Kompas Online


Jumat, 8 Mei 1998


Aksi Mahasiswa Meluas

Korban Terus Berjatuhan

Jakarta, Kompas

Gelombang aksi keprihatinan mahasiswa di berbagai kampus di Indonesia, Kamis (7/5), diwarnai bentrokan dengan aparat keamanan yang menyebabkan korban berjatuhan di kedua pihak. Namun korban di pihak mahasiswa melonjak dibandingkan aksi-aksi sebelum ini, akibat terjangan peluru karet, lemparan batu, dan pukulan. Bentrokan terparah terjadi di Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto, Universitas Jayabaya dan Gunadarma Jakarta, Universitas Muhammadiyah Surakarta.Di Unsoed Purwokerto, 65 mahasiswa luka-luka dan menurut Pembantu Rektor III Unsoed, Komari SH M Hum, 28 orang di antaranya terpaksa dirawat di rumah sakit (RS). Mereka yang dirawat itu, kebanyakan luka-luka di kepala akibat terkena pentungan dan peluru karet. Delapan mahasiswa di antaranya luka berat, yakni patah kaki, tangan dan seorang patah tulang pinggulnya. Posko gabungan mahasiswa mencatat sembilan mahasiswa belum diketahui keberadaannya.

Bentrokan terjadi ketika para mahasiswa berupaya berjalan kaki dengan damai ke gedung DPRD dan berusaha membuka barikade pasukan pengendali massa. Sambil mengayunkan pentungannya, aparat keamanan terus mengejar para mahasiswa yang mencoba memberikan perlawanan. Selain dengan pentungan, untuk membubarkan maha-siswa petugas keamanan menggunakan gas air mata. Rektor Unsoed Prof Rubijanto Misman, menyesalkan insiden tersebut.

Di Solo, bentrokan mahasiswa dan aparat keamanan diwarnai dengan hujan batu dan bom molotov yang mengakibatkan korban jatuh di kedua pihak. Sebanyak 11 mahasiswa mengalami luka-luka, dua di antaranya dirawat di RS Yarsis, sedang di pihak aparat dilaporkan 43 luka-luka, dua di antaranya dirawat di RS.

Bentrokan meletus ketika sekitar 1.000 mahasiswa bergerak ke luar kampus. Mereka mendesak ke arah petugas Dalmas (pengendali massa), namun petugas memaksa mahasiswa mundur. Saat itulah terjadi lemparan batu dan bom molotov. Sebuah bom molotov yang sempat terpegang seorang mahasiswa, Ferry, mendadak meledak waktu hendak dilemparkan dan mengakibatkan luka bakar pada tubuhnya. Ferry kemudian dilarikan ke RS Yarsis, dekat UMS.

Untuk membubarkan aksi itu petugas melontarkan gas air mata ke arah massa. Akibatnya 13 mahasiswa jatuh akibat sesak napas, dan sekitar 40 lainnya mengalami pedih mata. Para pengunjuk rasa mendesak menuju ke jalan raya Achmad Yani dan menduduki bahu jalan. Aksi bubar sekitar 13.30 WIB.

Di Riau, bentrokan mahasiswa dan aparat menyebabkan 10 mahasiswa luka-luka dan satu orang dilarikan ke RS, sedangkan aparat keamanan yang luka satu orang. Beberapa kaca mobil juga pecah berantakan. Selain itu enam mahasiswa sempat ditahan, namun kemudian dilepaskan atas desakan sekitar 8.000 mahasiswa yang turun ke jalan. Aksi tersebut merupakan unjuk rasa terbesar dan terlama mahasiswa Riau dalam 10 tahun terakhir. Ketika bergerak menuju Kantor Gubernur, petugas langsung memblokir. Dua tempat pemblokiran dapat ditembus mahasiswa. Namun menjelang 20 meter dari Kantor Gubernur Riau, ratusan petugas kembali menghadang mereka.

Dalam suasana saling dorong mendorong, petugas melepaskan tiga ekor anjing yang membuat mahasiswa kucar-kacir. Petugas menembakkan gas air mata serta memburu mahasiswa dengan rotan.

