Jumat, 22 Mei 1998


Penembakan Mahasiswa Trisakti Segera Dilaporkan ke Pangdam Jaya

Jakarta, Kompas

Komandan Polisi Militer Jaya Kol CPM Hendardji mengemukakan, hasil pemeriksaan terhadap peristiwa penembakan empat mahasiswa Universitas Trisakti, 12 Mei 1998 lalu, akan dilaporkan kepada Panglima Daerah Militer (Pangdam) Jaya Mayjen Sjafrie Sjamsoeddin dalam pekan ini juga.

Demikian dikatakan Hendardji ketika dihubungi Kompas melalui telepon, Kamis (21/5) di Jakarta. Selanjutnya, demikian Hendardji, hasil pemeriksaan tersebut akan dilaporkan kepada Panglima ABRI Jenderal TNI Wiranto. Hendardji enggan berkomentar lebih jauh soal penembakan tersebut.

Penembakan yang dilakukan aparat itu terjadi 12 Mei 1998 di Kampus Universitas Trisakti Grogol Jakarta Barat. Empat mahasiswa Trisaksi, yakni Hery Hartanto (Fakultas Teknik Industri), Elang Mulya (FTSP), Hafidin Royan (FTSP), dan Hendriawan Lesmana (Fakultas Ekonomi) tewas ditembak petugas.

Sebelumnya, dalam Rapat Kerja dengan Komisi I DPR, Menteri Pertahanan Keamanan/Panglima ABRI Jenderal TNI Wiranto menegaskan, penembakan terhadap mahasiswa Trisakti dilakukan dengan peluru tajam.

Wiranto mengatakan, dengan petunjuk awal itu jelas penembakan itu merupakan kesalahan prosedur dan pelanggaran disiplin. Penembakan itu, demikian Wiranto saat raker yang dipimpin Ketua Komisi I Ny Aisyah Aminy, dilakukan dari atas dan pada saat mahasiswa berada di dalam kampus.

"Atas tindakan seperti itu, yakinlah pimpinan ABRI akan memberikan sanksi yang setimpal, yang adil dan sesuai dengan hukum yang berlaku. Dalam waktu singkat ini saya akan bisa menyampaikan secara terbuka seluruh hasil penyelidikan tim ini, terutama siapa yang bertanggung jawab langsung terhadap tragedi ini," ucap Wiranto. (Kompas, 16/5)

Harus tuntas

Direktur Eksekutif Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia (PBHI) Hendardi tetap mendesak kasus penembakan mahasiswa Trisakti dan kasus penculikan aktivis mahasiswa dituntaskan. "Tertembaknya mahasiswa Trisakti itu merupakan awal terjadinya reformasi total. Itu harus dituntaskan dengan mengadili para pelakunya," kata Hendardi.

Turunnya Soeharto dari kursi presiden, demikian Hendardi, bukan berarti kasus penembakan dan penculikan aktivis mahasiswa itu dilupakan begitu saja. Pemerintahan baru harus bisa membuktikan kredibilitasnya bahwa mereka juga taat konstitusi dan taat pada hukum. Itu berarti segala bentuk penyimpangan hukum, terutama kasus penembakan mahasiswa Trisakti dan penculikan aktivis mahasiswa, seperti Pius Lustrilanang, Desmond J Mahesa, Haryanto Taslam, Andi Arief harus dituntaskan.

Ditegaskan Hendardi, krisis kepercayaan masyarakat terhadap aparat penegak hukum, selama ini disebabkan banyak kasus yang tidak jelas penyelesaiannya atau malah dipeties-kan. Lihat saja kasus tewasnya buruh Marsinah di Sidoarjo dan terbunuhnya wartawan Bernas Fuad Muhamad Syafruddin. "Ini tantangan bagi pemerintahan baru untuk menuntaskan kasus tersebut," tegas Hendardi. (bb/bdm)