click here for the word frequency
Keroncong Pembunuhan
Experimental Concordance Program
The text:
---60---Keroncong Pembunuhan Oleh: Seno
Gumira Ajidarma hampir malam di Yogya ketika keretaku tiba Lagu keroncong
membuatku ngantuk, padahal malam ini aku harus membunuh seseorang. Orang-orang
tua memang menyukai lagu keroncong, ini membuat mereka terkenang-kenang akan
masa lalunya. Mereka terserak di bawah sana, di sekitar kolam renang, tapi
tampaknya tak banyak yang mendengarkan lagu keroncong itu dengan sungguh-sungguh.
Mereka bercakap sendiri, riuh dan tawa sesekali pecah dari tiap kerumunan. Tak
semuanya tua memang, bahkan banyak wanita muda. Paling tidak itulah yang menarik
perhatianku. Lewat teleskop pada senapan ini, aku memperhatikan mereka satu per
satu, seolah-olah aku berada di antara mereka. Sebuah pesta yang meriah. Ada
kambing-guling. Hmmm… Garis silang pada teleskop itu terus saja bergerak.
Sesekali berhenti pada dahi seseorang, dan mengikutinya. Kalau kutekankan
telunjukku, tak pelak lagi dahi itu akan berlubang. Dan tubuh orang itu akan
roboh. Bisa roboh perlahan-lahan seperti pohon ditebang, bisa pula tersentak dan
mengacaukan kerumunan orang yang sedang tertawa-tawa itu, menumpahkan gelas pada
nampang yang dibawa pelayan. Tentu lebih menarik lagi kalau tubuh itu terpental
ke kolam renang dengan suara bergedebur sehingga airnya muncrat membasahi
pakaian para tamu dan kolam renang itu segera berwarna merah karena darah dan
wanita-wanita berteriak: “Auuww!” Tapi aku belum menemukan orang yang mesti
kubunuh. Memang belum waktunya. Ia akan datang sebentar lagi. Dan sebetulnya aku
pun tak perlu terlalu repot mencarinya karena pesawat komunikasi yang terpasang
pada telingaku siap menunjukkan orangnya. “Kamu sudah siap?” terdengar suara
pada headphone itu, sebuah suara yang merdu. “Dari tadi aku sudah siap, yang
mana orangnya?” “Sabar dong, sebentar lagi.” Dari teras lantai 7 hotel ini, aku
masih mengintip lewat teleskop. Angin laut yang basah terasa asin di bibirku.
Iseng-iseng sambil menunggu sasaran, aku mencari orang yang berbicara padaku.
Dan aku melihat wajah-wajah pada teleskop. Para wanita dengan pakaian malam yang
anggun. Ada yang punggungnya terbuka. Cantik sekali. Aku tak mengira seorang
wanita akan terlibat dalam pembunuhan seperti ini. “Siapa sasaranku?” tanyaku
minggu lalu, ketika dia memesan penembakan ini. Dilakukan lewat telepon seperti
itu, tentu wajahnya hanya bisa kukira-kira saja. “Kau tidak perlu tahu, ini
bagian dari kontrak kita.” Kontrak semacam ini memang sering terjadi. Aku
dibayar untuk menembak, siapa yang jadi sasaran bukan urusanku. “Tapi satu hal
kau boleh tahu.” “Apa?" “Orang itu pengkhianat.” “Pengkhianat?” “Ya, pengkhianat
bangsa dan negara.” Jadi, sasaranku adalah seorang pengkhianat bangsa dan negara.
Apakah aku termasuk pahlawan jika menembaknya? Kugerakkan lagi senapanku. Dari
balik teleskop kuteliti orang-orang yang makin banyak saja berdatangan. Ada
sesuatu yang terasa kurang enak setiap kali aku menatap wajah orang-orang di
bawah itu. Memang wajah mereka adalah wajah orang baik-baik, tapi entahlah apa
yang kurang enak di sana. Apakah karena banyak yang memakai baju resmi, seragam
yang kubenci? Ataukah karena perasaanku saja. Namun sungguh mati, aku akan
sangat berbahagia kalau korbanku kali ini adalah seseorang yang memuakkan.
Kuedarkan lagi senapanku. Mengintip kelakuan orang tanpa diketahui rasanya
menyenangkan. sepasang mata bola dari balik jendela Belum habis juga lagu
keroncong itu. Rasanya lama sekali. Seperti juga orang-orang di bawah sana, aku
tak perlu mendengarkannya dengan sungguh-sungguh. Musik keroncong sekarang ini
seperti benda museum, para senimannya kurang jenius untuk membuatnya lebih
berkembang. Di manakah wanita yang bersuara lembut itu? Di mana-mana orang
mengunyah makanan, menyeruput minuman, tersenyum dan tertawa. Ada ibu-ibu
berdiri dengan kaku di samping suaminya yang sibuk bicara dengan tangan
bergerak-gerak ke segala penjuru. Bapak-bapak yang dari wajahnya tampak berjiwa
pegawai, menyembunyikan diri dengan sopan, tapi makan banyak-banyak. Tampak pula
petugas berpakaian preman mondar-mandir membawa walkie-talkie. Agaknya pesta
kambing-guling pada tepi kolam renang dalam sebuah hotel di tepi pantai ini
dihadiri orang-orang penting. Malam cerah dan langit penuh bintang. Bahkan bulan
pun sedang purnama. Kuletakkan senapanku karena pegal. Aku berjalan ke dalam
kamar, mengambil kacang dari meja. Kupasang televisi, tapi segera kumatikan lagi.
Acara televisi selalu buruk. Sunyi sekali rasanya kamar hotel ini. Aku ingin
buru-buru menembak sasaranku, lantas pulang dan minum segelas bir. “Hei, kamu
masih di situ?” tiba-tiba terdengar lagi suara itu. “Ya, kenapa?” “Jangan
main-main! Aku tahu kamu tidak di tempat!” Aku bergegas kembali ke teras.
“Bagaimana? Sudah datang orangnya?” “Dia memakai baju batik merah, kebetulan
satu-satunya yang merah di sini, jadi enak untuk kamu.” Kulihat ke bawah, mereka
seperti kerumunan makhluk-makhluk kecil, tentu tak terlalu jelas mana yang
berbaju batik merah dari lantai 7 seperti ini. Kuangkat kembali senapanku.
Kucari posisi yang enak. Sambil mengunyah kacang aku mengintip kembali lewat
teleskop. Garis silang itu kembali beredar dari wajah ke wajah. Mereka masih
tertawa-tawa dan tersenyum-senyum. Aku juga tersenyum. Sebentar lagi wajahmu
akan ketakutan tanpa tahu malu. Tapi aku tidak melakukan itu. Aku hanya bekerja
berdasarkan kontrak. “Di sebelah mana dia?” tanyaku lewat mike yang tergantung
di bawah daguku. “Dia di sudut kolam renang sebelah selatan, dekat payung hijau.”
Kugeserkan senapanku ke kanan. Kulewati lagi wajah-wajah berlemak, klimis, dan
gemerlapan. Wanita-wanita cantik terpaksa kulewati begitu saja. Dan, nah, itu
dia, seorang lelaki yang mamakai baju batik berwarna merah. Wajahnya tampan dan
berwibawa. Ia sudah setengah umur tapi tak tampak telah uzur. Rambutnya disisr
rapi ke belakang. Ia tak banyak tertawa dan tersenyum. Orang-orang
mengerumuninya dengan hormat. Ada juga yang berwajah menjilat. Garis silang pada
teleskopku berhenti tepat di antara kedua matanya. “Apakah harus kulakukan
sekarang?” “Nanti dulu, tunggu komando!” Dan aku mengamati wajah itu. Adakah ia
mempunyai firasat? Dari balik teleskop ini, wajah-wajah memunculkan pesonanya
sendiri, yang berbeda dibanding dengan bila kita berhadapan langsung dengan
orangnya. Ia tak banyak bicara, namun tampaknya ia harus menjawab banyak
pertanyaan. Dan aku merasa bahwa ia sangat hati-hati menjawab. Wajahnya
menunjukkan niat bersopan santun yang tidak menyebalkan. Apakah yang akan
terjadi kalau ia kutembak mati? Aku teringat kematian Ninoy di Filipina…. Tapi
aku tidak tahu politik. Jadi, sambil menatap wajah yang akan berlubang itu, aku
berpikir tentang yang lain. Mungkin ia punya istri, punya anak. Bahkan kupikir
ia pun pantas punya cucu. Mereka akan bertangisan setelah mendengar kematian
orang ini, dan tangis itu akan makin menjadi-jadi ketika mengetahui cara
kematiannya. Biar saja. Bukankah ia seorang pengkhianat bangsa dan negara? Ia
pantas mendapatkan hukumannya. Agak tegang juga aku menunggu perintah menembak.
Itulah repotnya selalu bekerja berdasarkan kontrak. Tidak bisa seenaknya sendiri.
Aku dibayar untuk mengarahkan garis silang teleskop senapanku pada tempat yang
paling mematikan, untuk kemudian menekan pelatuknya. Aku selalu mengatakan pada
diriku sendiri bahwa aku tidak membunuh orang, aku hanya membidik dan menekan
pelatuk. Kutatap lagi wajah itu, rasanya begitu dekat, bahkan pori-porinya
terlihat dengan jelas. Aku bagaikan menatap bayang-bayang takdir. Siapakah
sebenarnya yang menghentikan kehidupan orang itu, akukah atau Kamu? Orang itu
tak sadar sama sekali kalau malaikan maut telah mengelus-elus tengkuknya.
“Bagaimana? Sekarang?” “Aku bilang tunggu perintah!” Sialan cewek itu, berani
benar membentak-bentak seorang pembunuh bayaran. Tanganku tiba-tiba bergerak
sendiri menggeser senapan itu. Dengan indra keenam ia kucari di antara kerumunan
orang banyak. Wajah-wajah cantik silih berganti mengisi teleskopku. Aku harus
memancing dia bicara. “Tunggu perintah apa lagi?” “Kau tak perlu tahu, pokoknya
tunggu!” “Ini tidak ada dalam perjanjian.” “Ada! Kamu jangan main gila.”
selendang sutra tanda mata darimu Busyet! Lagu keroncong itu lagi, jelas sekali
di telingaku. Pasti ia berada di dekat orkes. Kucari-cari sekitar orkes.
Teleskopku sempat mampir di dada penyanyi keroncong yang membusung itu. Ada
beberapa kerumunan. Di telingaku juga berdentang bunyi gelas dan piring. Ia
mungkin di belakang orkes, dekat meja prasmanan. Ada beberapa wanita, dan
petugas-petugas berpakaian preman. Yang mana? Aku meneliti mereka satu per satu.
Beberapa di antaranya jelas cuma pegawai perusahaan catering. Ada satu wanita
bertampang juragan. Mungkin satunya lagi. Rambutnya lurus dan hitam dengan poni
menutup dahinya. Matanya menatap tajam ke arah si baju batik merah! “Tembaklah
dia sekarang,” ujarnya pelan dalam headphone-ku, dan kulihat dari teleskop dia
memang berkata-kata sendiri. Rupanya betul dia. Ia mendengar lewat giwang dan
berbicara padaku lewat mikrofon yang tersembunyi dalam leontin kalungnya.
Leontin yang indah, terpajang di dadanya yang tipis. “Apa?” tanyaku lagi, karena
ingin meyakinkan, memang dia orangnya. “Tembak sekarang!” Jadi seperti inilah
semua pembunuhan itu berlangsung. Mata rantai tanpa ujung dan pangkal. Wanita
ini tentu hanya salah satu mata rantai. Kualihkan senapanku kembali pada sasaran.
Lelaki setengah tua itu sedang mendengarkan cerita seseorang di hadapannya
dengan sabar. Orang yang bercerita itu tampak berapi-api, namun lelaki itu
kelihatannya menahan diri untuk tidak ikut terbakar. Ia mengangguk-angguk sambil
mencuri pandang ke sekelilingnya. Seperti khawatir ada yang mendengar. Aku sudah
siap menembak. Satu tekanan telunjuk akan mengakhiri riwayat lelaki itu. Garis
silang pada teleskop kugeser agak ke samping, supaya lubang peluru pada
kepalanya tidak membuat pembagian yang terlalu simetris. Peluruku akan menembus
mata kirinya. Dan aku menatap mata orang itu. Astaga. Benarkah dia seorang
pengkhianat? “Kau tidak keliru? Benarkah ia seorang pengkhianat?” “Tidak usah
tanya-tanya, tembak sekarang!” Aku menatap lagi matanya, pengkhianat yang
bagaimana? “Pengkhianat yang bagaimana? Kenapa tidak diadili saja?” “Apa
urusanmu tolol? Tembak dia sekarang, atau kontrak kubatalkan!” Perasaan aneh
tiba-tiba merasuki diriku. Aku malah mengarahkan senapan pada wanita itu. “Laras
senapanku mengarah padamu manis,” kataku dingin. “Apa-apaan ini?” Dalam teleskop
kulihat wajahnya mendongak ke arahku dengan kaget. “Katakan padaku,” kataku lagi,
“apa kesalahan orang itu?” “Tembak dia sekarang tolol, atau kamu akan mati!”
“Justru kamu yang bisa segera mati.” “Omong kosong! Kamu tak tahu di mana aku.”
“Kamu memakai cheongsam dengan belahan di paha, kamu ada di belakang orkes.” Dan
kulihat wajahnya menjadi pucat. “Kamu sudah melanggar kontrak.” “Aku tidak mau
menembak orang yang tidak bersalah." “Itu bukan urusanmu, tahun lalu kamu
menembak ribuan orang yang tidak bersalah.” “Itu urusanku sendiri, katakan cepat
apa kesalahan orang itu!” Wanita itu tampak beranjak akan lari. “Jangan lari,
tak ada gunanya, tak ada seorang pun yang akan tahu siapa menembakmu. Senapan
ini dilengkapi peredam. Kamu tahu tembakanku belum pernah luput, dan aku bisa
segera lenyap.” Wajahnya menatap ke atas, ke arahku. Kulihat ia berkeringat
dingin. Gelisah. “Apa maumu?” “Katakan kesalahannya.” “Ia pengkhianat, ia
menjelek-jelekkan nama bangsa dan negara kita di luar negeri.” “Cuma itu?” “Ia
meresahkan masyarakat dengan pernyataan-pernyataan yang tidak benar.” “Lantas?”
“Kamu mau apa? Aku tidak tahu banyak.” “Aku ingin tahu, apakah semua itu
merupakan alasan yang cukup untuk membunuhnya.” “Itu bukan urusanmu. Ini politik.”
