seperti dalam bunyi harfiahnya hanya akan mengantarka | 81 % |
| ersis seperti dalam bunyi harfiahnya hanya akan mengantarkan | al-qur`an | pada perangkap yang mematikan spirit dan elan vital al-Qur`a | 81 % |
| sionalisasi terhadap barang-barang irrasional yang ada dalam | al-qur`an | dan al-Sunnah. Akal hanya berguna untuk membuka tabir kegela | 88 % |
| ya berguna untuk membuka tabir kegelapan teks-teks dhanniyat | al-qur`an | saja. Di tangan Mu’tazilah, akal hanya berfungsi untuk menak | 89 % |
| ntuk mengevaluasi efektivitas dan kinerja beberapa ketentuan | al-qur`an | dan al-Hadits di dalam mengimpelementasikan maqashid al-syar | 95 % |
| ntipoda dari kaidah lama yang berbunyi al-’ibrah bi khushûsh | al-sabab | lâ bi ‘umûm al-lafadz. Bahwa yang harus menjadi pertimbangan | 29 % |
| g mujtahid di dalam mengistinbatkan hukum dari al-Qur`an dan | al-sunnah | bukan huruf dan aksaranya melainkan dari maqashid yang dikan | 17 % |
| dikenal dengan istilah maqashid al-syari’ah. Begitu maqashid | al-syari’ah | sudah dicapai, maka teks harus segera dilepaskan dari kontek | 23 % |
| iran sepanjang masa. Dalam khazanah ushul fikih, maqashid | al-syari’ah | itu adalah keadilan, kemaslahatan, kesetaraan, hikmah-kebija | 25 % |
| legal-spesifik di lapangan. Dengan perkataan lain, maqashid | al-syari’ah | adalah sumber dari segala sumber hukum dalam Islam, termasuk | 27 % |
| ah, maka ia batal atau dapat dibatalkan demi logika maqashid | al-syari’ah | itu. Kaidah yang diajukan di atas merupakan antipoda dari | 28 % |
| g melingkupi sejarah kehadiran teks. Maka, kejarlah maqashid | al-syari’ah | dengan pelbagai cara, tanpa terlalu banyak terpesona terhada | 44 % |
| -Qur`an dan al-Hadits di dalam mengimpelementasikan maqashid | al-syari’ah | di bumi realitas. Sekiranya dari data lapangan diketahui ket | 96 % |
| bukunya yang bertitelkan Fashl al-Maqal fiy Taqrir Ma Bayna | al-syari’at | wa al-Hikmah min al-Ittishal menyatakan bahwa hikmah (kemasl | 60 % |
| narik mendengar pernyataan Izzuddin Ibnu Abdissalam, “innama | al-takalif | kulluha raji’atun ila mashalih al-’ibad” seluruh ketentuan | 63 % |
| s suatu peristiwa yang khusus. “Pasrah pada keumuman lafdz ( | al-taslim | bi ‘umum al-lafdz) hanya akan menyebabkan kita senantiasa be | 31 % |
| Membangun Ushul Fikih | alternatif | Mestinya, metodologi Islam klasik diletakkan dalam konfigura | 0 % |
| nya, jangan lupa bahwa itu hanya sebagian kaidah ushul fikih | alternatif | yang bisa disodorkan untuk membenahi kelemahan-kelemahan met | 98 % |
| lasik mengatakan bahwa yang dimenangkan adalah nash. Bahkan, | al-thufi | menyatakan bahwa tidak mungkin terjadi pertentangan antara n | 47 % |
| agama yang mutaghayyir (berubah-berubah mengikuti perubahan | alur | sejarah dan peradaban).Maka, yang perlu mendapatkan proviso | 65 % |
| dukan paling tinggi (al-ayat al-’ala qiymatan), atau al-ayat | al-ushuliyat | atau ushul al-Qur`an. Ayat-ayat seperti ini memang tidak ban | 68 % |
| spirit dari teks (nushush) al-Qur`an, kemaslahatan merupakan | amunisi | untuk mengontrol balik dari keberadaan teks dengan menganuli | 52 % |
| sa dinasakh ini, seperti ayat “wa idza hakamtum bayna al-nas | an | tahkumu bi al’adl”, “I’dilu huwa aqrabu li al-taqwa”, dan se | 69 % |
| ian terhadap makna-makna itu akan meniscayakan adanya sebuah | analisa | yang bukan hanya terhadap struktur kalimat per se melainkan | 43 % |
