Minggu, 24 Mei 1998


Diungkap Besok, Kasus Penembakan di Trisakti

Kompas/ed

Jakarta, Kompas

Kasus penculikan para aktivis maupun kasus penembakan mahasiswa di Universitas Trisakti akan dijelaskan Senin (25/5) besok, ungkap Kapuspen (Kepala Pusat Penerangan) ABRI Brigjen TNI Wahab Mokodongan. Sementara Kepala Staf Kodam Jaya Brigjen Sudi Silalahi menegaskan kasus penembakan di Trisakti akan diungkapkan secara transparan.

Kepala Pusat Penerangan ABRI Brigjen TNI Abdul Wahab Mokodongan secara terpisah mengatakan, kasus penculikan para aktivis maupun kasus penembakan di Universitas Trisakti akan dijelaskan apa adanya sesuai fakta-fakta yang berhasil diungkapkan tim penyidik.

Mokodongan juga mengatakan, asas yang akan digunakan untuk mengetahui secara jelas siapa yang bertanggung jawab dalam kedua kasus itu adalah dua tingkat ke atas. "Jadi, jika ternyata terbukti ada kesalahan perintah, asas dua tahap ke atas tetap akan digunakan. Percayalah siapa pun orangnya pasti akan diungkap ABRI. Tunggu saja waktunya," tutur Mokodongan.

Kepala Staf Kodam Jaya Brigjen Sudi Silalahi mengungkapkan, kasus penembakan terhadap mahasiswa Trisakti akan diungkap secara transparan. "Tunggu saja, sesuai janji pimpinan untuk diungkap secara transparan, semuanya akan diketahui nanti," katanya.

Sementara itu Komandan Pomdam (Polisi Militer Kodam Jaya) Kolonel (CPM) Hendardji mengatakan, pihaknya sudah menyelesaikan pemeriksaan terhadap oknum aparat. "Pemeriksaan awal sudah selesai, tinggal saya susun laporan resminya. Sudah seratus orang dimintai keterangan, nanti biar Panglima ABRI yang mengumumkan," kata Hendardji.

Dikatakan, laporan itu harus dipelajari dan tidak langsung diterima. Tidak berarti dilaporkan begitu saja, tetapi sudah dipilah-pilah, siapa yang akan diajukan ke mahkamah militer, dan siapa yang diselesaikan secara disiplin. Diakui, yang diperiksa sampai perwira menengah (pamen) berpangkat tertinggi kolonel.

Pengosongan Gedung DPR-MPR

Mengenai pengosongan Gedung DPR/MPR yang diduduki mahasiswa sejak pekan lalu, Brigjen TNI Sudi Silalahi mengatakan hal itu dilakukan untuk memberi ketenangan kepada para anggota Dewan dalam menjalankan tugas-tugasnya.

"Berikan kesempatan agar tempat itu berfungsi kembali untuk melanjutkan tugas-tugas yang dilakukan anggota Dewan. Begitu berat tugas yang mereka emban hingga perlu kondisi yang baik, situasi yang tenang, agar yang menjadi tugas-tugas mereka dapat terlaksana dengan baik," kata Silalahi usai pelantikan Komandan Kodim Jakarta Selatan dan Jakarta Timur di Markas Kodam Jaya, Cililitan, Sabtu (23/5) pagi.

Ditanya, ditanya apabila mahasiswa datang kembali memadati gedung itu, Silalahi mengatakan, "Untuk apa lagi? Tuntutan mereka 'kan sedang dikerjakan. Kami imbau, kami monitor terus, kami ikuti, berikan dorongan supaya beliau-beliau (pemerintah - Red) dapat melaksanakan tuntutan yang disampaikan selama ini."

Tentang penjagaan terhadap gedung itu, dikatakan, tergantung situasi. "Kalau ada mahasiswa yang ingin menyampaikan aspirasi, bukankah selama ini DPR sangat terbuka. Tentu sejauh prosedur ditempuh," tutur Sudi seraya menyatakan tidak ada mahasiswa yang diperiksa saat pengosongan itu.

Sesalkan

Sementara itu juru bicara mahasiswa yang tergabung dalam Forum Kota (Forkot) menyesalkan tindakan pengusiran terhadap mereka dari gedung DPR RI, Jumat (22/5) lalu, karena gedung DPR RI adalah gedung milik rakyat. Di sisi lain, para mahasiswa juga menolak tuduhan telah melakukan pengrusakan sejumlah sarana di gedung DPR RI.

Hal itu disampaikan Safik, Abdullah, dan Daniel dari Forkot, Sabtu (23/5) dinihari, beberapa saat setelah seluruh mahasiswa dievakuasi dari DPR RI ke kampus Universitas Atma Jaya, dengan suatu pengamanan sangat ketat. Kampus Atma Jaya pun, Sabtu dinihari dipenuhi lebih dari 5.000 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi.

