Minggu, 24 Mei 1998


Saat Berkuasa Mereka Mendompleng, Sekarang Mencerca

Kompas/rat
Probosutedjo dan Pak Harto.

Jakarta, Kompas

Merupakan hal biasa di saat kuat, banyak orang mendukung bahkan mendompleng kekuasaan untuk kepentingan pribadi. Sebaliknya jika seseorang sudah jatuh akan ditambah tindakan lain yang mendera. Melihat kenyataan itu, perasaan sedih akan muncul secara naluriah. Tetapi di dalam situasi itu semoga kita masih terus berpikir jernih dan melakukan tindakan berlandaskan hukum.

Demikian pemilik PT Mertju Buana Probosutedjo, Jakarta, Sabtu (23/5), dalam wawancara dengan Kompas dan Antara di kantornya di Gedung Kedaung Group. Probosutedjo juga menegaskan, anak-anak Soeharto tetap ada di Jakarta, sekaligus membantah desas-desus mereka di luar negeri. Probosutedjo juga selalu ada bersama Soeharto saat terakhir sebelum mengundurkan diri.

Berikut petikan wawancara dengan Probosutedjo yang merupakan kerabat dekat mantan Presiden Soeharto.

Bagaimana pendapat Anda tentang munculnya niat pengusutan kekayaan keluarga mantan Presiden Soeharto?

Itu biasa seperti bunyi pepatah Batak si tunjang na gadap, si togu na jongjong (arti harafiahnya menendang yang sudah tersungkur dan mengangkat yang berdiri tegak). Rentetan seperti itu akan terus terjadi. Di saat berkuasa ada banyak orang menyanjung, dan terus mencerca saat tak berkuasa. Kalau mau mengusut aset kekayaan keluarga Soeharto silakan usut berdasarkan hukum. Sepengetahuan saya, aset keluarga itu tidak banyak. Tetapi kalau mau jujur, usut pula adanya sekelompok pengusaha yang kaya raya karena dukungan pejabat lain yang semuanya tanpa sepengetahuan Soeharto.

Sebagai pengusaha, saya mendapatkan informasi adanya orang yang berkembang karena katebelece pejabat tertentu. Ada banyak orang dekatnya yang mendompleng kekuasaan dan memanfaatkannya untuk kepentingan pribadi. Bila dikatakan secara jujur, mungkin Soedono Salim adalah orang yang berdasar hubungan lama terangkat karena mantan Presiden Soeharto. Tetapi usut pula sejumlah pengusaha lain yang berkembang karena mendompleng pada kekuasaan. Kekayaan keluarga Soeharto tidak sebanding dengan apa yang didapatkan pengusaha lain.

Tidak usah jauh-jauh, bank milik saya (Bank Jakarta
-Red), tak mendapatkan sepeser bantuan pun dari Bank Indonesia tetapi toh dilikuidasi juga. Sementara ada sebuah bank besar yang sudah mendapatkan kucuran dana trilyunan rupiah dari Bank Indonesia dan melakukan pembukuan fiktif, tidak dilikuidasi.

Bagaimana perasaan Anda dengan mundurnya Soeharto?

Ini perasaan saya yang disimpulkan bukan dari hasil ucapan atau perasaan Beliau yang saya dengar. Terus terang saya sedih. Saya tidak sedih karena keadaan diri saya. Toh saya tidak pernah mendapatkan kekuasaan dan fasilitas besar-besaran sebagaimana banyak pengusaha lain mendapatkan.

Saya bisa berdagang begini mungkin awalnya karena posisi Beliau. Selebihnya saya kembangkan sendiri dan silakan usut, saya tidak menggunakan fasilitas kekuasaan. Bukan soal mundurnya itu yang bikin saya sedih, tetapi melihat banyak orang dekatnya kini berbalik arah. Demikian juga dengan kemenakan-kemenakan saya (putra/putri keluarga mantan Presiden Soeharto - Red), yang tiap hari biasanya dikawal, dihormati, dan selalu sibuk, kini hidup sebagai orang biasa. Secara naluriah, keadaan itu membuat saya sedih. Hal seperti itu akan terjadi pada setiap orang, sama seperti ketika kita menghadapi kepergian orangtua kita. Kita bisa larut dalam kesedihan.

Tetapi ada yang membanggakan dari tindakan saudara saya (mantan Presiden Soeharto). Dia tidak menggunakan kekuatan untuk membela posisinya. Padahal DPR sudah menyusun GBHN yang salah satunya memberi kekuasaan besar pada saudara saya untuk melakukan tindakan menyelamatkan negara dalam keadaan darurat. Tetapi itu tidak ia lakukan. Terus terang saya bangga.

Mengapa itu ia lakukan?

Semata-mata karena beliau melihat tidak ada gunanya mempertahankan kekuasaan dengan kekuatan. Itu hanya akan makin menyengsarakan rakyat. Tambahan pula, tuntutan masyarakat sedemikian besar arusnya sehingga dia memilih mundur dengan kesadaran sendiri. Padahal Anda tahu, kekuasaan besar yang tidak digunakan itu juga disusun orang-orang yang dekat dengan dia yang kini berbalik arah itu. Dulu saya juga bertanya-tanya, mengapa DPR sendiri menyusun sebuah pasal pada GBHN yang memberikan dia kekuasaan besar?