“Urusanku adalah leontinmu manis, ia bisa pecah berantakan oleh peluruku, dan
peluru itu tak akan berhenti di situ.” Wajah itu kembali menatap ke arahku
dengan pandang menghiba. “Jangan tembak aku! Aku tidak tahu apa-apa!” “Siapa
yang menyuruhmu?” “Aku tidak tahu apa-apa.” “Leontinmu manis...” “Ah, jangan,
jangan tembak! Please...” “Siapa?” “Aku…aku bisa celaka.” “Sekarang pun kamu
bisa celaka. Kuhitung sampai tiga. Satu…” “Kamu gila, kamu merusak
segala-galanya.” “Dua....” Hmm, alangkah gugupnya dia. “Ia ada di depan orang
yang harus kamu tembak.” “Berkacamata?” “Ya.” Kuarahkan senapanku ke sana. Dan
aku melihat orang itu. Ia sedang bercerita dengan berapi-api. Tangannya bergerak
kian kemari, mengepal dan memukul-mukulkan tinjunya pada telapak tangan yang
lain. Wajahnya licik dan penuh tipu daya. Sangat memuakkan. Padahal ia pun sudah
tua. Kubidikkan garis silang teleskopku ke jantungnya, sementara di telingaku
mengiang suara penyanyi itu, yang memulai lagi sebuah lagu keroncong, lagu
kesenangan orang-orang tua. Ini memang akan membuat mereka terkenang-kenang akan
masa lalunya. Inilah keroncong fantasiii
pre- text |
WORD |
post- text |
% |
| lu tahu, pokoknya tunggu!” “Ini tidak ada dalam perjanjian.” |
“ada! |
Kamu jangan main gila.” selendang sutra tanda mata darimu Bu | 63 % |
| maut telah mengelus-elus tengkuknya. “Bagaimana? Sekarang?” |
“aku |
bilang tunggu perintah!” Sialan cewek itu, berani benar memb | 60 % |
| ihat wajahnya menjadi pucat. “Kamu sudah melanggar kontrak.” |
“aku |
tidak mau menembak orang yang tidak bersalah." “Itu bukan ur | 84 % |
| dak benar.” “Lantas?” “Kamu mau apa? Aku tidak tahu banyak.” |
“aku |
ingin tahu, apakah semua itu merupakan alasan yang cukup unt | 90 % |
| embak aku! Aku tidak tahu apa-apa!” “Siapa yang menyuruhmu?” |
“aku |
tidak tahu apa-apa.” “Leontinmu manis...” “Ah, jangan, janga | 93 % |
| mu manis...” “Ah, jangan, jangan tembak! Please...” “Siapa?” |
“aku…aku |
bisa celaka.” “Sekarang pun kamu bisa celaka. Kuhitung sampa | 94 % |
| na? “Pengkhianat yang bagaimana? Kenapa tidak diadili saja?” |
“apa |
urusanmu tolol? Tembak dia sekarang, atau kontrak kubatalkan | 80 % |
| ongak ke arahku dengan kaget. “Katakan padaku,” kataku lagi, |
“apa |
kesalahan orang itu?” “Tembak dia sekarang tolol, atau kamu | 82 % |
| ke atas, ke arahku. Kulihat ia berkeringat dingin. Gelisah. |
“apa |
maumu?” “Katakan kesalahannya.” “Ia pengkhianat, ia menjelek | 88 % |
| na? “Pengkhianat yang bagaimana? Kenapa tidak diadili saja?” |
“apa |
urusanmu tolol? Tembak dia sekarang, atau kontrak kubatalkan | 80 % |
| ongak ke arahku dengan kaget. “Katakan padaku,” kataku lagi, |
“apa |
kesalahan orang itu?” “Tembak dia sekarang tolol, atau kamu | 82 % |
| ke atas, ke arahku. Kulihat ia berkeringat dingin. Gelisah. |
“apa |
maumu?” “Katakan kesalahannya.” “Ia pengkhianat, ia menjelek | 88 % |
| itu. “Laras senapanku mengarah padamu manis,” kataku dingin. |
“apa-apaan |
ini?” Dalam teleskop kulihat wajahnya mendongak ke arahku de | 81 % |
| lang pada teleskopku berhenti tepat di antara kedua matanya. |
“apakah |
harus kulakukan sekarang?” “Nanti dulu, tunggu komando!” Dan | 47 % |
| era berwarna merah karena darah dan wanita-wanita berteriak: |
“auuww!” |
Tapi aku belum menemukan orang yang mesti kubunuh. Memang be | 11 % |
| njelek-jelekkan nama bangsa dan negara kita di luar negeri.” |
“cuma |
itu?” “Ia meresahkan masyarakat dengan pernyataan-pernyataan | 89 % |
| terdengar suara pada headphone itu, sebuah suara yang merdu. |
“dari |
tadi aku sudah siap, yang mana orangnya?” “Sabar dong, seben | 13 % |
| tidak melakukan itu. Aku hanya bekerja berdasarkan kontrak. |
“di |
sebelah mana dia?” tanyaku lewat mike yang tergantung di baw | 42 % |
| rgegas kembali ke teras. “Bagaimana? Sudah datang orangnya?” |
“dia |
memakai baju batik merah, kebetulan satu-satunya yang merah | 37 % |
| na dia?” tanyaku lewat mike yang tergantung di bawah daguku. |
“dia |
di sudut kolam renang sebelah selatan, dekat payung hijau.” | 42 % |
| ringat dingin. Gelisah. “Apa maumu?” “Katakan kesalahannya.” |
“ia |
pengkhianat, ia menjelek-jelekkan nama bangsa dan negara kit | 89 % |
| kan nama bangsa dan negara kita di luar negeri.” “Cuma itu?” |
“ia |
meresahkan masyarakat dengan pernyataan-pernyataan yang tida | 89 % |
| rusak segala-galanya.” “Dua....” Hmm, alangkah gugupnya dia. |
“ia |
ada di depan orang yang harus kamu tembak.” “Berkacamata?” “ | 95 % |
| u perintah apa lagi?” “Kau tak perlu tahu, pokoknya tunggu!” |
“ini |
tidak ada dalam perjanjian.” “Ada! Kamu jangan main gila.” s | 63 % |
| ontrak.” “Aku tidak mau menembak orang yang tidak bersalah." |
“itu |
bukan urusanmu, tahun lalu kamu menembak ribuan orang yang t | 85 % |
| tahun lalu kamu menembak ribuan orang yang tidak bersalah.” |
“itu |
urusanku sendiri, katakan cepat apa kesalahan orang itu!” Wa | 85 % |
| ah semua itu merupakan alasan yang cukup untuk membunuhnya.” |
“itu |
bukan urusanmu. Ini politik.” “Urusanku adalah leontinmu man | 91 % |
| di situ?” tiba-tiba terdengar lagi suara itu. “Ya, kenapa?” |
“jangan |
main-main! Aku tahu kamu tidak di tempat!” Aku bergegas kemb | 36 % |
| kesalahan orang itu!” Wanita itu tampak beranjak akan lari. |
“jangan |
lari, tak ada gunanya, tak ada seorang pun yang akan tahu si | 86 % |
| Wajah itu kembali menatap ke arahku dengan pandang menghiba. |
“jangan |
tembak aku! Aku tidak tahu apa-apa!” “Siapa yang menyuruhmu? | 93 % |
| rang itu?” “Tembak dia sekarang tolol, atau kamu akan mati!” |
“justru |
kamu yang bisa segera mati.” “Omong kosong! Kamu tak tahu di | 83 % |
| asi yang terpasang pada telingaku siap menunjukkan orangnya. |
“kamu |
sudah siap?” terdengar suara pada headphone itu, sebuah suar | 13 % |
| isa segera mati.” “Omong kosong! Kamu tak tahu di mana aku.” |
“kamu |
memakai cheongsam dengan belahan di paha, kamu ada di belaka | 83 % |
| ada di belakang orkes.” Dan kulihat wajahnya menjadi pucat. |
“kamu |
sudah melanggar kontrak.” “Aku tidak mau menembak orang yang | 84 % |
| at dengan pernyataan-pernyataan yang tidak benar.” “Lantas?” |
“kamu |
mau apa? Aku tidak tahu banyak.” “Aku ingin tahu, apakah sem | 90 % |
| “Sekarang pun kamu bisa celaka. Kuhitung sampai tiga. Satu…” |
“kamu |
gila, kamu merusak segala-galanya.” “Dua....” Hmm, alangkah | 95 % |
| teleskop kulihat wajahnya mendongak ke arahku dengan kaget. |
“katakan |
padaku,” kataku lagi, “apa kesalahan orang itu?” “Tembak dia | 82 % |
| arahku. Kulihat ia berkeringat dingin. Gelisah. “Apa maumu?” |
“katakan |
kesalahannya.” “Ia pengkhianat, ia menjelek-jelekkan nama ba | 88 % |
| pon seperti itu, tentu wajahnya hanya bisa kukira-kira saja. |
“kau |
tidak perlu tahu, ini bagian dari kontrak kita.” Kontrak sem | 18 % |
| Aku harus memancing dia bicara. “Tunggu perintah apa lagi?” |
“kau |
tak perlu tahu, pokoknya tunggu!” “Ini tidak ada dalam perja | 62 % |
| ap mata orang itu. Astaga. Benarkah dia seorang pengkhianat? |
“kau |
tidak keliru? Benarkah ia seorang pengkhianat?” “Tidak usah | 78 % |
| asuki diriku. Aku malah mengarahkan senapan pada wanita itu. |
“laras |
senapanku mengarah padamu manis,” kataku dingin. “Apa-apaan | 81 % |
| apa-apa!” “Siapa yang menyuruhmu?” “Aku tidak tahu apa-apa.” |
“leontinmu |
manis...” “Ah, jangan, jangan tembak! Please...” “Siapa?” “A | 93 % |
| di antara kedua matanya. “Apakah harus kulakukan sekarang?” |
“nanti |
dulu, tunggu komando!” Dan aku mengamati wajah itu. Adakah i | 47 % |
| , atau kamu akan mati!” “Justru kamu yang bisa segera mati.” |
“omong |
kosong! Kamu tak tahu di mana aku.” “Kamu memakai cheongsam | 83 % |
| saran bukan urusanku. “Tapi satu hal kau boleh tahu.” “Apa?" |
“orang |
itu pengkhianat.” “Pengkhianat?” “Ya, pengkhianat bangsa dan | 20 % |
| rang!” Aku menatap lagi matanya, pengkhianat yang bagaimana? |
“pengkhianat |
yang bagaimana? Kenapa tidak diadili saja?” “Apa urusanmu to | 79 % |
| yang merdu. “Dari tadi aku sudah siap, yang mana orangnya?” |
“sabar |
dong, sebentar lagi.” Dari teras lantai 7 hotel ini, aku mas | 14 % |
| n, jangan tembak! Please...” “Siapa?” “Aku…aku bisa celaka.” |
“sekarang |
pun kamu bisa celaka. Kuhitung sampai tiga. Satu…” “Kamu gil | 94 % |
| a seorang wanita akan terlibat dalam pembunuhan seperti ini. |
“siapa |
sasaranku?” tanyaku minggu lalu, ketika dia memesan penembak | 17 % |
| ndang menghiba. “Jangan tembak aku! Aku tidak tahu apa-apa!” |
“siapa |
yang menyuruhmu?” “Aku tidak tahu apa-apa.” “Leontinmu manis | 93 % |
| ayar untuk menembak, siapa yang jadi sasaran bukan urusanku. |
“tapi |
satu hal kau boleh tahu.” “Apa?" “Orang itu pengkhianat.” “P | 20 % |
| tanyaku lagi, karena ingin meyakinkan, memang dia orangnya. |
“tembak |
sekarang!” Jadi seperti inilah semua pembunuhan itu berlangs | 71 % |
| t. “Katakan padaku,” kataku lagi, “apa kesalahan orang itu?” |
“tembak |
dia sekarang tolol, atau kamu akan mati!” “Justru kamu yang | 82 % |
| dahinya. Matanya menatap tajam ke arah si baju batik merah! |
“tembaklah |
dia sekarang,” ujarnya pelan dalam headphone-ku, dan kulihat | 69 % |
| hianat? “Kau tidak keliru? Benarkah ia seorang pengkhianat?” |
“tidak |
usah tanya-tanya, tembak sekarang!” Aku menatap lagi matanya | 78 % |
| berganti mengisi teleskopku. Aku harus memancing dia bicara. |
“tunggu |
perintah apa lagi?” “Kau tak perlu tahu, pokoknya tunggu!” “ | 62 % |
| cukup untuk membunuhnya.” “Itu bukan urusanmu. Ini politik.” |
“urusanku |
adalah leontinmu manis, ia bisa pecah berantakan oleh peluru | 91 % |
| na orangnya?” “Sabar dong, sebentar lagi.” Dari teras lantai |
7 |
hotel ini, aku masih mengintip lewat teleskop. Angin laut ya | 14 % |
| tak terlalu jelas mana yang berbaju batik merah dari lantai |
7 |
seperti ini. Kuangkat kembali senapanku. Kucari posisi yang | 39 % |
| ng dari meja. Kupasang televisi, tapi segera kumatikan lagi. |
acara |
televisi selalu buruk. Sunyi sekali rasanya kamar hotel ini. | 34 % |
| -olah aku berada di antara mereka. Sebuah pesta yang meriah. |
ada |
kambing-guling. Hmmm… Garis silang pada teleskop itu terus s | 6 % |
| pada teleskop. Para wanita dengan pakaian malam yang anggun. |
ada |
yang punggungnya terbuka. Cantik sekali. Aku tak mengira seo | 16 % |
| kop kuteliti orang-orang yang makin banyak saja berdatangan. |
ada |
sesuatu yang terasa kurang enak setiap kali aku menatap waja | 22 % |
| engunyah makanan, menyeruput minuman, tersenyum dan tertawa. |
ada |
ibu-ibu berdiri dengan kaku di samping suaminya yang sibuk b | 29 % |
| awa dan tersenyum. Orang-orang mengerumuninya dengan hormat. |
ada |
juga yang berwajah menjilat. Garis silang pada teleskopku be | 46 % |
| apa lagi?” “Kau tak perlu tahu, pokoknya tunggu!” “Ini tidak |
ada |
dalam perjanjian.” “Ada! Kamu jangan main gila.” selendang s | 63 % |
| sempat mampir di dada penyanyi keroncong yang membusung itu. |
ada |
beberapa kerumunan. Di telingaku juga berdentang bunyi gelas | 65 % |
| piring. Ia mungkin di belakang orkes, dekat meja prasmanan. |
ada |
beberapa wanita, dan petugas-petugas berpakaian preman. Yang | 66 % |
| eberapa di antaranya jelas cuma pegawai perusahaan catering. |
ada |
satu wanita bertampang juragan. Mungkin satunya lagi. Rambut | 67 % |
| uk sambil mencuri pandang ke sekelilingnya. Seperti khawatir |
ada |
yang mendengar. Aku sudah siap menembak. Satu tekanan telunj | 75 % |
| a aku.” “Kamu memakai cheongsam dengan belahan di paha, kamu |
ada |
di belakang orkes.” Dan kulihat wajahnya menjadi pucat. “Kam | 84 % |
| tu!” Wanita itu tampak beranjak akan lari. “Jangan lari, tak |
ada |
gunanya, tak ada seorang pun yang akan tahu siapa menembakmu | 86 % |
| ampak beranjak akan lari. “Jangan lari, tak ada gunanya, tak |
ada |
seorang pun yang akan tahu siapa menembakmu. Senapan ini dil | 87 % |
| k segala-galanya.” “Dua....” Hmm, alangkah gugupnya dia. “Ia |
ada |
di depan orang yang harus kamu tembak.” “Berkacamata?” “Ya.” | 95 % |
| ” “Nanti dulu, tunggu komando!” Dan aku mengamati wajah itu. |
adakah |
ia mempunyai firasat? Dari balik teleskop ini, wajah-wajah m | 47 % |
| ianat?” “Ya, pengkhianat bangsa dan negara.” Jadi, sasaranku |
adalah |
seorang pengkhianat bangsa dan negara. Apakah aku termasuk p | 21 % |
| menatap wajah orang-orang di bawah itu. Memang wajah mereka |
adalah |
wajah orang baik-baik, tapi entahlah apa yang kurang enak di | 23 % |
| guh mati, aku akan sangat berbahagia kalau korbanku kali ini |
adalah |
seseorang yang memuakkan. Kuedarkan lagi senapanku. Menginti | 25 % |
| k membunuhnya.” “Itu bukan urusanmu. Ini politik.” “Urusanku |
adalah |
leontinmu manis, ia bisa pecah berantakan oleh peluruku, dan | 91 % |
| khianat bangsa dan negara? Ia pantas mendapatkan hukumannya. |
agak |
tegang juga aku menunggu perintah menembak. Itulah repotnya | 54 % |
| khiri riwayat lelaki itu. Garis silang pada teleskop kugeser |
agak |
ke samping, supaya lubang peluru pada kepalanya tidak membua | 76 % |
| tugas berpakaian preman mondar-mandir membawa walkie-talkie. |
agaknya |
pesta kambing-guling pada tepi kolam renang dalam sebuah hot | 32 % |
| u terpental ke kolam renang dengan suara bergedebur sehingga |
airnya |
muncrat membasahi pakaian para tamu dan kolam renang itu seg | 10 % |
| Keroncong Pembunuhan Oleh: Seno Gumira |
ajidarma |
hampir malam di Yogya ketika keretaku tiba Lagu keroncong me | 0 % |
| menyukai lagu keroncong, ini membuat mereka terkenang-kenang |
akan |
masa lalunya. Mereka terserak di bawah sana, di sekitar kola | 2 % |
| utinya. Kalau kutekankan telunjukku, tak pelak lagi dahi itu |
akan |
berlubang. Dan tubuh orang itu akan roboh. Bisa roboh perlah | 7 % |
| tak pelak lagi dahi itu akan berlubang. Dan tubuh orang itu |
akan |
roboh. Bisa roboh perlahan-lahan seperti pohon ditebang, bis | 7 % |
| enemukan orang yang mesti kubunuh. Memang belum waktunya. Ia |
akan |
datang sebentar lagi. Dan sebetulnya aku pun tak perlu terla | 11 % |
| ngnya terbuka. Cantik sekali. Aku tak mengira seorang wanita |
akan |
terlibat dalam pembunuhan seperti ini. “Siapa sasaranku?” ta | 17 % |
| nci? Ataukah karena perasaanku saja. Namun sungguh mati, aku |
akan |
sangat berbahagia kalau korbanku kali ini adalah seseorang y | 25 % |
| tersenyum-senyum. Aku juga tersenyum. Sebentar lagi wajahmu |
akan |
ketakutan tanpa tahu malu. Tapi aku tidak melakukan itu. Aku | 41 % |
| kan niat bersopan santun yang tidak menyebalkan. Apakah yang |
akan |
terjadi kalau ia kutembak mati? Aku teringat kematian Ninoy | 50 % |
| Tapi aku tidak tahu politik. Jadi, sambil menatap wajah yang |
akan |
berlubang itu, aku berpikir tentang yang lain. Mungkin ia pu | 52 % |
| punya anak. Bahkan kupikir ia pun pantas punya cucu. Mereka |
akan |
bertangisan setelah mendengar kematian orang ini, dan tangis | 53 % |
| angisan setelah mendengar kematian orang ini, dan tangis itu |
akan |
makin menjadi-jadi ketika mengetahui cara kematiannya. Biar | 53 % |
| ng mendengar. Aku sudah siap menembak. Satu tekanan telunjuk |
akan |
mengakhiri riwayat lelaki itu. Garis silang pada teleskop ku | 76 % |
| anya tidak membuat pembagian yang terlalu simetris. Peluruku |
akan |
menembus mata kirinya. Dan aku menatap mata orang itu. Astag | 77 % |
| kesalahan orang itu?” “Tembak dia sekarang tolol, atau kamu |
akan |
mati!” “Justru kamu yang bisa segera mati.” “Omong kosong! K | 83 % |
| n cepat apa kesalahan orang itu!” Wanita itu tampak beranjak |
akan |
lari. “Jangan lari, tak ada gunanya, tak ada seorang pun yan | 86 % |
| ari. “Jangan lari, tak ada gunanya, tak ada seorang pun yang |
akan |
tahu siapa menembakmu. Senapan ini dilengkapi peredam. Kamu | 87 % |
| , ia bisa pecah berantakan oleh peluruku, dan peluru itu tak |
akan |
berhenti di situ.” Wajah itu kembali menatap ke arahku denga | 92 % |
| lagu keroncong, lagu kesenangan orang-orang tua. Ini memang |
akan |
membuat mereka terkenang-kenang akan masa lalunya. Inilah keroncong fantasiii | 99 % |
| g-orang tua. Ini memang akan membuat mereka terkenang-kenang |
akan |
masa lalunya. Inilah keroncong fantasiii | 100 % |
| aku tiba Lagu keroncong membuatku ngantuk, padahal malam ini |
aku |
harus membunuh seseorang. Orang-orang tua memang menyukai la | 1 % |
| h yang menarik perhatianku. Lewat teleskop pada senapan ini, |
aku |
memperhatikan mereka satu per satu, seolah-olah aku berada d | 5 % |
| pan ini, aku memperhatikan mereka satu per satu, seolah-olah |
aku |
