Kompas Online


Sabtu, 7 Februari 1998


Minyak Goreng dan Kebutuhan Lain Masih Terbatas

Kompas/msh

KOSONG - Sebagian rak-rak tempat persediaan barang di
Pasar Swalayan Tip Top Rawamangun tampak kosong,
Jumat (6/2) siang. Persediaan untuk sebagian besar barang
di sejumlah pasar swalayan memang masih minim pada
minggu pertama setelah Lebaran ini.

real.gif (626 bytes) 1) ENTAH karena suasana setelah Lebaran, awal bulan, atau soal distribusi barang yang kurang beres, persediaan barang di beberapa pasar swalayan sampai Jumat (6/2) kemarin, masih sangat terbatas. Di Pasar Swalayan Tip Top Rawamangun- Jakarta Timur, Golden Truly- Blok M, dan Golden Truly Fatmawati- Jakarta Selatan terlihat beberapa rak masih kosong, tanpa barang.

real.gif (626 bytes) 2) Di Tip Top bahkan masih terpampang pengumuman untuk membatasi pembelian minyak goreng sebanyak dua botol per orang, meski di rak-raknya tidak terlihat sebotol pun minyak yang tersisa. Di Golden Truly terpampang pengumuman di rak susu, pembelian dibatasi maksimal empat kaleng.

real.gif (626 bytes) 3) Di ketiga pasar swalayan itu, hampir semua persediaan barang menipis. "Di sini persediaan masih lumayan, coba lihat Golden Truly lainnya, persediaan sangat kurang," kata Ranny Mahadi dari Bagian Humas Golden Truly pusat yang kebetulan sedang mencek persediaan barang di Golden Truly Blok M. Sedangkan Sutikno, salah seorang petugas pencatat persediaan barang di Golden Truly mengatakan, kini persediaan barang maksimal tinggal 50 persen dari biasanya.

real.gif (626 bytes) 4) Agar terkesan persediaan barang masih cukup, petugas swalayan umumnya mengatur barangnya sedemikian rupa, berjejer rapat di bagian depan rak. Jika diamati, di bagian belakang rak itu kosong.

real.gif (626 bytes) 5) Barang-barang yang persediaannya sangat terbatas, bahkan untuk beberapa merk tidak tersedia, bukan hanya kebutuhan pangan -termasuk bumbu-bumbu- tetapi juga untuk keperluan mandi, mencuci, pembersih lantai, obat nyamuk, parfum, kapas, sampai ke pakan untuk hewan piaraan.

***

real.gif (626 bytes) 6) ADA beberapa faktor yang mungkin menyebabkan persediaan barang di pasar swalayan sehabis Lebaran ini menipis. Pertama, suasana setelah Lebaran, di mana aktivitas kantor dan perusahaan belum pulih benar. Banyak pabrik dan perusahaan distributor yang masih meliburkan karyawannya, sehingga pasokan barang terhambat.

real.gif (626 bytes) 7) "Umumnya para distributor baru akan memasok barang setelah tanggal sembilan," lanjut Sutikno. Sehingga, Iroh, pembantu rumahtangga yang bekerja pada orang "bule" kebingungan mau masak apa sore kemarin. "Nyari ayam nggak ada, merica juga nggak ada. Bingung saya," katanya.

real.gif (626 bytes) 8) Kemungkinan kedua adalah keadaan normal awal bulan di mana kebanyakan masyarakat berbelanja untuk kebutuhan rumah tangga selama sebulan ke depan. Pola belanja bulanan, sudah menjadi bagian gaya hidup kelas menengah Jakarta. Sehingga, setiap awal bulan terjadi lonjakan permintaan berbagai barang kebutuhan sehari-hari yang tahan disimpan.

real.gif (626 bytes) 9) Pola belanja awal Februari ini terjadi bertepatan dengan belum aktifnya kegiatan ekonomi di jaringan distribusi. Maka, persediaan barang yang umumnya dipasok terakhir, dua sampai tiga hari menjelang Lebaran, belum cukup untuk memenuhi kebutuhan awal bulan.

real.gif (626 bytes) 10) Kemungkinan ketiga, adalah tidak beresnya salah satu saluran distribusi. Tanpa bermaksud mencari siapa yang salah, kemungkinan terjadinya ketidakberesan distribusi itu bisa terjadi di gudang pabrik, gudang distributor, agen, atau gudang pasar swalayan sendiri. Sebab, kalau sekarang ini ditanyakan kepada para pengelola pasar swalayan, umumnya mereka menyalahkan pihak distributor atau pabrik yang sengaja menahan barang, karena mengharapkan adanya keputusan kenaikan harga dalam waktu dekat.

real.gif (626 bytes) 11) Indikasi ke arah itu setidaknya dirasakan Sutikno dan Mahadi dari Golden Truly. "Setelah Lebaran ini, ada yang sudah kirim barang, tetapi pengirimannya tersendat-sendat," katanya. Sedangkan Eddy, seorang suplier untuk barang-barang bukan makanan di Tip Top mengaku pihaknya kesulitan memperoleh barang dari pabrik atau distributor.

real.gif (626 bytes) 12) Bahkan, sebelumnya Presiden Direktur perusahaan perkulakan Goro menyatakan, pihaknya sulit untuk tetap menahan kenaikan harga, 10 hari sesudah Lebaran (Kompas, 4 Februari 1998).

***

real.gif (626 bytes) 13) MASYARAKAT awam pun ternyata sudah menangkap indikasi-indikasi yang mengarah kepada kenaikan harga. Kalau sudah demikian, masyarakat cenderung membeli berbagai kebutuhan itu dalam jumlah yang melebihi kebutuhan rutin.

real.gif (626 bytes) 14) Selasa (3/2) malam lalu, seorang SPG (sales promotion girl) di Tip Top kewalahan menghadapi ibu-ibu yang berebut mengambil minyak goreng yang baru saja dikeluarkan dari dos-dos. Akhirnya, ia hanya membuka dos dan pembeli mengambil sendiri. Karena dibatasi hanya dua botol per orang, tidak sedikit pembeli yang meminta teman atau anaknya membawa dan membayar sendiri sebelum keluar.

real.gif (626 bytes) 15) Saking takutnya pada kenaikan harga yang diperkirakan tidak lama lagi, Selasa lalu seorang ibu sampai membeli bohlam listrik 15 watt sebanyak enam biji. "Untuk persediaan dua bulan," katanya. Supaya menghemat listrik yang kabarnya juga akan naik. (msh)