| tur kalimat per se melainkan yang justeru fondasional adalah | analisa | kelas dan struktur sosial dan budaya yang melingkupi sejarah | 44 % |
| shanam yu’bad (patung yang disembah). Segera tampak bahwa | analisis | yang berhenti hanya pada konteks linguistik saja tidak akan | 41 % |
| kebenaran hakiki (maqashid asasiyah) yang diusung oleh teks. | analisis | mestinya dilanjutkan pada penyingkapan makna yang terdiamkan | 42 % |
| k lagi relevan. Ditegaskan bahwa ketika terjadi pertentangan | antara | akal publik dan bunyi harfiah teks ajaran, metodologi lampau | 9 % |
| ontologis dalam ranah ushul fikih, jika terjadi pertentangan | antara | teks (nash) dan maslahat mana yang mesti dimenangkan? Dalam | 46 % |
| al-Thufi menyatakan bahwa tidak mungkin terjadi pertentangan | antara | nash dan mashlahah, karena apa yang diujarkan oleh nash adal | 48 % |
| maupun dalam al-Sunnah. Sehingga ketika terjadi pertentangan | antara | akal publik dengan bunyi harfiah teks ajaran, maka akal publ | 75 % |
| d al-syari’ah itu. Kaidah yang diajukan di atas merupakan | antipoda | dari kaidah lama yang berbunyi al-’ibrah bi khushûsh al-saba | 29 % |
| ngkin terjadi pertentangan antara nash dan mashlahah, karena | apa | yang diujarkan oleh nash adalah kemaslahatan itu sendiri. Se | 48 % |
| ah Swt. Teks suci tanpa kemaslahatan memang tak berfungsi | apa-apa | buat manusia, kecuali untuk teks itu sendiri. Teks baru berm | 61 % |
| al tidak cukup percaya diri untuk melakukan peninjauan ulang | apalagi | mempertanyakan ayat-ayat partikular yang tergolong qath’iyat | 90 % |
| nusia sendiri. Manusia tidak memiliki reputasi dan kedudukan | apapun | dalam ruang ushul fikih klasik, kecuali sebagai sasaran huku | 10 % |
| nuh, dan sebagainya. Ini, tentu saja sebuah sikap yang tidak | apresiatif | bahkan merendahkan akal sebagai karya agung Allah Swt. Allah | 93 % |
| za hakamtum bayna al-nas an tahkumu bi al’adl”, “I’dilu huwa | aqrabu | li al-taqwa”, dan sebagainya. Nasakh terhadap ayat yang demi | 69 % |
| uan yang memadai menyangkut tradisi dan kebiasaan masyarakat | arab | sebagai masyarakat awal yang menjadi sasaran wahyu. Pengetah | 22 % |
| etodologi lama. Aktivitas ijtihad selalu digerakkan di dalam | areal | teks. Ijtihad yang tidak berkulminasi pada teks adalah illeg | 12 % |
| s mendevaluasi akal di bawah kedigdayaan teks. Baik kalangan | asy’ariyah | maupun Mu’tazilah hakekatnya sama-sama memposisikan akal seb | 87 % |
| logika maqashid al-syari’ah itu. Kaidah yang diajukan di | atas | merupakan antipoda dari kaidah lama yang berbunyi al-’ibrah | 29 % |
| a memiliki kedudukan dan derajat yang sama. Pandangan di | atas | sangat berbeda dengan pandangan mainstream, baik yang klasik | 86 % |
| ita etik-moral dari sebuah ayat dan bukan legislasi spesifik | atau | formulasi literalnya. Nah, untuk mengetahui maqashid ini mak | 18 % |
| kan untuk menimba dan memperoleh prinsip-prinsip dasar Islam | atau | yang dikenal dengan istilah maqashid al-syari’ah. Begitu maq | 23 % |
| g tidak lagi menyuarakan maqashid al-syari’ah, maka ia batal | atau | dapat dibatalkan demi logika maqashid al-syari’ah itu. Ka | 28 % |
| t dengan kedudukan paling tinggi (al-ayat al-’ala qiymatan), | atau | al-ayat al-ushuliyat atau ushul al-Qur`an. Ayat-ayat seperti | 68 % |
