click here for the word frequency
Keroncong Pembunuhan
Experimental Concordance Program
The text:
---60---Keroncong Pembunuhan Oleh: Seno
Gumira Ajidarma hampir malam di Yogya ketika keretaku tiba Lagu keroncong
membuatku ngantuk, padahal malam ini aku harus membunuh seseorang. Orang-orang
tua memang menyukai lagu keroncong, ini membuat mereka terkenang-kenang akan
masa lalunya. Mereka terserak di bawah sana, di sekitar kolam renang, tapi
tampaknya tak banyak yang mendengarkan lagu keroncong itu dengan sungguh-sungguh.
Mereka bercakap sendiri, riuh dan tawa sesekali pecah dari tiap kerumunan. Tak
semuanya tua memang, bahkan banyak wanita muda. Paling tidak itulah yang menarik
perhatianku. Lewat teleskop pada senapan ini, aku memperhatikan mereka satu per
satu, seolah-olah aku berada di antara mereka. Sebuah pesta yang meriah. Ada
kambing-guling. Hmmm… Garis silang pada teleskop itu terus saja bergerak.
Sesekali berhenti pada dahi seseorang, dan mengikutinya. Kalau kutekankan
telunjukku, tak pelak lagi dahi itu akan berlubang. Dan tubuh orang itu akan
roboh. Bisa roboh perlahan-lahan seperti pohon ditebang, bisa pula tersentak dan
mengacaukan kerumunan orang yang sedang tertawa-tawa itu, menumpahkan gelas pada
nampang yang dibawa pelayan. Tentu lebih menarik lagi kalau tubuh itu terpental
ke kolam renang dengan suara bergedebur sehingga airnya muncrat membasahi
pakaian para tamu dan kolam renang itu segera berwarna merah karena darah dan
wanita-wanita berteriak: “Auuww!” Tapi aku belum menemukan orang yang mesti
kubunuh. Memang belum waktunya. Ia akan datang sebentar lagi. Dan sebetulnya aku
pun tak perlu terlalu repot mencarinya karena pesawat komunikasi yang terpasang
pada telingaku siap menunjukkan orangnya. “Kamu sudah siap?” terdengar suara
pada headphone itu, sebuah suara yang merdu. “Dari tadi aku sudah siap, yang
mana orangnya?” “Sabar dong, sebentar lagi.” Dari teras lantai 7 hotel ini, aku
masih mengintip lewat teleskop. Angin laut yang basah terasa asin di bibirku.
Iseng-iseng sambil menunggu sasaran, aku mencari orang yang berbicara padaku.
Dan aku melihat wajah-wajah pada teleskop. Para wanita dengan pakaian malam yang
anggun. Ada yang punggungnya terbuka. Cantik sekali. Aku tak mengira seorang
wanita akan terlibat dalam pembunuhan seperti ini. “Siapa sasaranku?” tanyaku
minggu lalu, ketika dia memesan penembakan ini. Dilakukan lewat telepon seperti
itu, tentu wajahnya hanya bisa kukira-kira saja. “Kau tidak perlu tahu, ini
bagian dari kontrak kita.” Kontrak semacam ini memang sering terjadi. Aku
dibayar untuk menembak, siapa yang jadi sasaran bukan urusanku. “Tapi satu hal
kau boleh tahu.” “Apa?" “Orang itu pengkhianat.” “Pengkhianat?” “Ya, pengkhianat
bangsa dan negara.” Jadi, sasaranku adalah seorang pengkhianat bangsa dan negara.
Apakah aku termasuk pahlawan jika menembaknya? Kugerakkan lagi senapanku. Dari
balik teleskop kuteliti orang-orang yang makin banyak saja berdatangan. Ada
sesuatu yang terasa kurang enak setiap kali aku menatap wajah orang-orang di
bawah itu. Memang wajah mereka adalah wajah orang baik-baik, tapi entahlah apa
yang kurang enak di sana. Apakah karena banyak yang memakai baju resmi, seragam
yang kubenci? Ataukah karena perasaanku saja. Namun sungguh mati, aku akan
sangat berbahagia kalau korbanku kali ini adalah seseorang yang memuakkan.
Kuedarkan lagi senapanku. Mengintip kelakuan orang tanpa diketahui rasanya
menyenangkan. sepasang mata bola dari balik jendela Belum habis juga lagu
keroncong itu. Rasanya lama sekali. Seperti juga orang-orang di bawah sana, aku
tak perlu mendengarkannya dengan sungguh-sungguh. Musik keroncong sekarang ini
seperti benda museum, para senimannya kurang jenius untuk membuatnya lebih
berkembang. Di manakah wanita yang bersuara lembut itu? Di mana-mana orang
mengunyah makanan, menyeruput minuman, tersenyum dan tertawa. Ada ibu-ibu
berdiri dengan kaku di samping suaminya yang sibuk bicara dengan tangan
bergerak-gerak ke segala penjuru. Bapak-bapak yang dari wajahnya tampak berjiwa
pegawai, menyembunyikan diri dengan sopan, tapi makan banyak-banyak. Tampak pula
petugas berpakaian preman mondar-mandir membawa walkie-talkie. Agaknya pesta
kambing-guling pada tepi kolam renang dalam sebuah hotel di tepi pantai ini
dihadiri orang-orang penting. Malam cerah dan langit penuh bintang. Bahkan bulan
pun sedang purnama. Kuletakkan senapanku karena pegal. Aku berjalan ke dalam
kamar, mengambil kacang dari meja. Kupasang televisi, tapi segera kumatikan lagi.
Acara televisi selalu buruk. Sunyi sekali rasanya kamar hotel ini. Aku ingin
buru-buru menembak sasaranku, lantas pulang dan minum segelas bir. “Hei, kamu
masih di situ?” tiba-tiba terdengar lagi suara itu. “Ya, kenapa?” “Jangan
main-main! Aku tahu kamu tidak di tempat!” Aku bergegas kembali ke teras.
“Bagaimana? Sudah datang orangnya?” “Dia memakai baju batik merah, kebetulan
satu-satunya yang merah di sini, jadi enak untuk kamu.” Kulihat ke bawah, mereka
seperti kerumunan makhluk-makhluk kecil, tentu tak terlalu jelas mana yang
berbaju batik merah dari lantai 7 seperti ini. Kuangkat kembali senapanku.
