Sun, 30 Apr 2006 10:00:16 +0700, harsutejo <harsonos@cbn.net.id> wrote:
> Para rekan,
> Saya baru saja telepon ke rumah Pak Pram diterima cucunya, Rizki,
> dikabarkan olehnya bahwa sastrawan terbesar Indonesia abad XX ini
> telah meninggal dunia pagi ini jam 8.55 di kediamannya di Utankayu.
> Semoga arwahnya mendapatkan tempat layak di sisi-Nya,
> Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun, dari debu asalmu ke debu kembalimu.
> Seorang besar telah tiada, hidup Pramoedya Ananta Toer!
> Salam, harsutejo.-

and three news spots from detikcom:

30/04/2006 10:35
Pramoedya Ananta Toer Tutup Usia
M. Rizal Maslan - detikcom

Jakarta, Setelah berjibaku dengan sakit di usia tuanya, sastrawan
Pramoedya Ananta Toer tutup usia, Minggu (30/4/2006) sekitar
pukul 08.30 WIB. Pria yang pernah dinobatkan sebagai orang paling
berpengaruh versi Majalah Time ini meninggal pada usia 81 tahun.

Saat ini jenazah disemayamkan di kediamannya, Jalan Multikarya II
No 26, Utan Kayu, Jakarta Timur. Sebelumnya, Pram tergolek tak sadar
dalam perawatan di RS St Carolus, Salemba, Jakarta Pusat, sejak
Kamis 27 April. Namun meski kritis, dia akhirnya minta pulang ke
rumahnya sendiri.

Sejak semalam, banyak tamu bertandang menjenguk Pram, utamanya dari
komunitas penggemar Pram. Wartawan juga banyak yang menyanggong.
Pram dijadwalkan dimakamkan hari ini setelah salat ashar di TPU Karet.

Pram lahir pada 6 Februari 1925. Karena karya-karya monumentalnya,
Pram sejak 1981 menjadi kandidat penerima Nobel dalam bidang sastra.
Filipina menghargai kehebatan Pram dengan anugerah Magsaysay.

Sejak muda, Pram akrab dengan penjara. Dia pernah ditahan pada tahun
1947-1949. Tahun 1965 hingga 1979, dia pun kembali ditahan di beberapa
tempat seperti di penjara Jakarta, Tangerang, Nusakambangan, Magelang,
Semarang dan Pulau Buru.

Seiring dengan runtuhnya Orba, buku-buku tokoh Lekra yang pernah
dilarang beredar ini diterbitkan ulang dan cukup laris di pasaran.
Karya-karya Pram yang terkenal antara lain tetralogi Bumi Manusia
(diterjemahkan ke 33 bahasa), Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan
Rumah Kaca, dan Bukan Pasar Malam


30/04/2006 14:24
Pramoedya Dilepas dengan Lagu Komunis Internasionale
M. Rizal Maslan - detikcom

Jakarta, Pramoedya Ananta Toer dilepas ke TPU Karet Bivak,
Pejompongan, Jakarta, lebih cepat dari jadwal. Lagu komunis
internasional, Internasionale, yang telah diterjemahkan dalam
bahasa Indonesia, mengiringi kepergian Pram.

Menurut rencana, Pram dimakamkan ke TPU Karet Bivak setelah salat
ashar. Namun keluarga memutuskan untuk memberangkatkan Pram pada
pukul 13.50 WIB. Ratusan pelayat tampak memenuhi rumah dan
pekarangan Pram di Jalan Multikarya II No 26, Utan Kayu, Jakarta
Timur, Minggu (30/4/2006).

Pelayat yang hadir antara lain Sitor Situmorang, Erry Riyana
Hardjapamekas, Nurul Arifin dan suami, Usman Hamid, Putu Wijaya,
Goenawan Moehammad dan Gus Solah. Hadir juga Menteri Kebudayaan
dan Pariwisata Jero Wacik. Teman-teman Pram yang pernah ditahan
di Pulau Buru juga hadir. Temasuk para anak muda fans Pram.