| tinggi (al-ayat al-’ala qiymatan), atau al-ayat al-ushuliyat | atau | ushul al-Qur`an. Ayat-ayat seperti ini memang tidak banyak j | 68 % |
| ional--saya suka menyebutnya dengan al-ayat al-adna qiymatan | atau | al-ayat al-furu’iyyat atau fikih al-Qur`an, seperti ayat yan | 71 % |
| a dengan al-ayat al-adna qiymatan atau al-ayat al-furu’iyyat | atau | fikih al-Qur`an, seperti ayat yang berbicara tentang bentuk- | 71 % |
| vat ini dibutuhkan tentu untuk menghindari oligarki pendapat | atau | otoritarianisme dalam merumuskan dan memecahkan urusan-urusa | 84 % |
| agaimanapun di dalam ruang publik tidak boleh ada satu pihak | atau | golongan dalam masyarakat yang berhak memaksa pandangannya p | 85 % |
| i pengelola data-teks, sementara data-teks merupakan pangkal | atau | asal. Sebagai pengelola, maka akal tidak bisa bertindak terl | 88 % |
| melarangnya pada waktu kemudian karena diketahui di lapangan | aturan | tersebut tidak lagi menyuarakan kemaslahatan. Ibnu Rusyd dal | 59 % |
| kut tradisi dan kebiasaan masyarakat Arab sebagai masyarakat | awal | yang menjadi sasaran wahyu. Pengetahuan tentang konteks tent | 22 % |
| . Yang menjadi aksis adalah cita-cita etik-moral dari sebuah | ayat | dan bukan legislasi spesifik atau formulasi literalnya. Nah, | 18 % |
| tnis dan keyakinan. Ayat-ayat ini ingin saya katakan sebagai | ayat | dengan kedudukan paling tinggi (al-ayat al-’ala qiymatan), a | 67 % |
| ahkan bisa dihitung dengan jari tangan. Masuk dalam kategori | ayat | yang tidak bisa dinasakh ini, seperti ayat “wa idza hakamtum | 68 % |
| uk dalam kategori ayat yang tidak bisa dinasakh ini, seperti | ayat | “wa idza hakamtum bayna al-nas an tahkumu bi al’adl”, “I’dil | 69 % |
| lu huwa aqrabu li al-taqwa”, dan sebagainya. Nasakh terhadap | ayat | yang demikian bukan saja berpunggungan dengan semangat kehad | 69 % |
| tan atau al-ayat al-furu’iyyat atau fikih al-Qur`an, seperti | ayat | yang berbicara tentang bentuk-bentuk hukuman (‘uqubat), sank | 71 % |
| buka kemungkinan untuk dinasakh dan difalsifikasi, sekiranya | ayat | tadi tidak efektif lagi sebagai sarana untuk mewujudkan cita | 72 % |
| uhkan ketika berhadapan dengan ayat-ayat partikular, seperti | ayat | hudud (seperti potong tangan, rajam, dan sebagainya), waris, | 76 % |
| asi ruang dan waktu, mengatasi pelbagai etnis dan keyakinan. | ayat-ayat | ini ingin saya katakan sebagai ayat dengan kedudukan paling | 67 % |
| a qiymatan), atau al-ayat al-ushuliyat atau ushul al-Qur`an. | ayat-ayat | seperti ini memang tidak banyak jumlahnya, bahkan bisa dihit | 68 % |
| an juga bertentangan dengan logika nasakh sendiri. Sementara | ayat-ayat | mu’amalah dalam al-Qur`an yang bersifat tehnis-operasional-- | 70 % |
| fikasi ini terasa sangat dibutuhkan ketika berhadapan dengan | ayat-ayat | partikular, seperti ayat hudud (seperti potong tangan, rajam | 76 % |
| otong tangan, rajam, dan sebagainya), waris, dan sebagainya. | ayat-ayat | tersebut dalam konteks sekarang, alih-alih bisa menyelesaika | 77 % |
| yid bi al-’aql, takhshish bi al-’aql, dan tabyin bi al-’aql. | ayat-ayat | semacam itu, sebagaimana dikatakan sebelumnya disebut sebaga | 78 % |
| umnya disebut sebagai fikih al-Qur`an. Sebagai sebuah fikih, | ayat-ayat | tersebut sepenuhnya merupakan respons al-Qur`an terhadap kas | 79 % |
| s tertentu pula, masyarakat Arab. Dengan demikian, kebenaran | ayat-ayat | tadi bersifat relatif dan tentatif, sehingga memerlukan peny | 80 % |