Kucari posisi yang enak. Sambil mengunyah kacang aku mengintip kembali lewat
teleskop. Garis silang itu kembali beredar dari wajah ke wajah. Mereka masih
tertawa-tawa dan tersenyum-senyum. Aku juga tersenyum. Sebentar lagi wajahmu
akan ketakutan tanpa tahu malu. Tapi aku tidak melakukan itu. Aku hanya bekerja
berdasarkan kontrak. “Di sebelah mana dia?” tanyaku lewat mike yang tergantung
di bawah daguku. “Dia di sudut kolam renang sebelah selatan, dekat payung hijau.”
Kugeserkan senapanku ke kanan. Kulewati lagi wajah-wajah berlemak, klimis, dan
gemerlapan. Wanita-wanita cantik terpaksa kulewati begitu saja. Dan, nah, itu
dia, seorang lelaki yang mamakai baju batik berwarna merah. Wajahnya tampan dan
berwibawa. Ia sudah setengah umur tapi tak tampak telah uzur. Rambutnya disisr
rapi ke belakang. Ia tak banyak tertawa dan tersenyum. Orang-orang
mengerumuninya dengan hormat. Ada juga yang berwajah menjilat. Garis silang pada
teleskopku berhenti tepat di antara kedua matanya. “Apakah harus kulakukan
sekarang?” “Nanti dulu, tunggu komando!” Dan aku mengamati wajah itu. Adakah ia
mempunyai firasat? Dari balik teleskop ini, wajah-wajah memunculkan pesonanya
sendiri, yang berbeda dibanding dengan bila kita berhadapan langsung dengan
orangnya. Ia tak banyak bicara, namun tampaknya ia harus menjawab banyak
pertanyaan. Dan aku merasa bahwa ia sangat hati-hati menjawab. Wajahnya
menunjukkan niat bersopan santun yang tidak menyebalkan. Apakah yang akan
terjadi kalau ia kutembak mati? Aku teringat kematian Ninoy di Filipina…. Tapi
aku tidak tahu politik. Jadi, sambil menatap wajah yang akan berlubang itu, aku
berpikir tentang yang lain. Mungkin ia punya istri, punya anak. Bahkan kupikir
ia pun pantas punya cucu. Mereka akan bertangisan setelah mendengar kematian
orang ini, dan tangis itu akan makin menjadi-jadi ketika mengetahui cara
kematiannya. Biar saja. Bukankah ia seorang pengkhianat bangsa dan negara? Ia
pantas mendapatkan hukumannya. Agak tegang juga aku menunggu perintah menembak.
Itulah repotnya selalu bekerja berdasarkan kontrak. Tidak bisa seenaknya sendiri.
Aku dibayar untuk mengarahkan garis silang teleskop senapanku pada tempat yang
paling mematikan, untuk kemudian menekan pelatuknya. Aku selalu mengatakan pada
diriku sendiri bahwa aku tidak membunuh orang, aku hanya membidik dan menekan
pelatuk. Kutatap lagi wajah itu, rasanya begitu dekat, bahkan pori-porinya
terlihat dengan jelas. Aku bagaikan menatap bayang-bayang takdir. Siapakah
sebenarnya yang menghentikan kehidupan orang itu, akukah atau Kamu? Orang itu
tak sadar sama sekali kalau malaikan maut telah mengelus-elus tengkuknya.
“Bagaimana? Sekarang?” “Aku bilang tunggu perintah!” Sialan cewek itu, berani
benar membentak-bentak seorang pembunuh bayaran. Tanganku tiba-tiba bergerak
sendiri menggeser senapan itu. Dengan indra keenam ia kucari di antara kerumunan
orang banyak. Wajah-wajah cantik silih berganti mengisi teleskopku. Aku harus
memancing dia bicara. “Tunggu perintah apa lagi?” “Kau tak perlu tahu, pokoknya
tunggu!” “Ini tidak ada dalam perjanjian.” “Ada! Kamu jangan main gila.”
selendang sutra tanda mata darimu Busyet! Lagu keroncong itu lagi, jelas sekali
di telingaku. Pasti ia berada di dekat orkes. Kucari-cari sekitar orkes.
Teleskopku sempat mampir di dada penyanyi keroncong yang membusung itu. Ada
beberapa kerumunan. Di telingaku juga berdentang bunyi gelas dan piring. Ia
mungkin di belakang orkes, dekat meja prasmanan. Ada beberapa wanita, dan
petugas-petugas berpakaian preman. Yang mana? Aku meneliti mereka satu per satu.
Beberapa di antaranya jelas cuma pegawai perusahaan catering. Ada satu wanita
bertampang juragan. Mungkin satunya lagi. Rambutnya lurus dan hitam dengan poni
menutup dahinya. Matanya menatap tajam ke arah si baju batik merah! “Tembaklah
dia sekarang,” ujarnya pelan dalam headphone-ku, dan kulihat dari teleskop dia
memang berkata-kata sendiri. Rupanya betul dia. Ia mendengar lewat giwang dan
berbicara padaku lewat mikrofon yang tersembunyi dalam leontin kalungnya.
Leontin yang indah, terpajang di dadanya yang tipis. “Apa?” tanyaku lagi, karena
ingin meyakinkan, memang dia orangnya. “Tembak sekarang!” Jadi seperti inilah
semua pembunuhan itu berlangsung. Mata rantai tanpa ujung dan pangkal. Wanita
ini tentu hanya salah satu mata rantai. Kualihkan senapanku kembali pada sasaran.
