ReadingBar

back to Keroncong Pembunuhan

click here for the word frequency

 

Keroncong Pembunuhan

Experimental Concordance Program

The text:

---60---Keroncong Pembunuhan Oleh: Seno Gumira Ajidarma hampir malam di Yogya ketika keretaku tiba Lagu keroncong membuatku ngantuk, padahal malam ini aku harus membunuh seseorang. Orang-orang tua memang menyukai lagu keroncong, ini membuat mereka terkenang-kenang akan masa lalunya. Mereka terserak di bawah sana, di sekitar kolam renang, tapi tampaknya tak banyak yang mendengarkan lagu keroncong itu dengan sungguh-sungguh. Mereka bercakap sendiri, riuh dan tawa sesekali pecah dari tiap kerumunan. Tak semuanya tua memang, bahkan banyak wanita muda. Paling tidak itulah yang menarik perhatianku. Lewat teleskop pada senapan ini, aku memperhatikan mereka satu per satu, seolah-olah aku berada di antara mereka. Sebuah pesta yang meriah. Ada kambing-guling. Hmmm… Garis silang pada teleskop itu terus saja bergerak. Sesekali berhenti pada dahi seseorang, dan mengikutinya. Kalau kutekankan telunjukku, tak pelak lagi dahi itu akan berlubang. Dan tubuh orang itu akan roboh. Bisa roboh perlahan-lahan seperti pohon ditebang, bisa pula tersentak dan mengacaukan kerumunan orang yang sedang tertawa-tawa itu, menumpahkan gelas pada nampang yang dibawa pelayan. Tentu lebih menarik lagi kalau tubuh itu terpental ke kolam renang dengan suara bergedebur sehingga airnya muncrat membasahi pakaian para tamu dan kolam renang itu segera berwarna merah karena darah dan wanita-wanita berteriak: “Auuww!” Tapi aku belum menemukan orang yang mesti kubunuh. Memang belum waktunya. Ia akan datang sebentar lagi. Dan sebetulnya aku pun tak perlu terlalu repot mencarinya karena pesawat komunikasi yang terpasang pada telingaku siap menunjukkan orangnya. “Kamu sudah siap?” terdengar suara pada headphone itu, sebuah suara yang merdu. “Dari tadi aku sudah siap, yang mana orangnya?” “Sabar dong, sebentar lagi.” Dari teras lantai 7 hotel ini, aku masih mengintip lewat teleskop. Angin laut yang basah terasa asin di bibirku. Iseng-iseng sambil menunggu sasaran, aku mencari orang yang berbicara padaku. Dan aku melihat wajah-wajah pada teleskop. Para wanita dengan pakaian malam yang anggun. Ada yang punggungnya terbuka. Cantik sekali. Aku tak mengira seorang wanita akan terlibat dalam pembunuhan seperti ini. “Siapa sasaranku?” tanyaku minggu lalu, ketika dia memesan penembakan ini. Dilakukan lewat telepon seperti itu, tentu wajahnya hanya bisa kukira-kira saja. “Kau tidak perlu tahu, ini bagian dari kontrak kita.” Kontrak semacam ini memang sering terjadi. Aku dibayar untuk menembak, siapa yang jadi sasaran bukan urusanku. “Tapi satu hal kau boleh tahu.” “Apa?" “Orang itu pengkhianat.” “Pengkhianat?” “Ya, pengkhianat bangsa dan negara.” Jadi, sasaranku adalah seorang pengkhianat bangsa dan negara. Apakah aku termasuk pahlawan jika menembaknya? Kugerakkan lagi senapanku. Dari balik teleskop kuteliti orang-orang yang makin banyak saja berdatangan. Ada sesuatu yang terasa kurang enak setiap kali aku menatap wajah orang-orang di bawah itu. Memang wajah mereka adalah wajah orang baik-baik, tapi entahlah apa yang kurang enak di sana. Apakah karena banyak yang memakai baju resmi, seragam yang kubenci? Ataukah karena perasaanku saja. Namun sungguh mati, aku akan sangat berbahagia kalau korbanku kali ini adalah seseorang yang memuakkan. Kuedarkan lagi senapanku. Mengintip kelakuan orang tanpa diketahui rasanya menyenangkan. sepasang mata bola dari balik jendela Belum habis juga lagu keroncong itu. Rasanya lama sekali. Seperti juga orang-orang di bawah sana, aku tak perlu mendengarkannya dengan sungguh-sungguh. Musik keroncong sekarang ini seperti benda museum, para senimannya kurang jenius untuk membuatnya lebih berkembang. Di manakah wanita yang bersuara lembut itu? Di mana-mana orang mengunyah makanan, menyeruput minuman, tersenyum dan tertawa. Ada ibu-ibu berdiri dengan kaku di samping suaminya yang sibuk bicara dengan tangan bergerak-gerak ke segala penjuru. Bapak-bapak yang dari wajahnya tampak berjiwa pegawai, menyembunyikan diri dengan sopan, tapi makan banyak-banyak. Tampak pula petugas berpakaian preman mondar-mandir membawa walkie-talkie. Agaknya pesta kambing-guling pada tepi kolam renang dalam sebuah hotel di tepi pantai ini dihadiri orang-orang penting. Malam cerah dan langit penuh bintang. Bahkan bulan pun sedang purnama. Kuletakkan senapanku karena pegal. Aku berjalan ke dalam kamar, mengambil kacang dari meja. Kupasang televisi, tapi segera kumatikan lagi. Acara televisi selalu buruk. Sunyi sekali rasanya kamar hotel ini. Aku ingin buru-buru menembak sasaranku, lantas pulang dan minum segelas bir. “Hei, kamu masih di situ?” tiba-tiba terdengar lagi suara itu. “Ya, kenapa?” “Jangan main-main! Aku tahu kamu tidak di tempat!” Aku bergegas kembali ke teras. “Bagaimana? Sudah datang orangnya?” “Dia memakai baju batik merah, kebetulan satu-satunya yang merah di sini, jadi enak untuk kamu.” Kulihat ke bawah, mereka seperti kerumunan makhluk-makhluk kecil, tentu tak terlalu jelas mana yang berbaju batik merah dari lantai 7 seperti ini. Kuangkat kembali senapanku. Kucari posisi yang enak. Sambil mengunyah kacang aku mengintip kembali lewat teleskop. Garis silang itu kembali beredar dari wajah ke wajah. Mereka masih tertawa-tawa dan tersenyum-senyum. Aku juga tersenyum. Sebentar lagi wajahmu akan ketakutan tanpa tahu malu. Tapi aku tidak melakukan itu. Aku hanya bekerja berdasarkan kontrak. “Di sebelah mana dia?” tanyaku lewat mike yang tergantung di bawah daguku. “Dia di sudut kolam renang sebelah selatan, dekat payung hijau.” Kugeserkan senapanku ke kanan. Kulewati lagi wajah-wajah berlemak, klimis, dan gemerlapan. Wanita-wanita cantik terpaksa kulewati begitu saja. Dan, nah, itu dia, seorang lelaki yang mamakai baju batik berwarna merah. Wajahnya tampan dan berwibawa. Ia sudah setengah umur tapi tak tampak telah uzur. Rambutnya disisr rapi ke belakang. Ia tak banyak tertawa dan tersenyum. Orang-orang mengerumuninya dengan hormat. Ada juga yang berwajah menjilat. Garis silang pada teleskopku berhenti tepat di antara kedua matanya. “Apakah harus kulakukan sekarang?” “Nanti dulu, tunggu komando!” Dan aku mengamati wajah itu. Adakah ia mempunyai firasat? Dari balik teleskop ini, wajah-wajah memunculkan pesonanya sendiri, yang berbeda dibanding dengan bila kita berhadapan langsung dengan orangnya. Ia tak banyak bicara, namun tampaknya ia harus menjawab banyak pertanyaan. Dan aku merasa bahwa ia sangat hati-hati menjawab. Wajahnya menunjukkan niat bersopan santun yang tidak menyebalkan. Apakah yang akan terjadi kalau ia kutembak mati? Aku teringat kematian Ninoy di Filipina…. Tapi aku tidak tahu politik. Jadi, sambil menatap wajah yang akan berlubang itu, aku berpikir tentang yang lain. Mungkin ia punya istri, punya anak. Bahkan kupikir ia pun pantas punya cucu. Mereka akan bertangisan setelah mendengar kematian orang ini, dan tangis itu akan makin menjadi-jadi ketika mengetahui cara kematiannya. Biar saja. Bukankah ia seorang pengkhianat bangsa dan negara? Ia pantas mendapatkan hukumannya. Agak tegang juga aku menunggu perintah menembak. Itulah repotnya selalu bekerja berdasarkan kontrak. Tidak bisa seenaknya sendiri. Aku dibayar untuk mengarahkan garis silang teleskop senapanku pada tempat yang paling mematikan, untuk kemudian menekan pelatuknya. Aku selalu mengatakan pada diriku sendiri bahwa aku tidak membunuh orang, aku hanya membidik dan menekan pelatuk. Kutatap lagi wajah itu, rasanya begitu dekat, bahkan pori-porinya terlihat dengan jelas. Aku bagaikan menatap bayang-bayang takdir. Siapakah sebenarnya yang menghentikan kehidupan orang itu, akukah atau Kamu? Orang itu tak sadar sama sekali kalau malaikan maut telah mengelus-elus tengkuknya. “Bagaimana? Sekarang?” “Aku bilang tunggu perintah!” Sialan cewek itu, berani benar membentak-bentak seorang pembunuh bayaran. Tanganku tiba-tiba bergerak sendiri menggeser senapan itu. Dengan indra keenam ia kucari di antara kerumunan orang banyak. Wajah-wajah cantik silih berganti mengisi teleskopku. Aku harus memancing dia bicara. “Tunggu perintah apa lagi?” “Kau tak perlu tahu, pokoknya tunggu!” “Ini tidak ada dalam perjanjian.” “Ada! Kamu jangan main gila.” selendang sutra tanda mata darimu Busyet! Lagu keroncong itu lagi, jelas sekali di telingaku. Pasti ia berada di dekat orkes. Kucari-cari sekitar orkes. Teleskopku sempat mampir di dada penyanyi keroncong yang membusung itu. Ada beberapa kerumunan. Di telingaku juga berdentang bunyi gelas dan piring. Ia mungkin di belakang orkes, dekat meja prasmanan. Ada beberapa wanita, dan petugas-petugas berpakaian preman. Yang mana? Aku meneliti mereka satu per satu. Beberapa di antaranya jelas cuma pegawai perusahaan catering. Ada satu wanita bertampang juragan. Mungkin satunya lagi. Rambutnya lurus dan hitam dengan poni menutup dahinya. Matanya menatap tajam ke arah si baju batik merah! “Tembaklah dia sekarang,” ujarnya pelan dalam headphone-ku, dan kulihat dari teleskop dia memang berkata-kata sendiri. Rupanya betul dia. Ia mendengar lewat giwang dan berbicara padaku lewat mikrofon yang tersembunyi dalam leontin kalungnya. Leontin yang indah, terpajang di dadanya yang tipis. “Apa?” tanyaku lagi, karena ingin meyakinkan, memang dia orangnya. “Tembak sekarang!” Jadi seperti inilah semua pembunuhan itu berlangsung. Mata rantai tanpa ujung dan pangkal. Wanita ini tentu hanya salah satu mata rantai. Kualihkan senapanku kembali pada sasaran. Lelaki setengah tua itu sedang mendengarkan cerita seseorang di hadapannya dengan sabar. Orang yang bercerita itu tampak berapi-api, namun lelaki itu kelihatannya menahan diri untuk tidak ikut terbakar. Ia mengangguk-angguk sambil mencuri pandang ke sekelilingnya. Seperti khawatir ada yang mendengar. Aku sudah siap menembak. Satu tekanan telunjuk akan mengakhiri riwayat lelaki itu. Garis silang pada teleskop kugeser agak ke samping, supaya lubang peluru pada kepalanya tidak membuat pembagian yang terlalu simetris. Peluruku akan menembus mata kirinya. Dan aku menatap mata orang itu. Astaga. Benarkah dia seorang pengkhianat? “Kau tidak keliru? Benarkah ia seorang pengkhianat?” “Tidak usah tanya-tanya, tembak sekarang!” Aku menatap lagi matanya, pengkhianat yang bagaimana? “Pengkhianat yang bagaimana? Kenapa tidak diadili saja?” “Apa urusanmu tolol? Tembak dia sekarang, atau kontrak kubatalkan!” Perasaan aneh tiba-tiba merasuki diriku. Aku malah mengarahkan senapan pada wanita itu. “Laras senapanku mengarah padamu manis,” kataku dingin. “Apa-apaan ini?” Dalam teleskop kulihat wajahnya mendongak ke arahku dengan kaget. “Katakan padaku,” kataku lagi, “apa kesalahan orang itu?” “Tembak dia sekarang tolol, atau kamu akan mati!” “Justru kamu yang bisa segera mati.” “Omong kosong! Kamu tak tahu di mana aku.” “Kamu memakai cheongsam dengan belahan di paha, kamu ada di belakang orkes.” Dan kulihat wajahnya menjadi pucat. “Kamu sudah melanggar kontrak.” “Aku tidak mau menembak orang yang tidak bersalah." “Itu bukan urusanmu, tahun lalu kamu menembak ribuan orang yang tidak bersalah.” “Itu urusanku sendiri, katakan cepat apa kesalahan orang itu!” Wanita itu tampak beranjak akan lari. “Jangan lari, tak ada gunanya, tak ada seorang pun yang akan tahu siapa menembakmu. Senapan ini dilengkapi peredam. Kamu tahu tembakanku belum pernah luput, dan aku bisa segera lenyap.” Wajahnya menatap ke atas, ke arahku. Kulihat ia berkeringat dingin. Gelisah. “Apa maumu?” “Katakan kesalahannya.” “Ia pengkhianat, ia menjelek-jelekkan nama bangsa dan negara kita di luar negeri.” “Cuma itu?” “Ia meresahkan masyarakat dengan pernyataan-pernyataan yang tidak benar.” “Lantas?” “Kamu mau apa? Aku tidak tahu banyak.” “Aku ingin tahu, apakah semua itu merupakan alasan yang cukup untuk membunuhnya.” “Itu bukan urusanmu. Ini politik.” “Urusanku adalah leontinmu manis, ia bisa pecah berantakan oleh peluruku, dan peluru itu tak akan berhenti di situ.” Wajah itu kembali menatap ke arahku dengan pandang menghiba. “Jangan tembak aku! Aku tidak tahu apa-apa!” “Siapa yang menyuruhmu?” “Aku tidak tahu apa-apa.” “Leontinmu manis...” “Ah, jangan, jangan tembak! Please...” “Siapa?” “Aku…aku bisa celaka.” “Sekarang pun kamu bisa celaka. Kuhitung sampai tiga. Satu…” “Kamu gila, kamu merusak segala-galanya.” “Dua....” Hmm, alangkah gugupnya dia. “Ia ada di depan orang yang harus kamu tembak.” “Berkacamata?” “Ya.” Kuarahkan senapanku ke sana. Dan aku melihat orang itu. Ia sedang bercerita dengan berapi-api. Tangannya bergerak kian kemari, mengepal dan memukul-mukulkan tinjunya pada telapak tangan yang lain. Wajahnya licik dan penuh tipu daya. Sangat memuakkan. Padahal ia pun sudah tua. Kubidikkan garis silang teleskopku ke jantungnya, sementara di telingaku mengiang suara penyanyi itu, yang memulai lagi sebuah lagu keroncong, lagu kesenangan orang-orang tua. Ini memang akan membuat mereka terkenang-kenang akan masa lalunya. Inilah keroncong fantasiii

 

pre- text

WORD

post- text

%
lu tahu, pokoknya tunggu!” “Ini tidak ada dalam perjanjian.”

“ada!

Kamu jangan main gila.” selendang sutra tanda mata darimu Bu 63 %
maut telah mengelus-elus tengkuknya. “Bagaimana? Sekarang?”

“aku

bilang tunggu perintah!” Sialan cewek itu, berani benar memb 60 %
ihat wajahnya menjadi pucat. “Kamu sudah melanggar kontrak.”

“aku

tidak mau menembak orang yang tidak bersalah." “Itu bukan ur 84 %
dak benar.” “Lantas?” “Kamu mau apa? Aku tidak tahu banyak.”

“aku

ingin tahu, apakah semua itu merupakan alasan yang cukup unt 90 %
embak aku! Aku tidak tahu apa-apa!” “Siapa yang menyuruhmu?”

“aku

tidak tahu apa-apa.” “Leontinmu manis...” “Ah, jangan, janga 93 %
mu manis...” “Ah, jangan, jangan tembak! Please...” “Siapa?”

“aku…aku

bisa celaka.” “Sekarang pun kamu bisa celaka. Kuhitung sampa 94 %
na? “Pengkhianat yang bagaimana? Kenapa tidak diadili saja?”

“apa

urusanmu tolol? Tembak dia sekarang, atau kontrak kubatalkan 80 %
ongak ke arahku dengan kaget. “Katakan padaku,” kataku lagi,

“apa

kesalahan orang itu?” “Tembak dia sekarang tolol, atau kamu 82 %
ke atas, ke arahku. Kulihat ia berkeringat dingin. Gelisah.

“apa

maumu?” “Katakan kesalahannya.” “Ia pengkhianat, ia menjelek 88 %
na? “Pengkhianat yang bagaimana? Kenapa tidak diadili saja?”

“apa

urusanmu tolol? Tembak dia sekarang, atau kontrak kubatalkan 80 %
ongak ke arahku dengan kaget. “Katakan padaku,” kataku lagi,

“apa

kesalahan orang itu?” “Tembak dia sekarang tolol, atau kamu 82 %
ke atas, ke arahku. Kulihat ia berkeringat dingin. Gelisah.

“apa

maumu?” “Katakan kesalahannya.” “Ia pengkhianat, ia menjelek 88 %
itu. “Laras senapanku mengarah padamu manis,” kataku dingin.

“apa-apaan

ini?” Dalam teleskop kulihat wajahnya mendongak ke arahku de 81 %
lang pada teleskopku berhenti tepat di antara kedua matanya.

“apakah

harus kulakukan sekarang?” “Nanti dulu, tunggu komando!” Dan 47 %
era berwarna merah karena darah dan wanita-wanita berteriak:

“auuww!”

Tapi aku belum menemukan orang yang mesti kubunuh. Memang be 11 %
njelek-jelekkan nama bangsa dan negara kita di luar negeri.”

“cuma

itu?” “Ia meresahkan masyarakat dengan pernyataan-pernyataan 89 %
terdengar suara pada headphone itu, sebuah suara yang merdu.

“dari

tadi aku sudah siap, yang mana orangnya?” “Sabar dong, seben 13 %
tidak melakukan itu. Aku hanya bekerja berdasarkan kontrak.

“di

sebelah mana dia?” tanyaku lewat mike yang tergantung di baw 42 %
rgegas kembali ke teras. “Bagaimana? Sudah datang orangnya?”