| a. Di tangan Mu’tazilah, akal hanya berfungsi untuk menakwil | ayat-ayat | yang mutasyabih. Akal tidak cukup percaya diri untuk melakuk | 89 % |
| diri untuk melakukan peninjauan ulang apalagi mempertanyakan | ayat-ayat | partikular yang tergolong qath’iyat dari sudut struktur gram | 90 % |
| a. Akal publik mempunyai tanggungjawab moral untuk mentanqih | ayat-ayat | yang problematik. Akhirnya, jangan lupa bahwa itu hanya s | 98 % |
| anisme dalam merumuskan dan memecahkan urusan-urusan publik. | bagaimanapun | di dalam ruang publik tidak boleh ada satu pihak atau golong | 85 % |
| ushul ini niscaya produk pemikiran Islam akan lebih solutif | bagi | problem-problem kemanusiaan yang terus melilit. Karena, beta | 14 % |
| ersis dengan kepiawaiannya di dalam menciptakan kemaslahatan | bagi | sebesar-besarnya umat manusia. 1. al-’Ibrah bi al-maqa | 16 % |
| . Teks baru bermakna sekiranya menyertakan cita kemaslahatan | bagi | umat manusia. Kemaslahatan adalah fondasi paling pokok dari | 61 % |
| ng berbicara tentang bentuk-bentuk hukuman (‘uqubat), sanksi | bagi | para pelaku pidana (hudud), bilangan waris dan sebagainya, m | 71 % |
| n masalah-masalah kemanusian, yang terjadi justeru merupakan | bagian | dari masalah yang harus dipecahkan melalui prosedur tanqih y | 78 % |
| akademis kontemporer seringkali menayangkan ketidakberdayaan | bahkan | kerapuhan metodolgi klasik tersebut. Metodologi lama terlalu | 1 % |
| akademis kontemporer seringkali menayangkan ketidakberdayaan | bahkan | kerapuhan metodolgi klasik tersebut. 1 Metodologi lama ter | 7 % |
| ahatan akan senantiasa berkreasi untuk memproduksi formulasi | bahkan | teks keagamaan baru di tengah kegamangan dan kegagapan formu | 53 % |
| Qur`an. Ayat-ayat seperti ini memang tidak banyak jumlahnya, | bahkan | bisa dihitung dengan jari tangan. Masuk dalam kategori ayat | 68 % |
| bagainya. Ini, tentu saja sebuah sikap yang tidak apresiatif | bahkan | merendahkan akal sebagai karya agung Allah Swt. Allah mencip | 93 % |
| bermadzhab dari yang qawliy ke manhaji mengandung pengertian | bahwa | metodologi klasik yang telah dikerangkakan oleh para ulama d | 4 % |
| rmalistik di dalam Islam yang tidak lagi relevan. Ditegaskan | bahwa | ketika terjadi pertentangan antara akal publik dan bunyi har | 9 % |
| ’Ibrah bi al-maqashid la bi al-alfadz. Kaidah ini berarti | bahwa | yang mesti menjadi perhatian seorang mujtahid di dalam mengi | 17 % |
| di dalam al-Muwafaqat mendengungkan sebuah pernyataan genial | bahwa | seorang mujtahid diharuskan untuk melengkapi diri dengan pen | 21 % |
| rbunyi al-’ibrah bi khushûsh al-sabab lâ bi ‘umûm al-lafadz. | bahwa | yang harus menjadi pertimbangan adalah keumuman lafadz, buka | 29 % |
| para pengguna kaidah ini kerap terjebak pada suatu kenaifan. | bahwa | semakin harafiah seseorang membaca al-Qur`an, maka semakin d | 34 % |
| dalah shanam yu’bad (patung yang disembah). Segera tampak | bahwa | analisis yang berhenti hanya pada konteks linguistik saja ti | 41 % |
| pertanyaan ini, umumnya ulama ushul fikih klasik mengatakan | bahwa | yang dimenangkan adalah nash. Bahkan, al-Thufi menyatakan ba | 47 % |
| wa yang dimenangkan adalah nash. Bahkan, al-Thufi menyatakan | bahwa | tidak mungkin terjadi pertentangan antara nash dan mashlahah | 47 % |
