Hanuman dibawa menghadap ke dalam istana. Betapa marahnya Rahwana
ketika ia melihat kera putih yang telah merusak taman istananya. Tetapi betapa herannya
Rahwana setelah ia mengetahui bahwa kera putih itu dapat berbicara.
Sambil memaki-maki, Rahwana bertanya kepada Hanuman mengapa Hanuman
merusak tamannya sampai porak poranda. Hanuman menjawab bahwa ia adalah utusan Rama yang
tengah mencari istrinya, Sita, yang diculik oleh Rahwana.
Rahwana tak dapat menahan amarahnya. Hanuman hendak dibunuhnya,
tetapi adik Rahwana, yaitu Wibisana, mencegahnya. Dengan bijaksana ia berkata bahwa
Hanuman sebagai utusan raja tidaklah patut dibunuh. Ia harus dikembalikan kepada raja yang
mengutusnya. Lagi pula, bukankah Rahwana yang membuat kesalahan terlebih dahulu dengan
menculik dan merampas istri Rama.
Rahwana menjadi semakin marah. Wibisana diusirnya agar pergi dari
Negeri Langkapura. Rahwana pun memerintahkan para prajurit raksasa agar membakar Hanuman
di tengah alun-alun. Para raksasa mengikat tubuh Hanuman lalu meletakkannya di atas
tumpukan kayu bakar. Tumpukan kayu itupun disulut beramai-ramai. Api menyala-nyala dan
berkobar-kobar. Tapi Hanuman tidak terbakar, bahkan ia berhasil melepaskan diri dari tali
pengikatnya.
|