Kompas Online


Kamis, 14 Mei 1998


Protes dan Berkabung Warnai Aksi Mahasiswa

Jakarta, Kompas

Aksi mahasiswa di berbagai kota Rabu (13/5) diwarnai protes atas kekerasan yang dilakukan aparat keamanan, dan berkabung atas tewasnya lima mahasiswa Universitas Trisakti dalam aksi unjuk rasa, Selasa (12/5). Sejak pagi mahasiswa melakukan aksi damai dengan menggelar mimbar bebas di kampus-kampus. Di beberapa kota juga diadakan shalat gaib untuk mendoakan para mahasiswa yang meninggal dunia dalam aksi unjuk rasa.

Di kampus-kampus, bendera dikibarkan setengah tiang, dan semua kegiatan perkuliahan ditiadakan. Senat Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia membatalkan Simposium Reformasi Ekonomi yang sedianya akan diadakan kemarin.

Di kampus IAIN Syarif Hidayatullah, ratusan mahasiswa menyuarakannya lewat doa bersama di bawah pengawalan ketat aparat keamanan. Aksi berkabung di kampus Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ).

Kegiatan serupa juga berlangsung di kampus IPB (Institut Pertanian Bogor) Darmaga dan Kampus Baranangsiang Jalan Raya Pajajaran Kodya Bogor, di Fakultas Agama Islam Unisma Bekasi, dan di Universitas Mercu Buana (UMB), Jakarta. Aksi keprihatinan juga berlangsung di Malang, Jombang, Pasuruan, Kediri, Tulungagung, Sidoarjo, Gresik, dan Bandarlampung.

Umumnya massa mahasiswa mendatangi (atau berusaha mendatangi) DPRD setempat dan menyampaikan tuntutan kepada pimpinan Dewan, dan menggelar mimbar bebas dengan orasi serta menyatakan tuntutan reformasi.

Di Bandung, puluhan ribu mahasiswa dari berbagai kampus tumpah ke jalan dan berhasil menduduki gedung DPRD Jabar yang lokasinya bersebelahan dengan Gedung Sate (Kantor Gubernur Jabar), Jalan Diponegoro. Jubelan massa tersebut meluber hingga Lapangan Gasibu dan jalan raya di sekitarnya.

Setelah menggelar mimbar bebas mulai tengah hari, dan memprotes insiden berdarah di Universitas Trisakti. Sekitar sepuluh perwakilan mahasiswa menyampaikan langsung aspirasinya kepada Ketua DPRD A Nurhaman. Pihak keamanan mulai bersikap lunak dengan memberi kesempatan kepada mahasiswa keluar dari kampus. Namun untuk menghindari long march, aparat mengerahkan sedikitnya 10 truk dan bus untuk mengangkut mereka dari kampus. "Kami jamin tak akan ada tindak represif. Kami tetap menempuh cara persuasif," ujar Kapolwiltabes Bandung Kolonel (Pol) Erwin Mappaseng didampingi Komandan Kodim 0618/BS Letkol (Kav) M Anhar.

Dari Yogyakarta dilaporkan, aksi keprihatinan Komite Perjuangan Rakyat untuk Perubahan (KPRP) yang berlangsung di Jl Kaliurang yang termasuk dalam kompleks kampus Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, berakhir dengan bentrokan. Tiga mahasiswa UGM dan seorang pemulung terkena tembakan, dan dirawat di RS Panti Rapih. Sekitar 50 mahasiswa diamankan.

Kendati barisan aparat yang berlapis-lapis sudah membubarkan lebih 10.000 massa pada pukul 14.00 WIB dengan mengejar dan menghajar mahasiswa ke seantero kampus, aksi yang dimulai sekitar pukul 12.00 itu terus berlanjut hingga malam hari. Sekitar pukul 20.00 WIB aksi bakar-bakaran terjadi di Jl Kaliurang. Aksi serupa sampai malam hari masih berlangsung di Jl Ring Road Utara (depan Kampus UPN Veteran) serta Jl Babarsari (depan Kampus Universitas Atma Jaya). Dari lingkungan Kampus UGM, polisi sekurangnya membawa 200 mahasiswa ke Mapolda DIY. Selain itu juga dilaporkan, 25 mahasiswa lainnya di rawat di berbagai rumah sakit karena cedera.

Aksi demonstrasi di sekitar UGM, untuk pertama kalinya kemarin lepas ke Jalan Kaliurang. Dengan jumlah massa besar, mereka berkumpul sepanjang perempatan Toko Mirota Kampus hingga sekitar Taman Budaya Yogyakarta. Awalnya mereka melakukan aksi mimbar bebas, dengan orasi bergantian. Mimbar bebas berlangsung sekitar dua jam. Sampai pukul 14.00, massa berniat menuju gedung DPRD I DI Yogyakarta. Saling dorong antara aparat dan peserta aksi pun terjadi. Situasi semakin kacau ketika aparat menyemprotkan air ke arah massa mahasiswa.

