Link to Cover Page

Introduction  

English

1. Wayang Purwa symbolizes human life in the world. Basically, the genealogy of wayang is rooted in the gods named Hyang Manikmaya and Hyang Ismaya. They are sons of Hyang Tunggal. In the wayang performance, Hyang Tunggal is not visible. The two sons   emerged as lights simultaneously. Manikmaya's light was glowing brightly. Ismaya's light was dark. Both of them competed to proclaim that they were the older of the two.

Hyang Ismaya
(Semar)

semar.jpg (4873 bytes)

3. The spark light was named Manikmaya, who lives in Suralaya (the kingdom of gods). Manikmaya is so proud to himself since he perceives himself to have no weakness and to be powerful. That kind of attitudes makes Hyang Tunggal give him some weaknesses.

arj-meditat.jpg (10856 bytes)
niwatakawaca.jpg (32207 bytes)

siwa.jpg (11738 bytes)

Hyang Manikmaya
(Betara Guru)



2. Then, Hyang Tunggal stated that the dark light was older, but he was predicted that he could not have the god's personality. He was given a name Ismaya. Since he had the human personality, he was asked to stay in earth to take care the god's descendent, the Pandawa. Then he was sent to the world and named Semar. He has the ugliest human being outlook.

kayon2.jpg (26098 bytes)

4. The two events are symbols.  Ismaya symbolizes the body of human being. Ismaya symbolizes the soul of human being (inner body). The body (Semar) always takes care of five senses (Pendawa): sense of smelling (Yudhistira); sense of hearing (Werkodara); sense of seeing (Arjuna); sense of taste (Nakula); and sense of touching (Sadewa). 

5. The task of Semar is to take care the wellbeing of Pendawa, in order to avoid the war with Korawa (sense of Anger). However, Hyang Manik Maya always persuades them to fight. Finally, there is Baratayudha where Pandawa become the winner.

Dikutip dan disarikan dari Harjowirogo, Sejarah Wayang Purwa, Jakarta: Balai Pustaka, 1968.

Indonesian

1. Wayang Purwa adalah perlambang kehidupan manusia di dunia ini. Pada intinya, wayang berasal dari dewa-dewa bernama Hyang Manikmaya (Betara Guru) dan Hyang Ismaya (Semar). Mereka adalah putera dari Hyang Tunggal. Hyang Tunggal tidak diwujudkan dalam wayang. Kedua putera itu muncul secara bersamaan dalam bentuk cahaya. Manikmaya bercahaya bersinar-sinar. Ismaya bercahaya kehitam-hitaman. Kedua cahaya ini berebut untuk mendapatkan status sebagai yang tertua diantara mereka.

2. Kemudian Hyang Tunggal bersabda, bahwa yang tertua adalah cahaya yang kehitam-hitaman, tetapi diramalkan bahwa dia tak dapat berjiwa sebagai Dewa Ia diberi nama Ismaya. Karena ia memiliki sifat sebagai manusia maka dititahkan supaya tetap tinggal di dunia dan mengasuh turunan Dewa yang berdarah Pendawa. Maka diturunkanlah ia kedunia dan bernama Semar, yang berbentuk manusia yang sangat jelek rupa. 

3. Cahaya yang bersinar terang diberi nama Manikmaya dan tetap tinggal di Suralaja (kerajaan Dewa). Manikmaya merasa bangga, karena tidak mempunyai cacat dan sangat berkuasa. Tetapi sikap yang demikian itu menyebabkan Hyang Tunggal memberinya beberapa kelemahan.

4. Kedua kejadian ini   merupakan perlambang. Ismaya adalah lambang badan manusia yang kasar dan Manikmaya lambang kehalusan bathin manusia. Raga kasar (Semar) senantiasa menjaga kelima Pendawa yang berujud Panca indera atau kelima perasaan tubuh manusia: indera penciuman (Yudistira); indera pendengaran (Werkodara); indera penglihatan (Arjuna); indera perasa (Nakula), dan indera peraba (Sadewa).

5. Tugas dari Semar adalah menjaga kesejahteraan Pendawa , supaya mereka menjauhi peperangan dengan Korawa (rasa amarah). Tetapi Hyang Manikmaya lah yang senantiasa menggoda sehingga Pendawa dan Kurawa tidak pernah berhenti berperang. Hingga akhirnya terjadilah Baratayuda, di mana Pendawalah yang menjadi pemenangnya.

Link to Cover Page

Pendahuluan