Kompas Online


Sabtu, 9 Mei 1998


Aksi Mahasiswa

Bentrok di Solo, Yogya, dan Samarinda

Jakarta, Kompas

Secara umum aksi mahasiswa hari Jumat (8/5) di berbagai kota berlangsung damai, kecuali di Solo, Yogyakarta, Samarinda, dan di Jakarta, khususnya di depan gedung MPR/DPR dan di sekitar kampus Universitas Trisakti Jalan Kyai Tapa. Di Solo, terjadi bentrokan antara aparat keamanan dan pengunjuk rasa. Sebanyak 25 pengunjuk rasa luka-luka akibat tembakan peluru karet yang dilepas aparat, dan lebih dari 100 luka-luka akibat lemparan batu dan gebukan. Dari jumlah itu, 30 korban dirawat di Unit Gawat Darurat (UGD) RSU Dr Moewardi, dan 11 menjalani rawat inap. Tidak diketahui apakah ada aparat keamanan yang terluka dalam bentrokan itu.

Di Samarinda, bentrokan yang diawali dengan mahasiswa menduduki DPR itu membawa korban 18 mahasiswa luka-luka, enam masuk rumah sakit. Dan, 16 mahasiswa ditahan. Polresta Samarinda menyebutkan, 16 mahasiswa itu sudah di-lepaskan. Dan, mencatat ada empat mahasiswa dan 32 aparat keamanan mengalami luka-luka terkena lemparan batu. Unjuk rasa berakhir sekitar pukul 11.10 waktu setempat, dan ratusan mahasiswa tersebut diangkut dengan belasan kendaraan petugas ke kampusnya masing-masing.

Di Yogyakarta, hingga pukul 23.00, Jalan Kolombo Yogyakar-ta masih memanas akibat bentrokan ribuan massa mahasiswa dan masyarakat dengan ratusan aparat keamanan, menyusul saling serang antara aparat dan para demonstran. Aksi demonstrasi yang telah dibubarkan dengan tembakan gas air mata, semprotan air dari kendaraan water gun, dan pengejaran ke kampus IKIP dan Universitas Sanata Dharma (USD) Yogyakarta itu, ternyata sulit dikendalikan. Sedikitnya tujuh orang ditangkap. Satu mahasiswa, Moses Gatutkaca dari Fakultas MIPA USD tewas. Menurut dokter Sudomo Jatmiko SPB dari UGDRS Panti Rapih, korban mengalami perdarahan telinga akibat benda tumpul.

Di Jakarta, meskipun terjadi pelemparan batu terhadap aparat di Jalan Kyai Tapa, dan aparat bertindak tegas terhadap pengunjuk rasa di Gedung MPR/DPR, tetapi tidak terjadi bentrokan antara aparat dan pengunjuk rasa.

Peristiwa unik terjadi di Ujungpandang. Ratusan mahasiswa Universitas '45 Ujungpandang mendatangi Stasiun RRI Nusantara IV sekitar pukul 10.00 waktu setempat. Tiga puluh wakil mahasiswa bertemu Ketua Tim Pelaksana Harian RRI Nusantara IV Madong Kadir.

Dalam pertemuan itu, mahasiswa mendesak agar tuntutan mereka disiarkan. Mereka antara lain menuntut agar pemerintah secepatnya melakukan reformasi di berbagai bidang, menurunkan harga, dan meninjau kembali susunan Kabinet Pembangunan VII.

Madong Kadir berjanji pihaknya akan menyiarkan tuntutan mahasiswa dalam siaran Berita Malam (8/5) pukul 19.00 Wita dan Berita Pagi (06.30), Sabtu (9/5). "Tapi pemberitaan kami tentunya disiarkan tetap dengan memperhatikan Kode Etik Jurnalistik dan Kebijakan RRI," katanya.

Peluru karet

Unjuk rasa di Solo diikuti sekitar 5.000 orang, yang dari mahasiswa yang tergabung dalam SMPR (Slodaritas Mahasiswa Peduli Rakyat), pelajar SMU, dan masyarakat. Bentrokan terjadi mulai pukul 11.40 WIB, saat aparat keamanan mendesak peserta aksi untuk mundur ke arah gerbang kampus, namun mendapat perlawanan.

Peserta aksi melempari petugas dengan batu dan sesekali bom molotov, sementara petugas membalas dengan gas air mata. Akhirnya petugas melepaskan tembakan berpeluru karet. Gerakan aparat ini diikuti dua kendaraan panser yang sesekali melepas tembakan air (water canon) untuk memaksa mereka mundur dari batas gerbang.

Bentrokan antara aparat keamanan dan mahasiswa di Solo, yang mengakibatkan 125 pengunjuk rasa luka-luka itu, membuat suasana di sepanjang Jalan Ir Sutami dan sekitar kampus Universitas Sebelas Maret (UNS) mencekam.

