![]()
Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh, kawan selamat pagi saya Isa Anshori sekarang bertugas di program Dialog bersama kawan-kawan dari Nara Qualita Aqsana. Kita pagi ini bicara praktek atau bicara soal implementasi pendidikan agama pada anak-anak. Kalau bicara konsep barangkali negara kita paling jago, kalau bicara soal teori barangkali sudah tidak dipertanyakan lagi keahlian atau kepiawaian dari ilmuwan-ilmuwan kita untuk mempelajari apapun ilmu yang ada termasuk ilmu-ilmu agama. Baik kawan... pagi ini sekali lagi kalau kita bicara soal teori atau kalau kita bicara soal konsep apapun konsep keilmuan atau teori keilmuan, yang jelas dari negara kita punya jago-jago ilmuwan yang memang sudah tidak asing lagi untuk kita amati dari berbagai materi yang setiap hari tersaji di media massa baik itu cetak maupun elektronik. Tapi dalam praktek barangkali inilah yang perlu kita pertanyakan. Yang kita bahas adalah praktek pendidikan agama atau implementasi dari pendidikan agama yang telah diterima oleh anak-anak kita yang ada di sekolah atau yang telah diterima oleh anak-anak kita mungkin... di pondok pesantren sekalipun. Jadi seperti apa karena ada kecenderungan orang tua sekarang ini mulai bingung, mulai resah karena memang betapa sulitnya untuk bisa memberikan pendidikan agama atau memberikan contoh yang baik pada anak-anaknya terutama dalam praktek peribadatan. Bersama dua orang nara sumber, Bapak Sultan Amir Pak Sultan assalamu alaikum bapak (wa alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh)...
Bersama Pak Sultan Amin, disamping Pak Sultan ada Bapak Dwi Priyo, Pak Dwi, selamat pagi assalamu alaikum (waalaikum salam warahmatullahi wabarakatuh)...Pak Dwi kepala SD Alam Insan Mulia...baik ini barangkali baru kali ini datang...(inggih...inggih).
![]()
IA: saya ke Pak Sultan dulu pak pengamatan saya secara pribadi itu betapa kita sekarang ini menjadi orang tua itu kan serba repot Pak. Di satu sisi kita ada tuntutan soal penghidupan secara materi, kemudian di sisi lain kita juga punya tanggung jawab, minimal tanggung jawab di akhirat nanti Pak ya Nah..eh ini menjadi sesuatu yang memang tidak mudah untuk dipecahkan ketika kita menyuruh anak melakukan ibadah artinya entah itu sholat, entah itu puasa, apapun yang ada kaitannya dengan agama ini terasa sulit kenapa Pak?
SA: ya..begini Pak Isa...karena pertama saya melihat kehidupan duniawi kita yang diliputi oleh orang-orang tua sekarang ini kan super sibuk begitu. Kebutuhan materi ini memang betul-betul tak terbatas karena kebutuhan kita memang tak terbatas lantas kita kebingungan tatkala anak-anak kita itu harus dididik bagaimana supaya dia juga punya pengalaman-pengalaman religius seperti orang-orang tuanya.
Saya melihat bahwa perkembangan di negeri kita yang terus terang boleh dikatakan Islam hampir-hampir delapan puluh persen, kehidupan agama sangat marak di mana-mana..begitu di masjid juga penuh, di televisi juga penuh, SS-pun juga begitu. Tapi kelihatan bahwa kita ini masih belum dianggap sebagai masyarakat religi. Kita ini masih saja dianggap masyarakat religi itu hanya konteks ritual saja, seremonial saja Iya tapi pada hakikatnya kita... esensinya kita ini... terus terang jauh dari harapan itu semua. Nah..oleh sebab itu kami berfikir ada reevaluasi kembali, ada reorientasi kembali tentang pendidikan anak kita semua, baik itu yang sepenuhnya orang tua menyerahkan ke sekolah juga agar ada evaluasi kembali kepada orang tua.
Sebenarnya pendidikan anak ini bukan hanya tanggung jawab pada sekolah saja, pada ustad di dan teman-teman apakah orang tua terus lantas tidak punya tanggung jawab untuk mendidik anaknya itu. Lha nanti dalam diskusi nanti panjang akan kami berikan sebuah contoh-contoh real barangkali...
IA: Ke Pak Dwi dalam praktek keseharian Pak Dwi di lingkungan pendidikan kita kan tidak banyak Pak...eh..lembaga pendidikan formal kita ini yang punya waktu luang untuk bisa mendidik agama dalam artian secara holistik kepada anak-anak, bukan hanya sekedar teori peribadatan tetapi langsung pada prakteknya Pak. Itu kenapa Pak..karena memang kurangnya tenaga pengajar? Atau bahkan agama itu dianggap sebagai suatu pengetahuan belaka atau bagaimana ini Pak?