Lelaki setengah tua itu sedang mendengarkan cerita seseorang di hadapannya
dengan sabar. Orang yang bercerita itu tampak berapi-api, namun lelaki itu
kelihatannya menahan diri untuk tidak ikut terbakar. Ia mengangguk-angguk sambil
mencuri pandang ke sekelilingnya. Seperti khawatir ada yang mendengar. Aku sudah
siap menembak. Satu tekanan telunjuk akan mengakhiri riwayat lelaki itu. Garis
silang pada teleskop kugeser agak ke samping, supaya lubang peluru pada
kepalanya tidak membuat pembagian yang terlalu simetris. Peluruku akan menembus
mata kirinya. Dan aku menatap mata orang itu. Astaga. Benarkah dia seorang
pengkhianat? “Kau tidak keliru? Benarkah ia seorang pengkhianat?” “Tidak usah
tanya-tanya, tembak sekarang!” Aku menatap lagi matanya, pengkhianat yang
bagaimana? “Pengkhianat yang bagaimana? Kenapa tidak diadili saja?” “Apa
urusanmu tolol? Tembak dia sekarang, atau kontrak kubatalkan!” Perasaan aneh
tiba-tiba merasuki diriku. Aku malah mengarahkan senapan pada wanita itu. “Laras
senapanku mengarah padamu manis,” kataku dingin. “Apa-apaan ini?” Dalam teleskop
kulihat wajahnya mendongak ke arahku dengan kaget. “Katakan padaku,” kataku lagi,
“apa kesalahan orang itu?” “Tembak dia sekarang tolol, atau kamu akan mati!”
“Justru kamu yang bisa segera mati.” “Omong kosong! Kamu tak tahu di mana aku.”
“Kamu memakai cheongsam dengan belahan di paha, kamu ada di belakang orkes.” Dan
kulihat wajahnya menjadi pucat. “Kamu sudah melanggar kontrak.” “Aku tidak mau
menembak orang yang tidak bersalah." “Itu bukan urusanmu, tahun lalu kamu
menembak ribuan orang yang tidak bersalah.” “Itu urusanku sendiri, katakan cepat
apa kesalahan orang itu!” Wanita itu tampak beranjak akan lari. “Jangan lari,
tak ada gunanya, tak ada seorang pun yang akan tahu siapa menembakmu. Senapan
ini dilengkapi peredam. Kamu tahu tembakanku belum pernah luput, dan aku bisa
segera lenyap.” Wajahnya menatap ke atas, ke arahku. Kulihat ia berkeringat
dingin. Gelisah. “Apa maumu?” “Katakan kesalahannya.” “Ia pengkhianat, ia
menjelek-jelekkan nama bangsa dan negara kita di luar negeri.” “Cuma itu?” “Ia
meresahkan masyarakat dengan pernyataan-pernyataan yang tidak benar.” “Lantas?”
“Kamu mau apa? Aku tidak tahu banyak.” “Aku ingin tahu, apakah semua itu
merupakan alasan yang cukup untuk membunuhnya.” “Itu bukan urusanmu. Ini politik.”
“Urusanku adalah leontinmu manis, ia bisa pecah berantakan oleh peluruku, dan
peluru itu tak akan berhenti di situ.” Wajah itu kembali menatap ke arahku
dengan pandang menghiba. “Jangan tembak aku! Aku tidak tahu apa-apa!” “Siapa
yang menyuruhmu?” “Aku tidak tahu apa-apa.” “Leontinmu manis...” “Ah, jangan,
jangan tembak! Please...” “Siapa?” “Aku…aku bisa celaka.” “Sekarang pun kamu
bisa celaka. Kuhitung sampai tiga. Satu…” “Kamu gila, kamu merusak
segala-galanya.” “Dua....” Hmm, alangkah gugupnya dia. “Ia ada di depan orang
yang harus kamu tembak.” “Berkacamata?” “Ya.” Kuarahkan senapanku ke sana. Dan
aku melihat orang itu. Ia sedang bercerita dengan berapi-api. Tangannya bergerak
kian kemari, mengepal dan memukul-mukulkan tinjunya pada telapak tangan yang
lain. Wajahnya licik dan penuh tipu daya. Sangat memuakkan. Padahal ia pun sudah
tua. Kubidikkan garis silang teleskopku ke jantungnya, sementara di telingaku
mengiang suara penyanyi itu, yang memulai lagi sebuah lagu keroncong, lagu
kesenangan orang-orang tua. Ini memang akan membuat mereka terkenang-kenang akan
masa lalunya. Inilah keroncong fantasiii
pre- text |
WORD |
post- text |
% |
| lu tahu, pokoknya tunggu!” “Ini tidak ada dalam perjanjian.” |
“ada! |
Kamu jangan main gila.” selendang sutra tanda mata darimu Bu | 63 % |
| maut telah mengelus-elus tengkuknya. “Bagaimana? Sekarang?” |
“aku |
bilang tunggu perintah!” Sialan cewek itu, berani benar memb | 60 % |
| ihat wajahnya menjadi pucat. “Kamu sudah melanggar kontrak.” |
“aku |
tidak mau menembak orang yang tidak bersalah." “Itu bukan ur | 84 % |
| dak benar.” “Lantas?” “Kamu mau apa? Aku tidak tahu banyak.” |
“aku |
ingin tahu, apakah semua itu merupakan alasan yang cukup unt | 90 % |
| embak aku! Aku tidak tahu apa-apa!” “Siapa yang menyuruhmu?” |
“aku |
tidak tahu apa-apa.” “Leontinmu manis...” “Ah, jangan, janga | 93 % |
| mu manis...” “Ah, jangan, jangan tembak! Please...” “Siapa?” |
“aku…aku |
bisa celaka.” “Sekarang pun kamu bisa celaka. Kuhitung sampa | 94 % |
| na? “Pengkhianat yang bagaimana? Kenapa tidak diadili saja?” |
“apa |
urusanmu tolol? Tembak dia sekarang, atau kontrak kubatalkan | 80 % |
| ongak ke arahku dengan kaget. “Katakan padaku,” kataku lagi, |
“apa |
kesalahan orang itu?” “Tembak dia sekarang tolol, atau kamu | 82 % |
| ke atas, ke arahku. Kulihat ia berkeringat dingin. Gelisah. |
“apa |
maumu?” “Katakan kesalahannya.” “Ia pengkhianat, ia menjelek | 88 % |
| na? “Pengkhianat yang bagaimana? Kenapa tidak diadili saja?” |
