Rabu, 20 Mei 1998


Puluhan Ribu Mahasiswa "Duduki" DPR

Kompas/ed

Jakarta, Kompas

Puluhan ribu mahasiswa dari puluhan perguruan tinggi di wilayah Jabotabek, Selasa (19/5), "menduduki" gedung DPR/ MPR. Mereka bukan saja memadati pelataran DPR, tapi juga menaiki kubah gedung, memenuhi taman-taman, lorong-lorong maupun ruangan lobi. Ini merupakan demonstrasi terbesar yang pernah dilakukan mahasiswa selama 30 tahun terakhir di Gedung DPR/MPR.

Sampai Rabu dini hari, ribuan mahasiswa masih tetap bertahan di situ. Suasana malam hari mirip pasar malam, karena seluruh mahasiswa secara bersemangat tetap melakukan aksinya lewat orasi, pembacaan puisi dan sebagainya. Di arena ini pun dibangun stan konsumsi yang merupakan sumbangan berbagai pihak yang bersimpati terhadap perjuangan mahasiswa. Sejumlah pengusaha yang tergabung dalam Fosko 66, antara lain menyumbang ribuan nasi bungkus dan satu mobil boks minuman air mineral.

Sementara itu suasana tengah malam di kawasan Thamrin-Sudirman-Silang Monas mulai dipenuhi barikade kawat berduri, ban-ban bekas, dan puluhan panser maupun tank bersama kawalan voorrijder. Panser-panser juga disiagakan, antara lain di seluruh sudut Silang Monas, Jl Ir H Juanda sampai Jalan Veteran. Sementara jalan di depan Istana Merdeka diblokir. Ratusan aparat keamanan juga siap siaga di seluruh kawasan itu. Penjagaan ini kemungkinan untuk mengantisipasi rencana aksi turun ke jalan yang berlangsung di seluruh Indonesia menyambut Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei.

Tuntutan tetap

Berbeda dengan aksi sehari sebelumnya di mana kawasan DPR dijaga ketat aparat keamanan, situasi pengamanan kemarin terasa longgar. Bahkan ojek pun bisa mengantar mahasiswa sampai ke dalam kompleks DPR.

Mahasiswa secara bergelombang mulai memasuki DPR sejak pagi hari. Mereka datang dengan bus-bus carteran maupun bus resmi universitas masing-masing. Karena penjagaan longgar, maka sebagian dari mereka secara leluasa langsung berupaya mendaki puncak kubah gedung DPR. Di sana mereka memasang spanduk panjang yang meminta agar Presiden Soeharto segera mundur dari jabatannya.

Dalam aksi itu, 100 orang lebih mahasiswa Fakultas Kedokteran UI, beserta 30 dokter spesialis, turut berjaga-jaga di sekitar lokasi. Mereka tersebar di seluruh penjuru halaman gedung DPR/MPR dengan membawa 15 mobil Ambulans 118. Kelompok medis yang bersiaga untuk memberikan pertolongan pertama jika terjadi sesuatu dalam aksi mahasiswa itu dikepalai dr Aryono Juned Pusponegoro.

Di samping mahasiswa, sejumlah tokoh tampak hadir berbaur dengan kerumunan massa, seperti pakar hukum tata negara dan anggota Komnas HAM Prof Dr Sri Soemantri, tokoh "Malari" dr Hariman Siregar, Sukmawati Sukarnoputri, Guruh Sukarnoputra, tokoh HAM HJ Princen, Ketua Komite Nasional Indonesia Untuk Reformasi Ny Supeni, Ali Sadikin, Karlina Leksono, mantan Ketua DPR/MPR Kharis Suhud yang dipapah mantan Sesdalopbang Solihin GP. Mereka sempat melakukan dialog dan diskusi dengan para mahasiswa yang berunjuk rasa.

Sempat tegang

Aksi damai puluhan ribu mahasiswa sempat tegang ketika sekitar pukul 10.30 WIB datang sekitar 300 orang dari organisasi Pemuda Pancasila, Forum Putra-Putri Purnawirawan dan ABRI (FKPPI), Panca Marga, Ikatan Pencak Silat Indonesia, ulama Madura, dan Pendekar Banten. Pemuda Pancasila, FKPPI serta Panca Marga menggunakan seragam loren . Mereka dipimpin Ketua Pemuda Pancasila Yapto Sur-yosumarno dan Yorrys Raweyai yang juga anggota MPR.

