Jumat, 22 Mei 1998


Gerakan Reformasi Masuki Masa Krusial

Surabaya, Kompas

Gerakan reformasi kini memasuki masa krusial, menyusul mundurnya Soeharto sebagai Presiden. Ikatan gerakan bisa melonggar, karena munculnya konflik-konlfik kepentingan baik vertikal maupun horisontal, rivalitas supremasi kelompok. Untuk itu para tokoh hendaknya mengambil langkah yang strategis untuk memelihara moral gerakan karena sasaran reformasi yang lain belum tercapai. Dengan demikian, reformasi ini tidak berakhir prematur.

Demikian benang merah pemikiran dari Pembantu Rektor I Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Muhadjir Efendy MAP, pengasuh Pondok Pesantren Roudlatut Thalibin Rembang KH Cholil Bisri, dan staf pengajar Fisip Unair Dr Daniel Sparingga. Mereka dihubungi secara terpisah, Kamis (21/5).

Muhadjir melihat, dalam gerakan reformasi ini muncul kelompok oportunis yang mendompleng perjuangan gerakan yang bertumpu pada moral. Oportunisme ini dalam konteks mendapat keuntungan baik untuk individual maupun kelompoknya. Mereka ini yang akan jadi pemicu konflik kepentingan.

Secara psikologis juga akan muncul anggapan bahwa diri dan kelompoknya yang paling berperan dalam pengunduran Soeharto. Ini akan menimbulkan persaingan prestise dan persaingan kepemimpinan. Dengan munculnya rivalitas dan konflik ini maka ikatan gerakan menjadi melonggar. Untuk itu, setiap pelaku gerakan harus menyadari bahwa proses reformasi yang mereka perjuangkan baru tahap awal. Masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan.

Hal senada disampaikan KH Cholil Bisri. Menurut anggota MPR dari Jateng ini, semua tokoh reformasi hendaknya betul-betul berhati-hati karena situasinya sekarang ini ibarat benang basah yang jatuh ke comberan. Mencari ujungnya untuk mengurai saja sulit.

Menurut dia, diperlukan perapatan barisan lagi di kalangan tokohnya. Yang sudah telanjur maju, hendaknya mau mundur selangkah untuk bersama yang lain. Para tokohnya harus bersikap arif bijaksana menyikapi bahwa tantangan reformasi sekarang masih berat.

Pakar politik Fisip Universitas Airlangga Dr Daniel Sparingga berpendapat, kekhawatiran atas akan terjadinya konflik horisontal pasca Soeharto itu sebenarnya sudah ada ketika saat pertama mahasiswa meneriakkan kata "reformasi". Pada banyak pengalaman di berbagai negara yang berubah, setelah proses perubahan rezim akan terjadi saling klaim peran dan kontribusi. (ody/ano)