“apa |
urusanmu tolol? Tembak dia sekarang, atau kontrak kubatalkan | 80 % |
| ongak ke arahku dengan kaget. “Katakan padaku,” kataku lagi, |
“apa |
kesalahan orang itu?” “Tembak dia sekarang tolol, atau kamu | 82 % |
| ke atas, ke arahku. Kulihat ia berkeringat dingin. Gelisah. |
“apa |
maumu?” “Katakan kesalahannya.” “Ia pengkhianat, ia menjelek | 88 % |
| itu. “Laras senapanku mengarah padamu manis,” kataku dingin. |
“apa-apaan |
ini?” Dalam teleskop kulihat wajahnya mendongak ke arahku de | 81 % |
| lang pada teleskopku berhenti tepat di antara kedua matanya. |
“apakah |
harus kulakukan sekarang?” “Nanti dulu, tunggu komando!” Dan | 47 % |
| era berwarna merah karena darah dan wanita-wanita berteriak: |
“auuww!” |
Tapi aku belum menemukan orang yang mesti kubunuh. Memang be | 11 % |
| njelek-jelekkan nama bangsa dan negara kita di luar negeri.” |
“cuma |
itu?” “Ia meresahkan masyarakat dengan pernyataan-pernyataan | 89 % |
| terdengar suara pada headphone itu, sebuah suara yang merdu. |
“dari |
tadi aku sudah siap, yang mana orangnya?” “Sabar dong, seben | 13 % |
| tidak melakukan itu. Aku hanya bekerja berdasarkan kontrak. |
“di |
sebelah mana dia?” tanyaku lewat mike yang tergantung di baw | 42 % |
| rgegas kembali ke teras. “Bagaimana? Sudah datang orangnya?” |
“dia |
memakai baju batik merah, kebetulan satu-satunya yang merah | 37 % |
| na dia?” tanyaku lewat mike yang tergantung di bawah daguku. |
“dia |
di sudut kolam renang sebelah selatan, dekat payung hijau.” | 42 % |
| ringat dingin. Gelisah. “Apa maumu?” “Katakan kesalahannya.” |
“ia |
pengkhianat, ia menjelek-jelekkan nama bangsa dan negara kit | 89 % |
| kan nama bangsa dan negara kita di luar negeri.” “Cuma itu?” |
“ia |
meresahkan masyarakat dengan pernyataan-pernyataan yang tida | 89 % |
| rusak segala-galanya.” “Dua....” Hmm, alangkah gugupnya dia. |
“ia |
ada di depan orang yang harus kamu tembak.” “Berkacamata?” “ | 95 % |
| u perintah apa lagi?” “Kau tak perlu tahu, pokoknya tunggu!” |
“ini |
tidak ada dalam perjanjian.” “Ada! Kamu jangan main gila.” s | 63 % |
| ontrak.” “Aku tidak mau menembak orang yang tidak bersalah." |
“itu |
bukan urusanmu, tahun lalu kamu menembak ribuan orang yang t | 85 % |
| tahun lalu kamu menembak ribuan orang yang tidak bersalah.” |
“itu |
urusanku sendiri, katakan cepat apa kesalahan orang itu!” Wa | 85 % |
| ah semua itu merupakan alasan yang cukup untuk membunuhnya.” |
“itu |
bukan urusanmu. Ini politik.” “Urusanku adalah leontinmu man | 91 % |
| di situ?” tiba-tiba terdengar lagi suara itu. “Ya, kenapa?” |
“jangan |
main-main! Aku tahu kamu tidak di tempat!” Aku bergegas kemb | 36 % |
| kesalahan orang itu!” Wanita itu tampak beranjak akan lari. |
“jangan |
lari, tak ada gunanya, tak ada seorang pun yang akan tahu si | 86 % |
| Wajah itu kembali menatap ke arahku dengan pandang menghiba. |
“jangan |
tembak aku! Aku tidak tahu apa-apa!” “Siapa yang menyuruhmu? | 93 % |
| rang itu?” “Tembak dia sekarang tolol, atau kamu akan mati!” |
“justru |
kamu yang bisa segera mati.” “Omong kosong! Kamu tak tahu di | 83 % |
| asi yang terpasang pada telingaku siap menunjukkan orangnya. |
“kamu |
sudah siap?” terdengar suara pada headphone itu, sebuah suar | 13 % |
| isa segera mati.” “Omong kosong! Kamu tak tahu di mana aku.” |
“kamu |
memakai cheongsam dengan belahan di paha, kamu ada di belaka | 83 % |
| ada di belakang orkes.” Dan kulihat wajahnya menjadi pucat. |
“kamu |
sudah melanggar kontrak.” “Aku tidak mau menembak orang yang | 84 % |
| at dengan pernyataan-pernyataan yang tidak benar.” “Lantas?” |
“kamu |
mau apa? Aku tidak tahu banyak.” “Aku ingin tahu, apakah sem | 90 % |
| “Sekarang pun kamu bisa celaka. Kuhitung sampai tiga. Satu…” |
“kamu |
gila, kamu merusak segala-galanya.” “Dua....” Hmm, alangkah | 95 % |
| teleskop kulihat wajahnya mendongak ke arahku dengan kaget. |
“katakan |
padaku,” kataku lagi, “apa kesalahan orang itu?” “Tembak dia | 82 % |
| arahku. Kulihat ia berkeringat dingin. Gelisah. “Apa maumu?” |
“katakan |
kesalahannya.” “Ia pengkhianat, ia menjelek-jelekkan nama ba | 88 % |
| pon seperti itu, tentu wajahnya hanya bisa kukira-kira saja. |
“kau |
tidak perlu tahu, ini bagian dari kontrak kita.” Kontrak sem | 18 % |
| Aku harus memancing dia bicara. “Tunggu perintah apa lagi?” |
“kau |
tak perlu tahu, pokoknya tunggu!” “Ini tidak ada dalam perja | 62 % |
| ap mata orang itu. Astaga. Benarkah dia seorang pengkhianat? |
“kau |
tidak keliru? Benarkah ia seorang pengkhianat?” “Tidak usah | 78 % |
| asuki diriku. Aku malah mengarahkan senapan pada wanita itu. |
“laras |
senapanku mengarah padamu manis,” kataku dingin. “Apa-apaan | 81 % |
| apa-apa!” “Siapa yang menyuruhmu?” “Aku tidak tahu apa-apa.” |
“leontinmu |
manis...” “Ah, jangan, jangan tembak! Please...” “Siapa?” “A | 93 % |