Jenazah dimandikan pukul 12.30 WIB, lalu disalatkan. Setelah itu,
dibawa keluar rumah untuk dimasukkan ke ambulans yang membawa Pram
ke TPU Karet Bivak. Nah, ketika prosesi ini terjadi, sebagian
pelayat lamat-lamat mengumandangkan sebuah lagu berbahasa Indonesia.
Kata seorang di antara mereka, judul lagu itu adalah Internasionale.
....
....

30/04/2006 16:11
Pram akan Dapat Anugerah dari Pemerintah
M. Rizal Maslan - detikcom

Jakarta, Di dunia internasional, nama Pramoedya Ananta Toer begitu
dikagumi atas karya-karya monumentalnya. Sejumlah penghargaan pun
mengalir ke dirinya.

Namun, Pram belum pernah mendapatkan penghargaan dari negara tempat
dia bernaung, Indonesia. Pemerintah baru menyadari 'kehebatan' Pram
di akhir hayatnya. Pemerintah berencana untuk memberikan penghargaan
kepada Pram.

"Sekarang karya-karyanya sedang kita pelajari. Nanti ada hal-hal
tertentu yang akan kita berikan anugerah," kata Menteri Kebudayaan
dan Pariwisata Jero Wacik di rumah duka Pram, Jl Multikarya II No 26,
Utan Kayu, Jakarta Timur, Minggu (30/4/2006).

Menurutnya, sosok budayawan sekelas Pram memang diakui selalu
menyuarakan untuk kepentingan rakyat. Namun, Jero menambahkan agar
masalah sastra dan budaya itu dibedakan dengan blok politik.

"Pemerintah saat ini juga memikirkan soal rakyat. Jadi biarkan karya
budaya dan sastra menjadi karya bangsa yang akan kita warisi kepada
generasi berikutnya," kilahnya.

Jero berharap agar semua pihak dapat memberikan persepsi yang baik.
Serta memberikan apresiasi terhadap karya-karya sastra dan budaya.

"Generasi yang sekarang pun setelah kepergian pak Pram harus berkarya
lebih baik. Suarakan hal-hal yang baik untuk bangsa. Itu yang harus
kita lakukan," ujarnya.

Dalam kesempatan ini, Jero tidak lupa menyatakan belasungkawa atas
berpulangnya Pram. "Karya-karyanyanya kita apresiasi, kita pelajari,
kita ilat, dan kita gabungkan dengan karya satra. Karena budayawan
itu memerlukan apresiasi dari kita," jelasnya.

Senin, 01 Mei 2006
 http://kompas.com/kompas-cetak/0605/01/utama/2619997.htm

Obituari
Pramoedya Telah Pergi, Berangkatlah Polemik!

 

Riuh kiriman pesan lewat layanan pesan singkat atau SMS sejak Sabtu (29/4) terus berlanjut hingga Minggu petang.

SMS gelombang pertama kaget bertanya, benarkah pengarang besar itu sudah meninggal dunia? Gelombang kedua bergeser, mengapa koran dan sejumlah tokoh menganggapnya pahlawan, padahal dia dulu anti-"Manikebu" dan lagi ia dulu berhaluan kiri?

Kalau Anda hadir melayat di kediaman pengarang yang pernah mendekam di bui selama 10 tahun dalam pembuangan di Pulau Buru, dengan nomor tahanan politik (tapol) 007, "perdebatan", dan sebenarnya "pembelaan" oleh sejumlah anak muda dan pendukungnya, juga terjadi menjelang jenazah diberangkatkan dan dimasukkan ke liang lahat, Minggu (30/4) siang.

