click here for the word frequency
Agama, Akal, dan Kebebasan: Tentang Makna “Liberal” dalam Islam Liberal
Sekali lagi, Islam tidak berguna bagi orang-orang yang telah menyangkal kemanusiaan itu sendiri. Sebab agama bukanlah diperuntukkan bagi keledai.
Oleh: Ulil Abshar-Abdalla
Ada kesan yang tertanam dalam sebagian orang, bahwa istilah
“liberal” dalam Islam liberal mempunyai makna kebebasan tanpa batas,
atau bahkan disetarakan dengan sikap permisif, ibahiyah;
sikap menolerir setiap hal tanpa mengenal batas yang pasti. Dengan
cara pandang semacam itu, Islam liberal dipandang sebagai ancaman
terhadap keberagamaan yang sudah terlembaga.
Dalam Islam,
persoalan “batasan” (hadd) antara mana yang boleh
(mubah) dan yang tak boleh (mahdzur), menempati
kedudukan yang begitu sentral. Setiap orang Islam selalu peduli pada
apa yang dia kerjakan, apakah pebuatan itu boleh atau tidak. Inilah
yang kemudian melahirkan suatu bidang kajian yang sangat kaya dan
meninggalkan ribuan literatur yang canggih, yaitu bidang fikih.
Setiap pembicaraan tentang hukum selalu rujukannya adalah fikih.
Ketika muncul diskusi yang ramai soal penerapan hukum Islam, maka
fikih menjadi fokus perhatian, sebab dalam fikih lah sebagian besar
hukum Islam dirumuskan.
Dalam diskusi-diskusi itu, kelihatan
sekali bahwa tekanan diberikan kepada “kewajiban”, yaitu kewajiban
seorang Muslim terhadap Allah, sesama manusia, dan dirinya sendiri.
Bahasa kewajiban lebih menonjol, menutup bahasa hak dan kebebasan
manusia. Islam liberal muncul dalam semangat untuk menyeimbangkan
“neraca” antara bahasa kewajiban dan kebebasan/hak ini. Untuk itu,
marilah kita masuki sebuah tema dasar yang menjadi debat dalam
pemikiran Islam klasik: soal tindakan manusia (af’alul
’ibad).
Otonom atau tidak?
Marilah
kita mulai dengan pertanyaan sederhana: apakah manusia bisa, dengan
akal, intuisi dan fitrahnya, mencapai pemahaman yang mendalam
mengenai kebaikan dan kejahatan? Apakah untuk mengetahui hal-hal
itu, manusia harus menungguh wahyu dari "langit"? Apakah gunanya
agama, jika toh manusia sudah mampu mencapai sendiri pemahaman
mengenai "yang baik" dan "yang jahat"? Apakah manusia secara moral
otonom dalam mengetahui kebaikan dan kejahatan, atau tergantung pada
entitas di luar dirinya?
Dalam masalah ini, ada dua jawaban
yang tersedia dalam khazanah pemikiran Islam klasik. Ada golongan
Sunni yang dominan, dengan pandangan pokok bahwa kebaikan dan
kejahatan itu haruslah ditentukan oleh agama. Manusia baru tahu
bahwa tindakan ini jahat atau baik setelah mendapatkan pengajaran
dari agama. Golongan kedua adalah Mu'tazilah yang memandang bahwa
manusia dengan akalnya sendiri dapat mengetahui batas-batas kebaikan
dan kejahatan, batas-batas kepantasan. Sudah tentu, jika dikatakan
bahwa akal manusia dapat menentukan batas-batas tersebut, tidak
berarti bahwa seluruh batas itu sudah diketahui oleh akal dari hari
pertama. Akal manusia berkembang, mengalami evolusi, dan akan makin
matang.
Saya lebih cenderung pada pandangan kaum Mu'tazilah.
Tetapi, harap lah disadari bahwa dengan menerima pendapat
Mu'tazilah, bukan berarti saya menepiskan peran wahyu dalam
memperkaya wawasan akal manusia untuk memahami batas-batas itu.
Setiap wahyu membawa suatu wawasan tertentu mengenai "yang baik" dan
"yang jahat". Wahyu dapat mengangkat derajat akal manusia ke tingkat
yang lebih tinggi dan bermutu untuk dapat lebih memahami
batas-batas. Tetapi, wahyu bisa memerosotkan akal manusia, manakala
wahyu itu mengalami "vulgarisasi", yaitu wahyu yang telah dibajak
oleh kepentingan-kepentingan sesaat yang bersifat duniawi. Agar
wahyu itu bisa pulih kembali dan memperoleh inegritasnya lagi
sebagai sumber moralitas, maka diperlukan akal yang bertanggung
jawab dan penuh integritas. Kita semua tahu, bahwa wahyu itu adalah
laksana horison atau cakrawala yang tak berbatas. Hampir mustahil
bagi akal manusia yang terbatas untuk menjangkau seluruh horison
wahyu. Karena cakrawala wahyu yang terbentang luas itu, maka
siapapun dapat mengatakan sesuatu atas nama wahyu. Garansi bahwa
wahyu dapat dipahami dengan tepat adalah integritas akal manusia itu
sendiri.
Salah satu hadis Nabi mengatakan, "al itsmu ma
haka fi nafsika wa karihta an yath-thali'a 'alaihin naas". Dosa
adalah sesuatu yang menimbulkan kekeruhan dan kekacauan di hatimu,
dan kamu tak suka orang lain melihatmu melakukannya. Hadis ini
memberikan tekanan yang tegas kepada kemampuan manusia, berdasarkan
intuisinya, untuk mencapai pemahaman yang benar mengenai dosa.
Kenapa demikian? Haruslah diketahui, bahwa agama pada menit pertama
adalah merupakan soal keinsafan/kesadaran pribadi; agama bukanlah
aturan obyektif yang bisa begitu saja didesakkan secara paksa dari
luar. Itulah sebabnya, sebuah hadis mengatakan "innamal a'malu
bin niyyaat", sesungguhnya segala tindakan tidaklah akan menjadi
tindakan yang "genuine" tanpa niat dan dorongan emotif yang
sungguh-sungguh bertanggungjawab. Dalam hadis lain dikatakan,
"niyyatul mu'min khairun min 'amalihi", niat dan dorongan
emotif yang sifatnya subyektif lebih mulia dari tindakan. Wilayah
niat ada dalam wilayah subyektivitas manusia; wilayah itu mempunyai
ciri-ciri kebebasan. Jadi, aturan-aturan obyektif yang ditetapkan
oleh agama, tidaklah bermakna dalam kerangka beragama jika
dilepaskan dari motif subyektif manusia.
Saya tidak melihat
suatu ide apapun dalam Islam di mana manusia ditempatkan sebagai
obyek moral yang pasif. Akal manusia merupakan partisipan yang aktif
dalam menafsiran ide-ide ketuhanan yang terkandung dalam wahyu. Saya
tidak pernah membayangkan bahwa wahyu dalam pandangan Islam
memandang "dunia manusia" sebagai dunia hobbesian yang kotor,
brutal, sementara, dan licik, dan karena itu wahyu turun sebagai
suatu "leviathan" yang bengis. Islam meletakkan manusia dalam posisi
yang penuh martabat, sebagai "khalifah" yang memenuhi tugas
ketuhanan untuk memperbaiki kehidupan di bumi. Pandangan-pandangan
keislaman populer kerapkali menggambarkan wahyu sebagai "leviathan"
semacam itu. Manusia, dalam pandangan populer semacam itu, kerapkali
ditempatkan sebagai "barang" yang sama sekali kosong dari suatu
motif yang bebas. Inilah proses vulgarisasi Islam sebagaimana pernah
ditunjuk oleh Prof. Khaled Abou El Fadl.
Dalam situasi yang
sudah "vulgar" semacam itu, yang pertama perlu direstorasi adalah
martabat manusia itu sendiri. Jika manusia sebagai subyek moral yang
bebas sudah tidak lagi ada atau disangkal, apakah gunanya sebuah
agama? Qur'an berkali-kali menyindir orang Yahudi sebagai "keledai
yang mengangkut berjilid-jilid kitab", matsalulladzina hummilut
Taurata kamatsalil khimari yahmilu asfaara. Keledai tak akan
pernah bisa mendapatkan manfaat apapun dari barang-barang yang
diangkutnya. Wahyu tidak akan berguna bagi seekor keledai. Dan tak
ada gunanya mendakwahkan kedalaman dan kesempurnaan wahyu kepad
keledai. Jika manusia telah dikosongkan dari motif, dan otonominya
sebagai subyek moral telah disangkal, apakah yang tersisa dari
manusia semacam itu selain "jasad" yang pasif. Nabi pernah bersaba,
"ad dinu huwal 'aql, la dina liman la 'aqla lahu", agama
adalah akal, tidak ada agama bagi mereka yang tak mempunyai akal.
Oleh karena itu, kebebasan manusia adalah perkara prinsip
yang tak bisa ditawar-tawar lagi. Banyak orang mengira bahwa
kebebasan semacam itu menyebabkan manusia memberontak kepada agama
dan wahyu. Ada yang mengira bahwa dengan membatasi kebebasan itu,
mereka telah melindungi wahyu. Ini jelas pandangan yang salah.
Sebab, begitu kebebasan manusia dibatasi, maka dimensi-dimensi
terdalam yang subtil dari wahyu akan sulit diungkapkan oleh manusia.