Dwi: Yang saya tahu informasi dari teman-teman langsung ini ya beberapa tamu yang datang ke sekolah kami, beliau mengatakan ya salah satunya mungkin waktu yang kurang karena beban kurikulum yang cukup berat sehingga teori-teori keagamaan itu kalau harus dipraktekkan langsung di sekolah mungkin tidak...apa butuh waktu tersendiri begitu ya sedangkan untuk materi-materi yang lain sudah sedemikian menyita waktu banyak jadi saya pikir itu. Sedangkan kalau di tempat kami kan... kurikulum itu kami siasati sedemikian rupa sehingga penyampaiannya, metodologinya kita kemas sedemikian rupa sehingga kami masih sempat dalam keseharian itu sambil menjalankan sholat dhuhur misalnya itu... kita melakukan semacam dialog, praktek-praktek membaca surat pendek dan sebagainya dan sebagainya.
IA: Nah mungkin kalau kita bicara soal pendidikan kan harusnya ada target Pak, terutama dalam pendidikan agama. Targetnya apa sih Pak kalau di sekolah-sekolah kita pada umumnya.
Jadi saya mengatakan baca Al Quran boleh, surat itu boleh, pendek-pendek sajalah terlalu banyak hapalan untuk anak-anak yang penting kehidupan keseharian anak-anak itu terus dipantau begitu. Di kelas itu Insya Allah Pak Dwi bisa membedakan mana anak-anak yang tidak mau berbagi, mana anak yang egois, mana anak yang pemalas, mana anak yang punya macam-macam Nah ini tolong dicermati, disitulah anak-anak itu dikasih apa dikasih ya sentuhan-sentuhan rohani, akhlak, budi-pekerti, begitu ya..sehingga anak-anak itu mulai terbangun komitmen beragamanya begitu Pak Isa. Itu yang praktek langsung sajalah gitu lho biar anak itu dan pertanyaan itu tidak ayo sholat supaya kita tidak berdosa tetapi harus dijelaskan mengapa kita harus sholat begitu (background: mengapa kita harus sholat).
![]()
IA: Sekali lagi ke Pak Dwi, dalam praktek keseharian soal pendidikan agama ini Pak. Kebanyakan kan guru-guru kita ini masih dalam tataran teori atau masih dalam tataran konsep, agama itu tidak terintegrasi secara menyeluruh terhadap perilaku anak. Nah, sebenarnya apa yang salah didalam pendidikan agama di sekolah-sekolah kita Pak. Dalam Praktek itu kok rasanya susah sekali gitu Pak.
DP: Ehm ya mungkin ujung...awal-awalnya ya mungkin sistem sistem pendidikan secara nasional itu yang membuat guru-guru dituntut untuk hanya mengejar target-target teori gitu ya. Padahal sebenarnya yang dibutuhkan oleh anak-anak adalah keteladanan, mungkin praktek langsung. Mungkin kalau kita ingat salah satu tokoh pendidikan... beliau kan mengatakan bahwa anak usia tujuh sampai sebelas tahun itu merupakan masa operasional konkrit sehingga tidak mungkin anak-anak itu hanya diajari teori saja yang...apa...nantinya mereka hanya terpaksa menghafal saja tanpa tahu prakteknya bagaimana dan mengapa mereka harus melakukan itu . Jadi sehingga harusnya itu ada solusi tertentu... kalau di kami ini mungkin kami buat kami kemas sedemikian rupa sehingga anak tidak hanya menghafal tetapi mereka dalam semua materi pelajaran itu nuansa agama misalnya sudah muncul ya disamping itu kita integrasikan agama itu sedemikian rupa sehingga benar-benar disamping anak itu eeh tahu teori-teori mereka juga langsung mempraktekkan. Misalnya ini kalau kita bicara tentang eehm bicara tentang apa ya ini saya lepas dari ini dulu ya praktek religi dulu ya..dari praktek ritual misalnya kita bicara tentang tema air gitu ya sebisa mungkin kita masukkan nuansa-nuansa akidah, akhlak, sehingga anak-anak itu menyikapi terhadap air itu bagaimana baru nanti kalau kita sudah bicara tentang yang lebih khusus kita ambil ayat-ayat tertentu atau hadist-hadist tertentu ketika kita melakukan pembicaraan setelah sholat gitu misalnya.
