Presenter:
Salam jumpa pemirsa, di penghujung tahun lalu sebuah peristiwa tragis kembali mengejutkan warga Bekasi, Jawa Barat. Peristiwa tersebut adalah aksi pembunuhan mutilasi yang merenggut nyawa seorang wanita. Bersama saya Fenny Anastasia, inilah liputan kriminalitas mendalam Menyingkap Tabir.
Narator:
Ini adalah pemandangan satu keluarga dari desa Kayuringin, Bekasi, Jawa Barat. Dari wajahnya tersirat kebimbangan juga kesedihan. Jadilah awal tahun yang semestinya bahagia berubah menjadi duka yang sulit lekang dari ingatan. Apa yang terjadi?
Yudi / anak tersangka:
..supaya tegar aja gitu mas, supaya sehat gitu bapak, bapak saya jangan dipukulin mas..(menangis)..cobaan untuk keluarga saya mas, bapak saya jangan dipukulin kasian, udah tua, fisiknya udah gak kuat…
Narator:
Lagi, seorang wanita ditemukan tewas, dalam kondisi yang mengenaskan. Peristiwa ini segera menjadi pusat perhatian warga Kampung Pulo Kendal, Desa Setia, Taruma Jaya, Bekasi.
Reporter:
Waktu itu bapak dapat informasi dari mana pak?
Saksi mata:
Dari tukang sayuran
Reporter:
Apa katanya pak?
Saksi mata:
Ya tukang sayuran itu dapat laporan dari masyarakat..lagi jalan, ngeliat ada orang.
Reporter:
Posisi mayat waktu itu ada dimana posisinya pak?
Saksi:
Lagi tengkurap
Reporter:trus tanpa kepala ya pak?
Saksi:
Gak ada kepalanya..
Saat ditemukan tubuh korban tidak utuh lagi, bagian kepalanya terpisah sekitar 95 meter dari posisi badan korban.
Polisi:
Pada hari ini kita telah menemukan mayat seorang wanita dan kita perkirakan tinggi 160 cm, tanpa kepala, namun pada saat ini kita sudah menemukan kepala skitar 100 meter dari TKP pertama .
Meski saat ditemukan banyak warga yang berdatangan namun tak satupun yang mengenal korban.
Saksi:
Bajunya merah, celana putih,
Warga mana kira-kira pak?
Ga tau juga pak?
Tapi bukan warga sini?
Bukan.
Narator :
Lantas siapa kah korban yang tewas diatas rerumputan Desa Setia Asih ini?
AKP Susetyo Purnomo Condro/ Kasat Reskrim:
Langkah yang diakuakan awal adalah utk menentukan siapa korban dan kemudian kita beusaha untuk mencari keterangan dari orang-orang terdekatnya..mutilasi ini memang kesulitan umumnya adalah pada identifikasi korban
Narator :
Dugaan kejahatan seperti apa yang melatari tewasnya wanita berusia sekitar 30 tahunan ini
Polisi:
Cincin tidak diambil, anting-anting tidak diambil jadi ada kemungkinan faktor-faktor lain yang mungkin bukan berkaitan dengan masalah-masalah kriminal terhadap harta benda.
Setiap daerah memiliki peristiwa kejahatan yang khas..namun di kawasan Bekasi, warga sering kali disuguhi potret kesibukan polisi yang berupaya mengungkap kasus mutilasi
Dan inilah potret kesibukan polisi mengawali proses pengungkapan kejahatan kali ini
Kita sedang olah TKP [Tempat Kejadian Perkara], dan saya berharap apabila ada warga yang merasa kehilangan anggota keluarganya untuk segera melaporkan ke kita, untuk membantu kita. Tadi juga sudah ada beberapa informasi dari beberapa saksi yang sudah kita dengar yang nanti akan kita bawa ke kantor untuk memberikan keterangan yang bisa mengungkap kasus ini.