| oleh nash adalah kemaslahatan itu sendiri. Sering disinyalir | bahwa | kemaslahatan yang diandaikan oleh manusia adalah kemaslahata | 48 % |
| ng dipandang tidak lagi bersendikan kemaslahatan. Dijelaskan | bahwa | nasakh itu bukan hanya berlaku terhadap syari’at nabi-nabi t | 55 % |
| uhammad karena tidak bermaslahat lagi. Tidaklah mustahil | bahwa | sesuatu yang bernilai maslahat dalam suatu tempat dan waktu | 57 % |
| Ma Bayna al-Syari’at wa al-Hikmah min al-Ittishal menyatakan | bahwa | hikmah (kemaslahatan) itu merupakan saudara kandung dari sya | 60 % |
| aka, yang perlu mendapatkan proviso penegasan di sini adalah | bahwa | nasakh tidak dapat dilakukan terhadap teks al-Qur`an yang me | 66 % |
| hush bi al-’Aql al-Mujtama’ Kaidah ini hendak menyatakan | bahwa | akal publik memiliki kewenangan untuk menyulih dan mengamand | 74 % |
| ntanqih ayat-ayat yang problematik. Akhirnya, jangan lupa | bahwa | itu hanya sebagian kaidah ushul fikih alternatif yang bisa d | 98 % |
| diri. Oleh karena itu, sekiranya ditemukan sebuah teks agama | baik | di dalam al-Qur`an maupun al-hadits (apalagi di dalam tafsir | 27 % |
| uan “dogmatik” agama yang menyangkut perkara-perkara publik, | baik | dalam al-Qur`an maupun dalam al-Sunnah. Sehingga ketika terj | 75 % |
| andangan di atas sangat berbeda dengan pandangan mainstream, | baik | yang klasik maupun yang kontemporer yang terus menerus mende | 86 % |
| g terus menerus mendevaluasi akal di bawah kedigdayaan teks. | baik | kalangan Asy’ariyah maupun Mu’tazilah hakekatnya sama-sama m | 87 % |
| manusia sanggup memilah dan memilih mana-mana tindakan yang | baik | dan mana-mana pula perbuatan yang buruk. Menurut saya, s | 94 % |
| ) al-Qur`an, kemaslahatan merupakan amunisi untuk mengontrol | balik | dari keberadaan teks dengan menganulir beberapa teks suci ya | 52 % |
| Islam yang tidak lagi relevan. Oleh: Abd Moqsith Ghazali | banyak | pemikir Muslim memandang metodologi (ushul fikih) klasik tan | 3 % |
| as pada tingkat pemecahan problem tersebut, maka ia tidaklah | banyak | guna dan manfaatnya. Kecanggihan sebuah metodologi terutama | 15 % |
| erjudul al-Nash, al-Sulthah, al-Haqiqah. Terdapat sekian | banyak | kritik terhadap kaidah konvensional ini. Misalnya, pertama, | 32 % |
| nsional ini. Misalnya, pertama, kaidah ini dipandang terlalu | banyak | berkonsentrasi dan bergerak pada medan semantik dengan menep | 33 % |
| lah maqashid al-syari’ah dengan pelbagai cara, tanpa terlalu | banyak | terpesona terhadap keindahan sebuah teks. Sebab, keterpesona | 45 % |
| yat atau ushul al-Qur`an. Ayat-ayat seperti ini memang tidak | banyak | jumlahnya, bahkan bisa dihitung dengan jari tangan. Masuk da | 68 % |
| istinbath yang telah lama dirisaukan. Tentu saja ada sekian | banyak | lagi kaidah ushul fikih yang perlu direformasi dengan menyer | 99 % |
| kaidah ushul fikih yang perlu direformasi dengan menyertakan | banyak | orang yang berkompeten. Dengan cara ini, niscaya kita bisa m | 99 % |
| u jauh, kecuali hanya untuk melakukan rasionalisasi terhadap | barang-barang | irrasional yang ada dalam al-Qur`an dan al-Sunnah. Akal hany | 88 % |
| berkreasi untuk memproduksi formulasi bahkan teks keagamaan | baru | di tengah kegamangan dan kegagapan formulasi dan teks keagam | 53 % |
| h syari’at Nabi Muhammad sendiri. Betapa syari’at Islam yang | baru | diundangkan, kerap dalam 3 sampai 5 tahun dianulir kembali o | 56 % |
