Sabtu, 23 Mei 1998


Ribuan Mahasiswa Tinggalkan Gedung MPR/DPR

Kompas/arb

Jakarta, Kompas

Gedung MPR/DPR yang diduduki mahasiswa sejak Senin (18/5) lalu, Sabtu (23/5) dini hari pukul 02.10 WIB masih dalam proses pengosongan oleh sekitar 1.000 pasukan gabungan ABRI yang dipimpin langsung oleh Kepala Staf Kodam Jaya Brigjen TNI Sudi Silalahi. Pasukan gabungan ini masuk dari arah belakang Gedung MPR/DPR pukul 23.35 WIB itu, sempat membuat sekitar 4.000 mahasiswa panik.

Berbeda dengan Peristiwa 27 Juli 1996 di mana pembebasan Gedung PDI berlangsung keras dan berdarah, bahkan banyak orang yang hilang, aksi pembebasan Gedung MPR/DPR itu berlangsung damai. Pasukan ABRI menunjukkan sikap yang sangat simpatik dan sabar. Ketika pasukan memasuki kompleks Gedung MPR/DPR, para mahasiswa menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Padamu Negeri.

Sampai berita ini diturunkan pukul 01.45 WIB, mahasiswa mencapai kesepakatan dengan Kepala Dinas Penerangan Kodam Jaya Letkol (Inf) DJ Nachrowi, yakni mahasiswa bersedia keluar gedung asalkan dikawal pasukan marinir. Pada pukul 01.50 WIB mereka mulai menaiki bus menuju Universitas Atma Jaya, yang terletak sekitar 2 kilometer dari kompleks Gedung MPR/DPR.

Komandan Batalyon Arhanud Marinir, Letkol (Mar) S Panjaitan, berhasil meyakinkan mahasiswa bahwa keselamatan mereka dijamin sampai ke tempat tujuan.

Melalui pengeras suara, Kepala Penerangan Kodam Jaya Letkol (Inf) DJ Nachrowi meminta agar mahasiswa dengan sukarela meninggalkan Gedung MPR/DPR, karena gedung itu akan segera direnovasi.

Namun, permintaan Nachrowi yang berulang-ulang diucapkan dengan pengeras suara itu, tidak diindahkan mahasiswa. Mahasiswa yang berada di dalam atau luar gedung DPR membentuk kelompok-kelompok kecil dan mencoba bertahan.

Aparat keamanan juga dipecah ke dalam beberapa kelompok, dan mulai memasuki ruangan-ruangan di Gedung DPR/MPR dan dengan simpatik meminta dan menggiring mahasiswa ke luar ruangan, lantas berkumpul di halaman. Ruangan-ruangan yang telah dikosongkan mahasiswa, langsung dipagar betis oleh aparat. Menjelang pukul 01.00 WIB, pasukan gabungan ABRI berhasil mengosongkan Gedung DPR. Seluruh proses pengosongan kompleks itu disiarkan secara langsung oleh CNN.

Mahasiswa digiring ke halaman MPR/DPR dan bersikeras bertahan di sana, kendati aparat keamanan terus membujuk para mahasiswa memasuki bus-bus yang disediakan. Beberapa mahasiswa juga sengaja tiduran di depan truk militer yang mencoba memasuki Gedung DPR.

Sekitar pukul 02.00 WIB bus pertama berisi mahasiswa mulai bergerak meninggalkan kompleks itu. Sementara sebagian mahasiswa tetap menginginkan meninggalkan kompleks itu dengan berjalan kaki. Sampai berita ini diturunkan pukul 02.10 WIB, tidak ada insiden yang terjadi dalam pengosongan kompleks gedung lembaga legislatif itu.

Dua kubu

Sebelumnya, ribuan massa pendukung Presiden BJ Habibie Jumat pagi mendatangi Gedung MPR/DPR, yang selama hampir sepekan terakhir "dikuasai" ribuan mahasiswa yang justru menuntut Habibie mundur karena menganggapnya masih merupakan bagian dari pemerintahan yang lama. Aksi saling mengejek dan tindakan provokatif yang nyaris mengarah ke bentrokan fisik, terutama seusai shalat Jumat, memancing sekitar 100 anggota ABRI yang dilengkapi senjata di tangan untuk memasuki kompleks pelataran parkir Gedung MPR/DPR guna menghindarkan bentrokan.

Secara keseluruhan massa di kompleks Gedung MPR/DPR itu terbagi atas dua kubu, yaitu mahasiswa yang menginginkan dilaksanakannya Sidang Istimewa MPR, menolak penyerahan kekuasaan kepada BJ Habibie, dan di sisi lain massa yang mendukung BJ Habibie sebagai Presiden RI.