IA: sebelum ke Pak Sultan ada kawan yang menunggu kita di telpon, kita temui dulu pak. Selamat pagi!
A caller: selamat pagi...selamat pagi Pak Isa, selamat pagi Pak Sultan saya Pak Harsono
IA: silakan bapak monggo
Pak Harsono: saya...dengan apa yang disampaikan Pak Sultan didepan, saya merasa gimana ya saya juga rasa sebagai orang yang sudah berumur itu gimana rasanya ngeri pak yang kedua kali... apa yang disampaikan Pak Sultan beberapa bulan yang lalu ternyata ini menjadi suatu bukti, kalau saya yang ngomong kan saya takut, karena Pak Sultan yang ngomong saya jadi ( sama saja Pak)...karena selama kenyataan dilapangan itu, kalau saya ngomong gitu, iso-iso saya dicelurit lho pak.
Sekarang ya saya prihatinnya lagi, kondisi-kondisi kita pada saat ini. Kalau kita bicara ini masalah anak mungkin saya masih punyai harapan sembilan puluh sembilan koma sembilan sembilan pak. Tapi generasi yang tua seangkatan saya sekarang itu bukan menunjukkan sikap yang baik tapi justru (harus) menunjukkan sikap-sikap arif kan dalam segala hal
Saya kemarin membaca... saya jadi mau telpon sama siapa saya jadi bingung, kalau seseorang yang sudah menjadi anggota legislatif, latar belakangnya sudah... keagamaannya sudah (nggih nggih ), berantem didepan umum itu kan Ini mau jadi opo wong suami koyok gini anak ini mau jadi opo tapi saya masih yakin dengan yang diomongkan Pak Sultan, sembilan puluh sembilan persen koma sembilan masih yakin kita mampu membimbing anak-cucu kita yang akan datang
Matur nuwun assalamu alaikum
![]()
IA: Pak Sultan tadi ada tanggapan dari Pak Harsono, kita sebagai orang tua trenyuh sekaligus prihatin gitu ya...ada contoh-contoh yang tidak baik kita sebagai orang tua. misalnya dalam praktek keseharian tidak hanya soal ibadah ini...
SA: memang orang tua ini punya peranan barangkali sembilan puluh lima persen, yang lima persen itu sekolah untuk mendidik agama itu Pak Isa. Terutama ibu begitu ya...
Ada seorang tokoh nasional, seorang ulama, putra-putranya itu ndak ada yang jadi sama sekali, cuman satu yang jadi. Saya tanya pada menantunya itu, "Bu kok bisa suami ibu itu kok malah lolos tidak seperti saudara-saudaranya yang lain?" itu kebetulan Pak Sultan karena mas itu bapak itu karena... tidak dididik ibu dia itu dididik oleh kyai yang lain. Lho kok bisa begitu?? Lha iya Ibu itu tidak bisa mengganti peranan bapak yang tidak pernah di rumah karena 'ngurusi ummat yang se Indonesia ini barangkali internasional juga. Anak itu dimanja, anak itu tidak disiplin karenanya itu... wes pokoknya tidak bisa berperan bagaimana dia yang akan menyiapkan regenerasi seperti suaminya begitu Pak Isa. Ya Allah saya pikir sehingga kan surga itu terletak di bawah kaki ibu kan? mengapa begitu..mestinya mengapa begitu? Mengapa kok surga itu terletak di kaki ibu? Ya ibu itulah yang bisa menjadikan anak itu menjadi ahli surga atau tidak, bukan saya Pak Isa, Pak Dwi...
Peranannya luar biasa, yang dicontoh langsung itu yang digugu, yang ditiru itu ibu langsung. Ya bapakpun itu juga jangan merasa terus ya kalau gitu aku merdeka...ya nggak
IA: Tapi intensitas anak itu terhadap orang tua itu lebih besar ke ibu
SA: ke Ibu...ya itu kalau ibu tuh sudah tidak tergambar di depan anak yaah sulit pak.
![]()
IA: Kita pagi ini membahas praktek pendidikan agama atau pendidikan religi pada anak-anak karena betapapun yang sekarang ini ada baru pada tataran konsep, baru pada tataran wacana sehingga kita jadi sulit sebagai orang tua ketika ada anak mohon maaf anak tokoh agama kok tidak manut kepada orang tuanya seperti yang disampaikan oleh Pak Sultan tadi. Ini menjadi keprihatinan kita semua.
Baik sebelum ke Pak Dwi dan Pak Sultan ada kawan yang menunggu kita di telpon, kita tampung dulu, bapak selamat pagi
A caller: Assalamu alaikum
.