berada di antara mereka. Sebuah pesta yang meriah. Ada kambi | 5 % |
| erah karena darah dan wanita-wanita berteriak: “Auuww!” Tapi |
aku |
belum menemukan orang yang mesti kubunuh. Memang belum waktu | 11 % |
| belum waktunya. Ia akan datang sebentar lagi. Dan sebetulnya |
aku |
pun tak perlu terlalu repot mencarinya karena pesawat komuni | 12 % |
| uara pada headphone itu, sebuah suara yang merdu. “Dari tadi |
aku |
sudah siap, yang mana orangnya?” “Sabar dong, sebentar lagi. | 13 % |
| “Sabar dong, sebentar lagi.” Dari teras lantai 7 hotel ini, |
aku |
masih mengintip lewat teleskop. Angin laut yang basah terasa | 14 % |
| terasa asin di bibirku. Iseng-iseng sambil menunggu sasaran, |
aku |
mencari orang yang berbicara padaku. Dan aku melihat wajah-w | 15 % |
| nunggu sasaran, aku mencari orang yang berbicara padaku. Dan |
aku |
melihat wajah-wajah pada teleskop. Para wanita dengan pakaia | 16 % |
| am yang anggun. Ada yang punggungnya terbuka. Cantik sekali. |
aku |
tak mengira seorang wanita akan terlibat dalam pembunuhan se | 17 % |
| ri kontrak kita.” Kontrak semacam ini memang sering terjadi. |
aku |
dibayar untuk menembak, siapa yang jadi sasaran bukan urusan | 19 % |
| saranku adalah seorang pengkhianat bangsa dan negara. Apakah |
aku |
termasuk pahlawan jika menembaknya? Kugerakkan lagi senapank | 21 % |
| berdatangan. Ada sesuatu yang terasa kurang enak setiap kali |
aku |
menatap wajah orang-orang di bawah itu. Memang wajah mereka | 23 % |
| kubenci? Ataukah karena perasaanku saja. Namun sungguh mati, |
aku |
akan sangat berbahagia kalau korbanku kali ini adalah seseor | 25 % |
| Rasanya lama sekali. Seperti juga orang-orang di bawah sana, |
aku |
tak perlu mendengarkannya dengan sungguh-sungguh. Musik kero | 27 % |
| bulan pun sedang purnama. Kuletakkan senapanku karena pegal. |
aku |
berjalan ke dalam kamar, mengambil kacang dari meja. Kupasan | 33 % |
| televisi selalu buruk. Sunyi sekali rasanya kamar hotel ini. |
aku |
ingin buru-buru menembak sasaranku, lantas pulang dan minum | 35 % |
| a terdengar lagi suara itu. “Ya, kenapa?” “Jangan main-main! |
aku |
tahu kamu tidak di tempat!” Aku bergegas kembali ke teras. “ | 36 % |
| kenapa?” “Jangan main-main! Aku tahu kamu tidak di tempat!” |
aku |
bergegas kembali ke teras. “Bagaimana? Sudah datang orangnya | 36 % |
| senapanku. Kucari posisi yang enak. Sambil mengunyah kacang |
aku |
mengintip kembali lewat teleskop. Garis silang itu kembali b | 39 % |
| ah ke wajah. Mereka masih tertawa-tawa dan tersenyum-senyum. |
aku |
juga tersenyum. Sebentar lagi wajahmu akan ketakutan tanpa t | 41 % |
| . Sebentar lagi wajahmu akan ketakutan tanpa tahu malu. Tapi |
aku |
tidak melakukan itu. Aku hanya bekerja berdasarkan kontrak. | 41 % |
| kan ketakutan tanpa tahu malu. Tapi aku tidak melakukan itu. |
aku |
hanya bekerja berdasarkan kontrak. “Di sebelah mana dia?” ta | 41 % |
| harus kulakukan sekarang?” “Nanti dulu, tunggu komando!” Dan |
aku |
mengamati wajah itu. Adakah ia mempunyai firasat? Dari balik | 47 % |
| ra, namun tampaknya ia harus menjawab banyak pertanyaan. Dan |
aku |
merasa bahwa ia sangat hati-hati menjawab. Wajahnya menunjuk | 49 % |
| enyebalkan. Apakah yang akan terjadi kalau ia kutembak mati? |
aku |
teringat kematian Ninoy di Filipina…. Tapi aku tidak tahu po | 51 % |
| utembak mati? Aku teringat kematian Ninoy di Filipina…. Tapi |
aku |
tidak tahu politik. Jadi, sambil menatap wajah yang akan ber | 51 % |
| politik. Jadi, sambil menatap wajah yang akan berlubang itu, |
aku |
berpikir tentang yang lain. Mungkin ia punya istri, punya an | 52 % |
| n negara? Ia pantas mendapatkan hukumannya. Agak tegang juga |
aku |
menunggu perintah menembak. Itulah repotnya selalu bekerja b | 54 % |
| u bekerja berdasarkan kontrak. Tidak bisa seenaknya sendiri. |
aku |
dibayar untuk mengarahkan garis silang teleskop senapanku pa | 55 % |
| at yang paling mematikan, untuk kemudian menekan pelatuknya. |
aku |
selalu mengatakan pada diriku sendiri bahwa aku tidak membun | 56 % |
| pelatuknya. Aku selalu mengatakan pada diriku sendiri bahwa |
aku |
tidak membunuh orang, aku hanya membidik dan menekan pelatuk | 57 % |
| ngatakan pada diriku sendiri bahwa aku tidak membunuh orang, |
aku |
hanya membidik dan menekan pelatuk. Kutatap lagi wajah itu, | 57 % |
| nya begitu dekat, bahkan pori-porinya terlihat dengan jelas. |
aku |
bagaikan menatap bayang-bayang takdir. Siapakah sebenarnya y | 58 % |
| anyak. Wajah-wajah cantik silih berganti mengisi teleskopku. |
aku |
harus memancing dia bicara. “Tunggu perintah apa lagi?” “Kau | 62 % |
| pa wanita, dan petugas-petugas berpakaian preman. Yang mana? |
aku |
meneliti mereka satu per satu. Beberapa di antaranya jelas c | 67 % |
| ndang ke sekelilingnya. Seperti khawatir ada yang mendengar. |
aku |
sudah siap menembak. Satu tekanan telunjuk akan mengakhiri r | 75 % |
| g terlalu simetris. Peluruku akan menembus mata kirinya. Dan |
aku |
menatap mata orang itu. Astaga. Benarkah dia seorang pengkhi | 77 % |
| ang pengkhianat?” “Tidak usah tanya-tanya, tembak sekarang!” |
aku |
menatap lagi matanya, pengkhianat yang bagaimana? “Pengkhian | 79 % |
| ontrak kubatalkan!” Perasaan aneh tiba-tiba merasuki diriku. |
aku |
malah mengarahkan senapan pada wanita itu. “Laras senapanku | 80 % |
| ngkapi peredam. Kamu tahu tembakanku belum pernah luput, dan |
aku |
bisa segera lenyap.” Wajahnya menatap ke atas, ke arahku. Ku | 88 % |
| ataan-pernyataan yang tidak benar.” “Lantas?” “Kamu mau apa? |
aku |
tidak tahu banyak.” “Aku ingin tahu, apakah semua itu merupa | 90 % |
| natap ke arahku dengan pandang menghiba. “Jangan tembak aku! |
aku |
tidak tahu apa-apa!” “Siapa yang menyuruhmu?” “Aku tidak tah | 93 % |
| mbak.” “Berkacamata?” “Ya.” Kuarahkan senapanku ke sana. Dan |
aku |
melihat orang itu. Ia sedang bercerita dengan berapi-api. Ta | 96 % |
| li menatap ke arahku dengan pandang menghiba. “Jangan tembak |
aku! |
Aku tidak tahu apa-apa!” “Siapa yang menyuruhmu?” “Aku tidak | 93 % |
| . Siapakah sebenarnya yang menghentikan kehidupan orang itu, |
akukah |
atau Kamu? Orang itu tak sadar sama sekali kalau malaikan ma | 59 % |
| u…” “Kamu gila, kamu merusak segala-galanya.” “Dua....” Hmm, |
alangkah |
gugupnya dia. “Ia ada di depan orang yang harus kamu tembak. | 95 % |
| ak tahu banyak.” “Aku ingin tahu, apakah semua itu merupakan |
alasan |
yang cukup untuk membunuhnya.” “Itu bukan urusanmu. Ini poli | 91 % |
| lol? Tembak dia sekarang, atau kontrak kubatalkan!” Perasaan |
aneh |
tiba-tiba merasuki diriku. Aku malah mengarahkan senapan pad | 80 % |
| eras lantai 7 hotel ini, aku masih mengintip lewat teleskop. |
angin |
laut yang basah terasa asin di bibirku. Iseng-iseng sambil m | 15 % |
| emperhatikan mereka satu per satu, seolah-olah aku berada di |
antara |
mereka. Sebuah pesta yang meriah. Ada kambing-guling. Hmmm… | 5 % |
| jah menjilat. Garis silang pada teleskopku berhenti tepat di |
antara |
kedua matanya. “Apakah harus kulakukan sekarang?” “Nanti dul | 47 % |
| diri menggeser senapan itu. Dengan indra keenam ia kucari di |
antara |
kerumunan orang banyak. Wajah-wajah cantik silih berganti me | 61 % |
| n. Yang mana? Aku meneliti mereka satu per satu. Beberapa di |
antaranya |
jelas cuma pegawai perusahaan catering. Ada satu wanita bert | 67 % |
| ang wajah mereka adalah wajah orang baik-baik, tapi entahlah |
apa |
yang kurang enak di sana. Apakah karena banyak yang memakai | 23 % |
| teleskopku. Aku harus memancing dia bicara. “Tunggu perintah |
apa |
lagi?” “Kau tak perlu tahu, pokoknya tunggu!” “Ini tidak ada | 62 % |
| g yang tidak bersalah.” “Itu urusanku sendiri, katakan cepat |
apa |
kesalahan orang itu!” Wanita itu tampak beranjak akan lari. | 86 % |
| ang wajah mereka adalah wajah orang baik-baik, tapi entahlah |
apa |
yang kurang enak di sana. Apakah karena banyak yang memakai | 23 % |
| teleskopku. Aku harus memancing dia bicara. “Tunggu perintah |
apa |
lagi?” “Kau tak perlu tahu, pokoknya tunggu!” “Ini tidak ada | 62 % |
| g yang tidak bersalah.” “Itu urusanku sendiri, katakan cepat |
apa |
kesalahan orang itu!” Wanita itu tampak beranjak akan lari. | 86 % |
| dengan pandang menghiba. “Jangan tembak aku! Aku tidak tahu |
apa-apa!” |
“Siapa yang menyuruhmu?” “Aku tidak tahu apa-apa.” “Leontinm | 93 % |
| adi, sasaranku adalah seorang pengkhianat bangsa dan negara. |
apakah |
aku termasuk pahlawan jika menembaknya? Kugerakkan lagi sena | 21 % |
| orang baik-baik, tapi entahlah apa yang kurang enak di sana. |
apakah |
karena banyak yang memakai baju resmi, seragam yang kubenci? | 24 % |
| nya menunjukkan niat bersopan santun yang tidak menyebalkan. |
apakah |
yang akan terjadi kalau ia kutembak mati? Aku teringat kemat | 50 % |
| as?” “Kamu mau apa? Aku tidak tahu banyak.” “Aku ingin tahu, |
apakah |
semua itu merupakan alasan yang cukup untuk membunuhnya.” “I | 90 % |
| hitam dengan poni menutup dahinya. Matanya menatap tajam ke |
arah |
si baju batik merah! “Tembaklah dia sekarang,” ujarnya pelan | 68 % |
| Apa-apaan ini?” Dalam teleskop kulihat wajahnya mendongak ke |
arahku |
dengan kaget. “Katakan padaku,” kataku lagi, “apa kesalahan | 82 % |
| itu tak akan berhenti di situ.” Wajah itu kembali menatap ke |
arahku |
dengan pandang menghiba. “Jangan tembak aku! Aku tidak tahu | 92 % |
| masih mengintip lewat teleskop. Angin laut yang basah terasa |
asin |
di bibirku. Iseng-iseng sambil menunggu sasaran, aku mencari | 15 % |
| kah sebenarnya yang menghentikan kehidupan orang itu, akukah |
atau |
Kamu? Orang itu tak sadar sama sekali kalau malaikan maut te | 59 % |
| dak diadili saja?” “Apa urusanmu tolol? Tembak dia sekarang, |
atau |
kontrak kubatalkan!” Perasaan aneh tiba-tiba merasuki diriku | 80 % |
| lagi, “apa kesalahan orang itu?” “Tembak dia sekarang tolol, |
atau |
kamu akan mati!” “Justru kamu yang bisa segera mati.” “Omong | 83 % |
| karena banyak yang memakai baju resmi, seragam yang kubenci? |
ataukah |
karena perasaanku saja. Namun sungguh mati, aku akan sangat | 24 % |
| begitu dekat, bahkan pori-porinya terlihat dengan jelas. Aku |
bagaikan |
menatap bayang-bayang takdir. Siapakah sebenarnya yang mengh | 58 % |
| hnya hanya bisa kukira-kira saja. “Kau tidak perlu tahu, ini |
bagian |
dari kontrak kita.” Kontrak semacam ini memang sering terjad | 19 % |
| sesekali pecah dari tiap kerumunan. Tak semuanya tua memang, |
bahkan |
banyak wanita muda. Paling tidak itulah yang menarik perhati | 4 % |
| i orang-orang penting. Malam cerah dan langit penuh bintang. |
bahkan |
bulan pun sedang purnama. Kuletakkan senapanku karena pegal. | 33 % |
| pikir tentang yang lain. Mungkin ia punya istri, punya anak. |
bahkan |
kupikir ia pun pantas punya cucu. Mereka akan bertangisan se | 52 % |
| nekan pelatuk. Kutatap lagi wajah itu, rasanya begitu dekat, |
bahkan |
pori-porinya terlihat dengan jelas. Aku bagaikan menatap bay | 58 % |
| ampaknya ia harus menjawab banyak pertanyaan. Dan aku merasa |
bahwa |
ia sangat hati-hati menjawab. Wajahnya menunjukkan niat bers | 50 % |
| enekan pelatuknya. Aku selalu mengatakan pada diriku sendiri |
bahwa |
aku tidak membunuh orang, aku hanya membidik dan menekan pel | 57 % |
| yang kurang enak di sana. Apakah karena banyak yang memakai |
baju |
resmi, seragam yang kubenci? Ataukah karena perasaanku saja. | 24 % |
| i ke teras. “Bagaimana? Sudah datang orangnya?” “Dia memakai |
baju |
batik merah, kebetulan satu-satunya yang merah di sini, jadi | 37 % |
| begitu saja. Dan, nah, itu dia, seorang lelaki yang mamakai |
baju |
batik berwarna merah. Wajahnya tampan dan berwibawa. Ia suda | 44 % |
| engan poni menutup dahinya. Matanya menatap tajam ke arah si |
baju |
batik merah! “Tembaklah dia sekarang,” ujarnya pelan dalam h | 68 % |
| k pahlawan jika menembaknya? Kugerakkan lagi senapanku. Dari |
balik |
teleskop kuteliti orang-orang yang makin banyak saja berdata | 22 % |
| anpa diketahui rasanya menyenangkan. sepasang mata bola dari |
balik |
jendela Belum habis juga lagu keroncong itu. Rasanya lama se | 26 % |
| n aku mengamati wajah itu. Adakah ia mempunyai firasat? Dari |
balik |
teleskop ini, wajah-wajah memunculkan pesonanya sendiri, yan | 48 % |
| a?" “Orang itu pengkhianat.” “Pengkhianat?” “Ya, pengkhianat |
bangsa |
dan negara.” Jadi, sasaranku adalah seorang pengkhianat bang | 20 % |
| ngsa dan negara.” Jadi, sasaranku adalah seorang pengkhianat |
bangsa |
dan negara. Apakah aku termasuk pahlawan jika menembaknya? K | 21 % |
| cara kematiannya. Biar saja. Bukankah ia seorang pengkhianat |
bangsa |
dan negara? Ia pantas mendapatkan hukumannya. Agak tegang ju | 54 % |
| an kesalahannya.” “Ia pengkhianat, ia menjelek-jelekkan nama |
bangsa |
dan negara kita di luar negeri.” “Cuma itu?” “Ia meresahkan | 89 % |
| k di bawah sana, di sekitar kolam renang, tapi tampaknya tak |
banyak |
yang mendengarkan lagu keroncong itu dengan sungguh-sungguh. | 3 % |
| i pecah dari tiap kerumunan. Tak semuanya tua memang, bahkan |
banyak |
wanita muda. Paling tidak itulah yang menarik perhatianku. L | 4 % |
| napanku. Dari balik teleskop kuteliti orang-orang yang makin |
banyak |
saja berdatangan. Ada sesuatu yang terasa kurang enak setiap | 22 % |
| k, tapi entahlah apa yang kurang enak di sana. Apakah karena |
banyak |
yang memakai baju resmi, seragam yang kubenci? Ataukah karen | 24 % |
| tampak telah uzur. Rambutnya disisr rapi ke belakang. Ia tak |
banyak |
tertawa dan tersenyum. Orang-orang mengerumuninya dengan hor | 45 % |
| dengan bila kita berhadapan langsung dengan orangnya. Ia tak |
banyak |
bicara, namun tampaknya ia harus menjawab banyak pertanyaan. | 49 % |
| nya. Ia tak banyak bicara, namun tampaknya ia harus menjawab |
banyak |
pertanyaan. Dan aku merasa bahwa ia sangat hati-hati menjawa | 49 % |
| sibuk bicara dengan tangan bergerak-gerak ke segala penjuru. |
bapak-bapak |
yang dari wajahnya tampak berjiwa pegawai, menyembunyikan di | 30 % |
| tel ini, aku masih mengintip lewat teleskop. Angin laut yang |
basah |
terasa asin di bibirku. Iseng-iseng sambil menunggu sasaran, | 15 % |
| teras. “Bagaimana? Sudah datang orangnya?” “Dia memakai baju |
batik |
merah, kebetulan satu-satunya yang merah di sini, jadi enak | 37 % |
| luk-makhluk kecil, tentu tak terlalu jelas mana yang berbaju |
batik |
merah dari lantai 7 seperti ini. Kuangkat kembali senapanku. | 39 % |
| tu saja. Dan, nah, itu dia, seorang lelaki yang mamakai baju |
batik |
berwarna merah. Wajahnya tampan dan berwibawa. Ia sudah sete | 44 % |
| poni menutup dahinya. Matanya menatap tajam ke arah si baju |
batik |
merah! “Tembaklah dia sekarang,” ujarnya pelan dalam headpho | 68 % |
| ereka terkenang-kenang akan masa lalunya. Mereka terserak di |
bawah |
sana, di sekitar kolam renang, tapi tampaknya tak banyak yan | 2 % |
| asa kurang enak setiap kali aku menatap wajah orang-orang di |
bawah |
itu. Memang wajah mereka adalah wajah orang baik-baik, tapi | 23 % |
| oncong itu. Rasanya lama sekali. Seperti juga orang-orang di |
bawah |
sana, aku tak perlu mendengarkannya dengan sungguh-sungguh. | 27 % |
| “Di sebelah mana dia?” tanyaku lewat mike yang tergantung di |
bawah |
daguku. “Dia di sudut kolam renang sebelah selatan, dekat pa | 42 % |
| kan pori-porinya terlihat dengan jelas. Aku bagaikan menatap |
bayang-bayang |
takdir. Siapakah sebenarnya yang menghentikan kehidupan oran | 58 % |
| at mampir di dada penyanyi keroncong yang membusung itu. Ada |
beberapa |
kerumunan. Di telingaku juga berdentang bunyi gelas dan piri | 65 % |
| ing. Ia mungkin di belakang orkes, dekat meja prasmanan. Ada |
beberapa |
wanita, dan petugas-petugas berpakaian preman. Yang mana? Ak | 66 % |
| akaian preman. Yang mana? Aku meneliti mereka satu per satu. |
beberapa |
di antaranya jelas cuma pegawai perusahaan catering. Ada sat | 67 % |
| imis, dan gemerlapan. Wanita-wanita cantik terpaksa kulewati |
begitu |
saja. Dan, nah, itu dia, seorang lelaki yang mamakai baju ba | 44 % |
| embidik dan menekan pelatuk. Kutatap lagi wajah itu, rasanya |
begitu |
dekat, bahkan pori-porinya terlihat dengan jelas. Aku bagaik | 58 % |
| tan tanpa tahu malu. Tapi aku tidak melakukan itu. Aku hanya |
bekerja |
berdasarkan kontrak. “Di sebelah mana dia?” tanyaku lewat mi | 41 % |
| juga aku menunggu perintah menembak. Itulah repotnya selalu |
bekerja |
berdasarkan kontrak. Tidak bisa seenaknya sendiri. Aku dibay | 55 % |
| ! Kamu tak tahu di mana aku.” “Kamu memakai cheongsam dengan |
