Kamis, 21 Mei 1998


Kita Masuki Babakan Baru

Jakarta, Kompas

"Saya tidak tahu apa yang akan terjadi setelah saya mengadakan jumpa pers ini kecuali saya mengajak Saudara-saudara semua ... marilah kita bersyukur kepada Allah karena sekali lagi kita akan memasuki babakan baru dalam sejarah modern Indonesia ini, yaitu mengucapkan selamat tinggal kepada pemerintahan yang lama dan menyambut datangnya pemerintahan yang baru," demikian pernyataan Ketua Pengurus Pusat Muhammadiyah Amien Rais yang didampingi cendekiawan Nurcholish Madjid pada hari Kamis (21/5) dini hari tadi.

Mereka menuntut pemerintahan transisi dapat menyelenggarakan pemilihan umum (pemilu) hingga Sidang Umum untuk memilih pemimpin nasional yang baru dalam jangka waktu enam bulan.

Jumpa pers itu berlangsung di kediaman Malik Fadjar di Jalan Indramayu 14, Jakarta Pusat dalam dua tahap. Yang hadir antara lain Malik Fadjar, Emha Ainun Nadjib, Utomo Danandjaja, dan Syafii Maarif.

Menurut Amien, setelah terjadi kerusakan-kerusakan berat di Jakarta, Solo dan di berbagai tempat lainnya, Insya Allah tidak ada lagi tetesan darah. Tidak perlu lagi pertumpahan darah dalam memasuki babak baru sejarah itu. Karena itu, ia mengajak semua pihak selalu menjamin supaya tidak ada situasi yang chaos.

"Hari ini maupun hari-hari mendatang ternyata oleh Allah Yang Maha Kuasa itu telah diubah menjadi tontonan kehidupan demokrasi kita yang lebih anggun dan lebih bagus," kata Amien.

Ia menitipkan dua hal. Pertama, ia mengajak semua pihak agar dalam memasuki babakan baru sejarah ini berpegang pada konstitusi secara konsekuen. "Landasan kita adalah Pancasila dan UUD 45, yang kita jadikan acuan pokok dalam menempuh kehidupan baru kita nanti," katanya.

Kedua, ia menggarisbawahi agar semua pihak menjaga persatuan dan kesatuan bangsa. "Peganglah teguh Bhinneka Tunggal Ika sebagai moto dan semboyan perjuangan kita sekarang maupun masa-masa mendatang," katanya.

Kepada warga keturunan, Amien mengajak untuk tidak melakukan eksodus ke luar negeri. "Insya Alah, sejak hari ini, Saudara-saudara sekalian sebangsa dan se-Tanah Air, yang kebetulan keturunan Cina, betul-betul merasa at home dan Anda memang di negeri sendiri. Kita minta kita bisa mengayomi sebaik-baiknya kelompok minoritas Cina yang akhir-akhir ini hampir putus asa melihat kerusakan di negeri ini," demikian Amien.

Amien mengemukakan, dalam masa transisi ini, pasti banyak hal yang rumit serta sulit diurai. "Tetapi marilah dengan dasar persatuan, kebersamaan dan transparansi, kita urai setiap keruwetan dari transisi kekuasaan itu dengan jiwa besar."

"Janganlah kita mengulangi kesalahan kita di masa lalu karena banyaknya orang yang begitu serakah pada kekuasaan yang berimplikasi pada terpuruknya kita ke dalam krisis yang sangat dalam. Marilah kita ambil pelajaran moral agar tidak mengulangi kesalahan, agar transisi kekuasaan ini dapat kita tempuh dengan semulus-mulusnya," katanya.

"Sudah saatnya kita mengucapkan selamat tinggal kepada masa lalu kita, dan kepada pimpinan nasional yang kemarin cukup lama, 32 tahun, telah memegang negeri ini, kita berikan penilaian yang seobyektif mungkin. Yang baik kita hargai, kita mikul dhuwur. Tetapi yang gagal, khilaf, yang berbau berbagai macam kelemahan manusiawi, kita mendem jero. Kemudian dengan sikap yang arif, sesuai dengan kultur budaya Melayu, juga budaya agamis, yang penuh dengan nilai-nilai moral dan kemanusiaan yang luhur, mudah-mudahan kita bisa memecahkan segala macam hal itu dengan sebaik-baiknya, dengan izin Allah."

Perombakan menyeluruh

Kepada pemerintahan baru, Nurcholish Madjid mengingatkan, agar diberikan rambu-rambu dan batasan yang jelas tentang tugas yang harus dilaksanakannya. Yaitu pertama, harus dilakukan perombakan menyeluruh dan mendasar terhadap berbagai ketentuan perundang-undangan yang tidak sesuai dengan ide dan aspirasi reformasi yang telah berkembang dalam masyarakat.

Kedua, lanjut Cak Nur, pemerintahan baru yang terbentuk akibat dari jalan keluar yang ditempuh harus dinyatakan dan bertindak sebagai pemerintahan peralihan, atau transisi.