Menyelidik dari 8 penjuru mata angin istilah ini diumpamakan bahwa setiap kejahatan selalu meninggalkan jejak untuk itu semua detail yang tertinggal harus bisa dijadikan landasan mengawali pengungkapan kasus, dan sejauh mana ketelitian penyidik terkait profesionalisme pekerjaan mereka kali ini.
Inilah bukti kejahatan yang meninggalkan jejak, dari sini mata rantai kejahatan coba disusun dan disimpulkan dan analisa atas bukti-bukti tidak selesai sampai disini
Kasat Reskrim:
Dengan melakukan penyisiran dan olah TKP yang baik, kita berhasil menemukan kepala korban yang terbungkus dalam plastik ini...ini kepala korban dibungkus dengan plastik ini...kemudian setelah kita buka dan kepala korban dan dengan dasar kepala korban ini maka kita mencoba mengumumkan foto ini melalui media,
Ini darahnya..ini kita lagi mau ambil..
Kemudian mengakulah dari seorang bapak atas nama Afif, yang merasa bahwa korban ini adalah pembantunya.
Atas dasar pelaporan modus operandi hingga barang bukti polisi akhirnya mengejar si pelaku
Presenter:
Warga Bekasi biasa tersuguhi oleh kebuntuan penyelidikan kasus pembunuhan mutilasi, akankah peristiwa kali ini menjadi peristiwa yang tak berujung? Tetap di TVOne, Menyingkap Tabir akan kembali sesaat lagi
Hanya berselang 5 hari sejak peristiwa terjadi, polisi mengamankan pria berusia 58 tahun bernama Sutrisno. Sutrisno sendiri adalah seorang penjagal daging yang berdagang di kawasan Pasar Baru Bekasi. Atas dasar apa polisi mengambil tindakan mengamankan pria yang sudah memiliki 7 anak ini?
Kita berusaha mengungkap hubungan antara korban dengan tersangka dan ini kita bawa ke lab DNA. Dan dari sana akhirnya tersangka mulai melunak dan akhirnya mengakui kejahatannya.
Ya, pria setengah abad ini menjadi tersangka tunggl kasus mutilasi di Kampung Pulo Kendal, Desa Taruma Jaya, Bekasi. Dan inilah penelusuran atas penyelidikan polisi terkait tertangkapnya Sutrisno si pelaku kejahatan.
Dengan data tersebut, setelah kita periksa kita berusaha melakukan penangkapan terhadap tersangka sekitar kurang lebih pukul 12 kita berangkat kesana, 12 malam. Satu jam kita mengamati, observasi di sekitar rumah tersangka dan pukul 1 malam.
Tertangkapnya Sutrisno bermula dari terbongkarnya identitas korban yang tewas dengan bagian kepala terpisah dari tubuh.
Korban atas nama Amah usia 25 tahun dalam keadaan mengandung 5 bulan.
Terungkapnya kasus ini menjadi babak baru penyelidikan polisi. Mengapa tersangka nekat dan tega melakukan kejahatan terhadap wanita bernama Amah? Dan apa hubungan korban dengan pelaku?
Sutrisno/tersangka:
Hubungan pribadilah, jelasnya hubungan apa namanya..pacaran lah kalau bahasa anak jaman sekarang itu..
Mengapa pula hubungan tersebut berubah menajdi malapetaka bagi kedua pasangan ini?
Pertengkaran itu cuma malam itu pak, cuma sebelumnya itu gak membicarakan tentang masalah ini , cuma dia bilang kayak ini..udah berisi atau hamil gitu aja.
Cuma dengan catatan bahwa yang dia bawa dinikahi dengan saya ini..kalo istri saya ini dengan anak saya yang datang ke, ngadep mereka, itu saya tolak, jadi akhirnya timbul pertengkaran antara saya dengan dia.
Mengetahui Amah hamil 6 bulan bukan tanggung jawab yang diberikan Sutrisno melainkan rencana menyudahi hidup Amah dengan aksi keji.