belahan |
di paha, kamu ada di belakang orkes.” Dan kulihat wajahnya m | 84 % |
| ingaku juga berdentang bunyi gelas dan piring. Ia mungkin di |
belakang |
orkes, dekat meja prasmanan. Ada beberapa wanita, dan petuga | 66 % |
| “Kamu memakai cheongsam dengan belahan di paha, kamu ada di |
belakang |
orkes.” Dan kulihat wajahnya menjadi pucat. “Kamu sudah mela | 84 % |
| karena darah dan wanita-wanita berteriak: “Auuww!” Tapi aku |
belum |
menemukan orang yang mesti kubunuh. Memang belum waktunya. I | 11 % |
| !” Tapi aku belum menemukan orang yang mesti kubunuh. Memang |
belum |
waktunya. Ia akan datang sebentar lagi. Dan sebetulnya aku p | 11 % |
| rasanya menyenangkan. sepasang mata bola dari balik jendela |
belum |
habis juga lagu keroncong itu. Rasanya lama sekali. Seperti | 26 % |
| mbakmu. Senapan ini dilengkapi peredam. Kamu tahu tembakanku |
belum |
pernah luput, dan aku bisa segera lenyap.” Wajahnya menatap | 87 % |
| ang?” “Aku bilang tunggu perintah!” Sialan cewek itu, berani |
benar |
membentak-bentak seorang pembunuh bayaran. Tanganku tiba-tib | 60 % |
| nembus mata kirinya. Dan aku menatap mata orang itu. Astaga. |
benarkah |
dia seorang pengkhianat? “Kau tidak keliru? Benarkah ia seor | 78 % |
| Astaga. Benarkah dia seorang pengkhianat? “Kau tidak keliru? |
benarkah |
ia seorang pengkhianat?” “Tidak usah tanya-tanya, tembak sek | 78 % |
| dengan sungguh-sungguh. Musik keroncong sekarang ini seperti |
benda |
museum, para senimannya kurang jenius untuk membuatnya lebih | 28 % |
| ini, aku memperhatikan mereka satu per satu, seolah-olah aku |
berada |
di antara mereka. Sebuah pesta yang meriah. Ada kambing-guli | 5 % |
| Lagu keroncong itu lagi, jelas sekali di telingaku. Pasti ia |
berada |
di dekat orkes. Kucari-cari sekitar orkes. Teleskopku sempat | 64 % |
| ? Sekarang?” “Aku bilang tunggu perintah!” Sialan cewek itu, |
berani |
benar membentak-bentak seorang pembunuh bayaran. Tanganku ti | 60 % |
| i, katakan cepat apa kesalahan orang itu!” Wanita itu tampak |
beranjak |
akan lari. “Jangan lari, tak ada gunanya, tak ada seorang pu | 86 % |
| ni politik.” “Urusanku adalah leontinmu manis, ia bisa pecah |
berantakan |
oleh peluruku, dan peluru itu tak akan berhenti di situ.” Wa | 92 % |
| karena perasaanku saja. Namun sungguh mati, aku akan sangat |
berbahagia |
kalau korbanku kali ini adalah seseorang yang memuakkan. Kue | 25 % |
| nan makhluk-makhluk kecil, tentu tak terlalu jelas mana yang |
berbaju |
batik merah dari lantai 7 seperti ini. Kuangkat kembali sena | 38 % |
| eleskop ini, wajah-wajah memunculkan pesonanya sendiri, yang |
berbeda |
dibanding dengan bila kita berhadapan langsung dengan orangn | 48 % |
| Iseng-iseng sambil menunggu sasaran, aku mencari orang yang |
berbicara |
padaku. Dan aku melihat wajah-wajah pada teleskop. Para wani | 15 % |
| ta sendiri. Rupanya betul dia. Ia mendengar lewat giwang dan |
berbicara |
padaku lewat mikrofon yang tersembunyi dalam leontin kalungn | 70 % |
| ndengarkan lagu keroncong itu dengan sungguh-sungguh. Mereka |
bercakap |
sendiri, riuh dan tawa sesekali pecah dari tiap kerumunan. T | 3 % |
| rkan cerita seseorang di hadapannya dengan sabar. Orang yang |
bercerita |
itu tampak berapi-api, namun lelaki itu kelihatannya menahan | 74 % |
| hkan senapanku ke sana. Dan aku melihat orang itu. Ia sedang |
bercerita |
dengan berapi-api. Tangannya bergerak kian kemari, mengepal | 96 % |
| a tahu malu. Tapi aku tidak melakukan itu. Aku hanya bekerja |
berdasarkan |
kontrak. “Di sebelah mana dia?” tanyaku lewat mike yang terg | 41 % |
| u menunggu perintah menembak. Itulah repotnya selalu bekerja |
berdasarkan |
kontrak. Tidak bisa seenaknya sendiri. Aku dibayar untuk men | 55 % |
| ang membusung itu. Ada beberapa kerumunan. Di telingaku juga |
berdentang |
bunyi gelas dan piring. Ia mungkin di belakang orkes, dekat | 65 % |
| anan, menyeruput minuman, tersenyum dan tertawa. Ada ibu-ibu |
berdiri |
dengan kaku di samping suaminya yang sibuk bicara dengan tan | 29 % |
| u mengintip kembali lewat teleskop. Garis silang itu kembali |
beredar |
dari wajah ke wajah. Mereka masih tertawa-tawa dan tersenyum | 40 % |
| i di antara kerumunan orang banyak. Wajah-wajah cantik silih |
berganti |
mengisi teleskopku. Aku harus memancing dia bicara. “Tunggu | 62 % |
| lagi kalau tubuh itu terpental ke kolam renang dengan suara |
bergedebur |
sehingga airnya muncrat membasahi pakaian para tamu dan kola | 10 % |
| apa?” “Jangan main-main! Aku tahu kamu tidak di tempat!” Aku |
bergegas |
kembali ke teras. “Bagaimana? Sudah datang orangnya?” “Dia m | 36 % |
| embentak-bentak seorang pembunuh bayaran. Tanganku tiba-tiba |
bergerak |
sendiri menggeser senapan itu. Dengan indra keenam ia kucari | 61 % |
| orang itu. Ia sedang bercerita dengan berapi-api. Tangannya |
bergerak |
kian kemari, mengepal dan memukul-mukulkan tinjunya pada tel | 97 % |
| gan kaku di samping suaminya yang sibuk bicara dengan tangan |
bergerak-gerak |
ke segala penjuru. Bapak-bapak yang dari wajahnya tampak ber | 30 % |
| n pesonanya sendiri, yang berbeda dibanding dengan bila kita |
berhadapan |
langsung dengan orangnya. Ia tak banyak bicara, namun tampak | 49 % |
| Garis silang pada teleskop itu terus saja bergerak. Sesekali |
berhenti |
pada dahi seseorang, dan mengikutinya. Kalau kutekankan telu | 6 % |
| da juga yang berwajah menjilat. Garis silang pada teleskopku |
berhenti |
tepat di antara kedua matanya. “Apakah harus kulakukan sekar | 46 % |
| bisa pecah berantakan oleh peluruku, dan peluru itu tak akan |
berhenti |
di situ.” Wajah itu kembali menatap ke arahku dengan pandang | 92 % |
| n pun sedang purnama. Kuletakkan senapanku karena pegal. Aku |
berjalan |
ke dalam kamar, mengambil kacang dari meja. Kupasang televis | 33 % |
| rak ke segala penjuru. Bapak-bapak yang dari wajahnya tampak |
berjiwa |
pegawai, menyembunyikan diri dengan sopan, tapi makan banyak | 31 % |
| lan dalam headphone-ku, dan kulihat dari teleskop dia memang |
berkata-kata |
sendiri. Rupanya betul dia. Ia mendengar lewat giwang dan be | 69 % |
| era lenyap.” Wajahnya menatap ke atas, ke arahku. Kulihat ia |
berkeringat |
dingin. Gelisah. “Apa maumu?” “Katakan kesalahannya.” “Ia pe | 88 % |
| aku tidak tahu politik. Jadi, sambil menatap wajah yang akan |
berlubang |
itu, aku berpikir tentang yang lain. Mungkin ia punya istri, | 52 % |
| dengan sopan, tapi makan banyak-banyak. Tampak pula petugas |
berpakaian |
preman mondar-mandir membawa walkie-talkie. Agaknya pesta ka | 31 % |
| kat meja prasmanan. Ada beberapa wanita, dan petugas-petugas |
berpakaian |
preman. Yang mana? Aku meneliti mereka satu per satu. Bebera | 66 % |
| tik. Jadi, sambil menatap wajah yang akan berlubang itu, aku |
berpikir |
tentang yang lain. Mungkin ia punya istri, punya anak. Bahka | 52 % |
| ahwa ia sangat hati-hati menjawab. Wajahnya menunjukkan niat |
bersopan |
santun yang tidak menyebalkan. Apakah yang akan terjadi kala | 50 % |
| us untuk membuatnya lebih berkembang. Di manakah wanita yang |
bersuara |
lembut itu? Di mana-mana orang mengunyah makanan, menyeruput | 28 % |
| anya jelas cuma pegawai perusahaan catering. Ada satu wanita |
bertampang |
juragan. Mungkin satunya lagi. Rambutnya lurus dan hitam den | 67 % |
| a anak. Bahkan kupikir ia pun pantas punya cucu. Mereka akan |
bertangisan |
setelah mendengar kematian orang ini, dan tangis itu akan ma | 53 % |
| ang itu segera berwarna merah karena darah dan wanita-wanita |
berteriak: |
“Auuww!” Tapi aku belum menemukan orang yang mesti kubunuh. | 11 % |
| yum. Orang-orang mengerumuninya dengan hormat. Ada juga yang |
berwajah |
menjilat. Garis silang pada teleskopku berhenti tepat di ant | 46 % |
| crat membasahi pakaian para tamu dan kolam renang itu segera |
berwarna |
merah karena darah dan wanita-wanita berteriak: “Auuww!” Tap | 10 % |
| a. Dan, nah, itu dia, seorang lelaki yang mamakai baju batik |
berwarna |
merah. Wajahnya tampan dan berwibawa. Ia sudah setengah umur | 44 % |
| lihat dari teleskop dia memang berkata-kata sendiri. Rupanya |
betul |
dia. Ia mendengar lewat giwang dan berbicara padaku lewat mi | 70 % |
| akan makin menjadi-jadi ketika mengetahui cara kematiannya. |
biar |
saja. Bukankah ia seorang pengkhianat bangsa dan negara? Ia | 54 % |
| a ibu-ibu berdiri dengan kaku di samping suaminya yang sibuk |
bicara |
dengan tangan bergerak-gerak ke segala penjuru. Bapak-bapak | 30 % |
| memunculkan pesonanya sendiri, yang berbeda dibanding dengan |
bila |
kita berhadapan langsung dengan orangnya. Ia tak banyak bica | 48 % |
| telah mengelus-elus tengkuknya. “Bagaimana? Sekarang?” “Aku |
bilang |
tunggu perintah!” Sialan cewek itu, berani benar membentak-b | 60 % |
| agi dahi itu akan berlubang. Dan tubuh orang itu akan roboh. |
bisa |
roboh perlahan-lahan seperti pohon ditebang, bisa pula terse | 8 % |
| kan roboh. Bisa roboh perlahan-lahan seperti pohon ditebang, |
bisa |
pula tersentak dan mengacaukan kerumunan orang yang sedang t | 8 % |
| i. Dilakukan lewat telepon seperti itu, tentu wajahnya hanya |
bisa |
kukira-kira saja. “Kau tidak perlu tahu, ini bagian dari kon | 18 % |
| k. Itulah repotnya selalu bekerja berdasarkan kontrak. Tidak |
bisa |
seenaknya sendiri. Aku dibayar untuk mengarahkan garis silan | 55 % |
| dia sekarang tolol, atau kamu akan mati!” “Justru kamu yang |
bisa |
segera mati.” “Omong kosong! Kamu tak tahu di mana aku.” “Ka | 83 % |
| pi peredam. Kamu tahu tembakanku belum pernah luput, dan aku |
bisa |
segera lenyap.” Wajahnya menatap ke atas, ke arahku. Kulihat | 88 % |
| urusanmu. Ini politik.” “Urusanku adalah leontinmu manis, ia |
bisa |
pecah berantakan oleh peluruku, dan peluru itu tak akan berh | 92 % |
| ..” “Ah, jangan, jangan tembak! Please...” “Siapa?” “Aku…aku |
bisa |
celaka.” “Sekarang pun kamu bisa celaka. Kuhitung sampai tig | 94 % |
| lease...” “Siapa?” “Aku…aku bisa celaka.” “Sekarang pun kamu |
bisa |
celaka. Kuhitung sampai tiga. Satu…” “Kamu gila, kamu merusa | 94 % |
| an orang tanpa diketahui rasanya menyenangkan. sepasang mata |
bola |
dari balik jendela Belum habis juga lagu keroncong itu. Rasa | 26 % |
| , siapa yang jadi sasaran bukan urusanku. “Tapi satu hal kau |
boleh |
tahu.” “Apa?" “Orang itu pengkhianat.” “Pengkhianat?” “Ya, p | 20 % |
| terjadi. Aku dibayar untuk menembak, siapa yang jadi sasaran |
bukan |
urusanku. “Tapi satu hal kau boleh tahu.” “Apa?" “Orang itu | 19 % |
| k.” “Aku tidak mau menembak orang yang tidak bersalah." “Itu |
bukan |
urusanmu, tahun lalu kamu menembak ribuan orang yang tidak b | 85 % |
| mua itu merupakan alasan yang cukup untuk membunuhnya.” “Itu |
bukan |
urusanmu. Ini politik.” “Urusanku adalah leontinmu manis, ia | 91 % |
| menjadi-jadi ketika mengetahui cara kematiannya. Biar saja. |
bukankah |
ia seorang pengkhianat bangsa dan negara? Ia pantas mendapat | 54 % |
| -orang penting. Malam cerah dan langit penuh bintang. Bahkan |
bulan |
pun sedang purnama. Kuletakkan senapanku karena pegal. Aku b | 33 % |
| ng itu. Ada beberapa kerumunan. Di telingaku juga berdentang |
bunyi |
gelas dan piring. Ia mungkin di belakang orkes, dekat meja p | 65 % |
| elalu buruk. Sunyi sekali rasanya kamar hotel ini. Aku ingin |
buru-buru |
menembak sasaranku, lantas pulang dan minum segelas bir. “He | 35 % |
| a! Kamu jangan main gila.” selendang sutra tanda mata darimu |
busyet! |
Lagu keroncong itu lagi, jelas sekali di telingaku. Pasti ia | 64 % |
| gan pakaian malam yang anggun. Ada yang punggungnya terbuka. |
cantik |
sekali. Aku tak mengira seorang wanita akan terlibat dalam p | 16 % |
| wajah-wajah berlemak, klimis, dan gemerlapan. Wanita-wanita |
cantik |
terpaksa kulewati begitu saja. Dan, nah, itu dia, seorang le | 44 % |
| enam ia kucari di antara kerumunan orang banyak. Wajah-wajah |
cantik |
silih berganti mengisi teleskopku. Aku harus memancing dia b | 62 % |
| ni, dan tangis itu akan makin menjadi-jadi ketika mengetahui |
cara |
kematiannya. Biar saja. Bukankah ia seorang pengkhianat bang | 53 % |
| n orang yang tidak bersalah.” “Itu urusanku sendiri, katakan |
cepat |
apa kesalahan orang itu!” Wanita itu tampak beranjak akan la | 86 % |
| hotel di tepi pantai ini dihadiri orang-orang penting. Malam |
cerah |
dan langit penuh bintang. Bahkan bulan pun sedang purnama. K | 33 % |
| li pada sasaran. Lelaki setengah tua itu sedang mendengarkan |
cerita |
seseorang di hadapannya dengan sabar. Orang yang bercerita i | 73 % |
| “Bagaimana? Sekarang?” “Aku bilang tunggu perintah!” Sialan |
cewek |
itu, berani benar membentak-bentak seorang pembunuh bayaran. | 60 % |
| i.” “Omong kosong! Kamu tak tahu di mana aku.” “Kamu memakai |
cheongsam |
dengan belahan di paha, kamu ada di belakang orkes.” Dan kul | 83 % |
| ak.” “Aku ingin tahu, apakah semua itu merupakan alasan yang |
cukup |
untuk membunuhnya.” “Itu bukan urusanmu. Ini politik.” “Urus | 91 % |
| u meneliti mereka satu per satu. Beberapa di antaranya jelas |
cuma |
pegawai perusahaan catering. Ada satu wanita bertampang jura | 67 % |
| rkes. Kucari-cari sekitar orkes. Teleskopku sempat mampir di |
dada |
penyanyi keroncong yang membusung itu. Ada beberapa kerumuna | 65 % |
| yi dalam leontin kalungnya. Leontin yang indah, terpajang di |
dadanya |
yang tipis. “Apa?” tanyaku lagi, karena ingin meyakinkan, me | 71 % |
| ada teleskop itu terus saja bergerak. Sesekali berhenti pada |
dahi |
seseorang, dan mengikutinya. Kalau kutekankan telunjukku, ta | 6 % |
| an mengikutinya. Kalau kutekankan telunjukku, tak pelak lagi |
dahi |
itu akan berlubang. Dan tubuh orang itu akan roboh. Bisa rob | 7 % |
| Cantik sekali. Aku tak mengira seorang wanita akan terlibat |
dalam |
pembunuhan seperti ini. “Siapa sasaranku?” tanyaku minggu la | 17 % |
| -talkie. Agaknya pesta kambing-guling pada tepi kolam renang |
dalam |
sebuah hotel di tepi pantai ini dihadiri orang-orang penting | 32 % |
| purnama. Kuletakkan senapanku karena pegal. Aku berjalan ke |
dalam |
kamar, mengambil kacang dari meja. Kupasang televisi, tapi s | 34 % |
| lagi?” “Kau tak perlu tahu, pokoknya tunggu!” “Ini tidak ada |
dalam |
perjanjian.” “Ada! Kamu jangan main gila.” selendang sutra t | 63 % |
| si baju batik merah! “Tembaklah dia sekarang,” ujarnya pelan |
dalam |
headphone-ku, dan kulihat dari teleskop dia memang berkata-k | 69 % |
| giwang dan berbicara padaku lewat mikrofon yang tersembunyi |
dalam |
leontin kalungnya. Leontin yang indah, terpajang di dadanya | 70 % |
| anku mengarah padamu manis,” kataku dingin. “Apa-apaan ini?” |
dalam |
teleskop kulihat wajahnya mendongak ke arahku dengan kaget. | 81 % |
| ng itu dengan sungguh-sungguh. Mereka bercakap sendiri, riuh |
dan |
tawa sesekali pecah dari tiap kerumunan. Tak semuanya tua me | 3 % |
| terus saja bergerak. Sesekali berhenti pada dahi seseorang, |
dan |
mengikutinya. Kalau kutekankan telunjukku, tak pelak lagi da | 7 % |
| tekankan telunjukku, tak pelak lagi dahi itu akan berlubang. |
dan |
tubuh orang itu akan roboh. Bisa roboh perlahan-lahan sepert | 7 % |
| h perlahan-lahan seperti pohon ditebang, bisa pula tersentak |
dan |
mengacaukan kerumunan orang yang sedang tertawa-tawa itu, me | 8 % |
| rgedebur sehingga airnya muncrat membasahi pakaian para tamu |
dan |
kolam renang itu segera berwarna merah karena darah dan wani | 10 % |
| tamu dan kolam renang itu segera berwarna merah karena darah |
dan |
wanita-wanita berteriak: “Auuww!” Tapi aku belum menemukan o | 11 % |
| ubunuh. Memang belum waktunya. Ia akan datang sebentar lagi. |
dan |
sebetulnya aku pun tak perlu terlalu repot mencarinya karena | 12 % |
| l menunggu sasaran, aku mencari orang yang berbicara padaku. |
dan |
aku melihat wajah-wajah pada teleskop. Para wanita dengan pa | 15 % |
| ang itu pengkhianat.” “Pengkhianat?” “Ya, pengkhianat bangsa |
dan |
negara.” Jadi, sasaranku adalah seorang pengkhianat bangsa d | 20 % |
| n negara.” Jadi, sasaranku adalah seorang pengkhianat bangsa |
dan |
negara. Apakah aku termasuk pahlawan jika menembaknya? Kuger | 21 % |
| -mana orang mengunyah makanan, menyeruput minuman, tersenyum |
dan |
tertawa. Ada ibu-ibu berdiri dengan kaku di samping suaminya | 29 % |
| di tepi pantai ini dihadiri orang-orang penting. Malam cerah |
dan |
langit penuh bintang. Bahkan bulan pun sedang purnama. Kulet | 33 % |
| l ini. Aku ingin buru-buru menembak sasaranku, lantas pulang |
dan |