| i apa-apa buat manusia, kecuali untuk teks itu sendiri. Teks | baru | bermakna sekiranya menyertakan cita kemaslahatan bagi umat m | 61 % |
| h) yang tidak lagi menyuarakan maqashid al-syari’ah, maka ia | batal | atau dapat dibatalkan demi logika maqashid al-syari’ah itu. | 28 % |
| u man qablana) saja, tetapi melainkan juga berlangsung dalam | batang | tubuh syari’at Nabi Muhammad sendiri. Betapa syari’at Islam | 56 % |
| pun yang kontemporer yang terus menerus mendevaluasi akal di | bawah | kedigdayaan teks. Baik kalangan Asy’ariyah maupun Mu’tazilah | 87 % |
| dalam bukunya yang bertitelkan Fashl al-Maqal fiy Taqrir Ma | bayna | al-Syari’at wa al-Hikmah min al-Ittishal menyatakan bahwa hi | 60 % |
| yang tidak bisa dinasakh ini, seperti ayat “wa idza hakamtum | bayna | al-nas an tahkumu bi al’adl”, “I’dilu huwa aqrabu li al-taqw | 69 % |
| ntuk mengontrol balik dari keberadaan teks dengan menganulir | beberapa | teks suci yang sudah aus. Dengan cara ini, maka cita kemasla | 52 % |
| . Semua pelajar Islam mesti tahu cerita tentang penganuliran | beberapa | syari’at yang dipandang tidak lagi bersendikan kemaslahatan. | 55 % |
| dapatkan wewenang untuk mengevaluasi efektivitas dan kinerja | beberapa | ketentuan al-Qur`an dan al-Hadits di dalam mengimpelementasi | 95 % |
| Islam atau yang dikenal dengan istilah maqashid al-syari’ah. | begitu | maqashid al-syari’ah sudah dicapai, maka teks harus segera d | 23 % |
| kal mengalami penyusutan peran. Seolah-olah akal manusia itu | begitu | rendah, sehingga kalau dibiarkan maka manusia secara massal | 91 % |
| melabuhkan prinsip-prinsip dasar Islam itu di tempat dan di | belahan | bumi non-Arab. Maka, kontekstualisasi, dekontekstualisasi, d | 24 % |
| at atau fikih al-Qur`an, seperti ayat yang berbicara tentang | bentuk-bentuk | hukuman (‘uqubat), sanksi bagi para pelaku pidana (hudud), b | 71 % |
| im bi ‘umum al-lafdz) hanya akan menyebabkan kita senantiasa | berada | dalam kerangka makna linguistik (fiy ithar al-dalalah al-lug | 31 % |
| qih ini hakekatnya inheren di dalam diri setiap manusia yang | berakal | budi. Dalam jiwa manusia terdapat impuls abadi yang tak pern | 82 % |
| 1. al-’Ibrah bi al-maqashid la bi al-alfadz. Kaidah ini | berarti | bahwa yang mesti menjadi perhatian seorang mujtahid di dalam | 17 % |
| edudukan dan derajat yang sama. Pandangan di atas sangat | berbeda | dengan pandangan mainstream, baik yang klasik maupun yang ko | 86 % |
| an). Sehingga kita tidak perlu kaget ketika ushul fikih lama | berbicara | tentang lafdz dalam porsi yang demikian besar. Segala jenis | 39 % |
| l-ayat al-furu’iyyat atau fikih al-Qur`an, seperti ayat yang | berbicara | tentang bentuk-bentuk hukuman (‘uqubat), sanksi bagi para pe | 71 % |
| bah karena perubahan konteks, maka dapat saja Allah menyuruh | berbuat | sesuatu karena diketahui mengandung maslahat, kemudian Allah | 58 % |
| ng diajukan di atas merupakan antipoda dari kaidah lama yang | berbunyi | al-’ibrah bi khushûsh al-sabab lâ bi ‘umûm al-lafadz. Bahwa | 29 % |
| g ushul fikih klasik, kecuali sebagai sasaran hukum yang tak | berdaya | (mukallaf) 3 Pemberhalaan teks dan pengabaian realitas mer | 11 % |
| tapkan Allah Swt. Teks suci tanpa kemaslahatan memang tak | berfungsi | apa-apa buat manusia, kecuali untuk teks itu sendiri. Teks b | 61 % |
