Jerit
kesakitan Sarpakenaka terdengar oleh pengawalnya, Kara dan Dusana. Betapa kaget dan
marahnya kedua raksasa itu melihat junjungannya terluka parah. Keduanya segera mengancam
Rama dan Laksamana untuk balas dendam. Tapi sebelum mereka dapat membalaskan dendam
junjungannya, panah Rama dan Laksamana telah membunuhnya.
Sarpakenaka
segera lari pulang ke Langkapura. Ditemuinya Dasamuka kakaknya yang sedang beristirahat di
balai peranginan. Sambil berurai air mata ia mengadukan Rama dan Laksamana yang
dikatakannya telah menyiksanya di tengah hutan Dandaka.
Selain
itu ia membakar hati Rahwana agar menculik Sita, karena Sita seorang puteri yang cantik
jelita dan pantas menjadi permaisuri. Sarpakenaka pun mengadu bahwa Kara dan Dusana telah
dibunuh pula oleh kedua satria Ayodya itu.
Rahwana
terbakar hatinya. Ia berencana untuk membalas dendam terhadap kedua satria Ayodya itu,
sekaligus hendak menculik Sita. Rahwana segera memanggil abdi kepercayaanya, Marica.
Disuruhnya Marica pergi ke hutan Dandaka untuk melihat pondok tempat tinggal Rama, Sita,
dan Laksamana. Marica menyatakan kesanggupannya melaksanakan tugas Sang Raja, lalu ia
bertanya tugas apa yang harus dilakukannya.
|