Massa pemuda dan masyarakat yang mengaku berasal dari Tanjungpriok, Tanahabang dan Pendekar Banten serta Bogor itu langsung menuju halaman Gedung MPR/DPR. "Target kita bersama-sama adalah secara berjamaah pergi ke depan (kompleks DPR)," demikian terdengar dari pengeras suara di mesjid. Mereka memakai ikat kepala bertuliskan "Reformasi Konstitusional" dan berjalan dengan meneriakkan takbir. Tampak di antara kerumunan massa pendukung BJ Habibie antara lain Ketua Pelaksana Harian KISDI A Sumargono, Direktur Eksekutif Institute for Policies Studies (IPS) yang juga anggota F-KP MPR, Fadly Zon, serta Andreanto (Humanika) mengatur barisan massa.

Selepas shalat Jumat, massa makin banyak. Beberapa ribu bergerak membentuk barisan panjang dari arah mesjid di belakang gedung ke depan kompleks, ke arah mahasiswa. Mereka kemudian mendesak dan berusaha menembus kerumunan mahasiswa.

Saat itulah terjadi situasi yang sangat panas. Massa pendukung Habibie itu akhirnya berhasil menguasai tangga ke arah Gedung MPR/DPR yang berbentuk kubah. Aksi itu sempat membuat kocar-kacir para mahasiswa maupun wartawan yang sebelumnya berkerumun di atas tangga-tangga. Seorang wanita jatuh terjerembab karena panik, dan tubuhnya terinjak beberapa orang yang lari ketakutan. Sebagian massa kemudian berusaha mencopot spanduk-spanduk yang telah dipasang para mahasiswa. Tindakan ini memancing mahasiswa untuk melawan.

Namum bentrok fisik tidak sampai terjadi. Para mahasiswa saling mengingatkan untuk menahan diri dan tidak emosi. Beberapa pemimpin massa pro Habibie di beberapa sudut juga tampak bernegosiasi dengan mahasiswa. Seorang mahasiswa terdengar menangis meraung-raung. "Ya Allah, kami ini mahasiswa. Kami ini muslim, Pak. Jangan sampai bentrok, kita sesama muslim. Buat apa kita berantem."

Negosiasi terus berjalan. Sejumlah pemimpin mahasiswa maupun pimpinan massa masing-masing berusaha menenangkan kelompoknya. "Damai ... damai," teriak mahasiswa sambil mengacungkan kedua tangannya dengan jempol dan jari membentuk tanda salut. Mahasiswa juga membiarkan massa yang mengerek beberapa spanduk bernada pro-Habibie di beberapa tiang bendera di sisi kiri lapangan parkir gedung itu.

Pukul 14.00 WIB sejumlah pimpinan Senat Mahasiswa berbondong-bondong menuju ke Mesjid Baiturrahman yang tepat berada di bagian belakang Gedung MPR/DPR. Mereka bertemu dengan Toto Tasmara yang menurut kabar yang diterima mahasiswa dari para pendukung Habibie, merupakan pimpinan massa.

Kepada Toto Tasmara, para mahasiswa meminta pengertiannya bahwa mahasiswa menyadari gedung MPR/DPR merupakan milik bersama seluruh lapisan masyarakat, dan karena itu semua bebas menyuarakan pendapat dan aspirasinya. "Ka-mi minta ada pengertian untuk tidak saling menyerang dan tidak mendesak kami, karena kami juga bebas bersuara di gedung ini," kata seorang mahasiswa dari Universitas Trisakti Jakarta.

Kepada mahasiswa, Toto Tasmara yang sibuk menyiapkan konsumsi bagi para massa pendukung Habibie mengatakan, kehadiran kelompoknya di DPR adalah untuk menyuarakan pendapat dan apirasinya. "Kami hadir di sini bukan untuk menyerang mahasiswa. Kalau ada tindakan seperti itu berarti sudah ada kepentingan politik yang main di sini. Saya akan tarik kelompok saya," katanya.

Untuk mengantisipasi agar tidak terjadi bentrokan, sekitar pukul 14.25 WIB pasukan keamanan masuk ke halaman gedung. Di antara mereka tampak pula pasukan dari satuan Brawijaya Malang, Divisi Siliwangi (Kostrad Divisi II Singosari), dan Sriwijaya.

Mereka berbaris sambil bernyanyi yang mendapat respons positif mahasiswa. Pasukan kemudian berjaga-jaga pada posisi antara mahasiswa dan massa pro-Habibie. Sebanyak dua SSK (Satuan Setingkat Kompi) disiapkan di dalam gedung MPR/DPR untuk berjaga-jaga. "Tugas kami hanya berjaga-jaga saja," kata Letkol (Inf) Kaharuddin yang memimpin pasukannya.

Sekitar pukul 14.45 WIB, massa yang berada di tangga diperintahkan turun. Mereka lalu bergerak meninggalkan pelataran parkir, menuju ke arah belakang gedung. Mereka makan siang di halaman mesjid, sebelum meninggalkan kompleks DPR. Mahasiswa tetap membiarkan spanduk-spanduk pro-Habibie di tempatnya.