“dia

memakai baju batik merah, kebetulan satu-satunya yang merah 37 %
na dia?” tanyaku lewat mike yang tergantung di bawah daguku.

“dia

di sudut kolam renang sebelah selatan, dekat payung hijau.” 42 %
ringat dingin. Gelisah. “Apa maumu?” “Katakan kesalahannya.”

“ia

pengkhianat, ia menjelek-jelekkan nama bangsa dan negara kit 89 %
kan nama bangsa dan negara kita di luar negeri.” “Cuma itu?”

“ia

meresahkan masyarakat dengan pernyataan-pernyataan yang tida 89 %
rusak segala-galanya.” “Dua....” Hmm, alangkah gugupnya dia.

“ia

ada di depan orang yang harus kamu tembak.” “Berkacamata?” “ 95 %
u perintah apa lagi?” “Kau tak perlu tahu, pokoknya tunggu!”

“ini

tidak ada dalam perjanjian.” “Ada! Kamu jangan main gila.” s 63 %
ontrak.” “Aku tidak mau menembak orang yang tidak bersalah."

“itu

bukan urusanmu, tahun lalu kamu menembak ribuan orang yang t 85 %
tahun lalu kamu menembak ribuan orang yang tidak bersalah.”

“itu

urusanku sendiri, katakan cepat apa kesalahan orang itu!” Wa 85 %
ah semua itu merupakan alasan yang cukup untuk membunuhnya.”

“itu

bukan urusanmu. Ini politik.” “Urusanku adalah leontinmu man 91 %
di situ?” tiba-tiba terdengar lagi suara itu. “Ya, kenapa?”

“jangan

main-main! Aku tahu kamu tidak di tempat!” Aku bergegas kemb 36 %
kesalahan orang itu!” Wanita itu tampak beranjak akan lari.

“jangan

lari, tak ada gunanya, tak ada seorang pun yang akan tahu si 86 %
Wajah itu kembali menatap ke arahku dengan pandang menghiba.

“jangan

tembak aku! Aku tidak tahu apa-apa!” “Siapa yang menyuruhmu? 93 %
rang itu?” “Tembak dia sekarang tolol, atau kamu akan mati!”

“justru

kamu yang bisa segera mati.” “Omong kosong! Kamu tak tahu di 83 %
asi yang terpasang pada telingaku siap menunjukkan orangnya.

“kamu

sudah siap?” terdengar suara pada headphone itu, sebuah suar 13 %
isa segera mati.” “Omong kosong! Kamu tak tahu di mana aku.”

“kamu

memakai cheongsam dengan belahan di paha, kamu ada di belaka 83 %
ada di belakang orkes.” Dan kulihat wajahnya menjadi pucat.

“kamu

sudah melanggar kontrak.” “Aku tidak mau menembak orang yang 84 %
at dengan pernyataan-pernyataan yang tidak benar.” “Lantas?”

“kamu

mau apa? Aku tidak tahu banyak.” “Aku ingin tahu, apakah sem 90 %
“Sekarang pun kamu bisa celaka. Kuhitung sampai tiga. Satu…”

“kamu

gila, kamu merusak segala-galanya.” “Dua....” Hmm, alangkah 95 %
teleskop kulihat wajahnya mendongak ke arahku dengan kaget.

“katakan

padaku,” kataku lagi, “apa kesalahan orang itu?” “Tembak dia 82 %
arahku. Kulihat ia berkeringat dingin. Gelisah. “Apa maumu?”

“katakan

kesalahannya.” “Ia pengkhianat, ia menjelek-jelekkan nama ba 88 %
pon seperti itu, tentu wajahnya hanya bisa kukira-kira saja.

“kau

tidak perlu tahu, ini bagian dari kontrak kita.” Kontrak sem 18 %
Aku harus memancing dia bicara. “Tunggu perintah apa lagi?”

“kau

tak perlu tahu, pokoknya tunggu!” “Ini tidak ada dalam perja 62 %
ap mata orang itu. Astaga. Benarkah dia seorang pengkhianat?

“kau

tidak keliru? Benarkah ia seorang pengkhianat?” “Tidak usah 78 %
asuki diriku. Aku malah mengarahkan senapan pada wanita itu.

“laras

senapanku mengarah padamu manis,” kataku dingin. “Apa-apaan 81 %
apa-apa!” “Siapa yang menyuruhmu?” “Aku tidak tahu apa-apa.”

“leontinmu

manis...” “Ah, jangan, jangan tembak! Please...” “Siapa?” “A 93 %
di antara kedua matanya. “Apakah harus kulakukan sekarang?”

“nanti

dulu, tunggu komando!” Dan aku mengamati wajah itu. Adakah i 47 %
, atau kamu akan mati!” “Justru kamu yang bisa segera mati.”

“omong

kosong! Kamu tak tahu di mana aku.” “Kamu memakai cheongsam 83 %
saran bukan urusanku. “Tapi satu hal kau boleh tahu.” “Apa?"

“orang

itu pengkhianat.” “Pengkhianat?” “Ya, pengkhianat bangsa dan 20 %
rang!” Aku menatap lagi matanya, pengkhianat yang bagaimana?

“pengkhianat

yang bagaimana? Kenapa tidak diadili saja?” “Apa urusanmu to 79 %
yang merdu. “Dari tadi aku sudah siap, yang mana orangnya?”

“sabar

dong, sebentar lagi.” Dari teras lantai 7 hotel ini, aku mas 14 %
n, jangan tembak! Please...” “Siapa?” “Aku…aku bisa celaka.”

“sekarang

pun kamu bisa celaka. Kuhitung sampai tiga. Satu…” “Kamu gil 94 %
a seorang wanita akan terlibat dalam pembunuhan seperti ini.

“siapa

sasaranku?” tanyaku minggu lalu, ketika dia memesan penembak 17 %
ndang menghiba. “Jangan tembak aku! Aku tidak tahu apa-apa!”

“siapa

yang menyuruhmu?” “Aku tidak tahu apa-apa.” “Leontinmu manis 93 %
ayar untuk menembak, siapa yang jadi sasaran bukan urusanku.

“tapi

satu hal kau boleh tahu.” “Apa?" “Orang itu pengkhianat.” “P 20 %
tanyaku lagi, karena ingin meyakinkan, memang dia orangnya.

“tembak

sekarang!” Jadi seperti inilah semua pembunuhan itu berlangs 71 %
t. “Katakan padaku,” kataku lagi, “apa kesalahan orang itu?”

“tembak

dia sekarang tolol, atau kamu akan mati!” “Justru kamu yang 82 %
dahinya. Matanya menatap tajam ke arah si baju batik merah!

“tembaklah

dia sekarang,” ujarnya pelan dalam headphone-ku, dan kulihat 69 %
hianat? “Kau tidak keliru? Benarkah ia seorang pengkhianat?”

“tidak

usah tanya-tanya, tembak sekarang!” Aku menatap lagi matanya 78 %
berganti mengisi teleskopku. Aku harus memancing dia bicara.

“tunggu

perintah apa lagi?” “Kau tak perlu tahu, pokoknya tunggu!” “ 62 %
cukup untuk membunuhnya.” “Itu bukan urusanmu. Ini politik.”

“urusanku

adalah leontinmu manis, ia bisa pecah berantakan oleh peluru 91 %
na orangnya?” “Sabar dong, sebentar lagi.” Dari teras lantai

7

hotel ini, aku masih mengintip lewat teleskop. Angin laut ya 14 %
tak terlalu jelas mana yang berbaju batik merah dari lantai

7

seperti ini. Kuangkat kembali senapanku. Kucari posisi yang 39 %
ng dari meja. Kupasang televisi, tapi segera kumatikan lagi.

acara

televisi selalu buruk. Sunyi sekali rasanya kamar hotel ini. 34 %
-olah aku berada di antara mereka. Sebuah pesta yang meriah.

ada

kambing-guling. Hmmm… Garis silang pada teleskop itu terus s 6 %
pada teleskop. Para wanita dengan pakaian malam yang anggun.

ada

yang punggungnya terbuka. Cantik sekali. Aku tak mengira seo 16 %
kop kuteliti orang-orang yang makin banyak saja berdatangan.

ada

sesuatu yang terasa kurang enak setiap kali aku menatap waja 22 %
engunyah makanan, menyeruput minuman, tersenyum dan tertawa.

ada

ibu-ibu berdiri dengan kaku di samping suaminya yang sibuk b 29 %
awa dan tersenyum. Orang-orang mengerumuninya dengan hormat.

ada

juga yang berwajah menjilat. Garis silang pada teleskopku be 46 %
apa lagi?” “Kau tak perlu tahu, pokoknya tunggu!” “Ini tidak

ada

dalam perjanjian.” “Ada! Kamu jangan main gila.” selendang s 63 %
sempat mampir di dada penyanyi keroncong yang membusung itu.

ada

beberapa kerumunan. Di telingaku juga berdentang bunyi gelas 65 %
piring. Ia mungkin di belakang orkes, dekat meja prasmanan.

ada

beberapa wanita, dan petugas-petugas berpakaian preman. Yang 66 %
eberapa di antaranya jelas cuma pegawai perusahaan catering.

ada

satu wanita bertampang juragan. Mungkin satunya lagi. Rambut 67 %
uk sambil mencuri pandang ke sekelilingnya. Seperti khawatir

ada

yang mendengar. Aku sudah siap menembak. Satu tekanan telunj 75 %
a aku.” “Kamu memakai cheongsam dengan belahan di paha, kamu

ada

di belakang orkes.” Dan kulihat wajahnya menjadi pucat. “Kam 84 %
tu!” Wanita itu tampak beranjak akan lari. “Jangan lari, tak

ada

gunanya, tak ada seorang pun yang akan tahu siapa menembakmu 86 %
ampak beranjak akan lari. “Jangan lari, tak ada gunanya, tak

ada

seorang pun yang akan tahu siapa menembakmu. Senapan ini dil 87 %
k segala-galanya.” “Dua....” Hmm, alangkah gugupnya dia. “Ia

ada

di depan orang yang harus kamu tembak.” “Berkacamata?” “Ya.” 95 %
” “Nanti dulu, tunggu komando!” Dan aku mengamati wajah itu.

adakah

ia mempunyai firasat? Dari balik teleskop ini, wajah-wajah m 47 %
ianat?” “Ya, pengkhianat bangsa dan negara.” Jadi, sasaranku

adalah

seorang pengkhianat bangsa dan negara. Apakah aku termasuk p 21 %
menatap wajah orang-orang di bawah itu. Memang wajah mereka

adalah

wajah orang baik-baik, tapi entahlah apa yang kurang enak di 23 %
guh mati, aku akan sangat berbahagia kalau korbanku kali ini

adalah

seseorang yang memuakkan. Kuedarkan lagi senapanku. Menginti 25 %
k membunuhnya.” “Itu bukan urusanmu. Ini politik.” “Urusanku

adalah

leontinmu manis, ia bisa pecah berantakan oleh peluruku, dan 91 %
khianat bangsa dan negara? Ia pantas mendapatkan hukumannya.

agak

tegang juga aku menunggu perintah menembak. Itulah repotnya 54 %
khiri riwayat lelaki itu. Garis silang pada teleskop kugeser

agak

ke samping, supaya lubang peluru pada kepalanya tidak membua 76 %
tugas berpakaian preman mondar-mandir membawa walkie-talkie.

agaknya

pesta kambing-guling pada tepi kolam renang dalam sebuah hot 32 %
u terpental ke kolam renang dengan suara bergedebur sehingga

airnya

muncrat membasahi pakaian para tamu dan kolam renang itu seg 10 %
Keroncong Pembunuhan Oleh: Seno Gumira

ajidarma

hampir malam di Yogya ketika keretaku tiba Lagu keroncong me 0 %
menyukai lagu keroncong, ini membuat mereka terkenang-kenang

akan

masa lalunya. Mereka terserak di bawah sana, di sekitar kola 2 %
utinya. Kalau kutekankan telunjukku, tak pelak lagi dahi itu

akan

berlubang. Dan tubuh orang itu akan roboh. Bisa roboh perlah 7 %
tak pelak lagi dahi itu akan berlubang. Dan tubuh orang itu

akan

roboh. Bisa roboh perlahan-lahan seperti pohon ditebang, bis 7 %
enemukan orang yang mesti kubunuh. Memang belum waktunya. Ia

akan

datang sebentar lagi. Dan sebetulnya aku pun tak perlu terla 11 %
ngnya terbuka. Cantik sekali. Aku tak mengira seorang wanita

akan

terlibat dalam pembunuhan seperti ini. “Siapa sasaranku?” ta 17 %
nci? Ataukah karena perasaanku saja. Namun sungguh mati, aku

akan

sangat berbahagia kalau korbanku kali ini adalah seseorang y 25 %
tersenyum-senyum. Aku juga tersenyum. Sebentar lagi wajahmu

akan

ketakutan tanpa tahu malu. Tapi aku tidak melakukan itu. Aku 41 %
kan niat bersopan santun yang tidak menyebalkan. Apakah yang

akan

terjadi kalau ia kutembak mati? Aku teringat kematian Ninoy 50 %
Tapi aku tidak tahu politik. Jadi, sambil menatap wajah yang

akan

berlubang itu, aku berpikir tentang yang lain. Mungkin ia pu 52 %
punya anak. Bahkan kupikir ia pun pantas punya cucu. Mereka

akan

bertangisan setelah mendengar kematian orang ini, dan tangis 53 %
angisan setelah mendengar kematian orang ini, dan tangis itu

akan

makin menjadi-jadi ketika mengetahui cara kematiannya. Biar 53 %
ng mendengar. Aku sudah siap menembak. Satu tekanan telunjuk

akan

mengakhiri riwayat lelaki itu. Garis silang pada teleskop ku 76 %
anya tidak membuat pembagian yang terlalu simetris. Peluruku

akan

menembus mata kirinya. Dan aku menatap mata orang itu. Astag 77 %
kesalahan orang itu?” “Tembak dia sekarang tolol, atau kamu

akan

mati!” “Justru kamu yang bisa segera mati.” “Omong kosong! K 83 %
n cepat apa kesalahan orang itu!” Wanita itu tampak beranjak

akan

lari. “Jangan lari, tak ada gunanya, tak ada seorang pun yan 86 %
ari. “Jangan lari, tak ada gunanya, tak ada seorang pun yang

akan

tahu siapa menembakmu. Senapan ini dilengkapi peredam. Kamu 87 %
, ia bisa pecah berantakan oleh peluruku, dan peluru itu tak

akan

berhenti di situ.” Wajah itu kembali menatap ke arahku denga 92 %
lagu keroncong, lagu kesenangan orang-orang tua. Ini memang

akan

membuat mereka terkenang-kenang akan masa lalunya. Inilah keroncong fantasiii 99 %
g-orang tua. Ini memang akan membuat mereka terkenang-kenang

akan

masa lalunya. Inilah keroncong fantasiii 100 %
aku tiba Lagu keroncong membuatku ngantuk, padahal malam ini

aku

harus membunuh seseorang. Orang-orang tua memang menyukai la 1 %
h yang menarik perhatianku. Lewat teleskop pada senapan ini,

aku

memperhatikan mereka satu per satu, seolah-olah aku berada d 5 %
pan ini, aku memperhatikan mereka satu per satu, seolah-olah

aku

berada di antara mereka. Sebuah pesta yang meriah. Ada kambi 5 %
erah karena darah dan wanita-wanita berteriak: “Auuww!” Tapi

aku

belum menemukan orang yang mesti kubunuh. Memang belum waktu 11 %
belum waktunya. Ia akan datang sebentar lagi. Dan sebetulnya

aku

pun tak perlu terlalu repot mencarinya karena pesawat komuni 12 %
uara pada headphone itu, sebuah suara yang merdu. “Dari tadi

aku

sudah siap, yang mana orangnya?” “Sabar dong, sebentar lagi. 13 %
“Sabar dong, sebentar lagi.” Dari teras lantai 7 hotel ini,

aku

masih mengintip lewat teleskop. Angin laut yang basah terasa 14 %
terasa asin di bibirku. Iseng-iseng sambil menunggu sasaran,

aku

mencari orang yang berbicara padaku. Dan aku melihat wajah-w 15 %
nunggu sasaran, aku mencari orang yang berbicara padaku. Dan

aku

melihat wajah-wajah pada teleskop. Para wanita dengan pakaia 16 %
am yang anggun. Ada yang punggungnya terbuka. Cantik sekali.

aku

tak mengira seorang wanita akan terlibat dalam pembunuhan se 17 %
ri kontrak kita.” Kontrak semacam ini memang sering terjadi.

aku

dibayar untuk menembak, siapa yang jadi sasaran bukan urusan 19 %
saranku adalah seorang pengkhianat bangsa dan negara. Apakah

aku

termasuk pahlawan jika menembaknya? Kugerakkan lagi senapank 21 %
berdatangan. Ada sesuatu yang terasa kurang enak setiap kali

aku

menatap wajah orang-orang di bawah itu. Memang wajah mereka 23 %
kubenci? Ataukah karena perasaanku saja. Namun sungguh mati,

aku

akan sangat berbahagia kalau korbanku kali ini adalah seseor 25 %
Rasanya lama sekali. Seperti juga orang-orang di bawah sana,

aku

tak perlu mendengarkannya dengan sungguh-sungguh. Musik kero 27 %
bulan pun sedang purnama. Kuletakkan senapanku karena pegal.

aku

berjalan ke dalam kamar, mengambil kacang dari meja. Kupasan 33 %
televisi selalu buruk. Sunyi sekali rasanya kamar hotel ini.

aku

ingin buru-buru menembak sasaranku, lantas pulang dan minum 35 %
a terdengar lagi suara itu. “Ya, kenapa?” “Jangan main-main!

aku

tahu kamu tidak di tempat!” Aku bergegas kembali ke teras. “ 36 %
kenapa?” “Jangan main-main! Aku tahu kamu tidak di tempat!”

aku

bergegas kembali ke teras. “Bagaimana? Sudah datang orangnya 36 %
senapanku. Kucari posisi yang enak. Sambil mengunyah kacang

aku

mengintip kembali lewat teleskop. Garis silang itu kembali b 39 %
ah ke wajah. Mereka masih tertawa-tawa dan tersenyum-senyum.

aku

juga tersenyum. Sebentar lagi wajahmu akan ketakutan tanpa t 41 %
. Sebentar lagi wajahmu akan ketakutan tanpa tahu malu. Tapi

aku

tidak melakukan itu. Aku hanya bekerja berdasarkan kontrak. 41 %
kan ketakutan tanpa tahu malu. Tapi aku tidak melakukan itu.

aku

hanya bekerja berdasarkan kontrak. “Di sebelah mana dia?” ta 41 %
harus kulakukan sekarang?” “Nanti dulu, tunggu komando!” Dan

aku

mengamati wajah itu. Adakah ia mempunyai firasat? Dari balik 47 %
ra, namun tampaknya ia harus menjawab banyak pertanyaan. Dan

aku

merasa bahwa ia sangat hati-hati menjawab. Wajahnya menunjuk 49 %
enyebalkan. Apakah yang akan terjadi kalau ia kutembak mati?