Sebab, untuk memahami kompleksitas wahyu, diperlukan akal manusia
yang matang. Sebuah hadis qudsi yang populer di kalangan sufi
menyatakan, "Aku (Allah) adalah 'kanzun makhfiyy’, harta
karun yang tersembunyi. Aku ingin diketahui, maka Aku ciptakan
manusia." Hadis ini memberikan suatu penegasan yang penting bahwa
manusia diciptakan untuk "menggali" dimensi-dimensi yang tersembunyi
dalam wahyu dan kebenaran Tuhan. Hal itu tak mungkin terjadi jika
tidak mengandaikan adanya manusia sebagai subyek yang bebas dan
otonom.
Orang-orang yang mengatakan bahwa dengan memberikan
kebebasan, anda telah menjerumuska manusia ke jurang kesesatan, dari
menit pertama mereka itu sudah mengingkari nilai kemanusiaan.
Keledai selalu takut pada kebebasan, dan terus-menerus mencari
majikan yang dapat menuntunnya. Sesungguhnya Islam tidak membutuhkan
orang-orang semacam itu. Kecemerlangan Islam justru akan
dimungkinkan karena adanya manusia-manusia yang berpikir bebas dan
kemudian mampu menyingkapkan rahasia-rahasia terdalam dari wahyu.
Ibadah sebagai “I-Thou”
Tujuan
pokok dari agama adalah mengangkat martabat kemanusiaan. Wahyu
adalah sarana saja menuju ke arah itu. Fokus pertama dalam agama
adalah manusia itu sendiri, bukan semata-mata Tuhan. Adalah salah
besar suatu anggapan populer yang mengatakan bahwa tugas pokok
manusia adalah "menyembah" Tuhan. Pandangan ini bersumber dari
pemahaman yang salah atas ayat "wa ma khalaqtul jinna wal insa
illa liya'budun," dan tidak Aku ciptakan manusia kecuali untuk
menyembah-Ku. Ayat ini, jika dipahami dalam kerangka populer yang
cenderung anti-humanistik, dapat berarti bahwa agama itu tidak lain
adalah penundukan manusia. Manusia seolah-olah ancaman bagi Tuhan
sehingga harus ditundukkan kepada kehendak-Nya. Tidak ada pemahaman
yang lebih kotor mengenai hakikat ketuhanan kecuali pemahaman
seperti ini. Pandangan mengenai manusia sebagai Prometheus yang
berseteru dengan Tuhan hanyalah ada dalam mitos Yunani kuno. Saya
melihat, pandangan populer yang berkembang di kalangan umat Islam
mengenai ayat tersebut cenderung kepada suatu citra manusia sebagai
Prometheus. Bedanya, Prometheus versi Islam adalah Prometheus yang
kalah oleh kehendak Tuhan. Ini jelas suatu citraan manusia yang
tidak sesuai dengan semangat Islam. Saya kurang setuju dengan
penerjemahan kata "ibadah" sebagai penyembahan, atau
"worship" dalam bahasa Inggris. Sebab, penyembahan mempunyai
makna yang negatif dalam sejumlah hal.
Penyembahan
mengandaikan bahwa obyek yang "disembah" adalah obyek yang "mati",
di-reifikasi, di-fiksasi. Penyembahan selalu merupakan proses yang
sepihak, bukan proses dialogal yang hidup antara subyek dan subyek.
Jika diletakkan dalam kerangka filsafat Martin Buber mengenai relasi
antar manusia, penyembahan adalah sebentuk hubungan antara Allah dan
manusia sebagai hubungan "I-it", "aku-dan-dia". Allah, dalam
kerangka penyembahan semacam itu, telah "dibendakan". Allah yang
disembah adalah Allah yang diberhalakan, yang di-fiksasi dalam
gambaran yang tetap seperti sebuah "idol". Saya berpandangan bahwa
seharusnya manusia berhubungan dengan Allah bukan dengan cara
seperti itu. Hubungan yang tepat antara manusia dengan Allah adalah
hubungan dalam kerangka "I-Thou", aku-Engkau. Agama yang
didasarkan pada penyembahan dalam kerangka hubungan "I-it"
hanya akan memerosotkan martabat manusia dan Allah itu sendiri. Arti
ayat tersebut lebih tepat dipahami sebagai hubungan Allah-manusia
dalam model “I-Thou”; bukan penyembahan, tetapi proses
dialogal yang kreatif.
Penyembahan pada Tuhan tidak
mempunyai makna apa-apa jika tidak diletakkan dalam kerangka manusia
sebagai subyek yang bebas, dengan akal yang bekerja secara leluasa.
Qur'an mengatakan, "qad tabayyanar rushdu minal ghayy", telah
jelas jalan kebaikan dan kesesatan. "Fa man sya'a fal yu'min wan
man sya'a fal yakfur," jika manusia mau, dia boleh mengimani
jalan itu, dan jika mau, dia boleh mengingkarinya. Fakta-fakta ini
begitu jelasnya tertuang dalam sumber utama ajaran Islam, Qur'an dan
Hadis. Tetapi, proses-proses kesejarahan dalam Islam sendiri telah
mengubah agama itu menjadi agama hukum yang dilandaskan kepada
pemaksaan, dengan lebih banyak menekankan bahasa kewajiban. Tidak
ada yang lebih berbahaya bagi Islam kecuali pandangan yang mencoba
mengubah karakter agama itu sebagai agama fitrah, menjadi agama
hukum yang ditegakkan atas paksaan.
Kesimpulan yang hendak
saya tuju dari ulasan yang agak "ruwet" dan panjang ini adalah bahwa
dengan membubuhkan kata "liberal" pada Islam, sesunggunya saya
hendak menegaskan kembali dimensi kebebasan dalam Islam yang
jangkarnya adalah "niat" atau dorongan-dorongan emotif-subyektif
dalam manusia itu sendiri. Dan sebaiknya kata liberal dalam "Islam
liberal" dipahami dalam kerangka semacam ini. Kata "liberal" di sini
tidak ada sangkut pautnya dengan kebebasan tanpa batas, dengan
sikap-sikap permisif yang melawan kecenderungan "intrinsik" dalam
akal manusia itu sendiri. Dengan menekankan kembali dimensi
kebebasan manusia, dan menempatkan manusia pada fokus penghayatan
keagamaan, maka kita telah memulihkan kembali integritas wahyu dan
Islam itu sendiri.
Sekali lagi, Islam tidak berguna bagi
orang-orang yang telah menyangkal kemanusiaan itu sendiri. Sebab
agama bukanlah diperuntukkan bagi keledai.
pre- text |
WORD |
post- text |
% |
| kan, “al itsmu ma haka fi nafsika wa karihta an yath-thali’a | ‘alaihin | naas”. Dosa adalah sesuatu yang menimbulkan kekeruhan dan ke | 33 % |
| . Nabi pernah bersaba, “ad dinu huwal ‘aql, la dina liman la | ‘aqla | lahu”, agama adalah akal, tidak ada agama bagi mereka yang t | 55 % |
| ang populer di kalangan sufi menyatakan, “Aku (Allah) adalah | ‘kanzun | makhfiyy’, harta karun yang tersembunyi. Aku ingin diketahui | 60 % |
| semacam itu selain “jasad” yang pasif. Nabi pernah bersaba, | “ad | dinu huwal ‘aql, la dina liman la ‘aqla lahu”, agama adalah | 54 % |
| Sebuah hadis qudsi yang populer di kalangan sufi menyatakan, | “aku | (Allah) adalah ‘kanzun makhfiyy’, harta karun yang tersembun | 60 % |
| l manusia itu sendiri. Salah satu hadis Nabi mengatakan, | “al | itsmu ma haka fi nafsika wa karihta an yath-thali’a ‘alaihin | 32 % |
| pandangan populer semacam itu, kerapkali ditempatkan sebagai | “barang” | yang sama sekali kosong dari suatu motif yang bebas. Inilah | 47 % |
| beragamaan yang sudah terlembaga. Dalam Islam, persoalan | “batasan” | (hadd) antara mana yang boleh (mubah) dan yang tak boleh (ma | 5 % |
| sejumlah hal. Penyembahan mengandaikan bahwa obyek yang | “disembah” | adalah obyek yang “mati”, di-reifikasi, di-fiksasi. Penyemba | 78 % |
| nah membayangkan bahwa wahyu dalam pandangan Islam memandang | “dunia | manusia” sebagai dunia hobbesian yang kotor, brutal, sementa | 43 % |
| shdu minal ghayy”, telah jelas jalan kebaikan dan kesesatan. | “fa | man sya’a fal yu’min wan man sya’a fal yakfur,” jika manusia | 88 % |
| ngguhnya segala tindakan tidaklah akan menjadi tindakan yang | “genuine” | tanpa niat dan dorongan emotif yang sungguh-sungguh bertangg | 37 % |
| semangat Islam. Saya kurang setuju dengan penerjemahan kata | “ibadah” | sebagai penyembahan, atau “worship” dalam bahasa Inggris. Se | 77 % |
| ama yang didasarkan pada penyembahan dalam kerangka hubungan | “i-it” | hanya akan memerosotkan martabat manusia dan Allah itu sendi | 85 % |
| ra paksa dari luar. Itulah sebabnya, sebuah hadis mengatakan | “innamal | a’malu bin niyyaat”, sesungguhnya segala tindakan tidaklah a | 37 % |
| atas, dengan sikap-sikap permisif yang melawan kecenderungan | “intrinsik” | dalam akal manusia itu sendiri. Dengan menekankan kembali di | 97 % |
