Kamis, 21 Mei 1998


Kebangkitan Mahasiswa di "Hari Reformasi Nasional"

Jakarta, Kompas

Peringatan Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei 1998 berlangsung meriah dan istimewa di Gedung DPR/MPR yang dipadati lebih dari 50.000 mahasiswa, Rabu (20/5). Ini merupakan hari kedua mahasiswa menduduki gedung para wakil rakyat tersebut. Meskipun wajah-wajah mereka lelah, namun semangat para mahasiswa untuk mewujudkan reformasi secara menyeluruh tetap menyala. Mereka tetap pada pendiriannya, menuntut Presiden Soeharto mundur dan mendesak diselenggarakannya Sidang Istimewa secepat mungkin.

Kali ini penjagaan di sekeliling gedung DPR maupun di lingkar luar jalan-jalan yang menuju ke arah DPR, superketat. Hal ini berkaitan dengan antisipasi menghadapi aksi damai turun ke jalan menyambut "Hari Reformasi Nasional", yang rencananya akan dipimpin Amien Rais. Meskipun Amien telah membatalkan rencana tersebut melalui siaran RRI dan TVRI pagi hari, namun penjagaan tidak juga diperlonggar.

Seperti juga hari sebelumnya, aksi kali ini melibatkan banyak tokoh masyarakat, di antaranya Amien Rais, Emil Salim, AM Fatwa, Adnan Buyung Nasution, Permadi. Juga hadir simpatisan LSM maupun organisasi kemasyarakatan, dan sejumlah staf kedutaan asing, tokoh-tokoh dari berbagai kalangan dan profesi seperti Dono Warkop, sutradara Garin Nugroho, Neno Warisman, Wimar Witoelar, Matori Abdul Djalil.

Ribuan mahasiswa kini memenuhi hampir seluruh ruang dan lorong-lorong di Gedung DPR. Mereka bergelimpangan tidur di kursi-kursi, lantai beralaskan koran maupun kardus bekas. Suasana di dalam gedung sangat hiruk-pikuk, sementara lantai-lantai penuh dengan onggokan sampah.

Mereka juga secara bergantian terus menaiki atap kubah DPR yang licin dan cukup membahayakan. Redaksi Kompas banyak menerima telepon dari pembaca yang mengkhawatirkan keselamatan para mahasiswa, karena konstruksi kubah tidak dirancang untuk menampung beban seperti itu.

Pertanggungjawaban

Sekitar pukul 11.10 WIB tampil di mimbar bebas antara lain Emil Salim, Deliar Noer, Albert Hasibuan, Erna Witoelar, Wimar Witoelar, Saparinah Sadli, Nursyahbani Katjasungkana.

Deliar Noer di depan puluhan ribu mahasiswa menegaskan agar MPR meminta pertanggungjawaban Presiden Soeharto tentang kemerosotan moral dan ekonomi serta politik selama ini. "Selain itu kami meminta agar semua tahanan politik dibebaskan baik yang sedang dalam proses pengadilan maupun yang sudah divonis," tegas Noer.

Sementara Ketua PP Muhammadiyah Amien Rais datang ke DPR sekitar pukul 11.30 WIB dielu-elukan para mahasiswa. Hanya dia yang dipersilakan masuk kompleks dengan mobil dari pintu utama di Jl Gatot Subroto sampai di samping tempat mimbar bebas. Mobil Kijang milik Rumah Sakit Islam, B-2170-FO yang ditumpanginya dikawal ketat para mahasiswa dengan membuat pagar betis, itu pun membutuhkan waktu sekitar 15 menit untuk tiba di depan pintu masuk utama Gedung MPR/DPR.

Sebelum Amien menyampaikan orasinya, para mahasiswa yang sebelumnya mendengarkan uraian Sophan Sopiaan dan Emil Salim itu dipersilakan dulu makan siang yang disiapkan seksi logistik. Makanan dan minuman tersebut disumbangkan oleh para donatur.

Menurut Amien Rais, perjuangan para mahasiswa yang menuntut reformasi di segala bidang kini sudah mulai menampilkan hasil. Tetapi walaupun demikian perjuangan masih jauh. "DPR yang selama ini kita anggap banci, sekarang telah menunjukkan DPR yang pemberani," katanya.

Menyinggung soal rencana reshuffle kabinet, ditegaskan oleh Amien bahwa yang sudah menjadi kesepakatan adalah bukan menteri-menteri yang terutama harus turun, tetapi Presiden yang harus segera turun. Sekarang tinggal satu tahapan lagi yaitu bagaimana ABRI menentukan posisinya di antara dua pilihan. Pertama, memihak sebuah keluarga yang jumlahnya mulai dari bapak, anak, mantu, dan cucu yang jumlahnya sekitar 120 orang. Kedua, memihak rakyat yang berjumlah sekitar 202 juta orang.