aku

teringat kematian Ninoy di Filipina…. Tapi aku tidak tahu po 51 %
utembak mati? Aku teringat kematian Ninoy di Filipina…. Tapi

aku

tidak tahu politik. Jadi, sambil menatap wajah yang akan ber 51 %
politik. Jadi, sambil menatap wajah yang akan berlubang itu,

aku

berpikir tentang yang lain. Mungkin ia punya istri, punya an 52 %
n negara? Ia pantas mendapatkan hukumannya. Agak tegang juga

aku

menunggu perintah menembak. Itulah repotnya selalu bekerja b 54 %
u bekerja berdasarkan kontrak. Tidak bisa seenaknya sendiri.

aku

dibayar untuk mengarahkan garis silang teleskop senapanku pa 55 %
at yang paling mematikan, untuk kemudian menekan pelatuknya.

aku

selalu mengatakan pada diriku sendiri bahwa aku tidak membun 56 %
pelatuknya. Aku selalu mengatakan pada diriku sendiri bahwa

aku

tidak membunuh orang, aku hanya membidik dan menekan pelatuk 57 %
ngatakan pada diriku sendiri bahwa aku tidak membunuh orang,

aku

hanya membidik dan menekan pelatuk. Kutatap lagi wajah itu, 57 %
nya begitu dekat, bahkan pori-porinya terlihat dengan jelas.

aku

bagaikan menatap bayang-bayang takdir. Siapakah sebenarnya y 58 %
anyak. Wajah-wajah cantik silih berganti mengisi teleskopku.

aku

harus memancing dia bicara. “Tunggu perintah apa lagi?” “Kau 62 %
pa wanita, dan petugas-petugas berpakaian preman. Yang mana?

aku

meneliti mereka satu per satu. Beberapa di antaranya jelas c 67 %
ndang ke sekelilingnya. Seperti khawatir ada yang mendengar.

aku

sudah siap menembak. Satu tekanan telunjuk akan mengakhiri r 75 %
g terlalu simetris. Peluruku akan menembus mata kirinya. Dan

aku

menatap mata orang itu. Astaga. Benarkah dia seorang pengkhi 77 %
ang pengkhianat?” “Tidak usah tanya-tanya, tembak sekarang!”

aku

menatap lagi matanya, pengkhianat yang bagaimana? “Pengkhian 79 %
ontrak kubatalkan!” Perasaan aneh tiba-tiba merasuki diriku.

aku

malah mengarahkan senapan pada wanita itu. “Laras senapanku 80 %
ngkapi peredam. Kamu tahu tembakanku belum pernah luput, dan

aku

bisa segera lenyap.” Wajahnya menatap ke atas, ke arahku. Ku 88 %
ataan-pernyataan yang tidak benar.” “Lantas?” “Kamu mau apa?

aku

tidak tahu banyak.” “Aku ingin tahu, apakah semua itu merupa 90 %
natap ke arahku dengan pandang menghiba. “Jangan tembak aku!

aku

tidak tahu apa-apa!” “Siapa yang menyuruhmu?” “Aku tidak tah 93 %
mbak.” “Berkacamata?” “Ya.” Kuarahkan senapanku ke sana. Dan

aku

melihat orang itu. Ia sedang bercerita dengan berapi-api. Ta 96 %
li menatap ke arahku dengan pandang menghiba. “Jangan tembak

aku!

Aku tidak tahu apa-apa!” “Siapa yang menyuruhmu?” “Aku tidak 93 %
. Siapakah sebenarnya yang menghentikan kehidupan orang itu,

akukah

atau Kamu? Orang itu tak sadar sama sekali kalau malaikan ma 59 %
u…” “Kamu gila, kamu merusak segala-galanya.” “Dua....” Hmm,

alangkah

gugupnya dia. “Ia ada di depan orang yang harus kamu tembak. 95 %
ak tahu banyak.” “Aku ingin tahu, apakah semua itu merupakan

alasan

yang cukup untuk membunuhnya.” “Itu bukan urusanmu. Ini poli 91 %
lol? Tembak dia sekarang, atau kontrak kubatalkan!” Perasaan

aneh

tiba-tiba merasuki diriku. Aku malah mengarahkan senapan pad 80 %
eras lantai 7 hotel ini, aku masih mengintip lewat teleskop.

angin

laut yang basah terasa asin di bibirku. Iseng-iseng sambil m 15 %
emperhatikan mereka satu per satu, seolah-olah aku berada di

antara

mereka. Sebuah pesta yang meriah. Ada kambing-guling. Hmmm… 5 %
jah menjilat. Garis silang pada teleskopku berhenti tepat di

antara

kedua matanya. “Apakah harus kulakukan sekarang?” “Nanti dul 47 %
diri menggeser senapan itu. Dengan indra keenam ia kucari di

antara

kerumunan orang banyak. Wajah-wajah cantik silih berganti me 61 %
n. Yang mana? Aku meneliti mereka satu per satu. Beberapa di

antaranya

jelas cuma pegawai perusahaan catering. Ada satu wanita bert 67 %
ang wajah mereka adalah wajah orang baik-baik, tapi entahlah

apa

yang kurang enak di sana. Apakah karena banyak yang memakai 23 %
teleskopku. Aku harus memancing dia bicara. “Tunggu perintah

apa

lagi?” “Kau tak perlu tahu, pokoknya tunggu!” “Ini tidak ada 62 %
g yang tidak bersalah.” “Itu urusanku sendiri, katakan cepat

apa

kesalahan orang itu!” Wanita itu tampak beranjak akan lari. 86 %
ang wajah mereka adalah wajah orang baik-baik, tapi entahlah

apa

yang kurang enak di sana. Apakah karena banyak yang memakai 23 %
teleskopku. Aku harus memancing dia bicara. “Tunggu perintah

apa

lagi?” “Kau tak perlu tahu, pokoknya tunggu!” “Ini tidak ada 62 %
g yang tidak bersalah.” “Itu urusanku sendiri, katakan cepat

apa

kesalahan orang itu!” Wanita itu tampak beranjak akan lari. 86 %
dengan pandang menghiba. “Jangan tembak aku! Aku tidak tahu

apa-apa!”

“Siapa yang menyuruhmu?” “Aku tidak tahu apa-apa.” “Leontinm 93 %
adi, sasaranku adalah seorang pengkhianat bangsa dan negara.

apakah

aku termasuk pahlawan jika menembaknya? Kugerakkan lagi sena 21 %
orang baik-baik, tapi entahlah apa yang kurang enak di sana.

apakah

karena banyak yang memakai baju resmi, seragam yang kubenci? 24 %
nya menunjukkan niat bersopan santun yang tidak menyebalkan.

apakah

yang akan terjadi kalau ia kutembak mati? Aku teringat kemat 50 %
as?” “Kamu mau apa? Aku tidak tahu banyak.” “Aku ingin tahu,

apakah

semua itu merupakan alasan yang cukup untuk membunuhnya.” “I 90 %
hitam dengan poni menutup dahinya. Matanya menatap tajam ke

arah

si baju batik merah! “Tembaklah dia sekarang,” ujarnya pelan 68 %
Apa-apaan ini?” Dalam teleskop kulihat wajahnya mendongak ke

arahku

dengan kaget. “Katakan padaku,” kataku lagi, “apa kesalahan 82 %
itu tak akan berhenti di situ.” Wajah itu kembali menatap ke

arahku

dengan pandang menghiba. “Jangan tembak aku! Aku tidak tahu 92 %
masih mengintip lewat teleskop. Angin laut yang basah terasa

asin

di bibirku. Iseng-iseng sambil menunggu sasaran, aku mencari 15 %
kah sebenarnya yang menghentikan kehidupan orang itu, akukah

atau

Kamu? Orang itu tak sadar sama sekali kalau malaikan maut te 59 %
dak diadili saja?” “Apa urusanmu tolol? Tembak dia sekarang,

atau

kontrak kubatalkan!” Perasaan aneh tiba-tiba merasuki diriku 80 %
lagi, “apa kesalahan orang itu?” “Tembak dia sekarang tolol,

atau

kamu akan mati!” “Justru kamu yang bisa segera mati.” “Omong 83 %
karena banyak yang memakai baju resmi, seragam yang kubenci?

ataukah

karena perasaanku saja. Namun sungguh mati, aku akan sangat 24 %
begitu dekat, bahkan pori-porinya terlihat dengan jelas. Aku

bagaikan

menatap bayang-bayang takdir. Siapakah sebenarnya yang mengh 58 %
hnya hanya bisa kukira-kira saja. “Kau tidak perlu tahu, ini

bagian

dari kontrak kita.” Kontrak semacam ini memang sering terjad 19 %
sesekali pecah dari tiap kerumunan. Tak semuanya tua memang,

bahkan

banyak wanita muda. Paling tidak itulah yang menarik perhati 4 %
i orang-orang penting. Malam cerah dan langit penuh bintang.

bahkan

bulan pun sedang purnama. Kuletakkan senapanku karena pegal. 33 %
pikir tentang yang lain. Mungkin ia punya istri, punya anak.

bahkan

kupikir ia pun pantas punya cucu. Mereka akan bertangisan se 52 %
nekan pelatuk. Kutatap lagi wajah itu, rasanya begitu dekat,

bahkan

pori-porinya terlihat dengan jelas. Aku bagaikan menatap bay 58 %
ampaknya ia harus menjawab banyak pertanyaan. Dan aku merasa

bahwa

ia sangat hati-hati menjawab. Wajahnya menunjukkan niat bers 50 %
enekan pelatuknya. Aku selalu mengatakan pada diriku sendiri

bahwa

aku tidak membunuh orang, aku hanya membidik dan menekan pel 57 %
yang kurang enak di sana. Apakah karena banyak yang memakai

baju

resmi, seragam yang kubenci? Ataukah karena perasaanku saja. 24 %
i ke teras. “Bagaimana? Sudah datang orangnya?” “Dia memakai

baju

batik merah, kebetulan satu-satunya yang merah di sini, jadi 37 %
begitu saja. Dan, nah, itu dia, seorang lelaki yang mamakai

baju

batik berwarna merah. Wajahnya tampan dan berwibawa. Ia suda 44 %
engan poni menutup dahinya. Matanya menatap tajam ke arah si

baju

batik merah! “Tembaklah dia sekarang,” ujarnya pelan dalam h 68 %
k pahlawan jika menembaknya? Kugerakkan lagi senapanku. Dari

balik

teleskop kuteliti orang-orang yang makin banyak saja berdata 22 %
anpa diketahui rasanya menyenangkan. sepasang mata bola dari

balik

jendela Belum habis juga lagu keroncong itu. Rasanya lama se 26 %
n aku mengamati wajah itu. Adakah ia mempunyai firasat? Dari

balik

teleskop ini, wajah-wajah memunculkan pesonanya sendiri, yan 48 %
a?" “Orang itu pengkhianat.” “Pengkhianat?” “Ya, pengkhianat

bangsa

dan negara.” Jadi, sasaranku adalah seorang pengkhianat bang 20 %
ngsa dan negara.” Jadi, sasaranku adalah seorang pengkhianat

bangsa

dan negara. Apakah aku termasuk pahlawan jika menembaknya? K 21 %
cara kematiannya. Biar saja. Bukankah ia seorang pengkhianat

bangsa

dan negara? Ia pantas mendapatkan hukumannya. Agak tegang ju 54 %
an kesalahannya.” “Ia pengkhianat, ia menjelek-jelekkan nama

bangsa

dan negara kita di luar negeri.” “Cuma itu?” “Ia meresahkan 89 %
k di bawah sana, di sekitar kolam renang, tapi tampaknya tak

banyak

yang mendengarkan lagu keroncong itu dengan sungguh-sungguh. 3 %
i pecah dari tiap kerumunan. Tak semuanya tua memang, bahkan

banyak

wanita muda. Paling tidak itulah yang menarik perhatianku. L 4 %
napanku. Dari balik teleskop kuteliti orang-orang yang makin

banyak

saja berdatangan. Ada sesuatu yang terasa kurang enak setiap 22 %
k, tapi entahlah apa yang kurang enak di sana. Apakah karena

banyak

yang memakai baju resmi, seragam yang kubenci? Ataukah karen 24 %
tampak telah uzur. Rambutnya disisr rapi ke belakang. Ia tak

banyak

tertawa dan tersenyum. Orang-orang mengerumuninya dengan hor 45 %
dengan bila kita berhadapan langsung dengan orangnya. Ia tak

banyak

bicara, namun tampaknya ia harus menjawab banyak pertanyaan. 49 %
nya. Ia tak banyak bicara, namun tampaknya ia harus menjawab

banyak

pertanyaan. Dan aku merasa bahwa ia sangat hati-hati menjawa 49 %
sibuk bicara dengan tangan bergerak-gerak ke segala penjuru.

bapak-bapak

yang dari wajahnya tampak berjiwa pegawai, menyembunyikan di 30 %
tel ini, aku masih mengintip lewat teleskop. Angin laut yang

basah

terasa asin di bibirku. Iseng-iseng sambil menunggu sasaran, 15 %
teras. “Bagaimana? Sudah datang orangnya?” “Dia memakai baju

batik

merah, kebetulan satu-satunya yang merah di sini, jadi enak 37 %
luk-makhluk kecil, tentu tak terlalu jelas mana yang berbaju

batik

merah dari lantai 7 seperti ini. Kuangkat kembali senapanku. 39 %
tu saja. Dan, nah, itu dia, seorang lelaki yang mamakai baju

batik

berwarna merah. Wajahnya tampan dan berwibawa. Ia sudah sete 44 %
poni menutup dahinya. Matanya menatap tajam ke arah si baju

batik

merah! “Tembaklah dia sekarang,” ujarnya pelan dalam headpho 68 %
ereka terkenang-kenang akan masa lalunya. Mereka terserak di

bawah

sana, di sekitar kolam renang, tapi tampaknya tak banyak yan 2 %
asa kurang enak setiap kali aku menatap wajah orang-orang di

bawah

itu. Memang wajah mereka adalah wajah orang baik-baik, tapi 23 %
oncong itu. Rasanya lama sekali. Seperti juga orang-orang di

bawah

sana, aku tak perlu mendengarkannya dengan sungguh-sungguh. 27 %
“Di sebelah mana dia?” tanyaku lewat mike yang tergantung di

bawah

daguku. “Dia di sudut kolam renang sebelah selatan, dekat pa 42 %
kan pori-porinya terlihat dengan jelas. Aku bagaikan menatap

bayang-bayang

takdir. Siapakah sebenarnya yang menghentikan kehidupan oran 58 %
at mampir di dada penyanyi keroncong yang membusung itu. Ada

beberapa

kerumunan. Di telingaku juga berdentang bunyi gelas dan piri 65 %
ing. Ia mungkin di belakang orkes, dekat meja prasmanan. Ada

beberapa

wanita, dan petugas-petugas berpakaian preman. Yang mana? Ak 66 %
akaian preman. Yang mana? Aku meneliti mereka satu per satu.

beberapa

di antaranya jelas cuma pegawai perusahaan catering. Ada sat 67 %
imis, dan gemerlapan. Wanita-wanita cantik terpaksa kulewati

begitu

saja. Dan, nah, itu dia, seorang lelaki yang mamakai baju ba 44 %
embidik dan menekan pelatuk. Kutatap lagi wajah itu, rasanya

begitu

dekat, bahkan pori-porinya terlihat dengan jelas. Aku bagaik 58 %
tan tanpa tahu malu. Tapi aku tidak melakukan itu. Aku hanya

bekerja

berdasarkan kontrak. “Di sebelah mana dia?” tanyaku lewat mi 41 %
juga aku menunggu perintah menembak. Itulah repotnya selalu

bekerja

berdasarkan kontrak. Tidak bisa seenaknya sendiri. Aku dibay 55 %
! Kamu tak tahu di mana aku.” “Kamu memakai cheongsam dengan

belahan

di paha, kamu ada di belakang orkes.” Dan kulihat wajahnya m 84 %
ingaku juga berdentang bunyi gelas dan piring. Ia mungkin di

belakang

orkes, dekat meja prasmanan. Ada beberapa wanita, dan petuga 66 %
“Kamu memakai cheongsam dengan belahan di paha, kamu ada di

belakang

orkes.” Dan kulihat wajahnya menjadi pucat. “Kamu sudah mela 84 %
karena darah dan wanita-wanita berteriak: “Auuww!” Tapi aku

belum

menemukan orang yang mesti kubunuh. Memang belum waktunya. I 11 %
!” Tapi aku belum menemukan orang yang mesti kubunuh. Memang

belum

waktunya. Ia akan datang sebentar lagi. Dan sebetulnya aku p 11 %
rasanya menyenangkan. sepasang mata bola dari balik jendela

belum

habis juga lagu keroncong itu. Rasanya lama sekali. Seperti 26 %
mbakmu. Senapan ini dilengkapi peredam. Kamu tahu tembakanku

belum

pernah luput, dan aku bisa segera lenyap.” Wajahnya menatap 87 %
ang?” “Aku bilang tunggu perintah!” Sialan cewek itu, berani

benar

membentak-bentak seorang pembunuh bayaran. Tanganku tiba-tib 60 %
nembus mata kirinya. Dan aku menatap mata orang itu. Astaga.

benarkah

dia seorang pengkhianat? “Kau tidak keliru? Benarkah ia seor 78 %
Astaga. Benarkah dia seorang pengkhianat? “Kau tidak keliru?