Di Jakarta

Bentrokan antara mahasiswa dan aparat keamanan terjadi di kampus Fakultas Teknik Universitas Jayabaya, Cimanggis, yang mengakibatkan sedikitnya 21 mahasiswa dibawa ke RS Tugu Ibu, Cimanggis. Dua di antaranya terkena tembakan di leher dan lengan kanan, sedangkan sisanya cedera akibat pentungan rotan dan mengalami iritasi mata akibat gas air mata.

Dua butir peluru karet juga telah berhasil dikeluarkan dari seorang korban. Untuk menenangkan situasi, Dekan Fakultas Teknik Jayabaya Ir Suyarto mengumumkan bahwa tidak ada perkuliahan untuk hari Jumat. Bentrokan serupa juga terjadi di kampus Universitas Gunadarma, Kelapa Dua, ketika ratusan mahasiswa gabungan dari beberapa perguruan tinggi di Depok menggelar aksi mimbar bebas di Jalan Kelapa Dua. Bentrokan terjadi ketika mahasiswa dari kampus Jayabaya ingin berjalan kaki ke Kampus Gunadarma yang ja-raknya sekitar empat kilometer, dan dihadang aparat keamanan. Berkaitan dengan peristiwa ini, YLBHI menerima laporan bahwa sedikitnya 52 mahasiswa luka-luka.

Mahasiswa Universitas Sahid kembali menggelar aksi keprihatinan mereka. Aksi itu dimulai ketika puluhan mahasiswa Sahid berjalan sambil membawa poster dari simpang Pancoran yang terletak sekitar 500 meter sebelah selatan kampus mereka. Aparat keamanan mengawal iring-iringan tersebut memasuki kampus. Di dalam kampus, telah menunggu rekan-rekan untuk melakukan mimbar bebas.

Sedangkan ratusan mahasiswa AMI, ASMI, dan STIE Kampus Ungu yang semula menggelar aksi unjuk rasa di dalam kampus, akhirnya turun ke jalan raya Perintis Kemerdekaan, persis di depan kampus. Aksi yang berlangsung hampir sekitar 1,5 jam itu membuat lalu lintas di jalan tersebut ditutup terutama dari arah Pulogadung ke Cempaka Putih.

Tujuh hilang di Yogya

Menyusul bentrokan berdarah yang terjadi di Yogyakarta sepanjang Selasa dan Rabu kemarin, Kapolda DI Yogyakarta (DIY) Kol (Pol) Drs Bani Siswono mengeluarkan aturan baru yaitu membatasi demonstrasi mahasiswa di seluruh wilayah DIY hanya sampai pukul 14.00 siang. Lewat waktu itu, aksi akan dibubarkan petugas tanpa negosiasi dengan penanganan bertingkat dari semburan air, gas air mata, penggunaan peluru karet, dan jika perlu peluru tajam.

Kapolda menegaskan keten-tuan baru pembatasan waktu demo di hadapan empat orang anggota Tim Advokasi Senat Universitas Sanata Darma (USD) Yogyakarta yang datang ke Kantor Mapolda DIY dalam rangka klarifikasi hilangnya sejumlah orang dalam insiden hari Selasa hingga Rabu subuh di Yogyakarta. Tim Advokasi antara lain diantar Rektor USD Dr Sastraprateja.

Hingga kemarin ada tujuh orang dengan identitas jelas tetap belum diketahui rimbanya, setelah aparat keamanan melakukan aksi pembersihan (sweeping) di kampus IKIP Yogyakarta dan sekitarnya antara pukul 23.30 hingga 02.00 WIB dini hari, yaitu Anggoro (UII), Roro Tarigan (Fisipol UGM), Andi Prasetyo (penduduk Wirobrajan), M Operasi (ISI), Muhammad Makruf (Filsafat UGM), Syahirul (penduduk Mrican), serta Asmin (penduduk Mrican).

Di Kampus Universitas Udayana (Unud) Denpasar, masyarakat mulai ikut berunjuk rasa bersama puluhan ribu mahasiswa yang berasal dari berbagai perguruan tinggi di Bali. Aksi bertambah meriah karena hadirnya paranormal Permadi dan anggota F-KP DPRD Kodya Denpasar, Kusuma Wardana. Sejak pagi mahasiswa datang secara bergelombang dengan berjalan kaki dari kampus masing-masing. Pasukan Dalmas berjaga-jaga di sekitar 400 meter dari kampus.

