Kompas Online


Kamis, 14 Mei 1998


Ke Jakarta Mencari Ilmu, Mendapat Peluru

"Terakhir kali saya melihatnya 31 Agustus 1996, sebelum ia berangkat ke Jakarta," ujar Ny Karsiyah terisak-isak. Ia adalah ibu kandung dari Hendriawan, anaknya semata wayang yang menjadi mahasiswa Universitas Trisakti Fakultas Ekonomi Jurusan Manajemen Angkatan '96, yang tewas tertembak dalam aksi keprihatinan mahasiswa Trisakti Selasa lalu. Sang Ibu menambahkan, Hendriawan sempat minta dibuatkan Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan meminta doa restunya karena akan menghadapi ujian tengah semester.

"Ia berjanji akan pulang setelah selesai ujian tengah semester ini," kata Ny Karsiyah lagi. Ayahanda serta ibunda Hendriawan baru saja tiba dari Balikpapan, melihat untuk terakhir kalinya, sang putra semata wayang.

Pada saat peti jenazah akan ditutup, Ny Karsiyah menatap dan menciumi wajah Hendriawan untuk terakhir kalinya sambil berkata bahwa ia merelakan dengan ikhlas kepergian anaknya. Sementara suaminya, Hendriksi mengungkapkan, ia merelakan kepergian anaknya dan berharap yang berwenang dapat mengusut kasus ini sampai tuntas.

Mendung duka tampak meliputi rumah keluarga Subandi, paman Hendriawan yang terletak di Kompleks Departemen Agama, Kedoya, Jakarta Barat. Rumah mungil di tepi jalan tanah yang hanya dapat dilalui satu mobil, hari Rabu (13/5) dipenuhi tamu. Semua perhatian tumpah di ruang tamu.

Di dalam peti kayu cokelat yang diletakkan di dalam ruang tamu, terbujurlah tubuh kaku Hendriawan. Wajahnya terlihat damai, bahkan masih sempat meninggalkan seulas senyum.

Suasana bertambah sedih ketika orangtua Hendriawan memasuki ruang tamu. Ny Karsiyah, yang tidak kuasa menahan kepedihannya, pingsan di muka pintu ruang tamu, begitu melihat putra tunggalnya tidak bernyawa lagi. Sang ayah, Hendriksi terlihat lebih tegar melihat kenyataan yang harus dihadapinya. "Hendriawan sesungguhnya disarankan kuliah saja di Universitas Balikpapan, namun ia berkeras ingin kuliah di Trisakti Jakarta," ujar salah seorang sepupunya. Selepas SMA di Balikpapan, Hendriawan memutuskan untuk menuntut ilmu ke Jakarta.

Di kampusnya, mahasiswa berkaca mata minus yang lancar dalam studi dan pendiam ini dikenal sebagai orang yang kritis dan berani mendebat orang yang pendapatnya tidak sesuai dengan pemikirannya. Ia dikenal sebagai seorang yang mudah bergaul dengan orang lain.

Sambil mengenang putranya, Hendriksi mengungkapkan, dua hari yang lalu ia baru saja menerima sepucuk surat dari Hendriawan. "Di dalam suratnya, ia menulis tentang resesi yang melanda Indonesia, keluhan-keluhannya, juga cerita tentang keadaan Jakarta," ujar Hendriksi sambil menahan air matanya.

Menjelang tengah hari, jenazah Hendriawan dibawa ke Masjid Muhajidin, masih di dalam Kompleks Departemen Agama. Kemudian jenazah dibawa ke TPU Rawa Kopi, Kedoya untuk dikebumikan.

Ratusan pelayat dari yang mewakili berbagai perguruan tinggi menghadiri upacara pemakaman. Di luar areal pemakaman, Polisi Militer berjaga-jaga. (gg/uu)