minum segelas bir. “Hei, kamu masih di situ?” tiba-tiba terd | 35 % |
| mbali beredar dari wajah ke wajah. Mereka masih tertawa-tawa |
dan |
tersenyum-senyum. Aku juga tersenyum. Sebentar lagi wajahmu | 40 % |
| apanku ke kanan. Kulewati lagi wajah-wajah berlemak, klimis, |
dan |
gemerlapan. Wanita-wanita cantik terpaksa kulewati begitu sa | 43 % |
| laki yang mamakai baju batik berwarna merah. Wajahnya tampan |
dan |
berwibawa. Ia sudah setengah umur tapi tak tampak telah uzur | 45 % |
| ur. Rambutnya disisr rapi ke belakang. Ia tak banyak tertawa |
dan |
tersenyum. Orang-orang mengerumuninya dengan hormat. Ada jug | 46 % |
| kah harus kulakukan sekarang?” “Nanti dulu, tunggu komando!” |
dan |
aku mengamati wajah itu. Adakah ia mempunyai firasat? Dari b | 47 % |
| bicara, namun tampaknya ia harus menjawab banyak pertanyaan. |
dan |
aku merasa bahwa ia sangat hati-hati menjawab. Wajahnya menu | 49 % |
| ereka akan bertangisan setelah mendengar kematian orang ini, |
dan |
tangis itu akan makin menjadi-jadi ketika mengetahui cara ke | 53 % |
| matiannya. Biar saja. Bukankah ia seorang pengkhianat bangsa |
dan |
negara? Ia pantas mendapatkan hukumannya. Agak tegang juga a | 54 % |
| u sendiri bahwa aku tidak membunuh orang, aku hanya membidik |
dan |
menekan pelatuk. Kutatap lagi wajah itu, rasanya begitu deka | 57 % |
| beberapa kerumunan. Di telingaku juga berdentang bunyi gelas |
dan |
piring. Ia mungkin di belakang orkes, dekat meja prasmanan. | 66 % |
| i belakang orkes, dekat meja prasmanan. Ada beberapa wanita, |
dan |
petugas-petugas berpakaian preman. Yang mana? Aku meneliti m | 66 % |
| ta bertampang juragan. Mungkin satunya lagi. Rambutnya lurus |
dan |
hitam dengan poni menutup dahinya. Matanya menatap tajam ke | 68 % |
| “Tembaklah dia sekarang,” ujarnya pelan dalam headphone-ku, |
dan |
kulihat dari teleskop dia memang berkata-kata sendiri. Rupan | 69 % |
| a-kata sendiri. Rupanya betul dia. Ia mendengar lewat giwang |
dan |
berbicara padaku lewat mikrofon yang tersembunyi dalam leont | 70 % |
| ah semua pembunuhan itu berlangsung. Mata rantai tanpa ujung |
dan |
pangkal. Wanita ini tentu hanya salah satu mata rantai. Kual | 72 % |
| yang terlalu simetris. Peluruku akan menembus mata kirinya. |
dan |
aku menatap mata orang itu. Astaga. Benarkah dia seorang pen | 77 % |
| eongsam dengan belahan di paha, kamu ada di belakang orkes.” |
dan |
kulihat wajahnya menjadi pucat. “Kamu sudah melanggar kontra | 84 % |
| dilengkapi peredam. Kamu tahu tembakanku belum pernah luput, |
dan |
aku bisa segera lenyap.” Wajahnya menatap ke atas, ke arahku | 87 % |
| lahannya.” “Ia pengkhianat, ia menjelek-jelekkan nama bangsa |
dan |
negara kita di luar negeri.” “Cuma itu?” “Ia meresahkan masy | 89 % |
| lah leontinmu manis, ia bisa pecah berantakan oleh peluruku, |
dan |
peluru itu tak akan berhenti di situ.” Wajah itu kembali men | 92 % |
| u tembak.” “Berkacamata?” “Ya.” Kuarahkan senapanku ke sana. |
dan |
aku melihat orang itu. Ia sedang bercerita dengan berapi-api | 96 % |
| dengan berapi-api. Tangannya bergerak kian kemari, mengepal |
dan |
memukul-mukulkan tinjunya pada telapak tangan yang lain. Waj | 97 % |
| ulkan tinjunya pada telapak tangan yang lain. Wajahnya licik |
dan |
penuh tipu daya. Sangat memuakkan. Padahal ia pun sudah tua. | 97 % |
| para tamu dan kolam renang itu segera berwarna merah karena |
darah |
dan wanita-wanita berteriak: “Auuww!” Tapi aku belum menemuk | 10 % |
| ngguh. Mereka bercakap sendiri, riuh dan tawa sesekali pecah |
dari |
tiap kerumunan. Tak semuanya tua memang, bahkan banyak wanit | 4 % |
| udah siap, yang mana orangnya?” “Sabar dong, sebentar lagi.” |
dari |
teras lantai 7 hotel ini, aku masih mengintip lewat teleskop | 14 % |
| nya bisa kukira-kira saja. “Kau tidak perlu tahu, ini bagian |
dari |
kontrak kita.” Kontrak semacam ini memang sering terjadi. Ak | 19 % |
| rmasuk pahlawan jika menembaknya? Kugerakkan lagi senapanku. |
dari |
balik teleskop kuteliti orang-orang yang makin banyak saja b | 22 % |
| ang tanpa diketahui rasanya menyenangkan. sepasang mata bola |
dari |
balik jendela Belum habis juga lagu keroncong itu. Rasanya l | 26 % |
| an tangan bergerak-gerak ke segala penjuru. Bapak-bapak yang |
dari |
wajahnya tampak berjiwa pegawai, menyembunyikan diri dengan | 30 % |
| karena pegal. Aku berjalan ke dalam kamar, mengambil kacang |
dari |
meja. Kupasang televisi, tapi segera kumatikan lagi. Acara t | 34 % |
| kecil, tentu tak terlalu jelas mana yang berbaju batik merah |
dari |
lantai 7 seperti ini. Kuangkat kembali senapanku. Kucari pos | 39 % |
| tip kembali lewat teleskop. Garis silang itu kembali beredar |
dari |
wajah ke wajah. Mereka masih tertawa-tawa dan tersenyum-seny | 40 % |
| !” Dan aku mengamati wajah itu. Adakah ia mempunyai firasat? |
dari |
balik teleskop ini, wajah-wajah memunculkan pesonanya sendir | 48 % |
| dia sekarang,” ujarnya pelan dalam headphone-ku, dan kulihat |
dari |
teleskop dia memang berkata-kata sendiri. Rupanya betul dia. | 69 % |
| n.” “Ada! Kamu jangan main gila.” selendang sutra tanda mata |
darimu |
Busyet! Lagu keroncong itu lagi, jelas sekali di telingaku. | 63 % |
| kan orang yang mesti kubunuh. Memang belum waktunya. Ia akan |
datang |
sebentar lagi. Dan sebetulnya aku pun tak perlu terlalu repo | 11 % |
| di tempat!” Aku bergegas kembali ke teras. “Bagaimana? Sudah |
datang |
orangnya?” “Dia memakai baju batik merah, kebetulan satu-sat | 37 % |
| di bawah daguku. “Dia di sudut kolam renang sebelah selatan, |
dekat |
payung hijau.” Kugeserkan senapanku ke kanan. Kulewati lagi | 43 % |
| cong itu lagi, jelas sekali di telingaku. Pasti ia berada di |
dekat |
orkes. Kucari-cari sekitar orkes. Teleskopku sempat mampir d | 64 % |
| entang bunyi gelas dan piring. Ia mungkin di belakang orkes, |
dekat |
meja prasmanan. Ada beberapa wanita, dan petugas-petugas ber | 66 % |
| pi tampaknya tak banyak yang mendengarkan lagu keroncong itu |
dengan |
sungguh-sungguh. Mereka bercakap sendiri, riuh dan tawa sese | 3 % |
| lebih menarik lagi kalau tubuh itu terpental ke kolam renang |
dengan |
suara bergedebur sehingga airnya muncrat membasahi pakaian p | 10 % |
| daku. Dan aku melihat wajah-wajah pada teleskop. Para wanita |
dengan |
pakaian malam yang anggun. Ada yang punggungnya terbuka. Can | 16 % |
| uga orang-orang di bawah sana, aku tak perlu mendengarkannya |
dengan |
sungguh-sungguh. Musik keroncong sekarang ini seperti benda | 27 % |
| nyeruput minuman, tersenyum dan tertawa. Ada ibu-ibu berdiri |
dengan |
kaku di samping suaminya yang sibuk bicara dengan tangan ber | 29 % |
| bu berdiri dengan kaku di samping suaminya yang sibuk bicara |
dengan |
tangan bergerak-gerak ke segala penjuru. Bapak-bapak yang da | 30 % |
| ng dari wajahnya tampak berjiwa pegawai, menyembunyikan diri |
dengan |
sopan, tapi makan banyak-banyak. Tampak pula petugas berpaka | 31 % |
| tak banyak tertawa dan tersenyum. Orang-orang mengerumuninya |
dengan |
hormat. Ada juga yang berwajah menjilat. Garis silang pada t | 46 % |
| -wajah memunculkan pesonanya sendiri, yang berbeda dibanding |
dengan |
bila kita berhadapan langsung dengan orangnya. Ia tak banyak | 48 % |
| yang berbeda dibanding dengan bila kita berhadapan langsung |
dengan |
orangnya. Ia tak banyak bicara, namun tampaknya ia harus men | 49 % |
| ajah itu, rasanya begitu dekat, bahkan pori-porinya terlihat |
dengan |
jelas. Aku bagaikan menatap bayang-bayang takdir. Siapakah s | 58 % |
| . Tanganku tiba-tiba bergerak sendiri menggeser senapan itu. |
dengan |
indra keenam ia kucari di antara kerumunan orang banyak. Waj | 61 % |
| ang juragan. Mungkin satunya lagi. Rambutnya lurus dan hitam |
dengan |
poni menutup dahinya. Matanya menatap tajam ke arah si baju | 68 % |
| h tua itu sedang mendengarkan cerita seseorang di hadapannya |
dengan |
sabar. Orang yang bercerita itu tampak berapi-api, namun lel | 74 % |
| an ini?” Dalam teleskop kulihat wajahnya mendongak ke arahku |
dengan |
kaget. “Katakan padaku,” kataku lagi, “apa kesalahan orang i | 82 % |
| kosong! Kamu tak tahu di mana aku.” “Kamu memakai cheongsam |
dengan |
belahan di paha, kamu ada di belakang orkes.” Dan kulihat wa | 83 % |
| kita di luar negeri.” “Cuma itu?” “Ia meresahkan masyarakat |
dengan |
pernyataan-pernyataan yang tidak benar.” “Lantas?” “Kamu mau | 90 % |
| akan berhenti di situ.” Wajah itu kembali menatap ke arahku |
dengan |
pandang menghiba. “Jangan tembak aku! Aku tidak tahu apa-apa | 92 % |
| anku ke sana. Dan aku melihat orang itu. Ia sedang bercerita |
dengan |
berapi-api. Tangannya bergerak kian kemari, mengepal dan mem | 96 % |
| a-galanya.” “Dua....” Hmm, alangkah gugupnya dia. “Ia ada di |
depan |
orang yang harus kamu tembak.” “Berkacamata?” “Ya.” Kuarahka | 95 % |
| Keroncong Pembunuhan Oleh: Seno Gumira Ajidarma hampir malam |
di |
Yogya ketika keretaku tiba Lagu keroncong membuatku ngantuk, | 0 % |
| t mereka terkenang-kenang akan masa lalunya. Mereka terserak |
di |
bawah sana, di sekitar kolam renang, tapi tampaknya tak bany | 2 % |
| ang-kenang akan masa lalunya. Mereka terserak di bawah sana, |
di |
sekitar kolam renang, tapi tampaknya tak banyak yang mendeng | 2 % |
| u memperhatikan mereka satu per satu, seolah-olah aku berada |
di |
antara mereka. Sebuah pesta yang meriah. Ada kambing-guling. | 5 % |
| mengintip lewat teleskop. Angin laut yang basah terasa asin |
di |
bibirku. Iseng-iseng sambil menunggu sasaran, aku mencari or | 15 % |
| terasa kurang enak setiap kali aku menatap wajah orang-orang |
di |
bawah itu. Memang wajah mereka adalah wajah orang baik-baik, | 23 % |
| ah wajah orang baik-baik, tapi entahlah apa yang kurang enak |
di |
sana. Apakah karena banyak yang memakai baju resmi, seragam | 24 % |
| keroncong itu. Rasanya lama sekali. Seperti juga orang-orang |
di |
bawah sana, aku tak perlu mendengarkannya dengan sungguh-sun | 27 % |
| senimannya kurang jenius untuk membuatnya lebih berkembang. |
di |
manakah wanita yang bersuara lembut itu? Di mana-mana orang | 28 % |
| ebih berkembang. Di manakah wanita yang bersuara lembut itu? |
di |
mana-mana orang mengunyah makanan, menyeruput minuman, terse | 29 % |
| uman, tersenyum dan tertawa. Ada ibu-ibu berdiri dengan kaku |
di |
samping suaminya yang sibuk bicara dengan tangan bergerak-ge | 30 % |
| sta kambing-guling pada tepi kolam renang dalam sebuah hotel |
di |
tepi pantai ini dihadiri orang-orang penting. Malam cerah da | 32 % |
| ranku, lantas pulang dan minum segelas bir. “Hei, kamu masih |
di |
situ?” tiba-tiba terdengar lagi suara itu. “Ya, kenapa?” “Ja | 36 % |
| ra itu. “Ya, kenapa?” “Jangan main-main! Aku tahu kamu tidak |
di |
tempat!” Aku bergegas kembali ke teras. “Bagaimana? Sudah da | 36 % |
| memakai baju batik merah, kebetulan satu-satunya yang merah |
di |
sini, jadi enak untuk kamu.” Kulihat ke bawah, mereka sepert | 37 % |
| k. “Di sebelah mana dia?” tanyaku lewat mike yang tergantung |
di |
bawah daguku. “Dia di sudut kolam renang sebelah selatan, de | 42 % |
| a?” tanyaku lewat mike yang tergantung di bawah daguku. “Dia |
di |
sudut kolam renang sebelah selatan, dekat payung hijau.” Kug | 42 % |
| rwajah menjilat. Garis silang pada teleskopku berhenti tepat |
di |
antara kedua matanya. “Apakah harus kulakukan sekarang?” “Na | 47 % |
| terjadi kalau ia kutembak mati? Aku teringat kematian Ninoy |
di |
Filipina…. Tapi aku tidak tahu politik. Jadi, sambil menatap | 51 % |
| sendiri menggeser senapan itu. Dengan indra keenam ia kucari |
di |
antara kerumunan orang banyak. Wajah-wajah cantik silih berg | 61 % |
| da mata darimu Busyet! Lagu keroncong itu lagi, jelas sekali |
di |
telingaku. Pasti ia berada di dekat orkes. Kucari-cari sekit | 64 % |
| roncong itu lagi, jelas sekali di telingaku. Pasti ia berada |
di |
dekat orkes. Kucari-cari sekitar orkes. Teleskopku sempat ma | 64 % |
| t orkes. Kucari-cari sekitar orkes. Teleskopku sempat mampir |
di |
dada penyanyi keroncong yang membusung itu. Ada beberapa ker | 65 % |
| nyanyi keroncong yang membusung itu. Ada beberapa kerumunan. |
di |
telingaku juga berdentang bunyi gelas dan piring. Ia mungkin | 65 % |
| telingaku juga berdentang bunyi gelas dan piring. Ia mungkin |
di |
belakang orkes, dekat meja prasmanan. Ada beberapa wanita, d | 66 % |
| eman. Yang mana? Aku meneliti mereka satu per satu. Beberapa |
di |
antaranya jelas cuma pegawai perusahaan catering. Ada satu w | 67 % |
| bunyi dalam leontin kalungnya. Leontin yang indah, terpajang |
di |
dadanya yang tipis. “Apa?” tanyaku lagi, karena ingin meyaki | 71 % |
| Lelaki setengah tua itu sedang mendengarkan cerita seseorang |
di |
hadapannya dengan sabar. Orang yang bercerita itu tampak ber | 73 % |
| ru kamu yang bisa segera mati.” “Omong kosong! Kamu tak tahu |
di |
mana aku.” “Kamu memakai cheongsam dengan belahan di paha, k | 83 % |
| ak tahu di mana aku.” “Kamu memakai cheongsam dengan belahan |
di |
paha, kamu ada di belakang orkes.” Dan kulihat wajahnya menj | 84 % |
| u.” “Kamu memakai cheongsam dengan belahan di paha, kamu ada |
di |
belakang orkes.” Dan kulihat wajahnya menjadi pucat. “Kamu s | 84 % |
| engkhianat, ia menjelek-jelekkan nama bangsa dan negara kita |
di |
luar negeri.” “Cuma itu?” “Ia meresahkan masyarakat dengan p | 89 % |
| h berantakan oleh peluruku, dan peluru itu tak akan berhenti |
di |
situ.” Wajah itu kembali menatap ke arahku dengan pandang me | 92 % |
| gala-galanya.” “Dua....” Hmm, alangkah gugupnya dia. “Ia ada |
di |
depan orang yang harus kamu tembak.” “Berkacamata?” “Ya.” Ku | 95 % |
| Kubidikkan garis silang teleskopku ke jantungnya, sementara |
di |
telingaku mengiang suara penyanyi itu, yang memulai lagi seb | 98 % |
| seperti ini. “Siapa sasaranku?” tanyaku minggu lalu, ketika |
dia |
memesan penembakan ini. Dilakukan lewat telepon seperti itu, | 17 % |
| antik silih berganti mengisi teleskopku. Aku harus memancing |
dia |
bicara. “Tunggu perintah apa lagi?” “Kau tak perlu tahu, pok | 62 % |
| atanya menatap tajam ke arah si baju batik merah! “Tembaklah |
dia |
sekarang,” ujarnya pelan dalam headphone-ku, dan kulihat dar | 69 % |
| ujarnya pelan dalam headphone-ku, dan kulihat dari teleskop |
dia |
memang berkata-kata sendiri. Rupanya betul dia. Ia mendengar | 69 % |
| tipis. “Apa?” tanyaku lagi, karena ingin meyakinkan, memang |
dia |
orangnya. “Tembak sekarang!” Jadi seperti inilah semua pembu | 71 % |
| ta kirinya. Dan aku menatap mata orang itu. Astaga. Benarkah |
dia |
seorang pengkhianat? “Kau tidak keliru? Benarkah ia seorang | 78 % |
| ana? Kenapa tidak diadili saja?” “Apa urusanmu tolol? Tembak |
dia |
sekarang, atau kontrak kubatalkan!” Perasaan aneh tiba-tiba | 80 % |
| kan padaku,” kataku lagi, “apa kesalahan orang itu?” “Tembak |
dia |
sekarang tolol, atau kamu akan mati!” “Justru kamu yang bisa | 82 % |
| at yang bagaimana? “Pengkhianat yang bagaimana? Kenapa tidak |
diadili |
saja?” “Apa urusanmu tolol? Tembak dia sekarang, atau kontra | 79 % |
| ini, wajah-wajah memunculkan pesonanya sendiri, yang berbeda |
dibanding |
dengan bila kita berhadapan langsung dengan orangnya. Ia tak | 48 % |
| sedang tertawa-tawa itu, menumpahkan gelas pada nampang yang |
dibawa |
pelayan. Tentu lebih menarik lagi kalau tubuh itu terpental | 9 % |
| ontrak kita.” Kontrak semacam ini memang sering terjadi. Aku |
dibayar |
untuk menembak, siapa yang jadi sasaran bukan urusanku. “Tap | 19 % |
| kerja berdasarkan kontrak. Tidak bisa seenaknya sendiri. Aku |
dibayar |
untuk mengarahkan garis silang teleskop senapanku pada tempa | 55 % |
| pada tepi kolam renang dalam sebuah hotel di tepi pantai ini |
dihadiri |
orang-orang penting. Malam cerah dan langit penuh bintang. B | 32 % |
| an. Kuedarkan lagi senapanku. Mengintip kelakuan orang tanpa |
diketahui |
rasanya menyenangkan. sepasang mata bola dari balik jendela | 26 % |
| ku?” tanyaku minggu lalu, ketika dia memesan penembakan ini. |
dilakukan |
lewat telepon seperti itu, tentu wajahnya hanya bisa kukira- | 18 % |
| ada seorang pun yang akan tahu siapa menembakmu. Senapan ini |
dilengkapi |
peredam. Kamu tahu tembakanku belum pernah luput, dan aku bi | 87 % |
| ak yang dari wajahnya tampak berjiwa pegawai, menyembunyikan |
diri |
dengan sopan, tapi makan banyak-banyak. Tampak pula petugas | 31 % |
| itu tampak berapi-api, namun lelaki itu kelihatannya menahan |
diri |
untuk tidak ikut terbakar. Ia mengangguk-angguk sambil mencu | 74 % |
