Rama dan Laksamana kembali ke pondoknya. Tapi betapa
kagetnya mereka karena Sita tidak berada di sana. Menitiklah air mata Rama karena
sedihnya. Keluhnya terbawa angin menerobos hutan dan terbawa debur gelombang lautan.
Laksamana pun tak henti-hentinya menyesali dirinya karena pergi meninggalkan Sita.
Kedua satria itupun pergilah mencari Sita.
Dijelajahinya rimba belantara, didakinya bukit, dan dituruninya lembah. Namun tiada jejak
sedikitpun yang ditemukannya.
Akhirnya Rama melihat seekor burung garuda yang
terkapar di tanah tanpa daya. Hanya pada paruhnya terdapat sebentuk cincin. Rama mengamati
cincin itu dan seketika itu juga dikenalinya sebagai cincin Sita.
Jatayu dengan tersendat-sendat berkata bahwa Sita
dilarikan oleh raja raksasa Rahwana. Jatayu tak dapat berkata lebih banyak karena tubuhnya
telah lemah lunglai dan kehabisan tenaga. Sesaat kemudian Jatayu pun menghembuskan nafas
penghabisan. Rama menyadari bahwa garuda yang telah tiada itu adalah sahabatnya. Sebagai
penghormatan terakhir, burung garuda itu pun dibakarnya dengan disertai upacara yang
khidmat.
|