| s dhanniyat al-Qur`an saja. Di tangan Mu’tazilah, akal hanya | berfungsi | untuk menakwil ayat-ayat yang mutasyabih. Akal tidak cukup p | 89 % |
| tama, kaidah ini dipandang terlalu banyak berkonsentrasi dan | bergerak | pada medan semantik dengan menepikan peranan sabab al-nuzul. | 33 % |
| rrasional yang ada dalam al-Qur`an dan al-Sunnah. Akal hanya | berguna | untuk membuka tabir kegelapan teks-teks dhanniyat al-Qur`an | 89 % |
| fikasikannya. Modifikasi ini terasa sangat dibutuhkan ketika | berhadapan | dengan ayat-ayat partikular, seperti ayat hudud (seperti pot | 76 % |
| dak boleh ada satu pihak atau golongan dalam masyarakat yang | berhak | memaksa pandangannya pada orang lain, karena pandangannya di | 85 % |
| (patung yang disembah). Segera tampak bahwa analisis yang | berhenti | hanya pada konteks linguistik saja tidak akan cukup memadai | 41 % |
| -lughawiyah)”, tandas Nahr Hamid Abu Zaid dalam bukunya yang | berjudul | al-Nash, al-Sulthah, al-Haqiqah. Terdapat sekian banyak | 32 % |
| ini. Misalnya, pertama, kaidah ini dipandang terlalu banyak | berkonsentrasi | dan bergerak pada medan semantik dengan menepikan peranan sa | 33 % |
| ma dalam imu-ilmu terapan Islam semacam ushul fikih ini akan | berkoresponden | secara persis dengan kepiawaiannya di dalam menciptakan kema | 16 % |
| aus. Dengan cara ini, maka cita kemaslahatan akan senantiasa | berkreasi | untuk memproduksi formulasi bahkan teks keagamaan baru di te | 53 % |
| ad selalu digerakkan di dalam areal teks. Ijtihad yang tidak | berkulminasi | pada teks adalah illegal, sebab teks merupakan aksis dari se | 12 % |
| ndikan kemaslahatan. Dijelaskan bahwa nasakh itu bukan hanya | berlaku | terhadap syari’at nabi-nabi terdahulu (syar’u man qablana) s | 55 % |
| i terdahulu (syar’u man qablana) saja, tetapi melainkan juga | berlangsung | dalam batang tubuh syari’at Nabi Muhammad sendiri. Betapa sy | 56 % |
| rupakan respons al-Qur`an terhadap kasus-kasus tertentu yang | berlangsung | dalam lokus tertentu pula, masyarakat Arab. Dengan demikian, | 79 % |
| apapun. Ajakan sejumlah ulama Indonesia untuk mengubah pola | bermadzhab | dari yang qawliy ke manhaji mengandung pengertian bahwa meto | 3 % |
| -apa buat manusia, kecuali untuk teks itu sendiri. Teks baru | bermakna | sekiranya menyertakan cita kemaslahatan bagi umat manusia. K | 61 % |
| penanganan. Dengan segala keterbatasan, tulisan ini kiranya | bermaksud | untuk mereformasi kaidah-kaidah ushul fikih yang problematis | 13 % |
| pai 5 tahun dianulir kembali oleh Nabi Muhammad karena tidak | bermaslahat | lagi. Tidaklah mustahil bahwa sesuatu yang bernilai masl | 57 % |
| k bermaslahat lagi. Tidaklah mustahil bahwa sesuatu yang | bernilai | maslahat dalam suatu tempat dan waktu tertentu, kemudian ber | 57 % |
| al publik dengan bunyi harfiah teks ajaran, maka akal publik | berotoritas | untuk mengedit, menyempurnakan, dan memodifikasikannya. Modi | 75 % |
| untuk bertanqih. Terdapat dorongan adekuat untuk senantiasa | berpihak | pada kebenaran dan keadilan. Selalu ada kecenderungan untuk | 83 % |
| an sebagainya. Nasakh terhadap ayat yang demikian bukan saja | berpunggungan | dengan semangat kehadiran Islam awal, melainkan juga bertent | 69 % |
| makin dekat ia pada kebenaran. Sebaliknya, semakin jauh yang | bersangkutan | dari makna literal al-Qur`an, maka ia semakin terlempar dari | 34 % |
