SEAsiteBar

click here for the word frequency

 

Agama, Akal, dan Kebebasan: Tentang Makna “Liberal” dalam Islam Liberal

Sekali lagi, Islam tidak berguna bagi orang-orang yang telah menyangkal kemanusiaan itu sendiri. Sebab agama bukanlah diperuntukkan bagi keledai.

Oleh: Ulil Abshar-Abdalla

 

Ada kesan yang tertanam dalam sebagian orang, bahwa istilah “liberal” dalam Islam liberal mempunyai makna kebebasan tanpa batas, atau bahkan disetarakan dengan sikap permisif, ibahiyah; sikap menolerir setiap hal tanpa mengenal batas yang pasti. Dengan cara pandang semacam itu, Islam liberal dipandang sebagai ancaman terhadap keberagamaan yang sudah terlembaga.

Dalam Islam, persoalan “batasan” (hadd) antara mana yang boleh (mubah) dan yang tak boleh (mahdzur), menempati kedudukan yang begitu sentral. Setiap orang Islam selalu peduli pada apa yang dia kerjakan, apakah pebuatan itu boleh atau tidak. Inilah yang kemudian melahirkan suatu bidang kajian yang sangat kaya dan meninggalkan ribuan literatur yang canggih, yaitu bidang fikih. Setiap pembicaraan tentang hukum selalu rujukannya adalah fikih. Ketika muncul diskusi yang ramai soal penerapan hukum Islam, maka fikih menjadi fokus perhatian, sebab dalam fikih lah sebagian besar hukum Islam dirumuskan.

Dalam diskusi-diskusi itu, kelihatan sekali bahwa tekanan diberikan kepada “kewajiban”, yaitu kewajiban seorang Muslim terhadap Allah, sesama manusia, dan dirinya sendiri. Bahasa kewajiban lebih menonjol, menutup bahasa hak dan kebebasan manusia. Islam liberal muncul dalam semangat untuk menyeimbangkan “neraca” antara bahasa kewajiban dan kebebasan/hak ini. Untuk itu, marilah kita masuki sebuah tema dasar yang menjadi debat dalam pemikiran Islam klasik: soal tindakan manusia (af’alul ’ibad).

Otonom atau tidak?

Marilah kita mulai dengan pertanyaan sederhana: apakah manusia bisa, dengan akal, intuisi dan fitrahnya, mencapai pemahaman yang mendalam mengenai kebaikan dan kejahatan? Apakah untuk mengetahui hal-hal itu, manusia harus menungguh wahyu dari "langit"? Apakah gunanya agama, jika toh manusia sudah mampu mencapai sendiri pemahaman mengenai "yang baik" dan "yang jahat"? Apakah manusia secara moral otonom dalam mengetahui kebaikan dan kejahatan, atau tergantung pada entitas di luar dirinya?

Dalam masalah ini, ada dua jawaban yang tersedia dalam khazanah pemikiran Islam klasik. Ada golongan Sunni yang dominan, dengan pandangan pokok bahwa kebaikan dan kejahatan itu haruslah ditentukan oleh agama. Manusia baru tahu bahwa tindakan ini jahat atau baik setelah mendapatkan pengajaran dari agama. Golongan kedua adalah Mu'tazilah yang memandang bahwa manusia dengan akalnya sendiri dapat mengetahui batas-batas kebaikan dan kejahatan, batas-batas kepantasan. Sudah tentu, jika dikatakan bahwa akal manusia dapat menentukan batas-batas tersebut, tidak berarti bahwa seluruh batas itu sudah diketahui oleh akal dari hari pertama. Akal manusia berkembang, mengalami evolusi, dan akan makin matang.

Saya lebih cenderung pada pandangan kaum Mu'tazilah. Tetapi, harap lah disadari bahwa dengan menerima pendapat Mu'tazilah, bukan berarti saya menepiskan peran wahyu dalam memperkaya wawasan akal manusia untuk memahami batas-batas itu. Setiap wahyu membawa suatu wawasan tertentu mengenai "yang baik" dan "yang jahat". Wahyu dapat mengangkat derajat akal manusia ke tingkat yang lebih tinggi dan bermutu untuk dapat lebih memahami batas-batas. Tetapi, wahyu bisa memerosotkan akal manusia, manakala wahyu itu mengalami "vulgarisasi", yaitu wahyu yang telah dibajak oleh kepentingan-kepentingan sesaat yang bersifat duniawi. Agar wahyu itu bisa pulih kembali dan memperoleh inegritasnya lagi sebagai sumber moralitas, maka diperlukan akal yang bertanggung jawab dan penuh integritas. Kita semua tahu, bahwa wahyu itu adalah laksana horison atau cakrawala yang tak berbatas. Hampir mustahil bagi akal manusia yang terbatas untuk menjangkau seluruh horison wahyu. Karena cakrawala wahyu yang terbentang luas itu, maka siapapun dapat mengatakan sesuatu atas nama wahyu. Garansi bahwa wahyu dapat dipahami dengan tepat adalah integritas akal manusia itu sendiri.

Salah satu hadis Nabi mengatakan, "al itsmu ma haka fi nafsika wa karihta an yath-thali'a 'alaihin naas". Dosa adalah sesuatu yang menimbulkan kekeruhan dan kekacauan di hatimu, dan kamu tak suka orang lain melihatmu melakukannya. Hadis ini memberikan tekanan yang tegas kepada kemampuan manusia, berdasarkan intuisinya, untuk mencapai pemahaman yang benar mengenai dosa. Kenapa demikian? Haruslah diketahui, bahwa agama pada menit pertama adalah merupakan soal keinsafan/kesadaran pribadi; agama bukanlah aturan obyektif yang bisa begitu saja didesakkan secara paksa dari luar. Itulah sebabnya, sebuah hadis mengatakan "innamal a'malu bin niyyaat", sesungguhnya segala tindakan tidaklah akan menjadi tindakan yang "genuine" tanpa niat dan dorongan emotif yang sungguh-sungguh bertanggungjawab. Dalam hadis lain dikatakan, "niyyatul mu'min khairun min 'amalihi", niat dan dorongan emotif yang sifatnya subyektif lebih mulia dari tindakan. Wilayah niat ada dalam wilayah subyektivitas manusia; wilayah itu mempunyai ciri-ciri kebebasan. Jadi, aturan-aturan obyektif yang ditetapkan oleh agama, tidaklah bermakna dalam kerangka beragama jika dilepaskan dari motif subyektif manusia.

Saya tidak melihat suatu ide apapun dalam Islam di mana manusia ditempatkan sebagai obyek moral yang pasif. Akal manusia merupakan partisipan yang aktif dalam menafsiran ide-ide ketuhanan yang terkandung dalam wahyu. Saya tidak pernah membayangkan bahwa wahyu dalam pandangan Islam memandang "dunia manusia" sebagai dunia hobbesian yang kotor, brutal, sementara, dan licik, dan karena itu wahyu turun sebagai suatu "leviathan" yang bengis. Islam meletakkan manusia dalam posisi yang penuh martabat, sebagai "khalifah" yang memenuhi tugas ketuhanan untuk memperbaiki kehidupan di bumi. Pandangan-pandangan keislaman populer kerapkali menggambarkan wahyu sebagai "leviathan" semacam itu. Manusia, dalam pandangan populer semacam itu, kerapkali ditempatkan sebagai "barang" yang sama sekali kosong dari suatu motif yang bebas. Inilah proses vulgarisasi Islam sebagaimana pernah ditunjuk oleh Prof. Khaled Abou El Fadl.

Dalam situasi yang sudah "vulgar" semacam itu, yang pertama perlu direstorasi adalah martabat manusia itu sendiri. Jika manusia sebagai subyek moral yang bebas sudah tidak lagi ada atau disangkal, apakah gunanya sebuah agama? Qur'an berkali-kali menyindir orang Yahudi sebagai "keledai yang mengangkut berjilid-jilid kitab", matsalulladzina hummilut Taurata kamatsalil khimari yahmilu asfaara. Keledai tak akan pernah bisa mendapatkan manfaat apapun dari barang-barang yang diangkutnya. Wahyu tidak akan berguna bagi seekor keledai. Dan tak ada gunanya mendakwahkan kedalaman dan kesempurnaan wahyu kepad keledai. Jika manusia telah dikosongkan dari motif, dan otonominya sebagai subyek moral telah disangkal, apakah yang tersisa dari manusia semacam itu selain "jasad" yang pasif. Nabi pernah bersaba, "ad dinu huwal 'aql, la dina liman la 'aqla lahu", agama adalah akal, tidak ada agama bagi mereka yang tak mempunyai akal.