IA: waalaikum salam
Pak Rofiq ya
agak keras sedikit pak
Rofiq: Begini memang anak saya hanya bertanya...memang anak yang baik itu memang dari ibu yang baik itu sudah ter apa yah...bukti pak. Bukti memang ada itu, tapi kenyataannya memang anaknya Kyai belum tentu menjadi kyai. Justru anaknya petani yang banyak...jadi kyai gitu lho. Lha kenyataannya kenapa kok agama ini di masyarakat ini berkurang, ya..mohon maaf karena banyak orang tua kita atau pejabat-pejabat kita ini yang memberi makan dari uang yang tidak halal. Nah itu yang jarang dikemukakan para tokoh-tokoh agama... karena kalau saya amati dulu ada kyai keramat yang tidak dirumat gitu lho karena tidak dirumat kekeramatannya itu bagus dia. Tapi sekarang banyak kyai yang dirumat, kekeramatannya hilang
IA: Dirumat maksudnya?
Rofiq: Yaa itu di masukkan surat kabar dibesarkan di surat kabar, keramatnya hilang... karena apa...dia mungkin rasa takaburnya, merasa dirinya paling baik dan paling benar dan ummat Islam sendiri sekarang banyak yang gontok-gontokan gitu lho entah itu masalah bis'ah, masalah hirafiah dan seterusnya. (inggih ) Dan yang kalau saya amati, sekarang ini terus terang saja ummat Islam di Indonesia itu bagaikan bursa kalau kena angin semburat abis kabeh. Terus terang saja digetuk sama bedil langsung m'layu lho Pak. Cuma apakah ummat Islam di Indonesia ini sekarang sudah melaksanakan syariat Islam, sudah sepuluh persen atau kurang dari sepuluh persen nggeh terima kasih monggo
IA: Monggo Pak Rofiq terima kasih...
![]()
IA: Tadi menyambung yang dikatakan Pak Sultan menanggapi apa yang dikatakan Pak Harsono, memang kita kan tidak bisa hanya menyalahkan dari institusi pendidikan Pak ya kalau dalam praktek anak-anak kita ternyata jauh dari harapan. Nah ke depan apakah tidak ada misalnya terobosan-terobosan...ini tampaknya kok harus muncul kebijakan pak ya kalau kita bicara soal eeeh perbaikan sesuatu itu kan harusnya ada kebijakan-kebijakan yang bisa dijadikan pijakan. Selama ini dalam dunia pendidikan kita khususnya pendidikan agama pak, pijakannya seperti apa itu pak? Apakah hanya di kurikulum, hanya di sistem pendidikan kita atau ada ?
DP: Sementara ini yang menurut pengamatan kami... itu mungkin lebih banyak ke kurikulum saja tetapi untuk sekolah-sekolah tertentu yang mungkin nuansa agamanya mungkin lebih dikentalkan... mereka mencoba untuk memperbanyak nuansa keagamaan itu. Hanya sayangnya tetap saja pada tataran teori ya Pak Sultan ya kebanyakan misalnya, menambahkan dengan berbagai macam mata pelajaran seperti fiqih, dan kemudian anak-anak itu dididik, dituntut untuk menghafalkan hadist, padahal mungkin saja gurunya juga tidak hafal, tapi anak-anaknya didoleni... disuruh hafalkan. Nah itu yang mungkin menurut kami kurang pas ya makanya kami mencoba untuk menjalin kerja sama sedemikian rupa dengan orang tua artinya begini kami tidak mau manakala orang tua itu mendaftarkan ke kami kemudian mereka seperti melepas (anak) sebuah kain ke seorang penjahit katakanlah begitu, mereka ingin tahu jadinya saja. Tapi kami menuntut mereka juga untuk selalu berkompromi, bekerjasama, selalu berdialog supaya apa yang kami lakukan di sekolah bisa berkesinambungan dengan apa yang dilakukan di rumah.