| di antara kedua matanya. “Apakah harus kulakukan sekarang?” |
“nanti |
dulu, tunggu komando!” Dan aku mengamati wajah itu. Adakah i | 47 % |
| , atau kamu akan mati!” “Justru kamu yang bisa segera mati.” |
“omong |
kosong! Kamu tak tahu di mana aku.” “Kamu memakai cheongsam | 83 % |
| saran bukan urusanku. “Tapi satu hal kau boleh tahu.” “Apa?" |
“orang |
itu pengkhianat.” “Pengkhianat?” “Ya, pengkhianat bangsa dan | 20 % |
| rang!” Aku menatap lagi matanya, pengkhianat yang bagaimana? |
“pengkhianat |
yang bagaimana? Kenapa tidak diadili saja?” “Apa urusanmu to | 79 % |
| yang merdu. “Dari tadi aku sudah siap, yang mana orangnya?” |
“sabar |
dong, sebentar lagi.” Dari teras lantai 7 hotel ini, aku mas | 14 % |
| n, jangan tembak! Please...” “Siapa?” “Aku…aku bisa celaka.” |
“sekarang |
pun kamu bisa celaka. Kuhitung sampai tiga. Satu…” “Kamu gil | 94 % |
| a seorang wanita akan terlibat dalam pembunuhan seperti ini. |
“siapa |
sasaranku?” tanyaku minggu lalu, ketika dia memesan penembak | 17 % |
| ndang menghiba. “Jangan tembak aku! Aku tidak tahu apa-apa!” |
“siapa |
yang menyuruhmu?” “Aku tidak tahu apa-apa.” “Leontinmu manis | 93 % |
| ayar untuk menembak, siapa yang jadi sasaran bukan urusanku. |
“tapi |
satu hal kau boleh tahu.” “Apa?" “Orang itu pengkhianat.” “P | 20 % |
| tanyaku lagi, karena ingin meyakinkan, memang dia orangnya. |
“tembak |
sekarang!” Jadi seperti inilah semua pembunuhan itu berlangs | 71 % |
| t. “Katakan padaku,” kataku lagi, “apa kesalahan orang itu?” |
“tembak |
dia sekarang tolol, atau kamu akan mati!” “Justru kamu yang | 82 % |
| dahinya. Matanya menatap tajam ke arah si baju batik merah! |
“tembaklah |
dia sekarang,” ujarnya pelan dalam headphone-ku, dan kulihat | 69 % |
| hianat? “Kau tidak keliru? Benarkah ia seorang pengkhianat?” |
“tidak |
usah tanya-tanya, tembak sekarang!” Aku menatap lagi matanya | 78 % |
| berganti mengisi teleskopku. Aku harus memancing dia bicara. |
“tunggu |
perintah apa lagi?” “Kau tak perlu tahu, pokoknya tunggu!” “ | 62 % |
| cukup untuk membunuhnya.” “Itu bukan urusanmu. Ini politik.” |
“urusanku |
adalah leontinmu manis, ia bisa pecah berantakan oleh peluru | 91 % |
| na orangnya?” “Sabar dong, sebentar lagi.” Dari teras lantai |
7 |
hotel ini, aku masih mengintip lewat teleskop. Angin laut ya | 14 % |
| tak terlalu jelas mana yang berbaju batik merah dari lantai |
7 |
seperti ini. Kuangkat kembali senapanku. Kucari posisi yang | 39 % |
| ng dari meja. Kupasang televisi, tapi segera kumatikan lagi. |
acara |
televisi selalu buruk. Sunyi sekali rasanya kamar hotel ini. | 34 % |
| -olah aku berada di antara mereka. Sebuah pesta yang meriah. |
ada |
kambing-guling. Hmmm… Garis silang pada teleskop itu terus s | 6 % |
| pada teleskop. Para wanita dengan pakaian malam yang anggun. |
ada |
yang punggungnya terbuka. Cantik sekali. Aku tak mengira seo | 16 % |
| kop kuteliti orang-orang yang makin banyak saja berdatangan. |
ada |
sesuatu yang terasa kurang enak setiap kali aku menatap waja | 22 % |
| engunyah makanan, menyeruput minuman, tersenyum dan tertawa. |
ada |
ibu-ibu berdiri dengan kaku di samping suaminya yang sibuk b | 29 % |
| awa dan tersenyum. Orang-orang mengerumuninya dengan hormat. |
ada |
juga yang berwajah menjilat. Garis silang pada teleskopku be | 46 % |
| apa lagi?” “Kau tak perlu tahu, pokoknya tunggu!” “Ini tidak |
ada |
dalam perjanjian.” “Ada! Kamu jangan main gila.” selendang s | 63 % |
| sempat mampir di dada penyanyi keroncong yang membusung itu. |
ada |
beberapa kerumunan. Di telingaku juga berdentang bunyi gelas | 65 % |
| piring. Ia mungkin di belakang orkes, dekat meja prasmanan. |
ada |
beberapa wanita, dan petugas-petugas berpakaian preman. Yang | 66 % |
| eberapa di antaranya jelas cuma pegawai perusahaan catering. |
ada |
satu wanita bertampang juragan. Mungkin satunya lagi. Rambut | 67 % |
| uk sambil mencuri pandang ke sekelilingnya. Seperti khawatir |
ada |
yang mendengar. Aku sudah siap menembak. Satu tekanan telunj | 75 % |
| a aku.” “Kamu memakai cheongsam dengan belahan di paha, kamu |
ada |
di belakang orkes.” Dan kulihat wajahnya menjadi pucat. “Kam | 84 % |
| tu!” Wanita itu tampak beranjak akan lari. “Jangan lari, tak |
ada |
gunanya, tak ada seorang pun yang akan tahu siapa menembakmu | 86 % |
| ampak beranjak akan lari. “Jangan lari, tak ada gunanya, tak |
ada |
seorang pun yang akan tahu siapa menembakmu. Senapan ini dil | 87 % |
| k segala-galanya.” “Dua....” Hmm, alangkah gugupnya dia. “Ia |
ada |
di depan orang yang harus kamu tembak.” “Berkacamata?” “Ya.” | 95 % |
| ” “Nanti dulu, tunggu komando!” Dan aku mengamati wajah itu. |
adakah |
ia mempunyai firasat? Dari balik teleskop ini, wajah-wajah m | 47 % |
| ianat?” “Ya, pengkhianat bangsa dan negara.” Jadi, sasaranku |
adalah |
seorang pengkhianat bangsa dan negara. Apakah aku termasuk p | 21 % |
