logo SUARA MERDEKA

Line
 Budaya Selasa, 24 Februari 1998  
Line

"Rama Tambak'' di Sala Gagal "Nambak Guyonan''

SALA - Pementasan wayang kulit dengan lakon Rama Tambak yang berlangsung di Sala, 20 Februari lalu, adalah contoh sebuah wujud pakeliran gaya baru yang padat inovasi. Tetapi sebagai sebuah doa pakeliran yang diharapkan bisa nambak kahanan, agaknya belum kesampaian karena beberapa kali para dalang penyampai justru kepleset dan terjebak pada suasana cengengesan yang tentunya mengurangi makna doa itu..

Itulah awal yang sangat disayangkan, ketika Ki Enthus Susmono yang mendapat giliran tampil pertama gagal nambak guyonan. Rupanya, sambutan Menteri UPW Nyonya Mien Sugandhi begitu menghanyutkan Enthus pada suasana serius dan patriotik, ketika persoalan peran wanita sangat ditekankan untuk terus diperjuangkannya. Namun di sisi lain Dalang "Mbeling'' tersebut kebablasen dalam merespon.

"Ibu menteri mau wis ngendika, yen perbandingane penduduk Indonesia kuwi lanang siji wadone papat. Nanging ora kena terus melecehkan kaum putri, uwis duwe bojo isih nglirik wanita liya. Ning nek ana wong lanang duwe bojo wolu kaya ratu-ratu biyen, sing seneng kuwi ......,'' kata Cangik raseksi dari Keraton Alengka ketika bercengkerama dengan Limbuk bermuka buta, yang semua disampaikan dalang asal Tegal itu dalam format kelakar.

Tawa lebar dan cekikikan bernada geli memang terundang untuk tumpah di antara para penonton, yang malam itu campuran antara beberapa pejabat, undangan dan masyarakat umum. Karena, apa yang diungkapkan Ki Enthus di akhir kalimat adalah menyebut nama seseorang yang kebetulan ada di situ, dan sangat diyakini ada banyak penonton yang mengenal nama pribadi yang "disenggol'' dengan guyonan tersebut.

Sejak itulah, penyajian dalang muda berbakat dan dikenal cerdas ini pecah pamornya. Payahnya lagi, guyonan tersebut mengimbas dengan menimbulkan kesan "mentah'' terhadap keseluruhan pentas sebagai satu kesatuan sebuah karya seni yang cukup serius digarap oleh sejumlah pakar berbagai disiplin.

Vulgar

Adegan segar dalam jejer paseban njawi, masih terus dilanjutkan Ki Enthus. Yaitu dengan guyon sesendonan seperti biasanya ketika ia mendapat tanggapan main di berbagai tempat. Vulgar dan penuh kreativitas, sekalipun terkadang keluar dari bingkai seni pakeliran.

Dimulai dari dalang yang berambut gondrong itulah, pentas wayang kulit sebagai bagian dari doa pakeliran nasional yang diselenggarakan Pepadi dan Senawangi Pusat itu berkelanjutan dengan penuh tawa dan hingar-bingar.

Menggarap pesinden baru Nyi Ami (Sragen) yang adik kandung pesinden cantik Nyi Sunyahni, semakin membuat suasana pentas menjadi hingar-bingar penuh ger - geran.

Tetapi, memang tidak seluruh pementasan yang dimulai pukul 21.30 itu bertampang demikian. Karena, suasana kusuk yang menyentuh nurani dan membawa pikiran jauh menerawang kepada Yang Maha Kuasa, juga terwujud ketika suara empat bedug berukuran besar ditabuh dan mengeluarkan alunan mencekam.

Garap gending yang diawali dengan suasana agamis dan masuk pada gending Sekaten, secara simbolis bisa menjadi pertanda pementasan ini tetap dalam format doa. Apalagi, doa-doa salawat dikumandangkan dalam musikalisasi oleh sebelas pesinden dan belasan lagi wiraswasra sebagai awal dimulainya pentas wayang tersebut.

Merasa sudah ada yang membuka jalan, adegan-adegan lain pada patet sanga yang disajikan dalang berikutnya, Ki Suryanto Purbocarita seakan tidak ada beban lagi. Demikian pula Ki Wisnu Warsito SSn yang tampil menutup pagelaran itu pada patet manyura, merasa mendapatkan kebebasan untuk menumpahkan segala kemampuannya, termasuk kecanggihannya dalam berdangdutria.

Hanya Pembaharuan

Walhasil, penyajian Rama Tambak yang skenarionya disusun sejumlah pakar pedalangan dari STSI dan melibatkan pengamat wayang dari IKIP Semarang serta UGM Yogyakarta itu, rasanya hanya memperoleh tempat sebagai sebuah pembaharuan penyajian seni pedalangan.

Sebenarnya, di situ banyak sekali rambu-rambu yang mengharuskan dalang untuk tidak mengumbar energi secara sia-sia. Ketiga dalang itu seharusnya betul-betul memanfaatkan kemampuannya dalam menangkap tanda-tanda zaman, menyampaikan pesan, menguasai manajemen pertunjukan dan tuntutan modernitas seni pakeliran lainnya, selain modal dasar masing-masing dalang dalam kapasitas kesenimanannya.

Semua itu, ditata oleh para sutradara dan penyusun skenario pementasan Rama Tambak tersebut yang terdiri atas sebuah tim yang mengevaluasi pementasan itu. Karena dalam salah satu misinya, pementasan ini juga sebagai upaya untuk mencari bentuk-bentuk baru seni pakeliran yang prospektif.

Itu yang sangat diharapkan Ketua DPD Ganasidi Jateng Ir Sudjadi yang juga selaku Pembantu Gubernur Wilayah Surakarta.

Begitu pula Menteri UPW Mien Sugandhi yang malam itu bersama-sama ikut menyaksikan, usai mengikuti upacara kecil pembukaan dan peresmian pentas secara simbolis dengan menyerahkan tiga anak wayang dan untaian bunga melati kepada tiga dalang tersebut. (won-15)


Copyrightę 1996 SUARA MERDEKA