Minggu, 24 Mei 1998


Jaga Kekompakan TNI AD

* Johny Lumintang Pangkostrad 17 Jam

arb

Mayjen
Djamari

Jakarta, Kompas

Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Subagyo Hadisiswoyo menginstruksikan seluruh jajaran TNI AD untuk tetap menjaga kekompakan dan kebersamaan, serta menumbuhkan loyalitas yang tinggi dalam asas kesatuan komando, sebagai salah satu prinsip dasar organisasi ABRI. Instruksi itu dikemukakan KSAD, Sabtu (23/5) siang, di Ruang Mandala, Markas Komando Cadangan Strategis TNI AD (Kostrad), Jakarta, pada upacara serah terima jabatan Panglima Kostrad (Pangkostrad) dari Mayjen TNI Johny J Lumintang kepada Mayjen TNI Djamari Chaniago, Panglima Kodam III/Siliwangi. Hadir dalam acara itu Wakil KSAD Letjen TNI Soegiono, para asisten KSAD, Panglima Divisi Infanteri I Kostrad Mayjen TNI Adam Damiri, dan sejumlah pejabat teras Mabes TNI AD.

Mayjen TNI Johny Lumintang, Asisten Operasi Kepala Staf Umum (Asops Kasum) ABRI, Jumat (22/5) malam, atau 17 jam sebelumnya, menerima jabatan Pangkostrad dari KSAD. Hari itu, Letjen TNI Prabowo Subianto, yang diangkat menjadi Komandan Sekolah Staf Komando (Dansesko) ABRI, menyerahkan jabatan Pangkostrad kepada KSAD.

Dalam amanatnya, Inspektur Upacara KSAD Jenderal TNI Subagyo Hadisiswoyo mengatakan, para perwira diharapkan tidak menafsirkan serah terima jabatan ini dengan pemahaman, pengamatan, dan persepsi berbeda di antara masing-masing. Serah terima jabatan ini, merupakan perwujudan sikap loyalitas TNI AD pada pimpinan ABRI, dalam menghadapi perkembangan situasi akhir-akhir ini yang bergerak demikian cepat.

Hindari kekosongan

Menurut KSAD, penyerahan tugas dan tanggung jawab Pangkostrad dari KSAD kepada Mayjen TNI Johny Lumintang, Asops Kasum ABRI, Jumat pukul 19.00 WIB, dilakukan atas pertimbangan efektivitas kegiatan operasi, serta menghindarkan adanya kekosongan komando.

Hal yang sama juga ditegaskan Menteri Pertahanan Keamanan/Panglima ABRI (Menhankam/Pangab) Jenderal TNI Wiranto di Istana Merdeka, usai foto bersama anggota Kabinet Reformasi Pembangunan. "Posisi Mayjen TNI Johny J Lumintang pada waktu itu (selama 17 jam -Red) adalah seorang care-taker," ujar Wiranto, sambil berkata, "Untuk selanjutnya, Johny Lumintang akan tetap menduduki jabatan Asops Kasum ABRI."

Menurut Wiranto, sesungguhnya rencana penggantian Prabowo itu sudah ada lama. "Di ABRI, dianut tour of area, tour of duty. Jenderal Prabowo sampai sekarang belum pernah mendapat tugas jabatan di pendidikan, di staf belum. Selalu di satuan tempur, satuan-satuan operasi. Karena itu, kita ingin melengkapi pengalamannya."

Terima kasih

KSAD Jenderal TNI Subagyo mengucapkan terima kasih kepada Johny Lumintang atas kesediaan mengisi kekosongan komando itu sambil menunggu pejabat definitif yang baru.

KSAD mengatakan, menyadari dinamika situasi yang demikian berkembang cepat itu, maka pimpinan memutuskan jabatan Pangkostrad diserahkan kepada Mayjen TNI Djamari Chaniago yang kini masih menjabat Panglima Kodam III/Siliwangi.

Ditanya mengapa serah terima jabatan itu harus dilakukan secepat itu, Jenderal Subagyo menjawab, hal itu dimaksudkan untuk menghindarkan kekosongan komando. Kekosongan komando, menurut KSAD, akan berakibat tidak menguntungkan, atau bahkan berbahaya di dalam suatu organisasi AD, sehingga masalah kewenangan komando dan tanggung jawab ini harus jelas.

Menanggapi isu kemungkinan adanya perpecahan di tubuh AD, Subagyo meminta pers jangan mudah terkena isu. Ditegaskan, AD maupun ABRI tetap kompak. Pergantian jabatan, kata KSAD, merupakan hal yang wajar dalam suatu organisasi.

Ditanya apakah pergantian cepat itu berkaitan dengan upaya menghilangkan nepotisme di ABRI, Subagyo mengatakan, "Bukan, bukan. Jangan berpikir yang bukan-bukan."

Menjawab isu KSAD akan diganti dan menduduki pos baru sebagai Wakil Pangab, Subagyo mengatakan, "Alhamdulillah kalau itu yang terbaik."

Kelahiran Palembang

Djamari Chaniago adalah lulusan Akabri 1971. Pria kelahiran Palembang, 8 April 1949. Ia dibesarkan di lingkungan tangsi (anak kolong), sehingga kehidupannya sangat dipengaruhi nuansa kehidupan militer.

Lulus dari SD Gumuruh Bandung, SMP di Malang dan SMA 2 di Bandung (1967), langsung mendaftar ke AKABRI. Menjadi Danton Taruna Akabri (1971-1974) dan bergabung dengan Komando Cadang-an Strategis TNI AD (Kostrad).

Pernah menjadi Danton Yonif Linud 305 Kostrad, Danki B Yonif Linud 305 Kostrad, Danki B Yonif Linud 330 Kostrad, Kasi II Yonif Linud 330 Kostrad, Pasi II Denma Brigif Linud 17 Kostrad, Wadan Yonif 112 Kodam I, serta Dan Yonif 330 Linud 17 Kostrad (1971-1980).

Menjadi Dandim 0501 Jakarta Pusat, Kepala Staf Brigif Linud 18/II Kostrad, serta Komandan Brigif Linud 18/II Kostrad hingga pertengahan 1994.

Usai pendidikan di Sesko ABRI, Djamari menjadi Dan Rindam I Bukit Barisan, Kepala Staf Divif II Kostrad, dan Panglima Divisi Infanteri II terhitung 15 Agustus 1995. Ikut pasukan perdamaian kontingen Garuda di Timur Tengah (Mesir), Operasi Chandra di Bangka, Operasi Tuntas di Timtim dan Operasi GPLHT.

Ia mempunyai seorang istri, Hasnawati, dan tiga anak, yakni Kris (kuliah di Universitas Parahyangan), Akbar (SMUN 5), dan Ari (SMPN 5). Sebelum menjadi Pangdam III Siliwangi, Djamari adalah Panglima Divisi Infanteri II Kostrad, bermarkas di Singosari, Malang. (pep/rie/osd/ama/pp)