| menatap wajah orang-orang di bawah itu. Memang wajah mereka |
adalah |
wajah orang baik-baik, tapi entahlah apa yang kurang enak di | 23 % |
| guh mati, aku akan sangat berbahagia kalau korbanku kali ini |
adalah |
seseorang yang memuakkan. Kuedarkan lagi senapanku. Menginti | 25 % |
| k membunuhnya.” “Itu bukan urusanmu. Ini politik.” “Urusanku |
adalah |
leontinmu manis, ia bisa pecah berantakan oleh peluruku, dan | 91 % |
| khianat bangsa dan negara? Ia pantas mendapatkan hukumannya. |
agak |
tegang juga aku menunggu perintah menembak. Itulah repotnya | 54 % |
| khiri riwayat lelaki itu. Garis silang pada teleskop kugeser |
agak |
ke samping, supaya lubang peluru pada kepalanya tidak membua | 76 % |
| tugas berpakaian preman mondar-mandir membawa walkie-talkie. |
agaknya |
pesta kambing-guling pada tepi kolam renang dalam sebuah hot | 32 % |
| u terpental ke kolam renang dengan suara bergedebur sehingga |
airnya |
muncrat membasahi pakaian para tamu dan kolam renang itu seg | 10 % |
| Keroncong Pembunuhan Oleh: Seno Gumira |
ajidarma |
hampir malam di Yogya ketika keretaku tiba Lagu keroncong me | 0 % |
| menyukai lagu keroncong, ini membuat mereka terkenang-kenang |
akan |
masa lalunya. Mereka terserak di bawah sana, di sekitar kola | 2 % |
| utinya. Kalau kutekankan telunjukku, tak pelak lagi dahi itu |
akan |
berlubang. Dan tubuh orang itu akan roboh. Bisa roboh perlah | 7 % |
| tak pelak lagi dahi itu akan berlubang. Dan tubuh orang itu |
akan |
roboh. Bisa roboh perlahan-lahan seperti pohon ditebang, bis | 7 % |
| enemukan orang yang mesti kubunuh. Memang belum waktunya. Ia |
akan |
datang sebentar lagi. Dan sebetulnya aku pun tak perlu terla | 11 % |
| ngnya terbuka. Cantik sekali. Aku tak mengira seorang wanita |
akan |
terlibat dalam pembunuhan seperti ini. “Siapa sasaranku?” ta | 17 % |
| nci? Ataukah karena perasaanku saja. Namun sungguh mati, aku |
akan |
sangat berbahagia kalau korbanku kali ini adalah seseorang y | 25 % |
| tersenyum-senyum. Aku juga tersenyum. Sebentar lagi wajahmu |
akan |
ketakutan tanpa tahu malu. Tapi aku tidak melakukan itu. Aku | 41 % |
| kan niat bersopan santun yang tidak menyebalkan. Apakah yang |
akan |
terjadi kalau ia kutembak mati? Aku teringat kematian Ninoy | 50 % |
| Tapi aku tidak tahu politik. Jadi, sambil menatap wajah yang |
akan |
berlubang itu, aku berpikir tentang yang lain. Mungkin ia pu | 52 % |
| punya anak. Bahkan kupikir ia pun pantas punya cucu. Mereka |
akan |
bertangisan setelah mendengar kematian orang ini, dan tangis | 53 % |
| angisan setelah mendengar kematian orang ini, dan tangis itu |
akan |
makin menjadi-jadi ketika mengetahui cara kematiannya. Biar | 53 % |
| ng mendengar. Aku sudah siap menembak. Satu tekanan telunjuk |
akan |
mengakhiri riwayat lelaki itu. Garis silang pada teleskop ku | 76 % |
| anya tidak membuat pembagian yang terlalu simetris. Peluruku |
akan |
menembus mata kirinya. Dan aku menatap mata orang itu. Astag | 77 % |
| kesalahan orang itu?” “Tembak dia sekarang tolol, atau kamu |
akan |
mati!” “Justru kamu yang bisa segera mati.” “Omong kosong! K | 83 % |
| n cepat apa kesalahan orang itu!” Wanita itu tampak beranjak |
akan |
lari. “Jangan lari, tak ada gunanya, tak ada seorang pun yan | 86 % |
| ari. “Jangan lari, tak ada gunanya, tak ada seorang pun yang |
akan |
tahu siapa menembakmu. Senapan ini dilengkapi peredam. Kamu | 87 % |
| , ia bisa pecah berantakan oleh peluruku, dan peluru itu tak |
akan |
berhenti di situ.” Wajah itu kembali menatap ke arahku denga | 92 % |
| lagu keroncong, lagu kesenangan orang-orang tua. Ini memang |
akan |
membuat mereka terkenang-kenang akan masa lalunya. Inilah keroncong fantasiii | 99 % |
| g-orang tua. Ini memang akan membuat mereka terkenang-kenang |
akan |
masa lalunya. Inilah keroncong fantasiii | 100 % |
| aku tiba Lagu keroncong membuatku ngantuk, padahal malam ini |
aku |
harus membunuh seseorang. Orang-orang tua memang menyukai la | 1 % |
| h yang menarik perhatianku. Lewat teleskop pada senapan ini, |
aku |
memperhatikan mereka satu per satu, seolah-olah aku berada d | 5 % |
| pan ini, aku memperhatikan mereka satu per satu, seolah-olah |
aku |
berada di antara mereka. Sebuah pesta yang meriah. Ada kambi | 5 % |
| erah karena darah dan wanita-wanita berteriak: “Auuww!” Tapi |
aku |
belum menemukan orang yang mesti kubunuh. Memang belum waktu | 11 % |
| belum waktunya. Ia akan datang sebentar lagi. Dan sebetulnya |
aku |
pun tak perlu terlalu repot mencarinya karena pesawat komuni | 12 % |
| uara pada headphone itu, sebuah suara yang merdu. “Dari tadi |
aku |
sudah siap, yang mana orangnya?” “Sabar dong, sebentar lagi. | 13 % |
| “Sabar dong, sebentar lagi.” Dari teras lantai 7 hotel ini, |
aku |
masih mengintip lewat teleskop. Angin laut yang basah terasa | 14 % |