"Tidak ada alasan untuk mengusir mahasiswa dari sana, apalagi mahasiswa menyuarakan apa yang selama ini mereka anggap benar. Apa legitimasi mengusir mahasiswa dari DPR juga tidak mereka jelaskan. Apalagi di DPR tidak ada peristiwa kerusuhan atau pembakaran. Kita dari mahasiswa sudah berusaha untuk mengamankan. Kami telah berusaha menghindari terjadinya penyusupan, kerusuhan, dll, meski dengan risi-ko terkesan pengamanan sangat ketat," ungkap Safik.

Suasana normal

Sementara itu suasana Jakarta kemarin sudah kembali normal. Beberapa pusat pertokoan sudah mulai dibuka kembali dan pengunjung pun berda-tangan mencari barang-barang yang diperlukan. Beberapa pusat pertokoan itu antara lain Pasarbaru, Pasarsenen, Jatinegara, Pasarkenari maupun Pasarkenari Baru, Sarinah Thamrin, dan Blok M. Sementara itu Arion Plaza Rawamangun masih terlihat tutup dan dijaga aparat keamanan. Di beberapa tempat yang menyediakan anjungan tunai mandiri (ATM) juga masih terlihat dipenuhi warga yang ingin mengambil uang tunai.

Lalu lintas Jakarta umumnya normal, malah di beberapa ruas jalan terjadi kemacetan seperti di ruas jalan Proklamasi, Diponegoro, Salemba, Kramat Raya. Di jalan-jalan itu, kemacetan terjadi karena adanya aksi sekitar 200 mahasiswa yang tergabung dalam PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) yang menggelar aksi turun ke jalan. Sekitar pukul 12.00 WIB mereka mulai bergerak dari Jl Kramat Raya menuju Tugu Proklamasi, dan sempat melakukan orasi serta pembacaan puisi yang intinya menuntut diselenggarakannya Sidang Istime-wa dan menolak Presiden Ha-bibie. Tetapi aparat keamanan segera mengepung dan meminta mereka bubar.

Di depan kampus Universitas Indonesia (UI) massa PMII ini menyampaikan salam reformasi kepada sekitar 300 pelajar yang tergabung dalam Aksi Solidaritas Pelajar Jakarta. Para pelajar dari 17 SLTA - di antaranya SMU dan SMK - Jakarta itu mendatangi UI usai pengumuman kelulusan. Dengan baju seragam dan tubuh penuh coretan dan warna, mereka bergabung dengan mahasiswa di Posko UI. Setelah membacakan puisi, bernyanyi, dan menyampaikan uneg-uneg reformasi total, mereka berangsur-angsur meninggalkan kampus UI.

Mimbar publik reformasi

Sementara itu, orasi yang disampaikan budayawan Mochtar Lubis dan penyair WS Rendra, Sabtu, menandai dibukanya Mimbar Publik Reformasi di pelataran Taman Ismail Marzu-ki (TIM) Jakarta. Mimbar bagi perjuangan reformasi total ini akan digelar tiap hari mulai pukul 14.00 WIB hingga batas waktu yang akan ditentukan kemudian.

"Pusat Kesenian Jakarta (PKJ) TIM membuka ruang publik guna perjuangan reformasi total dan kebebasan berekspresi sebagai bentuk tanggung jawab kreatif," kata Mualim M Sukethi dari Institut Kesenian Jakarta (IKJ) yang bertindak selaku pembawa acara.

Mimbar publik ini bersifat terbuka, baik bagi "penonton" maupun pengisi acara. Khusus kelompok seniman yang berniat tampil, guna pengaturan jadwal, diharapkan terlebih dahulu memberitahu panitia. Mimbar publik yang menyuarakan perjuangan reformasi belum selesai dan tetap menuntut diadakannya Sidang Istimewa MPR ini juga mengundang tokoh-tokoh reformasi total (bukan yang setengah-setengah) untuk tampil di PKJ-TIM.

Selain Mochtar Lubis dan Rendra, panggung yang dihiasai beragam bentuk karya "instalasi" itu juga menampilkan to- koh paranormal Permadi dan mubaligh Anton Medan. Sejumlah seniman dan pemusik juga turut mendukung gerakan reformasi total, seperti Yocky Soerjoprayogo, Franky Silahatua, Totok Tewel, Oppie Anderesta serta anggota Teater Kubur, Bengkel Teater, dan Bela Studio.

Mimbar publik di pelataran PKJ-TIM juga diisi berbagai bentuk atraksi kesenian. Anggota Teater Kubur menggelar drama tragis menjelang dan sesudah kejatuhan Soeharto. Di tengah kerumunan beredar berbagai selebaran dan pamflet yang intinya menolak Habibie dan kabinet reformasinya. (ssd/msh/bas/oki/ken)