benarkah

ia seorang pengkhianat?” “Tidak usah tanya-tanya, tembak sek 78 %
dengan sungguh-sungguh. Musik keroncong sekarang ini seperti

benda

museum, para senimannya kurang jenius untuk membuatnya lebih 28 %
ini, aku memperhatikan mereka satu per satu, seolah-olah aku

berada

di antara mereka. Sebuah pesta yang meriah. Ada kambing-guli 5 %
Lagu keroncong itu lagi, jelas sekali di telingaku. Pasti ia

berada

di dekat orkes. Kucari-cari sekitar orkes. Teleskopku sempat 64 %
? Sekarang?” “Aku bilang tunggu perintah!” Sialan cewek itu,

berani

benar membentak-bentak seorang pembunuh bayaran. Tanganku ti 60 %
i, katakan cepat apa kesalahan orang itu!” Wanita itu tampak

beranjak

akan lari. “Jangan lari, tak ada gunanya, tak ada seorang pu 86 %
ni politik.” “Urusanku adalah leontinmu manis, ia bisa pecah

berantakan

oleh peluruku, dan peluru itu tak akan berhenti di situ.” Wa 92 %
karena perasaanku saja. Namun sungguh mati, aku akan sangat

berbahagia

kalau korbanku kali ini adalah seseorang yang memuakkan. Kue 25 %
nan makhluk-makhluk kecil, tentu tak terlalu jelas mana yang

berbaju

batik merah dari lantai 7 seperti ini. Kuangkat kembali sena 38 %
eleskop ini, wajah-wajah memunculkan pesonanya sendiri, yang

berbeda

dibanding dengan bila kita berhadapan langsung dengan orangn 48 %
Iseng-iseng sambil menunggu sasaran, aku mencari orang yang

berbicara

padaku. Dan aku melihat wajah-wajah pada teleskop. Para wani 15 %
ta sendiri. Rupanya betul dia. Ia mendengar lewat giwang dan

berbicara

padaku lewat mikrofon yang tersembunyi dalam leontin kalungn 70 %
ndengarkan lagu keroncong itu dengan sungguh-sungguh. Mereka

bercakap

sendiri, riuh dan tawa sesekali pecah dari tiap kerumunan. T 3 %
rkan cerita seseorang di hadapannya dengan sabar. Orang yang

bercerita

itu tampak berapi-api, namun lelaki itu kelihatannya menahan 74 %
hkan senapanku ke sana. Dan aku melihat orang itu. Ia sedang

bercerita

dengan berapi-api. Tangannya bergerak kian kemari, mengepal 96 %
a tahu malu. Tapi aku tidak melakukan itu. Aku hanya bekerja

berdasarkan

kontrak. “Di sebelah mana dia?” tanyaku lewat mike yang terg 41 %
u menunggu perintah menembak. Itulah repotnya selalu bekerja

berdasarkan

kontrak. Tidak bisa seenaknya sendiri. Aku dibayar untuk men 55 %
ang membusung itu. Ada beberapa kerumunan. Di telingaku juga

berdentang

bunyi gelas dan piring. Ia mungkin di belakang orkes, dekat 65 %
anan, menyeruput minuman, tersenyum dan tertawa. Ada ibu-ibu

berdiri

dengan kaku di samping suaminya yang sibuk bicara dengan tan 29 %
u mengintip kembali lewat teleskop. Garis silang itu kembali

beredar

dari wajah ke wajah. Mereka masih tertawa-tawa dan tersenyum 40 %
i di antara kerumunan orang banyak. Wajah-wajah cantik silih

berganti

mengisi teleskopku. Aku harus memancing dia bicara. “Tunggu 62 %
lagi kalau tubuh itu terpental ke kolam renang dengan suara

bergedebur

sehingga airnya muncrat membasahi pakaian para tamu dan kola 10 %
apa?” “Jangan main-main! Aku tahu kamu tidak di tempat!” Aku

bergegas

kembali ke teras. “Bagaimana? Sudah datang orangnya?” “Dia m 36 %
embentak-bentak seorang pembunuh bayaran. Tanganku tiba-tiba

bergerak

sendiri menggeser senapan itu. Dengan indra keenam ia kucari 61 %
orang itu. Ia sedang bercerita dengan berapi-api. Tangannya

bergerak

kian kemari, mengepal dan memukul-mukulkan tinjunya pada tel 97 %
gan kaku di samping suaminya yang sibuk bicara dengan tangan

bergerak-gerak

ke segala penjuru. Bapak-bapak yang dari wajahnya tampak ber 30 %
n pesonanya sendiri, yang berbeda dibanding dengan bila kita

berhadapan

langsung dengan orangnya. Ia tak banyak bicara, namun tampak 49 %
Garis silang pada teleskop itu terus saja bergerak. Sesekali

berhenti

pada dahi seseorang, dan mengikutinya. Kalau kutekankan telu 6 %
da juga yang berwajah menjilat. Garis silang pada teleskopku

berhenti

tepat di antara kedua matanya. “Apakah harus kulakukan sekar 46 %
bisa pecah berantakan oleh peluruku, dan peluru itu tak akan

berhenti

di situ.” Wajah itu kembali menatap ke arahku dengan pandang 92 %
n pun sedang purnama. Kuletakkan senapanku karena pegal. Aku

berjalan

ke dalam kamar, mengambil kacang dari meja. Kupasang televis 33 %
rak ke segala penjuru. Bapak-bapak yang dari wajahnya tampak

berjiwa

pegawai, menyembunyikan diri dengan sopan, tapi makan banyak 31 %
lan dalam headphone-ku, dan kulihat dari teleskop dia memang

berkata-kata

sendiri. Rupanya betul dia. Ia mendengar lewat giwang dan be 69 %
era lenyap.” Wajahnya menatap ke atas, ke arahku. Kulihat ia

berkeringat

dingin. Gelisah. “Apa maumu?” “Katakan kesalahannya.” “Ia pe 88 %
aku tidak tahu politik. Jadi, sambil menatap wajah yang akan

berlubang

itu, aku berpikir tentang yang lain. Mungkin ia punya istri, 52 %
dengan sopan, tapi makan banyak-banyak. Tampak pula petugas

berpakaian

preman mondar-mandir membawa walkie-talkie. Agaknya pesta ka 31 %
kat meja prasmanan. Ada beberapa wanita, dan petugas-petugas

berpakaian

preman. Yang mana? Aku meneliti mereka satu per satu. Bebera 66 %
tik. Jadi, sambil menatap wajah yang akan berlubang itu, aku

berpikir

tentang yang lain. Mungkin ia punya istri, punya anak. Bahka 52 %
ahwa ia sangat hati-hati menjawab. Wajahnya menunjukkan niat

bersopan

santun yang tidak menyebalkan. Apakah yang akan terjadi kala 50 %
us untuk membuatnya lebih berkembang. Di manakah wanita yang

bersuara

lembut itu? Di mana-mana orang mengunyah makanan, menyeruput 28 %
anya jelas cuma pegawai perusahaan catering. Ada satu wanita

bertampang

juragan. Mungkin satunya lagi. Rambutnya lurus dan hitam den 67 %
a anak. Bahkan kupikir ia pun pantas punya cucu. Mereka akan

bertangisan

setelah mendengar kematian orang ini, dan tangis itu akan ma 53 %
ang itu segera berwarna merah karena darah dan wanita-wanita

berteriak:

“Auuww!” Tapi aku belum menemukan orang yang mesti kubunuh. 11 %
yum. Orang-orang mengerumuninya dengan hormat. Ada juga yang

berwajah

menjilat. Garis silang pada teleskopku berhenti tepat di ant 46 %
crat membasahi pakaian para tamu dan kolam renang itu segera

berwarna

merah karena darah dan wanita-wanita berteriak: “Auuww!” Tap 10 %
a. Dan, nah, itu dia, seorang lelaki yang mamakai baju batik

berwarna

merah. Wajahnya tampan dan berwibawa. Ia sudah setengah umur 44 %
lihat dari teleskop dia memang berkata-kata sendiri. Rupanya

betul

dia. Ia mendengar lewat giwang dan berbicara padaku lewat mi 70 %
akan makin menjadi-jadi ketika mengetahui cara kematiannya.

biar

saja. Bukankah ia seorang pengkhianat bangsa dan negara? Ia 54 %
a ibu-ibu berdiri dengan kaku di samping suaminya yang sibuk

bicara

dengan tangan bergerak-gerak ke segala penjuru. Bapak-bapak 30 %
memunculkan pesonanya sendiri, yang berbeda dibanding dengan

bila

kita berhadapan langsung dengan orangnya. Ia tak banyak bica 48 %
telah mengelus-elus tengkuknya. “Bagaimana? Sekarang?” “Aku

bilang

tunggu perintah!” Sialan cewek itu, berani benar membentak-b 60 %
agi dahi itu akan berlubang. Dan tubuh orang itu akan roboh.

bisa

roboh perlahan-lahan seperti pohon ditebang, bisa pula terse 8 %
kan roboh. Bisa roboh perlahan-lahan seperti pohon ditebang,

bisa

pula tersentak dan mengacaukan kerumunan orang yang sedang t 8 %
i. Dilakukan lewat telepon seperti itu, tentu wajahnya hanya

bisa

kukira-kira saja. “Kau tidak perlu tahu, ini bagian dari kon 18 %
k. Itulah repotnya selalu bekerja berdasarkan kontrak. Tidak

bisa

seenaknya sendiri. Aku dibayar untuk mengarahkan garis silan 55 %
dia sekarang tolol, atau kamu akan mati!” “Justru kamu yang

bisa

segera mati.” “Omong kosong! Kamu tak tahu di mana aku.” “Ka 83 %
pi peredam. Kamu tahu tembakanku belum pernah luput, dan aku

bisa

segera lenyap.” Wajahnya menatap ke atas, ke arahku. Kulihat 88 %
urusanmu. Ini politik.” “Urusanku adalah leontinmu manis, ia

bisa

pecah berantakan oleh peluruku, dan peluru itu tak akan berh 92 %
..” “Ah, jangan, jangan tembak! Please...” “Siapa?” “Aku…aku

bisa

celaka.” “Sekarang pun kamu bisa celaka. Kuhitung sampai tig 94 %
lease...” “Siapa?” “Aku…aku bisa celaka.” “Sekarang pun kamu

bisa

celaka. Kuhitung sampai tiga. Satu…” “Kamu gila, kamu merusa 94 %
an orang tanpa diketahui rasanya menyenangkan. sepasang mata

bola

dari balik jendela Belum habis juga lagu keroncong itu. Rasa 26 %
, siapa yang jadi sasaran bukan urusanku. “Tapi satu hal kau

boleh

tahu.” “Apa?" “Orang itu pengkhianat.” “Pengkhianat?” “Ya, p 20 %
terjadi. Aku dibayar untuk menembak, siapa yang jadi sasaran

bukan

urusanku. “Tapi satu hal kau boleh tahu.” “Apa?" “Orang itu 19 %
k.” “Aku tidak mau menembak orang yang tidak bersalah." “Itu

bukan

urusanmu, tahun lalu kamu menembak ribuan orang yang tidak b 85 %
mua itu merupakan alasan yang cukup untuk membunuhnya.” “Itu

bukan

urusanmu. Ini politik.” “Urusanku adalah leontinmu manis, ia 91 %
menjadi-jadi ketika mengetahui cara kematiannya. Biar saja.

bukankah

ia seorang pengkhianat bangsa dan negara? Ia pantas mendapat 54 %
-orang penting. Malam cerah dan langit penuh bintang. Bahkan

bulan

pun sedang purnama. Kuletakkan senapanku karena pegal. Aku b 33 %
ng itu. Ada beberapa kerumunan. Di telingaku juga berdentang

bunyi

gelas dan piring. Ia mungkin di belakang orkes, dekat meja p 65 %
elalu buruk. Sunyi sekali rasanya kamar hotel ini. Aku ingin

buru-buru

menembak sasaranku, lantas pulang dan minum segelas bir. “He 35 %
a! Kamu jangan main gila.” selendang sutra tanda mata darimu

busyet!

Lagu keroncong itu lagi, jelas sekali di telingaku. Pasti ia 64 %
gan pakaian malam yang anggun. Ada yang punggungnya terbuka.

cantik

sekali. Aku tak mengira seorang wanita akan terlibat dalam p 16 %
wajah-wajah berlemak, klimis, dan gemerlapan. Wanita-wanita

cantik

terpaksa kulewati begitu saja. Dan, nah, itu dia, seorang le 44 %
enam ia kucari di antara kerumunan orang banyak. Wajah-wajah

cantik

silih berganti mengisi teleskopku. Aku harus memancing dia b 62 %
ni, dan tangis itu akan makin menjadi-jadi ketika mengetahui

cara

kematiannya. Biar saja. Bukankah ia seorang pengkhianat bang 53 %
n orang yang tidak bersalah.” “Itu urusanku sendiri, katakan

cepat

apa kesalahan orang itu!” Wanita itu tampak beranjak akan la 86 %
hotel di tepi pantai ini dihadiri orang-orang penting. Malam

cerah

dan langit penuh bintang. Bahkan bulan pun sedang purnama. K 33 %
li pada sasaran. Lelaki setengah tua itu sedang mendengarkan

cerita

seseorang di hadapannya dengan sabar. Orang yang bercerita i 73 %
“Bagaimana? Sekarang?” “Aku bilang tunggu perintah!” Sialan

cewek

itu, berani benar membentak-bentak seorang pembunuh bayaran. 60 %
i.” “Omong kosong! Kamu tak tahu di mana aku.” “Kamu memakai

cheongsam

dengan belahan di paha, kamu ada di belakang orkes.” Dan kul 83 %
ak.” “Aku ingin tahu, apakah semua itu merupakan alasan yang

cukup

untuk membunuhnya.” “Itu bukan urusanmu. Ini politik.” “Urus 91 %
u meneliti mereka satu per satu. Beberapa di antaranya jelas

cuma

pegawai perusahaan catering. Ada satu wanita bertampang jura 67 %
rkes. Kucari-cari sekitar orkes. Teleskopku sempat mampir di

dada

penyanyi keroncong yang membusung itu. Ada beberapa kerumuna 65 %
yi dalam leontin kalungnya. Leontin yang indah, terpajang di

dadanya

yang tipis. “Apa?” tanyaku lagi, karena ingin meyakinkan, me 71 %
ada teleskop itu terus saja bergerak. Sesekali berhenti pada

dahi

seseorang, dan mengikutinya. Kalau kutekankan telunjukku, ta 6 %
an mengikutinya. Kalau kutekankan telunjukku, tak pelak lagi

dahi

itu akan berlubang. Dan tubuh orang itu akan roboh. Bisa rob 7 %
Cantik sekali. Aku tak mengira seorang wanita akan terlibat

dalam

pembunuhan seperti ini. “Siapa sasaranku?” tanyaku minggu la 17 %
-talkie. Agaknya pesta kambing-guling pada tepi kolam renang

dalam

sebuah hotel di tepi pantai ini dihadiri orang-orang penting 32 %
purnama. Kuletakkan senapanku karena pegal. Aku berjalan ke

dalam

kamar, mengambil kacang dari meja. Kupasang televisi, tapi s 34 %
lagi?” “Kau tak perlu tahu, pokoknya tunggu!” “Ini tidak ada

dalam

perjanjian.” “Ada! Kamu jangan main gila.” selendang sutra t 63 %
si baju batik merah! “Tembaklah dia sekarang,” ujarnya pelan

dalam

headphone-ku, dan kulihat dari teleskop dia memang berkata-k 69 %
giwang dan berbicara padaku lewat mikrofon yang tersembunyi

dalam

leontin kalungnya. Leontin yang indah, terpajang di dadanya 70 %
anku mengarah padamu manis,” kataku dingin. “Apa-apaan ini?”

dalam

teleskop kulihat wajahnya mendongak ke arahku dengan kaget. 81 %
ng itu dengan sungguh-sungguh. Mereka bercakap sendiri, riuh

dan

tawa sesekali pecah dari tiap kerumunan. Tak semuanya tua me 3 %
terus saja bergerak. Sesekali berhenti pada dahi seseorang,

dan

mengikutinya. Kalau kutekankan telunjukku, tak pelak lagi da 7 %
tekankan telunjukku, tak pelak lagi dahi itu akan berlubang.

dan

tubuh orang itu akan roboh. Bisa roboh perlahan-lahan sepert 7 %
h perlahan-lahan seperti pohon ditebang, bisa pula tersentak

dan

mengacaukan kerumunan orang yang sedang tertawa-tawa itu, me 8 %
rgedebur sehingga airnya muncrat membasahi pakaian para tamu

dan

kolam renang itu segera berwarna merah karena darah dan wani 10 %
tamu dan kolam renang itu segera berwarna merah karena darah

dan

wanita-wanita berteriak: “Auuww!” Tapi aku belum menemukan o 11 %
ubunuh. Memang belum waktunya. Ia akan datang sebentar lagi.

dan

sebetulnya aku pun tak perlu terlalu repot mencarinya karena 12 %
l menunggu sasaran, aku mencari orang yang berbicara padaku.

dan

aku melihat wajah-wajah pada teleskop. Para wanita dengan pa 15 %
ang itu pengkhianat.” “Pengkhianat?” “Ya, pengkhianat bangsa

dan

negara.” Jadi, sasaranku adalah seorang pengkhianat bangsa d 20 %
n negara.” Jadi, sasaranku adalah seorang pengkhianat bangsa

dan

negara. Apakah aku termasuk pahlawan jika menembaknya? Kuger 21 %
-mana orang mengunyah makanan, menyeruput minuman, tersenyum

dan

tertawa. Ada ibu-ibu berdiri dengan kaku di samping suaminya 29 %
di tepi pantai ini dihadiri orang-orang penting. Malam cerah

dan

langit penuh bintang. Bahkan bulan pun sedang purnama. Kulet 33 %
l ini. Aku ingin buru-buru menembak sasaranku, lantas pulang

dan

minum segelas bir. “Hei, kamu masih di situ?” tiba-tiba terd 35 %
mbali beredar dari wajah ke wajah. Mereka masih tertawa-tawa

dan

tersenyum-senyum. Aku juga tersenyum. Sebentar lagi wajahmu 40 %
apanku ke kanan. Kulewati lagi wajah-wajah berlemak, klimis,

dan

gemerlapan. Wanita-wanita cantik terpaksa kulewati begitu sa 43 %
laki yang mamakai baju batik berwarna merah. Wajahnya tampan

dan

berwibawa. Ia sudah setengah umur tapi tak tampak telah uzur 45 %
ur. Rambutnya disisr rapi ke belakang. Ia tak banyak tertawa

dan

tersenyum. Orang-orang mengerumuninya dengan hormat. Ada jug 46 %
kah harus kulakukan sekarang?” “Nanti dulu, tunggu komando!”

dan

aku mengamati wajah itu. Adakah ia mempunyai firasat? Dari b 47 %
bicara, namun tampaknya ia harus menjawab banyak pertanyaan.

dan

aku merasa bahwa ia sangat hati-hati menjawab. Wajahnya menu 49 %
ereka akan bertangisan setelah mendengar kematian orang ini,

dan

tangis itu akan makin menjadi-jadi ketika mengetahui cara ke 53 %
matiannya. Biar saja. Bukankah ia seorang pengkhianat bangsa

dan

negara? Ia pantas mendapatkan hukumannya. Agak tegang juga a 54 %
u sendiri bahwa aku tidak membunuh orang, aku hanya membidik

dan

menekan pelatuk. Kutatap lagi wajah itu, rasanya begitu deka 57 %
beberapa kerumunan. Di telingaku juga berdentang bunyi gelas

dan

piring. Ia mungkin di belakang orkes, dekat meja prasmanan. 66 %
i belakang orkes, dekat meja prasmanan. Ada beberapa wanita,

dan

petugas-petugas berpakaian preman. Yang mana? Aku meneliti m 66 %
ta bertampang juragan. Mungkin satunya lagi. Rambutnya lurus

dan

hitam dengan poni menutup dahinya. Matanya menatap tajam ke 68 %
“Tembaklah dia sekarang,” ujarnya pelan dalam headphone-ku,

dan

kulihat dari teleskop dia memang berkata-kata sendiri. Rupan 69 %
a-kata sendiri. Rupanya betul dia. Ia mendengar lewat giwang

dan

berbicara padaku lewat mikrofon yang tersembunyi dalam leont 70 %
ah semua pembunuhan itu berlangsung. Mata rantai tanpa ujung

dan

pangkal. Wanita ini tentu hanya salah satu mata rantai. Kual 72 %
yang terlalu simetris. Peluruku akan menembus mata kirinya.