Oleh karena itu, kebebasan manusia adalah perkara prinsip yang tak bisa ditawar-tawar lagi. Banyak orang mengira bahwa kebebasan semacam itu menyebabkan manusia memberontak kepada agama dan wahyu. Ada yang mengira bahwa dengan membatasi kebebasan itu, mereka telah melindungi wahyu. Ini jelas pandangan yang salah. Sebab, begitu kebebasan manusia dibatasi, maka dimensi-dimensi terdalam yang subtil dari wahyu akan sulit diungkapkan oleh manusia. Sebab, untuk memahami kompleksitas wahyu, diperlukan akal manusia yang matang. Sebuah hadis qudsi yang populer di kalangan sufi menyatakan, "Aku (Allah) adalah 'kanzun makhfiyy’, harta karun yang tersembunyi. Aku ingin diketahui, maka Aku ciptakan manusia." Hadis ini memberikan suatu penegasan yang penting bahwa manusia diciptakan untuk "menggali" dimensi-dimensi yang tersembunyi dalam wahyu dan kebenaran Tuhan. Hal itu tak mungkin terjadi jika tidak mengandaikan adanya manusia sebagai subyek yang bebas dan otonom.

Orang-orang yang mengatakan bahwa dengan memberikan kebebasan, anda telah menjerumuska manusia ke jurang kesesatan, dari menit pertama mereka itu sudah mengingkari nilai kemanusiaan. Keledai selalu takut pada kebebasan, dan terus-menerus mencari majikan yang dapat menuntunnya. Sesungguhnya Islam tidak membutuhkan orang-orang semacam itu. Kecemerlangan Islam justru akan dimungkinkan karena adanya manusia-manusia yang berpikir bebas dan kemudian mampu menyingkapkan rahasia-rahasia terdalam dari wahyu.


Ibadah sebagai “I-Thou”

Tujuan pokok dari agama adalah mengangkat martabat kemanusiaan. Wahyu adalah sarana saja menuju ke arah itu. Fokus pertama dalam agama adalah manusia itu sendiri, bukan semata-mata Tuhan. Adalah salah besar suatu anggapan populer yang mengatakan bahwa tugas pokok manusia adalah "menyembah" Tuhan. Pandangan ini bersumber dari pemahaman yang salah atas ayat "wa ma khalaqtul jinna wal insa illa liya'budun," dan tidak Aku ciptakan manusia kecuali untuk menyembah-Ku. Ayat ini, jika dipahami dalam kerangka populer yang cenderung anti-humanistik, dapat berarti bahwa agama itu tidak lain adalah penundukan manusia. Manusia seolah-olah ancaman bagi Tuhan sehingga harus ditundukkan kepada kehendak-Nya. Tidak ada pemahaman yang lebih kotor mengenai hakikat ketuhanan kecuali pemahaman seperti ini. Pandangan mengenai manusia sebagai Prometheus yang berseteru dengan Tuhan hanyalah ada dalam mitos Yunani kuno. Saya melihat, pandangan populer yang berkembang di kalangan umat Islam mengenai ayat tersebut cenderung kepada suatu citra manusia sebagai Prometheus. Bedanya, Prometheus versi Islam adalah Prometheus yang kalah oleh kehendak Tuhan. Ini jelas suatu citraan manusia yang tidak sesuai dengan semangat Islam. Saya kurang setuju dengan penerjemahan kata "ibadah" sebagai penyembahan, atau "worship" dalam bahasa Inggris. Sebab, penyembahan mempunyai makna yang negatif dalam sejumlah hal.

Penyembahan mengandaikan bahwa obyek yang "disembah" adalah obyek yang "mati", di-reifikasi, di-fiksasi. Penyembahan selalu merupakan proses yang sepihak, bukan proses dialogal yang hidup antara subyek dan subyek. Jika diletakkan dalam kerangka filsafat Martin Buber mengenai relasi antar manusia, penyembahan adalah sebentuk hubungan antara Allah dan manusia sebagai hubungan "I-it", "aku-dan-dia". Allah, dalam kerangka penyembahan semacam itu, telah "dibendakan". Allah yang disembah adalah Allah yang diberhalakan, yang di-fiksasi dalam gambaran yang tetap seperti sebuah "idol". Saya berpandangan bahwa seharusnya manusia berhubungan dengan Allah bukan dengan cara seperti itu. Hubungan yang tepat antara manusia dengan Allah adalah hubungan dalam kerangka "I-Thou", aku-Engkau. Agama yang didasarkan pada penyembahan dalam kerangka hubungan "I-it" hanya akan memerosotkan martabat manusia dan Allah itu sendiri. Arti ayat tersebut lebih tepat dipahami sebagai hubungan Allah-manusia dalam model “I-Thou”; bukan penyembahan, tetapi proses dialogal yang kreatif.

Penyembahan pada Tuhan tidak mempunyai makna apa-apa jika tidak diletakkan dalam kerangka manusia sebagai subyek yang bebas, dengan akal yang bekerja secara leluasa. Qur'an mengatakan, "qad tabayyanar rushdu minal ghayy", telah jelas jalan kebaikan dan kesesatan. "Fa man sya'a fal yu'min wan man sya'a fal yakfur," jika manusia mau, dia boleh mengimani jalan itu, dan jika mau, dia boleh mengingkarinya. Fakta-fakta ini begitu jelasnya tertuang dalam sumber utama ajaran Islam, Qur'an dan Hadis. Tetapi, proses-proses kesejarahan dalam Islam sendiri telah mengubah agama itu menjadi agama hukum yang dilandaskan kepada pemaksaan, dengan lebih banyak menekankan bahasa kewajiban. Tidak ada yang lebih berbahaya bagi Islam kecuali pandangan yang mencoba mengubah karakter agama itu sebagai agama fitrah, menjadi agama hukum yang ditegakkan atas paksaan.

Kesimpulan yang hendak saya tuju dari ulasan yang agak "ruwet" dan panjang ini adalah bahwa dengan membubuhkan kata "liberal" pada Islam, sesunggunya saya hendak menegaskan kembali dimensi kebebasan dalam Islam yang jangkarnya adalah "niat" atau dorongan-dorongan emotif-subyektif dalam manusia itu sendiri. Dan sebaiknya kata liberal dalam "Islam liberal" dipahami dalam kerangka semacam ini. Kata "liberal" di sini tidak ada sangkut pautnya dengan kebebasan tanpa batas, dengan sikap-sikap permisif yang melawan kecenderungan "intrinsik" dalam akal manusia itu sendiri. Dengan menekankan kembali dimensi kebebasan manusia, dan menempatkan manusia pada fokus penghayatan keagamaan, maka kita telah memulihkan kembali integritas wahyu dan Islam itu sendiri.

Sekali lagi, Islam tidak berguna bagi orang-orang yang telah menyangkal kemanusiaan itu sendiri. Sebab agama bukanlah diperuntukkan bagi keledai.

 

 