Tersangka:
Masalah permintaan, saya udah tolak, dan juga prinsipnya juga beda kan waktu itu kan, mau saya itu istilahnya akad nikah tanpa sepengetahuan istri tua saya, itulah yang bikin bumerang bahwa saya sampai kalap.
Ada satu yang tersirat dan menjadi rasa penasaran warga. Mengapa Sutrisno harus membunuh pasangan gelapnya?
Masih ngobrol aja pak saya..jadi istilahnya menghilangkan pikiran yang tegang..nah terus akhirnya sambil bercanda gurau, ya sambil kita pegang, kita cium, kita peluk ya akhirnya bercanda-bercanda kalau begini saya mendingan mati aja deh..ya dengan omongan yang begitu spontanitas saya tuh kok cabut pisau, ya kalau memang begini maunya ya saya potong aja sekalian
Pengakuan atas kejahatan sutrisno tidak selesai sampai disitu, tapi ia juga tega memutilasi kekasihnya sendiri
Kalau hanya sebatas pisau, pisau ini ditusuk ke perut atau bagaimana kadangkala ada yang ditusuk masuk, dicabut lagi, ditusuk lagi, dicabut lagi, itu kadangkala gak mati, cuma jelas kalau dipotong kalo udah putus itu udah mati, itu intinya.
Jika memotong-motong daging hewan ternak mungkin tidak ada masalah bagi Sutrisno yang dikenal sebagai penjual daging sapi, namun bagaimana perasaannya saat melakukan pada kekasih gelapnya itu ?
Saya juga gemetar juga pak,
Menyikapi peristiwa yang dilakukan, mungkinkah Sutrisno telah merencanakan tindak kejahatan ini? Dan jadilah nafas cerita ini sepenggal kisah tragis hubungan sepasang kekasih gelap. Menyesalkah Sutrisno atas perbuatannya?
Saya menyesal, sangat menyesal lah, penyesalan saya ini tidak bisa diukur pak, hanya hati saya yang tahu. Keluarga saya, orang lainpun mungkin gak tau tentang penyesalan saya, hanya hati saya yang tahu.
Dan siapakah sebenarnya sosok korban bernama Amah yang mencintai Sutrisno hingga hamil dan terbuang di kawasan Bekasi?
Presenter:
Menyingkap Tabir akan kembali dengan drama kehidupan keluarga korban dan juga tersangka Sutrisno, tetap di TVOne.
Pengamanan hingga penyidikan terhadap tersangka kasus mutilasi Sutrisno alias Cak Hori telah dilakukan, namun akibat aksi kejahatan Sutrisno masih tidak berhenti disini. Inilah penuturan keluarga korban terkait kenangan atas tewasnya Amah, putri keempat pasangan Subeh dan Misti.
Mery/kakak korban:
Orangnya itu pendiam, gak mau terbuka gitu, iya tertutup aja. Ibarat pintu udah dikunci rapat gitu, gak mau dibuka, kalau ada masalah itu disimpan sendiri ama dia.
Hingga akhirnya tanggal 1 Januari 2009 mereka benar-benar memastikan Amah binti Subeh tewas dengan cara yang tidak wajar
Pas tadi malam datang yang dari sini itu, dan dari situ langsung bawa fotonya Amah, baru dilihat sama saya, benar..itu sampai pingsan itu.
Kejahatan Sutrisno juga berimbas kepada orang sekitar pelaku, dan satu diantaranya adalah Yudi, putra Cak Hori.
Apa yang dilihat Yudi, akhirnya menjadi catatan kelam dalam kehidupan keluarganya. Dia tidak pernah menyangka ayah yang dikenal baik harus berurusan dengan para penegak hukum.
Yudi:
Bapak saya ini orangnya gak pernah ngomong, sama masyarakat juga, di lingkungan baik orangnya, sama anak juga selalu mendidik
Dan jadilah aksi kejahatan Sutrisno meninggalkan beban atas penderitaan batin anak dan istrinya
Reporter:
Gimana kabar ibu, pas tahu kejadian ini?