dan

aku menatap mata orang itu. Astaga. Benarkah dia seorang pen 77 %
eongsam dengan belahan di paha, kamu ada di belakang orkes.”

dan

kulihat wajahnya menjadi pucat. “Kamu sudah melanggar kontra 84 %
dilengkapi peredam. Kamu tahu tembakanku belum pernah luput,

dan

aku bisa segera lenyap.” Wajahnya menatap ke atas, ke arahku 87 %
lahannya.” “Ia pengkhianat, ia menjelek-jelekkan nama bangsa

dan

negara kita di luar negeri.” “Cuma itu?” “Ia meresahkan masy 89 %
lah leontinmu manis, ia bisa pecah berantakan oleh peluruku,

dan

peluru itu tak akan berhenti di situ.” Wajah itu kembali men 92 %
u tembak.” “Berkacamata?” “Ya.” Kuarahkan senapanku ke sana.

dan

aku melihat orang itu. Ia sedang bercerita dengan berapi-api 96 %
dengan berapi-api. Tangannya bergerak kian kemari, mengepal

dan

memukul-mukulkan tinjunya pada telapak tangan yang lain. Waj 97 %
ulkan tinjunya pada telapak tangan yang lain. Wajahnya licik

dan

penuh tipu daya. Sangat memuakkan. Padahal ia pun sudah tua. 97 %
para tamu dan kolam renang itu segera berwarna merah karena

darah

dan wanita-wanita berteriak: “Auuww!” Tapi aku belum menemuk 10 %
ngguh. Mereka bercakap sendiri, riuh dan tawa sesekali pecah

dari

tiap kerumunan. Tak semuanya tua memang, bahkan banyak wanit 4 %
udah siap, yang mana orangnya?” “Sabar dong, sebentar lagi.”

dari

teras lantai 7 hotel ini, aku masih mengintip lewat teleskop 14 %
nya bisa kukira-kira saja. “Kau tidak perlu tahu, ini bagian

dari

kontrak kita.” Kontrak semacam ini memang sering terjadi. Ak 19 %
rmasuk pahlawan jika menembaknya? Kugerakkan lagi senapanku.

dari

balik teleskop kuteliti orang-orang yang makin banyak saja b 22 %
ang tanpa diketahui rasanya menyenangkan. sepasang mata bola

dari

balik jendela Belum habis juga lagu keroncong itu. Rasanya l 26 %
an tangan bergerak-gerak ke segala penjuru. Bapak-bapak yang

dari

wajahnya tampak berjiwa pegawai, menyembunyikan diri dengan 30 %
karena pegal. Aku berjalan ke dalam kamar, mengambil kacang

dari

meja. Kupasang televisi, tapi segera kumatikan lagi. Acara t 34 %
kecil, tentu tak terlalu jelas mana yang berbaju batik merah

dari

lantai 7 seperti ini. Kuangkat kembali senapanku. Kucari pos 39 %
tip kembali lewat teleskop. Garis silang itu kembali beredar

dari

wajah ke wajah. Mereka masih tertawa-tawa dan tersenyum-seny 40 %
!” Dan aku mengamati wajah itu. Adakah ia mempunyai firasat?

dari

balik teleskop ini, wajah-wajah memunculkan pesonanya sendir 48 %
dia sekarang,” ujarnya pelan dalam headphone-ku, dan kulihat

dari

teleskop dia memang berkata-kata sendiri. Rupanya betul dia. 69 %
n.” “Ada! Kamu jangan main gila.” selendang sutra tanda mata

darimu

Busyet! Lagu keroncong itu lagi, jelas sekali di telingaku. 63 %
kan orang yang mesti kubunuh. Memang belum waktunya. Ia akan

datang

sebentar lagi. Dan sebetulnya aku pun tak perlu terlalu repo 11 %
di tempat!” Aku bergegas kembali ke teras. “Bagaimana? Sudah

datang

orangnya?” “Dia memakai baju batik merah, kebetulan satu-sat 37 %
di bawah daguku. “Dia di sudut kolam renang sebelah selatan,

dekat

payung hijau.” Kugeserkan senapanku ke kanan. Kulewati lagi 43 %
cong itu lagi, jelas sekali di telingaku. Pasti ia berada di

dekat

orkes. Kucari-cari sekitar orkes. Teleskopku sempat mampir d 64 %
entang bunyi gelas dan piring. Ia mungkin di belakang orkes,

dekat

meja prasmanan. Ada beberapa wanita, dan petugas-petugas ber 66 %
pi tampaknya tak banyak yang mendengarkan lagu keroncong itu

dengan

sungguh-sungguh. Mereka bercakap sendiri, riuh dan tawa sese 3 %
lebih menarik lagi kalau tubuh itu terpental ke kolam renang

dengan

suara bergedebur sehingga airnya muncrat membasahi pakaian p 10 %
daku. Dan aku melihat wajah-wajah pada teleskop. Para wanita

dengan

pakaian malam yang anggun. Ada yang punggungnya terbuka. Can 16 %
uga orang-orang di bawah sana, aku tak perlu mendengarkannya

dengan

sungguh-sungguh. Musik keroncong sekarang ini seperti benda 27 %
nyeruput minuman, tersenyum dan tertawa. Ada ibu-ibu berdiri

dengan

kaku di samping suaminya yang sibuk bicara dengan tangan ber 29 %
bu berdiri dengan kaku di samping suaminya yang sibuk bicara

dengan

tangan bergerak-gerak ke segala penjuru. Bapak-bapak yang da 30 %
ng dari wajahnya tampak berjiwa pegawai, menyembunyikan diri

dengan

sopan, tapi makan banyak-banyak. Tampak pula petugas berpaka 31 %
tak banyak tertawa dan tersenyum. Orang-orang mengerumuninya

dengan

hormat. Ada juga yang berwajah menjilat. Garis silang pada t 46 %
-wajah memunculkan pesonanya sendiri, yang berbeda dibanding

dengan

bila kita berhadapan langsung dengan orangnya. Ia tak banyak 48 %
yang berbeda dibanding dengan bila kita berhadapan langsung

dengan

orangnya. Ia tak banyak bicara, namun tampaknya ia harus men 49 %
ajah itu, rasanya begitu dekat, bahkan pori-porinya terlihat

dengan

jelas. Aku bagaikan menatap bayang-bayang takdir. Siapakah s 58 %
. Tanganku tiba-tiba bergerak sendiri menggeser senapan itu.

dengan

indra keenam ia kucari di antara kerumunan orang banyak. Waj 61 %
ang juragan. Mungkin satunya lagi. Rambutnya lurus dan hitam

dengan

poni menutup dahinya. Matanya menatap tajam ke arah si baju 68 %
h tua itu sedang mendengarkan cerita seseorang di hadapannya

dengan

sabar. Orang yang bercerita itu tampak berapi-api, namun lel 74 %
an ini?” Dalam teleskop kulihat wajahnya mendongak ke arahku

dengan

kaget. “Katakan padaku,” kataku lagi, “apa kesalahan orang i 82 %
kosong! Kamu tak tahu di mana aku.” “Kamu memakai cheongsam

dengan

belahan di paha, kamu ada di belakang orkes.” Dan kulihat wa 83 %
kita di luar negeri.” “Cuma itu?” “Ia meresahkan masyarakat

dengan

pernyataan-pernyataan yang tidak benar.” “Lantas?” “Kamu mau 90 %
akan berhenti di situ.” Wajah itu kembali menatap ke arahku

dengan

pandang menghiba. “Jangan tembak aku! Aku tidak tahu apa-apa 92 %
anku ke sana. Dan aku melihat orang itu. Ia sedang bercerita

dengan

berapi-api. Tangannya bergerak kian kemari, mengepal dan mem 96 %
a-galanya.” “Dua....” Hmm, alangkah gugupnya dia. “Ia ada di

depan

orang yang harus kamu tembak.” “Berkacamata?” “Ya.” Kuarahka 95 %
Keroncong Pembunuhan Oleh: Seno Gumira Ajidarma hampir malam

di

Yogya ketika keretaku tiba Lagu keroncong membuatku ngantuk, 0 %
t mereka terkenang-kenang akan masa lalunya. Mereka terserak

di

bawah sana, di sekitar kolam renang, tapi tampaknya tak bany 2 %
ang-kenang akan masa lalunya. Mereka terserak di bawah sana,

di

sekitar kolam renang, tapi tampaknya tak banyak yang mendeng 2 %
u memperhatikan mereka satu per satu, seolah-olah aku berada

di

antara mereka. Sebuah pesta yang meriah. Ada kambing-guling. 5 %
mengintip lewat teleskop. Angin laut yang basah terasa asin

di

bibirku. Iseng-iseng sambil menunggu sasaran, aku mencari or 15 %
terasa kurang enak setiap kali aku menatap wajah orang-orang

di

bawah itu. Memang wajah mereka adalah wajah orang baik-baik, 23 %
ah wajah orang baik-baik, tapi entahlah apa yang kurang enak

di

sana. Apakah karena banyak yang memakai baju resmi, seragam 24 %
keroncong itu. Rasanya lama sekali. Seperti juga orang-orang

di

bawah sana, aku tak perlu mendengarkannya dengan sungguh-sun 27 %
senimannya kurang jenius untuk membuatnya lebih berkembang.

di

manakah wanita yang bersuara lembut itu? Di mana-mana orang 28 %
ebih berkembang. Di manakah wanita yang bersuara lembut itu?

di

mana-mana orang mengunyah makanan, menyeruput minuman, terse 29 %
uman, tersenyum dan tertawa. Ada ibu-ibu berdiri dengan kaku

di

samping suaminya yang sibuk bicara dengan tangan bergerak-ge 30 %
sta kambing-guling pada tepi kolam renang dalam sebuah hotel

di

tepi pantai ini dihadiri orang-orang penting. Malam cerah da 32 %
ranku, lantas pulang dan minum segelas bir. “Hei, kamu masih

di

situ?” tiba-tiba terdengar lagi suara itu. “Ya, kenapa?” “Ja 36 %
ra itu. “Ya, kenapa?” “Jangan main-main! Aku tahu kamu tidak

di

tempat!” Aku bergegas kembali ke teras. “Bagaimana? Sudah da 36 %
memakai baju batik merah, kebetulan satu-satunya yang merah

di

sini, jadi enak untuk kamu.” Kulihat ke bawah, mereka sepert 37 %
k. “Di sebelah mana dia?” tanyaku lewat mike yang tergantung

di

bawah daguku. “Dia di sudut kolam renang sebelah selatan, de 42 %
a?” tanyaku lewat mike yang tergantung di bawah daguku. “Dia

di

sudut kolam renang sebelah selatan, dekat payung hijau.” Kug 42 %
rwajah menjilat. Garis silang pada teleskopku berhenti tepat

di

antara kedua matanya. “Apakah harus kulakukan sekarang?” “Na 47 %
terjadi kalau ia kutembak mati? Aku teringat kematian Ninoy

di

Filipina…. Tapi aku tidak tahu politik. Jadi, sambil menatap 51 %
sendiri menggeser senapan itu. Dengan indra keenam ia kucari

di

antara kerumunan orang banyak. Wajah-wajah cantik silih berg 61 %
da mata darimu Busyet! Lagu keroncong itu lagi, jelas sekali

di

telingaku. Pasti ia berada di dekat orkes. Kucari-cari sekit 64 %
roncong itu lagi, jelas sekali di telingaku. Pasti ia berada

di

dekat orkes. Kucari-cari sekitar orkes. Teleskopku sempat ma 64 %
t orkes. Kucari-cari sekitar orkes. Teleskopku sempat mampir

di

dada penyanyi keroncong yang membusung itu. Ada beberapa ker 65 %
nyanyi keroncong yang membusung itu. Ada beberapa kerumunan.

di

telingaku juga berdentang bunyi gelas dan piring. Ia mungkin 65 %
telingaku juga berdentang bunyi gelas dan piring. Ia mungkin

di

belakang orkes, dekat meja prasmanan. Ada beberapa wanita, d 66 %
eman. Yang mana? Aku meneliti mereka satu per satu. Beberapa

di

antaranya jelas cuma pegawai perusahaan catering. Ada satu w 67 %
bunyi dalam leontin kalungnya. Leontin yang indah, terpajang

di

dadanya yang tipis. “Apa?” tanyaku lagi, karena ingin meyaki 71 %
Lelaki setengah tua itu sedang mendengarkan cerita seseorang

di

hadapannya dengan sabar. Orang yang bercerita itu tampak ber 73 %
ru kamu yang bisa segera mati.” “Omong kosong! Kamu tak tahu

di

mana aku.” “Kamu memakai cheongsam dengan belahan di paha, k 83 %
ak tahu di mana aku.” “Kamu memakai cheongsam dengan belahan

di

paha, kamu ada di belakang orkes.” Dan kulihat wajahnya menj 84 %
u.” “Kamu memakai cheongsam dengan belahan di paha, kamu ada

di

belakang orkes.” Dan kulihat wajahnya menjadi pucat. “Kamu s 84 %
engkhianat, ia menjelek-jelekkan nama bangsa dan negara kita

di

luar negeri.” “Cuma itu?” “Ia meresahkan masyarakat dengan p 89 %
h berantakan oleh peluruku, dan peluru itu tak akan berhenti

di

situ.” Wajah itu kembali menatap ke arahku dengan pandang me 92 %
gala-galanya.” “Dua....” Hmm, alangkah gugupnya dia. “Ia ada

di

depan orang yang harus kamu tembak.” “Berkacamata?” “Ya.” Ku 95 %
Kubidikkan garis silang teleskopku ke jantungnya, sementara

di

telingaku mengiang suara penyanyi itu, yang memulai lagi seb 98 %
seperti ini. “Siapa sasaranku?” tanyaku minggu lalu, ketika

dia

memesan penembakan ini. Dilakukan lewat telepon seperti itu, 17 %
antik silih berganti mengisi teleskopku. Aku harus memancing

dia

bicara. “Tunggu perintah apa lagi?” “Kau tak perlu tahu, pok 62 %
atanya menatap tajam ke arah si baju batik merah! “Tembaklah

dia

sekarang,” ujarnya pelan dalam headphone-ku, dan kulihat dar 69 %
ujarnya pelan dalam headphone-ku, dan kulihat dari teleskop

dia

memang berkata-kata sendiri. Rupanya betul dia. Ia mendengar 69 %
tipis. “Apa?” tanyaku lagi, karena ingin meyakinkan, memang

dia

orangnya. “Tembak sekarang!” Jadi seperti inilah semua pembu 71 %
ta kirinya. Dan aku menatap mata orang itu. Astaga. Benarkah

dia

seorang pengkhianat? “Kau tidak keliru? Benarkah ia seorang 78 %
ana? Kenapa tidak diadili saja?” “Apa urusanmu tolol? Tembak

dia

sekarang, atau kontrak kubatalkan!” Perasaan aneh tiba-tiba 80 %
kan padaku,” kataku lagi, “apa kesalahan orang itu?” “Tembak

dia

sekarang tolol, atau kamu akan mati!” “Justru kamu yang bisa 82 %
at yang bagaimana? “Pengkhianat yang bagaimana? Kenapa tidak

diadili

saja?” “Apa urusanmu tolol? Tembak dia sekarang, atau kontra 79 %
ini, wajah-wajah memunculkan pesonanya sendiri, yang berbeda

dibanding

dengan bila kita berhadapan langsung dengan orangnya. Ia tak 48 %
sedang tertawa-tawa itu, menumpahkan gelas pada nampang yang

dibawa

pelayan. Tentu lebih menarik lagi kalau tubuh itu terpental 9 %
ontrak kita.” Kontrak semacam ini memang sering terjadi. Aku

dibayar

untuk menembak, siapa yang jadi sasaran bukan urusanku. “Tap 19 %
kerja berdasarkan kontrak. Tidak bisa seenaknya sendiri. Aku

dibayar

untuk mengarahkan garis silang teleskop senapanku pada tempa 55 %
pada tepi kolam renang dalam sebuah hotel di tepi pantai ini

dihadiri

orang-orang penting. Malam cerah dan langit penuh bintang. B 32 %
an. Kuedarkan lagi senapanku. Mengintip kelakuan orang tanpa

diketahui

rasanya menyenangkan. sepasang mata bola dari balik jendela 26 %
ku?” tanyaku minggu lalu, ketika dia memesan penembakan ini.

dilakukan

lewat telepon seperti itu, tentu wajahnya hanya bisa kukira- 18 %
ada seorang pun yang akan tahu siapa menembakmu. Senapan ini

dilengkapi

peredam. Kamu tahu tembakanku belum pernah luput, dan aku bi 87 %
ak yang dari wajahnya tampak berjiwa pegawai, menyembunyikan

diri

dengan sopan, tapi makan banyak-banyak. Tampak pula petugas 31 %
itu tampak berapi-api, namun lelaki itu kelihatannya menahan

diri

untuk tidak ikut terbakar. Ia mengangguk-angguk sambil mencu 74 %
ntuk kemudian menekan pelatuknya. Aku selalu mengatakan pada

diriku

sendiri bahwa aku tidak membunuh orang, aku hanya membidik d 57 %
Ia sudah setengah umur tapi tak tampak telah uzur. Rambutnya

disisr

rapi ke belakang. Ia tak banyak tertawa dan tersenyum. Orang 45 %
akin banyak saja berdatangan. Ada sesuatu yang terasa kurang

enak

setiap kali aku menatap wajah orang-orang di bawah itu. Mema 22 %
adalah wajah orang baik-baik, tapi entahlah apa yang kurang

enak

di sana. Apakah karena banyak yang memakai baju resmi, serag 24 %
batik merah, kebetulan satu-satunya yang merah di sini, jadi

enak

untuk kamu.” Kulihat ke bawah, mereka seperti kerumunan makh 38 %
itu. Memang wajah mereka adalah wajah orang baik-baik, tapi

entahlah

apa yang kurang enak di sana. Apakah karena banyak yang mema 23 %
mereka terkenang-kenang akan masa lalunya. Inilah keroncong

fantasiii

  100 %
mereka. Sebuah pesta yang meriah. Ada kambing-guling. Hmmm…

garis

silang pada teleskop itu terus saja bergerak. Sesekali berhe 6 %
ambil mengunyah kacang aku mengintip kembali lewat teleskop.

garis

silang itu kembali beredar dari wajah ke wajah. Mereka masih 40 %
ngerumuninya dengan hormat. Ada juga yang berwajah menjilat.

garis

silang pada teleskopku berhenti tepat di antara kedua matany 46 %
Tidak bisa seenaknya sendiri. Aku dibayar untuk mengarahkan

garis

silang teleskop senapanku pada tempat yang paling mematikan, 56 %
k. Satu tekanan telunjuk akan mengakhiri riwayat lelaki itu.