SA: Tapi mereka bisa beralibi Pak "saya bayar mahal "
DP: Kami pun juga bisa mengatakan bahwa ini anak siapa? Ya artinya di sekolah itu hanya berapa jam sih? Terbukti begini anak-anak yang setiap hari kami ajak untuk shalat berjamaah misalnya ada yang malas-malasan misalnya kemudian ketika kami dekati, kami ajak bicara, ya mereka akhirnya mengatakan meskipun agak malu atau bagaimana begitu ya kenapa kamu kok ndak mau sholat? Aras-arasan disuruh wudhu saja ogah-ogahan terus akhirnya keluar...dia mengatakan "tak tahu...ayahku juga tidak sholat" atau "kalau ayahku itu ta ajak ke masjid itu ndak mau, kalau sholat jamaah ndak mau aku disuruh sholat sendiri." Nah itu itu kan sebuah contoh fenomena yang mungkin harus disadari oleh orang tua. Kalau ada orang tua yang bijaksana mau mendengarkan... ternyata ada dialog tertentu dari anak-anak itu dengan orang tua yang justru membuat pola kehidupan keagamaan orang tua ikut anak. Orang tua sendiri yang mengatakan "Alhamdulillah Pak Dwi saya itu... kok Randy itu bilang begini... sehingga saya itu mau pakai kerudung bahkan haji"... itu orang tua bersyukur karena (dituntun anak).
![]()
SA: Memang orang tua itu tidak banyak yang sadar ya... di anak bangsa ini, bahwa kalau dia tidak jeli kalau apa yang dia makan itu terutama untuk anak-anaknya itu tidak sensitif halal dan haram ya jangan diharap anak dimasukkan di pesantren, digodok, dibawa umroh tiap tahun berkali-kali...pasti sudah tercemar. Ruh nya itu kan sudah protes di dalam Pak Isa ini yang tidak disadari oleh orang tua bahwa makanan haram...karena anak-anak kita...kita semuakan punya ruh ruh kita itu dari Allah dan ruh kita ini tidak akan tolerir dengan hal-hal yang berbau haram itu. Ini yang harus disadari bersama, harus kita selamatkan keluarga kita, anak-anak kita itu wam kusakum wa ahli kumnaroh ya itu "selamatkan anak dan keluargamu dari api neraka" itu apa ya makanan tidak haram itu. Wong orang tua saja Pak Isa sering berbohong di depan anak, nah anak itu bakal mencontoh itu
IA: Malah lebih pandai itu Pak ya (lebih pandai anak-anak)
SA: "Tolong beri tahu tamu itu bapak tidak ada di rumah" anak mau memberi tahu begitu tapi dalam dirinya wong papa saja bisa begitu aku kenapa tidak bisa begitu?
IA: Baik ada telpon kembali menunggu kita selamat pagi
IA: Selamat pagi iya pak dengan ? Prihandoyo .silakan Pak Pri .
Prihandoyo: Assalamu alaikum Pak Sultan, mas Dwi tertarik saya dengan pembicaraan ini (amin amin ) karena kalau kita selama ini melihat pelajaran agama di sekolah itu hanya sebuah hafalan. Sebetulnya kalau kita mengkaji lebih jauh rahmatan lil alamin itu sebetulnya bisa diartikan sebagai sebuah pelajaran yang kongkrit pada kehidupan anak-anak. Satu itu yang ke dua, yang menjadi kegusaran saya ketika kita sudah mendidik anak kita dengan baik... tetapi begitu carut-marutnya keadaan negeri ini... baik itu informasi dari tivi dan lain sebagainya (asal tidak dari SS ya). Itu lho Pak Sultan yang saya menjadi sangat prihatin ketika orang... hal-hal yang pornografi direstui bahkan oleh pejabat-pejabatnya sekalipun, ini kan menjadi kita yang memperbaiki anak, mendidik anak ini menjadi sebuah gangguan yang sangat besar gitu (inggih ). Itu yang menurut saya, terima kasih (monggo ).
![]()
IA: Saya Isa Anshori masih bersama dengan Pak Sultan Amin dan Pak Dwipriyo di program dialog bersama kawan-kawan dari Nara Qualita Aqsana. Pak Pri tadi menanggapi dari materi perbincangan kita dan cukup respek gitu ya karena melihat kondisi yang ada sekarang ini ternyata tidak kondusif Pak untuk pendidikan anak kita terutama dalam pendidikan agama. Orang tua sudah mati-matian dan bahkan Pak Dwi dan kawan-kawan di Insan Mulia barangkali juga mati-matian juga gitu ya... tetapi ketika mereka keluar dari lingkungan sekolah atau rumah ini menjadi sesuatu yang merisaukan. Pak Sultan silakan pak
SA: ya ini begini karena pribadi-pribadi yang mengaku beragama terutama Islam... itu tidak menjangkau bahwa nabi itu kan keberadaannya sebagai rahmatan lil alamin. Ya ayat yang disitir itu tadi bagaimana kita mengajak anak-anak ini menjadi rahmatan lil alamin selama terus lantas kita yang pribadi-pribadi merasa beragama ini tidak rahmatan lil alamin. Jalan di jalan seenaknya, melihat apa di televisi kayak begitu, melihat di koran kayak begitu, gitu lho mas Isa. Kita introspek kembali bahwa kita itu beragama tidak hanya sekedar sholat, tidak hanya sekedar puasa, tidak hanya sekedar umroh dan haji kita pertanyakanlah diri kita sudah benarkah keberadaan saya ini seperti keberadaan nabi menjadi rahmatan lil alamin? Padahal kalau tadi saya juga tadi Pak Pri menggugah anak-anak itu kalau di apa ditumbuhkan dari jati dirinya luar biasa Pak.
