kompas.gif (981 bytes)

Rabu, 20 Mei 1998

BERITA UTAMA


Pak Harto: Saya Ini Kapok Jadi Presiden
Presiden Soeharto mengemukakan, kedudukannya sebagai Presiden bukanlah hal yang mutlak, karena itu tak masalah bila harus mundur. --

Puluhan Ribu Mahasiswa "Duduki" DPR
Puluhan ribu mahasiswa dari puluhan perguruan tinggi di wilayah Jabotabek, Selasa (19/5), "menduduki" gedung DPR/ MPR. --

Adakan Pemilu Secepatnya, Tindakan Inkonstitusional
Gagasan Presiden Soeharto mengadakan pemilihan umum (pemilu) dalam waktu secepat-cepatnya adalah tindakan inkonstitusional, dan hanya ada dalam sistem liberal. --

Ada yang Berharap, Ada Pula yang Kecewa
Pernyataan Presiden Soeharto, Selasa (19/2), yang intinya menegaskan sikap untuk tetap menjabat sebagai Presiden/ Mandataris MPR dan akan membentuk Komite Reformasi, ditanggapi dengan nuansa berbeda-beda. --

Proses Pengunduran Diri Harus Konstitusional
Pimpinan DPR hari Selasa (19/5) mendapat dukungan penuh dari pimpinan keempat fraksi DPR (F-KP, F-ABRI, F-PP dan F-PDI) untuk meminta agar Presiden Soeharto secara arif dan bijaksana mengundurkan diri. --

SELAMAT tidur di Gedung DPR/MPR ...

"Lengser Keprabon" Secara Sukarela
Gema Madani menganjurkan agar presiden benar-benar melaksanakan niatnya untuk lengser keprabon (turun tahta) secara sukarela sekarang juga, dan menyerahkan kekuasaan kepada wakil presiden sesuai dengan ketentuan UUD '45. --

AH Nasution: Pernyataan DPR Harus Dihormati
Jenderal Besar TNI (Purn) AH Nasution menegaskan, substansi pernyataan yang disampaikan oleh pimpinan DPR, cerminan dari kehendak rakyat yang harus dihormati dan diamankan oleh semua kekuatan bangsa, termasuk ABRI. --

POLITIK

Mahasiswa Duduki RRI, Siarkan "Siaran Mahasiswa"
Setelah Gedung DPRD I Sumbar diduduki ribuan mahasiswa beberapa waktu lalu, kini giliran Gedung Radio Republik Indonesia (RRI) Regional Padang diduduki sedikitnya 2.000 mahasiswa Sumatera Barat, Selasa (19/5), sekitar pukul 11.00 WIB, tanpa tindakan kekerasan dan perusakan. --

Proses Terjadinya Kesimpulan Rapat Pimpinan DPR dan Pimpinan Fraksi
UNTUK mencapai Kesepakatan tentang Reformasi dan Pengunduran Diri Presiden, para pimpinan DPR bersama dengan pimpinan Fraksi DPR mengadakan rapat selama lima jam. --

Aparat Bubarkan Aksi Mahasiswa di Surabaya
Tercatat 21 orang mahasiswa dan seorang anggota aparat keamanan menderita luka-luka, ketika demonstrasi sekitar 200 mahasiswa Universitas Airlangga Pro-Reformasi (MUPR) di Jl Dharmawangsa dibubarkan aparat keamanan, Selasa (19/5). --

Jaga agar Aksi Tetap Damai, dengan Kawalan ABRI
Di antara puluhan ribu mahasiswa dan delegasi-delegasi masyarakat lainnya yang memadati gedung DPR/MPR, Selasa (19/5), tampak pula para purnawirawan jenderal yang menuntut penyelenggaraan Sidang Istimewa MPR sesegera mungkin dan pengunduran diri Presiden Soeharto. --

Gerakan Reformasi sebagai Kebangkitan Nasional III?
TELAH menjadi catatan sejarah, Kebangkitan Nasional Pertama merupakan periode yang dibuka oleh pergerakan Boedi Oetomo 1908. --

FOTO: PENDUDUKAN DPR OLEH MAHASISWA
--

FOTO: KETERANGAN PERS PRESIDEN
--

 

Republika.GIF (1725 bytes)

20 Mei 1998

Semua Fraksi DPR dan Pimpinan MPR/DPR Sepakat Minta Pak Harto Mundur


JAKARTA -- Semua fraksi DPR RI, dalam rapat pimpinan mereka dengan
pimpinan MPR/DPR di Jakarta, kemarin, menyatakan sepakat untuk tetap
meminta pengunduran diri Presiden Soeharto secara konstitusional.