Ali Sadikin dan Adnan Bu-yung Nasution, sekitar pukul 16.05 WIB datang ke Gedung MPR/DPR melewati pintu belakang, yang disambut antusias para mahasiswa. Sekitar setengah jam kemudian, keduanya bergantian menyampaikan orasi yang intinya mendukung mahasiswa untuk menuntut reformasi secara total, di antaranya menuntut Sidang Istimewa, membebaskan tahanan politik yang masuk ke penjara karena memperjuangkan reformasi, serta mencabut undang-undang yang menghambat kemerdekaan pers.

Diimbau keluar

Hingga tadi malam, mahasiswa mencoba bertahan di Gedung MPR/DPR untuk terus memperjuangkan aspirasinya. Kepala Penerangan Kodam (Kapendam) Jaya Letkol (Inf) DJ Nachrowi, Jumat siang, ketika ditanya tentang adanya jumlah personel keamanan yang makin banyak ditempatkan di lokasi tersebut, mengatakan, pihaknya mengimbau agar puluhan ribu mahasiswa dan masyarakat yang saat ini "menduduki" gedung MPR/DPR, segera meninggalkan gedung, karena akan digunakan untuk kegiatan instansi itu. Imbauan itu juga disampaikan melalui surat kepada Sekjen MPR/DPR, yang rencananya dilayangkan Jumat malam.

"Kami imbau mahasiswa meninggalkan gedung MPR/DPR karena akan dipakai kegiatan lembaga itu. Yaitu kegiatan-kegiatan anggota Dewan untuk meneruskan program reformasi yang selama ini menjadi tuntutan bersama. Jadi akan dipakai untuk rapat-rapat anggota. Kalau kondisinya seperti ini tentu akan menghambat kegiatan itu," katanya.

Sementara itu di lantai 10 Gedung Lokawirasabha - gedung lama DPR - terjadi kebakaran kecil, yaitu terbakarnya sebuah meja, dan kursi. Kebakaran yang terjadi sekitar 30 menit itu dapat dilokalisir dan segera dipadamkan. Menurut Sunarto, anggota Satpam gedung, tidak ada korban jiwa dalam insiden itu. Namun dia mengaku tidak mengetahui penyebab dan pelaku pembakaran. Api dapat dipadamkan oleh petugas keamanan, dibantu karyawan Setjen DPR dan para mahasiswa yang kebetulan ada di lantai tersebut.

Sampaikan aspirasi

Menurut H. Yazid Salman, Ketua Yayasan Pedagang Muslim Sukabumi yang tergabung dalam massa pro-Habibie, pihaknya mendapat informasi dari Gerakan Pemuda Islam (GPI) melalui telepon untuk hadir di DPR dan menyampaikan aspirasi umat Islam. Ia mengakui, telah membawa sekitar 1.250 orang, yang terdiri dari pedagang muslim dan beberapa kelompok pesantren. Menurut dia, selain kelompok tersebut, ada juga berbagai kelompok lainnya yang terdiri dari Badan Koordinasi Pondok Pesantren Indonesia, Badan Koordinasi Mubaligh Indonesia, Gerakan Pemuda Ansor, Gerakan Pemuda Islam Indonesia, Persatuan Pelajar Islam Indonesia, Himpunan Mahasiswa Islam Indonesia, dan Komite Solidaritas Islam Indonesia (KISDI).

Yazid menjelaskan, maksud kelompoknya datang ke gedung DPR untuk menyampaikan dukungan kepada Presiden BJ Habibie. Menurut dia, penyerahan jabatan Presiden Soeharto kepada BJ Habibie konstitusional.

Selain itu, sebanyak 27 bus yang mengangkut mahasiswa, pelajar dan masyarakat berangkat ke gedung DPR dari beberapa tempat di Bekasi, seperti dari Hotel Bunga Karang, Islamic Centre, Kota Babelan.

Kepala Kepolisian Resor (Kapolres) Metro Bekasi, Letkol (Pol) Adjie Rustam Ramdja mengatakan, keberangkatan mereka adalah untuk melakukan sujud syukur di gedung DPR. Karena itu, Kapolres Metro Bekasi mengimbau agar rombongan ini tidak melakukan aksi yang memancing kemarahan massa di pertengahan jalan. (Tim Kompas)

Kompas/ed/arb

PENGAMANAN - Bentrokan hampir meletup kemarin siang antara pendukung Presiden BJ Habibie dengan para mahasiswa yang menduduki Gedung MPR/DPR, hari Jumat (22/5). Kejadian itu sempat dicegah para petugas yang siaga di lokasi tersebut (atas). Sementara Sabtu (23/5) dinihari, petugas keamanan dengan ketat namun tanpa kekerasan mengamankan pengosongan kompleks MPR/DPR yang diduduki mahasiswa sejak Senin (18/5).

Kompas/arb

TOL TAK BERFUNGSI - Selama proses pengosongan Gedung MPR/DPR, Sabtu (23/5) dinihari, jalan tol Cawang-Grogol tidak berfungsi sehingga orang bebas duduk-duduk di sana.