| dalam manusia itu sendiri. Dan sebaiknya kata liberal dalam | “islam | liberal” dipahami dalam kerangka semacam ini. Kata “liberal” | 96 % |
| an rahasia-rahasia terdalam dari wahyu. Ibadah sebagai | “i-thou” | Tujuan pokok dari agama adalah mengangkat martabat kemanusia | 67 % |
| ih tepat dipahami sebagai hubungan Allah-manusia dalam model | “i-thou”; | bukan penyembahan, tetapi proses dialogal yang kreatif. | 86 % |
| sangkal, apakah yang tersisa dari manusia semacam itu selain | “jasad” | yang pasif. Nabi pernah bersaba, “ad dinu huwal ‘aql, la din | 54 % |
| ah agama? Qur’an berkali-kali menyindir orang Yahudi sebagai | “keledai | yang mengangkut berjilid-jilid kitab”, matsalulladzina hummi | 50 % |
| meletakkan manusia dalam posisi yang penuh martabat, sebagai | “khalifah” | yang memenuhi tugas ketuhanan untuk memperbaiki kehidupan di | 45 % |
| mentara, dan licik, dan karena itu wahyu turun sebagai suatu | “leviathan” | yang bengis. Islam meletakkan manusia dalam posisi yang penu | 44 % |
| ngan keislaman populer kerapkali menggambarkan wahyu sebagai | “leviathan” | semacam itu. Manusia, dalam pandangan populer semacam itu, k | 46 % |
| Agama, Akal, dan Kebebasan: Tentang Makna | “liberal” | dalam Islam Liberal Sekali lagi, Islam tidak berguna bagi o | 0 % |
| Ada kesan yang tertanam dalam sebagian orang, bahwa istilah | “liberal” | dalam Islam liberal mempunyai makna kebebasan tanpa batas, a | 2 % |
| “ruwet” dan panjang ini adalah bahwa dengan membubuhkan kata | “liberal” | pada Islam, sesunggunya saya hendak menegaskan kembali dimen | 94 % |
| am “Islam liberal” dipahami dalam kerangka semacam ini. Kata | “liberal” | di sini tidak ada sangkut pautnya dengan kebebasan tanpa bat | 96 % |
| suatu penegasan yang penting bahwa manusia diciptakan untuk | “menggali” | dimensi-dimensi yang tersembunyi dalam wahyu dan kebenaran T | 62 % |
| pan populer yang mengatakan bahwa tugas pokok manusia adalah | “menyembah” | Tuhan. Pandangan ini bersumber dari pemahaman yang salah ata | 69 % |
| ia. Islam liberal muncul dalam semangat untuk menyeimbangkan | “neraca” | antara bahasa kewajiban dan kebebasan/hak ini. Untuk itu, ma | 12 % |
| kembali dimensi kebebasan dalam Islam yang jangkarnya adalah | “niat” | atau dorongan-dorongan emotif-subyektif dalam manusia itu se | 95 % |
| ungguh-sungguh bertanggungjawab. Dalam hadis lain dikatakan, | “niyyatul | mu’min khairun min ‘amalihi”, niat dan dorongan emotif yang | 38 % |
| dengan akal yang bekerja secara leluasa. Qur’an mengatakan, | “qad | tabayyanar rushdu minal ghayy”, telah jelas jalan kebaikan d | 88 % |
| . Kesimpulan yang hendak saya tuju dari ulasan yang agak | “ruwet” | dan panjang ini adalah bahwa dengan membubuhkan kata “libera | 93 % |
| oleh Prof. Khaled Abou El Fadl. Dalam situasi yang sudah | “vulgar” | semacam itu, yang pertama perlu direstorasi adalah martabat | 48 % |
| Pandangan ini bersumber dari pemahaman yang salah atas ayat | “wa | ma khalaqtul jinna wal insa illa liya’budun,” dan tidak Aku | 70 % |
| dengan penerjemahan kata “ibadah” sebagai penyembahan, atau | “worship” | dalam bahasa Inggris. Sebab, penyembahan mempunyai makna yan | 77 % |
| toh manusia sudah mampu mencapai sendiri pemahaman mengenai | “yang | baik” dan “yang jahat”? Apakah manusia secara moral otonom d | 16 % |
| ah mampu mencapai sendiri pemahaman mengenai “yang baik” dan | “yang | jahat”? Apakah manusia secara moral otonom dalam mengetahui | 16 % |
| as itu. Setiap wahyu membawa suatu wawasan tertentu mengenai | “yang | baik” dan “yang jahat”. Wahyu dapat mengangkat derajat akal | 25 % |
| ahyu membawa suatu wawasan tertentu mengenai “yang baik” dan | “yang | jahat”. Wahyu dapat mengangkat derajat akal manusia ke tingk | 25 % |
| dari luar. Itulah sebabnya, sebuah hadis mengatakan “innamal | a’malu | bin niyyaat”, sesungguhnya segala tindakan tidaklah akan men | 37 % |
| garisasi Islam sebagaimana pernah ditunjuk oleh Prof. Khaled | abou | El Fadl. Dalam situasi yang sudah “vulgar” semacam itu, | 48 % |
| bab agama bukanlah diperuntukkan bagi keledai. Oleh: Ulil | abshar-abdalla | Ada kesan yang tertanam dalam sebagian orang, bahwa istilah | 2 % |
| lah diperuntukkan bagi keledai. Oleh: Ulil Abshar-Abdalla | ada | kesan yang tertanam dalam sebagian orang, bahwa istilah “lib | 2 % |
| gantung pada entitas di luar dirinya? Dalam masalah ini, | ada | dua jawaban yang tersedia dalam khazanah pemikiran Islam kla | 18 % |
| jawaban yang tersedia dalam khazanah pemikiran Islam klasik. | ada | golongan Sunni yang dominan, dengan pandangan pokok bahwa ke | 18 % |
| g sifatnya subyektif lebih mulia dari tindakan. Wilayah niat | ada | dalam wilayah subyektivitas manusia; wilayah itu mempunyai c | 39 % |
| ika manusia sebagai subyek moral yang bebas sudah tidak lagi | ada | atau disangkal, apakah gunanya sebuah agama? Qur’an berkali- | 50 % |
| utnya. Wahyu tidak akan berguna bagi seekor keledai. Dan tak | ada | gunanya mendakwahkan kedalaman dan kesempurnaan wahyu kepad | 52 % |
| ‘aql, la dina liman la ‘aqla lahu”, agama adalah akal, tidak | ada | agama bagi mereka yang tak mempunyai akal. Oleh karena i | 55 % |
| itu menyebabkan manusia memberontak kepada agama dan wahyu. | ada | yang mengira bahwa dengan membatasi kebebasan itu, mereka te | 57 % |
| Tuhan sehingga harus ditundukkan kepada kehendak-Nya. Tidak | ada | pemahaman yang lebih kotor mengenai hakikat ketuhanan kecual | 73 % |
| usia sebagai Prometheus yang berseteru dengan Tuhan hanyalah | ada | dalam mitos Yunani kuno. Saya melihat, pandangan populer yan | 74 % |
| saan, dengan lebih banyak menekankan bahasa kewajiban. Tidak | ada | yang lebih berbahaya bagi Islam kecuali pandangan yang menco | 92 % |
| ami dalam kerangka semacam ini. Kata “liberal” di sini tidak | ada | sangkut pautnya dengan kebebasan tanpa batas, dengan sikap-s | 96 % |
| ng fikih. Setiap pembicaraan tentang hukum selalu rujukannya | adalah | fikih. Ketika muncul diskusi yang ramai soal penerapan hukum | 8 % |
| ik setelah mendapatkan pengajaran dari agama. Golongan kedua | adalah | Mu’tazilah yang memandang bahwa manusia dengan akalnya sendi | 20 % |
| jawab dan penuh integritas. Kita semua tahu, bahwa wahyu itu | adalah | laksana horison atau cakrawala yang tak berbatas. Hampir mus | 29 % |
| nama wahyu. Garansi bahwa wahyu dapat dipahami dengan tepat | adalah | integritas akal manusia itu sendiri. Salah satu hadis Na | 31 % |
| a fi nafsika wa karihta an yath-thali’a ‘alaihin naas”. Dosa | adalah | sesuatu yang menimbulkan kekeruhan dan kekacauan di hatimu, | 33 % |
| demikian? Haruslah diketahui, bahwa agama pada menit pertama | adalah | merupakan soal keinsafan/kesadaran pribadi; agama bukanlah a | 35 % |
| g sudah “vulgar” semacam itu, yang pertama perlu direstorasi | adalah | martabat manusia itu sendiri. Jika manusia sebagai subyek mo | 49 % |
| ba, “ad dinu huwal ‘aql, la dina liman la ‘aqla lahu”, agama | adalah | akal, tidak ada agama bagi mereka yang tak mempunyai akal. | 55 % |
| g tak mempunyai akal. Oleh karena itu, kebebasan manusia | adalah | perkara prinsip yang tak bisa ditawar-tawar lagi. Banyak ora | 56 % |
| qudsi yang populer di kalangan sufi menyatakan, “Aku (Allah) | adalah | ‘kanzun makhfiyy’, harta karun yang tersembunyi. Aku ingin d | 60 % |
| yu. Ibadah sebagai “I-Thou” Tujuan pokok dari agama | adalah | mengangkat martabat kemanusiaan. Wahyu adalah sarana saja me | 67 % |
| kok dari agama adalah mengangkat martabat kemanusiaan. Wahyu | adalah | sarana saja menuju ke arah itu. Fokus pertama dalam agama ad | 68 % |