pre- text

WORD

post- text

%
kan, “al itsmu ma haka fi nafsika wa karihta an yath-thali’a ‘alaihin naas”. Dosa adalah sesuatu yang menimbulkan kekeruhan dan ke 33 %
. Nabi pernah bersaba, “ad dinu huwal ‘aql, la dina liman la ‘aqla lahu”, agama adalah akal, tidak ada agama bagi mereka yang t 55 %
ang populer di kalangan sufi menyatakan, “Aku (Allah) adalah ‘kanzun makhfiyy’, harta karun yang tersembunyi. Aku ingin diketahui 60 %
semacam itu selain “jasad” yang pasif. Nabi pernah bersaba, “ad dinu huwal ‘aql, la dina liman la ‘aqla lahu”, agama adalah 54 %
Sebuah hadis qudsi yang populer di kalangan sufi menyatakan, “aku (Allah) adalah ‘kanzun makhfiyy’, harta karun yang tersembun 60 %
l manusia itu sendiri. Salah satu hadis Nabi mengatakan, “al itsmu ma haka fi nafsika wa karihta an yath-thali’a ‘alaihin 32 %
pandangan populer semacam itu, kerapkali ditempatkan sebagai “barang” yang sama sekali kosong dari suatu motif yang bebas. Inilah 47 %
beragamaan yang sudah terlembaga. Dalam Islam, persoalan “batasan” (hadd) antara mana yang boleh (mubah) dan yang tak boleh (ma 5 %
sejumlah hal. Penyembahan mengandaikan bahwa obyek yang “disembah” adalah obyek yang “mati”, di-reifikasi, di-fiksasi. Penyemba 78 %
nah membayangkan bahwa wahyu dalam pandangan Islam memandang “dunia manusia” sebagai dunia hobbesian yang kotor, brutal, sementa 43 %
shdu minal ghayy”, telah jelas jalan kebaikan dan kesesatan. “fa man sya’a fal yu’min wan man sya’a fal yakfur,” jika manusia 88 %
ngguhnya segala tindakan tidaklah akan menjadi tindakan yang “genuine” tanpa niat dan dorongan emotif yang sungguh-sungguh bertangg 37 %
semangat Islam. Saya kurang setuju dengan penerjemahan kata “ibadah” sebagai penyembahan, atau “worship” dalam bahasa Inggris. Se 77 %
ama yang didasarkan pada penyembahan dalam kerangka hubungan “i-it” hanya akan memerosotkan martabat manusia dan Allah itu sendi 85 %
ra paksa dari luar. Itulah sebabnya, sebuah hadis mengatakan “innamal a’malu bin niyyaat”, sesungguhnya segala tindakan tidaklah a 37 %
atas, dengan sikap-sikap permisif yang melawan kecenderungan “intrinsik” dalam akal manusia itu sendiri. Dengan menekankan kembali di 97 %
dalam manusia itu sendiri. Dan sebaiknya kata liberal dalam “islam liberal” dipahami dalam kerangka semacam ini. Kata “liberal” 96 %
an rahasia-rahasia terdalam dari wahyu. Ibadah sebagai “i-thou” Tujuan pokok dari agama adalah mengangkat martabat kemanusia 67 %
ih tepat dipahami sebagai hubungan Allah-manusia dalam model “i-thou”; bukan penyembahan, tetapi proses dialogal yang kreatif. 86 %
sangkal, apakah yang tersisa dari manusia semacam itu selain “jasad” yang pasif. Nabi pernah bersaba, “ad dinu huwal ‘aql, la din 54 %
ah agama? Qur’an berkali-kali menyindir orang Yahudi sebagai “keledai yang mengangkut berjilid-jilid kitab”, matsalulladzina hummi 50 %
meletakkan manusia dalam posisi yang penuh martabat, sebagai “khalifah” yang memenuhi tugas ketuhanan untuk memperbaiki kehidupan di 45 %
mentara, dan licik, dan karena itu wahyu turun sebagai suatu “leviathan” yang bengis. Islam meletakkan manusia dalam posisi yang penu 44 %
ngan keislaman populer kerapkali menggambarkan wahyu sebagai “leviathan” semacam itu. Manusia, dalam pandangan populer semacam itu, k 46 %
Agama, Akal, dan Kebebasan: Tentang Makna “liberal” dalam Islam Liberal Sekali lagi, Islam tidak berguna bagi o 0 %
Ada kesan yang tertanam dalam sebagian orang, bahwa istilah “liberal” dalam Islam liberal mempunyai makna kebebasan tanpa batas, a 2 %
“ruwet” dan panjang ini adalah bahwa dengan membubuhkan kata “liberal” pada Islam, sesunggunya saya hendak menegaskan kembali dimen 94 %
am “Islam liberal” dipahami dalam kerangka semacam ini. Kata “liberal” di sini tidak ada sangkut pautnya dengan kebebasan tanpa bat 96 %
suatu penegasan yang penting bahwa manusia diciptakan untuk “menggali” dimensi-dimensi yang tersembunyi dalam wahyu dan kebenaran T 62 %
pan populer yang mengatakan bahwa tugas pokok manusia adalah “menyembah” Tuhan. Pandangan ini bersumber dari pemahaman yang salah ata 69 %
ia. Islam liberal muncul dalam semangat untuk menyeimbangkan “neraca” antara bahasa kewajiban dan kebebasan/hak ini. Untuk itu, ma 12 %
kembali dimensi kebebasan dalam Islam yang jangkarnya adalah “niat” atau dorongan-dorongan emotif-subyektif dalam manusia itu se 95 %
ungguh-sungguh bertanggungjawab. Dalam hadis lain dikatakan, “niyyatul mu’min khairun min ‘amalihi”, niat dan dorongan emotif yang 38 %
dengan akal yang bekerja secara leluasa. Qur’an mengatakan, “qad tabayyanar rushdu minal ghayy”, telah jelas jalan kebaikan d 88 %
. Kesimpulan yang hendak saya tuju dari ulasan yang agak “ruwet” dan panjang ini adalah bahwa dengan membubuhkan kata “libera 93 %
oleh Prof. Khaled Abou El Fadl. Dalam situasi yang sudah “vulgar” semacam itu, yang pertama perlu direstorasi adalah martabat 48 %
Pandangan ini bersumber dari pemahaman yang salah atas ayat “wa ma khalaqtul jinna wal insa illa liya’budun,” dan tidak Aku 70 %
dengan penerjemahan kata “ibadah” sebagai penyembahan, atau “worship” dalam bahasa Inggris. Sebab, penyembahan mempunyai makna yan 77 %
toh manusia sudah mampu mencapai sendiri pemahaman mengenai “yang baik” dan “yang jahat”? Apakah manusia secara moral otonom d 16 %
ah mampu mencapai sendiri pemahaman mengenai “yang baik” dan “yang jahat”? Apakah manusia secara moral otonom dalam mengetahui 16 %
as itu. Setiap wahyu membawa suatu wawasan tertentu mengenai “yang baik” dan “yang jahat”. Wahyu dapat mengangkat derajat akal 25 %
ahyu membawa suatu wawasan tertentu mengenai “yang baik” dan “yang jahat”. Wahyu dapat mengangkat derajat akal manusia ke tingk 25 %
dari luar. Itulah sebabnya, sebuah hadis mengatakan “innamal a’malu bin niyyaat”, sesungguhnya segala tindakan tidaklah akan men 37 %
garisasi Islam sebagaimana pernah ditunjuk oleh Prof. Khaled abou El Fadl. Dalam situasi yang sudah “vulgar” semacam itu, 48 %
bab agama bukanlah diperuntukkan bagi keledai. Oleh: Ulil abshar-abdalla Ada kesan yang tertanam dalam sebagian orang, bahwa istilah 2 %
lah diperuntukkan bagi keledai. Oleh: Ulil Abshar-Abdalla ada kesan yang tertanam dalam sebagian orang, bahwa istilah “lib 2 %
gantung pada entitas di luar dirinya? Dalam masalah ini, ada dua jawaban yang tersedia dalam khazanah pemikiran Islam kla 18 %
jawaban yang tersedia dalam khazanah pemikiran Islam klasik. ada golongan Sunni yang dominan, dengan pandangan pokok bahwa ke 18 %
g sifatnya subyektif lebih mulia dari tindakan. Wilayah niat ada dalam wilayah subyektivitas manusia; wilayah itu mempunyai c 39 %
ika manusia sebagai subyek moral yang bebas sudah tidak lagi ada atau disangkal, apakah gunanya sebuah agama? Qur’an berkali- 50 %
utnya. Wahyu tidak akan berguna bagi seekor keledai. Dan tak ada gunanya mendakwahkan kedalaman dan kesempurnaan wahyu kepad 52 %
‘aql, la dina liman la ‘aqla lahu”, agama adalah akal, tidak ada agama bagi mereka yang tak mempunyai akal. Oleh karena i 55 %
itu menyebabkan manusia memberontak kepada agama dan wahyu. ada yang mengira bahwa dengan membatasi kebebasan itu, mereka te 57 %
Tuhan sehingga harus ditundukkan kepada kehendak-Nya. Tidak ada pemahaman yang lebih kotor mengenai hakikat ketuhanan kecual 73 %
usia sebagai Prometheus yang berseteru dengan Tuhan hanyalah ada dalam mitos Yunani kuno. Saya melihat, pandangan populer yan 74 %