Setelah dimandikan, jenazah Pramoedya dishalatkan pukul 12.00 di tengah ruangan. Saat keranda diangkat menuju ambulans sekitar pukul 13.00, tidak dinyana berkumandanglah lagu Internationale dan Darah Juang di tengah ratusan pelayat yang berdempetan di gang sempit Jalan Multikarya II/26, Utan Kayu, Jakarta Timur. Lagu yang pertama adalah sajak seorang buruh anggota Komune Paris (1871), Eugene Pottier, yang selanjutnya menjadi lagu mars kaum proletariat dan kekuasaan diktatur proletariat yang berkuasa selama 72 hari pada masanya. Internationale yang dinyanyikan adalah versi terjemahan dalam bahasa Indonesia oleh Ki Hadjar Dewantara. Yang kedua adalah lagu perjuangan mahasiswa Indonesia yang lahir di zaman reformasi menjelang jatuhnya Orde Baru, 1997-1998. Ini lagu karangan aktivis John Sonny Tobing, mahasiswa Fakultas Filsafat UGM Yogyakarta. Sebagai catatan, bersama lagu ini lahir juga Sumpah Mahasiswa, ciptaan Afnan Malay, juga aktivis dari Fakultas Hukum UGM. Meski sekilas, syair kedua lagu itu jelas, pembelaan pada rakyat kecil, pada buruh: Bangunlah kaum yang terhina/Bangunlah kaum yang lapar ("Internationale").

Keluarga besar Pramoedya Ananta Toer yang terdiri dari 8 anak, 16 cucu, dan 2 cicit semuanya berkumpul. Istrinya, Ny Maemunah, ada di sana. Minggu pukul 09.15, Pramoedya Ananta Toer meninggal dunia setelah sebelumnya jatuh di rumah Bojong Gede dan sesak napas.

Hadir di sana antara lain Goenawan Mohammad, Sitor Situmorang, Ratna Sarumpaet, Budiman Sujatmiko, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik, puluhan aktivis, sastrawan, dan cendekiawan. Sejumlah karangan bunga tanda duka, antara lain dari Kontras, artis Happy salma, pengurus DPD PDI Perjuangan, dan Dewan Kesenian Jakarta, mengantar kepergiannya.

Menjelang jenazah dimasukkan ke liang lahat di Makam Karet Bivak, Jakarta Pusat, kembali lagu Internationale dan Darah Juang dinyanyikan. Anak-anak muda yang datang sebagian dari Partai Rakyat Demokratik (PRD) dan elemennya.

Sastrawan penerima penghargaan dari dalam dan luar negeri, yang terakhir Presidential Medals of Honor for Pablo Neruda Centennial dari pemerintah Cile (2004), itu oleh pendiri PRD, Budiman Sujatmiko, dianggap sebagai gurunya. Pikiran dan buku-buku Pram adalah inspirasi sebuah perlawanan oleh anak muda, katanya. Tetralogi Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Rumah Kaca, dan Jejak Langkah adalah potret anak muda di tengah perubahan dari masa feodalisme ke kapitalisme. Mingke, adalah tokoh simboliknya. "Aku hidup di zaman Orba, pakai jalan juga jalan raya Orba, tapi bukan berarti kita berutang kepada Orba, justru fasilitas-fasilitas itu kita manfaatkan untuk melawan," kata Budiman. Penyair Yogyakarta, Joko Pinurbo, malah mengirim SMS puisi berjudul Selamat Jalan Pram: selamat jalan buku/selamat sampai di ibukata/ibunya rindu....

Generasi sezaman, sahabat eratnya, wartawan senior Amarzan Lubis (aktivis Lembaga Kebudayaan Rakyat/Lekra dan mantan Redaktur Harian Rakjat) dan Oei Hai Djun (77) (mantan anggota DPR dari Partai Komunis), melihat Pram sebagai sosok independen dan manusia kuat. Kualitas utama Pram adalah tidak pernah dapat dipatahkan oleh penderitaan. "Pram juga tidak pernah tunduk berargumen. Pikirannya mandiri," kata Oei.