| ah sarana saja menuju ke arah itu. Fokus pertama dalam agama | adalah | manusia itu sendiri, bukan semata-mata Tuhan. Adalah salah b | 68 % |
| m agama adalah manusia itu sendiri, bukan semata-mata Tuhan. | adalah | salah besar suatu anggapan populer yang mengatakan bahwa tug | 69 % |
| u anggapan populer yang mengatakan bahwa tugas pokok manusia | adalah | “menyembah” Tuhan. Pandangan ini bersumber dari pemahaman ya | 69 % |
| ng anti-humanistik, dapat berarti bahwa agama itu tidak lain | adalah | penundukan manusia. Manusia seolah-olah ancaman bagi Tuhan s | 72 % |
| manusia sebagai Prometheus. Bedanya, Prometheus versi Islam | adalah | Prometheus yang kalah oleh kehendak Tuhan. Ini jelas suatu c | 76 % |
| al. Penyembahan mengandaikan bahwa obyek yang “disembah” | adalah | obyek yang “mati”, di-reifikasi, di-fiksasi. Penyembahan sel | 78 % |
| afat Martin Buber mengenai relasi antar manusia, penyembahan | adalah | sebentuk hubungan antara Allah dan manusia sebagai hubungan | 80 % |
| embahan semacam itu, telah “dibendakan”. Allah yang disembah | adalah | Allah yang diberhalakan, yang di-fiksasi dalam gambaran yang | 82 % |
| seperti itu. Hubungan yang tepat antara manusia dengan Allah | adalah | hubungan dalam kerangka “I-Thou”, aku-Engkau. Agama yang did | 84 % |
| ndak saya tuju dari ulasan yang agak “ruwet” dan panjang ini | adalah | bahwa dengan membubuhkan kata “liberal” pada Islam, sesunggu | 94 % |
| gaskan kembali dimensi kebebasan dalam Islam yang jangkarnya | adalah | “niat” atau dorongan-dorongan emotif-subyektif dalam manusia | 95 % |
| n Tuhan. Hal itu tak mungkin terjadi jika tidak mengandaikan | adanya | manusia sebagai subyek yang bebas dan otonom. Orang-oran | 63 % |
| cam itu. Kecemerlangan Islam justru akan dimungkinkan karena | adanya | manusia-manusia yang berpikir bebas dan kemudian mampu menyi | 66 % |
| ksaan. Kesimpulan yang hendak saya tuju dari ulasan yang | agak | “ruwet” dan panjang ini adalah bahwa dengan membubuhkan kata | 93 % |
| agama | , Akal, dan Kebebasan: Tentang Makna “Liberal” dalam Islam L | 0 % | |
| g-orang yang telah menyangkal kemanusiaan itu sendiri. Sebab | agama | bukanlah diperuntukkan bagi keledai. Oleh: Ulil Abshar-Ab | 1 % |
| ar mengenai dosa. Kenapa demikian? Haruslah diketahui, bahwa | agama | pada menit pertama adalah merupakan soal keinsafan/kesadaran | 35 % |
| t pertama adalah merupakan soal keinsafan/kesadaran pribadi; | agama | bukanlah aturan obyektif yang bisa begitu saja didesakkan se | 36 % |
| bersaba, “ad dinu huwal ‘aql, la dina liman la ‘aqla lahu”, | agama | adalah akal, tidak ada agama bagi mereka yang tak mempunyai | 55 % |
| , la dina liman la ‘aqla lahu”, agama adalah akal, tidak ada | agama | bagi mereka yang tak mempunyai akal. Oleh karena itu, ke | 55 % |
| kebebasan semacam itu menyebabkan manusia memberontak kepada | agama | dan wahyu. Ada yang mengira bahwa dengan membatasi kebebasan | 57 % |
| ri wahyu. Ibadah sebagai “I-Thou” Tujuan pokok dari | agama | adalah mengangkat martabat kemanusiaan. Wahyu adalah sarana | 67 % |
| u adalah sarana saja menuju ke arah itu. Fokus pertama dalam | agama | adalah manusia itu sendiri, bukan semata-mata Tuhan. Adalah | 68 % |
| populer yang cenderung anti-humanistik, dapat berarti bahwa | agama | itu tidak lain adalah penundukan manusia. Manusia seolah-ola | 72 % |
| n Allah adalah hubungan dalam kerangka “I-Thou”, aku-Engkau. | agama | yang didasarkan pada penyembahan dalam kerangka hubungan “I- | 84 % |
| proses-proses kesejarahan dalam Islam sendiri telah mengubah | agama | itu menjadi agama hukum yang dilandaskan kepada pemaksaan, d | 91 % |
| jarahan dalam Islam sendiri telah mengubah agama itu menjadi | agama | hukum yang dilandaskan kepada pemaksaan, dengan lebih banyak | 91 % |
| bagi Islam kecuali pandangan yang mencoba mengubah karakter | agama | itu sebagai agama fitrah, menjadi agama hukum yang ditegakka | 92 % |
| i pandangan yang mencoba mengubah karakter agama itu sebagai | agama | fitrah, menjadi agama hukum yang ditegakkan atas paksaan. | 92 % |
| ba mengubah karakter agama itu sebagai agama fitrah, menjadi | agama | hukum yang ditegakkan atas paksaan. Kesimpulan yang hend | 93 % |
| g-orang yang telah menyangkal kemanusiaan itu sendiri. Sebab | agama | bukanlah diperuntukkan bagi keledai. | 100 % |
| agama | , Akal, dan Kebebasan: Tentang Makna “Liberal” dalam Islam L | 0 % | |
| g-orang yang telah menyangkal kemanusiaan itu sendiri. Sebab | agama | bukanlah diperuntukkan bagi keledai. Oleh: Ulil Abshar-Ab | 1 % |
| ar mengenai dosa. Kenapa demikian? Haruslah diketahui, bahwa | agama | pada menit pertama adalah merupakan soal keinsafan/kesadaran | 35 % |
| t pertama adalah merupakan soal keinsafan/kesadaran pribadi; | agama | bukanlah aturan obyektif yang bisa begitu saja didesakkan se | 36 % |
| bersaba, “ad dinu huwal ‘aql, la dina liman la ‘aqla lahu”, | agama | adalah akal, tidak ada agama bagi mereka yang tak mempunyai | 55 % |
| , la dina liman la ‘aqla lahu”, agama adalah akal, tidak ada | agama | bagi mereka yang tak mempunyai akal. Oleh karena itu, ke | 55 % |
| kebebasan semacam itu menyebabkan manusia memberontak kepada | agama | dan wahyu. Ada yang mengira bahwa dengan membatasi kebebasan | 57 % |
| ri wahyu. Ibadah sebagai “I-Thou” Tujuan pokok dari | agama | adalah mengangkat martabat kemanusiaan. Wahyu adalah sarana | 67 % |
| u adalah sarana saja menuju ke arah itu. Fokus pertama dalam | agama | adalah manusia itu sendiri, bukan semata-mata Tuhan. Adalah | 68 % |
| populer yang cenderung anti-humanistik, dapat berarti bahwa | agama | itu tidak lain adalah penundukan manusia. Manusia seolah-ola | 72 % |
| n Allah adalah hubungan dalam kerangka “I-Thou”, aku-Engkau. | agama | yang didasarkan pada penyembahan dalam kerangka hubungan “I- | 84 % |
| proses-proses kesejarahan dalam Islam sendiri telah mengubah | agama | itu menjadi agama hukum yang dilandaskan kepada pemaksaan, d | 91 % |
| jarahan dalam Islam sendiri telah mengubah agama itu menjadi | agama | hukum yang dilandaskan kepada pemaksaan, dengan lebih banyak | 91 % |
| bagi Islam kecuali pandangan yang mencoba mengubah karakter | agama | itu sebagai agama fitrah, menjadi agama hukum yang ditegakka | 92 % |
| i pandangan yang mencoba mengubah karakter agama itu sebagai | agama | fitrah, menjadi agama hukum yang ditegakkan atas paksaan. | 92 % |
| ba mengubah karakter agama itu sebagai agama fitrah, menjadi | agama | hukum yang ditegakkan atas paksaan. Kesimpulan yang hend | 93 % |
| g-orang yang telah menyangkal kemanusiaan itu sendiri. Sebab | agama | bukanlah diperuntukkan bagi keledai. | 100 % |
| k oleh kepentingan-kepentingan sesaat yang bersifat duniawi. | agar | wahyu itu bisa pulih kembali dan memperoleh inegritasnya lag | 28 % |
| Fakta-fakta ini begitu jelasnya tertuang dalam sumber utama | ajaran | Islam, Qur’an dan Hadis. Tetapi, proses-proses kesejarahan d | 90 % |
| n, batas-batas kepantasan. Sudah tentu, jika dikatakan bahwa | akal | manusia dapat menentukan batas-batas tersebut, tidak berarti | 21 % |
| , tidak berarti bahwa seluruh batas itu sudah diketahui oleh | akal | dari hari pertama. Akal manusia berkembang, mengalami evolus | 22 % |
| luruh batas itu sudah diketahui oleh akal dari hari pertama. | akal | manusia berkembang, mengalami evolusi, dan akan makin matang | 22 % |
| berarti saya menepiskan peran wahyu dalam memperkaya wawasan | akal | manusia untuk memahami batas-batas itu. Setiap wahyu membawa | 24 % |
