Jumat, 22 Mei 1998


BJ Habibie Minta Dukungan Rakyat

Jakarta, Kompas

Dalam pidato pertamanya di Istana Merdeka, Kamis (21/5) malam, Presiden BJ Habibie mengharapkan dukungan sepenuhnya dari seluruh lapisan masyarakat dalam menjalankan tugas sebagai Presiden ke-3 Republik Indonesia. "Saya mengharapkan dukungan dari seluruh rakyat Indonesia untuk bersama-sama dapat keluar dari krisis yang sedang kita hadapi, yang hampir melumpuhkan berbagai sendi-sendi kehidupan bangsa," katanya.Habibie jadi Presiden RI setelah pagi harinya Soeharto menyatakan berhenti dari jabatan itu di Istana Merdeka. Habibie mengucapkan sumpah untuk jadi presiden yang baru dari negeri berpenduduk keempat terbanyak di dunia ini.

Pengalihan kekuasaan yang bersejarah itu berlangsung 10 menit di credentials room Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (21/5) kemarin, yang didahului gelombang aksi reformasi dari ribuan massa mahasiswa, yang didukung para cendekiawan, tokoh masyarakat, purnawirawan, dan ibu-ibu rumah tangga di berbagai kota di negeri berpenduduk 202 juta jiwa ini.

Seusai Habibie mengucapkan sumpah, Menteri Pertahanan Keamanan/Panglima Angkatan Bersenjata (Menhankam/Pangab) Jenderal TNI Wiranto antara lain mengatakan, ABRI akan tetap menjaga keselamatan dan kehormatan para mantan Presiden/Mandataris MPR, termasuk mantan Presiden Soeharto beserta keluarga.

Angin segar

Menurut Habibie, perjuangan mahasiswa dalam mempercepat proses reformasi merupakan angin segar yang menghembus memasuki abad ke-21. "Saya memperhatikan dengan sungguh-sungguh dinamika aspirasi yang berkembang dalam pelaksanaan reformasi secara menyeluruh, baik yang disampaikan oleh mahasiswa dan kaum cendekiawan, maupun yang berkembang dalam masyarakat serta di kalangan Dewan Perwakilan Rakyat."

Ia mengutip pula aspirasi tentang peningkatan kehidupan politik yang sesuai dengan tuntutan zaman dan generasinya, ke pemerintahan yang bersih dan bebas dari inefisiensi dan praktek korupsi, kolusi dan nepotisme, serta kehidupan ekonomi yang lebih memberi peluang berusaha secara adil. "Saya telah tangkap aspirasi rakyat," katanya.

Habibie juga berkomitmen melakukan reformasi secara bertahap dan konstitusional di segala bidang, dengan memulihkan kehidupan sosial-ekonomi, meningkatkan kehidupan politik demokratis, mengikuti tuntutan zaman dan generasinya, dan menegakkan kepastian hukum sesuai Pancasila dan UUD 1945.

Berdasarkan itu, katanya, akan segera disusun kabinet yang sesuai dengan tuntutan zaman, aspirasi, dan kehendak rakyat, yaitu kabinet yang profesional dan memiliki dedikasi serta integritas tinggi.

Tugas pokok kabinet itu, katanya, menyiapkan proses reformasi. Di bidang politik, antara lain dengan memperbarui berbagai perundang-undangan dalam rangka lebih meningkatkan kualitas kehidupan berpolitik yang bernuansa pada Pemilu sebagaimana yang diamanatkan oleh Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN).

Di bidang hukum antara lain meninjau kembali Undang-undang Subversi. Di bidang ekonomi, mempercepat penyelesaian undang-undang yang menghilangkan praktek-praktek monopoli dan persaingan yang tidak sehat.

Ia juga menyatakan akan tetap melaksanakan komitmen yang telah disepakati dengan pihak luar negeri, khususnya dengan melaksanakan program reformasi ekonomi sesuai kesepakatan dengan Dana Moneter Internasional (IMF).

Kepada segenap potensi bangsa, ia menyerukan, "Marilah kita mengakhiri pertentangan-pertentangan yang ada di antara kita agar waktu yang sangat terbatas ini dapat dipergunakan secara efektif dalam rangka menyelesaikan krisis yang sedang kita hadapi."

"Atas nama pemerintah dan atas nama pribadi, saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Presiden Republik Indonesia kedua, Haji Muhammad Soeharto, atas segala jasa dan pengabdiannya kepada nusa dan bangsa. Saya percaya, bahwa rakyat Indonesia juga menghargai jasa dan pengabdian beliau," katanya.

Berhenti dari jabatan

Acara peletakan jabatan Presiden berlangsung pukul 09.00 WIB di Istana Merdeka. Sekitar pukul 08.25 WIB, Wakil Presiden Habibie tiba di halaman samping Istana Merdeka. Lima menit kemudian, sekitar pukul 08.30 WIB, Presiden Soeharto tiba didampingi putri sulungnya Siti Hardijanti Rukmana (Tutut). Lalu 10 menit kemudian, Ketua MPR/DPR Harmoko beserta empat Wakil Ketua yakni Syarwan Hamid, Abdul Gafur, Fatimah Achmad, dan Ismail Hasan Metareum tiba. Menyertai para pimpinan MPR/ DPR adalah Sekjen DPR Afif Ma'roef.

Soeharto dan Tutut tiba dengan pengawalan kepresidenan seperti biasanya. Mobil yang ditumpangi bernomor polisi B-1. Tutut tidak lagi mengenakan lencana menteri, Najaka. Para Menteri Kabinet Pembangunan VII yang hadir adalah Muladi (Menkeh), Alwi Dahlan (Menpen), Saadillah Mursjid (Mensesneg) dan Jenderal TNI Wiranto (Menhan-kam/Pangab).