Dramawan Putu Wijaya mengaku pengagum karya Pram, tetapi tidak pada kegiatan politiknya. Sejak SD, Putu mengagumi karya Pram, seperti Perburuan, Si Midah Bergigi Emas, atau Mereka yang Dilumpuhkan. "Tetapi, setelah periode itu, karya Pram berciri realisme sosial. Soal politik itu urusan beliau dan saya tidak bisa gabungkan menilainya," ujar Putu.

Sastrawan Eka Budianta melihat peran Pram pada dorongan untuk mencintai dan mengenali Tanah Air kita sedalam-dalamnya. Pram disebutnya pembina bahasa Indonesia lewat karyanya. "Pram minta adakan kongres pemuda supaya pemuda sendiri melahirkan tokoh-tokohnya," kata Eka tentang Pram yang katanya masih menyimpan sejumlah manuskrip yang belum terbit, Soekarno di Mata Dunia dan Dunia di Mata Soekarno.

Sebagaimana pernah diungkapkan Goenawan Mohammad, "kreativitas Pramoedya adalah krativitas polemik", agaknya inilah kehadiran Pram, karyanya dan pribadinya. Tetralogi di atas, lalu Mangir, Arok Dedes, Arus Balik, dan Nyanyi Sunyi Seorang Bisu, bahkan Gadis Pantai, jelas merupakan sebuah "dekonstruksi" dan pada akhirnya perlawanan terhadap feodalisme, kekuasaan, mitos, atau kedengkian yang melahirkan penindasan.

Polemik akan mekar lagi sejak sekarang: adakah kata senapas dengan perbuatan? Bagi siapa pun di muka bumi ini....(VIN/DHF/EDN/HRD)

Lagu Darah Juang Iringi Kepergian Pramoedya
Minggu, 30 April 2006 | 16:31 WIB
http://www.tempointeraktif.com/hg/nasional/2006/04/30/brk,20060430-76840,id.html

TEMPO Interaktif, Jakarta:

Lagu Darah Juang mengiringi prosesi pemakaman Pramoedya Ananta Toer. Lagu itu dinyanyikan oleh para pengagum Sang Pujangga yang terkenal dengan karya Tetralogi Bumi Manusia.

Ambulan yang membawa jenazah Pramoedya tiba di TPU Karet Bivak pukul 14.30 WIB. Setelah itu ustadz dari Yayasan Bunga Kamboja yang bertugas di TPU tersebut membacakan doa, kemudian peti jenazah diturunkan. Tepat pada pukul 15.00 WIB, pusara mulai ditimbun tanah dan di atasnya ditebari bunga mawar. Koesalah Soebagyo Toer, adik Pram, memberikan kata-kata terakhir dengan suara lirih. Dia meminta doa untuk mengiringi kepergian Pramoedya. "Doakan semoga kepergiannya damai," ucap pria yang mengenakan baju coklat muda bermotif kotak-kotak yang dipadu dengan celana coklat.

Beberapa tokoh yang turut menghadiri pemakaman Pramoedya, di antaranya Goenawan Muhammad, Eka Budianta, Oei Hay Djoen (yang pernah ditahan bersama Pramoedya di Pulau Buru), Ratna Sarumpaet dan Sholahuddin Wahid.

Goenawan Muhammad menerima pesan pendek bahwa Pramoedya meninggal tadi malam saat berada di Surabaya. Namun, dia menerima kabar lagi yang mengatakan Pram belum meninggal. Dia mengaku mengenal karya Pramoedya sejak kecil. Beberapa karya Pram yang paling disukainya, Cerita dari Blora, Bukan Pasar Malam dan Perburuan. "Saya mengagumi sikapnya yang gagah berani," kata Goenawan usai acara pemakaman.

Mengenai hasil karya Pram yang terkesan belum dihargai pemerintah, Goenawan menanggapi, "pengarang dihargai bukan dari pemerintah, tapi dari pembacanya."

Nieke