Sabtu, 23 Mei 1998


Melalui Pemilu Mendatang

Amien Rais Siap Jadi Presiden Ke-4 RI

Jakarta, Kompas

Ketua Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah, Dr HM Amien Rais, menyatakan, jika rakyat banyak memberikan dukungan dirinya siap mencalonkan diri menjadi Presiden ke-4 RI. Itu akan dilakukannya melalui pemilihan umum (Pemilu) mendatang yang diadakan di bawah satu Undang-Undang Pemilu baru yang menjamin asas langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, adil, dan demokratis.

Karena itu, pemerintahan di bawah Presiden BJ Habibie dan DPR harus terus didesak agar sesegera mungkin membuat UU Pemilu yang baru, agar aspirasi semua lapisan masyarakat dapat ikut berpartisipasi dalam Pemilu yang lebih menjamin asas-asas demokrasi.

Pernyataan ini dilontarkan Amien Rais di Masjid Al-Azhar di Jakarta Selatan, Jumat (22/5) siang. "Asalkan didukung segenap lapisan rakyat banyak, saya Amien Rais siap menjadi Presiden RI ke-4 mendatang setelah Presiden Habibie. Tetapi, hendaknya UU Pemilu yang ada sekarang ini diubah dulu sesuai dengan semangat reformasi, di bawah UU Pemilu yang lebih demokratis, jujur, adil, langsung, umum, bebas, dan rahasia," tambahnya.

Untuk menjamin sebuah UU Pemilu yang demokratis serta lebih menjamin kesempatan segenap lapisan masyarakat dapat ikut berpartisipasi di dalamnya, Ketua PP Muhammadiyah itu mengingatkan agar seluruh lapisan masyarakat mendesak Presiden Habibie dan DPR menggodok UU Pemilu yang baru. "Rakyat harus terus mendesak agar Presiden dan DPR segera merealisir adanya perangkat UU Pemilu yang baru dan lebih menjamin hak demokrasi rakyat secara menyeluruh," katanya.

Menurut Amien Rais, hak demokrasi masyarakat Indonesia selama lebih dari 32 tahun di bawah kepemimpinan Soeharto, dipasung guna kepentingan penguasa. "Memang dalam UUD 1945 disebutkan bahwa presiden itu memegang jabatan untuk lima tahun dan dapat dipilih kembali. Penafsirannya seharusnya adalah dua kali masa jabatan. Dan tidak sampai tujuh kali. Kalau kita bertamu dan ditawarkan makan tentunya kita akan menerima tawaran itu dan hanya dua kali saja, termasuk makan yang pertama. Tidak lalu makan terus sampai tujuh kali," papar Amien yang disambut tepukan dan sorak-sorai massa.

"Sparring partner"

Dalam bagian lain ceramah umumnya sebagaimana disampaikan sebelumnya baik di Masjid Attaqwa di Jalan Kramat Raya (Jakarta Pusat), ia juga membuka sebuah rahasia di mana telah terjadi pertemuan dengan Presiden BJ Habibie beberapa jam setelah mengucapkan sumpah menjadi Presiden RI ke-3.

Dalam pertemuan dengan Presiden Habibie, Ketua PP Muhammadiyah itu menegaskan dirinya siap menjadi sparring partner (mitra latih tanding) terhadap kiprah Presiden BJ Habibie dalam menjalankan program reformasi sebagaimana di-cerminkan dalam Kabinet Reformasi Pembangunan. Jika dalam menjalankan programnya ternyata menyimpang dari semangat reformasi, maka Presiden Habibie harus siap menghadapi tinju yang datang dari masyarakat. Demikian juga sebaliknya.

"Artinya, saya Amien Rais akan jadi sparring partner Anda. Dan ini sesuai dengan semangat demokrasi di mana pun itu selalu ada pihak oposisi. Tugas oposisi adalah mengoreksi kebijakan pemerintahannya. Harus ada sarana latihan untuk bertinju. Saling memukul dan saya dengan senang hati akan saling mengadakan tinju politik, sosial, dan ekonomi," ucap Amien.

Ia lebih jauh memaparkan, "Artinya jika masih ada sisi-sisi di Kabinet Habibie yang mulai menyeleweng, Insya Allah akan saya tinju dengan tinju rakyat. Bahkan, kalau masih ada menteri yang menyelewengkan uang negara dan masih ada tokoh yang ikut menjarah negeri ini lagi, mari kita keroyok bersama rakyat. Cara mengeroyoknya tidak dengan kekerasan lalu melempar batu, tetapi lewat proses Pemilu di bawah UU Pemilu baru yang lebih demokratis. Dari situ diharapkan muncul seorang pimpinan nasional baru yang jujur dan bersih untuk memimpin bangsa ini," papar Amien.

Menurut dia, bangsa Indonesia tidak perlu takut kekurangan pemimpin bangsa sebagaimana yang sudah dipraktekkan Soeharto selama ini di mana ia selalu mencalonkan diri dalam setiap pemilu dan menang terus. "UU Pemilu harus menjamin munculnya pemimpin bangsa yang baru. Indonesia memiliki banyak dan berlusin-lusin calon pemimpin bangsa," tegasnya.

Ia kemudian mengajukan satu persyaratan, yaitu memberantas kolusi, korupsi, dan nepotisme (KKN). "Presiden Habibie akan berhasil jika berhasil memberantas KKN: berantas kolusi, korupsi, dan nepotisme. Jika demikian akan mendapat ridho Allah. Kalau hanya bermain-main dengan kata-kata kosong, akan ditagih rakyat lagi," tutur Amien.

Ia mengemukakan, dalam acara bertukar pandangan dengan Presiden Habibie itu ia juga mengingatkan bahwa saat ini Kabinet Reformasi Pembangunan sangat diawasi oleh bangsa dan rakyat Indonesia. "Pesan saya jangan lagi tercebur dalam praktek KKN (kolusi, korupsi, nepotisme). Itu saja," kata Amien. (bw)