Contoh pengalaman kami, saya ini kalau khotbah di masjid saya itu misalnya tidak lebih dari dua tiga menit...kok saya baru kali ini bisa mempraktekkan kata nabi khotbahnya jumat itu sebentar sholatnya agak lama sedikit ini baru sekarang ini. Satu saja yang saya bahas soal kebersihan. "Anak-anak kemarin ustad dari Singapur Allahu Akbar! Hebat Singapur itu bersih, orang tidak membuang sampah sembarangan. Kalau toh ada sampah satu saja, orang sudah cepat-cepat ambil, padahal di Singapur itu penduduknya Islam itu sedikit. Mereka itu banyak yang tidak Islam, kamu lebih bisa, kamu lebih pintar karena ana tobatul minal iman mengapa kita harus bersih... bersih itu sehat, bersih itu indah, bersih itu tidak ada penyakit macam-macam."
Setelah sholat itu tadi, anak-anak ayo cepat makan gitu apa kata anak-anak, "ustad aku ta' cari pahala, cari sampah sebentar ya" "OK baik setelah itu kamu makan". Tumbuh pak Isa anak-anak sholat itu kami itu kebingungan bagaimana ya caranya 'ngimani anak-anak itu, roame, guyon, sikut-sikutan gitu ya setelah adzan, setelah iqamat, anak-anak, "bolehkah kita sholat menghadap Allah itu sambil guyon?"..." Tidak boleh ustad!"..."Nah kalau ada yang guyon?" "Dihukum ustad!" "dihukum apa?" Dicubit, dipukul ya jangan gitu dong sakit "kita suruh sholat lagi saja ya?" karena dia tidak serius sholatnya... karena kita juga memberi ruang, sebelum sholat itu anak-anak dikasih waktu lima belas menit atau setengah jam untuk bisa bermain-main dulu gitu biar puas dulu memang, nggak langsung masuk langsung sholat. Sudah kita kasih ruang untuk itu lho setelah sholat itu ada saja yang guyon langsung lapor ustad si A tadi guyon Ustad betul kamu biar saya tadi apa guyon ayo dong tadi kamu katanya harus sholat lagi yang tidak sholat. Sekarang kita mau sholat enak, ayo anak-anak sholat sambil guyon "tidaaaak!"...ya begitu anak-anak...
![]()
IA: Ada kawan yang menunggu kita ditelepon, kita sambung kembali selamat pagi pak.
A caller: Pagi assalamu alaikum. Bapak nara sumber
IA: saya dengan siapa pak?
The caller: Saya Pak Sukamto
IA: Volume radio anda terlalu besar nih Pak...Silakan pak Kamto.
Sukamto: Saya mohon maaf dulu Pak... saya mengajukan satu pertanyaan atau masalah. Saya punya cucu (nggih ) saya sendiri dari Islam, saya punya cucu sekolah di non-Islam. Permasalahan saya begini pak, saya 'nyekolahkan ke sana ini atas dasar saya kepingin cucu saya mendapatkan ilmu... tetapi saya dirumah saya didik dia Islam, masuk TPA. Ada tetangga mengatakan, "Pak ndak boleh pak bapak tuh dosa"... gitu. Pertanyaan saya begini pak, dosakah saya menyekolahkan cucu saya ke sana dengan satu tujuan mendapatkan ilmu tetapi ilmu penting pak ya tetapi agama maha penting pak bagi saya. Dua-duanya saya lakukan, di sekolah mencari ilmu, kemudian di rumah juga ada (penting itu pak betul) Malah kadang-kadang saya manggil guru agama. Jalan keluar apa pak saya... agar anak saya dua-duanya bisa mendapatkan di sekolah juga di rumah.