saan, dengan lebih banyak menekankan bahasa kewajiban. Tidak ada yang lebih berbahaya bagi Islam kecuali pandangan yang menco 92 %
ami dalam kerangka semacam ini. Kata “liberal” di sini tidak ada sangkut pautnya dengan kebebasan tanpa batas, dengan sikap-s 96 %
ng fikih. Setiap pembicaraan tentang hukum selalu rujukannya adalah fikih. Ketika muncul diskusi yang ramai soal penerapan hukum 8 %
ik setelah mendapatkan pengajaran dari agama. Golongan kedua adalah Mu’tazilah yang memandang bahwa manusia dengan akalnya sendi 20 %
jawab dan penuh integritas. Kita semua tahu, bahwa wahyu itu adalah laksana horison atau cakrawala yang tak berbatas. Hampir mus 29 %
nama wahyu. Garansi bahwa wahyu dapat dipahami dengan tepat adalah integritas akal manusia itu sendiri. Salah satu hadis Na 31 %
a fi nafsika wa karihta an yath-thali’a ‘alaihin naas”. Dosa adalah sesuatu yang menimbulkan kekeruhan dan kekacauan di hatimu, 33 %
demikian? Haruslah diketahui, bahwa agama pada menit pertama adalah merupakan soal keinsafan/kesadaran pribadi; agama bukanlah a 35 %
g sudah “vulgar” semacam itu, yang pertama perlu direstorasi adalah martabat manusia itu sendiri. Jika manusia sebagai subyek mo 49 %
ba, “ad dinu huwal ‘aql, la dina liman la ‘aqla lahu”, agama adalah akal, tidak ada agama bagi mereka yang tak mempunyai akal. 55 %
g tak mempunyai akal. Oleh karena itu, kebebasan manusia adalah perkara prinsip yang tak bisa ditawar-tawar lagi. Banyak ora 56 %
qudsi yang populer di kalangan sufi menyatakan, “Aku (Allah) adalah ‘kanzun makhfiyy’, harta karun yang tersembunyi. Aku ingin d 60 %
yu. Ibadah sebagai “I-Thou” Tujuan pokok dari agama adalah mengangkat martabat kemanusiaan. Wahyu adalah sarana saja me 67 %
kok dari agama adalah mengangkat martabat kemanusiaan. Wahyu adalah sarana saja menuju ke arah itu. Fokus pertama dalam agama ad 68 %
ah sarana saja menuju ke arah itu. Fokus pertama dalam agama adalah manusia itu sendiri, bukan semata-mata Tuhan. Adalah salah b 68 %
m agama adalah manusia itu sendiri, bukan semata-mata Tuhan. adalah salah besar suatu anggapan populer yang mengatakan bahwa tug 69 %
u anggapan populer yang mengatakan bahwa tugas pokok manusia adalah “menyembah” Tuhan. Pandangan ini bersumber dari pemahaman ya 69 %
ng anti-humanistik, dapat berarti bahwa agama itu tidak lain adalah penundukan manusia. Manusia seolah-olah ancaman bagi Tuhan s 72 %
manusia sebagai Prometheus. Bedanya, Prometheus versi Islam adalah Prometheus yang kalah oleh kehendak Tuhan. Ini jelas suatu c 76 %
al. Penyembahan mengandaikan bahwa obyek yang “disembah” adalah obyek yang “mati”, di-reifikasi, di-fiksasi. Penyembahan sel 78 %
afat Martin Buber mengenai relasi antar manusia, penyembahan adalah sebentuk hubungan antara Allah dan manusia sebagai hubungan 80 %
embahan semacam itu, telah “dibendakan”. Allah yang disembah adalah Allah yang diberhalakan, yang di-fiksasi dalam gambaran yang 82 %
seperti itu. Hubungan yang tepat antara manusia dengan Allah adalah hubungan dalam kerangka “I-Thou”, aku-Engkau. Agama yang did 84 %
ndak saya tuju dari ulasan yang agak “ruwet” dan panjang ini adalah bahwa dengan membubuhkan kata “liberal” pada Islam, sesunggu 94 %
gaskan kembali dimensi kebebasan dalam Islam yang jangkarnya adalah “niat” atau dorongan-dorongan emotif-subyektif dalam manusia 95 %
n Tuhan. Hal itu tak mungkin terjadi jika tidak mengandaikan adanya manusia sebagai subyek yang bebas dan otonom. Orang-oran 63 %
cam itu. Kecemerlangan Islam justru akan dimungkinkan karena adanya manusia-manusia yang berpikir bebas dan kemudian mampu menyi 66 %
ksaan. Kesimpulan yang hendak saya tuju dari ulasan yang agak “ruwet” dan panjang ini adalah bahwa dengan membubuhkan kata 93 %
  agama , Akal, dan Kebebasan: Tentang Makna “Liberal” dalam Islam L 0 %
g-orang yang telah menyangkal kemanusiaan itu sendiri. Sebab agama bukanlah diperuntukkan bagi keledai. Oleh: Ulil Abshar-Ab 1 %
ar mengenai dosa. Kenapa demikian? Haruslah diketahui, bahwa agama pada menit pertama adalah merupakan soal keinsafan/kesadaran 35 %
t pertama adalah merupakan soal keinsafan/kesadaran pribadi; agama bukanlah aturan obyektif yang bisa begitu saja didesakkan se 36 %
bersaba, “ad dinu huwal ‘aql, la dina liman la ‘aqla lahu”, agama adalah akal, tidak ada agama bagi mereka yang tak mempunyai 55 %
, la dina liman la ‘aqla lahu”, agama adalah akal, tidak ada agama bagi mereka yang tak mempunyai akal. Oleh karena itu, ke 55 %
kebebasan semacam itu menyebabkan manusia memberontak kepada agama dan wahyu. Ada yang mengira bahwa dengan membatasi kebebasan 57 %
ri wahyu. Ibadah sebagai “I-Thou” Tujuan pokok dari agama adalah mengangkat martabat kemanusiaan. Wahyu adalah sarana 67 %
u adalah sarana saja menuju ke arah itu. Fokus pertama dalam agama adalah manusia itu sendiri, bukan semata-mata Tuhan. Adalah 68 %
populer yang cenderung anti-humanistik, dapat berarti bahwa agama itu tidak lain adalah penundukan manusia. Manusia seolah-ola 72 %
n Allah adalah hubungan dalam kerangka “I-Thou”, aku-Engkau. agama yang didasarkan pada penyembahan dalam kerangka hubungan “I- 84 %
proses-proses kesejarahan dalam Islam sendiri telah mengubah agama itu menjadi agama hukum yang dilandaskan kepada pemaksaan, d 91 %
jarahan dalam Islam sendiri telah mengubah agama itu menjadi agama hukum yang dilandaskan kepada pemaksaan, dengan lebih banyak 91 %
bagi Islam kecuali pandangan yang mencoba mengubah karakter agama itu sebagai agama fitrah, menjadi agama hukum yang ditegakka 92 %
i pandangan yang mencoba mengubah karakter agama itu sebagai agama fitrah, menjadi agama hukum yang ditegakkan atas paksaan. 92 %
ba mengubah karakter agama itu sebagai agama fitrah, menjadi agama hukum yang ditegakkan atas paksaan. Kesimpulan yang hend 93 %
g-orang yang telah menyangkal kemanusiaan itu sendiri. Sebab agama bukanlah diperuntukkan bagi keledai. 100 %
  agama , Akal, dan Kebebasan: Tentang Makna “Liberal” dalam Islam L 0 %
g-orang yang telah menyangkal kemanusiaan itu sendiri. Sebab agama bukanlah diperuntukkan bagi keledai. Oleh: Ulil Abshar-Ab 1 %
ar mengenai dosa. Kenapa demikian? Haruslah diketahui, bahwa agama pada menit pertama adalah merupakan soal keinsafan/kesadaran 35 %
t pertama adalah merupakan soal keinsafan/kesadaran pribadi; agama bukanlah aturan obyektif yang bisa begitu saja didesakkan se 36 %
bersaba, “ad dinu huwal ‘aql, la dina liman la ‘aqla lahu”, agama adalah akal, tidak ada agama bagi mereka yang tak mempunyai 55 %
, la dina liman la ‘aqla lahu”, agama adalah akal, tidak ada agama bagi mereka yang tak mempunyai akal. Oleh karena itu, ke 55 %
kebebasan semacam itu menyebabkan manusia memberontak kepada agama dan wahyu. Ada yang mengira bahwa dengan membatasi kebebasan 57 %
ri wahyu. Ibadah sebagai “I-Thou” Tujuan pokok dari agama adalah mengangkat martabat kemanusiaan. Wahyu adalah sarana 67 %
u adalah sarana saja menuju ke arah itu. Fokus pertama dalam agama adalah manusia itu sendiri, bukan semata-mata Tuhan. Adalah 68 %
populer yang cenderung anti-humanistik, dapat berarti bahwa agama itu tidak lain adalah penundukan manusia. Manusia seolah-ola 72 %
n Allah adalah hubungan dalam kerangka “I-Thou”, aku-Engkau. agama yang didasarkan pada penyembahan dalam kerangka hubungan “I- 84 %
proses-proses kesejarahan dalam Islam sendiri telah mengubah agama itu menjadi agama hukum yang dilandaskan kepada pemaksaan, d 91 %
