Kompas Online


Rabu, 6 Mei 1998


Mahasiswa Protes Naiknya BBM dan Listrik

Jakarta, Kompas

Mahasiswa di berbagai kota hari Selasa (5/5) mengadakan aksi unjuk rasa memprotes kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dan tarif dasar listrik (TDL). Para mahasiswa, mulai dari Medan, Palembang, Bandarlampung, Jakarta, Bandung, Purwokerto, Semarang, Yogyakarta, Jember, Surabaya, Malang, Ujungpandang sampai Bali, mengadakan aksi jalan kaki (long march), menggelar spanduk dan poster, sambil meneriakkan yel-yel yang intinya menolak kenaikan harga BBM dan tarif listrik.Hampir sebagian besar aksi itu berlangsung tanpa bentrokan dengan aparat keamanan, kecuali di Medan, Yogyakarta Ujungpandang, Bandung, dan Jakarta. Di Ujungpandang, seorang mahasiswa tertembak. Di Jakarta puluhan mahasiswa luka-luka, dan di Yogyakarta empat orang masuk rumah sakit.

Seperti di hari-hari sebelumnya, para mahasiswa menuntut dilakukannya reformasi sesegera mungkin, penghapusan paket lima undang-undang (UU) politik, dan penurunan harga-harga.

Umumnya protes itu didasarkan pada pertimbangan waktu (timing) kenaikan harga BBM yang dinilai mahasiswa tidak tepat. Karena kenaikan harga BBM yang diikuti kenaikan tarif angkutan umum dilakukan di saat penderitaan krisis moneter berkepanjangan.

Di Ujungpandang, seorang mahasiswa Universitas Muslim Indonesia (UMI) tertembak. Arafah Syarif (24), mahasiswa Fakultas Ekonomi angkatan 1992 itu terluka pada lengan kanannya dan dirawat di Rumah Sakit "45" yang terletak tepat di depan Kampus II UMI.

Kejadian itu berawal pukul 10.15 waktu setempat, saat mahasiswa yang memblokir jalan di depan kampus UMI, bernegosiasi dengan Kepala Kepolisian Kota Besar (Kapoltabes) Ujungpandang Kolonel (Pol) Jusuf Manggabarani, di gerbang barat Kampus UMI. Sewaktu negosiasi berlangsung, tiba-tiba terjadi pelemparan terhadap petugas polisi yang berjaga-jaga. Petugas bereaksi dengan melepaskan beberapa kali tembakan peringatan ke udara. Mahasiswa segera berhamburan mencari tempat yang aman. Saat itulah, Arafah yang berada di kerumunan mahasiswa terkena tembakan pada lengan kanannya. Ia kemudian segera dilarikan ke Rumah Sakit "45".

"Saya panik karena mendengar tembakan dilepaskan petugas polisi yang jumlahnya sangat banyak dan bersenjata. Karena melihat orang-orang lari mencari perlindungan, saya pun ikut lari. Tiba-tiba saja saya tersentak oleh peluru yang menembus lengan saya," tutur Arafah kepada wartawan yang menemuinya di Rumah Sakit "45".

Peluru karet

Di Jakarta, tembakan peluru karet, lemparan batu, dan ledakan gas air mata, mewarnai aksi mahasiswa yang berlangsung di Universitas Mercu Buana (UMB), Meruya, dan Universitas Nasional (Unas), Pasar Minggu. Beberapa mahasiswa terluka karena terjangan peluru karet, sementara puluhan lainnya terluka di kepala dan memar karena batu atau pukulan rotan.

Ratusan mahasiswa UMB berjalan sekitar 200 meter dari gerbang kampus. Mereka mengadakan orasi di jalan raya selama 30 menit. Suasana jadi panas ketika aparat berusaha mendesak mahasiswa agar kembali ke dalam kampus, hingga terjadi bentrokan. Aparat berusaha menghalau mahasiswa dengan pukulan rotan yang dibalas lemparan batu oleh mahasiswa.

Mendadak, aparat melemparkan gas air mata ke arah mahasiswa. Dalam situasi panik, mahasiswa berusaha kembali ke dalam kampus. Suasana bertambah rusuh ketika aparat menembakkan puluhan tembakan peluru karet dan melemparkan batu ke arah mahasiswa.

Akibat bentrokan fisik ini, setidaknya sembilan mahasiswa terkena tembakan peluru karet dan belasan lainnya luka dipentung atau terlempar batu. Bahkan Pembantu Rektor III UMB, Abdoel Fatah MSi terkena pentungan rotan aparat. Mahasiswa yang terluka dibawa ke rumah sakit terdekat.

Selain korban mahasiswa, bentrokan ini juga mengakibatkan dua mobil operasional UMB dan tiga mobil pribadi yang diparkir di halaman depan kampus penyok dan kacanya pecah. Di pihak aparat, ada lima anggota satuan Brimob yang terluka karena lemparan batu. Setelah peristiwa ini, mahasiswa menemukan 62 buah selongsong peluru dan sebuah tabung gas air mata.

