Rabu, 20 Mei 1998


Selamat Tidur di Gedung DPR/MPR...

SELAMAT tidur di Gedung DPR/MPR. Kata ini kiranya pantas diucapkan kalau melihat atmosfir gedung megah dengan atap berbentuk kubah itu sampai petang hari kemarin. Puluhan ribu mahasiswa menguasai kompleks ini dari pintu gerbang, pelatarannya yang mahaluas, ruang-ruang dalam gedung, bahkan sampai di atas atap. Puluhan ribu mahasiswa itu masih ditambah lagi ratusan aktivis, wartawan dari dalam dan luar negeri, pihak-pihak kedutaan asing, dan lain-lain. Semuanya seperti ingin menjadi saksi dari peristiwa yang mungkin hanya terjadi sekali ini dalam 32 tahun.

Para anggota dewan yang terhormat, yang biasanya keluar-masuk gedung dengan gagah perkasa sambil menunjukkan tanda dan atribut keanggotaan dewan, kemarin harus "menyamar" agar tak kelihatan sebagai anggota dewan yang terhormat. Sore hari sehabis rapat fraksi-fraksi, mahasiswa yang tidak puas dengan hasil rapat itu menyerukan dari pengeras suara, agar semua pintu gerbang diblokir dan jangan dibiarkan satu anggota dewan pun lolos keluar.

Beberapa mobil anggota dewan yang terhormat mencoba lewat gerbang belakang. Tapi di situ beberapa mahasiswa sudah menunggu, meminta mobil-mobil bagus dengan anggota-anggota terhormat yang berbusana juga bagus belok masuk lagi.

"Reformasi belum selesai Pak, jangan pulang dulu," kata mahasiswa.

Sebuah mobil mencoba nekat melaju, dengan anggota dewan yang terhormat duduk di jok belakang: seorang wanita, bertelepon dengan telepon genggam dan di pangkuannya ada beberapa makalah yang dibacanya. Mobil ini juga diminta belok haluan.

"Aduuuh, tante..." ucap seorang mahasiswa mengomentari anggota dewan yang terhormat di dalam mobil itu.

***

KESIAPAN mereka tampaknya: kalau perlu tidur di Gedung DPR/MPR. Corong mikrofon di tempat yang biasanya untuk memanggil mobil mereka ambil alih. Dari situlah seluruh informasi, pernyataan sikap yang mengalir bagi air bah dari berbagai penjuru, ajakan untuk bernyanyi dan lain-lain dikumandangkan.

Beberapa wartawan asing ikut bergoyang dan bertepuk mengikuti beat yang didendangkan mahasiswa. Kompleks Gedung DPR/MPR memang menjadi ajang spanduk, slogan, retorik, dan semacamnya.

Sementara, bantuan logistik dari berbagai kalangan masyarakat terus mengalir. Sesekali, terlihat mahasiswa memanggul karung yang tampaknya berisi beras.

Tengah hari, sekitar 35.000 bungkus nasi yang disiapkan dari berbagai posko lembaga swadaya masyarakat (LSM) dan dikoordinir Suara Ibu Peduli (SIP) dibagikan untuk mereka melalui perwakilan kelompok mahasiswa. Di samping itu, terlihat mobil-mobil mengangkut berdus-dus air mineral.

Menurut Dian dari Yayasan Padamu Negeri yang juga bergabung dalam SIP, bantuan logistik itu di-pool di posko SIP di kawasan Megaria, Cikini, Jakarta Pusat (mengenai posko untuk menampung bantuan logistik ini lihat daftar di bawah). Sebagian besar nasi bungkus hari itu disediakan sendiri oleh ibu-ibu yang dimasak di beberapa tempat, di antaranya di sebuah rumah di bilangan Kalibata, Jakarta Selatan. Seluruh bahan baku berasal dari masyarakat.

***

KALAU melihat ribuan mahasiswa ini, sulit dibayangkan mereka harus dicap "anarkis". Mereka manis-manis, mengambil bagian nasi bungkus sesuai kebutuhan kelompoknya, tak menunjukkan kesangaran dan sikap intimidatif. Mungkin hanya provokasi yang bisa mengubah massa ini menjadi amuk.

Mereka adalah generasi Indonesia kontemporer, yang bisa berteriak "huuu..." begitu mendengar anggota dewan yang terhormat menyebut kata "konstitusional". Apakah berarti mereka punya tendensi "inskonstitusional"? Mungkin, mereka hanyalah bagian dari seluruh rakyat ini, hasil proses depolitisasi selama puluhan tahun, dimana banyak kata dikuasai, ditafsirkan secara tunggal, bahkan dimanipulasi oleh penguasa. Itulah kiranya salah satu penjelasan, mengapa mereka bisa begitu skeptisnya pada kata "konstitusional", serupa tanggapan orang kalau mendengar kata "daripada".

Ciri mereka sebagai bagian Indonesia kontemporer ini juga bisa dilihat bagaimana beberapa mahasiswa terlihat membawa telepon genggam, tidur-tiduran di rumput sambil ber-telepon, yang mahasiswi tak lupa kelihatan mengoleskan lipstik, tas di punggung, dan lain-lain. Kalau Rektor UI suka menggunakan kosa kata "manis", sebetulnya kosa kata itu lebih tepat untuk menggambarkan mahasiswi-mahasiswi ini.

"Apakah kita akan terus melanjutkan reformasi ini?" tanya suara mahasiswa dari pengeras suara.

"Terus..." ribuan mahasiswa menyahut dengan bergemuruh.

"Kalau terus, kami ajak jangan sampai merusak."

Emir, mahasiswa arsitektur Trisakti yang menjadi relawan untuk membagikan nasi bungkus dan minuman mengatakan, persediaan hari itu mencukupi. "Soal jumlah nasi bungkus dan air mineral yang didistribusikan tidak jadi masalah. Pasokannya terus mengalir," katanya.

Petang kemudian tiba. Kom-pleks Gedung DPR/MPR pun kelihatan seperti pasar malam. (cp/ken/bre)

***

Posko-posko yang bisa dihubungi untuk berbagai jenis sumbangan:

1. WALHI, Mampang Prapatan IV, Jl. K. No. 37 Jakarta Selatan. Tlp. 7941672/7942935. Fax. 7985432.

2. LP3ES, Jl. S. Parman 81, Jakarta Barat. Tlp. 5674211. Fax. 5683785.

3. ISJ-Jakarta, Jl. Arus Dalam 1, Cawang, Jakarta Timur. Tlp/Fax. 8094531.

4. Yayasan Padamu Negeri, Jl. Jenggala I, No 4, Jakarta Selatan. Tlp/Fax. 7222439.

5. Bina Desa, Jl. Saleh Abud 18-19, Otista, Jakarta Timur. Tlp/Fax. 8500052.

6. Suara Ibu Peduli, BOR Building (Komp. Megaria), Jl. Pegangsaan Timur 21, Jakarta Pusat. Tlp. 3911230.

7. YLKI, Jl. Pancoran Barat VIII/1 Duren Tiga, Jakarta Selatan. Tlp. 7971378. Fax. 7981038.

8. Solidaritas Perempuan, Jl. Otista III C 7, Cipinang Cempedak, Jakarta Timur. Tlp/Fax. 8193101.

9. LBH Apik, Jl. Radar AURI D-5 No 4, Cimanggis, Jakarta Timur. Tlp. 8725383. Fax. 8726343.

10. LEMKOHI, Jl. Poncol Jaya 50, Tendean, Jakarta Selatan. Tlp/Fax. 5212419.