Yudi :
Ya sedih sekali ,waktu ibu saya lihat bapak saya di tv, shock sekali, ya sempat pingsan mas, nangis-nangis, pingsan gulung-gulung, kita bingung baru tahu, kita juga pusing ya kan.
Keterkejutan atas pembunuhan kejam berkedok asmara yang dilakukan Sutrisno juga sangat disesalkan orang-orang terdekatnya. Mereka tak menyangka pria yang dikenal baik dan aktif di masyarakat mampu mnghabisi nyawa seseorang secara kejam.
Sugeng/Pak RT [Rukun Tetangga]:
Sebenarnya sebelumnya gak tahu apa-apa, gak tahu ceritanya, ya orangnya biasa aja, terjadi itu juga mengejutkan juga, terutama RT, tokoh masyarakat dan warga disini, kok bisa terjadi begitu.
Tetap saja kejahatan Sutrisno meninggalkan dendam yang teramat dalam bagi keluarga korban. Bagi mereka nyawa sulit tergantikan oleh apapun.
Mery/ kakak korban:
Kalau dendam ya dendam semua, sama nenek moyangnya, saya gak tahu juga apa salah satu, ya pokoknya dihukum setimpal dengan dia aja lah gitu, dihukum mati aja, jangan dihukum seumur hidup.
Wajar jika kemarahan keluarga korban meluap, namun ada harapan lain guna menepis dendam
Yudi:
Ya, keluarga meminta maaf yang sebesar-besarnya, memang sulit, minta maaf yang sebesar-besarnya, jangan ada rasa dendam pada keluarga, keluarga bapak saya, termasuk keluarga-keluarga yang ada disini, kami juga yang ditinggalin juga susah, susah semuanya
Kini Sutrisno harus rela meninggalkan kebersamaan keluarga dan mulai merasakan hidup baru ditengah para penegak hukum, hingga jatuhnya vonis hukuman.
Kombes Herry Wibowo SH SIK/Kapolresta Bekasi Kabupaten:
Ini ya jelas pasal pembunuhan, mungkin ada pemberatan, karena yang bersangkutan saya lihat cukup sadis dan mungkin ya raja tega, karena ini kan pernah dikenal, pernah berhubungan badan, ada hubungan asmara, bahkan mengandung janin yang mana lima bulan itu adaladh buah darah daging yang bersangkutan, ini tentunya ada pemberatan-pemberatan yang nanti dengan sendirinya akan kita masukkan dalam unsur-unsur pembunuhan.
Siapkah Sutrisno mendekam di penjara seumur hidup, sanggupkah bila sampai dihukum mati?
Kalau untuk diri saya sendiri belum siap itu, kalau bisa masih ingin merasakan hidup
Ya, penyesalan datang terlambat, pria beranak tujuh ini harus menjalani hukuman yang setimpal atas perbuatannya. Namun Cak Hori alias Sutrisno masih beruntung sebab keluarga yang dikhianatinya masih tetap memberi dukungan moral.
Diberi yang ringan-ringan gitu, jangan terlalu berat
Akhirnya inilah pesan pendek seorang pelaku mutilasi, Sutrisno alias Cak Hori, pria kelahiran Madura lima puluh delapan tahun silam kepada orang-orang yang dikenalnya
Cuma tawakhal kepada yang kuasa, tebalkan imannya. Mohon maaf lahir batin dari saya dan semoga mereka ini kuat untuk menghadapi cobaan yang boleh dikatakan ilahitaallah, semuanya ini dari saya, anggaplah saya yang tidak becus sebagai orang tua, sebagai kepala rumah tangga sebagai ayah dan kakek dari anak-anak saya.
Presenter:
Kejahatan selalu meninggalkan penyesalan, yang pasti dari apa yang telah anda saksikan tetap harus diwaspadai. Saya Fenny Anastasia undur diri tetap saksikan Menyingkap Tabir pekan depan, salam tabir. * * *