Amien menandaskan, Presiden Soeharto sudah kehilangan legitimasinya karena rakyat sudah tidak lagi percaya kepadanya, sehingga hari-harinya sudah bisa dihitung. Karena itu, tetap jaga terus persatuan dan kesatuan, jangan mau dipecah-pecah.

Menanggapi pertemuan Presiden dengan sembilan tokoh muslim di Istana Merdeka, Amien menyatakan, hal itu me-rupakan tindakan mengada-ada karena tidak ada tokoh agama lain yang diajak. "Saya kha-watir, muslim diadu dengan nonmuslim. Negara ini bukan negara militer, bukan negara rasialis, bukan milik keluarga," katanya.

Mulai berkurang

Sekitar pukul 18.30 WIB kemacetan sempat terjadi di sekitar gerbang belakang Gedung DPR/MPR. Ratusan mahasiswa yang tidak kebagian bus memilih berjalan kaki menuju Blok M, Jakarta Selatan.

Mereka membentuk barisan panjang, bernyanyi-nyanyi seraya mengibarkan Bendera Merah Putih. Di sekitar pintu selatan Stadion Utama Senayan kelompok ini memecah diri menjadi dua kelompok, namun sesampai di pertigaan Jl Pintu I dan Plaza Senayan mereka dicegat aparat keamanan.

Tetapi petugas berusaha mencegah rombongan mahasiswa maju melintas di Plaza Senayan. Beberapa Metromini yang kebetulan datang dari arah Blok M menuju Tanah Abang akhirnya dipaksa menurunkan penumpangnya dan diharuskan mengantar mahasiswa ke terminal Blok M.

Di "alun-alun" DPR, semangat reformasi, "Tragedi di Trisakti", kerusuhan dan penjarahan di Jakarta tanggal 14 Mei, ternyata juga langsung mengilhami musikus untuk menggubah lagu. Ireng Maulana yang juga tampil dalam mimbar bebas sore hari memperkenalkan dua lagu barunya, Mari Mengungkap Rasa dan Tiada Tara, yang dinyanyikan oleh anaknya nomor tiga, Anna Andrea Maulana. Kedua lagu tersebut rencananya akan dikasetkan.

Lagu pertama yang ia ciptakan Mari Mengungkap Rasa, liriknya *Setelah sekian tahun/Kututup mulutku/Kuredam cintaku/Kumenangisi kenyataan/Di depan mataku **Setelah sekian lama/Hatiku terkungkung/Rasaku terkungkung/Kubuka jendela/ Kulihat cahaya. Ref: Oh... Mari mengungkap rasa/Dengan jujur dan dewasa/... Yakin ... yakin/Aku, kamu, kita semua/Mari mengungkap rasa/Teguh kukuh dan taqwa/Reformasi total Indonesia.

Dukungan berupa logistik kepada para mahasiswa yang berada di kompleks DPR/MPR, dalam bentuk kecil-kecilan diberikan pula oleh warga masyarakat dari luar pagar. Mereka membeli nasi bungkus dan minuman air mineral dalam kemasan. "Ini ambil, ini ambil... gratis," kata para pedagang kepada mahasiswa yang ada di sekitar situ. Padahal, sebelumnya para pedagang itu menawarkan air mineral dalam botol seharga Rp 1.000. Sedangkan nasi bungkus, diberikan oleh penyumbang dalam kantong-kantong plastik.

Sampai Kamis dini hari, sekitar 2.000 mahasiswa masih bertahan di Gedung DPR. Sempat beberapa kali terjadi ketegangan karena terdengar kabar bahwa barisan mahasiswa ini akan diserbu ratusan barisan pemuda. Namun kabar ini terbukti tidak betul.

Dirusak

Sementara itu Kepala Staf Kodam Jaya Brigjen TNI Sudi Silalahi bersama Wakil Kapolda Metro Jaya Brigjen (Pol) Gunawan meninjau Gedung DPR/MPR yang dirusak oleh pihak yang tidak bertanggung jawab, Rabu sore. Lokasi yang rusak ada di lantai sembilan dan sepuluh, serta ruang paripurna. Di kedua lantai itu, barang yang dirusak adalah sejumlah arsip berharga, sedangkan di ruang paripurna sebuah kaca jendela yang jebol.

Seusai peninjauan, Brigjen TNI Sudi Silalahi memperkirakan adanya pihak-pihak yang melakukan penyusupan. Kalau gerakan moral dan intelektual mahasiswa, tentu dilihat secara positif. Tetapi nyatanya ada yang melakukan perusakan, yang tidak mencerminkan perilaku mahasiswa. Jadi, bukan dilakukan oleh mahasiswa.

"Kami mengharapkan agar gedung ini dijaga dengan baik. Mahasiswa diminta untuk menjaganya dengan melakukan pengamanan swakarsa," pinta Silalahi. (myr/vik/iie/ush/ast/wis/bw/ds/bre/ken/ssd)