| “yang baik” dan “yang jahat”. Wahyu dapat mengangkat derajat | akal | manusia ke tingkat yang lebih tinggi dan bermutu untuk dapat | 26 % |
| lebih memahami batas-batas. Tetapi, wahyu bisa memerosotkan | akal | manusia, manakala wahyu itu mengalami “vulgarisasi”, yaitu w | 27 % |
| inegritasnya lagi sebagai sumber moralitas, maka diperlukan | akal | yang bertanggung jawab dan penuh integritas. Kita semua tahu | 29 % |
| rison atau cakrawala yang tak berbatas. Hampir mustahil bagi | akal | manusia yang terbatas untuk menjangkau seluruh horison wahyu | 30 % |
| si bahwa wahyu dapat dipahami dengan tepat adalah integritas | akal | manusia itu sendiri. Salah satu hadis Nabi mengatakan, “ | 32 % |
| di mana manusia ditempatkan sebagai obyek moral yang pasif. | akal | manusia merupakan partisipan yang aktif dalam menafsiran ide | 42 % |
| anusia. Sebab, untuk memahami kompleksitas wahyu, diperlukan | akal | manusia yang matang. Sebuah hadis qudsi yang populer di kala | 59 % |
| kan dalam kerangka manusia sebagai subyek yang bebas, dengan | akal | yang bekerja secara leluasa. Qur’an mengatakan, “qad tabayya | 87 % |
| -sikap permisif yang melawan kecenderungan “intrinsik” dalam | akal | manusia itu sendiri. Dengan menekankan kembali dimensi kebeb | 97 % |
| kedua adalah Mu’tazilah yang memandang bahwa manusia dengan | akalnya | sendiri dapat mengetahui batas-batas kebaikan dan kejahatan, | 20 % |
| ari pertama. Akal manusia berkembang, mengalami evolusi, dan | akan | makin matang. Saya lebih cenderung pada pandangan kaum M | 23 % |
| l a’malu bin niyyaat”, sesungguhnya segala tindakan tidaklah | akan | menjadi tindakan yang “genuine” tanpa niat dan dorongan emot | 37 % |
| ilut Taurata kamatsalil khimari yahmilu asfaara. Keledai tak | akan | pernah bisa mendapatkan manfaat apapun dari barang-barang ya | 51 % |
| faat apapun dari barang-barang yang diangkutnya. Wahyu tidak | akan | berguna bagi seekor keledai. Dan tak ada gunanya mendakwahka | 52 % |
| batasi, maka dimensi-dimensi terdalam yang subtil dari wahyu | akan | sulit diungkapkan oleh manusia. Sebab, untuk memahami komple | 59 % |
| butuhkan orang-orang semacam itu. Kecemerlangan Islam justru | akan | dimungkinkan karena adanya manusia-manusia yang berpikir beb | 66 % |
| sarkan pada penyembahan dalam kerangka hubungan “I-it” hanya | akan | memerosotkan martabat manusia dan Allah itu sendiri. Arti ay | 85 % |
| yek moral yang pasif. Akal manusia merupakan partisipan yang | aktif | dalam menafsiran ide-ide ketuhanan yang terkandung dalam wah | 42 % |
| lah) adalah ‘kanzun makhfiyy’, harta karun yang tersembunyi. | aku | ingin diketahui, maka Aku ciptakan manusia.” Hadis ini membe | 61 % |
| yy’, harta karun yang tersembunyi. Aku ingin diketahui, maka | aku | ciptakan manusia.” Hadis ini memberikan suatu penegasan yang | 61 % |
| “wa ma khalaqtul jinna wal insa illa liya’budun,” dan tidak | aku | ciptakan manusia kecuali untuk menyembah-Ku. Ayat ini, jika | 70 % |
| i antar manusia, penyembahan adalah sebentuk hubungan antara | allah | dan manusia sebagai hubungan “I-it”, “aku-dan-dia”. Allah, d | 81 % |
| dalam kerangka penyembahan semacam itu, telah “dibendakan”. | allah | yang disembah adalah Allah yang diberhalakan, yang di-fiksas | 82 % |
| semacam itu, telah “dibendakan”. Allah yang disembah adalah | allah | yang diberhalakan, yang di-fiksasi dalam gambaran yang tetap | 82 % |
| aya berpandangan bahwa seharusnya manusia berhubungan dengan | allah | bukan dengan cara seperti itu. Hubungan yang tepat antara ma | 83 % |
| cara seperti itu. Hubungan yang tepat antara manusia dengan | allah | adalah hubungan dalam kerangka “I-Thou”, aku-Engkau. Agama y | 84 % |
| hubungan “I-it” hanya akan memerosotkan martabat manusia dan | allah | itu sendiri. Arti ayat tersebut lebih tepat dipahami sebagai | 85 % |
| ri. Arti ayat tersebut lebih tepat dipahami sebagai hubungan | allah-manusia | dalam model “I-Thou”; bukan penyembahan, tetapi proses dialo | 86 % |
| dis Nabi mengatakan, “al itsmu ma haka fi nafsika wa karihta | an | yath-thali’a ‘alaihin naas”. Dosa adalah sesuatu yang menimb | 32 % |
| an cara pandang semacam itu, Islam liberal dipandang sebagai | ancaman | terhadap keberagamaan yang sudah terlembaga. Dalam Islam | 4 % |
| tu tidak lain adalah penundukan manusia. Manusia seolah-olah | ancaman | bagi Tuhan sehingga harus ditundukkan kepada kehendak-Nya. T | 72 % |
| ang-orang yang mengatakan bahwa dengan memberikan kebebasan, | anda | telah menjerumuska manusia ke jurang kesesatan, dari menit p | 63 % |
| u sendiri, bukan semata-mata Tuhan. Adalah salah besar suatu | anggapan | populer yang mengatakan bahwa tugas pokok manusia adalah “me | 69 % |
| etakkan dalam kerangka filsafat Martin Buber mengenai relasi | antar | manusia, penyembahan adalah sebentuk hubungan antara Allah d | 80 % |
| udah terlembaga. Dalam Islam, persoalan “batasan” (hadd) | antara | mana yang boleh (mubah) dan yang tak boleh (mahdzur), menemp | 5 % |
| liberal muncul dalam semangat untuk menyeimbangkan “neraca” | antara | bahasa kewajiban dan kebebasan/hak ini. Untuk itu, marilah k | 12 % |
| upakan proses yang sepihak, bukan proses dialogal yang hidup | antara | subyek dan subyek. Jika diletakkan dalam kerangka filsafat M | 79 % |
| i relasi antar manusia, penyembahan adalah sebentuk hubungan | antara | Allah dan manusia sebagai hubungan “I-it”, “aku-dan-dia”. Al | 81 % |
| gan Allah bukan dengan cara seperti itu. Hubungan yang tepat | antara | manusia dengan Allah adalah hubungan dalam kerangka “I-Thou” | 83 % |
| n yang begitu sentral. Setiap orang Islam selalu peduli pada | apa | yang dia kerjakan, apakah pebuatan itu boleh atau tidak. Ini | 6 % |
| ng kreatif. Penyembahan pada Tuhan tidak mempunyai makna | apa-apa | jika tidak diletakkan dalam kerangka manusia sebagai subyek | 87 % |
| Setiap orang Islam selalu peduli pada apa yang dia kerjakan, | apakah | pebuatan itu boleh atau tidak. Inilah yang kemudian melahirk | 6 % |
| au tidak? Marilah kita mulai dengan pertanyaan sederhana: | apakah | manusia bisa, dengan akal, intuisi dan fitrahnya, mencapai p | 14 % |
| pai pemahaman yang mendalam mengenai kebaikan dan kejahatan? | apakah | untuk mengetahui hal-hal itu, manusia harus menungguh wahyu | 15 % |
| ui hal-hal itu, manusia harus menungguh wahyu dari “langit”? | apakah | gunanya agama, jika toh manusia sudah mampu mencapai sendiri | 15 % |
| pai sendiri pemahaman mengenai “yang baik” dan “yang jahat”? | apakah | manusia secara moral otonom dalam mengetahui kebaikan dan ke | 16 % |
| subyek moral yang bebas sudah tidak lagi ada atau disangkal, | apakah | gunanya sebuah agama? Qur’an berkali-kali menyindir orang Ya | 50 % |
| motif, dan otonominya sebagai subyek moral telah disangkal, | apakah | yang tersisa dari manusia semacam itu selain “jasad” yang pa | 54 % |
| ri motif subyektif manusia. Saya tidak melihat suatu ide | apapun | dalam Islam di mana manusia ditempatkan sebagai obyek moral | 41 % |
| lu asfaara. Keledai tak akan pernah bisa mendapatkan manfaat | apapun | dari barang-barang yang diangkutnya. Wahyu tidak akan bergun | 52 % |
| kat martabat kemanusiaan. Wahyu adalah sarana saja menuju ke | arah | itu. Fokus pertama dalam agama adalah manusia itu sendiri, b | 68 % |
| ya akan memerosotkan martabat manusia dan Allah itu sendiri. | arti | ayat tersebut lebih tepat dipahami sebagai hubungan Allah-ma | 85 % |
| terbentang luas itu, maka siapapun dapat mengatakan sesuatu | atas | nama wahyu. Garansi bahwa wahyu dapat dipahami dengan tepat | 31 % |