garis

silang pada teleskop kugeser agak ke samping, supaya lubang 76 %
daya. Sangat memuakkan. Padahal ia pun sudah tua. Kubidikkan

garis

silang teleskopku ke jantungnya, sementara di telingaku meng 98 %
an kerumunan orang yang sedang tertawa-tawa itu, menumpahkan

gelas

pada nampang yang dibawa pelayan. Tentu lebih menarik lagi k 9 %
. Ada beberapa kerumunan. Di telingaku juga berdentang bunyi

gelas

dan piring. Ia mungkin di belakang orkes, dekat meja prasman 65 %
berkata-kata sendiri. Rupanya betul dia. Ia mendengar lewat

giwang

dan berbicara padaku lewat mikrofon yang tersembunyi dalam l 70 %
gila, kamu merusak segala-galanya.” “Dua....” Hmm, alangkah

gugupnya

dia. “Ia ada di depan orang yang harus kamu tembak.” “Berkac 95 %
Keroncong Pembunuhan Oleh: Seno

gumira

Ajidarma hampir malam di Yogya ketika keretaku tiba Lagu ker 0 %
ya menyenangkan. sepasang mata bola dari balik jendela Belum

habis

juga lagu keroncong itu. Rasanya lama sekali. Seperti juga o 26 %
aki setengah tua itu sedang mendengarkan cerita seseorang di

hadapannya

dengan sabar. Orang yang bercerita itu tampak berapi-api, na 73 %
menembak, siapa yang jadi sasaran bukan urusanku. “Tapi satu

hal

kau boleh tahu.” “Apa?" “Orang itu pengkhianat.” “Pengkhiana 20 %
Keroncong Pembunuhan Oleh: Seno Gumira Ajidarma

hampir

malam di Yogya ketika keretaku tiba Lagu keroncong membuatku 0 %
kan ini. Dilakukan lewat telepon seperti itu, tentu wajahnya

hanya

bisa kukira-kira saja. “Kau tidak perlu tahu, ini bagian dar 18 %
ketakutan tanpa tahu malu. Tapi aku tidak melakukan itu. Aku

hanya

bekerja berdasarkan kontrak. “Di sebelah mana dia?” tanyaku 41 %
akan pada diriku sendiri bahwa aku tidak membunuh orang, aku

hanya

membidik dan menekan pelatuk. Kutatap lagi wajah itu, rasany 57 %
gsung. Mata rantai tanpa ujung dan pangkal. Wanita ini tentu

hanya

salah satu mata rantai. Kualihkan senapanku kembali pada sas 72 %
tiba Lagu keroncong membuatku ngantuk, padahal malam ini aku

harus

membunuh seseorang. Orang-orang tua memang menyukai lagu ker 1 %
a teleskopku berhenti tepat di antara kedua matanya. “Apakah

harus

kulakukan sekarang?” “Nanti dulu, tunggu komando!” Dan aku m 47 %
ng dengan orangnya. Ia tak banyak bicara, namun tampaknya ia

harus

menjawab banyak pertanyaan. Dan aku merasa bahwa ia sangat h 49 %
k. Wajah-wajah cantik silih berganti mengisi teleskopku. Aku

harus

memancing dia bicara. “Tunggu perintah apa lagi?” “Kau tak p 62 %
...” Hmm, alangkah gugupnya dia. “Ia ada di depan orang yang

harus

kamu tembak.” “Berkacamata?” “Ya.” Kuarahkan senapanku ke sa 95 %
s menjawab banyak pertanyaan. Dan aku merasa bahwa ia sangat

hati-hati

menjawab. Wajahnya menunjukkan niat bersopan santun yang tid 50 %
enunjukkan orangnya. “Kamu sudah siap?” terdengar suara pada

headphone

itu, sebuah suara yang merdu. “Dari tadi aku sudah siap, yan 13 %
ertampang juragan. Mungkin satunya lagi. Rambutnya lurus dan

hitam

dengan poni menutup dahinya. Matanya menatap tajam ke arah s 68 %
antara mereka. Sebuah pesta yang meriah. Ada kambing-guling.

hmmm…

Garis silang pada teleskop itu terus saja bergerak. Sesekali 6 %
orangnya?” “Sabar dong, sebentar lagi.” Dari teras lantai 7

hotel

ini, aku masih mengintip lewat teleskop. Angin laut yang bas 14 %
nya pesta kambing-guling pada tepi kolam renang dalam sebuah

hotel

di tepi pantai ini dihadiri orang-orang penting. Malam cerah 32 %
agi. Acara televisi selalu buruk. Sunyi sekali rasanya kamar

hotel

ini. Aku ingin buru-buru menembak sasaranku, lantas pulang d 35 %
m menemukan orang yang mesti kubunuh. Memang belum waktunya.

ia

akan datang sebentar lagi. Dan sebetulnya aku pun tak perlu 11 %
ai baju batik berwarna merah. Wajahnya tampan dan berwibawa.

ia

sudah setengah umur tapi tak tampak telah uzur. Rambutnya di 45 %
pi tak tampak telah uzur. Rambutnya disisr rapi ke belakang.

ia

tak banyak tertawa dan tersenyum. Orang-orang mengerumuninya 45 %
i dulu, tunggu komando!” Dan aku mengamati wajah itu. Adakah

ia

mempunyai firasat? Dari balik teleskop ini, wajah-wajah memu 48 %
anding dengan bila kita berhadapan langsung dengan orangnya.

ia

tak banyak bicara, namun tampaknya ia harus menjawab banyak 49 %
gsung dengan orangnya. Ia tak banyak bicara, namun tampaknya

ia

harus menjawab banyak pertanyaan. Dan aku merasa bahwa ia sa 49 %
ya ia harus menjawab banyak pertanyaan. Dan aku merasa bahwa

ia

sangat hati-hati menjawab. Wajahnya menunjukkan niat bersopa 50 %
antun yang tidak menyebalkan. Apakah yang akan terjadi kalau

ia

kutembak mati? Aku teringat kematian Ninoy di Filipina…. Tap 51 %
akan berlubang itu, aku berpikir tentang yang lain. Mungkin

ia

punya istri, punya anak. Bahkan kupikir ia pun pantas punya 52 %
ang lain. Mungkin ia punya istri, punya anak. Bahkan kupikir

ia

pun pantas punya cucu. Mereka akan bertangisan setelah mende 52 %
jadi ketika mengetahui cara kematiannya. Biar saja. Bukankah

ia

seorang pengkhianat bangsa dan negara? Ia pantas mendapatkan 54 %
iar saja. Bukankah ia seorang pengkhianat bangsa dan negara?

ia

pantas mendapatkan hukumannya. Agak tegang juga aku menunggu 54 %
bergerak sendiri menggeser senapan itu. Dengan indra keenam

ia

kucari di antara kerumunan orang banyak. Wajah-wajah cantik 61 %
t! Lagu keroncong itu lagi, jelas sekali di telingaku. Pasti

ia

berada di dekat orkes. Kucari-cari sekitar orkes. Teleskopku 64 %
umunan. Di telingaku juga berdentang bunyi gelas dan piring.

ia

mungkin di belakang orkes, dekat meja prasmanan. Ada beberap 66 %
teleskop dia memang berkata-kata sendiri. Rupanya betul dia.

ia

mendengar lewat giwang dan berbicara padaku lewat mikrofon y 70 %
aki itu kelihatannya menahan diri untuk tidak ikut terbakar.

ia

mengangguk-angguk sambil mencuri pandang ke sekelilingnya. S 75 %
enarkah dia seorang pengkhianat? “Kau tidak keliru? Benarkah

ia

seorang pengkhianat?” “Tidak usah tanya-tanya, tembak sekara 78 %
segera lenyap.” Wajahnya menatap ke atas, ke arahku. Kulihat

ia

berkeringat dingin. Gelisah. “Apa maumu?” “Katakan kesalahan 88 %
lisah. “Apa maumu?” “Katakan kesalahannya.” “Ia pengkhianat,

ia

menjelek-jelekkan nama bangsa dan negara kita di luar negeri 89 %
an urusanmu. Ini politik.” “Urusanku adalah leontinmu manis,

ia

bisa pecah berantakan oleh peluruku, dan peluru itu tak akan 91 %
Ya.” Kuarahkan senapanku ke sana. Dan aku melihat orang itu.

ia

sedang bercerita dengan berapi-api. Tangannya bergerak kian 96 %
ajahnya licik dan penuh tipu daya. Sangat memuakkan. Padahal

ia

pun sudah tua. Kubidikkan garis silang teleskopku ke jantung 98 %
nyah makanan, menyeruput minuman, tersenyum dan tertawa. Ada

ibu-ibu

berdiri dengan kaku di samping suaminya yang sibuk bicara de 29 %
-api, namun lelaki itu kelihatannya menahan diri untuk tidak

ikut

terbakar. Ia mengangguk-angguk sambil mencuri pandang ke sek 74 %
nku tiba-tiba bergerak sendiri menggeser senapan itu. Dengan

indra

keenam ia kucari di antara kerumunan orang banyak. Wajah-waj 61 %
visi selalu buruk. Sunyi sekali rasanya kamar hotel ini. Aku

ingin

buru-buru menembak sasaranku, lantas pulang dan minum segela 35 %
terpajang di dadanya yang tipis. “Apa?” tanyaku lagi, karena

ingin

meyakinkan, memang dia orangnya. “Tembak sekarang!” Jadi sep 71 %
enar.” “Lantas?” “Kamu mau apa? Aku tidak tahu banyak.” “Aku

ingin

tahu, apakah semua itu merupakan alasan yang cukup untuk mem 90 %
eretaku tiba Lagu keroncong membuatku ngantuk, padahal malam

ini

aku harus membunuh seseorang. Orang-orang tua memang menyuka 1 %
h seseorang. Orang-orang tua memang menyukai lagu keroncong,

ini

membuat mereka terkenang-kenang akan masa lalunya. Mereka te 2 %
wajahnya hanya bisa kukira-kira saja. “Kau tidak perlu tahu,

ini

bagian dari kontrak kita.” Kontrak semacam ini memang sering 19 %
k perlu tahu, ini bagian dari kontrak kita.” Kontrak semacam

ini

memang sering terjadi. Aku dibayar untuk menembak, siapa yan 19 %
sungguh mati, aku akan sangat berbahagia kalau korbanku kali

ini

adalah seseorang yang memuakkan. Kuedarkan lagi senapanku. M 25 %
engarkannya dengan sungguh-sungguh. Musik keroncong sekarang

ini

seperti benda museum, para senimannya kurang jenius untuk me 28 %
ing pada tepi kolam renang dalam sebuah hotel di tepi pantai

ini

dihadiri orang-orang penting. Malam cerah dan langit penuh b 32 %
itu berlangsung. Mata rantai tanpa ujung dan pangkal. Wanita

ini

tentu hanya salah satu mata rantai. Kualihkan senapanku kemb 72 %
tak ada seorang pun yang akan tahu siapa menembakmu. Senapan

ini

dilengkapi peredam. Kamu tahu tembakanku belum pernah luput, 87 %
n alasan yang cukup untuk membunuhnya.” “Itu bukan urusanmu.

ini

politik.” “Urusanku adalah leontinmu manis, ia bisa pecah be 91 %
lagi sebuah lagu keroncong, lagu kesenangan orang-orang tua.

ini

memang akan membuat mereka terkenang-kenang akan masa lalunya. Inilah keroncong fantasiii 99 %
kinkan, memang dia orangnya. “Tembak sekarang!” Jadi seperti

inilah

semua pembunuhan itu berlangsung. Mata rantai tanpa ujung da 72 %
mang akan membuat mereka terkenang-kenang akan masa lalunya.

inilah

keroncong fantasiii 100 %
ewat teleskop. Angin laut yang basah terasa asin di bibirku.

iseng-iseng

sambil menunggu sasaran, aku mencari orang yang berbicara pa 15 %
, tapi tampaknya tak banyak yang mendengarkan lagu keroncong

itu

dengan sungguh-sungguh. Mereka bercakap sendiri, riuh dan ta 3 %
meriah. Ada kambing-guling. Hmmm… Garis silang pada teleskop

itu

terus saja bergerak. Sesekali berhenti pada dahi seseorang, 6 %
ngikutinya. Kalau kutekankan telunjukku, tak pelak lagi dahi

itu

akan berlubang. Dan tubuh orang itu akan roboh. Bisa roboh p 7 %
kku, tak pelak lagi dahi itu akan berlubang. Dan tubuh orang

itu

akan roboh. Bisa roboh perlahan-lahan seperti pohon ditebang 7 %
ng yang dibawa pelayan. Tentu lebih menarik lagi kalau tubuh

itu

terpental ke kolam renang dengan suara bergedebur sehingga a 9 %
airnya muncrat membasahi pakaian para tamu dan kolam renang

itu

segera berwarna merah karena darah dan wanita-wanita berteri 10 %
ukan urusanku. “Tapi satu hal kau boleh tahu.” “Apa?" “Orang

itu

pengkhianat.” “Pengkhianat?” “Ya, pengkhianat bangsa dan neg 20 %
ah kacang aku mengintip kembali lewat teleskop. Garis silang

itu

kembali beredar dari wajah ke wajah. Mereka masih tertawa-ta 40 %
anita-wanita cantik terpaksa kulewati begitu saja. Dan, nah,

itu

dia, seorang lelaki yang mamakai baju batik berwarna merah. 44 %
bertangisan setelah mendengar kematian orang ini, dan tangis

itu

akan makin menjadi-jadi ketika mengetahui cara kematiannya. 53 %
ng menghentikan kehidupan orang itu, akukah atau Kamu? Orang

itu

tak sadar sama sekali kalau malaikan maut telah mengelus-elu 59 %
a.” selendang sutra tanda mata darimu Busyet! Lagu keroncong

itu

lagi, jelas sekali di telingaku. Pasti ia berada di dekat or 64 %
nya. “Tembak sekarang!” Jadi seperti inilah semua pembunuhan

itu

berlangsung. Mata rantai tanpa ujung dan pangkal. Wanita ini 72 %
ualihkan senapanku kembali pada sasaran. Lelaki setengah tua

itu

sedang mendengarkan cerita seseorang di hadapannya dengan sa 73 %
a seseorang di hadapannya dengan sabar. Orang yang bercerita

itu

tampak berapi-api, namun lelaki itu kelihatannya menahan dir 74 %
ar. Orang yang bercerita itu tampak berapi-api, namun lelaki

itu

kelihatannya menahan diri untuk tidak ikut terbakar. Ia meng 74 %
anku sendiri, katakan cepat apa kesalahan orang itu!” Wanita

itu

tampak beranjak akan lari. “Jangan lari, tak ada gunanya, ta 86 %
u apa? Aku tidak tahu banyak.” “Aku ingin tahu, apakah semua

itu

merupakan alasan yang cukup untuk membunuhnya.” “Itu bukan u 91 %
mu manis, ia bisa pecah berantakan oleh peluruku, dan peluru

itu

tak akan berhenti di situ.” Wajah itu kembali menatap ke ara 92 %
h peluruku, dan peluru itu tak akan berhenti di situ.” Wajah

itu

kembali menatap ke arahku dengan pandang menghiba. “Jangan t 92 %
h.” “Itu urusanku sendiri, katakan cepat apa kesalahan orang

itu!”

Wanita itu tampak beranjak akan lari. “Jangan lari, tak ada 86 %
, tapi tampaknya tak banyak yang mendengarkan lagu keroncong

itu

dengan sungguh-sungguh. Mereka bercakap sendiri, riuh dan ta 3 %
meriah. Ada kambing-guling. Hmmm… Garis silang pada teleskop

itu

terus saja bergerak. Sesekali berhenti pada dahi seseorang, 6 %
ngikutinya. Kalau kutekankan telunjukku, tak pelak lagi dahi

itu

akan berlubang. Dan tubuh orang itu akan roboh. Bisa roboh p 7 %
kku, tak pelak lagi dahi itu akan berlubang. Dan tubuh orang

itu

akan roboh. Bisa roboh perlahan-lahan seperti pohon ditebang 7 %
ng yang dibawa pelayan. Tentu lebih menarik lagi kalau tubuh

itu

terpental ke kolam renang dengan suara bergedebur sehingga a 9 %
airnya muncrat membasahi pakaian para tamu dan kolam renang

itu

segera berwarna merah karena darah dan wanita-wanita berteri 10 %
ukan urusanku. “Tapi satu hal kau boleh tahu.” “Apa?" “Orang

itu

pengkhianat.” “Pengkhianat?” “Ya, pengkhianat bangsa dan neg 20 %
ah kacang aku mengintip kembali lewat teleskop. Garis silang

itu

kembali beredar dari wajah ke wajah. Mereka masih tertawa-ta 40 %
anita-wanita cantik terpaksa kulewati begitu saja. Dan, nah,

itu

dia, seorang lelaki yang mamakai baju batik berwarna merah. 44 %
bertangisan setelah mendengar kematian orang ini, dan tangis

itu

akan makin menjadi-jadi ketika mengetahui cara kematiannya. 53 %
ng menghentikan kehidupan orang itu, akukah atau Kamu? Orang

itu

tak sadar sama sekali kalau malaikan maut telah mengelus-elu 59 %
a.” selendang sutra tanda mata darimu Busyet! Lagu keroncong

itu

lagi, jelas sekali di telingaku. Pasti ia berada di dekat or 64 %
nya. “Tembak sekarang!” Jadi seperti inilah semua pembunuhan

itu

berlangsung. Mata rantai tanpa ujung dan pangkal. Wanita ini 72 %
ualihkan senapanku kembali pada sasaran. Lelaki setengah tua

itu

sedang mendengarkan cerita seseorang di hadapannya dengan sa 73 %
a seseorang di hadapannya dengan sabar. Orang yang bercerita

itu

tampak berapi-api, namun lelaki itu kelihatannya menahan dir 74 %
ar. Orang yang bercerita itu tampak berapi-api, namun lelaki

itu

kelihatannya menahan diri untuk tidak ikut terbakar. Ia meng 74 %
anku sendiri, katakan cepat apa kesalahan orang itu!” Wanita

itu

tampak beranjak akan lari. “Jangan lari, tak ada gunanya, ta 86 %
u apa? Aku tidak tahu banyak.” “Aku ingin tahu, apakah semua

itu

merupakan alasan yang cukup untuk membunuhnya.” “Itu bukan u 91 %
mu manis, ia bisa pecah berantakan oleh peluruku, dan peluru

itu

tak akan berhenti di situ.” Wajah itu kembali menatap ke ara 92 %
h peluruku, dan peluru itu tak akan berhenti di situ.” Wajah

itu

kembali menatap ke arahku dengan pandang menghiba. “Jangan t 92 %
semuanya tua memang, bahkan banyak wanita muda. Paling tidak

itulah

yang menarik perhatianku. Lewat teleskop pada senapan ini, a 4 %
hukumannya. Agak tegang juga aku menunggu perintah menembak.

