Rabu, 27 Mei 1998


Habibie Temui Pedagang

Kompas/rat

Jakarta, Kompas

"Terima kasih Pak Presiden dan rombongan. Cukup berat perjuangan kami untuk berbicara. Kami ingin mengungkapkan isi hati kami, karena kami tahu Bapak Presiden datang untuk mendengar penderitaan kami, bukan untuk mendengar pertanyaan-pertanyaan yang sudah disusun, saya tidak mau baca itu..."Kalimat itu diungkapkan spontan oleh Hermawi Taslim, salah satu pedagang di kawasan Glodok, dalam dialog dengan Presiden BJ Habibie yang untuk pertama kalinya diadakan di kawasan perdagangan Glodok, Jakarta, Selasa (26/5).

Presiden antara lain didampingi Ny Ainun Habibie, Mensesneg Akbar Tandjung, Mendagri Syarwan Hamid, Mensos Ny Justika Syarifuddin Baharsyah, Menhankam/Pangab Jenderal TNI Wiranto, Pangdam Jaya Mayjen TNI Sjafrie Sjamsoeddin, Wakil Gubernur DKI Jakarta bidang Pemerintahan Abdul Kahfi Bakri, dan Wali Kota Jakbar Sutardjianto.

Selain pedagang, Hermawi juga memperkenalkan diri sebagai seorang aktivis, dan dikenal baik oleh Mensesneg Tandjung. "Saya katakan ini era keterbukaan, banyak sekali pedagang-pedagang di hall ini yang ingin ketemu Bapak, tapi sayang tempat ini sangat terbatas. Kalau Bapak mau tahu, dua baris pertama dan tiga baris ke depan itu bukan pedagang, itu aparat. Mestinya 'kan bertemu dengan pedagang sebanyak mungkin. Kalau Bapak mau bertemu dengan aparat, bisa dibuat rapat dinas dan pertemuan khusus," lanjutnya.

"Dalam semangat reformasi ini kami ingin dibantu. Bagaimana mengobati trauma, Pak. Dua hari berlangsung di siang bolong, terjadi penjarahan, dan terjadi begitu saja. Kita menangis, apa yang harus kita tangisi, kita juga tidak tahu. Pak Panglima dan Kapolda berkali-kali memberikan jaminan keamanan, tapi ya terjadi, dan terjadi begitu saja," ujarnya.

"Bagaimana membangun image baru, membangun satu kekuatan ekonomi baru di Glodok dalam semangat keindonesiaan, yang didukung oleh aparat-aparat yang juga bersemangat reformasi," kata pedagang yang mengaku rugi Rp 4 milyar akibat kerusuhan medio Mei itu.

Untuk mengetahui secara langsung dampak kerusuhan, Presiden BJ Habibie mengadakan perjalanan selama dua jam, dari pukul 13.00-15.00 WIB, meninjau tiga kawasan yang terbakar habis pada kerusuhan tanggal 14 dan 15 Mei 1998, yaitu Glodok, supermarket "Yogya" (Klender/Jaktim), dan pusat pertokoan Cempaka Putih (Jakpus). Dialog Habibie dan pedagang Glodok di halaman bekas Hotel City yang terbakar ini dihadiri sekitar 5.000 orang.

Tak bedakan SARA

BJ Habibie menegaskan, ia tidak mengenal perbedaan berdasarkan suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA). Untuk itu, pemerintah takkan memberi toleransi kepada gerakan-gerakan yang mengandung unsur SARA. "Kita semua harus segera keluar dari permasalahan ini. Kita semua bangsa Indonesia dan hidup di Bumi Indonesia, kita tidak mengenal perbedaan suku, agama, dan ras. Kita tidak perlu khawatir-kan itu," katanya. Habibie menegaskan, kabinetnya sangat memperhatikan ekonomi rakyat yang ada di tangan pengusaha kecil, menengah, dan koperasi.

Untuk itu, Habibie menugaskan Mensesneg menampung semua permasalahan. "Saya minta masukan secepatnya. Namun data-nya jangan dimanipulasi," tegasnya.

Untuk mengatasi keadaan itu, Habibie menegaskan, pemerintah akan berusaha mencari jalan keluar. "Saya minta supaya kita bekerja sama memelihara ketenteraman, persatuan, kesatuan, dan bersama-sama benar-benar melaksanakan sesuatu untuk mengembalikan roda ekonomi seperti sediakala, bahkan lebih baik lagi," ujarnya. (xta/rie/osd)