Ketiga, tugas pemerintahan peralihan yang utama dan mendesak adalah menyelenggarakan Pemilu berdasarkan UU Pemilu, UU Kepartaian, UU Susunan dan Kedudukan DPR dan MPR yang telah dirombak total, sehingga dapat terlaksana Pemilu yang benar-benar langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil.

"Keempat, Pemilu hingga Sidang Umum MPR harus terselenggara dalam jangka waktu paling lambat enam bulan," tegas Cak Nur yang didampingi Utomo Danandjaja, Emha Ainun Nadjib, dan A Malik Fadjar.

Kelima, agar segenap rakyat, jajaran ABRI untuk memberi kepercayaan terhadap pemerintah transisi tersebut, dan membantu pelaksanaan tugas-tugasnya.

Pagar-pagar

Menjawab pertanyaan wartawan, Cak Nur mengatakan lima prinsip yang harus dipegang oleh pemerintahan transisi tersebut merupakan pagar-pagar. "Kita tidak mau lagi pemerintahan baru ini membawa cek kosong. Cek itu harus kita isi," katanya.

Permintaan jaminan tersebut, lanjut Cak Nur, harus diumumkan sehingga terbentuk opini publik. Permintaan tersebut disampaikan sebagai pertanggungjawaban moral di antara mereka yang diundang oleh Presiden Soeharto.

Mengenai "jalan tengah" yang ditawarkannya, menurut cendekiawan muslim tersebut, sebelumnya merupakan usulan perorangan dari sembilan orang yang bertemu Presiden Soeharto. "Kita tidak mau apa pun yang terjadi, lalu melupakan aspirasi masyarakat. Kita cegat dengan mengisi "cek kosong" tersebut".

Tugas pokok pemerintahan baru adalah sesegera mungkin melaksanakan pemilihan umum. Pemilihan umum tersebut paling lambat harus dilaksanakan enam bulan, termasuk pelaksanaan Sidang Umum MPR. Kemudian mereka memilih presiden dan wakil presiden.

Ditanya apakah dengan disebutnya kata "pemerintahan baru" dalam pernyataannya, pihaknya telah menerima kabar bahwa telah terjadi peralihan kekuasaan dari Presiden Soeharto, Cak Nur menjawab, "Sulit sekali diketahui karena itu seperti meraba-raba dalam kegelapan. Kita tidak tahu, apakah ini akan diumumkan besok, lusa, namun apa pun yang terjadi jangan lupa reformasi," katanya.

Nurcholish menyatakan menolak dan tidak mau menjadi anggota Komite Reformasi. Selain ide tersebut berasal dari dirinya, yang sebelumnya dikenal dengan Dewan Reformasi, mereka juga ingin mempertahankan independensinya. "Kami ingin mempertahankan agar sikap moral kami terjaga," kata Cak Nur.

Terima kasih mahasiswa

Amien Rais secara khusus menyampaikan ucapan terima kasih masyarakat kepada seluruh mahasiswa yang telah memperjuangkan reformasi tanpa lelah. "Bangsa Indonesia akan mencatat perjuangan mahasiswa yang demikian luhur itu dengan tinta emas. Kita juga akan mencatat para pahlawan reformasi yang gugur dalam perjuangannya dan Insya Allah itu akan abadi," ujarnya.

Ketua PP Muhammadiyah itu yakin sekali atas izin Allah SWT dan sunatullah akan terjadinya pemerintahan baru. "Barang siapa yang masih mempertahankan pemerintahan Soeharto, dia seperti menegakkan benang basah," katanya.

Walaupun demikian dia khawatir jika Pak Harto berbalik kembali menarik keputusannya mengundurkan diri sebagai presiden. "Namun sebagai muslim, kita selalu khusnudzon (berbaik sangka). Apalagi mahasiswa, DPR/MPR, maupun masyarakat sudah meminta Pak Harto mengundurkan diri. Barusan saya dengar, AS melalui Menlu Madeleine Albright meminta Pak Harto mengundurkan diri. Saya kira sebagai pikiran rasional saja, dia harus turun dalam tempo yang sesingkat-singkatnya," kata Amien.

Saat dikonfirmasi benarkah telah terjadi pelimpahan kekuasaan kepada wakil presiden pukul 24.00 WIB, Amien mengatakan, dia mendapat kabar itu dari seseorang di pusat pemerintahan. "Dia mengatakan, Pak Amien rupanya apa yang diperjuangkan mahasiswa telah menjadi kenyataan. Dia (Pak Harto) sudah tidak bisa lagi bertahan," katanya.

Orang yang menghubungi Amien itu mengatakan dalam bahasa Inggris, "Mas Amien, most probably, the old man has resigned," katanya.

Jumpa pers selesai pukul 01.55, Kamis (21/5). Amien mengatakan dirinya akan terus mendorong reformasi pada pemerintahan transisi. Dia juga tidak perlu susah-susah duduk di jajaran pemerintahan, jika mereka yang duduk di pemerintahan itu mampu. "Saya akan mengajar saja bersama Pak Syafii Maarif," kata Amien yang juga seorang dosen Fisipol UGM Yogyakarta tersebut. (ush/vik/ely/ast)