jarahan dalam Islam sendiri telah mengubah agama itu menjadi agama hukum yang dilandaskan kepada pemaksaan, dengan lebih banyak 91 %
bagi Islam kecuali pandangan yang mencoba mengubah karakter agama itu sebagai agama fitrah, menjadi agama hukum yang ditegakka 92 %
i pandangan yang mencoba mengubah karakter agama itu sebagai agama fitrah, menjadi agama hukum yang ditegakkan atas paksaan. 92 %
ba mengubah karakter agama itu sebagai agama fitrah, menjadi agama hukum yang ditegakkan atas paksaan. Kesimpulan yang hend 93 %
g-orang yang telah menyangkal kemanusiaan itu sendiri. Sebab agama bukanlah diperuntukkan bagi keledai. 100 %
k oleh kepentingan-kepentingan sesaat yang bersifat duniawi. agar wahyu itu bisa pulih kembali dan memperoleh inegritasnya lag 28 %
Fakta-fakta ini begitu jelasnya tertuang dalam sumber utama ajaran Islam, Qur’an dan Hadis. Tetapi, proses-proses kesejarahan d 90 %
n, batas-batas kepantasan. Sudah tentu, jika dikatakan bahwa akal manusia dapat menentukan batas-batas tersebut, tidak berarti 21 %
, tidak berarti bahwa seluruh batas itu sudah diketahui oleh akal dari hari pertama. Akal manusia berkembang, mengalami evolus 22 %
luruh batas itu sudah diketahui oleh akal dari hari pertama. akal manusia berkembang, mengalami evolusi, dan akan makin matang 22 %
berarti saya menepiskan peran wahyu dalam memperkaya wawasan akal manusia untuk memahami batas-batas itu. Setiap wahyu membawa 24 %
“yang baik” dan “yang jahat”. Wahyu dapat mengangkat derajat akal manusia ke tingkat yang lebih tinggi dan bermutu untuk dapat 26 %
lebih memahami batas-batas. Tetapi, wahyu bisa memerosotkan akal manusia, manakala wahyu itu mengalami “vulgarisasi”, yaitu w 27 %
inegritasnya lagi sebagai sumber moralitas, maka diperlukan akal yang bertanggung jawab dan penuh integritas. Kita semua tahu 29 %
rison atau cakrawala yang tak berbatas. Hampir mustahil bagi akal manusia yang terbatas untuk menjangkau seluruh horison wahyu 30 %
si bahwa wahyu dapat dipahami dengan tepat adalah integritas akal manusia itu sendiri. Salah satu hadis Nabi mengatakan, “ 32 %
di mana manusia ditempatkan sebagai obyek moral yang pasif. akal manusia merupakan partisipan yang aktif dalam menafsiran ide 42 %
anusia. Sebab, untuk memahami kompleksitas wahyu, diperlukan akal manusia yang matang. Sebuah hadis qudsi yang populer di kala 59 %
kan dalam kerangka manusia sebagai subyek yang bebas, dengan akal yang bekerja secara leluasa. Qur’an mengatakan, “qad tabayya 87 %
-sikap permisif yang melawan kecenderungan “intrinsik” dalam akal manusia itu sendiri. Dengan menekankan kembali dimensi kebeb 97 %
kedua adalah Mu’tazilah yang memandang bahwa manusia dengan akalnya sendiri dapat mengetahui batas-batas kebaikan dan kejahatan, 20 %
ari pertama. Akal manusia berkembang, mengalami evolusi, dan akan makin matang. Saya lebih cenderung pada pandangan kaum M 23 %
l a’malu bin niyyaat”, sesungguhnya segala tindakan tidaklah akan menjadi tindakan yang “genuine” tanpa niat dan dorongan emot 37 %
ilut Taurata kamatsalil khimari yahmilu asfaara. Keledai tak akan pernah bisa mendapatkan manfaat apapun dari barang-barang ya 51 %
faat apapun dari barang-barang yang diangkutnya. Wahyu tidak akan berguna bagi seekor keledai. Dan tak ada gunanya mendakwahka 52 %
batasi, maka dimensi-dimensi terdalam yang subtil dari wahyu akan sulit diungkapkan oleh manusia. Sebab, untuk memahami komple 59 %
butuhkan orang-orang semacam itu. Kecemerlangan Islam justru akan dimungkinkan karena adanya manusia-manusia yang berpikir beb 66 %
sarkan pada penyembahan dalam kerangka hubungan “I-it” hanya akan memerosotkan martabat manusia dan Allah itu sendiri. Arti ay 85 %
yek moral yang pasif. Akal manusia merupakan partisipan yang aktif dalam menafsiran ide-ide ketuhanan yang terkandung dalam wah 42 %
lah) adalah ‘kanzun makhfiyy’, harta karun yang tersembunyi. aku ingin diketahui, maka Aku ciptakan manusia.” Hadis ini membe 61 %
yy’, harta karun yang tersembunyi. Aku ingin diketahui, maka aku ciptakan manusia.” Hadis ini memberikan suatu penegasan yang 61 %
“wa ma khalaqtul jinna wal insa illa liya’budun,” dan tidak aku ciptakan manusia kecuali untuk menyembah-Ku. Ayat ini, jika 70 %
i antar manusia, penyembahan adalah sebentuk hubungan antara allah dan manusia sebagai hubungan “I-it”, “aku-dan-dia”. Allah, d 81 %
dalam kerangka penyembahan semacam itu, telah “dibendakan”. allah yang disembah adalah Allah yang diberhalakan, yang di-fiksas 82 %
semacam itu, telah “dibendakan”. Allah yang disembah adalah allah yang diberhalakan, yang di-fiksasi dalam gambaran yang tetap 82 %
aya berpandangan bahwa seharusnya manusia berhubungan dengan allah bukan dengan cara seperti itu. Hubungan yang tepat antara ma 83 %
cara seperti itu. Hubungan yang tepat antara manusia dengan allah adalah hubungan dalam kerangka “I-Thou”, aku-Engkau. Agama y 84 %
hubungan “I-it” hanya akan memerosotkan martabat manusia dan allah itu sendiri. Arti ayat tersebut lebih tepat dipahami sebagai 85 %
ri. Arti ayat tersebut lebih tepat dipahami sebagai hubungan allah-manusia dalam model “I-Thou”; bukan penyembahan, tetapi proses dialo 86 %
dis Nabi mengatakan, “al itsmu ma haka fi nafsika wa karihta an yath-thali’a ‘alaihin naas”. Dosa adalah sesuatu yang menimb 32 %
an cara pandang semacam itu, Islam liberal dipandang sebagai ancaman terhadap keberagamaan yang sudah terlembaga. Dalam Islam 4 %
tu tidak lain adalah penundukan manusia. Manusia seolah-olah ancaman bagi Tuhan sehingga harus ditundukkan kepada kehendak-Nya. T 72 %
ang-orang yang mengatakan bahwa dengan memberikan kebebasan, anda telah menjerumuska manusia ke jurang kesesatan, dari menit p 63 %
u sendiri, bukan semata-mata Tuhan. Adalah salah besar suatu anggapan populer yang mengatakan bahwa tugas pokok manusia adalah “me 69 %
etakkan dalam kerangka filsafat Martin Buber mengenai relasi antar manusia, penyembahan adalah sebentuk hubungan antara Allah d 80 %
udah terlembaga. Dalam Islam, persoalan “batasan” (hadd) antara mana yang boleh (mubah) dan yang tak boleh (mahdzur), menemp 5 %
liberal muncul dalam semangat untuk menyeimbangkan “neraca” antara bahasa kewajiban dan kebebasan/hak ini. Untuk itu, marilah k 12 %
upakan proses yang sepihak, bukan proses dialogal yang hidup antara subyek dan subyek. Jika diletakkan dalam kerangka filsafat M 79 %
i relasi antar manusia, penyembahan adalah sebentuk hubungan antara Allah dan manusia sebagai hubungan “I-it”, “aku-dan-dia”. Al 81 %
gan Allah bukan dengan cara seperti itu. Hubungan yang tepat antara manusia dengan Allah adalah hubungan dalam kerangka “I-Thou” 83 %
n yang begitu sentral. Setiap orang Islam selalu peduli pada apa yang dia kerjakan, apakah pebuatan itu boleh atau tidak. Ini 6 %
ng kreatif. Penyembahan pada Tuhan tidak mempunyai makna apa-apa jika tidak diletakkan dalam kerangka manusia sebagai subyek 87 %
Setiap orang Islam selalu peduli pada apa yang dia kerjakan, apakah pebuatan itu boleh atau tidak. Inilah yang kemudian melahirk 6 %
au tidak? Marilah kita mulai dengan pertanyaan sederhana: apakah manusia bisa, dengan akal, intuisi dan fitrahnya, mencapai p 14 %
pai pemahaman yang mendalam mengenai kebaikan dan kejahatan? apakah untuk mengetahui hal-hal itu, manusia harus menungguh wahyu 15 %
ui hal-hal itu, manusia harus menungguh wahyu dari “langit”? apakah gunanya agama, jika toh manusia sudah mampu mencapai sendiri 15 %