| ntuk kemudian menekan pelatuknya. Aku selalu mengatakan pada |
diriku |
sendiri bahwa aku tidak membunuh orang, aku hanya membidik d | 57 % |
| Ia sudah setengah umur tapi tak tampak telah uzur. Rambutnya |
disisr |
rapi ke belakang. Ia tak banyak tertawa dan tersenyum. Orang | 45 % |
| akin banyak saja berdatangan. Ada sesuatu yang terasa kurang |
enak |
setiap kali aku menatap wajah orang-orang di bawah itu. Mema | 22 % |
| adalah wajah orang baik-baik, tapi entahlah apa yang kurang |
enak |
di sana. Apakah karena banyak yang memakai baju resmi, serag | 24 % |
| batik merah, kebetulan satu-satunya yang merah di sini, jadi |
enak |
untuk kamu.” Kulihat ke bawah, mereka seperti kerumunan makh | 38 % |
| itu. Memang wajah mereka adalah wajah orang baik-baik, tapi |
entahlah |
apa yang kurang enak di sana. Apakah karena banyak yang mema | 23 % |
| mereka terkenang-kenang akan masa lalunya. Inilah keroncong |
fantasiii |
100 % | |
| mereka. Sebuah pesta yang meriah. Ada kambing-guling. Hmmm… |
garis |
silang pada teleskop itu terus saja bergerak. Sesekali berhe | 6 % |
| ambil mengunyah kacang aku mengintip kembali lewat teleskop. |
garis |
silang itu kembali beredar dari wajah ke wajah. Mereka masih | 40 % |
| ngerumuninya dengan hormat. Ada juga yang berwajah menjilat. |
garis |
silang pada teleskopku berhenti tepat di antara kedua matany | 46 % |
| Tidak bisa seenaknya sendiri. Aku dibayar untuk mengarahkan |
garis |
silang teleskop senapanku pada tempat yang paling mematikan, | 56 % |
| k. Satu tekanan telunjuk akan mengakhiri riwayat lelaki itu. |
garis |
silang pada teleskop kugeser agak ke samping, supaya lubang | 76 % |
| daya. Sangat memuakkan. Padahal ia pun sudah tua. Kubidikkan |
garis |
silang teleskopku ke jantungnya, sementara di telingaku meng | 98 % |
| an kerumunan orang yang sedang tertawa-tawa itu, menumpahkan |
gelas |
pada nampang yang dibawa pelayan. Tentu lebih menarik lagi k | 9 % |
| . Ada beberapa kerumunan. Di telingaku juga berdentang bunyi |
gelas |
dan piring. Ia mungkin di belakang orkes, dekat meja prasman | 65 % |
| berkata-kata sendiri. Rupanya betul dia. Ia mendengar lewat |
giwang |
dan berbicara padaku lewat mikrofon yang tersembunyi dalam l | 70 % |
| gila, kamu merusak segala-galanya.” “Dua....” Hmm, alangkah |
gugupnya |
dia. “Ia ada di depan orang yang harus kamu tembak.” “Berkac | 95 % |
| Keroncong Pembunuhan Oleh: Seno |
gumira |
Ajidarma hampir malam di Yogya ketika keretaku tiba Lagu ker | 0 % |
| ya menyenangkan. sepasang mata bola dari balik jendela Belum |
habis |
juga lagu keroncong itu. Rasanya lama sekali. Seperti juga o | 26 % |
| aki setengah tua itu sedang mendengarkan cerita seseorang di |
hadapannya |
dengan sabar. Orang yang bercerita itu tampak berapi-api, na | 73 % |
| menembak, siapa yang jadi sasaran bukan urusanku. “Tapi satu |
hal |
kau boleh tahu.” “Apa?" “Orang itu pengkhianat.” “Pengkhiana | 20 % |
| Keroncong Pembunuhan Oleh: Seno Gumira Ajidarma |
hampir |
malam di Yogya ketika keretaku tiba Lagu keroncong membuatku | 0 % |
| kan ini. Dilakukan lewat telepon seperti itu, tentu wajahnya |
hanya |
bisa kukira-kira saja. “Kau tidak perlu tahu, ini bagian dar | 18 % |
| ketakutan tanpa tahu malu. Tapi aku tidak melakukan itu. Aku |
hanya |
bekerja berdasarkan kontrak. “Di sebelah mana dia?” tanyaku | 41 % |
| akan pada diriku sendiri bahwa aku tidak membunuh orang, aku |
hanya |
membidik dan menekan pelatuk. Kutatap lagi wajah itu, rasany | 57 % |
| gsung. Mata rantai tanpa ujung dan pangkal. Wanita ini tentu |
hanya |
salah satu mata rantai. Kualihkan senapanku kembali pada sas | 72 % |
| tiba Lagu keroncong membuatku ngantuk, padahal malam ini aku |
harus |
membunuh seseorang. Orang-orang tua memang menyukai lagu ker | 1 % |
| a teleskopku berhenti tepat di antara kedua matanya. “Apakah |
harus |
kulakukan sekarang?” “Nanti dulu, tunggu komando!” Dan aku m | 47 % |
| ng dengan orangnya. Ia tak banyak bicara, namun tampaknya ia |
harus |
menjawab banyak pertanyaan. Dan aku merasa bahwa ia sangat h | 49 % |
| k. Wajah-wajah cantik silih berganti mengisi teleskopku. Aku |
harus |
memancing dia bicara. “Tunggu perintah apa lagi?” “Kau tak p | 62 % |
| ...” Hmm, alangkah gugupnya dia. “Ia ada di depan orang yang |
harus |
kamu tembak.” “Berkacamata?” “Ya.” Kuarahkan senapanku ke sa | 95 % |
| s menjawab banyak pertanyaan. Dan aku merasa bahwa ia sangat |
hati-hati |
menjawab. Wajahnya menunjukkan niat bersopan santun yang tid | 50 % |
| enunjukkan orangnya. “Kamu sudah siap?” terdengar suara pada |
headphone |
itu, sebuah suara yang merdu. “Dari tadi aku sudah siap, yan | 13 % |
| ertampang juragan. Mungkin satunya lagi. Rambutnya lurus dan |
hitam |
dengan poni menutup dahinya. Matanya menatap tajam ke arah s | 68 % |
| antara mereka. Sebuah pesta yang meriah. Ada kambing-guling. |
hmmm… |
Garis silang pada teleskop itu terus saja bergerak. Sesekali | 6 % |
| orangnya?” “Sabar dong, sebentar lagi.” Dari teras lantai 7 |
hotel |
ini, aku masih mengintip lewat teleskop. Angin laut yang bas | 14 % |
| nya pesta kambing-guling pada tepi kolam renang dalam sebuah |
hotel |
di tepi pantai ini dihadiri orang-orang penting. Malam cerah | 32 % |
| agi. Acara televisi selalu buruk. Sunyi sekali rasanya kamar |
hotel |
ini. Aku ingin buru-buru menembak sasaranku, lantas pulang d | 35 % |
| m menemukan orang yang mesti kubunuh. Memang belum waktunya. |
ia |
akan datang sebentar lagi. Dan sebetulnya aku pun tak perlu | 11 % |
| ai baju batik berwarna merah. Wajahnya tampan dan berwibawa. |
ia |
sudah setengah umur tapi tak tampak telah uzur. Rambutnya di | 45 % |
| pi tak tampak telah uzur. Rambutnya disisr rapi ke belakang. |
ia |
tak banyak tertawa dan tersenyum. Orang-orang mengerumuninya | 45 % |
| i dulu, tunggu komando!” Dan aku mengamati wajah itu. Adakah |
ia |
mempunyai firasat? Dari balik teleskop ini, wajah-wajah memu | 48 % |
| anding dengan bila kita berhadapan langsung dengan orangnya. |
ia |
tak banyak bicara, namun tampaknya ia harus menjawab banyak | 49 % |
| gsung dengan orangnya. Ia tak banyak bicara, namun tampaknya |
ia |
harus menjawab banyak pertanyaan. Dan aku merasa bahwa ia sa | 49 % |
| ya ia harus menjawab banyak pertanyaan. Dan aku merasa bahwa |
ia |
sangat hati-hati menjawab. Wajahnya menunjukkan niat bersopa | 50 % |
| antun yang tidak menyebalkan. Apakah yang akan terjadi kalau |
ia |
kutembak mati? Aku teringat kematian Ninoy di Filipina…. Tap | 51 % |
| akan berlubang itu, aku berpikir tentang yang lain. Mungkin |
ia |
punya istri, punya anak. Bahkan kupikir ia pun pantas punya | 52 % |
| ang lain. Mungkin ia punya istri, punya anak. Bahkan kupikir |
ia |
pun pantas punya cucu. Mereka akan bertangisan setelah mende | 52 % |
| jadi ketika mengetahui cara kematiannya. Biar saja. Bukankah |
ia |
seorang pengkhianat bangsa dan negara? Ia pantas mendapatkan | 54 % |
| iar saja. Bukankah ia seorang pengkhianat bangsa dan negara? |
ia |
pantas mendapatkan hukumannya. Agak tegang juga aku menunggu | 54 % |
| bergerak sendiri menggeser senapan itu. Dengan indra keenam |
ia |
kucari di antara kerumunan orang banyak. Wajah-wajah cantik | 61 % |
| t! Lagu keroncong itu lagi, jelas sekali di telingaku. Pasti |
ia |
berada di dekat orkes. Kucari-cari sekitar orkes. Teleskopku | 64 % |
| umunan. Di telingaku juga berdentang bunyi gelas dan piring. |
ia |
mungkin di belakang orkes, dekat meja prasmanan. Ada beberap | 66 % |
| teleskop dia memang berkata-kata sendiri. Rupanya betul dia. |
ia |
mendengar lewat giwang dan berbicara padaku lewat mikrofon y | 70 % |
| aki itu kelihatannya menahan diri untuk tidak ikut terbakar. |
ia |
mengangguk-angguk sambil mencuri pandang ke sekelilingnya. S | 75 % |
| enarkah dia seorang pengkhianat? “Kau tidak keliru? Benarkah |
ia |
seorang pengkhianat?” “Tidak usah tanya-tanya, tembak sekara | 78 % |
| segera lenyap.” Wajahnya menatap ke atas, ke arahku. Kulihat |
ia |
berkeringat dingin. Gelisah. “Apa maumu?” “Katakan kesalahan | 88 % |
| lisah. “Apa maumu?” “Katakan kesalahannya.” “Ia pengkhianat, |
ia |
menjelek-jelekkan nama bangsa dan negara kita di luar negeri | 89 % |
| an urusanmu. Ini politik.” “Urusanku adalah leontinmu manis, |
ia |
bisa pecah berantakan oleh peluruku, dan peluru itu tak akan | 91 % |
| Ya.” Kuarahkan senapanku ke sana. Dan aku melihat orang itu. |
ia |
sedang bercerita dengan berapi-api. Tangannya bergerak kian | 96 % |
| ajahnya licik dan penuh tipu daya. Sangat memuakkan. Padahal |
ia |
pun sudah tua. Kubidikkan garis silang teleskopku ke jantung | 98 % |
| nyah makanan, menyeruput minuman, tersenyum dan tertawa. Ada |
ibu-ibu |
berdiri dengan kaku di samping suaminya yang sibuk bicara de | 29 % |
| -api, namun lelaki itu kelihatannya menahan diri untuk tidak |
ikut |
terbakar. Ia mengangguk-angguk sambil mencuri pandang ke sek | 74 % |
| nku tiba-tiba bergerak sendiri menggeser senapan itu. Dengan |
indra |
keenam ia kucari di antara kerumunan orang banyak. Wajah-waj | 61 % |
| visi selalu buruk. Sunyi sekali rasanya kamar hotel ini. Aku |
ingin |
buru-buru menembak sasaranku, lantas pulang dan minum segela | 35 % |
| terpajang di dadanya yang tipis. “Apa?” tanyaku lagi, karena |
ingin |
meyakinkan, memang dia orangnya. “Tembak sekarang!” Jadi sep | 71 % |
| enar.” “Lantas?” “Kamu mau apa? Aku tidak tahu banyak.” “Aku |
ingin |
tahu, apakah semua itu merupakan alasan yang cukup untuk mem | 90 % |
| eretaku tiba Lagu keroncong membuatku ngantuk, padahal malam |
ini |
aku harus membunuh seseorang. Orang-orang tua memang menyuka | 1 % |
| h seseorang. Orang-orang tua memang menyukai lagu keroncong, |
ini |
membuat mereka terkenang-kenang akan masa lalunya. Mereka te | 2 % |
| wajahnya hanya bisa kukira-kira saja. “Kau tidak perlu tahu, |
ini |
bagian dari kontrak kita.” Kontrak semacam ini memang sering | 19 % |
| k perlu tahu, ini bagian dari kontrak kita.” Kontrak semacam |
ini |
memang sering terjadi. Aku dibayar untuk menembak, siapa yan | 19 % |
| sungguh mati, aku akan sangat berbahagia kalau korbanku kali |
ini |
adalah seseorang yang memuakkan. Kuedarkan lagi senapanku. M | 25 % |
| engarkannya dengan sungguh-sungguh. Musik keroncong sekarang |
ini |
seperti benda museum, para senimannya kurang jenius untuk me | 28 % |
| ing pada tepi kolam renang dalam sebuah hotel di tepi pantai |
ini |
dihadiri orang-orang penting. Malam cerah dan langit penuh b | 32 % |
| itu berlangsung. Mata rantai tanpa ujung dan pangkal. Wanita |
ini |
tentu hanya salah satu mata rantai. Kualihkan senapanku kemb | 72 % |
| tak ada seorang pun yang akan tahu siapa menembakmu. Senapan |
ini |
dilengkapi peredam. Kamu tahu tembakanku belum pernah luput, | 87 % |
| n alasan yang cukup untuk membunuhnya.” “Itu bukan urusanmu. |
ini |
politik.” “Urusanku adalah leontinmu manis, ia bisa pecah be | 91 % |
| lagi sebuah lagu keroncong, lagu kesenangan orang-orang tua. |
ini |
memang akan membuat mereka terkenang-kenang akan masa lalunya. Inilah keroncong fantasiii | 99 % |
| kinkan, memang dia orangnya. “Tembak sekarang!” Jadi seperti |
inilah |
semua pembunuhan itu berlangsung. Mata rantai tanpa ujung da | 72 % |
| mang akan membuat mereka terkenang-kenang akan masa lalunya. |
inilah |
keroncong fantasiii | 100 % |
| ewat teleskop. Angin laut yang basah terasa asin di bibirku. |
iseng-iseng |
sambil menunggu sasaran, aku mencari orang yang berbicara pa | 15 % |
| , tapi tampaknya tak banyak yang mendengarkan lagu keroncong |
itu |
dengan sungguh-sungguh. Mereka bercakap sendiri, riuh dan ta | 3 % |
| meriah. Ada kambing-guling. Hmmm… Garis silang pada teleskop |
itu |
terus saja bergerak. Sesekali berhenti pada dahi seseorang, | 6 % |
| ngikutinya. Kalau kutekankan telunjukku, tak pelak lagi dahi |
itu |
akan berlubang. Dan tubuh orang itu akan roboh. Bisa roboh p | 7 % |
| kku, tak pelak lagi dahi itu akan berlubang. Dan tubuh orang |
itu |
akan roboh. Bisa roboh perlahan-lahan seperti pohon ditebang | 7 % |
| ng yang dibawa pelayan. Tentu lebih menarik lagi kalau tubuh |
itu |
terpental ke kolam renang dengan suara bergedebur sehingga a | 9 % |
| airnya muncrat membasahi pakaian para tamu dan kolam renang |
itu |
segera berwarna merah karena darah dan wanita-wanita berteri | 10 % |
| ukan urusanku. “Tapi satu hal kau boleh tahu.” “Apa?" “Orang |
itu |
pengkhianat.” “Pengkhianat?” “Ya, pengkhianat bangsa dan neg | 20 % |
| ah kacang aku mengintip kembali lewat teleskop. Garis silang |
itu |
kembali beredar dari wajah ke wajah. Mereka masih tertawa-ta | 40 % |
| anita-wanita cantik terpaksa kulewati begitu saja. Dan, nah, |
itu |
dia, seorang lelaki yang mamakai baju batik berwarna merah. | 44 % |
| bertangisan setelah mendengar kematian orang ini, dan tangis |
itu |
akan makin menjadi-jadi ketika mengetahui cara kematiannya. | 53 % |
| ng menghentikan kehidupan orang itu, akukah atau Kamu? Orang |
itu |
tak sadar sama sekali kalau malaikan maut telah mengelus-elu | 59 % |
| a.” selendang sutra tanda mata darimu Busyet! Lagu keroncong |
itu |
lagi, jelas sekali di telingaku. Pasti ia berada di dekat or | 64 % |
| nya. “Tembak sekarang!” Jadi seperti inilah semua pembunuhan |
itu |
berlangsung. Mata rantai tanpa ujung dan pangkal. Wanita ini | 72 % |
| ualihkan senapanku kembali pada sasaran. Lelaki setengah tua |
itu |
sedang mendengarkan cerita seseorang di hadapannya dengan sa | 73 % |
| a seseorang di hadapannya dengan sabar. Orang yang bercerita |
itu |
tampak berapi-api, namun lelaki itu kelihatannya menahan dir | 74 % |
| ar. Orang yang bercerita itu tampak berapi-api, namun lelaki |
itu |
kelihatannya menahan diri untuk tidak ikut terbakar. Ia meng | 74 % |
| anku sendiri, katakan cepat apa kesalahan orang itu!” Wanita |
itu |
tampak beranjak akan lari. “Jangan lari, tak ada gunanya, ta | 86 % |
| u apa? Aku tidak tahu banyak.” “Aku ingin tahu, apakah semua |
itu |
merupakan alasan yang cukup untuk membunuhnya.” “Itu bukan u | 91 % |
| mu manis, ia bisa pecah berantakan oleh peluruku, dan peluru |
itu |
tak akan berhenti di situ.” Wajah itu kembali menatap ke ara | 92 % |
| h peluruku, dan peluru itu tak akan berhenti di situ.” Wajah |
itu |
kembali menatap ke arahku dengan pandang menghiba. “Jangan t | 92 % |
| h.” “Itu urusanku sendiri, katakan cepat apa kesalahan orang |
itu!” |
Wanita itu tampak beranjak akan lari. “Jangan lari, tak ada | 86 % |
| , tapi tampaknya tak banyak yang mendengarkan lagu keroncong |
itu |
dengan sungguh-sungguh. Mereka bercakap sendiri, riuh dan ta | 3 % |
| meriah. Ada kambing-guling. Hmmm… Garis silang pada teleskop |
itu |
terus saja bergerak. Sesekali berhenti pada dahi seseorang, | 6 % |
| ngikutinya. Kalau kutekankan telunjukku, tak pelak lagi dahi |
itu |
akan berlubang. Dan tubuh orang itu akan roboh. Bisa roboh p | 7 % |
| kku, tak pelak lagi dahi itu akan berlubang. Dan tubuh orang |
itu |
akan roboh. Bisa roboh perlahan-lahan seperti pohon ditebang | 7 % |
| ng yang dibawa pelayan. Tentu lebih menarik lagi kalau tubuh |
itu |
terpental ke kolam renang dengan suara bergedebur sehingga a | 9 % |
| airnya muncrat membasahi pakaian para tamu dan kolam renang |
itu |
segera berwarna merah karena darah dan wanita-wanita berteri | 10 % |
| ukan urusanku. “Tapi satu hal kau boleh tahu.” “Apa?" “Orang |
itu |
pengkhianat.” “Pengkhianat?” “Ya, pengkhianat bangsa dan neg | 20 % |
| ah kacang aku mengintip kembali lewat teleskop. Garis silang |
itu |
kembali beredar dari wajah ke wajah. Mereka masih tertawa-ta | 40 % |
| anita-wanita cantik terpaksa kulewati begitu saja. Dan, nah, |
itu |
dia, seorang lelaki yang mamakai baju batik berwarna merah. | 44 % |
| bertangisan setelah mendengar kematian orang ini, dan tangis |
itu |
akan makin menjadi-jadi ketika mengetahui cara kematiannya. | 53 % |
| ng menghentikan kehidupan orang itu, akukah atau Kamu? Orang |
itu |
tak sadar sama sekali kalau malaikan maut telah mengelus-elu | 59 % |
| a.” selendang sutra tanda mata darimu Busyet! Lagu keroncong |
itu |
lagi, jelas sekali di telingaku. Pasti ia berada di dekat or | 64 % |
| nya. “Tembak sekarang!” Jadi seperti inilah semua pembunuhan |
itu |
berlangsung. Mata rantai tanpa ujung dan pangkal. Wanita ini | 72 % |
| ualihkan senapanku kembali pada sasaran. Lelaki setengah tua |
itu |
sedang mendengarkan cerita seseorang di hadapannya dengan sa | 73 % |