Satu pertanyaan lagi pak mungkin ya Pak... andaikata di lingkungan saya terdapat satu sekolahan yang mohon maaf ini Pak ya yang Islam tetapi memiliki satu apa namanya pendidikan yang katakanlah baik dari berbagai segi baik, mengapa tidak saya sekolahkan di sana? Kita jujur saja mohon maaf ya sekolahan yang non-muslim itu katanya... mereka lebih baik dari pada yang muslim (nggih ). Pertanyaan saya, andaikata benar wahai para saudagar-saudagar yang muslim marilah kita himpun, mari kita bangun sekolahan yang mutunya lebih baik dari pada yang non-muslim. Maaf pak ini ya andaikata itu kita himpun mengapa tidak negara kita yang sembilan puluh persen lebih yang muslim...mengapa tidak kita himpun yang lebih baik dari pada mereka. Pak Anshori, pak narasumber, perkenankan saya memohon maaf sekiranya ini tidak berkenan namun jawaban kami tunggu. Terima kasih, assalamu alaikum wr wb.
![]()
DP: Mengenai dosa atau tidak itu saya berat menjawabnya karena urusan yang diatas. Yang jelas... yaaa saya yakin orang tua itu menyekolahkan anaknya atau cucunya kemanapun pasti dengan niatan yang baik ya. Namun ini ya mungkin nanti untuk masalahnya bapak ini mungkin pak Sultan yang lebih jelas
IA: Tapi...sebentar...kalau...anak itu misalnya dari keluarga non-muslim menyekolahkan anaknya di lembaga pendidikan muslim atau bahkan sebaliknya gitu pak ya. Si anak dalam masa perkembangan...anda tadi...apa...menggaris-bawahi usia tujuh sampai dengan sebelas tahun itu adalah masa anak itu cukup sensitif gitu pak. Apakah tidak timbul semacam kegamangan atau keragu-raguan pak atau bahkan kebingungan pak diantara pemahaman soal agama.
DP: Ya yang jelas anak-anak itu kan kaset kosong yang masih banyak kosongnya gitu ya apapun yang mereka dengar, mereka lihat, mereka rasakan, ya itulah yang mungkin akan melekat cukup lama sampai dia besar, dia dewasa nanti. Bahkan apa yang sudah dia terima diawal itu sulit dihapus. Makanya... kalau sekarang mungkin tidak masalah ya mas Isa karena undang-undang SISDIKNAS baru ya yang ditetapkan... dimanapun sekolah anak itu akan mendapatkan pelajaran agama sesuai dengan agamanya. Jadi saya pikir, masalah atau tidak itu kembali ke orang tua, tergantung proses bagaimana lingkungannya membentuk anak tersebut gitu ya...
SA: Kalau dosa tidaknya ya saya tidak menjawab itu... tapi ya tadi itu kalau sekolah yang non-muslim itu suasana religi agama yang dianutnya begitu luar biasa... ya pasti anak itu akan merasakan kehidupan seperti itu. Nah dari sisi inilah kita memang harus harus memikirkan tentang plus-minusnya begitu
IA: Tapi kompensasinya kan ketika anak itu tidak kita cabut dari lingkungan pendidikan tersebut pak, sebagai ganti kan harusnya ada yang setara (gantinya).
SA: Tapi kalau soal keilmuan memang kita sedang bangun ya Pak Isa... terus terang memang teman-teman di sekolah non-muslim itu kan sudah pengalaman jauh dan fasilitas memungkinkan sedangkan yang di kita ini kan ya... terus terang saja memang SDMnya masih kurang dan yang peduli tentang itu kan masih juga sedikit begitu nggih
IA: Tadi Pak Rofiq juga menambahkan bahwa ummat Islam ini hanya besar dalam jumlah gitu Pak (betul betul)
SA: Karena apa tadi itu saya melihat kita ini berIslam itu banyak kulitnya saja, maka pendidikan kita itu anak-anak itu jangan dididik kulitnya saja begitu lho. Didiklah tentang esensi Islam, didiklah tentang hakikat Islam, tentang falsafah kita beragama itu untuk apa begitu lho Orang sholat saja nggak menjamin; korupsi, brengsek di masyarakat kita ini kan luar biasa mereka juga sholat-sholat semua kok, teman-teman kita
IA: Karena sholatnya mungkin tidak dengan kesadaran
SA: Ya, tidak dihayati begitu lho bahwa sholat itu adalah .tanha anil taksa wal mungkar anak-anak kenapa sih kita sholat sholat itu anak-anak bisa menjadikan kita menjadi baik gitu lho. Itu yang mestinya harus bisa mencegah perbuatan yang mungkar dan lain sebagainya itu yang harus ditekankan jangan sholat itu supaya kita tidak dosa, supaya kita tidak masuk neraka kalau itu saja nggak mengena sehingga pertanyaan kalau "apa dimana" itu di sisi otak keberapa gitu kalau sudah mengapa sudah masuk kedalam inti (IA: orang tua ukurannya ya pak)
Tangan diatas itu lebih bagus dari pada tangan di bawah. Itu apa artinya, orang yang suka memberi itu lebih bagus ketimbang yang meminta-minta. Itu anak saya sudah, "mama...nanti kalau nanti 'ngasih aku, mama tangannya di bawah aku yang 'ngambilnya dari atas" (laugh ) Lho...anak-anak itu logikanya sudah main lho Pak Isa...