pai sendiri pemahaman mengenai “yang baik” dan “yang jahat”? apakah manusia secara moral otonom dalam mengetahui kebaikan dan ke 16 %
subyek moral yang bebas sudah tidak lagi ada atau disangkal, apakah gunanya sebuah agama? Qur’an berkali-kali menyindir orang Ya 50 %
motif, dan otonominya sebagai subyek moral telah disangkal, apakah yang tersisa dari manusia semacam itu selain “jasad” yang pa 54 %
ri motif subyektif manusia. Saya tidak melihat suatu ide apapun dalam Islam di mana manusia ditempatkan sebagai obyek moral 41 %
lu asfaara. Keledai tak akan pernah bisa mendapatkan manfaat apapun dari barang-barang yang diangkutnya. Wahyu tidak akan bergun 52 %
kat martabat kemanusiaan. Wahyu adalah sarana saja menuju ke arah itu. Fokus pertama dalam agama adalah manusia itu sendiri, b 68 %
ya akan memerosotkan martabat manusia dan Allah itu sendiri. arti ayat tersebut lebih tepat dipahami sebagai hubungan Allah-ma 85 %
terbentang luas itu, maka siapapun dapat mengatakan sesuatu atas nama wahyu. Garansi bahwa wahyu dapat dipahami dengan tepat 31 %
ah” Tuhan. Pandangan ini bersumber dari pemahaman yang salah atas ayat “wa ma khalaqtul jinna wal insa illa liya’budun,” dan t 70 %
tu sebagai agama fitrah, menjadi agama hukum yang ditegakkan atas paksaan. Kesimpulan yang hendak saya tuju dari ulasan ya 93 %
” dalam Islam liberal mempunyai makna kebebasan tanpa batas, atau bahkan disetarakan dengan sikap permisif, ibahiyah; sikap me 3 %
peduli pada apa yang dia kerjakan, apakah pebuatan itu boleh atau tidak. Inilah yang kemudian melahirkan suatu bidang kajian y 7 %
lam klasik: soal tindakan manusia (af’alul ‘ibad). Otonom atau tidak? Marilah kita mulai dengan pertanyaan sederhana: ap 13 %
secara moral otonom dalam mengetahui kebaikan dan kejahatan, atau tergantung pada entitas di luar dirinya? Dalam masalah i 17 %
tukan oleh agama. Manusia baru tahu bahwa tindakan ini jahat atau baik setelah mendapatkan pengajaran dari agama. Golongan ked 19 %
tas. Kita semua tahu, bahwa wahyu itu adalah laksana horison atau cakrawala yang tak berbatas. Hampir mustahil bagi akal manus 29 %
manusia sebagai subyek moral yang bebas sudah tidak lagi ada atau disangkal, apakah gunanya sebuah agama? Qur’an berkali-kali 50 %
etuju dengan penerjemahan kata “ibadah” sebagai penyembahan, atau “worship” dalam bahasa Inggris. Sebab, penyembahan mempunyai 77 %
dimensi kebebasan dalam Islam yang jangkarnya adalah “niat” atau dorongan-dorongan emotif-subyektif dalam manusia itu sendiri 95 %
h merupakan soal keinsafan/kesadaran pribadi; agama bukanlah aturan obyektif yang bisa begitu saja didesakkan secara paksa dari 36 %
as manusia; wilayah itu mempunyai ciri-ciri kebebasan. Jadi, aturan-aturan obyektif yang ditetapkan oleh agama, tidaklah bermakna dalam 40 %
uhan. Pandangan ini bersumber dari pemahaman yang salah atas ayat “wa ma khalaqtul jinna wal insa illa liya’budun,” dan tidak 70 %
” dan tidak Aku ciptakan manusia kecuali untuk menyembah-Ku. ayat ini, jika dipahami dalam kerangka populer yang cenderung ant 71 %
ngan populer yang berkembang di kalangan umat Islam mengenai ayat tersebut cenderung kepada suatu citra manusia sebagai Promet 75 %
an memerosotkan martabat manusia dan Allah itu sendiri. Arti ayat tersebut lebih tepat dipahami sebagai hubungan Allah-manusia 85 %
beral” dalam Islam Liberal Sekali lagi, Islam tidak berguna bagi orang-orang yang telah menyangkal kemanusiaan itu sendiri. S 1 %
kemanusiaan itu sendiri. Sebab agama bukanlah diperuntukkan bagi keledai. Oleh: Ulil Abshar-Abdalla Ada kesan yang tertan 2 %
na horison atau cakrawala yang tak berbatas. Hampir mustahil bagi akal manusia yang terbatas untuk menjangkau seluruh horison 30 %
ari barang-barang yang diangkutnya. Wahyu tidak akan berguna bagi seekor keledai. Dan tak ada gunanya mendakwahkan kedalaman d 52 %
ina liman la ‘aqla lahu”, agama adalah akal, tidak ada agama bagi mereka yang tak mempunyai akal. Oleh karena itu, kebebas 55 %
lain adalah penundukan manusia. Manusia seolah-olah ancaman bagi Tuhan sehingga harus ditundukkan kepada kehendak-Nya. Tidak 72 %
menekankan bahasa kewajiban. Tidak ada yang lebih berbahaya bagi Islam kecuali pandangan yang mencoba mengubah karakter agama 92 %
dan Islam itu sendiri. Sekali lagi, Islam tidak berguna bagi orang-orang yang telah menyangkal kemanusiaan itu sendiri. Sebab agama bukanlah diperuntukkan bagi keledai. 99 %
kemanusiaan itu sendiri. Sebab agama bukanlah diperuntukkan bagi keledai. 100 %
Muslim terhadap Allah, sesama manusia, dan dirinya sendiri. bahasa kewajiban lebih menonjol, menutup bahasa hak dan kebebasan m 11 %
an dirinya sendiri. Bahasa kewajiban lebih menonjol, menutup bahasa hak dan kebebasan manusia. Islam liberal muncul dalam semang 11 %
l muncul dalam semangat untuk menyeimbangkan “neraca” antara bahasa kewajiban dan kebebasan/hak ini. Untuk itu, marilah kita mas 12 %
ahan kata “ibadah” sebagai penyembahan, atau “worship” dalam bahasa Inggris. Sebab, penyembahan mempunyai makna yang negatif dal 77 %
dilandaskan kepada pemaksaan, dengan lebih banyak menekankan bahasa kewajiban. Tidak ada yang lebih berbahaya bagi Islam kecuali 91 %
am Islam liberal mempunyai makna kebebasan tanpa batas, atau bahkan disetarakan dengan sikap permisif, ibahiyah; sikap menolerir 3 %
bshar-Abdalla Ada kesan yang tertanam dalam sebagian orang, bahwa istilah “liberal” dalam Islam liberal mempunyai makna kebeba 2 %
dirumuskan. Dalam diskusi-diskusi itu, kelihatan sekali bahwa tekanan diberikan kepada “kewajiban”, yaitu kewajiban seoran 10 %
sik. Ada golongan Sunni yang dominan, dengan pandangan pokok bahwa kebaikan dan kejahatan itu haruslah ditentukan oleh agama. M 18 %
ahatan itu haruslah ditentukan oleh agama. Manusia baru tahu bahwa tindakan ini jahat atau baik setelah mendapatkan pengajaran 19 %
dari agama. Golongan kedua adalah Mu’tazilah yang memandang bahwa manusia dengan akalnya sendiri dapat mengetahui batas-batas 20 %
jahatan, batas-batas kepantasan. Sudah tentu, jika dikatakan bahwa akal manusia dapat menentukan batas-batas tersebut, tidak be 21 %
manusia dapat menentukan batas-batas tersebut, tidak berarti bahwa seluruh batas itu sudah diketahui oleh akal dari hari pertam 22 %
g pada pandangan kaum Mu’tazilah. Tetapi, harap lah disadari bahwa dengan menerima pendapat Mu’tazilah, bukan berarti saya mene 23 %
ang bertanggung jawab dan penuh integritas. Kita semua tahu, bahwa wahyu itu adalah laksana horison atau cakrawala yang tak ber 29 %
a siapapun dapat mengatakan sesuatu atas nama wahyu. Garansi bahwa wahyu dapat dipahami dengan tepat adalah integritas akal man 31 %
ng benar mengenai dosa. Kenapa demikian? Haruslah diketahui, bahwa agama pada menit pertama adalah merupakan soal keinsafan/kes 35 %
yang terkandung dalam wahyu. Saya tidak pernah membayangkan bahwa wahyu dalam pandangan Islam memandang “dunia manusia” sebaga 43 %
insip yang tak bisa ditawar-tawar lagi. Banyak orang mengira bahwa kebebasan semacam itu menyebabkan manusia memberontak kepada 56 %
manusia memberontak kepada agama dan wahyu. Ada yang mengira bahwa dengan membatasi kebebasan itu, mereka telah melindungi wahy 57 %
manusia.” Hadis ini memberikan suatu penegasan yang penting bahwa manusia diciptakan untuk “menggali” dimensi-dimensi yang ter 61 %
ubyek yang bebas dan otonom. Orang-orang yang mengatakan bahwa dengan memberikan kebebasan, anda telah menjerumuska manusia 63 %
