source: Republika, Senin, 19 Januari 1998

Seribu Nasi Bungkus di Markaz Al-Islam


real.gif (626 bytes) Sejak masuk hari ke-6 Ramadhan, acara buka puasa rutin di Masjid Al-Markaz Al-Islami tidak hanya menyajikan kue-kue yang disumbangkan masyarakat Ujungpandang. Tetapi, juga sudah menyiapkan seribu nasi bungkus yang juga disumbangkan kalangan pengusaha dan donatur tetap Masjid Al-Markaz.

real.gif (626 bytes) Sejak itu, Masjid Al-Markaz makin ramai dikunjungi. Bukan hanya kalangan yatim piatu dan tukang-tukang becak yang berdomisili di sekitar Masjid terbesar di KTI itu, tetapi juga kalangan mahasiswa dan pelajar, bahkan kadang ada yang datang dari luar kota Ujungpandang.

real.gif (626 bytes) Mereka pun datang lebih awal dari biasanya. Padahal, sebelum ada nasi bungkus, masyarakat datang ke masjid dekat waktu berbuka. Setelah ada pembagian nasi bungkus, mereka datang lebih awal. "Kalau datang terlambat hanya akan kebagian kue dengan air minum kemasan atau kue dengan teh, karena nasi bungkus sudah habis dibagi," ungkap HM Darwis, salah seorang panitia amaliah Ramadhan.

real.gif (626 bytes) Nasi bungkus beserta teh tersebut, lanjut Darwis, mulai dibagi sekitar pukul 16.30 WIT. Seribu nasi bungkus yang lengkap dengan menu ayam dan sebutir telur itu akan habis dibagi dalam waktu setengah jam di pintu utara dan selatan lantai dasar masjid. Dengan tertib, kaum muslimin antri menunggu giliran mengambil jatah yang dibagi oleh 12 orang Al-Haris (semacam satpam, red). Yang sudah mendapat bagian langsung masuk ke dalam ruang pertemuan dengan duduk bersila berhadapan. Ruang bagian utara lantai dasar diisi oleh ikhwan (pria), sedang ruang pertemuan bagian selatan diperuntukkan kaum akhwat (wanita). "Lantai 2 dan 3 masjid sama sekali dilarang ditempati untuk makan, tetapi hanya untuk shalat," ucap dosen Fisipol Unhas tersebut.

real.gif (626 bytes) "Saya lebih senang pergi berbuka puasa di sini karena selain jaraknya dekat dari rumah, juga tidak perlu lagi repot-repot mengeluarkan biaya untuk berbuka puasa yang memenuhi standar gizi," kata Izhak Zainal, mahasiswa Fisipol Unhas. Ia mengaku sebelumnya selalu ke Pantai Losari untuk berbuka dan minimal ia keluarkan uang Rp 3.500 setiap kali berbuka.

real.gif (626 bytes) "Karena kaum muslimin yang datang berbuka selalu membludak, sekitar 2.000-an per hari, maka seribu nasi bungkus yang dibagi tersebut tidak pernah cukup," kata Darwis. Karena itu, kalau ada donatur yang ingin menambah atau menyumbangkan nasi bungkus, bisa menghubungi panitia melalui telepon (0411) 456921 atau faks (0411) 456922.

Rejeki Anak Yatim

real.gif (626 bytes) Selain menggelar buka puasa seribu nasi bungkus, hal menarik lain yang ada di masjid terbesar Indonesia Timur ini adalah bursa buku dan penitipan sepatu atau sandal. Di masjid yang luasnya 3,8 hektar ini, para penjual buku-buku agama dan souvenir memang cukup banyak menggelar dagangannya. Di sela-sela menunggu waktu berbuka dan tarawih, biasanya jamaah menyerbu bursa buku yang ada di lantai bawah dekat ruang pertemuan.

real.gif (626 bytes) "Selama Ramadhan pendapatan kami meningkat tajam. Dalam satu minggu bisa diperoleh Rp 500.000, padahal di luar bulan puasa pendapatan tersebut kadang diperoleh dalam sebulan," kata salah seorang pemilik outlet. "Itu pun sudah dibagi kepada Badan Pengurus Yayasan Masjid Al-Markaz sebesar 40 persen, jadi Rp 500 ribu itu merupakan pendapatan bersih," tambahnya.

real.gif (626 bytes) Lain halnya dengan penitipan sepatu atau sandal. Karena banyaknya jamaah yang mencapai ribuan, maka tempat penitipan pun mencapai empat buah. Uniknya, tempat itu buka 24 jam dan yang bertugas adalah anak-anak yatim piatu dari Panti Asuhan Anak Saleh dan GUPPI. Jumlah mereka sekitar 30 orang yang dibagi dalam enam kelompok. Secara bergantian mereka menjaga alas kaki jamaah selama 24 jam. Hasil yang mereka peroleh tiap hari kemudian dibagi rata ke-30 yatim piatu itu. "Rata-rata pendapatan mereka Rp 200 ribu per hari, hasil bersih itulah yang mereka bagi rata," jelas Ketua Umum Panitia Bulan Ramadhan Drs H Faisal Attamimi MS. "Padahal kalau di luar bulan Ramadhan, jumlah tersebut bisanya mereka peroleh selama sepekan," tambahnya.

real.gif (626 bytes) Dari hasil menjual jasa penitipan sandal tersebut, Andri (12) dari Panti Asuhan Anak Saleh bisa menabung Rp 5.000 per hari. "Pendapatan saya dari penitipan sandal jamaah ini lebih banyak daripada pergi mengemis atau mengedarkan formulir dari rumah ke rumah," aku anak yang ditinggal kedua orang tuanya sejak ia berumur lima tahun. Selain itu, Andri juga jauh merasa lebih puas dengan cara kerja seperti itu karena ia merasa bermanfaat bagi orang lain. &127; amb

Hak Cipta 1996 Harian Umum Republika.
Ditayangkan ulang oleh SEASite-NIU dengan seizin pemegang hak cipta.

E-mail Quiz (Java powered) :

This space shows a quiz in java-enabled browsers