Kompas Online


Kamis, 14 Mei 1998


Staf Pengajar UI:

Jajaran Komando Operasi Pengamanan Kampus Trisakti Harus Dikenai Sanksi

Jakarta, Kompas

Puluhan dosen Universitas Indonesia (UI) yang mewakili seluruh staf pengajar UI menyampaikan pernyataan keprihatinan atas tewasnya lima mahasiswa Trisakti dalam unjuk rasa yang dilakukan di Kampus Trisakti Jakarta. Pernyataan itu disampaikan dalam pertemuan dengan Fraksi Karya Pembangunan (FKP) DPR di Gedung DPR Senayan Jakarta, Rabu (13/5).

Dalam pernyataan keprihatinan yang dibacakan oleh T Mulya Lubis, para dosen UI menuntut agar pemerintah dan pimpinan ABRI membentuk komisi penyelidik yang independen untuk mengungkap fakta, serta pelanggaran-pelanggaran hukum yang terjadi dalam peristiwa di Kampus Trisakti. Hasil kerja komisi yang terdiri dari unsur ABRI, Universitas Trisakti, Komnas HAM, DPR RI, dan LSM harus diumumkan secara luas kepada masyarakat.

"Dan harus dikenakan sanksi kepada pelaku-pelaku, maupun pada jajaran komando yang memimpin operasi pengamanan di Kampus Universitas Trisakti tanpa pilih bulu," tegas Lubis dalam pertemuan yang dipimpin oleh Wakil Ketua F-KP DPR Slamet Effendy Yusuf.

Para staf pengajar UI yang ikut hadir menyampaikan pernyataan keprihatinan itu antara lain, Prof Dr Emil Salim, Prof Dr Selo Soemardjan, Prof Dr Saparinah Sadli, Dr Marie Pangestu, Dr Sri Mulyani, dan Dr Karlina Leksono.

Beban tanggung jawab atas kematian lima mahasiswa Universitas Trisakti berada di tangan seluruh jajaran ABRI dan pemerintah. "Kami staf pengajar UI mengutuk penembakan oleh ABRI yang mengakibatkan tewasnya lima mahasiswa, lebih dari 10 orang luka-luka," tutur Lubis.

Ditegaskan, seluruh staf pengajar UI mendukung seluruh aksi dan gerakan mahasiswa yang memperjuangkan demokrasi di Indonesia. "Gerakan mahasiswa merupakan gerakan yang murni membawa aspirasi rakyat dan konstitusional," kata Lubis.

Menurut Emil Salim, mahasiswa punya hak konstitusional untuk menyampaikan keprihatinan dan ketidakpuasan terhadap situasi dan kondisi politik di Indonesia. "Kami sangat mengharapkan aparat keamanan wajib melindungi mahasiswa. Jangan menggunakan kekerasan. Harapan ini kami kemukakan, karena ternyata tidak terkabul," ungkap Emil dengan mata berkaca-kaca.

Dalam kesempatan itu Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Trisakti Dr Chairuman Arnia MA, yang menjadi saksi mata peristiwa tersebut menyampaikan kronologi kejadian. "Tapi sebelumnya saya ingin tegaskan, Rapat Senat Universitas Trisakti dengan seluruh jajaran guru besar dan dosen-dosen telah sepakat mendukung sepenuhnya aksi-aksi mahasiswa yang berlangsung di Indonesia," katanya.

Usai penyampaian kronologi peristiwa, seluruh yang hadir dalam pertemuan antara dosen UI dengan F-KP DPR bertepuk tangan dan berdiri, beberapa diantaranya membentangkan poster, yang antara lain bertuliskan "Kami mengutuk penembakan warga kami".

Prof Dr Selo Soemardjan menyatakan, peristiwa di Kampus Trisakti adalah peristiwa yang sangat kejam. "Mahasiswa sudah di dalam kampus masih ditembaki. Kalau dibilang mahasiswa juga melakukan kekerasan, pakai apa mahasiswa melakukannya, paling-paling pakai batu. Berapa meter sih larinya batu, kalau peluru 'kan bisa bermeter-meter," katanya.

''Turning point''

Menurut Marie Pangestu sulit menduga bagaimana jalan keluar yang akan terjadi terhadap krisis dan berbagai kerusuhan yang terjadi. "Tapi yang penting sekarang ini adalah turning point yang sangat penting. Ini harus direspons dengan tindakan yang benar. Kalau tidak, seluruh rakyat akan meminta pertanggungjawaban," katanya.

Pertemuan dengan F-KP DPR RI itu tidak diisi dengan dialog, sebab menurut Emil Salim situasinya tidak mungkin lagi untuk berdialog. "Izinkanlah kami untuk meninggalkan ruang sidang. Suasana tidak memungkinkan kami untuk mengadakan dialog," ujarnya terbata-bata. Pertemuan tersebut diwarnai suasana haru, beberapa dosen UI bahkan tidak dapat menahan isak tangisnya. (ely)