Ribuan massa bubar masuk ke dalam kampus UGM, sementara aparat dalam melakukan pengejaran masih bisa menahan diri sampai batas pagar kampus. Tetapi ketika mahasiswa mulai main lempar, aparat yang semula hanya membalas lemparan dari luar pagar, mulai menyerbu mahasiswa dari tiga arah. Di sinilah mahasiswa banyak yang terjebak, dan lebih lima puluh mahasiswa ditangkap dan sebagian besar mengalami luka-luka ketika dimasukkan ke kendaraan petugas.

Duka cita

Pengasuh Ashram Gandhi dan Wakil Presiden Kehormatan Konferensi Dunia mengenai Agama dan Perdamaian, Gedong Bagoes Oka menyatakan keenam mahasiswa tersebut telah melakukan yadnya (pengorbanan suci) yang agung. Diserukannya agar seluruh mahasiswa dan rakyat Indonesia mendukung dan meneruskan perjuangan kelima mahasiswa tersebut.

Komunitas seniman Dewan Kesenian Surabaya menggelar aksi di halaman Balai Pemuda Jl Gubernur Suryo Surabaya. Mereka memasang spanduk besar di atap Balai Pemuda dan menyebut korban insiden sebagai "pahlawan reformasi".

"Seluruh masyarakat Jatim beserta Muspida ikut berdukacita atas meninggalnya mahasiswa dalam insiden di kampus Trisakti itu," kata Pangdam V Brawijaya Mayjen TNI Djadja Suparman seusai dialog dengan para rektor perguruan tinggi negeri dan swasta di Makodam V Brawijaya Surabaya.

Rektor Universitas Airlangga Prof Dr Soedarto di mimbar bebas di halaman rektorat, dihadapan sekitar 3.000 mahasiswanya membacakan pernyataan keprihatinannya, diikuti sesepuh Unair Prof Dr Marsetio Donosepoetro. Ketua Dharma Wanita Unair Ny Soedarto, juga naik mimbar dan atas nama organisasi itu untuk memprotes insiden berdarah Trisakti dan menuntut reformasi.

"Rektorat ITS sangat menyesal atas adanya korban yang tewas saat demostrasi," kata Rektor ITS Prof Ir Soegiono. Ratusan massa mahasiswa ITS dan kelompok "Arek-arek Pro Reformasi" dengan pengawalan satuan pengendalian massa Polwiltabes Surabaya bergerak ke Gedung DPRD Surabaya. Mereka bergabung dengan sekitar 1.000 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Surabaya, yang berjalan kaki dari kampus masing-masing. Beberapa orang wakil mahasiswa diterima Fraksi ABRI. Setelah itu mereka menurunkan bendera sampai setengah tiang dengan diiringi lagu Padamu Negeri.

Dalam perjalanan kembali, sejumlah ribuan warga masyarakat bergabung sehingga terjadi arak-arakan panjang yang dipelopori kelompok kendaraan yang menyalakan lampu dan membunyikan klakson, Mahasiswa berjalan di belakangnya dengan membawa spanduk berisi berbagai tuntutan.

Di Samarinda, terjadi bentrokan antara massa mahasiswa dengan pasukan pengendalian massa, di jalan yang juga merupakan pusat perkantoran. Sedikitnya tujuh orang mahasiswa luka agak parah, dua di antaranya perlu dirawat inap. Bentrokan itu terjadi setelah mahasiswa tidak puas atas pertemuan mereka dengan rombongan DPRD Kaltim yang dipimpin langsung ketuanya, H Harsono, Wakil Wali Kota Samarinda Ahmad Amins, dan Asisten Sekwilda Pemda Kaltim HA Waris Husain.

Di Banjarmasin, mahasiswa Universitas Lambung Mangkurat tidak berhasil keluar kampus. Sebagai gantinya, sejumlah anggota DPRD dan ketuanya, Soenarso, datang ke kampus.

Sekitar 300 mahasiswa Universitas Palangkaraya berjalan kaki menuju gedung DPRD Kalteng. Mereka menuntut anggota DPRD setempat menyuarakan aspirasi masyarakat. Di Pontianak, mahasiswa gagal mencapai gedung DPRD Kalbar karena dihadang pasukan pengendalian massa. Polisi melempar gas air mata lalu terjadi bentrokan, sehingga sejumlah mahasiswa luka ringan. Setelah aksi empat jam, situasi mereda setelah Komandan Korem 121/ABW Kalbar Kolonel (Inf) Erwin Sudjono, Kapolda Kalbar Kolonel (Pol) Djuari S Ardianto bersama Rektor Untan Prof Mahmud Akil SH memberikan arahan. (Tim Kompas)