| a seseorang di hadapannya dengan sabar. Orang yang bercerita |
itu |
tampak berapi-api, namun lelaki itu kelihatannya menahan dir | 74 % |
| ar. Orang yang bercerita itu tampak berapi-api, namun lelaki |
itu |
kelihatannya menahan diri untuk tidak ikut terbakar. Ia meng | 74 % |
| anku sendiri, katakan cepat apa kesalahan orang itu!” Wanita |
itu |
tampak beranjak akan lari. “Jangan lari, tak ada gunanya, ta | 86 % |
| u apa? Aku tidak tahu banyak.” “Aku ingin tahu, apakah semua |
itu |
merupakan alasan yang cukup untuk membunuhnya.” “Itu bukan u | 91 % |
| mu manis, ia bisa pecah berantakan oleh peluruku, dan peluru |
itu |
tak akan berhenti di situ.” Wajah itu kembali menatap ke ara | 92 % |
| h peluruku, dan peluru itu tak akan berhenti di situ.” Wajah |
itu |
kembali menatap ke arahku dengan pandang menghiba. “Jangan t | 92 % |
| semuanya tua memang, bahkan banyak wanita muda. Paling tidak |
itulah |
yang menarik perhatianku. Lewat teleskop pada senapan ini, a | 4 % |
| hukumannya. Agak tegang juga aku menunggu perintah menembak. |
itulah |
repotnya selalu bekerja berdasarkan kontrak. Tidak bisa seen | 55 % |
| emang sering terjadi. Aku dibayar untuk menembak, siapa yang |
jadi |
sasaran bukan urusanku. “Tapi satu hal kau boleh tahu.” “Apa | 19 % |
| baju batik merah, kebetulan satu-satunya yang merah di sini, |
jadi |
enak untuk kamu.” Kulihat ke bawah, mereka seperti kerumunan | 37 % |
| na ingin meyakinkan, memang dia orangnya. “Tembak sekarang!” |
jadi |
seperti inilah semua pembunuhan itu berlangsung. Mata rantai | 72 % |
| koknya tunggu!” “Ini tidak ada dalam perjanjian.” “Ada! Kamu |
jangan |
main gila.” selendang sutra tanda mata darimu Busyet! Lagu k | 63 % |
| “Aku tidak tahu apa-apa.” “Leontinmu manis...” “Ah, jangan, |
jangan |
tembak! Please...” “Siapa?” “Aku…aku bisa celaka.” “Sekarang | 94 % |
| a seperti kerumunan makhluk-makhluk kecil, tentu tak terlalu |
jelas |
mana yang berbaju batik merah dari lantai 7 seperti ini. Kua | 38 % |
| ang sutra tanda mata darimu Busyet! Lagu keroncong itu lagi, |
jelas |
sekali di telingaku. Pasti ia berada di dekat orkes. Kucari- | 64 % |
| na? Aku meneliti mereka satu per satu. Beberapa di antaranya |
jelas |
cuma pegawai perusahaan catering. Ada satu wanita bertampang | 67 % |
| iketahui rasanya menyenangkan. sepasang mata bola dari balik |
jendela |
Belum habis juga lagu keroncong itu. Rasanya lama sekali. Se | 26 % |
| ng sekarang ini seperti benda museum, para senimannya kurang |
jenius |
untuk membuatnya lebih berkembang. Di manakah wanita yang be | 28 % |
| pengkhianat bangsa dan negara. Apakah aku termasuk pahlawan |
jika |
menembaknya? Kugerakkan lagi senapanku. Dari balik teleskop | 21 % |
| yenangkan. sepasang mata bola dari balik jendela Belum habis |
juga |
lagu keroncong itu. Rasanya lama sekali. Seperti juga orang- | 26 % |
| habis juga lagu keroncong itu. Rasanya lama sekali. Seperti |
juga |
orang-orang di bawah sana, aku tak perlu mendengarkannya den | 27 % |
| e wajah. Mereka masih tertawa-tawa dan tersenyum-senyum. Aku |
juga |
tersenyum. Sebentar lagi wajahmu akan ketakutan tanpa tahu m | 41 % |
| dan tersenyum. Orang-orang mengerumuninya dengan hormat. Ada |
juga |
yang berwajah menjilat. Garis silang pada teleskopku berhent | 46 % |
| sa dan negara? Ia pantas mendapatkan hukumannya. Agak tegang |
juga |
aku menunggu perintah menembak. Itulah repotnya selalu beker | 54 % |
| ong yang membusung itu. Ada beberapa kerumunan. Di telingaku |
juga |
berdentang bunyi gelas dan piring. Ia mungkin di belakang or | 65 % |
| napanku karena pegal. Aku berjalan ke dalam kamar, mengambil |
kacang |
dari meja. Kupasang televisi, tapi segera kumatikan lagi. Ac | 34 % |
| kembali senapanku. Kucari posisi yang enak. Sambil mengunyah |
kacang |
aku mengintip kembali lewat teleskop. Garis silang itu kemba | 39 % |
| t minuman, tersenyum dan tertawa. Ada ibu-ibu berdiri dengan |
kaku |
di samping suaminya yang sibuk bicara dengan tangan bergerak | 30 % |
| ak. Sesekali berhenti pada dahi seseorang, dan mengikutinya. |
kalau |
kutekankan telunjukku, tak pelak lagi dahi itu akan berluban | 7 % |
| s pada nampang yang dibawa pelayan. Tentu lebih menarik lagi |
kalau |
tubuh itu terpental ke kolam renang dengan suara bergedebur | 9 % |
| asaanku saja. Namun sungguh mati, aku akan sangat berbahagia |
kalau |
korbanku kali ini adalah seseorang yang memuakkan. Kuedarkan | 25 % |
| opan santun yang tidak menyebalkan. Apakah yang akan terjadi |
kalau |
ia kutembak mati? Aku teringat kematian Ninoy di Filipina…. | 51 % |
| orang itu, akukah atau Kamu? Orang itu tak sadar sama sekali |
kalau |
malaikan maut telah mengelus-elus tengkuknya. “Bagaimana? Se | 59 % |
| saja berdatangan. Ada sesuatu yang terasa kurang enak setiap |
kali |
aku menatap wajah orang-orang di bawah itu. Memang wajah mer | 23 % |
| amun sungguh mati, aku akan sangat berbahagia kalau korbanku |
kali |
ini adalah seseorang yang memuakkan. Kuedarkan lagi senapank | 25 % |
| ikan lagi. Acara televisi selalu buruk. Sunyi sekali rasanya |
kamar |
hotel ini. Aku ingin buru-buru menembak sasaranku, lantas pu | 35 % |
| an preman mondar-mandir membawa walkie-talkie. Agaknya pesta |
kambing-guling |
pada tepi kolam renang dalam sebuah hotel di tepi pantai ini | 32 % |
| nembak sasaranku, lantas pulang dan minum segelas bir. “Hei, |
kamu |
masih di situ?” tiba-tiba terdengar lagi suara itu. “Ya, ken | 35 % |
| ar lagi suara itu. “Ya, kenapa?” “Jangan main-main! Aku tahu |
kamu |
tidak di tempat!” Aku bergegas kembali ke teras. “Bagaimana? | 36 % |
| u, pokoknya tunggu!” “Ini tidak ada dalam perjanjian.” “Ada! |
kamu |
jangan main gila.” selendang sutra tanda mata darimu Busyet! | 63 % |
| “apa kesalahan orang itu?” “Tembak dia sekarang tolol, atau |
kamu |
akan mati!” “Justru kamu yang bisa segera mati.” “Omong koso | 83 % |
| ?” “Tembak dia sekarang tolol, atau kamu akan mati!” “Justru |
kamu |
yang bisa segera mati.” “Omong kosong! Kamu tak tahu di mana | 83 % |
| n mati!” “Justru kamu yang bisa segera mati.” “Omong kosong! |
kamu |
tak tahu di mana aku.” “Kamu memakai cheongsam dengan belaha | 83 % |
| i mana aku.” “Kamu memakai cheongsam dengan belahan di paha, |
kamu |
ada di belakang orkes.” Dan kulihat wajahnya menjadi pucat. | 84 % |
| orang yang tidak bersalah." “Itu bukan urusanmu, tahun lalu |
kamu |
menembak ribuan orang yang tidak bersalah.” “Itu urusanku se | 85 % |
| akan tahu siapa menembakmu. Senapan ini dilengkapi peredam. |
kamu |
tahu tembakanku belum pernah luput, dan aku bisa segera leny | 87 % |
| ak! Please...” “Siapa?” “Aku…aku bisa celaka.” “Sekarang pun |
kamu |
bisa celaka. Kuhitung sampai tiga. Satu…” “Kamu gila, kamu m | 94 % |
| n kamu bisa celaka. Kuhitung sampai tiga. Satu…” “Kamu gila, |
kamu |
merusak segala-galanya.” “Dua....” Hmm, alangkah gugupnya di | 95 % |
| mm, alangkah gugupnya dia. “Ia ada di depan orang yang harus |
kamu |
tembak.” “Berkacamata?” “Ya.” Kuarahkan senapanku ke sana. D | 95 % |
| nembak sasaranku, lantas pulang dan minum segelas bir. “Hei, |
kamu |
masih di situ?” tiba-tiba terdengar lagi suara itu. “Ya, ken | 35 % |
| ar lagi suara itu. “Ya, kenapa?” “Jangan main-main! Aku tahu |
kamu |
tidak di tempat!” Aku bergegas kembali ke teras. “Bagaimana? | 36 % |
| u, pokoknya tunggu!” “Ini tidak ada dalam perjanjian.” “Ada! |
kamu |
jangan main gila.” selendang sutra tanda mata darimu Busyet! | 63 % |
| “apa kesalahan orang itu?” “Tembak dia sekarang tolol, atau |
kamu |
akan mati!” “Justru kamu yang bisa segera mati.” “Omong koso | 83 % |
| ?” “Tembak dia sekarang tolol, atau kamu akan mati!” “Justru |
kamu |
yang bisa segera mati.” “Omong kosong! Kamu tak tahu di mana | 83 % |
| n mati!” “Justru kamu yang bisa segera mati.” “Omong kosong! |
kamu |
tak tahu di mana aku.” “Kamu memakai cheongsam dengan belaha | 83 % |
| i mana aku.” “Kamu memakai cheongsam dengan belahan di paha, |
kamu |
ada di belakang orkes.” Dan kulihat wajahnya menjadi pucat. | 84 % |
| orang yang tidak bersalah." “Itu bukan urusanmu, tahun lalu |
kamu |
menembak ribuan orang yang tidak bersalah.” “Itu urusanku se | 85 % |
| akan tahu siapa menembakmu. Senapan ini dilengkapi peredam. |
kamu |
tahu tembakanku belum pernah luput, dan aku bisa segera leny | 87 % |
| ak! Please...” “Siapa?” “Aku…aku bisa celaka.” “Sekarang pun |
kamu |
bisa celaka. Kuhitung sampai tiga. Satu…” “Kamu gila, kamu m | 94 % |
| n kamu bisa celaka. Kuhitung sampai tiga. Satu…” “Kamu gila, |
kamu |
merusak segala-galanya.” “Dua....” Hmm, alangkah gugupnya di | 95 % |
| mm, alangkah gugupnya dia. “Ia ada di depan orang yang harus |
kamu |
tembak.” “Berkacamata?” “Ya.” Kuarahkan senapanku ke sana. D | 95 % |
| pakaian para tamu dan kolam renang itu segera berwarna merah |
karena |
darah dan wanita-wanita berteriak: “Auuww!” Tapi aku belum m | 10 % |
| i. Dan sebetulnya aku pun tak perlu terlalu repot mencarinya |
karena |
pesawat komunikasi yang terpasang pada telingaku siap menunj | 12 % |
| aik-baik, tapi entahlah apa yang kurang enak di sana. Apakah |
karena |
banyak yang memakai baju resmi, seragam yang kubenci? Atauka | 24 % |
| anyak yang memakai baju resmi, seragam yang kubenci? Ataukah |
karena |
perasaanku saja. Namun sungguh mati, aku akan sangat berbaha | 24 % |
| ntang. Bahkan bulan pun sedang purnama. Kuletakkan senapanku |
karena |
pegal. Aku berjalan ke dalam kamar, mengambil kacang dari me | 33 % |
| indah, terpajang di dadanya yang tipis. “Apa?” tanyaku lagi, |
karena |
ingin meyakinkan, memang dia orangnya. “Tembak sekarang!” Ja | 71 % |
| ak ribuan orang yang tidak bersalah.” “Itu urusanku sendiri, |
katakan |
cepat apa kesalahan orang itu!” Wanita itu tampak beranjak a | 86 % |
| an pada wanita itu. “Laras senapanku mengarah padamu manis,” |
kataku |
dingin. “Apa-apaan ini?” Dalam teleskop kulihat wajahnya men | 81 % |
| wajahnya mendongak ke arahku dengan kaget. “Katakan padaku,” |
kataku |
lagi, “apa kesalahan orang itu?” “Tembak dia sekarang tolol, | 82 % |
| mbak, siapa yang jadi sasaran bukan urusanku. “Tapi satu hal |
kau |
boleh tahu.” “Apa?" “Orang itu pengkhianat.” “Pengkhianat?” | 20 % |
|
ke |
roncong Pembunuhan Oleh: Seno Gumira Ajidarma hampir malam d | 0 % | |
| pelayan. Tentu lebih menarik lagi kalau tubuh itu terpental |
ke |
kolam renang dengan suara bergedebur sehingga airnya muncrat | 9 % |
| ping suaminya yang sibuk bicara dengan tangan bergerak-gerak |
ke |
segala penjuru. Bapak-bapak yang dari wajahnya tampak berjiw | 30 % |
| ang purnama. Kuletakkan senapanku karena pegal. Aku berjalan |
ke |
dalam kamar, mengambil kacang dari meja. Kupasang televisi, | 34 % |
| n-main! Aku tahu kamu tidak di tempat!” Aku bergegas kembali |
ke |
teras. “Bagaimana? Sudah datang orangnya?” “Dia memakai baju | 37 % |
| u-satunya yang merah di sini, jadi enak untuk kamu.” Kulihat |
ke |
bawah, mereka seperti kerumunan makhluk-makhluk kecil, tentu | 38 % |
| lewat teleskop. Garis silang itu kembali beredar dari wajah |
ke |
wajah. Mereka masih tertawa-tawa dan tersenyum-senyum. Aku j | 40 % |
| g sebelah selatan, dekat payung hijau.” Kugeserkan senapanku |
ke |
kanan. Kulewati lagi wajah-wajah berlemak, klimis, dan gemer | 43 % |
| engah umur tapi tak tampak telah uzur. Rambutnya disisr rapi |
ke |
belakang. Ia tak banyak tertawa dan tersenyum. Orang-orang m | 45 % |
| dan hitam dengan poni menutup dahinya. Matanya menatap tajam |
ke |
arah si baju batik merah! “Tembaklah dia sekarang,” ujarnya | 68 % |
| k ikut terbakar. Ia mengangguk-angguk sambil mencuri pandang |
ke |
sekelilingnya. Seperti khawatir ada yang mendengar. Aku suda | 75 % |
| riwayat lelaki itu. Garis silang pada teleskop kugeser agak |
ke |
samping, supaya lubang peluru pada kepalanya tidak membuat p | 76 % |
| . “Apa-apaan ini?” Dalam teleskop kulihat wajahnya mendongak |
ke |
arahku dengan kaget. “Katakan padaku,” kataku lagi, “apa kes | 82 % |
| pernah luput, dan aku bisa segera lenyap.” Wajahnya menatap |
ke |
atas, ke arahku. Kulihat ia berkeringat dingin. Gelisah. “Ap | 88 % |
| uput, dan aku bisa segera lenyap.” Wajahnya menatap ke atas, |
ke |
arahku. Kulihat ia berkeringat dingin. Gelisah. “Apa maumu?” | 88 % |
| ru itu tak akan berhenti di situ.” Wajah itu kembali menatap |
ke |
arahku dengan pandang menghiba. “Jangan tembak aku! Aku tida | 92 % |
| harus kamu tembak.” “Berkacamata?” “Ya.” Kuarahkan senapanku |
ke |
sana. Dan aku melihat orang itu. Ia sedang bercerita dengan | 96 % |
| Padahal ia pun sudah tua. Kubidikkan garis silang teleskopku |
ke |
jantungnya, sementara di telingaku mengiang suara penyanyi i | 98 % |
| mana? Sudah datang orangnya?” “Dia memakai baju batik merah, |
kebetulan |
satu-satunya yang merah di sini, jadi enak untuk kamu.” Kuli | 37 % |
| jilat. Garis silang pada teleskopku berhenti tepat di antara |
kedua |
matanya. “Apakah harus kulakukan sekarang?” “Nanti dulu, tun | 47 % |
| ba-tiba bergerak sendiri menggeser senapan itu. Dengan indra |
keenam |
ia kucari di antara kerumunan orang banyak. Wajah-wajah cant | 61 % |
| bayang-bayang takdir. Siapakah sebenarnya yang menghentikan |
kehidupan |
orang itu, akukah atau Kamu? Orang itu tak sadar sama sekali | 59 % |
| eseorang yang memuakkan. Kuedarkan lagi senapanku. Mengintip |
kelakuan |
orang tanpa diketahui rasanya menyenangkan. sepasang mata bo | 26 % |
| Orang yang bercerita itu tampak berapi-api, namun lelaki itu |
kelihatannya |
menahan diri untuk tidak ikut terbakar. Ia mengangguk-angguk | 74 % |
| pakah yang akan terjadi kalau ia kutembak mati? Aku teringat |
kematian |
Ninoy di Filipina…. Tapi aku tidak tahu politik. Jadi, sambi | 51 % |
| pantas punya cucu. Mereka akan bertangisan setelah mendengar |
kematian |
orang ini, dan tangis itu akan makin menjadi-jadi ketika men | 53 % |
| ngan main-main! Aku tahu kamu tidak di tempat!” Aku bergegas |
kembali |
ke teras. “Bagaimana? Sudah datang orangnya?” “Dia memakai b | 36 % |
| yang berbaju batik merah dari lantai 7 seperti ini. Kuangkat |
kembali |
senapanku. Kucari posisi yang enak. Sambil mengunyah kacang | 39 % |
| cari posisi yang enak. Sambil mengunyah kacang aku mengintip |
kembali |
lewat teleskop. Garis silang itu kembali beredar dari wajah | 40 % |
| acang aku mengintip kembali lewat teleskop. Garis silang itu |
kembali |
beredar dari wajah ke wajah. Mereka masih tertawa-tawa dan t | 40 % |
| ini tentu hanya salah satu mata rantai. Kualihkan senapanku |
kembali |
pada sasaran. Lelaki setengah tua itu sedang mendengarkan ce | 73 % |
| luruku, dan peluru itu tak akan berhenti di situ.” Wajah itu |
kembali |
menatap ke arahku dengan pandang menghiba. “Jangan tembak ak | 92 % |
| teleskop senapanku pada tempat yang paling mematikan, untuk |
kemudian |
menekan pelatuknya. Aku selalu mengatakan pada diriku sendir | 56 % |
| ya, pengkhianat yang bagaimana? “Pengkhianat yang bagaimana? |
kenapa |
tidak diadili saja?” “Apa urusanmu tolol? Tembak dia sekaran | 79 % |
| teleskop kugeser agak ke samping, supaya lubang peluru pada |
kepalanya |
tidak membuat pembagian yang terlalu simetris. Peluruku akan | 77 % |
| uhan Oleh: Seno Gumira Ajidarma hampir malam di Yogya ketika |
keretaku |
tiba Lagu keroncong membuatku ngantuk, padahal malam ini aku | 1 % |
|
keroncong |
Pembunuhan Oleh: Seno Gumira Ajidarma hampir malam di Yogya | 0 % | |
| ira Ajidarma hampir malam di Yogya ketika keretaku tiba Lagu |
keroncong |
membuatku ngantuk, padahal malam ini aku harus membunuh sese | 1 % |
| lam renang, tapi tampaknya tak banyak yang mendengarkan lagu |
keroncong |
itu dengan sungguh-sungguh. Mereka bercakap sendiri, riuh da | 3 % |
| sepasang mata bola dari balik jendela Belum habis juga lagu |
keroncong |
itu. Rasanya lama sekali. Seperti juga orang-orang di bawah | 26 % |
| aku tak perlu mendengarkannya dengan sungguh-sungguh. Musik |
keroncong |
sekarang ini seperti benda museum, para senimannya kurang je | 27 % |
| n main gila.” selendang sutra tanda mata darimu Busyet! Lagu |
keroncong |
itu lagi, jelas sekali di telingaku. Pasti ia berada di deka | 64 % |
| ari sekitar orkes. Teleskopku sempat mampir di dada penyanyi |
keroncong |
yang membusung itu. Ada beberapa kerumunan. Di telingaku jug | 65 % |
| an membuat mereka terkenang-kenang akan masa lalunya. Inilah |
keroncong |
fantasiii | 100 % |
| seperti pohon ditebang, bisa pula tersentak dan mengacaukan |
kerumunan |
orang yang sedang tertawa-tawa itu, menumpahkan gelas pada n | 8 % |