itulah

repotnya selalu bekerja berdasarkan kontrak. Tidak bisa seen 55 %
emang sering terjadi. Aku dibayar untuk menembak, siapa yang

jadi

sasaran bukan urusanku. “Tapi satu hal kau boleh tahu.” “Apa 19 %
baju batik merah, kebetulan satu-satunya yang merah di sini,

jadi

enak untuk kamu.” Kulihat ke bawah, mereka seperti kerumunan 37 %
na ingin meyakinkan, memang dia orangnya. “Tembak sekarang!”

jadi

seperti inilah semua pembunuhan itu berlangsung. Mata rantai 72 %
koknya tunggu!” “Ini tidak ada dalam perjanjian.” “Ada! Kamu

jangan

main gila.” selendang sutra tanda mata darimu Busyet! Lagu k 63 %
“Aku tidak tahu apa-apa.” “Leontinmu manis...” “Ah, jangan,

jangan

tembak! Please...” “Siapa?” “Aku…aku bisa celaka.” “Sekarang 94 %
a seperti kerumunan makhluk-makhluk kecil, tentu tak terlalu

jelas

mana yang berbaju batik merah dari lantai 7 seperti ini. Kua 38 %
ang sutra tanda mata darimu Busyet! Lagu keroncong itu lagi,

jelas

sekali di telingaku. Pasti ia berada di dekat orkes. Kucari- 64 %
na? Aku meneliti mereka satu per satu. Beberapa di antaranya

jelas

cuma pegawai perusahaan catering. Ada satu wanita bertampang 67 %
iketahui rasanya menyenangkan. sepasang mata bola dari balik

jendela

Belum habis juga lagu keroncong itu. Rasanya lama sekali. Se 26 %
ng sekarang ini seperti benda museum, para senimannya kurang

jenius

untuk membuatnya lebih berkembang. Di manakah wanita yang be 28 %
pengkhianat bangsa dan negara. Apakah aku termasuk pahlawan

jika

menembaknya? Kugerakkan lagi senapanku. Dari balik teleskop 21 %
yenangkan. sepasang mata bola dari balik jendela Belum habis

juga

lagu keroncong itu. Rasanya lama sekali. Seperti juga orang- 26 %
habis juga lagu keroncong itu. Rasanya lama sekali. Seperti

juga

orang-orang di bawah sana, aku tak perlu mendengarkannya den 27 %
e wajah. Mereka masih tertawa-tawa dan tersenyum-senyum. Aku

juga

tersenyum. Sebentar lagi wajahmu akan ketakutan tanpa tahu m 41 %
dan tersenyum. Orang-orang mengerumuninya dengan hormat. Ada

juga

yang berwajah menjilat. Garis silang pada teleskopku berhent 46 %
sa dan negara? Ia pantas mendapatkan hukumannya. Agak tegang

juga

aku menunggu perintah menembak. Itulah repotnya selalu beker 54 %
ong yang membusung itu. Ada beberapa kerumunan. Di telingaku

juga

berdentang bunyi gelas dan piring. Ia mungkin di belakang or 65 %
napanku karena pegal. Aku berjalan ke dalam kamar, mengambil

kacang

dari meja. Kupasang televisi, tapi segera kumatikan lagi. Ac 34 %
kembali senapanku. Kucari posisi yang enak. Sambil mengunyah

kacang

aku mengintip kembali lewat teleskop. Garis silang itu kemba 39 %
t minuman, tersenyum dan tertawa. Ada ibu-ibu berdiri dengan

kaku

di samping suaminya yang sibuk bicara dengan tangan bergerak 30 %
ak. Sesekali berhenti pada dahi seseorang, dan mengikutinya.

kalau

kutekankan telunjukku, tak pelak lagi dahi itu akan berluban 7 %
s pada nampang yang dibawa pelayan. Tentu lebih menarik lagi

kalau

tubuh itu terpental ke kolam renang dengan suara bergedebur 9 %
asaanku saja. Namun sungguh mati, aku akan sangat berbahagia

kalau

korbanku kali ini adalah seseorang yang memuakkan. Kuedarkan 25 %
opan santun yang tidak menyebalkan. Apakah yang akan terjadi

kalau

ia kutembak mati? Aku teringat kematian Ninoy di Filipina…. 51 %
orang itu, akukah atau Kamu? Orang itu tak sadar sama sekali

kalau

malaikan maut telah mengelus-elus tengkuknya. “Bagaimana? Se 59 %
saja berdatangan. Ada sesuatu yang terasa kurang enak setiap

kali

aku menatap wajah orang-orang di bawah itu. Memang wajah mer 23 %
amun sungguh mati, aku akan sangat berbahagia kalau korbanku

kali

ini adalah seseorang yang memuakkan. Kuedarkan lagi senapank 25 %
ikan lagi. Acara televisi selalu buruk. Sunyi sekali rasanya

kamar

hotel ini. Aku ingin buru-buru menembak sasaranku, lantas pu 35 %
an preman mondar-mandir membawa walkie-talkie. Agaknya pesta

kambing-guling

pada tepi kolam renang dalam sebuah hotel di tepi pantai ini 32 %
nembak sasaranku, lantas pulang dan minum segelas bir. “Hei,

kamu

masih di situ?” tiba-tiba terdengar lagi suara itu. “Ya, ken 35 %
ar lagi suara itu. “Ya, kenapa?” “Jangan main-main! Aku tahu

kamu

tidak di tempat!” Aku bergegas kembali ke teras. “Bagaimana? 36 %
u, pokoknya tunggu!” “Ini tidak ada dalam perjanjian.” “Ada!

kamu

jangan main gila.” selendang sutra tanda mata darimu Busyet! 63 %
“apa kesalahan orang itu?” “Tembak dia sekarang tolol, atau

kamu

akan mati!” “Justru kamu yang bisa segera mati.” “Omong koso 83 %
?” “Tembak dia sekarang tolol, atau kamu akan mati!” “Justru

kamu

yang bisa segera mati.” “Omong kosong! Kamu tak tahu di mana 83 %
n mati!” “Justru kamu yang bisa segera mati.” “Omong kosong!

kamu

tak tahu di mana aku.” “Kamu memakai cheongsam dengan belaha 83 %
i mana aku.” “Kamu memakai cheongsam dengan belahan di paha,

kamu

ada di belakang orkes.” Dan kulihat wajahnya menjadi pucat. 84 %
orang yang tidak bersalah." “Itu bukan urusanmu, tahun lalu

kamu

menembak ribuan orang yang tidak bersalah.” “Itu urusanku se 85 %
akan tahu siapa menembakmu. Senapan ini dilengkapi peredam.

kamu

tahu tembakanku belum pernah luput, dan aku bisa segera leny 87 %
ak! Please...” “Siapa?” “Aku…aku bisa celaka.” “Sekarang pun

kamu

bisa celaka. Kuhitung sampai tiga. Satu…” “Kamu gila, kamu m 94 %
n kamu bisa celaka. Kuhitung sampai tiga. Satu…” “Kamu gila,

kamu

merusak segala-galanya.” “Dua....” Hmm, alangkah gugupnya di 95 %
mm, alangkah gugupnya dia. “Ia ada di depan orang yang harus

kamu

tembak.” “Berkacamata?” “Ya.” Kuarahkan senapanku ke sana. D 95 %
nembak sasaranku, lantas pulang dan minum segelas bir. “Hei,

kamu

masih di situ?” tiba-tiba terdengar lagi suara itu. “Ya, ken 35 %
ar lagi suara itu. “Ya, kenapa?” “Jangan main-main! Aku tahu

kamu

tidak di tempat!” Aku bergegas kembali ke teras. “Bagaimana? 36 %
u, pokoknya tunggu!” “Ini tidak ada dalam perjanjian.” “Ada!

kamu

jangan main gila.” selendang sutra tanda mata darimu Busyet! 63 %
“apa kesalahan orang itu?” “Tembak dia sekarang tolol, atau

kamu

akan mati!” “Justru kamu yang bisa segera mati.” “Omong koso 83 %
?” “Tembak dia sekarang tolol, atau kamu akan mati!” “Justru

kamu

yang bisa segera mati.” “Omong kosong! Kamu tak tahu di mana 83 %
n mati!” “Justru kamu yang bisa segera mati.” “Omong kosong!

kamu

tak tahu di mana aku.” “Kamu memakai cheongsam dengan belaha 83 %
i mana aku.” “Kamu memakai cheongsam dengan belahan di paha,

kamu

ada di belakang orkes.” Dan kulihat wajahnya menjadi pucat. 84 %
orang yang tidak bersalah." “Itu bukan urusanmu, tahun lalu

kamu

menembak ribuan orang yang tidak bersalah.” “Itu urusanku se 85 %
akan tahu siapa menembakmu. Senapan ini dilengkapi peredam.

kamu

tahu tembakanku belum pernah luput, dan aku bisa segera leny 87 %
ak! Please...” “Siapa?” “Aku…aku bisa celaka.” “Sekarang pun

kamu

bisa celaka. Kuhitung sampai tiga. Satu…” “Kamu gila, kamu m 94 %
n kamu bisa celaka. Kuhitung sampai tiga. Satu…” “Kamu gila,

kamu

merusak segala-galanya.” “Dua....” Hmm, alangkah gugupnya di 95 %
mm, alangkah gugupnya dia. “Ia ada di depan orang yang harus

kamu

tembak.” “Berkacamata?” “Ya.” Kuarahkan senapanku ke sana. D 95 %
pakaian para tamu dan kolam renang itu segera berwarna merah

karena

darah dan wanita-wanita berteriak: “Auuww!” Tapi aku belum m 10 %
i. Dan sebetulnya aku pun tak perlu terlalu repot mencarinya

karena

pesawat komunikasi yang terpasang pada telingaku siap menunj 12 %
aik-baik, tapi entahlah apa yang kurang enak di sana. Apakah

karena

banyak yang memakai baju resmi, seragam yang kubenci? Atauka 24 %
anyak yang memakai baju resmi, seragam yang kubenci? Ataukah

karena

perasaanku saja. Namun sungguh mati, aku akan sangat berbaha 24 %
ntang. Bahkan bulan pun sedang purnama. Kuletakkan senapanku

karena

pegal. Aku berjalan ke dalam kamar, mengambil kacang dari me 33 %
indah, terpajang di dadanya yang tipis. “Apa?” tanyaku lagi,

karena

ingin meyakinkan, memang dia orangnya. “Tembak sekarang!” Ja 71 %
ak ribuan orang yang tidak bersalah.” “Itu urusanku sendiri,

katakan

cepat apa kesalahan orang itu!” Wanita itu tampak beranjak a 86 %
an pada wanita itu. “Laras senapanku mengarah padamu manis,”

kataku

dingin. “Apa-apaan ini?” Dalam teleskop kulihat wajahnya men 81 %
wajahnya mendongak ke arahku dengan kaget. “Katakan padaku,”

kataku

lagi, “apa kesalahan orang itu?” “Tembak dia sekarang tolol, 82 %
mbak, siapa yang jadi sasaran bukan urusanku. “Tapi satu hal

kau

boleh tahu.” “Apa?" “Orang itu pengkhianat.” “Pengkhianat?” 20 %
 

ke

roncong Pembunuhan Oleh: Seno Gumira Ajidarma hampir malam d 0 %
pelayan. Tentu lebih menarik lagi kalau tubuh itu terpental

ke

kolam renang dengan suara bergedebur sehingga airnya muncrat 9 %
ping suaminya yang sibuk bicara dengan tangan bergerak-gerak

ke

segala penjuru. Bapak-bapak yang dari wajahnya tampak berjiw 30 %
ang purnama. Kuletakkan senapanku karena pegal. Aku berjalan

ke

dalam kamar, mengambil kacang dari meja. Kupasang televisi, 34 %
n-main! Aku tahu kamu tidak di tempat!” Aku bergegas kembali

ke

teras. “Bagaimana? Sudah datang orangnya?” “Dia memakai baju 37 %
u-satunya yang merah di sini, jadi enak untuk kamu.” Kulihat

ke

bawah, mereka seperti kerumunan makhluk-makhluk kecil, tentu 38 %
lewat teleskop. Garis silang itu kembali beredar dari wajah

ke

wajah. Mereka masih tertawa-tawa dan tersenyum-senyum. Aku j 40 %
g sebelah selatan, dekat payung hijau.” Kugeserkan senapanku

ke

kanan. Kulewati lagi wajah-wajah berlemak, klimis, dan gemer 43 %
engah umur tapi tak tampak telah uzur. Rambutnya disisr rapi

ke

belakang. Ia tak banyak tertawa dan tersenyum. Orang-orang m 45 %
dan hitam dengan poni menutup dahinya. Matanya menatap tajam

ke

arah si baju batik merah! “Tembaklah dia sekarang,” ujarnya 68 %
k ikut terbakar. Ia mengangguk-angguk sambil mencuri pandang

ke

sekelilingnya. Seperti khawatir ada yang mendengar. Aku suda 75 %
riwayat lelaki itu. Garis silang pada teleskop kugeser agak

ke

samping, supaya lubang peluru pada kepalanya tidak membuat p 76 %
. “Apa-apaan ini?” Dalam teleskop kulihat wajahnya mendongak

ke

arahku dengan kaget. “Katakan padaku,” kataku lagi, “apa kes 82 %
pernah luput, dan aku bisa segera lenyap.” Wajahnya menatap

ke

atas, ke arahku. Kulihat ia berkeringat dingin. Gelisah. “Ap 88 %
uput, dan aku bisa segera lenyap.” Wajahnya menatap ke atas,

ke

arahku. Kulihat ia berkeringat dingin. Gelisah. “Apa maumu?” 88 %
ru itu tak akan berhenti di situ.” Wajah itu kembali menatap

ke

arahku dengan pandang menghiba. “Jangan tembak aku! Aku tida 92 %
harus kamu tembak.” “Berkacamata?” “Ya.” Kuarahkan senapanku

ke

sana. Dan aku melihat orang itu. Ia sedang bercerita dengan 96 %
Padahal ia pun sudah tua. Kubidikkan garis silang teleskopku

ke

jantungnya, sementara di telingaku mengiang suara penyanyi i 98 %
mana? Sudah datang orangnya?” “Dia memakai baju batik merah,

kebetulan

satu-satunya yang merah di sini, jadi enak untuk kamu.” Kuli 37 %
jilat. Garis silang pada teleskopku berhenti tepat di antara

kedua

matanya. “Apakah harus kulakukan sekarang?” “Nanti dulu, tun 47 %
ba-tiba bergerak sendiri menggeser senapan itu. Dengan indra

keenam

ia kucari di antara kerumunan orang banyak. Wajah-wajah cant 61 %
bayang-bayang takdir. Siapakah sebenarnya yang menghentikan

kehidupan

orang itu, akukah atau Kamu? Orang itu tak sadar sama sekali 59 %
eseorang yang memuakkan. Kuedarkan lagi senapanku. Mengintip

kelakuan

orang tanpa diketahui rasanya menyenangkan. sepasang mata bo 26 %
Orang yang bercerita itu tampak berapi-api, namun lelaki itu

kelihatannya

menahan diri untuk tidak ikut terbakar. Ia mengangguk-angguk 74 %
pakah yang akan terjadi kalau ia kutembak mati? Aku teringat

kematian

Ninoy di Filipina…. Tapi aku tidak tahu politik. Jadi, sambi 51 %
pantas punya cucu. Mereka akan bertangisan setelah mendengar

kematian

orang ini, dan tangis itu akan makin menjadi-jadi ketika men 53 %
ngan main-main! Aku tahu kamu tidak di tempat!” Aku bergegas

kembali

ke teras. “Bagaimana? Sudah datang orangnya?” “Dia memakai b 36 %
yang berbaju batik merah dari lantai 7 seperti ini. Kuangkat

kembali

senapanku. Kucari posisi yang enak. Sambil mengunyah kacang 39 %
cari posisi yang enak. Sambil mengunyah kacang aku mengintip

kembali

lewat teleskop. Garis silang itu kembali beredar dari wajah 40 %
acang aku mengintip kembali lewat teleskop. Garis silang itu

kembali

beredar dari wajah ke wajah. Mereka masih tertawa-tawa dan t 40 %
ini tentu hanya salah satu mata rantai. Kualihkan senapanku

kembali

pada sasaran. Lelaki setengah tua itu sedang mendengarkan ce 73 %
luruku, dan peluru itu tak akan berhenti di situ.” Wajah itu

kembali

menatap ke arahku dengan pandang menghiba. “Jangan tembak ak 92 %
teleskop senapanku pada tempat yang paling mematikan, untuk

kemudian

menekan pelatuknya. Aku selalu mengatakan pada diriku sendir 56 %
ya, pengkhianat yang bagaimana? “Pengkhianat yang bagaimana?

kenapa

tidak diadili saja?” “Apa urusanmu tolol? Tembak dia sekaran 79 %
teleskop kugeser agak ke samping, supaya lubang peluru pada

kepalanya

tidak membuat pembagian yang terlalu simetris. Peluruku akan 77 %
uhan Oleh: Seno Gumira Ajidarma hampir malam di Yogya ketika

keretaku

tiba Lagu keroncong membuatku ngantuk, padahal malam ini aku 1 %
 

keroncong

Pembunuhan Oleh: Seno Gumira Ajidarma hampir malam di Yogya 0 %
ira Ajidarma hampir malam di Yogya ketika keretaku tiba Lagu

keroncong

membuatku ngantuk, padahal malam ini aku harus membunuh sese 1 %
lam renang, tapi tampaknya tak banyak yang mendengarkan lagu

keroncong

itu dengan sungguh-sungguh. Mereka bercakap sendiri, riuh da 3 %
sepasang mata bola dari balik jendela Belum habis juga lagu

keroncong

itu. Rasanya lama sekali. Seperti juga orang-orang di bawah 26 %
aku tak perlu mendengarkannya dengan sungguh-sungguh. Musik

keroncong

sekarang ini seperti benda museum, para senimannya kurang je 27 %
n main gila.” selendang sutra tanda mata darimu Busyet! Lagu

keroncong

itu lagi, jelas sekali di telingaku. Pasti ia berada di deka 64 %
ari sekitar orkes. Teleskopku sempat mampir di dada penyanyi

keroncong

yang membusung itu. Ada beberapa kerumunan. Di telingaku jug 65 %
an membuat mereka terkenang-kenang akan masa lalunya. Inilah

keroncong

fantasiii 100 %
seperti pohon ditebang, bisa pula tersentak dan mengacaukan

kerumunan

orang yang sedang tertawa-tawa itu, menumpahkan gelas pada n 8 %
ini, jadi enak untuk kamu.” Kulihat ke bawah, mereka seperti

kerumunan

makhluk-makhluk kecil, tentu tak terlalu jelas mana yang ber 38 %
nggeser senapan itu. Dengan indra keenam ia kucari di antara

kerumunan

orang banyak. Wajah-wajah cantik silih berganti mengisi tele 61 %
ke arahku dengan kaget. “Katakan padaku,” kataku lagi, “apa

kesalahan

orang itu?” “Tembak dia sekarang tolol, atau kamu akan mati! 82 %
ng tidak bersalah.” “Itu urusanku sendiri, katakan cepat apa

kesalahan

orang itu!” Wanita itu tampak beranjak akan lari. “Jangan la 86 %
penyanyi itu, yang memulai lagi sebuah lagu keroncong, lagu

kesenangan

orang-orang tua. Ini memang akan membuat mereka terkenang-ke 99 %
enyum-senyum. Aku juga tersenyum. Sebentar lagi wajahmu akan

ketakutan

tanpa tahu malu. Tapi aku tidak melakukan itu. Aku hanya bek 41 %
Pembunuhan Oleh: Seno Gumira Ajidarma hampir malam di Yogya

ketika

keretaku tiba Lagu keroncong membuatku ngantuk, padahal mala 1 %
bunuhan seperti ini. “Siapa sasaranku?” tanyaku minggu lalu,

ketika

dia memesan penembakan ini. Dilakukan lewat telepon seperti 17 %
r kematian orang ini, dan tangis itu akan makin menjadi-jadi

ketika

mengetahui cara kematiannya. Biar saja. Bukankah ia seorang 53 %
gguk-angguk sambil mencuri pandang ke sekelilingnya. Seperti

khawatir

ada yang mendengar. Aku sudah siap menembak. Satu tekanan te 75 %
u. Ia sedang bercerita dengan berapi-api. Tangannya bergerak

kian

kemari, mengepal dan memukul-mukulkan tinjunya pada telapak 97 %
culkan pesonanya sendiri, yang berbeda dibanding dengan bila

kita

berhadapan langsung dengan orangnya. Ia tak banyak bicara, n 49 %
“Ia pengkhianat, ia menjelek-jelekkan nama bangsa dan negara

kita

di luar negeri.” “Cuma itu?” “Ia meresahkan masyarakat denga 89 %
akan masa lalunya. Mereka terserak di bawah sana, di sekitar

kolam

renang, tapi tampaknya tak banyak yang mendengarkan lagu ker 2 %
layan. Tentu lebih menarik lagi kalau tubuh itu terpental ke

kolam

renang dengan suara bergedebur sehingga airnya muncrat memba 9 %
ebur sehingga airnya muncrat membasahi pakaian para tamu dan

kolam

renang itu segera berwarna merah karena darah dan wanita-wan 10 %
embawa walkie-talkie. Agaknya pesta kambing-guling pada tepi

kolam

renang dalam sebuah hotel di tepi pantai ini dihadiri orang- 32 %
ku lewat mike yang tergantung di bawah daguku. “Dia di sudut

kolam

renang sebelah selatan, dekat payung hijau.” Kugeserkan sena 42 %
anya. “Apakah harus kulakukan sekarang?” “Nanti dulu, tunggu

komando!”