Kepala Kepolisian Resor (Kapolres) Metro Jakarta Barat Letkol (Pol) Timur Pradopo menyatakan keprihatinannya atas terjadinya bentrokan ini.

Sementara itu, bentrokan dengan aparat juga terjadi di Kampus Unas, ketika ratusan mahasiswa menggelar aksi menuntut reformasi dan penurunan harga BBM dan TDL, sekitar enam meter dari gerbang kampus. Tidak berapa lama kemudian, aparat keamanan berusaha menghalau mahasiswa kembali ke kampus. Setelah saling dorong dan aparat mulai menggunakan tongkat rotannya, mahasiswa yang berada di barisan belakang melempari aparat dengan batu.

Tindakan ini dibalas aparat dengan lemparan gas air mata dan tembakan peluru karet. Akibat bentrokan itu, seorang mahasiswa Unas, yakni Seta Basri terkena peluru karet di kakinya, sementara tujuh mahasiswa lain terluka terkena pukulan rotan. Beberapa selongsong peluru dan sebuah tabung gas air mata berhasil diamankan mahasiswa, yang berencana membawa benda tersebut ke Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM).

Di Jakarta, selain mengadakan aksi unjuk rasa di kampus-kampus, mahasiswa juga mendatangi Gedung MPR/DPR dan menggelar mimbar bebas di sana. Ratusan mahasiswa dalam dua delegasi, dari Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Jakarta dan Institut Teknologi Indonesia (ITI) Serpong mendatangi MPR/DPR dengan angkutan umum. Selain mendesak segera dilaksanakannya Sidang Umum Istimewa, turunnya harga, mereka juga mempertanyakan fungsi DPR selama ini di saat krisis melanda bangsa. Para mahasiswa menuntut dipertemukan dengan Ketua MPR/ DPR Harmoko untuk menyampaikan aspirasinya. Namun, tuntutan itu tidak terpenuhi.

Menurut Ketua Forum Solidaritas Mahasiswa ITI Serpong Fadil, semula rombongan berjumlah 30 mikrolet yang konvoi dari kampus. Tetapi hanya 15 mikrolet yang "selamat" tiba di MPR/DPR dengan kawalan polisi. Sedianya mahasiswa ITI beserta para sopir berniat menemui empat fraksi DPR, yakni F-KP, F-PP, F-PDI dan F-ABRI. Namun keinginan mereka tidak kesampaian.

Pembantu Rektor III ITI Ir M Isman Tumiwa yang mendampingi mahasiswanya kepada wartawan mengatakan, kedatangan ke DPR hanya ingin melihat apakah DPR masih committed untuk memperjuangkan nasib rakyat yang makin menderita.

Di Yogyakarta

Di Yogyakarta, bentrokan antara aparat keamanan dengan mahasiswa terjadi dalam aksi keprihatinan lebih dari 12 jam di sepanjang Jalan Gejayan, Sleman. Dalam bentrokan itu, 13 mahasiswa ditahan, puluhan belum diketahui nasibnya, empat masuk rumah sakit, dan puluhan sepeda motor rusak.

Ketua DPRD DIY Kolonel (Inf) Soebagyo Waryadi dan salah satu anggota DPRD, Kolonel (Psk) Sriyono Harjoprawiro (F-ABRI), yang dihadirkan aparat keamanan dengan tujuan menenangkan massa mahasiswa, justru didaulat mendengarkan orasi mahasiswa yang isinya mengkritik kinerja para wakil rakyat.

Bentrokan mahasiswa dengan aparat itu terjadi karena mahasiswa memaksa untuk melakukan unjuk rasa ke luar kampus. Karena masing-masing bersikeras maka bentrokan tidak terhindarkan.

Di Bandung, ribuan mahasiswa IKIP Bandung, turun ke Jalan Setiabudi (depan kampus) memprotes kenaikan harga BBM yang dinilainya sepihak, tanpa mendengarkan suara wakil rakyat.

Selama sekitar tiga jam, mulai pukul 11.00 WIB mereka menduduki Jl Setiabudi, menyebabkan jalan poros Bandung-Lembang macet total. Aksi berjalan tertib di bawah kawalan ratusan aparat keamanan. Komandan Kodim 0618/BS Letkol Kav Anhar dan Kapolresta Bandung Barat Letkol (Pol) DH Jayalaksana tampak di antara aparat keamanan. Aksi serupa juga terjadi di gerbang kampus ITB, Universitas Katolik Parahyangan (Unpar), dan Sekolah Tinggi Sains dan Teknologi Indonesia Bandung.

Di Palembang, mahasiswa Universitas Sriwijaya dan Universitas Tridinanti mendatangi Kantor Gubernur Sumatera Selatan untuk berdialog dengan Gubernur Ramli Hasan Basri guna memprotes kenaikan harga BBM. (cal/sah/nts/os/sir/yul/lam/ ody/ast/ush/pep/rs/pp/nar/ hh/uu/gg/hrd/top)