![]()
IA: Ada penelpon terakhir pak monggo kita tampung dulu selamat pagi
Assalamu alaikum walaikum salam
A caller: Najib dari THR sini pak...pak Najib ya
Najib: Saya mulai tadi mengikuti. Kalau saya rasa tidak sedikit juga pendidikan Islam yang bermutu tinggi pak ya tapi kalau cuma imbauan dari Pak Sukamto itu tadi saya rasa kok apes pak ya?
IA: Kenapa pak?
Najib: Masalahnya apa sudah lihat kita ummat, saudara-saudara kita ngemis di jalan untuk membangun mesjid tidak ada yang perduli apa lagi cuma berupa imbauan untuk sekolah. Yang saya harapkan al-mukmin ini...gimana untuk menanggulangi masalah yaah saudara-saudara kita yang di jalan-jalan yang aduuh... sebenarnya saya ndak mau masuk pak tapi pak Kamto tadi menghimbau ya dan kalau mengenai masalah pendidikan yang muslim, saya rasa tidak sedikit yang (mulai bagus) seperti di Al Ilya, Tarmi'ya terus di Al Falah Jadi tolonglah kalau masalah mutu kita jangan terlalu berkecil hati... terutama kepada ustad-ustad kita yang tentunya memikirkan kemajuan intelektual-intelektual Islam yang akan datang ini.
IA: Terima kasih bapak begitu pak..terima kasih
IA: Pak Sultan atau Pak Dwi ada tanggapan barangkali sekaligus sebagai penutup?
Dwi: Ya, sedikit mungkin kami sebagai lembaga yang mungkin kami... ini bukannya merasa lebih tinggi tidak, tapi karena melihat fenomena yang ada di sekolah-sekolah Islam. Makanya kami juga sering mengadakan seminar sarasehan kami undang teman-teman yang sejawat untuk membicarakan bagaimana sih sebenarnya pola pendidikan metode pembelajaran yang bagus untuk diterapkan ke anak-anak sehingga betul-betul mengena. Misalnya seperti yang dikatakan Pak Sultan tadi dikotomi halal-haram, baik-buruk dalam pendidikan agama itu kan terlalu sering diberikan padahal itu sebenarnya tidak pas. Mengapa kok tidak menggunakan pendekatan psikologi anak yang dialogis dengan bahasa anak. Misalnya dengan pertanyaan mengapa dan bagaimana itupun sebenarnya sudah... bisa kita sampaikan ke anak meskipun jawabannya nanti juga dengan bahasa anak. Nah baru kalau anak membutuhkan jawaban lebih jauh kita tambahkan sedikit... artinya ya sesuai dengan kebutuhan yang diinginkan oleh anak. Jadi itu yang kami coba lakukan...kita sharing dengan teman-teman guru di lingkungan kami bahkan di Surabaya juga beberapa kali kami lakukan.
IA: Pak Sultan ada tambahan?
SA: Nggih tantangan kita memang...marilah kita menyadari bahwa kita beragama ini harus makin hari makin berkembang dan kita berevaluasilah. Masak sih kita ini sejak dari kecil... sholat, melakukan ini, kok tidak ada hal-hal yang luar biasa. Mestinya agama yang diturunkan dari langit ada yang luar biasa kan mas Isa sebagai petunjuk kita hidup di dunia ini kok tidak ada yang luar biasa kok biasa-biasa. Yang salah ini yang menjalankan agama... tentunya bukan petunjuk itu lho... untuk kita merefleksikan dalam kehidupan kita sehari-hari gitu.
Kawan, saya Isa Anshori juga mengakhiri tugas di program dialog bersama Nara Qualita Aqsana, terima kasih untuk anda yang tadi bergabung, dan mohon maaf untuk kawan-kawan yang tadi ada di belakang dan tidak sempat mengudara. Selamat siang dan assalamualaikum warrahmatullahi wabarakatuh.
More discussions on Radio Suara Surabaya
![]()