Di kota Ujungpandang, aksi mahasiswa tetap bergulir, dengan melibatkan berbagai perguruan tinggi. Dalam waktu yang hampir bersamaan ribuan mahasiswa menumpangi sepeda motor dan puluhan kendaraan bak terbuka melakukan konvoi ke arah Lapangan Karebosi, tetapi kemudian berbalik lagi karena mereka tidak diizinkan oleh aparat keamanan. Akhirnya mereka ber-pencar ke segala arah dan melakukan konvoi keliling kota.

Tiga mahasiswa Universitas Kristen Indonesia (UKI) Paulus Ujungpandang tertembak dalam aksi unjuk rasa sore hari-nya. Mereka masing-masing Elias Pareang (23), mahasiswa Fakultas Teknik, Iwan (21) dan Patra Patanduk (22), keduanya mahasiswa Fakultas Ekonomi. Elias masih terbaring di Unit Gawat Darurat (UGD) Rumah Sakit Akademis Ujungpandang untuk menjalani operasi, sedang kedua korban lainnya sudah kembali ke rumahnya. Bentrokan terjadi ketika aparat berupaya membubarkan aksi mahasiswa yang masih berlanjut hingga pukul 18.00.

Di Banda Aceh, aksi ribuan mahasiswa untuk berjalan kaki dari kampus ke gedung DPRD ( sekitar 7 km) berjalan tidak lancar karena "terpecah" oleh hadangan pihak keamanan. Aparat berjaga-jaga di sejumlah persimpangan jalan untuk mencegah mereka ke DPRD atau masuk kota. Namun sebagian mahasiswa yang "lolos" dari hadangan.

Diserang

Di Jember, aksi keprihatinan mahasiswa di sekitar kampus Tegalboto Universitas Jember (Unej) mendapat serangan dari sekelompok orang tak dikenal. Puluhan orang-orang tak dikenal yang mengendarai empat pick-up langsung melakukan perampasan dan mengacung-acungkan senjata tajam kepada barisan mahasiswa yang menggelar aksi demo.

Akibat peristiwa itu, empat mahasiswa menderita luka, seorang mahasiswa ditabrak sepeda motor, seorang terkena pukulan, dan seorang lainnya luka kena celurit.

Di Palembang, sekitar 200 mahasiswa menolak menggunakan bus yang disediakan aparat keamanan dan memilih berjalan kaki ke kantor Gubernur dan DPRD. Aksi ini sempat membuat toko-toko di sepanjang Jl Sudirman tutup. Di halaman kantor Gubernur, jumlah mahasiswa berkembang menjadi sekitar 1.500 orang dan mereka berhasil berdialog langsung dengan Gubernur Sumsel Ramli Hasan Basri.

Intel ketahuan

Suasana panas mewarnai unjuk rasa mahasiswa di kampus IKIP Jakarta, ketika mereka "menangkap" seorang yang mereka duga intel TR (26) yang sedang memonitor kegiatan mahasiswa IKIP, sekitar pukul 12.30. Dari tasnya ditemukan dua lembar kartu tanda mahasiswa (KTM) IKIP, satu atas namanya dan satu lagi masih kosong, satu pistol, alat perekam, dan catatan-catatan yang berkaitan dengan pekerjaannya.

Setelah menjalani pemeriksaan di ruang rektorat, TR akhirnya diserahkan ke POM ABRI oleh mahasiswa. Sebelum dibawa ke POM ABRI, TR sempat diminta memberikan kesaksian di hadapan ribuan mahasiswa yang melakukan mimbar bebas.

Kepala Kepolisian Daerah (Polda) Metro Jaya, Mayjen (Pol) Hamami Nata, di Markas Polda Metro kepada wartawan mengatakan, akan mempertaruhkan jabatannya demi keamanan Ibu

Kota. "Saya tidak ingin Jakarta seperti Medan, " tegasnya. Pada kesempatan tersebut, Hamami juga menyayangkan sikap Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) yang dianggapnya mengumpulkan masukan hanya dari pihak mahasiswa. (Tim Kompas)