Mereka tampil berbeda dengan delegasi mahasiswa, karena spanduk yang mereka bawa berisi dukungannya terhadap Presiden Soeharto serta menolak Sidang Istimewa MPR. Saat diterima F-KP DPR, Yorrys dan Yapto juga menyampaikan dukungannya terhadap pernyataan Panglima ABRI, termasuk rencana pembentukan Dewan Reformasi.

Suasana sempat agak tegang karena kubu mahasiswa dan organisasi pemuda ini saling mendekat, sehingga tersisa jarak hanya beberapa meter. Melihat situasi ini, sebuah mobil komando yang dikendarai Komandan Kodim Jakarta Pusat Letkol Inf S Widodo melaju, dan kemudian berhenti membelah kedua kelompok tersebut.

Pada saat genting itu datang pula Letkol Inf Bambang GB, yang menjadi komandan lapangan di Gedung MPR/DPR, mencoba meredakan situasi. Sabam Sirait - mantan anggota DPR - yang berada di situ juga mencoba mengintervensi. Ia mendatangi Yapto dan Yorrys dari Pemuda Pancasila dan sambil menepuk-nepuk Yorrys, ia menanyakan apakah mereka pro-reformasi. Yorrys menjawab bahwa mereka juga pro-reformasi. Mendengar jawaban itu, Sirait mengimbau mereka meninggalkan gedung MPR/DPR.

Sebelumnya, para mahasiswa dan pemuda mencoba mengadakan negosiasi, yang akhirnya tercapai kesepakatan bahwa kedua pihak akan berdemo secara tertib dan tidak saling menyerang. Sekitar pukul 12.00 WIB para pemuda meninggalkan gedung MPR/DPR.

Tuntutan mengalir

Berbagai organisasi kemasyarakatan, pemuda, keagamaan, dan mahasiswa yang berada di gedung maupun di luar gedung DPR/MPR sepakat, agar ABRI bertindak dan berpihak kepada rakyat. Mereka juga tetap mendesak MPR untuk segera mengadakan sidang istimewa agar krisis ekonomi dan politik segera teratasi, dan kepercayaan masyarakat kembali pulih. Selain itu, juga meminta agar tindakan represif terhadap pers, khususnya kepada televisi dan radio swasta dihentikan.

Demikian antara lain benang merah pernyataan dari berbagai organisasi nonkampus, seperti PB Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), PWNU Jawa Barat, Peneliti LIPI, Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), PP Syarikat Islam (SI), PMKRI Cabang Samarinda, PB Pemuda Muslimin Indonesia (PMI), Staf Pengajar Universitas Krisnadwipayana, Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia (PPMI), Pijar Indonesia, Federasi Pilot Indonesia (FPI), Forum Mahasiswa Pascasarjana Universitas Indonesia (Forum Wacana), Universitas Andalas, Alumni Forum Komunikasi Mahasiswa, alumni dan dosen STIE/STIMIK Perbanas, Senat Universitas Kristen Indonesia (UKI), Badan Kerja Sama Perguruan Tinggi Kristen Indonesia (BK-PTKI), Wartawan Indonesia, Solidaritas Profesional Untuk Reformasi (SPUR), dan Satgas Keluarga Mahasiswa ITB.

Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (Kagama) juga menyerukan agar MPR mengadakan Sidang Istimewa sesegera mungkin dengan melihat keadaan yang makin memburuk belakangan ini. "MPR harus segera mengadakan Pemilihan Umum sesegera mungkin untuk memilih Presiden dan Wakil Presiden yang baru," bunyi pernyataan itu.

Forum Wacana UI mengingatkan akan adanya upaya-upaya untuk menggembosi dan merancukan semangat Tan Hana Dharma Mrangwa (Tiada Pengabdian Yang Mendua) yang menjiwai perjuangan mahasiswa Indonesia. Dan juga adanya upaya-upaya untuk mengubah arah gerakan reformasi total dari misi mulia menjamin demokratisasi, berubah menjadi gerakan reformasi yang sempit.