| terasa asin di bibirku. Iseng-iseng sambil menunggu sasaran, |
aku |
mencari orang yang berbicara padaku. Dan aku melihat wajah-w | 15 % |
| nunggu sasaran, aku mencari orang yang berbicara padaku. Dan |
aku |
melihat wajah-wajah pada teleskop. Para wanita dengan pakaia | 16 % |
| am yang anggun. Ada yang punggungnya terbuka. Cantik sekali. |
aku |
tak mengira seorang wanita akan terlibat dalam pembunuhan se | 17 % |
| ri kontrak kita.” Kontrak semacam ini memang sering terjadi. |
aku |
dibayar untuk menembak, siapa yang jadi sasaran bukan urusan | 19 % |
| saranku adalah seorang pengkhianat bangsa dan negara. Apakah |
aku |
termasuk pahlawan jika menembaknya? Kugerakkan lagi senapank | 21 % |
| berdatangan. Ada sesuatu yang terasa kurang enak setiap kali |
aku |
menatap wajah orang-orang di bawah itu. Memang wajah mereka | 23 % |
| kubenci? Ataukah karena perasaanku saja. Namun sungguh mati, |
aku |
akan sangat berbahagia kalau korbanku kali ini adalah seseor | 25 % |
| Rasanya lama sekali. Seperti juga orang-orang di bawah sana, |
aku |
tak perlu mendengarkannya dengan sungguh-sungguh. Musik kero | 27 % |
| bulan pun sedang purnama. Kuletakkan senapanku karena pegal. |
aku |
berjalan ke dalam kamar, mengambil kacang dari meja. Kupasan | 33 % |
| televisi selalu buruk. Sunyi sekali rasanya kamar hotel ini. |
aku |
ingin buru-buru menembak sasaranku, lantas pulang dan minum | 35 % |
| a terdengar lagi suara itu. “Ya, kenapa?” “Jangan main-main! |
aku |
tahu kamu tidak di tempat!” Aku bergegas kembali ke teras. “ | 36 % |
| kenapa?” “Jangan main-main! Aku tahu kamu tidak di tempat!” |
aku |
bergegas kembali ke teras. “Bagaimana? Sudah datang orangnya | 36 % |
| senapanku. Kucari posisi yang enak. Sambil mengunyah kacang |
aku |
mengintip kembali lewat teleskop. Garis silang itu kembali b | 39 % |
| ah ke wajah. Mereka masih tertawa-tawa dan tersenyum-senyum. |
aku |
juga tersenyum. Sebentar lagi wajahmu akan ketakutan tanpa t | 41 % |
| . Sebentar lagi wajahmu akan ketakutan tanpa tahu malu. Tapi |
aku |
tidak melakukan itu. Aku hanya bekerja berdasarkan kontrak. | 41 % |
| kan ketakutan tanpa tahu malu. Tapi aku tidak melakukan itu. |
aku |
hanya bekerja berdasarkan kontrak. “Di sebelah mana dia?” ta | 41 % |
| harus kulakukan sekarang?” “Nanti dulu, tunggu komando!” Dan |
aku |
mengamati wajah itu. Adakah ia mempunyai firasat? Dari balik | 47 % |
| ra, namun tampaknya ia harus menjawab banyak pertanyaan. Dan |
aku |
merasa bahwa ia sangat hati-hati menjawab. Wajahnya menunjuk | 49 % |
| enyebalkan. Apakah yang akan terjadi kalau ia kutembak mati? |
aku |
teringat kematian Ninoy di Filipina…. Tapi aku tidak tahu po | 51 % |
| utembak mati? Aku teringat kematian Ninoy di Filipina…. Tapi |
aku |
tidak tahu politik. Jadi, sambil menatap wajah yang akan ber | 51 % |
| politik. Jadi, sambil menatap wajah yang akan berlubang itu, |
aku |
berpikir tentang yang lain. Mungkin ia punya istri, punya an | 52 % |
| n negara? Ia pantas mendapatkan hukumannya. Agak tegang juga |
aku |
menunggu perintah menembak. Itulah repotnya selalu bekerja b | 54 % |
| u bekerja berdasarkan kontrak. Tidak bisa seenaknya sendiri. |
aku |
dibayar untuk mengarahkan garis silang teleskop senapanku pa | 55 % |
| at yang paling mematikan, untuk kemudian menekan pelatuknya. |
aku |
selalu mengatakan pada diriku sendiri bahwa aku tidak membun | 56 % |
| pelatuknya. Aku selalu mengatakan pada diriku sendiri bahwa |
aku |
tidak membunuh orang, aku hanya membidik dan menekan pelatuk | 57 % |
| ngatakan pada diriku sendiri bahwa aku tidak membunuh orang, |
aku |
hanya membidik dan menekan pelatuk. Kutatap lagi wajah itu, | 57 % |
| nya begitu dekat, bahkan pori-porinya terlihat dengan jelas. |
aku |
bagaikan menatap bayang-bayang takdir. Siapakah sebenarnya y | 58 % |
| anyak. Wajah-wajah cantik silih berganti mengisi teleskopku. |
aku |
harus memancing dia bicara. “Tunggu perintah apa lagi?” “Kau | 62 % |
| pa wanita, dan petugas-petugas berpakaian preman. Yang mana? |
aku |
meneliti mereka satu per satu. Beberapa di antaranya jelas c | 67 % |
| ndang ke sekelilingnya. Seperti khawatir ada yang mendengar. |
aku |
sudah siap menembak. Satu tekanan telunjuk akan mengakhiri r | 75 % |
| g terlalu simetris. Peluruku akan menembus mata kirinya. Dan |
aku |
menatap mata orang itu. Astaga. Benarkah dia seorang pengkhi | 77 % |
| ang pengkhianat?” “Tidak usah tanya-tanya, tembak sekarang!” |
aku |
menatap lagi matanya, pengkhianat yang bagaimana? “Pengkhian | 79 % |
| ontrak kubatalkan!” Perasaan aneh tiba-tiba merasuki diriku. |
aku |
malah mengarahkan senapan pada wanita itu. “Laras senapanku | 80 % |
| ngkapi peredam. Kamu tahu tembakanku belum pernah luput, dan |
aku |
bisa segera lenyap.” Wajahnya menatap ke atas, ke arahku. Ku | 88 % |
| ataan-pernyataan yang tidak benar.” “Lantas?” “Kamu mau apa? |