| ini, jadi enak untuk kamu.” Kulihat ke bawah, mereka seperti |
kerumunan |
makhluk-makhluk kecil, tentu tak terlalu jelas mana yang ber | 38 % |
| nggeser senapan itu. Dengan indra keenam ia kucari di antara |
kerumunan |
orang banyak. Wajah-wajah cantik silih berganti mengisi tele | 61 % |
| ke arahku dengan kaget. “Katakan padaku,” kataku lagi, “apa |
kesalahan |
orang itu?” “Tembak dia sekarang tolol, atau kamu akan mati! | 82 % |
| ng tidak bersalah.” “Itu urusanku sendiri, katakan cepat apa |
kesalahan |
orang itu!” Wanita itu tampak beranjak akan lari. “Jangan la | 86 % |
| penyanyi itu, yang memulai lagi sebuah lagu keroncong, lagu |
kesenangan |
orang-orang tua. Ini memang akan membuat mereka terkenang-ke | 99 % |
| enyum-senyum. Aku juga tersenyum. Sebentar lagi wajahmu akan |
ketakutan |
tanpa tahu malu. Tapi aku tidak melakukan itu. Aku hanya bek | 41 % |
| Pembunuhan Oleh: Seno Gumira Ajidarma hampir malam di Yogya |
ketika |
keretaku tiba Lagu keroncong membuatku ngantuk, padahal mala | 1 % |
| bunuhan seperti ini. “Siapa sasaranku?” tanyaku minggu lalu, |
ketika |
dia memesan penembakan ini. Dilakukan lewat telepon seperti | 17 % |
| r kematian orang ini, dan tangis itu akan makin menjadi-jadi |
ketika |
mengetahui cara kematiannya. Biar saja. Bukankah ia seorang | 53 % |
| gguk-angguk sambil mencuri pandang ke sekelilingnya. Seperti |
khawatir |
ada yang mendengar. Aku sudah siap menembak. Satu tekanan te | 75 % |
| u. Ia sedang bercerita dengan berapi-api. Tangannya bergerak |
kian |
kemari, mengepal dan memukul-mukulkan tinjunya pada telapak | 97 % |
| culkan pesonanya sendiri, yang berbeda dibanding dengan bila |
kita |
berhadapan langsung dengan orangnya. Ia tak banyak bicara, n | 49 % |
| “Ia pengkhianat, ia menjelek-jelekkan nama bangsa dan negara |
kita |
di luar negeri.” “Cuma itu?” “Ia meresahkan masyarakat denga | 89 % |
| akan masa lalunya. Mereka terserak di bawah sana, di sekitar |
kolam |
renang, tapi tampaknya tak banyak yang mendengarkan lagu ker | 2 % |
| layan. Tentu lebih menarik lagi kalau tubuh itu terpental ke |
kolam |
renang dengan suara bergedebur sehingga airnya muncrat memba | 9 % |
| ebur sehingga airnya muncrat membasahi pakaian para tamu dan |
kolam |
renang itu segera berwarna merah karena darah dan wanita-wan | 10 % |
| embawa walkie-talkie. Agaknya pesta kambing-guling pada tepi |
kolam |
renang dalam sebuah hotel di tepi pantai ini dihadiri orang- | 32 % |
| ku lewat mike yang tergantung di bawah daguku. “Dia di sudut |
kolam |
renang sebelah selatan, dekat payung hijau.” Kugeserkan sena | 42 % |
| anya. “Apakah harus kulakukan sekarang?” “Nanti dulu, tunggu |
komando!” |
Dan aku mengamati wajah itu. Adakah ia mempunyai firasat? Da | 47 % |
| ya aku pun tak perlu terlalu repot mencarinya karena pesawat |
komunikasi |
yang terpasang pada telingaku siap menunjukkan orangnya. “Ka | 12 % |
| isa kukira-kira saja. “Kau tidak perlu tahu, ini bagian dari |
kontrak |
kita.” Kontrak semacam ini memang sering terjadi. Aku dibaya | 19 % |
| saja. “Kau tidak perlu tahu, ini bagian dari kontrak kita.” |
kontrak |
semacam ini memang sering terjadi. Aku dibayar untuk menemba | 19 % |
| iadili saja?” “Apa urusanmu tolol? Tembak dia sekarang, atau |
kontrak |
kubatalkan!” Perasaan aneh tiba-tiba merasuki diriku. Aku ma | 80 % |
| u saja. Namun sungguh mati, aku akan sangat berbahagia kalau |
korbanku |
kali ini adalah seseorang yang memuakkan. Kuedarkan lagi sen | 25 % |
| kamu akan mati!” “Justru kamu yang bisa segera mati.” “Omong |
kosong! |
Kamu tak tahu di mana aku.” “Kamu memakai cheongsam dengan b | 83 % |
| dan pangkal. Wanita ini tentu hanya salah satu mata rantai. |
kualihkan |
senapanku kembali pada sasaran. Lelaki setengah tua itu seda | 73 % |
| las mana yang berbaju batik merah dari lantai 7 seperti ini. |
kuangkat |
kembali senapanku. Kucari posisi yang enak. Sambil mengunyah | 39 % |
| di depan orang yang harus kamu tembak.” “Berkacamata?” “Ya.” |
kuarahkan |
senapanku ke sana. Dan aku melihat orang itu. Ia sedang berc | 96 % |
| aja?” “Apa urusanmu tolol? Tembak dia sekarang, atau kontrak |
kubatalkan!” |
Perasaan aneh tiba-tiba merasuki diriku. Aku malah mengarahk | 80 % |
| penuh tipu daya. Sangat memuakkan. Padahal ia pun sudah tua. |
kubidikkan |
garis silang teleskopku ke jantungnya, sementara di telingak | 98 % |
| merah dari lantai 7 seperti ini. Kuangkat kembali senapanku. |
kucari |
posisi yang enak. Sambil mengunyah kacang aku mengintip kemb | 39 % |
| rgerak sendiri menggeser senapan itu. Dengan indra keenam ia |
kucari |
di antara kerumunan orang banyak. Wajah-wajah cantik silih b | 61 % |
| , jelas sekali di telingaku. Pasti ia berada di dekat orkes. |
kucari-cari |
sekitar orkes. Teleskopku sempat mampir di dada penyanyi ker | 64 % |
| gia kalau korbanku kali ini adalah seseorang yang memuakkan. |
kuedarkan |
lagi senapanku. Mengintip kelakuan orang tanpa diketahui ras | 25 % |
| a dan negara. Apakah aku termasuk pahlawan jika menembaknya? |
kugerakkan |
lagi senapanku. Dari balik teleskop kuteliti orang-orang yan | 21 % |
| an mengakhiri riwayat lelaki itu. Garis silang pada teleskop |
kugeser |
agak ke samping, supaya lubang peluru pada kepalanya tidak m | 76 % |
| di sudut kolam renang sebelah selatan, dekat payung hijau.” |
kugeserkan |
senapanku ke kanan. Kulewati lagi wajah-wajah berlemak, klim | 43 % |
| apa?” “Aku…aku bisa celaka.” “Sekarang pun kamu bisa celaka. |
kuhitung |
sampai tiga. Satu…” “Kamu gila, kamu merusak segala-galanya. | 94 % |
| lakukan lewat telepon seperti itu, tentu wajahnya hanya bisa |
kukira-kira |
saja. “Kau tidak perlu tahu, ini bagian dari kontrak kita.” | 18 % |
| skopku berhenti tepat di antara kedua matanya. “Apakah harus |
kulakukan |
sekarang?” “Nanti dulu, tunggu komando!” Dan aku mengamati w | 47 % |
| h dan langit penuh bintang. Bahkan bulan pun sedang purnama. |
kuletakkan |
senapanku karena pegal. Aku berjalan ke dalam kamar, mengamb | 33 % |
| selatan, dekat payung hijau.” Kugeserkan senapanku ke kanan. |
kulewati |
lagi wajah-wajah berlemak, klimis, dan gemerlapan. Wanita-wa | 43 % |
| lemak, klimis, dan gemerlapan. Wanita-wanita cantik terpaksa |
kulewati |
begitu saja. Dan, nah, itu dia, seorang lelaki yang mamakai | 44 % |
| ulan satu-satunya yang merah di sini, jadi enak untuk kamu.” |
kulihat |
ke bawah, mereka seperti kerumunan makhluk-makhluk kecil, te | 38 % |
| mbaklah dia sekarang,” ujarnya pelan dalam headphone-ku, dan |
kulihat |
dari teleskop dia memang berkata-kata sendiri. Rupanya betul | 69 % |
| adamu manis,” kataku dingin. “Apa-apaan ini?” Dalam teleskop |
kulihat |
wajahnya mendongak ke arahku dengan kaget. “Katakan padaku,” | 81 % |
| sam dengan belahan di paha, kamu ada di belakang orkes.” Dan |
kulihat |
wajahnya menjadi pucat. “Kamu sudah melanggar kontrak.” “Aku | 84 % |
| ku bisa segera lenyap.” Wajahnya menatap ke atas, ke arahku. |
kulihat |
ia berkeringat dingin. Gelisah. “Apa maumu?” “Katakan kesala | 88 % |
| , mengambil kacang dari meja. Kupasang televisi, tapi segera |
kumatikan |
lagi. Acara televisi selalu buruk. Sunyi sekali rasanya kama | 34 % |
| al. Aku berjalan ke dalam kamar, mengambil kacang dari meja. |
kupasang |
televisi, tapi segera kumatikan lagi. Acara televisi selalu | 34 % |
| entang yang lain. Mungkin ia punya istri, punya anak. Bahkan |
kupikir |
ia pun pantas punya cucu. Mereka akan bertangisan setelah me | 52 % |
| yang makin banyak saja berdatangan. Ada sesuatu yang terasa |
kurang |
enak setiap kali aku menatap wajah orang-orang di bawah itu. | 22 % |
| mereka adalah wajah orang baik-baik, tapi entahlah apa yang |
kurang |
enak di sana. Apakah karena banyak yang memakai baju resmi, | 23 % |
| keroncong sekarang ini seperti benda museum, para senimannya |
kurang |
jenius untuk membuatnya lebih berkembang. Di manakah wanita | 28 % |
| idak membunuh orang, aku hanya membidik dan menekan pelatuk. |
kutatap |
lagi wajah itu, rasanya begitu dekat, bahkan pori-porinya te | 57 % |
| sekali berhenti pada dahi seseorang, dan mengikutinya. Kalau |
kutekankan |
telunjukku, tak pelak lagi dahi itu akan berlubang. Dan tubu | 7 % |
| menembaknya? Kugerakkan lagi senapanku. Dari balik teleskop |
kuteliti |
orang-orang yang makin banyak saja berdatangan. Ada sesuatu | 22 % |
| un yang tidak menyebalkan. Apakah yang akan terjadi kalau ia |
kutembak |
mati? Aku teringat kematian Ninoy di Filipina…. Tapi aku tid | 51 % |
| ng, dan mengikutinya. Kalau kutekankan telunjukku, tak pelak |
lagi |
dahi itu akan berlubang. Dan tubuh orang itu akan roboh. Bis | 7 % |
| gelas pada nampang yang dibawa pelayan. Tentu lebih menarik |
lagi |
kalau tubuh itu terpental ke kolam renang dengan suara berge | 9 % |
| a. Apakah aku termasuk pahlawan jika menembaknya? Kugerakkan |
lagi |
senapanku. Dari balik teleskop kuteliti orang-orang yang mak | 21 % |
| korbanku kali ini adalah seseorang yang memuakkan. Kuedarkan |
lagi |
senapanku. Mengintip kelakuan orang tanpa diketahui rasanya | 25 % |
| segelas bir. “Hei, kamu masih di situ?” tiba-tiba terdengar |
lagi |
suara itu. “Ya, kenapa?” “Jangan main-main! Aku tahu kamu ti | 36 % |
| tawa-tawa dan tersenyum-senyum. Aku juga tersenyum. Sebentar |
lagi |
wajahmu akan ketakutan tanpa tahu malu. Tapi aku tidak melak | 41 % |
| dekat payung hijau.” Kugeserkan senapanku ke kanan. Kulewati |
lagi |
wajah-wajah berlemak, klimis, dan gemerlapan. Wanita-wanita | 43 % |
| bunuh orang, aku hanya membidik dan menekan pelatuk. Kutatap |
lagi |
wajah itu, rasanya begitu dekat, bahkan pori-porinya terliha | 57 % |
| nat?” “Tidak usah tanya-tanya, tembak sekarang!” Aku menatap |
lagi |
matanya, pengkhianat yang bagaimana? “Pengkhianat yang bagai | 79 % |
| ntara di telingaku mengiang suara penyanyi itu, yang memulai |
lagi |
sebuah lagu keroncong, lagu kesenangan orang-orang tua. Ini | 99 % |
| o Gumira Ajidarma hampir malam di Yogya ketika keretaku tiba |
lagu |
keroncong membuatku ngantuk, padahal malam ini aku harus mem | 1 % |
| ku harus membunuh seseorang. Orang-orang tua memang menyukai |
lagu |
keroncong, ini membuat mereka terkenang-kenang akan masa lal | 2 % |
| ar kolam renang, tapi tampaknya tak banyak yang mendengarkan |
lagu |
keroncong itu dengan sungguh-sungguh. Mereka bercakap sendir | 3 % |
| gkan. sepasang mata bola dari balik jendela Belum habis juga |
lagu |
keroncong itu. Rasanya lama sekali. Seperti juga orang-orang | 26 % |
| jangan main gila.” selendang sutra tanda mata darimu Busyet! |
lagu |
keroncong itu lagi, jelas sekali di telingaku. Pasti ia bera | 64 % |
| ingaku mengiang suara penyanyi itu, yang memulai lagi sebuah |
lagu |
keroncong, lagu kesenangan orang-orang tua. Ini memang akan | 99 % |
| suara penyanyi itu, yang memulai lagi sebuah lagu keroncong, |
lagu |
kesenangan orang-orang tua. Ini memang akan membuat mereka t | 99 % |
| embak orang yang tidak bersalah." “Itu bukan urusanmu, tahun |
lalu |
kamu menembak ribuan orang yang tidak bersalah.” “Itu urusan | 85 % |
| i balik jendela Belum habis juga lagu keroncong itu. Rasanya |
lama |
sekali. Seperti juga orang-orang di bawah sana, aku tak perl | 27 % |
| epi pantai ini dihadiri orang-orang penting. Malam cerah dan |
langit |
penuh bintang. Bahkan bulan pun sedang purnama. Kuletakkan s | 33 % |
| sendiri, yang berbeda dibanding dengan bila kita berhadapan |
langsung |
dengan orangnya. Ia tak banyak bicara, namun tampaknya ia ha | 49 % |
| yang mana orangnya?” “Sabar dong, sebentar lagi.” Dari teras |
lantai |
7 hotel ini, aku masih mengintip lewat teleskop. Angin laut | 14 % |
| , tentu tak terlalu jelas mana yang berbaju batik merah dari |
lantai |
7 seperti ini. Kuangkat kembali senapanku. Kucari posisi yan | 39 % |
| nya kamar hotel ini. Aku ingin buru-buru menembak sasaranku, |
lantas |
pulang dan minum segelas bir. “Hei, kamu masih di situ?” tib | 35 % |
| antai 7 hotel ini, aku masih mengintip lewat teleskop. Angin |
laut |
yang basah terasa asin di bibirku. Iseng-iseng sambil menung | 15 % |
| u, menumpahkan gelas pada nampang yang dibawa pelayan. Tentu |
lebih |
menarik lagi kalau tubuh itu terpental ke kolam renang denga | 9 % |
| benda museum, para senimannya kurang jenius untuk membuatnya |
lebih |
berkembang. Di manakah wanita yang bersuara lembut itu? Di m | 28 % |
| ik terpaksa kulewati begitu saja. Dan, nah, itu dia, seorang |
lelaki |
yang mamakai baju batik berwarna merah. Wajahnya tampan dan | 44 % |
| satu mata rantai. Kualihkan senapanku kembali pada sasaran. |
lelaki |
setengah tua itu sedang mendengarkan cerita seseorang di had | 73 % |
| gan sabar. Orang yang bercerita itu tampak berapi-api, namun |
lelaki |
itu kelihatannya menahan diri untuk tidak ikut terbakar. Ia | 74 % |
| siap menembak. Satu tekanan telunjuk akan mengakhiri riwayat |
lelaki |
itu. Garis silang pada teleskop kugeser agak ke samping, sup | 76 % |
| membuatnya lebih berkembang. Di manakah wanita yang bersuara |
lembut |
itu? Di mana-mana orang mengunyah makanan, menyeruput minuma | 29 % |
| g dan berbicara padaku lewat mikrofon yang tersembunyi dalam |
leontin |
kalungnya. Leontin yang indah, terpajang di dadanya yang tip | 70 % |
| aku lewat mikrofon yang tersembunyi dalam leontin kalungnya. |
leontin |
yang indah, terpajang di dadanya yang tipis. “Apa?” tanyaku | 70 % |
| nuhnya.” “Itu bukan urusanmu. Ini politik.” “Urusanku adalah |
leontinmu |
manis, ia bisa pecah berantakan oleh peluruku, dan peluru it | 91 % |
| k wanita muda. Paling tidak itulah yang menarik perhatianku. |
lewat |
teleskop pada senapan ini, aku memperhatikan mereka satu per | 5 % |
| ar lagi.” Dari teras lantai 7 hotel ini, aku masih mengintip |
lewat |
teleskop. Angin laut yang basah terasa asin di bibirku. Isen | 14 % |
| ku minggu lalu, ketika dia memesan penembakan ini. Dilakukan |
lewat |
telepon seperti itu, tentu wajahnya hanya bisa kukira-kira s | 18 % |
| isi yang enak. Sambil mengunyah kacang aku mengintip kembali |
lewat |
teleskop. Garis silang itu kembali beredar dari wajah ke waj | 40 % |
| bekerja berdasarkan kontrak. “Di sebelah mana dia?” tanyaku |
lewat |
mike yang tergantung di bawah daguku. “Dia di sudut kolam re | 42 % |
| memang berkata-kata sendiri. Rupanya betul dia. Ia mendengar |
lewat |
giwang dan berbicara padaku lewat mikrofon yang tersembunyi | 70 % |
| ya betul dia. Ia mendengar lewat giwang dan berbicara padaku |
lewat |
mikrofon yang tersembunyi dalam leontin kalungnya. Leontin y | 70 % |
| ul-mukulkan tinjunya pada telapak tangan yang lain. Wajahnya |
licik |
dan penuh tipu daya. Sangat memuakkan. Padahal ia pun sudah | 97 % |
| khianat, ia menjelek-jelekkan nama bangsa dan negara kita di |
luar |
negeri.” “Cuma itu?” “Ia meresahkan masyarakat dengan pernya | 89 % |
| . Garis silang pada teleskop kugeser agak ke samping, supaya |
lubang |
peluru pada kepalanya tidak membuat pembagian yang terlalu s | 76 % |
| u wanita bertampang juragan. Mungkin satunya lagi. Rambutnya |
lurus |
dan hitam dengan poni menutup dahinya. Matanya menatap tajam | 68 % |
| tunggu!” “Ini tidak ada dalam perjanjian.” “Ada! Kamu jangan |
main |
gila.” selendang sutra tanda mata darimu Busyet! Lagu keronc | 63 % |
| ?” tiba-tiba terdengar lagi suara itu. “Ya, kenapa?” “Jangan |
main-main! |
Aku tahu kamu tidak di tempat!” Aku bergegas kembali ke tera | 36 % |
| mpak berjiwa pegawai, menyembunyikan diri dengan sopan, tapi |
makan |
banyak-banyak. Tampak pula petugas berpakaian preman mondar- | 31 % |
| enak untuk kamu.” Kulihat ke bawah, mereka seperti kerumunan |
makhluk-makhluk |
kecil, tentu tak terlalu jelas mana yang berbaju batik merah | 38 % |
| agi senapanku. Dari balik teleskop kuteliti orang-orang yang |
makin |
banyak saja berdatangan. Ada sesuatu yang terasa kurang enak | 22 % |
| an setelah mendengar kematian orang ini, dan tangis itu akan |
makin |
menjadi-jadi ketika mengetahui cara kematiannya. Biar saja. | 53 % |
| ak kubatalkan!” Perasaan aneh tiba-tiba merasuki diriku. Aku |
malah |
mengarahkan senapan pada wanita itu. “Laras senapanku mengar | 80 % |
| itu, akukah atau Kamu? Orang itu tak sadar sama sekali kalau |
malaikan |
maut telah mengelus-elus tengkuknya. “Bagaimana? Sekarang?” | 59 % |
| Keroncong Pembunuhan Oleh: Seno Gumira Ajidarma hampir |
malam |
di Yogya ketika keretaku tiba Lagu keroncong membuatku ngant | 0 % |
| tika keretaku tiba |