Anda di mana selama saat-saat menegangkan itu?

Dari dulu hingga sekarang saya selalu dekat dengan dia (Pak Harto). Pada saat-saat terakhir saya juga ada dengan dia. Hari Rabu (20/5) malam saya ada di Jln Cendana (kediaman mantan Presiden Soeharto). Bersama saya hadir Sudharmono, Nurcholis Madjid, Saadilah Mursid, Alwi Dahlan. Saya hadir selain sebagai saudara juga sebagai pihak yang membuat dia well informed. Saya terus memberi perkembangan terakhir yang sebenarnya pada beliau. Hal seperti itu adalah sesuatu yang jarang sekali dilakukan orang-orang dekatnya baik selama menjabat. Semua takut jika dimarahi. Saya sendiri juga pernah dimarahi tetapi saya anggap itu biasa saja daripada sama sekali tidak memberi informasi sebenarnya.

Di saat terakhir, saya melihat arus tuntutan pengunduran dirinya sedemikian keras. Setelah itu saya berpikir lebih baik dia mundur. Dan itu dia lakukan dengan suka rela, seperti yang saya katakan tadi. Itu membanggakan saya.

Bagaimana keadaan anak-anak Soeharto?

Semua ada di dalam negeri, tidak ada yang lari. Mereka sering berkumpul di Jln Cendana sekarang ini. Tidak ada yang ke luar negeri.

Bagaimana kira-kira bisnis mereka selanjutnya. Adakah rasa was-was pada mereka soal kemungkinan pengusutan aset mereka?

Bisnis mereka akan tetap jalan. Hanya saja jelas akan ada perubahan pola pengelolaan bisnis menjadi alamiah. Tetapi soal pengusutan, sekali lagi saya menyarankan agar kita semua berpikir jernih. Bicara soal fasilitas misalnya, apa tidak ada perusahaan lain yang tidak menggunakan. Kalau saya bicara begitu, khawatir saya bisa dituduh membela keluarga, tetapi usutlah semua pengusaha lain yang juga mendapatkan fasilitas.

Apakah Anda bermaksud mengatakan agar keluarga Soeharto dibiarkan saja hidup tenang?

Susahnya, bila saya bicara begitu lagi-lagi bisa dituduh membela. Saya kira semuanya tergantung pada kebijakan Presiden BJ Habibie. Sudahlah, saya kira tuntutan rakyat kan sudah dipenuhi dan beliau mundur, lalu apa lagi. Bukankah pengunduran dirinya itu yang dikehendaki banyak kalangan selama ini.

Apa yang paling Anda harapkan dari Habibie?

Saya berharap beliau bisa bertindak arif dan tidak melupakan latar belakang mengapa beliau menjadi seperti sekarang. Dan harapan saya pada Habibie dengan tugas paling barunya adalah agar secepatnya memulihkan keadaan negara terutama pemulihan perekonomiannya.

Dari dulu Anda termasuk vokal. Bagaimana selanjutnya?

Saya tidak akan pernah berubah. Amien Rais saja bisa bicara vokal, mengapa saya tidak bisa. Anda tahu, dari dulu saya bicara vokal agar berbagai bentuk penyimpangan bisa dihindarkan. Tetapi seringkali saya malah dipandang sinis oleh para pembantu dekat Soeharto selama ini. Misalnya, saya dituduh anti-Cina, padahal saya hanya mengingatkan agar keseimbangan dalam berbagai kehidupan diperhatikan menghindari gejolak besar di kemudian hari. Terus terang, ada banyak pe-nyimpangan yang terjadi tanpa sepengetahuan Soeharto, dan saya tampil vokal untuk meluruskan itu. Tetapi saya malah seringkali mendapatkan cibiran.

Bagaimana ekspresi Anda kini setelah pergantian situasi?

Saya senang, dan saya harapkan BJ Habibie benar-benar bisa mewujudkan pemerintah yang bersih dari korupsi, kolusi dan nepotisme. Saya juga berharap pers kita bisa menulis dengan bebas.

Apakah Anda juga mengharapkan agar tidak lagi mengharamkan pembicaraan, misalnya soal Cina dan non-Cina, karena salah satu pemicu kerusuhan adalah kesenjangan antar-ras?

Saya demikian, agar kita tidak menabukan pembicaraan yang berbau suku sekalipun. Membicarakan hal itu sebaiknya tidak langsung dicap sebagai tindakan SARA karena permasalahan terletak di situ. Kalau dulu hal seperti itu bisa menyakitkan. Kenapa tidak lagi menyakitkan, karena kita sudah terbiasa dengan canda semacam itu. Bicara soal Cina dan non-Cina, kita juga harus menyadari, keturunan Cina itu lebih piawai dalam berbisnis. Karena itu saya kira sangat wajar jika kita meniru pola Malaysia. Ibarat dalam keluarga, seorang yang lebih lemah tentu harus mendapatkan bantuan yang lebih besar daripada yang tidak. Begitu juga dalam praktek bisnis, agar kita melakukan hal serupa. (gsr/mon)