Kamis, 21 Mei 1998


Romantika Reformasi di "Gedung Rakyat"

Kompas/arb

MIMPI apa kamu semalam kawan? Pertanyaan itu barangkali pantas dilemparkan kepada sekitar 3.000 mahasiswa-mahasiswi yang hari Selasa lalu bermalam di gedung Dewan Perwakilan Rakyat/Majelis Permusyawaratan Rakyat (DPR/MPR), yang begitu megah itu.

Dapatkah kamu mimpi indah di gedung yang indah itu? Apakah justru dalam tidurmu, kamu mimpi buruk, dikejar-kejar makhluk yang amat menakutkan. "Saya berusaha keras untuk bisa tidur. Berbaring. Memejamkan mata. Tetapi, saya tetap tidak bisa tidur. Saya begitu cemas dan takut," tutur seorang mahasiswa berkaus merah yang minta agar namanya tak disebut.

Mahasiswa berkacamata minus dua itu, duduk bersila di lantai marmer lobi gedung Lokawirasabha, sambil sesekali menyedot rokok kreteknya kuat-kuat. Beberapa meter dari tempat ia duduk, berjejer belasan kawannya, terbaring pulas. Tak beralas apa pun.

Di beberapa bagian lobi itu, sejumlah kawannya yang lain benar-benar menikmati lantai marmer yang sehari-harinya begitu mengkilat. Sejumlah mahasiswi pun, tak sungkan-sungkan membaringkan diri hanya sekadar beralaskan lembaran kertas koran di lobi itu.

Pemandangan serupa terlihat di semua lobi kompleks Gedung DPR/MPR. Mereka tidur begitu saja. Membiarkan badan mereka berakrab-akraban dengan lantai Gedung DPR/MPR. Mereka tidur berdempet-dempetan, meski tempat lega, sebagai upaya melawan rasa dingin. Beberapa mahasiswi tidur berbantalkan paha kawan prianya.

Bukan hanya lobi-lobi yang menjadi "tempat tidur" para pejuang reformasi itu, tetapi juga tangga, emperan, jalan aspal, tanggul-tanggul, hamparan rerumputan di taman pun menjadi tempat peraduan. Tekad menggelorakan reformasi dalam segala bidang kehidupan berbangsa dan bernegara yang begitu kental dalam hati mereka, membuat para reformis yang berasal dari berbagai universitas itu, tak peduli dengan kondisi di mana mereka tidur.

Mana mungkin, kalau tiada tekad membara untuk memperjuangkan terlaksananya reformasi, mereka yang biasanya tidur di atas kasur begitu empuk, dengan senang hati dan dapat pulas tidur di atas aspal jalan. Dan lagi, tanpa alas atau paling beralaskan kertas koran. Mana mungkin, kalau tiada tekad semacam itu, mereka rela tidur di atas hamparan rumput taman, beratapkan langit, disergap dinginnya malam. Mana mungkin kalau hati mereka sudah begitu membaja, mereka suka hati tidur di atas tanggul pinggiran kolam airmancur di halaman gedung nan megah itu.

***

SEPASANG mahasiswa-mahasiswi itu begitu asyik menikmati, indahnya malam di gedung DPR/MPR. Si mahasiswi duduk di atas tanggul, sedangkan si mahasiswa tiduran di atas paha kawan wanitanya itu. Di pinggiran kolam airmancur pun tampak pemandangan serupa. Di sudut-sudut kompleks Gedung DPR/ MPR yang sedikit remang-remang pun sangat mudah ditemukan para reformis menghabiskan malam mereka di tempat yang sangat bergengsi dalam balutan api asmara.

Apakah mereka salah? Tidak! Sama tidak salahnya dengan sepasang mahasiswa-mahasiswi dari kampus yang berbeda (warna jaket mereka tidak sama), dengan begitu mesra bergandengan berjalan menuju kolam airmancur. Begitu sampai ke tempat yang dituju, mereka lantas mencopot sepatu mereka dan sambil duduk berdempetan memasukkan kaki mereka ke kolam, sambil cekakak-cekikik.

Berbagai cara dilakukan menghabiskan malam di Gedung DPR/MPR. Ada yang bermain catur, karena tak bisa tidur. Ada yang terus ngobrol atau diskusi. Ada yang membunuh waktu menunggu pagi sambil membaca buku. Ada yang jalan ke sana ke mari sekadar menghilangkan, barangkali, rasa kecemasan mereka.

Ketika dari pengeras suara terdengar suara bahwa sudah tiba saatnya shalat subuh, sejumlah pejuang reformasi segera menunaikan kewajibannya beribadah. Sejak saat itu, nafas kehidupan mulai berhembus kembali di gedung yang oleh seorang mahasiswa disebut sebagai "Gedung Rakyat".

"Apakah tidak lebih baik kalau mulai sekarang gedung ini kita sebut Gedung Rakyat, bukan lagi Gedung Dewan Perwakilan Rakyat dan Majelis Permusyawaratan Rakyat," tutur seorang mahasiswa.

Idenya itu, barangkali keterlaluan. Sebab, di bagian tembok yang menghadap Jalan Gatot Soebroto, jelas-jelas tertulis, "Majelis Permusyawaratan Rakyat-Dewan Perwakilan Rakyat". Tulisan yang tertera memang seperti itu, tetapi coba lihat apa yang terjadi sejak hari Senin hingga Rabu, kemarin (dan entah hingga kapan).

Sejak itu gedung megah itu benar-benar menjadi "Gedung Rakyat", bukan lagi "gedung para wakil rakyat", karena "rumah baru" puluhan ribu mahasiswa - rakyat Indonesia - mengungkapkan rasa hati mereka tanpa rasa takut lagi, seperti layaknya mereka di rumah sendiri.

Kompleks "Gedung Rakyat" itu mulai makin hidup ketika dari pucuk-pucuk pohon di sekitar gedung itu terdengar kicauan burung kutilang dan trotokan, pertanda pagi segera menjelang. Mereka yang bertugas di bagian konsumsi pun mulai sibuk membagi-bagikan nasi bungkus untuk sarapan sebagai pengganjal perut untuk melanjutkan perjuangan.

Suasana mulai berubah ketika dari depan pintu gerbang utama terdengar lantunan paduan suara begitu indah dan penuh semangat. Sedikit demi sedikit, kelompok demi kelompok mulai mengaruslah para mahasiswa-mahasiswi mendekati pintu gerbang. Sejumlah mahasiswa yang tidur sekitar 20 meter dari pintu gerbang pun mendadak terbangun dan duduk terbengong-bengong melihat siapa yang bernyanyi.

Tetapi, masih ada saja beberapa mahasiswa yang tetap tidur di tengah jalan hingga Matahari menumpahkan panasnya. Seakan mereka tak peduli bahwa Matahari yang hanya ada satu di dunia ini begitu berkuasa untuk menyengat segala sesuatu yang ada di permukaan Bumi ini. Meski terang orang sering bertanya, Matahari, kapan kamu tidak begitu arogan me-mamerkan kekuasaanmu? (ast/ias)