| ah” Tuhan. Pandangan ini bersumber dari pemahaman yang salah | atas | ayat “wa ma khalaqtul jinna wal insa illa liya’budun,” dan t | 70 % |
| tu sebagai agama fitrah, menjadi agama hukum yang ditegakkan | atas | paksaan. Kesimpulan yang hendak saya tuju dari ulasan ya | 93 % |
| ” dalam Islam liberal mempunyai makna kebebasan tanpa batas, | atau | bahkan disetarakan dengan sikap permisif, ibahiyah; sikap me | 3 % |
| peduli pada apa yang dia kerjakan, apakah pebuatan itu boleh | atau | tidak. Inilah yang kemudian melahirkan suatu bidang kajian y | 7 % |
| lam klasik: soal tindakan manusia (af’alul ‘ibad). Otonom | atau | tidak? Marilah kita mulai dengan pertanyaan sederhana: ap | 13 % |
| secara moral otonom dalam mengetahui kebaikan dan kejahatan, | atau | tergantung pada entitas di luar dirinya? Dalam masalah i | 17 % |
| tukan oleh agama. Manusia baru tahu bahwa tindakan ini jahat | atau | baik setelah mendapatkan pengajaran dari agama. Golongan ked | 19 % |
| tas. Kita semua tahu, bahwa wahyu itu adalah laksana horison | atau | cakrawala yang tak berbatas. Hampir mustahil bagi akal manus | 29 % |
| manusia sebagai subyek moral yang bebas sudah tidak lagi ada | atau | disangkal, apakah gunanya sebuah agama? Qur’an berkali-kali | 50 % |
| etuju dengan penerjemahan kata “ibadah” sebagai penyembahan, | atau | “worship” dalam bahasa Inggris. Sebab, penyembahan mempunyai | 77 % |
| dimensi kebebasan dalam Islam yang jangkarnya adalah “niat” | atau | dorongan-dorongan emotif-subyektif dalam manusia itu sendiri | 95 % |
| h merupakan soal keinsafan/kesadaran pribadi; agama bukanlah | aturan | obyektif yang bisa begitu saja didesakkan secara paksa dari | 36 % |
| as manusia; wilayah itu mempunyai ciri-ciri kebebasan. Jadi, | aturan-aturan | obyektif yang ditetapkan oleh agama, tidaklah bermakna dalam | 40 % |
| uhan. Pandangan ini bersumber dari pemahaman yang salah atas | ayat | “wa ma khalaqtul jinna wal insa illa liya’budun,” dan tidak | 70 % |
| ” dan tidak Aku ciptakan manusia kecuali untuk menyembah-Ku. | ayat | ini, jika dipahami dalam kerangka populer yang cenderung ant | 71 % |
| ngan populer yang berkembang di kalangan umat Islam mengenai | ayat | tersebut cenderung kepada suatu citra manusia sebagai Promet | 75 % |
| an memerosotkan martabat manusia dan Allah itu sendiri. Arti | ayat | tersebut lebih tepat dipahami sebagai hubungan Allah-manusia | 85 % |
| beral” dalam Islam Liberal Sekali lagi, Islam tidak berguna | bagi | orang-orang yang telah menyangkal kemanusiaan itu sendiri. S | 1 % |
| kemanusiaan itu sendiri. Sebab agama bukanlah diperuntukkan | bagi | keledai. Oleh: Ulil Abshar-Abdalla Ada kesan yang tertan | 2 % |
| na horison atau cakrawala yang tak berbatas. Hampir mustahil | bagi | akal manusia yang terbatas untuk menjangkau seluruh horison | 30 % |
| ari barang-barang yang diangkutnya. Wahyu tidak akan berguna | bagi | seekor keledai. Dan tak ada gunanya mendakwahkan kedalaman d | 52 % |
| ina liman la ‘aqla lahu”, agama adalah akal, tidak ada agama | bagi | mereka yang tak mempunyai akal. Oleh karena itu, kebebas | 55 % |
| lain adalah penundukan manusia. Manusia seolah-olah ancaman | bagi | Tuhan sehingga harus ditundukkan kepada kehendak-Nya. Tidak | 72 % |
| menekankan bahasa kewajiban. Tidak ada yang lebih berbahaya | bagi | Islam kecuali pandangan yang mencoba mengubah karakter agama | 92 % |
| dan Islam itu sendiri. Sekali lagi, Islam tidak berguna | bagi | orang-orang yang telah menyangkal kemanusiaan itu sendiri. Sebab agama bukanlah diperuntukkan bagi keledai. | 99 % |
| kemanusiaan itu sendiri. Sebab agama bukanlah diperuntukkan | bagi | keledai. | 100 % |
| Muslim terhadap Allah, sesama manusia, dan dirinya sendiri. | bahasa | kewajiban lebih menonjol, menutup bahasa hak dan kebebasan m | 11 % |
| an dirinya sendiri. Bahasa kewajiban lebih menonjol, menutup | bahasa | hak dan kebebasan manusia. Islam liberal muncul dalam semang | 11 % |
| l muncul dalam semangat untuk menyeimbangkan “neraca” antara | bahasa | kewajiban dan kebebasan/hak ini. Untuk itu, marilah kita mas | 12 % |
| ahan kata “ibadah” sebagai penyembahan, atau “worship” dalam | bahasa | Inggris. Sebab, penyembahan mempunyai makna yang negatif dal | 77 % |
| dilandaskan kepada pemaksaan, dengan lebih banyak menekankan | bahasa | kewajiban. Tidak ada yang lebih berbahaya bagi Islam kecuali | 91 % |
| am Islam liberal mempunyai makna kebebasan tanpa batas, atau | bahkan | disetarakan dengan sikap permisif, ibahiyah; sikap menolerir | 3 % |
| bshar-Abdalla Ada kesan yang tertanam dalam sebagian orang, | bahwa | istilah “liberal” dalam Islam liberal mempunyai makna kebeba | 2 % |
| dirumuskan. Dalam diskusi-diskusi itu, kelihatan sekali | bahwa | tekanan diberikan kepada “kewajiban”, yaitu kewajiban seoran | 10 % |
| sik. Ada golongan Sunni yang dominan, dengan pandangan pokok | bahwa | kebaikan dan kejahatan itu haruslah ditentukan oleh agama. M | 18 % |
| ahatan itu haruslah ditentukan oleh agama. Manusia baru tahu | bahwa | tindakan ini jahat atau baik setelah mendapatkan pengajaran | 19 % |
| dari agama. Golongan kedua adalah Mu’tazilah yang memandang | bahwa | manusia dengan akalnya sendiri dapat mengetahui batas-batas | 20 % |
| jahatan, batas-batas kepantasan. Sudah tentu, jika dikatakan | bahwa | akal manusia dapat menentukan batas-batas tersebut, tidak be | 21 % |
| manusia dapat menentukan batas-batas tersebut, tidak berarti | bahwa | seluruh batas itu sudah diketahui oleh akal dari hari pertam | 22 % |
| g pada pandangan kaum Mu’tazilah. Tetapi, harap lah disadari | bahwa | dengan menerima pendapat Mu’tazilah, bukan berarti saya mene | 23 % |
| ang bertanggung jawab dan penuh integritas. Kita semua tahu, | bahwa | wahyu itu adalah laksana horison atau cakrawala yang tak ber | 29 % |
| a siapapun dapat mengatakan sesuatu atas nama wahyu. Garansi | bahwa | wahyu dapat dipahami dengan tepat adalah integritas akal man | 31 % |
| ng benar mengenai dosa. Kenapa demikian? Haruslah diketahui, | bahwa | agama pada menit pertama adalah merupakan soal keinsafan/kes | 35 % |
| yang terkandung dalam wahyu. Saya tidak pernah membayangkan | bahwa | wahyu dalam pandangan Islam memandang “dunia manusia” sebaga | 43 % |
| insip yang tak bisa ditawar-tawar lagi. Banyak orang mengira | bahwa | kebebasan semacam itu menyebabkan manusia memberontak kepada | 56 % |
| manusia memberontak kepada agama dan wahyu. Ada yang mengira | bahwa | dengan membatasi kebebasan itu, mereka telah melindungi wahy | 57 % |
| manusia.” Hadis ini memberikan suatu penegasan yang penting | bahwa | manusia diciptakan untuk “menggali” dimensi-dimensi yang ter | 61 % |
| ubyek yang bebas dan otonom. Orang-orang yang mengatakan | bahwa | dengan memberikan kebebasan, anda telah menjerumuska manusia | 63 % |
| n. Adalah salah besar suatu anggapan populer yang mengatakan | bahwa | tugas pokok manusia adalah “menyembah” Tuhan. Pandangan ini | 69 % |
| rangka populer yang cenderung anti-humanistik, dapat berarti | bahwa | agama itu tidak lain adalah penundukan manusia. Manusia seol | 71 % |
| ang negatif dalam sejumlah hal. Penyembahan mengandaikan | bahwa | obyek yang “disembah” adalah obyek yang “mati”, di-reifikasi | 78 % |
| gambaran yang tetap seperti sebuah “idol”. Saya berpandangan | bahwa | seharusnya manusia berhubungan dengan Allah bukan dengan car | 83 % |
| ya tuju dari ulasan yang agak “ruwet” dan panjang ini adalah | bahwa | dengan membubuhkan kata “liberal” pada Islam, sesunggunya sa | 94 % |