Pembantu Rektor III UNS, Drs Supanardi menyatakan, pihaknya mencatat ada 30 korban yang dirawat di UGD RSU Dr Moewardi. Di antara 30 korban, tiga mahasiswa UNS, dan selebihnya mahasiswa dari perguruan tinggi lain, pelajar, serta anggota masyarakat.

Di Yogyakarta, Kapolda DIY Kol (Pol) Bani Siswono yang berada di lokasi kepada wartawan menyatakan, tindakan pembubaran yang dilakukan aparat keamanan merupakan tindakan pengamanan karena aksi pengunjuk rasa dinilai sudah brutal.

Warga sekitar hadir

Aksi unjuk rasa ratusan mahasiswa di Jalan Kyai Tapa, Jakarta Barat, membuat lalu lintas di jalan itu lumpuh, dan memacetkan jalan-jalan sekitarnya. Sebab, hampir dua jam ditutup oleh petugas, terutama dari arah Roxy ke Grogol.

Aksi itu juga diwarnai dengan hadirnya ratusan warga sekitar termasuk para pejalan kaki. Aksi itu merupakan gabungan dari beberapa perguruan tinggi di sekitar itu, antara lain STMIK Indonesia (Sekolah Tinggi Ma-najemen Informatika dan Teknik Komputer), STIE dan Universitas Trisakti, Untar, Unkrida, Universitas Satyagama, Universitas Mercu Buana.

Sekitar pukul 14.00 mahasiswa STMIK melakukan aksi di dalam kampus. Yel-yel yang diteriaki mahasiswa lalu disambut oleh ratusan warga yang telah berkumpul di sekitar kampus tersebut, termasuk memenuhi median jalan dan jembatan penyeberangan. Mereka antara lain warga sekitar kampus, pedagang asongan, pejalan kaki. Jumlahnya diperkirakan mencapai ratusan, apalagi di seberang kampus adalah Terminal Grogol. Petugas keamanan kemudian menghalau mereka, tetapi warga mencemooh dan membalas dengan lemparan batu, sehingga beberapa kendaraan yang lewat terkena lemparan.

Sekitar pukul 15.00, mahasiswa gabungan itu mulai berkumpul dan mereka berjalan kaki sepanjang 500 meter, dari kampus STMIK sampai depan kampus Usakti. Semula mereka bermaksud menyeberang ke Untar, tapi ditolak aparat keamanan. Mereka tertahan di dekat Fly over Grogol. Massa warga yang sempat dihalau kemudian datang lagi dan bahkan mereka mencoba mendekati kerumunan mahasiswa. Massa itu datang dari berbagai arah, termasuk dari jalan-jalan kecil di dekat kampus. Tapi pasukan segera menghalau kembali.

Banyaknya warga yang berada di sekitar aksi itu, membuat pasukan keamanan ditambah bertruk-truk yang ditempatkan di bawah jalan layang Grogol.

Aksi itu juga diguyur hujan deras yang turun sekitar pukul 16.30. Tetapi ternyata mahasiswa tetap dalam barisan. Mereka akhirnya membubarkan diri pukul 17.00 WIB sesudah berulang kali melakukan negosiasi dengan petugas.

Dijaring Polda

Di depan pintu masuk ke halaman Gedung MPR/DPR Senayan, Jakarta, sekitar 150 anggota Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Jakarta Timur melakukan aksi bungkam. Sedianya mereka ingin melakukan aksi bungkam di Gedung MPR/ DPR, tetapi keinginan itu tidak sempat terlaksana, karena mereka ditahan aparat di depan pintu masuk.

Aksi itu tidak berlangsung lama, sekitar 20 menit. Aparat keamanan, sebelumnya meminta pengunjuk rasa itu membubarkan diri, tetapi karena permintaan itu tak digubris, maka, aparat keamanan dengan paksa menggiring pengunjuk rasa ke dalam truk-truk polisi, dan membawanya ke Markas Polda Metro Jaya. Beberapa pengunjuk rasa dipukul dengan rotan.

Baru saja mereka meninggalkan tempat demo, sekitar 50 mahasiswa Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) mendatangi pintu gerbang. Ratusan aparat yang sudah siaga lalu menggiring mereka untuk berhenti di pinggir jalan, dekat shelter bus. Mereka juga gagal masuk ke Gedung MPR/DPR. Seperti rekan-rekannya juga, akhirnya mereka juga diangkut dengan dua truk ke Polda.

Di IKIP, aksi keprihatinan diikuti sekitar 2.000 mahasiswa Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Jakarta. Dalam aksi itu, diadakan pementasan drama persidangan yang berjudul Mahkamah Rakyat Luar Biasa oleh mahasiswa Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni (FPBS) IKIP Jakarta, lengkap dengan sekelompok pemusik sebagai pengiring. Persidangan itu diakhiri dengan pembakaran patung kertas setinggi dua meter.

Selain di Solo, Yogyakarta, Jakarta, dan Ujungpandang, aksi unjuk rasa kemarin juga digelar di Medan, Mataram, Samarinda, Semarang, Banda Aceh, Padang, Surabaya, Bandung. (Tim Kompas)