n. Adalah salah besar suatu anggapan populer yang mengatakan bahwa tugas pokok manusia adalah “menyembah” Tuhan. Pandangan ini 69 %
rangka populer yang cenderung anti-humanistik, dapat berarti bahwa agama itu tidak lain adalah penundukan manusia. Manusia seol 71 %
ang negatif dalam sejumlah hal. Penyembahan mengandaikan bahwa obyek yang “disembah” adalah obyek yang “mati”, di-reifikasi 78 %
gambaran yang tetap seperti sebuah “idol”. Saya berpandangan bahwa seharusnya manusia berhubungan dengan Allah bukan dengan car 83 %
ya tuju dari ulasan yang agak “ruwet” dan panjang ini adalah bahwa dengan membubuhkan kata “liberal” pada Islam, sesunggunya sa 94 %
oleh agama. Manusia baru tahu bahwa tindakan ini jahat atau baik setelah mendapatkan pengajaran dari agama. Golongan kedua ad 19 %
anusia sudah mampu mencapai sendiri pemahaman mengenai “yang baik” dan “yang jahat”? Apakah manusia secara moral otonom dalam m 16 %
. Setiap wahyu membawa suatu wawasan tertentu mengenai “yang baik” dan “yang jahat”. Wahyu dapat mengangkat derajat akal manusi 25 %
sia adalah perkara prinsip yang tak bisa ditawar-tawar lagi. banyak orang mengira bahwa kebebasan semacam itu menyebabkan manusi 56 %
agama hukum yang dilandaskan kepada pemaksaan, dengan lebih banyak menekankan bahasa kewajiban. Tidak ada yang lebih berbahaya 91 %
Keledai tak akan pernah bisa mendapatkan manfaat apapun dari barang-barang yang diangkutnya. Wahyu tidak akan berguna bagi seekor keled 52 %
an dan kejahatan itu haruslah ditentukan oleh agama. Manusia baru tahu bahwa tindakan ini jahat atau baik setelah mendapatkan 19 %
ermisif, ibahiyah; sikap menolerir setiap hal tanpa mengenal batas yang pasti. Dengan cara pandang semacam itu, Islam liberal d 4 %
menentukan batas-batas tersebut, tidak berarti bahwa seluruh batas itu sudah diketahui oleh akal dari hari pertama. Akal manusi 22 %
andang bahwa manusia dengan akalnya sendiri dapat mengetahui batas-batas kebaikan dan kejahatan, batas-batas kepantasan. Sudah tentu, 21 %
sendiri dapat mengetahui batas-batas kebaikan dan kejahatan, batas-batas kepantasan. Sudah tentu, jika dikatakan bahwa akal manusia d 21 %
ah tentu, jika dikatakan bahwa akal manusia dapat menentukan batas-batas tersebut, tidak berarti bahwa seluruh batas itu sudah diketa 21 %
n wahyu dalam memperkaya wawasan akal manusia untuk memahami batas-batas itu. Setiap wahyu membawa suatu wawasan tertentu mengenai “y 25 %
manusia itu sendiri. Jika manusia sebagai subyek moral yang bebas sudah tidak lagi ada atau disangkal, apakah gunanya sebuah a 49 %
i jika tidak mengandaikan adanya manusia sebagai subyek yang bebas dan otonom. Orang-orang yang mengatakan bahwa dengan mem 63 %
kan dimungkinkan karena adanya manusia-manusia yang berpikir bebas dan kemudian mampu menyingkapkan rahasia-rahasia terdalam da 66 %
ubah) dan yang tak boleh (mahdzur), menempati kedudukan yang begitu sentral. Setiap orang Islam selalu peduli pada apa yang dia 6 %
/kesadaran pribadi; agama bukanlah aturan obyektif yang bisa begitu saja didesakkan secara paksa dari luar. Itulah sebabnya, seb 36 %
lah melindungi wahyu. Ini jelas pandangan yang salah. Sebab, begitu kebebasan manusia dibatasi, maka dimensi-dimensi terdalam ya 58 %
itu, dan jika mau, dia boleh mengingkarinya. Fakta-fakta ini begitu jelasnya tertuang dalam sumber utama ajaran Islam, Qur’an da 90 %
kerangka manusia sebagai subyek yang bebas, dengan akal yang bekerja secara leluasa. Qur’an mengatakan, “qad tabayyanar rushdu mi 87 %
nusia, berdasarkan intuisinya, untuk mencapai pemahaman yang benar mengenai dosa. Kenapa demikian? Haruslah diketahui, bahwa ag 35 %
yang ditetapkan oleh agama, tidaklah bermakna dalam kerangka beragama jika dilepaskan dari motif subyektif manusia. Saya tidak 41 %
wa akal manusia dapat menentukan batas-batas tersebut, tidak berarti bahwa seluruh batas itu sudah diketahui oleh akal dari hari 22 %
ah disadari bahwa dengan menerima pendapat Mu’tazilah, bukan berarti saya menepiskan peran wahyu dalam memperkaya wawasan akal ma 24 %
dalam kerangka populer yang cenderung anti-humanistik, dapat berarti bahwa agama itu tidak lain adalah penundukan manusia. Manusi 71 %
bih banyak menekankan bahasa kewajiban. Tidak ada yang lebih berbahaya bagi Islam kecuali pandangan yang mencoba mengubah karakter 92 %
ini memberikan tekanan yang tegas kepada kemampuan manusia, berdasarkan intuisinya, untuk mencapai pemahaman yang benar mengenai dos 34 %
akna “Liberal” dalam Islam Liberal Sekali lagi, Islam tidak berguna bagi orang-orang yang telah menyangkal kemanusiaan itu sendi 1 %
apapun dari barang-barang yang diangkutnya. Wahyu tidak akan berguna bagi seekor keledai. Dan tak ada gunanya mendakwahkan kedala 52 %
as wahyu dan Islam itu sendiri. Sekali lagi, Islam tidak berguna bagi orang-orang yang telah menyangkal kemanusiaan itu sendi 99 %
ti sebuah “idol”. Saya berpandangan bahwa seharusnya manusia berhubungan dengan Allah bukan dengan cara seperti itu. Hubungan yang te 83 %
kali menyindir orang Yahudi sebagai “keledai yang mengangkut berjilid-jilid kitab”, matsalulladzina hummilut Taurata kamatsalil khimari 51 %
lagi ada atau disangkal, apakah gunanya sebuah agama? Qur’an berkali-kali menyindir orang Yahudi sebagai “keledai yang mengangkut berj 50 %
alam mitos Yunani kuno. Saya melihat, pandangan populer yang berkembang di kalangan umat Islam mengenai ayat tersebut cenderung kepa 74 %
aturan-aturan obyektif yang ditetapkan oleh agama, tidaklah bermakna dalam kerangka beragama jika dilepaskan dari motif subyektif 40 %
angkat derajat akal manusia ke tingkat yang lebih tinggi dan bermutu untuk dapat lebih memahami batas-batas. Tetapi, wahyu bisa m 26 %
iksasi dalam gambaran yang tetap seperti sebuah “idol”. Saya berpandangan bahwa seharusnya manusia berhubungan dengan Allah bukan deng 83 %
justru akan dimungkinkan karena adanya manusia-manusia yang berpikir bebas dan kemudian mampu menyingkapkan rahasia-rahasia terda 66 %
erti ini. Pandangan mengenai manusia sebagai Prometheus yang berseteru dengan Tuhan hanyalah ada dalam mitos Yunani kuno. Saya meli 74 %
yang telah dibajak oleh kepentingan-kepentingan sesaat yang bersifat duniawi. Agar wahyu itu bisa pulih kembali dan memperoleh in 28 %
tugas pokok manusia adalah “menyembah” Tuhan. Pandangan ini bersumber dari pemahaman yang salah atas ayat “wa ma khalaqtul jinna w 70 %
nya lagi sebagai sumber moralitas, maka diperlukan akal yang bertanggung jawab dan penuh integritas. Kita semua tahu, bahwa wahyu itu 29 %
ikih menjadi fokus perhatian, sebab dalam fikih lah sebagian besar hukum Islam dirumuskan. Dalam diskusi-diskusi itu, kelih 9 %
h manusia itu sendiri, bukan semata-mata Tuhan. Adalah salah besar suatu anggapan populer yang mengatakan bahwa tugas pokok man 69 %
itu boleh atau tidak. Inilah yang kemudian melahirkan suatu bidang kajian yang sangat kaya dan meninggalkan ribuan literatur ya 7 %
t kaya dan meninggalkan ribuan literatur yang canggih, yaitu bidang fikih. Setiap pembicaraan tentang hukum selalu rujukannya ad 8 %
ar. Itulah sebabnya, sebuah hadis mengatakan “innamal a’malu bin niyyaat”, sesungguhnya segala tindakan tidaklah akan menjadi 37 %
ermutu untuk dapat lebih memahami batas-batas. Tetapi, wahyu bisa memerosotkan akal manusia, manakala wahyu itu mengalami “vul 26 %
gan-kepentingan sesaat yang bersifat duniawi. Agar wahyu itu bisa pulih kembali dan memperoleh inegritasnya lagi sebagai sumbe 28 %