| oleh agama. Manusia baru tahu bahwa tindakan ini jahat atau | baik | setelah mendapatkan pengajaran dari agama. Golongan kedua ad | 19 % |
| anusia sudah mampu mencapai sendiri pemahaman mengenai “yang | baik” | dan “yang jahat”? Apakah manusia secara moral otonom dalam m | 16 % |
| . Setiap wahyu membawa suatu wawasan tertentu mengenai “yang | baik” | dan “yang jahat”. Wahyu dapat mengangkat derajat akal manusi | 25 % |
| sia adalah perkara prinsip yang tak bisa ditawar-tawar lagi. | banyak | orang mengira bahwa kebebasan semacam itu menyebabkan manusi | 56 % |
| agama hukum yang dilandaskan kepada pemaksaan, dengan lebih | banyak | menekankan bahasa kewajiban. Tidak ada yang lebih berbahaya | 91 % |
| Keledai tak akan pernah bisa mendapatkan manfaat apapun dari | barang-barang | yang diangkutnya. Wahyu tidak akan berguna bagi seekor keled | 52 % |
| an dan kejahatan itu haruslah ditentukan oleh agama. Manusia | baru | tahu bahwa tindakan ini jahat atau baik setelah mendapatkan | 19 % |
| ermisif, ibahiyah; sikap menolerir setiap hal tanpa mengenal | batas | yang pasti. Dengan cara pandang semacam itu, Islam liberal d | 4 % |
| menentukan batas-batas tersebut, tidak berarti bahwa seluruh | batas | itu sudah diketahui oleh akal dari hari pertama. Akal manusi | 22 % |
| andang bahwa manusia dengan akalnya sendiri dapat mengetahui | batas-batas | kebaikan dan kejahatan, batas-batas kepantasan. Sudah tentu, | 21 % |
| sendiri dapat mengetahui batas-batas kebaikan dan kejahatan, | batas-batas | kepantasan. Sudah tentu, jika dikatakan bahwa akal manusia d | 21 % |
| ah tentu, jika dikatakan bahwa akal manusia dapat menentukan | batas-batas | tersebut, tidak berarti bahwa seluruh batas itu sudah diketa | 21 % |
| n wahyu dalam memperkaya wawasan akal manusia untuk memahami | batas-batas | itu. Setiap wahyu membawa suatu wawasan tertentu mengenai “y | 25 % |
| manusia itu sendiri. Jika manusia sebagai subyek moral yang | bebas | sudah tidak lagi ada atau disangkal, apakah gunanya sebuah a | 49 % |
| i jika tidak mengandaikan adanya manusia sebagai subyek yang | bebas | dan otonom. Orang-orang yang mengatakan bahwa dengan mem | 63 % |
| kan dimungkinkan karena adanya manusia-manusia yang berpikir | bebas | dan kemudian mampu menyingkapkan rahasia-rahasia terdalam da | 66 % |
| ubah) dan yang tak boleh (mahdzur), menempati kedudukan yang | begitu | sentral. Setiap orang Islam selalu peduli pada apa yang dia | 6 % |
| /kesadaran pribadi; agama bukanlah aturan obyektif yang bisa | begitu | saja didesakkan secara paksa dari luar. Itulah sebabnya, seb | 36 % |
| lah melindungi wahyu. Ini jelas pandangan yang salah. Sebab, | begitu | kebebasan manusia dibatasi, maka dimensi-dimensi terdalam ya | 58 % |
| itu, dan jika mau, dia boleh mengingkarinya. Fakta-fakta ini | begitu | jelasnya tertuang dalam sumber utama ajaran Islam, Qur’an da | 90 % |
| kerangka manusia sebagai subyek yang bebas, dengan akal yang | bekerja | secara leluasa. Qur’an mengatakan, “qad tabayyanar rushdu mi | 87 % |
| nusia, berdasarkan intuisinya, untuk mencapai pemahaman yang | benar | mengenai dosa. Kenapa demikian? Haruslah diketahui, bahwa ag | 35 % |
| yang ditetapkan oleh agama, tidaklah bermakna dalam kerangka | beragama | jika dilepaskan dari motif subyektif manusia. Saya tidak | 41 % |
| wa akal manusia dapat menentukan batas-batas tersebut, tidak | berarti | bahwa seluruh batas itu sudah diketahui oleh akal dari hari | 22 % |
| ah disadari bahwa dengan menerima pendapat Mu’tazilah, bukan | berarti | saya menepiskan peran wahyu dalam memperkaya wawasan akal ma | 24 % |
| dalam kerangka populer yang cenderung anti-humanistik, dapat | berarti | bahwa agama itu tidak lain adalah penundukan manusia. Manusi | 71 % |
| bih banyak menekankan bahasa kewajiban. Tidak ada yang lebih | berbahaya | bagi Islam kecuali pandangan yang mencoba mengubah karakter | 92 % |
| ini memberikan tekanan yang tegas kepada kemampuan manusia, | berdasarkan | intuisinya, untuk mencapai pemahaman yang benar mengenai dos | 34 % |
| akna “Liberal” dalam Islam Liberal Sekali lagi, Islam tidak | berguna | bagi orang-orang yang telah menyangkal kemanusiaan itu sendi | 1 % |
| apapun dari barang-barang yang diangkutnya. Wahyu tidak akan | berguna | bagi seekor keledai. Dan tak ada gunanya mendakwahkan kedala | 52 % |
| as wahyu dan Islam itu sendiri. Sekali lagi, Islam tidak | berguna | bagi orang-orang yang telah menyangkal kemanusiaan itu sendi | 99 % |
| ti sebuah “idol”. Saya berpandangan bahwa seharusnya manusia | berhubungan | dengan Allah bukan dengan cara seperti itu. Hubungan yang te | 83 % |
| kali menyindir orang Yahudi sebagai “keledai yang mengangkut | berjilid-jilid | kitab”, matsalulladzina hummilut Taurata kamatsalil khimari | 51 % |
| lagi ada atau disangkal, apakah gunanya sebuah agama? Qur’an | berkali-kali | menyindir orang Yahudi sebagai “keledai yang mengangkut berj | 50 % |
| alam mitos Yunani kuno. Saya melihat, pandangan populer yang | berkembang | di kalangan umat Islam mengenai ayat tersebut cenderung kepa | 74 % |
| aturan-aturan obyektif yang ditetapkan oleh agama, tidaklah | bermakna | dalam kerangka beragama jika dilepaskan dari motif subyektif | 40 % |
| angkat derajat akal manusia ke tingkat yang lebih tinggi dan | bermutu | untuk dapat lebih memahami batas-batas. Tetapi, wahyu bisa m | 26 % |
| iksasi dalam gambaran yang tetap seperti sebuah “idol”. Saya | berpandangan | bahwa seharusnya manusia berhubungan dengan Allah bukan deng | 83 % |
| justru akan dimungkinkan karena adanya manusia-manusia yang | berpikir | bebas dan kemudian mampu menyingkapkan rahasia-rahasia terda | 66 % |
| erti ini. Pandangan mengenai manusia sebagai Prometheus yang | berseteru | dengan Tuhan hanyalah ada dalam mitos Yunani kuno. Saya meli | 74 % |
| yang telah dibajak oleh kepentingan-kepentingan sesaat yang | bersifat | duniawi. Agar wahyu itu bisa pulih kembali dan memperoleh in | 28 % |
| tugas pokok manusia adalah “menyembah” Tuhan. Pandangan ini | bersumber | dari pemahaman yang salah atas ayat “wa ma khalaqtul jinna w | 70 % |
| nya lagi sebagai sumber moralitas, maka diperlukan akal yang | bertanggung | jawab dan penuh integritas. Kita semua tahu, bahwa wahyu itu | 29 % |
| ikih menjadi fokus perhatian, sebab dalam fikih lah sebagian | besar | hukum Islam dirumuskan. Dalam diskusi-diskusi itu, kelih | 9 % |
| h manusia itu sendiri, bukan semata-mata Tuhan. Adalah salah | besar | suatu anggapan populer yang mengatakan bahwa tugas pokok man | 69 % |
| itu boleh atau tidak. Inilah yang kemudian melahirkan suatu | bidang | kajian yang sangat kaya dan meninggalkan ribuan literatur ya | 7 % |
| t kaya dan meninggalkan ribuan literatur yang canggih, yaitu | bidang | fikih. Setiap pembicaraan tentang hukum selalu rujukannya ad | 8 % |
| ar. Itulah sebabnya, sebuah hadis mengatakan “innamal a’malu | bin | niyyaat”, sesungguhnya segala tindakan tidaklah akan menjadi | 37 % |
| ermutu untuk dapat lebih memahami batas-batas. Tetapi, wahyu | bisa | memerosotkan akal manusia, manakala wahyu itu mengalami “vul | 26 % |
| gan-kepentingan sesaat yang bersifat duniawi. Agar wahyu itu | bisa | pulih kembali dan memperoleh inegritasnya lagi sebagai sumbe | 28 % |
| safan/kesadaran pribadi; agama bukanlah aturan obyektif yang | bisa | begitu saja didesakkan secara paksa dari luar. Itulah sebabn | 36 % |
| kamatsalil khimari yahmilu asfaara. Keledai tak akan pernah | bisa | mendapatkan manfaat apapun dari barang-barang yang diangkutn | 51 % |
| arena itu, kebebasan manusia adalah perkara prinsip yang tak | bisa | ditawar-tawar lagi. Banyak orang mengira bahwa kebebasan sem | 56 % |