aku |
tidak tahu banyak.” “Aku ingin tahu, apakah semua itu merupa | 90 % |
| natap ke arahku dengan pandang menghiba. “Jangan tembak aku! |
aku |
tidak tahu apa-apa!” “Siapa yang menyuruhmu?” “Aku tidak tah | 93 % |
| mbak.” “Berkacamata?” “Ya.” Kuarahkan senapanku ke sana. Dan |
aku |
melihat orang itu. Ia sedang bercerita dengan berapi-api. Ta | 96 % |
| li menatap ke arahku dengan pandang menghiba. “Jangan tembak |
aku! |
Aku tidak tahu apa-apa!” “Siapa yang menyuruhmu?” “Aku tidak | 93 % |
| . Siapakah sebenarnya yang menghentikan kehidupan orang itu, |
akukah |
atau Kamu? Orang itu tak sadar sama sekali kalau malaikan ma | 59 % |
| u…” “Kamu gila, kamu merusak segala-galanya.” “Dua....” Hmm, |
alangkah |
gugupnya dia. “Ia ada di depan orang yang harus kamu tembak. | 95 % |
| ak tahu banyak.” “Aku ingin tahu, apakah semua itu merupakan |
alasan |
yang cukup untuk membunuhnya.” “Itu bukan urusanmu. Ini poli | 91 % |
| lol? Tembak dia sekarang, atau kontrak kubatalkan!” Perasaan |
aneh |
tiba-tiba merasuki diriku. Aku malah mengarahkan senapan pad | 80 % |
| eras lantai 7 hotel ini, aku masih mengintip lewat teleskop. |
angin |
laut yang basah terasa asin di bibirku. Iseng-iseng sambil m | 15 % |
| emperhatikan mereka satu per satu, seolah-olah aku berada di |
antara |
mereka. Sebuah pesta yang meriah. Ada kambing-guling. Hmmm… | 5 % |
| jah menjilat. Garis silang pada teleskopku berhenti tepat di |
antara |
kedua matanya. “Apakah harus kulakukan sekarang?” “Nanti dul | 47 % |
| diri menggeser senapan itu. Dengan indra keenam ia kucari di |
antara |
kerumunan orang banyak. Wajah-wajah cantik silih berganti me | 61 % |
| n. Yang mana? Aku meneliti mereka satu per satu. Beberapa di |
antaranya |
jelas cuma pegawai perusahaan catering. Ada satu wanita bert | 67 % |
| ang wajah mereka adalah wajah orang baik-baik, tapi entahlah |
apa |
yang kurang enak di sana. Apakah karena banyak yang memakai | 23 % |
| teleskopku. Aku harus memancing dia bicara. “Tunggu perintah |
apa |
lagi?” “Kau tak perlu tahu, pokoknya tunggu!” “Ini tidak ada | 62 % |
| g yang tidak bersalah.” “Itu urusanku sendiri, katakan cepat |
apa |
kesalahan orang itu!” Wanita itu tampak beranjak akan lari. | 86 % |
| ang wajah mereka adalah wajah orang baik-baik, tapi entahlah |
apa |
yang kurang enak di sana. Apakah karena banyak yang memakai | 23 % |
| teleskopku. Aku harus memancing dia bicara. “Tunggu perintah |
apa |
lagi?” “Kau tak perlu tahu, pokoknya tunggu!” “Ini tidak ada | 62 % |
| g yang tidak bersalah.” “Itu urusanku sendiri, katakan cepat |
apa |
kesalahan orang itu!” Wanita itu tampak beranjak akan lari. | 86 % |
| dengan pandang menghiba. “Jangan tembak aku! Aku tidak tahu |
apa-apa!” |
“Siapa yang menyuruhmu?” “Aku tidak tahu apa-apa.” “Leontinm | 93 % |
| adi, sasaranku adalah seorang pengkhianat bangsa dan negara. |
apakah |
aku termasuk pahlawan jika menembaknya? Kugerakkan lagi sena | 21 % |
| orang baik-baik, tapi entahlah apa yang kurang enak di sana. |
apakah |
karena banyak yang memakai baju resmi, seragam yang kubenci? | 24 % |
| nya menunjukkan niat bersopan santun yang tidak menyebalkan. |
apakah |
yang akan terjadi kalau ia kutembak mati? Aku teringat kemat | 50 % |
| as?” “Kamu mau apa? Aku tidak tahu banyak.” “Aku ingin tahu, |
apakah |
semua itu merupakan alasan yang cukup untuk membunuhnya.” “I | 90 % |
| hitam dengan poni menutup dahinya. Matanya menatap tajam ke |
arah |
si baju batik merah! “Tembaklah dia sekarang,” ujarnya pelan | 68 % |
| Apa-apaan ini?” Dalam teleskop kulihat wajahnya mendongak ke |
arahku |
dengan kaget. “Katakan padaku,” kataku lagi, “apa kesalahan | 82 % |
| itu tak akan berhenti di situ.” Wajah itu kembali menatap ke |
arahku |
dengan pandang menghiba. “Jangan tembak aku! Aku tidak tahu | 92 % |
| masih mengintip lewat teleskop. Angin laut yang basah terasa |
asin |
di bibirku. Iseng-iseng sambil menunggu sasaran, aku mencari | 15 % |
| kah sebenarnya yang menghentikan kehidupan orang itu, akukah |
atau |
Kamu? Orang itu tak sadar sama sekali kalau malaikan maut te | 59 % |
| dak diadili saja?” “Apa urusanmu tolol? Tembak dia sekarang, |
atau |
kontrak kubatalkan!” Perasaan aneh tiba-tiba merasuki diriku | 80 % |
| lagi, “apa kesalahan orang itu?” “Tembak dia sekarang tolol, |
atau |
kamu akan mati!” “Justru kamu yang bisa segera mati.” “Omong | 83 % |
| karena banyak yang memakai baju resmi, seragam yang kubenci? |
ataukah |
karena perasaanku saja. Namun sungguh mati, aku akan sangat | 24 % |
| begitu dekat, bahkan pori-porinya terlihat dengan jelas. Aku |
bagaikan |
menatap bayang-bayang takdir. Siapakah sebenarnya yang mengh | 58 % |
| hnya hanya bisa kukira-kira saja. “Kau tidak perlu tahu, ini |
bagian |
dari kontrak kita.” Kontrak semacam ini memang sering terjad | 19 % |
| sesekali pecah da |