Dan aku mengamati wajah itu. Adakah ia mempunyai firasat? Da 47 %
ya aku pun tak perlu terlalu repot mencarinya karena pesawat

komunikasi

yang terpasang pada telingaku siap menunjukkan orangnya. “Ka 12 %
isa kukira-kira saja. “Kau tidak perlu tahu, ini bagian dari

kontrak

kita.” Kontrak semacam ini memang sering terjadi. Aku dibaya 19 %
saja. “Kau tidak perlu tahu, ini bagian dari kontrak kita.”

kontrak

semacam ini memang sering terjadi. Aku dibayar untuk menemba 19 %
iadili saja?” “Apa urusanmu tolol? Tembak dia sekarang, atau

kontrak

kubatalkan!” Perasaan aneh tiba-tiba merasuki diriku. Aku ma 80 %
u saja. Namun sungguh mati, aku akan sangat berbahagia kalau

korbanku

kali ini adalah seseorang yang memuakkan. Kuedarkan lagi sen 25 %
kamu akan mati!” “Justru kamu yang bisa segera mati.” “Omong

kosong!

Kamu tak tahu di mana aku.” “Kamu memakai cheongsam dengan b 83 %
dan pangkal. Wanita ini tentu hanya salah satu mata rantai.

kualihkan

senapanku kembali pada sasaran. Lelaki setengah tua itu seda 73 %
las mana yang berbaju batik merah dari lantai 7 seperti ini.

kuangkat

kembali senapanku. Kucari posisi yang enak. Sambil mengunyah 39 %
di depan orang yang harus kamu tembak.” “Berkacamata?” “Ya.”

kuarahkan

senapanku ke sana. Dan aku melihat orang itu. Ia sedang berc 96 %
aja?” “Apa urusanmu tolol? Tembak dia sekarang, atau kontrak

kubatalkan!”

Perasaan aneh tiba-tiba merasuki diriku. Aku malah mengarahk 80 %
penuh tipu daya. Sangat memuakkan. Padahal ia pun sudah tua.

kubidikkan

garis silang teleskopku ke jantungnya, sementara di telingak 98 %
merah dari lantai 7 seperti ini. Kuangkat kembali senapanku.

kucari

posisi yang enak. Sambil mengunyah kacang aku mengintip kemb 39 %
rgerak sendiri menggeser senapan itu. Dengan indra keenam ia

kucari

di antara kerumunan orang banyak. Wajah-wajah cantik silih b 61 %
, jelas sekali di telingaku. Pasti ia berada di dekat orkes.

kucari-cari

sekitar orkes. Teleskopku sempat mampir di dada penyanyi ker 64 %
gia kalau korbanku kali ini adalah seseorang yang memuakkan.

kuedarkan

lagi senapanku. Mengintip kelakuan orang tanpa diketahui ras 25 %
a dan negara. Apakah aku termasuk pahlawan jika menembaknya?

kugerakkan

lagi senapanku. Dari balik teleskop kuteliti orang-orang yan 21 %
an mengakhiri riwayat lelaki itu. Garis silang pada teleskop

kugeser

agak ke samping, supaya lubang peluru pada kepalanya tidak m 76 %
di sudut kolam renang sebelah selatan, dekat payung hijau.”

kugeserkan

senapanku ke kanan. Kulewati lagi wajah-wajah berlemak, klim 43 %
apa?” “Aku…aku bisa celaka.” “Sekarang pun kamu bisa celaka.

kuhitung

sampai tiga. Satu…” “Kamu gila, kamu merusak segala-galanya. 94 %
lakukan lewat telepon seperti itu, tentu wajahnya hanya bisa

kukira-kira

saja. “Kau tidak perlu tahu, ini bagian dari kontrak kita.” 18 %
skopku berhenti tepat di antara kedua matanya. “Apakah harus

kulakukan

sekarang?” “Nanti dulu, tunggu komando!” Dan aku mengamati w 47 %
h dan langit penuh bintang. Bahkan bulan pun sedang purnama.

kuletakkan

senapanku karena pegal. Aku berjalan ke dalam kamar, mengamb 33 %
selatan, dekat payung hijau.” Kugeserkan senapanku ke kanan.

kulewati

lagi wajah-wajah berlemak, klimis, dan gemerlapan. Wanita-wa 43 %
lemak, klimis, dan gemerlapan. Wanita-wanita cantik terpaksa

kulewati

begitu saja. Dan, nah, itu dia, seorang lelaki yang mamakai 44 %
ulan satu-satunya yang merah di sini, jadi enak untuk kamu.”

kulihat

ke bawah, mereka seperti kerumunan makhluk-makhluk kecil, te 38 %
mbaklah dia sekarang,” ujarnya pelan dalam headphone-ku, dan

kulihat

dari teleskop dia memang berkata-kata sendiri. Rupanya betul 69 %
adamu manis,” kataku dingin. “Apa-apaan ini?” Dalam teleskop

kulihat

wajahnya mendongak ke arahku dengan kaget. “Katakan padaku,” 81 %
sam dengan belahan di paha, kamu ada di belakang orkes.” Dan

kulihat

wajahnya menjadi pucat. “Kamu sudah melanggar kontrak.” “Aku 84 %
ku bisa segera lenyap.” Wajahnya menatap ke atas, ke arahku.

kulihat

ia berkeringat dingin. Gelisah. “Apa maumu?” “Katakan kesala 88 %
, mengambil kacang dari meja. Kupasang televisi, tapi segera

kumatikan

lagi. Acara televisi selalu buruk. Sunyi sekali rasanya kama 34 %
al. Aku berjalan ke dalam kamar, mengambil kacang dari meja.

kupasang

televisi, tapi segera kumatikan lagi. Acara televisi selalu 34 %
entang yang lain. Mungkin ia punya istri, punya anak. Bahkan

kupikir

ia pun pantas punya cucu. Mereka akan bertangisan setelah me 52 %
yang makin banyak saja berdatangan. Ada sesuatu yang terasa

kurang

enak setiap kali aku menatap wajah orang-orang di bawah itu. 22 %
mereka adalah wajah orang baik-baik, tapi entahlah apa yang

kurang

enak di sana. Apakah karena banyak yang memakai baju resmi, 23 %
keroncong sekarang ini seperti benda museum, para senimannya

kurang

jenius untuk membuatnya lebih berkembang. Di manakah wanita 28 %
idak membunuh orang, aku hanya membidik dan menekan pelatuk.

kutatap

lagi wajah itu, rasanya begitu dekat, bahkan pori-porinya te 57 %
sekali berhenti pada dahi seseorang, dan mengikutinya. Kalau

kutekankan

telunjukku, tak pelak lagi dahi itu akan berlubang. Dan tubu 7 %
menembaknya? Kugerakkan lagi senapanku. Dari balik teleskop

kuteliti

orang-orang yang makin banyak saja berdatangan. Ada sesuatu 22 %
un yang tidak menyebalkan. Apakah yang akan terjadi kalau ia

kutembak

mati? Aku teringat kematian Ninoy di Filipina…. Tapi aku tid 51 %
ng, dan mengikutinya. Kalau kutekankan telunjukku, tak pelak

lagi

dahi itu akan berlubang. Dan tubuh orang itu akan roboh. Bis 7 %
gelas pada nampang yang dibawa pelayan. Tentu lebih menarik

lagi

kalau tubuh itu terpental ke kolam renang dengan suara berge 9 %
a. Apakah aku termasuk pahlawan jika menembaknya? Kugerakkan

lagi

senapanku. Dari balik teleskop kuteliti orang-orang yang mak 21 %
korbanku kali ini adalah seseorang yang memuakkan. Kuedarkan

lagi

senapanku. Mengintip kelakuan orang tanpa diketahui rasanya 25 %
segelas bir. “Hei, kamu masih di situ?” tiba-tiba terdengar

lagi

suara itu. “Ya, kenapa?” “Jangan main-main! Aku tahu kamu ti 36 %
tawa-tawa dan tersenyum-senyum. Aku juga tersenyum. Sebentar

lagi

wajahmu akan ketakutan tanpa tahu malu. Tapi aku tidak melak 41 %
dekat payung hijau.” Kugeserkan senapanku ke kanan. Kulewati

lagi

wajah-wajah berlemak, klimis, dan gemerlapan. Wanita-wanita 43 %
bunuh orang, aku hanya membidik dan menekan pelatuk. Kutatap

lagi

wajah itu, rasanya begitu dekat, bahkan pori-porinya terliha 57 %
nat?” “Tidak usah tanya-tanya, tembak sekarang!” Aku menatap

lagi

matanya, pengkhianat yang bagaimana? “Pengkhianat yang bagai 79 %
ntara di telingaku mengiang suara penyanyi itu, yang memulai

lagi

sebuah lagu keroncong, lagu kesenangan orang-orang tua. Ini 99 %
o Gumira Ajidarma hampir malam di Yogya ketika keretaku tiba

lagu

keroncong membuatku ngantuk, padahal malam ini aku harus mem 1 %
ku harus membunuh seseorang. Orang-orang tua memang menyukai

lagu

keroncong, ini membuat mereka terkenang-kenang akan masa lal 2 %
ar kolam renang, tapi tampaknya tak banyak yang mendengarkan

lagu

keroncong itu dengan sungguh-sungguh. Mereka bercakap sendir 3 %
gkan. sepasang mata bola dari balik jendela Belum habis juga

lagu

keroncong itu. Rasanya lama sekali. Seperti juga orang-orang 26 %
jangan main gila.” selendang sutra tanda mata darimu Busyet!

lagu

keroncong itu lagi, jelas sekali di telingaku. Pasti ia bera 64 %
ingaku mengiang suara penyanyi itu, yang memulai lagi sebuah

lagu

keroncong, lagu kesenangan orang-orang tua. Ini memang akan 99 %
suara penyanyi itu, yang memulai lagi sebuah lagu keroncong,

lagu

kesenangan orang-orang tua. Ini memang akan membuat mereka t 99 %
embak orang yang tidak bersalah." “Itu bukan urusanmu, tahun

lalu

kamu menembak ribuan orang yang tidak bersalah.” “Itu urusan 85 %
i balik jendela Belum habis juga lagu keroncong itu. Rasanya

lama

sekali. Seperti juga orang-orang di bawah sana, aku tak perl 27 %
epi pantai ini dihadiri orang-orang penting. Malam cerah dan

langit

penuh bintang. Bahkan bulan pun sedang purnama. Kuletakkan s 33 %
sendiri, yang berbeda dibanding dengan bila kita berhadapan

langsung

dengan orangnya. Ia tak banyak bicara, namun tampaknya ia ha 49 %
yang mana orangnya?” “Sabar dong, sebentar lagi.” Dari teras

lantai

7 hotel ini, aku masih mengintip lewat teleskop. Angin laut 14 %
, tentu tak terlalu jelas mana yang berbaju batik merah dari

lantai

7 seperti ini. Kuangkat kembali senapanku. Kucari posisi yan 39 %
nya kamar hotel ini. Aku ingin buru-buru menembak sasaranku,

lantas

pulang dan minum segelas bir. “Hei, kamu masih di situ?” tib 35 %
antai 7 hotel ini, aku masih mengintip lewat teleskop. Angin

laut

yang basah terasa asin di bibirku. Iseng-iseng sambil menung 15 %
u, menumpahkan gelas pada nampang yang dibawa pelayan. Tentu

lebih

menarik lagi kalau tubuh itu terpental ke kolam renang denga 9 %
benda museum, para senimannya kurang jenius untuk membuatnya

lebih

berkembang. Di manakah wanita yang bersuara lembut itu? Di m 28 %
ik terpaksa kulewati begitu saja. Dan, nah, itu dia, seorang

lelaki

yang mamakai baju batik berwarna merah. Wajahnya tampan dan 44 %
satu mata rantai. Kualihkan senapanku kembali pada sasaran.

lelaki

setengah tua itu sedang mendengarkan cerita seseorang di had 73 %
gan sabar. Orang yang bercerita itu tampak berapi-api, namun

lelaki

itu kelihatannya menahan diri untuk tidak ikut terbakar. Ia 74 %
siap menembak. Satu tekanan telunjuk akan mengakhiri riwayat

lelaki

itu. Garis silang pada teleskop kugeser agak ke samping, sup 76 %
membuatnya lebih berkembang. Di manakah wanita yang bersuara

lembut

itu? Di mana-mana orang mengunyah makanan, menyeruput minuma 29 %
g dan berbicara padaku lewat mikrofon yang tersembunyi dalam

leontin

kalungnya. Leontin yang indah, terpajang di dadanya yang tip 70 %
aku lewat mikrofon yang tersembunyi dalam leontin kalungnya.

leontin

yang indah, terpajang di dadanya yang tipis. “Apa?” tanyaku 70 %
nuhnya.” “Itu bukan urusanmu. Ini politik.” “Urusanku adalah

leontinmu

manis, ia bisa pecah berantakan oleh peluruku, dan peluru it 91 %
k wanita muda. Paling tidak itulah yang menarik perhatianku.

lewat

teleskop pada senapan ini, aku memperhatikan mereka satu per 5 %
ar lagi.” Dari teras lantai 7 hotel ini, aku masih mengintip

lewat

teleskop. Angin laut yang basah terasa asin di bibirku. Isen 14 %
ku minggu lalu, ketika dia memesan penembakan ini. Dilakukan

lewat

telepon seperti itu, tentu wajahnya hanya bisa kukira-kira s 18 %
isi yang enak. Sambil mengunyah kacang aku mengintip kembali

lewat

teleskop. Garis silang itu kembali beredar dari wajah ke waj 40 %
bekerja berdasarkan kontrak. “Di sebelah mana dia?” tanyaku

lewat

mike yang tergantung di bawah daguku. “Dia di sudut kolam re 42 %
memang berkata-kata sendiri. Rupanya betul dia. Ia mendengar

lewat

giwang dan berbicara padaku lewat mikrofon yang tersembunyi 70 %
ya betul dia. Ia mendengar lewat giwang dan berbicara padaku

lewat

mikrofon yang tersembunyi dalam leontin kalungnya. Leontin y 70 %
ul-mukulkan tinjunya pada telapak tangan yang lain. Wajahnya

licik

dan penuh tipu daya. Sangat memuakkan. Padahal ia pun sudah 97 %
khianat, ia menjelek-jelekkan nama bangsa dan negara kita di

luar

negeri.” “Cuma itu?” “Ia meresahkan masyarakat dengan pernya 89 %
. Garis silang pada teleskop kugeser agak ke samping, supaya

lubang

peluru pada kepalanya tidak membuat pembagian yang terlalu s 76 %
u wanita bertampang juragan. Mungkin satunya lagi. Rambutnya

lurus

dan hitam dengan poni menutup dahinya. Matanya menatap tajam 68 %
tunggu!” “Ini tidak ada dalam perjanjian.” “Ada! Kamu jangan

main

gila.” selendang sutra tanda mata darimu Busyet! Lagu keronc 63 %
?” tiba-tiba terdengar lagi suara itu. “Ya, kenapa?” “Jangan

main-main!

Aku tahu kamu tidak di tempat!” Aku bergegas kembali ke tera 36 %
mpak berjiwa pegawai, menyembunyikan diri dengan sopan, tapi

makan

banyak-banyak. Tampak pula petugas berpakaian preman mondar- 31 %
enak untuk kamu.” Kulihat ke bawah, mereka seperti kerumunan

makhluk-makhluk

kecil, tentu tak terlalu jelas mana yang berbaju batik merah 38 %
agi senapanku. Dari balik teleskop kuteliti orang-orang yang

makin

banyak saja berdatangan. Ada sesuatu yang terasa kurang enak 22 %
an setelah mendengar kematian orang ini, dan tangis itu akan

makin

menjadi-jadi ketika mengetahui cara kematiannya. Biar saja. 53 %
ak kubatalkan!” Perasaan aneh tiba-tiba merasuki diriku. Aku

malah

mengarahkan senapan pada wanita itu. “Laras senapanku mengar 80 %
itu, akukah atau Kamu? Orang itu tak sadar sama sekali kalau

malaikan

maut telah mengelus-elus tengkuknya. “Bagaimana? Sekarang?” 59 %
Keroncong Pembunuhan Oleh: Seno Gumira Ajidarma hampir

malam

di Yogya ketika keretaku tiba Lagu keroncong membuatku ngant 0 %
tika keretaku tiba