| Dalam Islam, persoalan “batasan” (hadd) antara mana yang | boleh | (mubah) dan yang tak boleh (mahdzur), menempati kedudukan ya | 5 % |
| “batasan” (hadd) antara mana yang boleh (mubah) dan yang tak | boleh | (mahdzur), menempati kedudukan yang begitu sentral. Setiap o | 5 % |
| elalu peduli pada apa yang dia kerjakan, apakah pebuatan itu | boleh | atau tidak. Inilah yang kemudian melahirkan suatu bidang kaj | 7 % |
| fal yu’min wan man sya’a fal yakfur,” jika manusia mau, dia | boleh | mengimani jalan itu, dan jika mau, dia boleh mengingkarinya. | 89 % |
| anusia mau, dia boleh mengimani jalan itu, dan jika mau, dia | boleh | mengingkarinya. Fakta-fakta ini begitu jelasnya tertuang dal | 89 % |
| k dan subyek. Jika diletakkan dalam kerangka filsafat Martin | buber | mengenai relasi antar manusia, penyembahan adalah sebentuk h | 80 % |
| arap lah disadari bahwa dengan menerima pendapat Mu’tazilah, | bukan | berarti saya menepiskan peran wahyu dalam memperkaya wawasan | 24 % |
| h itu. Fokus pertama dalam agama adalah manusia itu sendiri, | bukan | semata-mata Tuhan. Adalah salah besar suatu anggapan populer | 68 % |
| i-fiksasi. Penyembahan selalu merupakan proses yang sepihak, | bukan | proses dialogal yang hidup antara subyek dan subyek. Jika di | 79 % |
| rpandangan bahwa seharusnya manusia berhubungan dengan Allah | bukan | dengan cara seperti itu. Hubungan yang tepat antara manusia | 83 % |
| ipahami sebagai hubungan Allah-manusia dalam model “I-Thou”; | bukan | penyembahan, tetapi proses dialogal yang kreatif. Penyem | 86 % |
| g yang telah menyangkal kemanusiaan itu sendiri. Sebab agama | bukanlah | diperuntukkan bagi keledai. Oleh: Ulil Abshar-Abdalla Ad | 1 % |
| ama adalah merupakan soal keinsafan/kesadaran pribadi; agama | bukanlah | aturan obyektif yang bisa begitu saja didesakkan secara paks | 36 % |
| g yang telah menyangkal kemanusiaan itu sendiri. Sebab agama | bukanlah | diperuntukkan bagi keledai. | 100 % |
| Kita semua tahu, bahwa wahyu itu adalah laksana horison atau | cakrawala | yang tak berbatas. Hampir mustahil bagi akal manusia yang te | 29 % |
| yang terbatas untuk menjangkau seluruh horison wahyu. Karena | cakrawala | wahyu yang terbentang luas itu, maka siapapun dapat mengatak | 30 % |
| menolerir setiap hal tanpa mengenal batas yang pasti. Dengan | cara | pandang semacam itu, Islam liberal dipandang sebagai ancaman | 4 % |
| hwa seharusnya manusia berhubungan dengan Allah bukan dengan | cara | seperti itu. Hubungan yang tepat antara manusia dengan Allah | 83 % |
| ng, mengalami evolusi, dan akan makin matang. Saya lebih | cenderung | pada pandangan kaum Mu’tazilah. Tetapi, harap lah disadari b | 23 % |
| mbah-Ku. Ayat ini, jika dipahami dalam kerangka populer yang | cenderung | anti-humanistik, dapat berarti bahwa agama itu tidak lain ad | 71 % |
| ang berkembang di kalangan umat Islam mengenai ayat tersebut | cenderung | kepada suatu citra manusia sebagai Prometheus. Bedanya, Prom | 75 % |
| harta karun yang tersembunyi. Aku ingin diketahui, maka Aku | ciptakan | manusia.” Hadis ini memberikan suatu penegasan yang penting | 61 % |
| ma khalaqtul jinna wal insa illa liya’budun,” dan tidak Aku | ciptakan | manusia kecuali untuk menyembah-Ku. Ayat ini, jika dipahami | 70 % |
| a dalam wilayah subyektivitas manusia; wilayah itu mempunyai | ciri-ciri | kebebasan. Jadi, aturan-aturan obyektif yang ditetapkan oleh | 40 % |
| gan umat Islam mengenai ayat tersebut cenderung kepada suatu | citra | manusia sebagai Prometheus. Bedanya, Prometheus versi Islam | 75 % |
| h Prometheus yang kalah oleh kehendak Tuhan. Ini jelas suatu | citraan | manusia yang tidak sesuai dengan semangat Islam. Saya kurang | 76 % |
| Agama, Akal, dan Kebebasan: Tentang Makna “Liberal” | dalam | Islam Liberal Sekali lagi, Islam tidak berguna bagi orang-o | 0 % |
| ledai. Oleh: Ulil Abshar-Abdalla Ada kesan yang tertanam | dalam | sebagian orang, bahwa istilah “liberal” dalam Islam liberal | 2 % |
| yang tertanam dalam sebagian orang, bahwa istilah “liberal” | dalam | Islam liberal mempunyai makna kebebasan tanpa batas, atau ba | 2 % |
| sebagai ancaman terhadap keberagamaan yang sudah terlembaga. | dalam | Islam, persoalan “batasan” (hadd) antara mana yang boleh (mu | 5 % |
| rapan hukum Islam, maka fikih menjadi fokus perhatian, sebab | dalam | fikih lah sebagian besar hukum Islam dirumuskan. Dalam d | 9 % |
| sebab dalam fikih lah sebagian besar hukum Islam dirumuskan. | dalam | diskusi-diskusi itu, kelihatan sekali bahwa tekanan diberika | 9 % |
| nutup bahasa hak dan kebebasan manusia. Islam liberal muncul | dalam | semangat untuk menyeimbangkan “neraca” antara bahasa kewajib | 12 % |
| tu, marilah kita masuki sebuah tema dasar yang menjadi debat | dalam | pemikiran Islam klasik: soal tindakan manusia (af’alul ‘ibad | 13 % |
| g baik” dan “yang jahat”? Apakah manusia secara moral otonom | dalam | mengetahui kebaikan dan kejahatan, atau tergantung pada enti | 17 % |
| dan kejahatan, atau tergantung pada entitas di luar dirinya? | dalam | masalah ini, ada dua jawaban yang tersedia dalam khazanah pe | 17 % |
| irinya? Dalam masalah ini, ada dua jawaban yang tersedia | dalam | khazanah pemikiran Islam klasik. Ada golongan Sunni yang dom | 18 % |
| ndapat Mu’tazilah, bukan berarti saya menepiskan peran wahyu | dalam | memperkaya wawasan akal manusia untuk memahami batas-batas i | 24 % |
| t dan dorongan emotif yang sungguh-sungguh bertanggungjawab. | dalam | hadis lain dikatakan, “niyyatul mu’min khairun min ‘amalihi” | 38 % |
| fatnya subyektif lebih mulia dari tindakan. Wilayah niat ada | dalam | wilayah subyektivitas manusia; wilayah itu mempunyai ciri-ci | 39 % |
| turan obyektif yang ditetapkan oleh agama, tidaklah bermakna | dalam | kerangka beragama jika dilepaskan dari motif subyektif manus | 40 % |
| f subyektif manusia. Saya tidak melihat suatu ide apapun | dalam | Islam di mana manusia ditempatkan sebagai obyek moral yang p | 41 % |
| ral yang pasif. Akal manusia merupakan partisipan yang aktif | dalam | menafsiran ide-ide ketuhanan yang terkandung dalam wahyu. Sa | 42 % |
| ang aktif dalam menafsiran ide-ide ketuhanan yang terkandung | dalam | wahyu. Saya tidak pernah membayangkan bahwa wahyu dalam pand | 43 % |
| dung dalam wahyu. Saya tidak pernah membayangkan bahwa wahyu | dalam | pandangan Islam memandang “dunia manusia” sebagai dunia hobb | 43 % |
| agai suatu “leviathan” yang bengis. Islam meletakkan manusia | dalam | posisi yang penuh martabat, sebagai “khalifah” yang memenuhi | 45 % |
| enggambarkan wahyu sebagai “leviathan” semacam itu. Manusia, | dalam | pandangan populer semacam itu, kerapkali ditempatkan sebagai | 46 % |
| sebagaimana pernah ditunjuk oleh Prof. Khaled Abou El Fadl. | dalam | situasi yang sudah “vulgar” semacam itu, yang pertama perlu | 48 % |
| diciptakan untuk “menggali” dimensi-dimensi yang tersembunyi | dalam | wahyu dan kebenaran Tuhan. Hal itu tak mungkin terjadi jika | 62 % |
| . Wahyu adalah sarana saja menuju ke arah itu. Fokus pertama | dalam | agama adalah manusia itu sendiri, bukan semata-mata Tuhan. A | 68 % |
| manusia kecuali untuk menyembah-Ku. Ayat ini, jika dipahami | dalam | kerangka populer yang cenderung anti-humanistik, dapat berar | 71 % |
| sebagai Prometheus yang berseteru dengan Tuhan hanyalah ada | dalam | mitos Yunani kuno. Saya melihat, pandangan populer yang berk | 74 % |
| nerjemahan kata “ibadah” sebagai penyembahan, atau “worship” | dalam | bahasa Inggris. Sebab, penyembahan mempunyai m |