| ang penganuliran beberapa syari’at yang dipandang tidak lagi | bersendikan | kemaslahatan. Dijelaskan bahwa nasakh itu bukan hanya berlak | 55 % |
| secara sepenuh hati.Secara pribadi, saya tidak dalam posisi | bersetuju | dengan jawaban di atas. Pada hemat saya, maslahat memiliki o | 51 % |
| susnya sebab. Maka, jika suatu nash menggunakan redaksi yang | bersifat | umum, maka tidak ada pilihan lain selain menerapkan nash ter | 30 % |
| sendiri. Sementara ayat-ayat mu’amalah dalam al-Qur`an yang | bersifat | tehnis-operasional--saya suka menyebutnya dengan al-ayat al- | 70 % |
| , masyarakat Arab. Dengan demikian, kebenaran ayat-ayat tadi | bersifat | relatif dan tentatif, sehingga memerlukan penyempurnaan, pem | 80 % |
| ah, sehingga kalau dibiarkan maka manusia secara massal akan | bertelanjang | bulat di jalan-jalan sebagaimana binatang, berzina beramai-r | 92 % |
| ggungan dengan semangat kehadiran Islam awal, melainkan juga | bertentangan | dengan logika nasakh sendiri. Sementara ayat-ayat mu’amalah | 70 % |
| n pangkal atau asal. Sebagai pengelola, maka akal tidak bisa | bertindak | terlampau jauh, kecuali hanya untuk melakukan rasionalisasi | 88 % |
| lagi menyuarakan kemaslahatan. Ibnu Rusyd dalam bukunya yang | bertitelkan | Fashl al-Maqal fiy Taqrir Ma Bayna al-Syari’at wa al-Hikmah | 59 % |
| mesti mempertimbangkan ulang ketentuan tersebut. Akal publik | bertugas | untuk mengeluarkan spirit dasar Islam dari lipatan huruf-hur | 97 % |
| lai maslahat dalam suatu tempat dan waktu tertentu, kemudian | berubah | menjadi mafsadat dalam suatu ruang dan waktu yang lain. Bila | 57 % |
| lam suatu ruang dan waktu yang lain. Bila kemaslahatan dapat | berubah | karena perubahan konteks, maka dapat saja Allah menyuruh ber | 58 % |
| i masalah yang harus dipecahkan melalui prosedur tanqih yang | berupa | taqyid bi al-’aql, takhshish bi al-’aql, dan tabyin bi al-’a | 78 % |
| akan bertelanjang bulat di jalan-jalan sebagaimana binatang, | berzina | beramai-ramai, mencuri secara berjemaah, saling bunuh-membun | 92 % |
| bagi problem-problem kemanusiaan yang terus melilit. Karena, | betapa | pun canggihnya sebuah metodologi jika kandas pada tingkat pe | 15 % |
| rlangsung dalam batang tubuh syari’at Nabi Muhammad sendiri. | betapa | syari’at Islam yang baru diundangkan, kerap dalam 3 sampai 5 | 56 % |
| hatan bagi sebesar-besarnya umat manusia. 1. al-’Ibrah | bi | al-maqashid la bi al-alfadz. Kaidah ini berarti bahwa yan | 17 % |
| -besarnya umat manusia. 1. al-’Ibrah bi al-maqashid la | bi | al-alfadz. Kaidah ini berarti bahwa yang mesti menjadi pe | 17 % |
| merupakan antipoda dari kaidah lama yang berbunyi al-’ibrah | bi | khushûsh al-sabab lâ bi ‘umûm al-lafadz. Bahwa yang harus me | 29 % |
| kaidah lama yang berbunyi al-’ibrah bi khushûsh al-sabab lâ | bi | ‘umûm al-lafadz. Bahwa yang harus menjadi pertimbangan adala | 29 % |
| ristiwa yang khusus. “Pasrah pada keumuman lafdz ( al-taslim | bi | ‘umum al-lafdz) hanya akan menyebabkan kita senantiasa berad | 31 % |
| pencarian makna obyektif. 2 Jawaz Naskh al-Nushush | bi | al-Mashlahah Terdapat sebait pertanyaan ontologis dalam r | 46 % |
| suci. Inilah yang dimaksud dengan ungkapan “naskh al-nushush | bi | al-mashlahah”. Sebagai spirit dari teks (nushush) al-Qur`an, | 51 % |
| ini, seperti ayat “wa idza hakamt |