Sedangkan kalangan SPUR yang mengadakan demo di pelataran gedung Bursa Efek Jakarta (BEJ) menuntut reformasi total, terutama agar MPR segera mengadakan Sidang Umum Istimewa. Sedangkan FPI minta kepada pemerintah dan MPR/DPR dapat segera memulihkan stabilitas politik dan mengembalikan keadaan ekonomi, sosial dan budaya sesuai tuntutan zaman atau reformasi modernisasi.

Delegasi peneliti LIPI yang dipimpin Kepala Puslitbang LIPI Mochtar Pabottinggi mewakili 109 peneliti LIPI diterima F-PP DPR. Para peneliti LIPI menuntut pertanggungjawaban Presiden atas segala penyimpangan Orde Baru yang merusakkan sendi-sendi kehidupan politik, ekonomi, hukum dan kemasyarakatan yang membawa bangsa pada situasi seburuk sekarang ini.

Ingat tragedi Trisakti

Direktur Eksekutif Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia Indonesia (PBHI) Hendardi mengatakan, seluruh anggota dan tokoh masyarakat jangan hanyut pada suatu euphoria politik dalam menanggapi pidato presiden, lalu melupakan dengan cepat peristiwa gugurnya para mahasiswa Universitas Trisakti tersebut. Dalam tragedi Trisakti, lima mahasiswa peserta aksi damai tewas diterjang peluru tajam. Menurut PBHI, sejauh ini belum ada penyelidikan dan tindakan hukum yang nyata atas tindakan deliberate and arbitrary killings yang dilakukan para prajurit ABRI kepada para mahasiswa. Dalam aksi mimbar bebas pada siang harinya, Kelompok Perempuan yang dipimpin Ketua Solidaritas Perempuan Taty Krisnawaty juga menyuarakan perlunya masyarakat menolak pernyataan yang dikeluarkan Presiden Soeharto di Istana Negara, karena dinilai tidak aspiratif terhadap tuntutan masyarakat.

Sementara itu, praktisi hukum Amir Syamsuddin mengemukakan bahwa ia melihat pernyataan Presiden Soeharto untuk merampungkan apa yang disebutnya sebagai "reformasi", akan makin menghancurkan ekonomi nasional. Sebab, dalam tenggang waktu setengah tahun saja, aset yang masih tersisa sekarang, akan habis sama sekali. Habisnya sisa-sisa aset ini lantaran krisis ekonomi yang berkepanjangan, sehingga ekonomi nasional praktis macet.

Normatif

Sementara itu Panglima Kodam Jaya, Mayjen TNI Sjafrie Sjamsoeddin mengatakan, aksi mahasiswa yang tumpah di gedung DPR/MPR, disikapi secara normatif, sepanjang memenuhi rambu-rambu yang ditentukan. Untuk itu, dia mengimbau agar tetap memelihara nama baik lembaga tersebut dan kedaulatannya.

Hal itu dikatakan Sjafrie di sela-sela apel siaga pasukan pengamanan di Senayan, Jakarta Pusat. Hadir pula Panglima Kostrad Letjen TNI Prabowo, Panglima Komando Armada Barat Laksamana Muda TNI Mudjito, Panglima Komando Operasi TNI AU I Marsekal Muda TNI Abdullah Syirat, Komandan Korps Marinir Mayjen TNI (Mar) Suharto, Komandan Jenderal Kopassus Mayjen TNI Muchdi PR, yang masing-masing memberikan pengarahan kepada pasukan.

Ketika ditanya tentang tidak adanya pasukan pengamanan di sekitar gedung DPR, Sjafrie mengatakan, tanggung jawab pengamanan itu adalah tanggung jawab seluruh bangsa, karena itulah kondisi itu dipelihara. "Itu merupakan perwujudan bahwa ABRI percaya lembaga itu dijaga oleh kita se-kalian dengan baik, sesuai ketentuan dan tata tertib yang berlaku di lingkungan lembaga itu," ka-tanya. Sementara menjawab pertanyaan tentang rencana aksi besar-besaran tanggal 20 Mei, dia mengatakan, "Kami mengantisipasi dengan satu manajemen operasional, saya imbau agar masyarakat memperhatikan persatuan dan kesatuan. Marilah kita saling menghormati. Hormatilah tugas kami, dan kami akan menghormati kepentingan masyarakat," katanya. (ast/myr/ama/ush/bw/ff/boy/ken/wis/jl/dis/gun/vik/iie)