safan/kesadaran pribadi; agama bukanlah aturan obyektif yang bisa begitu saja didesakkan secara paksa dari luar. Itulah sebabn 36 %
kamatsalil khimari yahmilu asfaara. Keledai tak akan pernah bisa mendapatkan manfaat apapun dari barang-barang yang diangkutn 51 %
arena itu, kebebasan manusia adalah perkara prinsip yang tak bisa ditawar-tawar lagi. Banyak orang mengira bahwa kebebasan sem 56 %
Dalam Islam, persoalan “batasan” (hadd) antara mana yang boleh (mubah) dan yang tak boleh (mahdzur), menempati kedudukan ya 5 %
“batasan” (hadd) antara mana yang boleh (mubah) dan yang tak boleh (mahdzur), menempati kedudukan yang begitu sentral. Setiap o 5 %
elalu peduli pada apa yang dia kerjakan, apakah pebuatan itu boleh atau tidak. Inilah yang kemudian melahirkan suatu bidang kaj 7 %
fal yu’min wan man sya’a fal yakfur,” jika manusia mau, dia boleh mengimani jalan itu, dan jika mau, dia boleh mengingkarinya. 89 %
anusia mau, dia boleh mengimani jalan itu, dan jika mau, dia boleh mengingkarinya. Fakta-fakta ini begitu jelasnya tertuang dal 89 %
k dan subyek. Jika diletakkan dalam kerangka filsafat Martin buber mengenai relasi antar manusia, penyembahan adalah sebentuk h 80 %
arap lah disadari bahwa dengan menerima pendapat Mu’tazilah, bukan berarti saya menepiskan peran wahyu dalam memperkaya wawasan 24 %
h itu. Fokus pertama dalam agama adalah manusia itu sendiri, bukan semata-mata Tuhan. Adalah salah besar suatu anggapan populer 68 %
i-fiksasi. Penyembahan selalu merupakan proses yang sepihak, bukan proses dialogal yang hidup antara subyek dan subyek. Jika di 79 %
rpandangan bahwa seharusnya manusia berhubungan dengan Allah bukan dengan cara seperti itu. Hubungan yang tepat antara manusia 83 %
ipahami sebagai hubungan Allah-manusia dalam model “I-Thou”; bukan penyembahan, tetapi proses dialogal yang kreatif. Penyem 86 %
g yang telah menyangkal kemanusiaan itu sendiri. Sebab agama bukanlah diperuntukkan bagi keledai. Oleh: Ulil Abshar-Abdalla Ad 1 %
ama adalah merupakan soal keinsafan/kesadaran pribadi; agama bukanlah aturan obyektif yang bisa begitu saja didesakkan secara paks 36 %
g yang telah menyangkal kemanusiaan itu sendiri. Sebab agama bukanlah diperuntukkan bagi keledai. 100 %
Kita semua tahu, bahwa wahyu itu adalah laksana horison atau cakrawala yang tak berbatas. Hampir mustahil bagi akal manusia yang te 29 %
yang terbatas untuk menjangkau seluruh horison wahyu. Karena cakrawala wahyu yang terbentang luas itu, maka siapapun dapat mengatak 30 %
menolerir setiap hal tanpa mengenal batas yang pasti. Dengan cara pandang semacam itu, Islam liberal dipandang sebagai ancaman 4 %
hwa seharusnya manusia berhubungan dengan Allah bukan dengan cara seperti itu. Hubungan yang tepat antara manusia dengan Allah 83 %
ng, mengalami evolusi, dan akan makin matang. Saya lebih cenderung pada pandangan kaum Mu’tazilah. Tetapi, harap lah disadari b 23 %
mbah-Ku. Ayat ini, jika dipahami dalam kerangka populer yang cenderung anti-humanistik, dapat berarti bahwa agama itu tidak lain ad 71 %
ang berkembang di kalangan umat Islam mengenai ayat tersebut cenderung kepada suatu citra manusia sebagai Prometheus. Bedanya, Prom 75 %
harta karun yang tersembunyi. Aku ingin diketahui, maka Aku ciptakan manusia.” Hadis ini memberikan suatu penegasan yang penting 61 %
ma khalaqtul jinna wal insa illa liya’budun,” dan tidak Aku ciptakan manusia kecuali untuk menyembah-Ku. Ayat ini, jika dipahami 70 %
a dalam wilayah subyektivitas manusia; wilayah itu mempunyai ciri-ciri kebebasan. Jadi, aturan-aturan obyektif yang ditetapkan oleh 40 %
gan umat Islam mengenai ayat tersebut cenderung kepada suatu citra manusia sebagai Prometheus. Bedanya, Prometheus versi Islam 75 %
h Prometheus yang kalah oleh kehendak Tuhan. Ini jelas suatu citraan manusia yang tidak sesuai dengan semangat Islam. Saya kurang 76 %
Agama, Akal, dan Kebebasan: Tentang Makna “Liberal” dalam Islam Liberal Sekali lagi, Islam tidak berguna bagi orang-o 0 %
ledai. Oleh: Ulil Abshar-Abdalla Ada kesan yang tertanam dalam sebagian orang, bahwa istilah “liberal” dalam Islam liberal 2 %
yang tertanam dalam sebagian orang, bahwa istilah “liberal” dalam Islam liberal mempunyai makna kebebasan tanpa batas, atau ba 2 %
sebagai ancaman terhadap keberagamaan yang sudah terlembaga. dalam Islam, persoalan “batasan” (hadd) antara mana yang boleh (mu 5 %
rapan hukum Islam, maka fikih menjadi fokus perhatian, sebab dalam fikih lah sebagian besar hukum Islam dirumuskan. Dalam d 9 %
sebab dalam fikih lah sebagian besar hukum Islam dirumuskan. dalam diskusi-diskusi itu, kelihatan sekali bahwa tekanan diberika 9 %
nutup bahasa hak dan kebebasan manusia. Islam liberal muncul dalam semangat untuk menyeimbangkan “neraca” antara bahasa kewajib 12 %
tu, marilah kita masuki sebuah tema dasar yang menjadi debat dalam pemikiran Islam klasik: soal tindakan manusia (af’alul ‘ibad 13 %
g baik” dan “yang jahat”? Apakah manusia secara moral otonom dalam mengetahui kebaikan dan kejahatan, atau tergantung pada enti 17 %
dan kejahatan, atau tergantung pada entitas di luar dirinya? dalam masalah ini, ada dua jawaban yang tersedia dalam khazanah pe 17 %
irinya? Dalam masalah ini, ada dua jawaban yang tersedia dalam khazanah pemikiran Islam klasik. Ada golongan Sunni yang dom 18 %
ndapat Mu’tazilah, bukan berarti saya menepiskan peran wahyu dalam memperkaya wawasan akal manusia untuk memahami batas-batas i 24 %
t dan dorongan emotif yang sungguh-sungguh bertanggungjawab. dalam hadis lain dikatakan, “niyyatul mu’min khairun min ‘amalihi” 38 %
fatnya subyektif lebih mulia dari tindakan. Wilayah niat ada dalam wilayah subyektivitas manusia; wilayah itu mempunyai ciri-ci 39 %
turan obyektif yang ditetapkan oleh agama, tidaklah bermakna dalam kerangka beragama jika dilepaskan dari motif subyektif manus 40 %
f subyektif manusia. Saya tidak melihat suatu ide apapun dalam Islam di mana manusia ditempatkan sebagai obyek moral yang p 41 %
ral yang pasif. Akal manusia merupakan partisipan yang aktif dalam menafsiran ide-ide ketuhanan yang terkandung dalam wahyu. Sa 42 %
ang aktif dalam menafsiran ide-ide ketuhanan yang terkandung dalam wahyu. Saya tidak pernah membayangkan bahwa wahyu dalam pand 43 %
dung dalam wahyu. Saya tidak pernah membayangkan bahwa wahyu dalam pandangan Islam memandang “dunia manusia” sebagai dunia hobb 43 %
agai suatu “leviathan” yang bengis. Islam meletakkan manusia dalam posisi yang penuh martabat, sebagai “khalifah” yang memenuhi 45 %
enggambarkan wahyu sebagai “leviathan” semacam itu. Manusia, dalam pandangan populer semacam itu, kerapkali ditempatkan sebagai 46 %
sebagaimana pernah ditunjuk oleh Prof. Khaled Abou El Fadl. dalam situasi yang sudah “vulgar” semacam itu, yang pertama perlu 48 %
diciptakan untuk “menggali” dimensi-dimensi yang tersembunyi dalam wahyu dan kebenaran Tuhan. Hal itu tak mungkin terjadi jika 62 %
. Wahyu adalah sarana saja menuju ke arah itu. Fokus pertama dalam agama adalah manusia itu sendiri, bukan semata-mata Tuhan. A 68 %
manusia kecuali untuk menyembah-Ku. Ayat ini, jika dipahami dalam kerangka populer yang cenderung anti-humanistik, dapat berar 71 %
sebagai Prometheus yang berseteru dengan Tuhan hanyalah ada dalam mitos Yunani kuno. Saya melihat, pandangan populer yang berk 74 %
nerjemahan kata “ibadah” sebagai penyembahan, atau “worship” dalam bahasa Inggris. Sebab, penyembahan mempunyai m