Beberapa saat kemudian, Habibie datang diiringi konvoi pengawalan Pasukan Pengamanan Presiden. Kendaraan yang digunakan adalah Mercedes hitam berkemudi kiri bernomor polisi B-2.

Sebelum mengumumkanpengunduran dirinya, Soeharto yang didampingi BJ Habibie, mengadakan pertemuan silaturahmi selama lima menit dengan para pimpinan MPR/DPR, termasuk Sekjen DPR Afif Ma'roef, di Ruang Jepara, Istana Merdeka.

Pada pukul 09.00 WIB, Soeharto di muka mikrofon, menyatakan, "Sejak beberapa waktu terakhir, saya mengikuti dengan cermat perkembangan situasi nasional kita, terutama aspirasi rakyat untuk mengadakan reformasi di segala bidang kehidupan berbangsa dan bernegara. Atas dasar pemahaman saya yang mendalam terhadap aspirasi tersebut, dan terdorong oleh keyakinan bahwa reformasi perlu dilaksanakan secara tertib, damai dan konstitusional."

Dikatakan, "Demi terpeliharanya persatuan dan kesatuan bangsa serta kelangsungan pembangunan nasional, saya telah menyatakan rencana pembentukan Komite Reformasi dan mengubah susunan Kabinet Pembangunan VII, namun demikian kenyataan hingga hari ini menunjukkan Komite Reformasi tersebut tidak dapat terwujud, karena tidak adanya tanggapan yang memadai terhadap rencana pembentukan komite tersebut. Dalam keinginan untuk melaksanakan reformasi dengan cara-cara sebaik-baiknya tadi, saya menilai bahwa dengan tidak dapat diwujudkannya Komite Reformasi, maka perubahan susunan Kabinet Pembangunan VII menjadi tidak diperlukan lagi."

"Dengan memperhatikan keadaan di atas, saya berpendapat sangat sulit bagi saya untuk dapat menjalankan tugas pemerintahan negara dan pembangunan dengan baik. Karena itu dengan memperhatikan ketentuan Pasal 8 UUD 1945 dan secara sungguh-sungguh memperhatikan pandangan pimpinan DPR dan pimpinan Fraksi-fraksi yang ada di dalamnya, saya memutuskan untuk menyatakan berhenti dari jabatan saya sebagai Presiden, terhitung sejak saya bacakan pernyataan ini pada hari ini, Kamis 21 Mei 1998," ujar Soeharto.

Minta maaf

Soeharto mengemukakan, "Pernyataan saya berhenti dari jabatan sebagai Presiden RI saya sampaikan di hadapan saudara-saudara pimpinan DPR dan juga adalah pimpinan MPR pada kesempatan silaturahmi."

Ditegaskan, sesuai dengan pasal 8 UUD 1945, maka Wakil Presiden Prof Dr Ir BJ Habibie yang akan melanjutkan sisa waktu jabatan Presiden/Mandataris MPR 1998-2003. "Atas bantuan dan dukungan rakyat selama saya memimpin negara dan bangsa Indonesia ini, saya ucapkan terima kasih dan minta maaf bila ada kesalahan dan kekurangan-kekurangannya. Semoga bangsa Indonesia tetap jaya dengan Pancasila dan UUD 1945," katanya.

Ia mengemukakan, "Mulai hari ini pula, Kabinet Pembangunan VII demisioner, dan kepada para menteri saya ucapkan terima kasih. Oleh karena keadaan tidak memungkinkan untuk menyelenggarakan pengucapan sumpah di hadapan DPR, maka untuk menghindari kekosongan pimpinan dalam menyelenggarakan pemerintahan negara, kiranya Saudara Wakil Presiden sekarang juga akan melaksanakan pengucapan sumpah jabatan Presiden di hadapan Mahkamah Agung".

Setelah itu, Habibie maju ke depan mikrofon yang sama dan mengucapkan sumpah. Usai mengucapkan sumpah, Soeharto mendatangi Habibie dan menjabat tangannya.

Indonesia I

Tatkala meninggalkan halaman Istana Merdeka, pengawalan untuk Soeharto masih seperti ketika datang. Namun Mercedes hitam yang ditumpangi Soeharto tak lagi bernomor polisi B-1, tetapi B 2044 AR.

Ajudannya masih seperti ketika datang, yakni Kolonel (Kav) Issantoso dan Kolonel (Pol) Sutanto.

Dalam iringan konvoi Soeharto, tampak mobil Land Rover defender dengan bintang tiga merah, dan di dalamnya duduk Panglima Kostrad Letjen TNI Prabowo Subianto.

Sementara itu Presiden ke- 3 RI , BJ Habibie ketika meninggalkan istana, duduk di mobil yang sama sewaktu tiba. Hanya nomor pelatnya telah berubah, bukan lagi B-2, dan bukan pula B-1, tetapi pelat besar berwarna dasar merah dengan tulisan Indonesia I.

Menurut sebuah sumber, Rabu malam antara pukul 19.30 WIB sampai 21.30 WIB, Presiden Soeharto masih menerima Mensesneg Saadillah Mursjid dan Menhankam/Pangab Jen-deral TNI Wiranto di kediaman Cendana. Guru Besar UI Yusril Ihza Mahendra juga berada di Jalan Cendana, tapi tidak terlibat dalam pertemuan antara Soeharto dengan Saadillah Mursjid dan Wiranto.

Sampai Kamis malam, jalan di depan Istana Merdeka masih ditutup dengan rintangan pagar kawat berduri dan kendaraan militer. (osd/rie)