
2. The existence of wayang characterizes much of the Balinese ritual, from
ceremonies for pregnancy to the rituals for weddings. These rituals serve the function of
harmonizing the three worlds, often utilizing wayang as the main instrument.

|
Wayang
Bali
(for wayang kulit)
by I Ketut Erawan
1. Wayang in Bali is a sacred performing art. It is sacred since the performing art
in Bali becomes an arena of transmitting the basic philosophical thought to the audience.
The audience is perceived as coming from three realms of world (the realm of gods, the
realm of human being, and the realm of underworld.

Demon King puppet
(Raja Raksasa)
3. As a sacred performing art in Bali, there are numbers of purification ceremonies
for the wayang, puppetteer, gender (gamelan), and the gamelan players. Before the wayang
is performed, certain purification ceremonies will be carefully conducted. |
Wayang
Bali
(untuk wayang kulit
by I Ketut Erawan
1. Wayang di Bali adalah merupakan suatu kesenian yang sakral. Ia merupakan
kesenian yang sakral oleh karena tontonan wayang di Bali sering mengandung ajaran
philosophis kehinduan yang paling hakiki. Penontonnya dianggap berasal dari tiga alam
(alam para dewa, alam manusia, dan alam bawah).
2. Kehadiran wayang
juga sering memaknai ritual-ritual masyarakat Bali mulai dari masa mengandung, hingga
ritus perkawinan. Upacara keagamaan yang bertujuan menstabilkan keharmonisan tiga alam itu
seringkali menggunakan wayang sebagai sarananya.
3. Sebagai kesenian yang sakral maka di
Bali dilakukan pensucian terhadap wayang- wayangnya, dalang, gender (gamelan), dan
penabuh-penabuhnya. Begitu pula sebelum pertunjukkan maka akan dilakukan upacara pesucian
terlebih dahulu. |