'Saya Kapok Jadi Presiden'

JAKARTA -- Harapan masyarakat agar Pak Harto mundur dari jabatan Presiden secepatnya, ternyata belum kesampaian. Di depan tokoh masyarakat, kemarin, Pak Harto menyatakan untuk memenuhi tuntutan reformasi itu, ia akan memimpin sendiri Reformasi Nasional.

''Sebagai Presiden Mandataris MPR, saya akan melaksanakan dan memimpin reformasi nasional secepat mungkin,'' kata Pak Harto dalam jumpa pers yang disiarkan secara nasional di Istana Merdeka, kemarin.

Kalangan Kampus Tetap Meminta Pak Harto Mengundurkan Diri

YOGYAKARTA -- Kalangan civitas academica tetap meminta agar Presiden Soeharto bersedia mengundurkan diri. Mereka menganggap solusi yang disodorkan Presiden Soeharto tak cukup untuk menyelesaikan masalah yang saat ini telah berkembang dengan cepat.

Puluhan Ribu Mahasiswa Gelar Aksi Damai di Gedung DPR/MPR

JAKARTA -- Kompleks DPR/MPR, kemarin, menjadi milik mahasiswa. Mahasiswa se Jabotabek, datang dan pergi sepanjang hari. Boulevard, halaman parkir, plaza, dan semua ruang terbuka di gedung wakil rakyat itu dipenuhi mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi.

 

npr.gif (1214 bytes)

May 20, 1998   
Morning Edition
Reforms in Indonesia -- NPR's Mary Kay Magistad reports on the latest developments in Indonesia, where student protests have been called off in the wake of announced reforms. President Suharto has announced that he will step down from his office at the end of the year and to hold parliamentary elections within the next three to six months. Suharto has been president of the nation for the last thirty-two years. Opposition leaders and reformists are now faced with determining who his successor will be. (4:18)

Indonesia Analysis -- Host Bob Edwards talks to James Clad, professor of southeast Asian studies at Georgetown University, about Suharto's plans to step down and the implications of reforms and measures proposed by opposition leaders. (4:03)

All Things Considered
Indonesia Today -- NPR's Julie McCarthy reports that Indonesia's President Suharto is under siege from all sides, all demanding his resignation -- if not immediately, then very soon. The speaker of parliament, one of the most powerful people in Indonesia, today called on the elderly leader to step down by Friday. The U.S. added its weight today, as well, when Secretary of State Madeleine Albright said that Suharto should preserve his legacy by permitting a transition to democracy. Suharto says he wants to stay in power, oversee the reform process, and then hold an election. Adding to the tension, students and their supporters continue to occupy parliament, despite the presence of military forces throughout the Indonesian capital. (5:00)

Fifty Years Ago -- NPR senior news analyst Daniel Schorr says that 50 years ago, he was in Jakarta covering U.N. sponsored efforts to slow down the drive for Indonesian independence. The installation of President Sukarno did not bring democracy to the region, though. Schorr says that President Suharto's rule was not an improvement. Capitalism -- or at least, Suharto's interpretation of capitalism -- has proven to be his undoing. (3:00)

Military -- All Things Considered host Linda Wertheimer talks with Adam Schwarz, the Edward R. Murrow Fellow at the Council on Foreign Relations, and the author of A Nation in Waiting: Indonesia in the 1990s. They discuss the military in Indonesia and how protestors there are hoping that the military will side with them, even as it locks down control of the city. (Note: A Nation in Waiting: Indonesia in the 1990s is published by Westview Press.) (4:00)

Rais -- Linda continues her discussion with Adam Schwarz of the Council on Foreign Relations, with a profile of Indonesia's opposition leader, Amien Rais. (3:30)

Talk of the Nation

HOST: Ray Suarez
GUESTS:
Terry McCarthy
East Asia Correspondent, Time Magazine
Jeffrey Winters
Assistant Professor of Politics, Northwestern University
Sylvia Tiwon
Professor of Indonesian Studies, University of California, Berkeley

INDONESIA: Indonesian President Suharto announced on television Tuesday that he will step down after instituting major political reforms and holding parlimentary elections. Pro-democracy advocates call the move a stalling technique and say they won't stop protesting until Suharto steps down. The country is still reeling from last week's riots that left hundreds dead and thousands of buildings destroyed. Join Ray Suarez and guests to discuss the latest news on the ground from Indonesia.