Rabu, 20 Mei 1998


Mahasiswa Duduki RRI, Siarkan "Siaran Mahasiswa"

Jakarta, Kompas

Setelah Gedung DPRD I Sumbar diduduki ribuan mahasiswa beberapa waktu lalu, kini giliran Gedung Radio Republik Indonesia (RRI) Regional Padang diduduki sedikitnya 2.000 mahasiswa Sumatera Barat, Selasa (19/5), sekitar pukul 11.00 WIB, tanpa tindakan kekerasan dan perusakan.

Para mahasiswa mendesak Kepala RRI Regional Padang, HS Hutabarat, untuk menyiarkan lima kali sehari "Siaran Mahasiswa". Permintaan mahasiswa tersebut akhirnya dipenuhi. Jadwal penyiaran yang disepakati adalah pukul 06.00 WIB, 10.00 WIB, 14.30 WIB, 17.00 WIB, dan 19.30 WIB.

"Siaran Mahasiswa" Sumatera Barat itu pada intinya menegaskan bahwa perjuangan reformasi yang diprakarsai oleh mahasiswa sedikit pun tidak ada niat untuk menyengsarakan masyarakat luas. Misalnya terancamnya keamanan masyarakat, terjadinya pencurian, penjarahan, perampokan, pembakaran, penculikan dan penembakan. Sebab itu bukan merupakan bagian dari perjuangan reformasi. Perjuangan reformasi tetap berpihak kepada kepentingan rakyat.

Dalam dua lembaran pernyataan mahasiswa yang harus disiarkan utuh melalui RRI Padang itu, mahasiswa Sumbar mengingatkan dan mengimbau masyarakat antara lain, bahwa mahasiswa antikekerasan dan kerusuhan; perjuangan reformasi ini adalah memperjuangkan dan mengembalikan kedaulatan rakyat menuju ke arah yang lebih baik; menyambut baik niat Presiden Soeharto untuk mengundurkan diri sebagai Mandataris DPR, untuk meminta MPR mengadakan sidang istimewa guna meminta pertanggungjawaban Presiden/ Mandataris untuk terlaksananya pergantian pimpinan nasional secepat mungkin.

"Pendudukan" RRI juga dilakukan ratusan mahasiswa di Semarang. Namun niat untuk melakukan siaran langsung itu tak terlaksana dan massa kembali ke halaman Kantor Pemda Jateng. Menurut mahasiswa, aksi ini akan terus berlangsung hingga Rabu (20/5) dengan aksi Mogok Nasional. Menurut rencana mahasiswa akan menggelar aksi mogok nasional di Simpanglima Semarang. Semua peserta bergerak dari kampus masing-masing melakukan jalan kaki hingga lapangan Simpanglima.

Menurut keterangan yang diperoleh Kompas, aksi mogok tidak hanya diikuti mahasiswa, tapi juga berbagai organisasi kemasyarakatan. Di lingkungan kampus misalnya, seluruh civitas academica dan organisasi lain di lingkungan kampus ikut serta. Untuk keperluan itu, Rektorat Undip menyiapkan pusat informasi dan krisis center.

Tetap berlanjut

Dari Surabaya dilaporkan, kampus Stiesa Surabaya dibanjiri sekitar 30 ribu mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi. Dari berbagai spanduk dan orasi yang dibacakan, mahasiswa tetap menyuarakan agar Presiden Soeharto mundur.

Ribuan pelajar dan masyarakat umum melakukan konvoi di jalan-jalan Surabaya. Nyaris terjadi insiden antara massa demonstran dengan pasukan Banser Ansor di depan Grahadi. Atas perintah Ketua DPW Ansor Jatim Chairul Anam, pasukan Banser menurunkan spanduk dan membakarnya. Ini mengundang protes massa demonstran. Insiden itu tidak membesar setelah aparat keamanan melerai dan melarang Banser melakukan hal serupa lagi.

Sementara itu lebih dari 5.000 buruh pabrik yang berasal dari Mojokerto, Pasuruan, Gresik, Sidoarjo, dan Surabaya berkumpul di gedung sekretariat Federasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia cabang Jawa Timur, di Surabaya. Akibat berkumpulnya para buruh di kantor FSPSI tersebut, Jalan Besuki Rahmat macet total. Kemacetan bahkan telah terasa sejak di Jalan Raya Darmo. Para buruh pabrik tersebut menyampaikan aspirasi mereka yakni ingin segera dilakukannya reformasi total, agar kehidupan mereka semakin baik.

Pimpinan agama Jatim menggelar "Doa Reformasi" bersama Gubernur Basofi Soedirman di gedung Grahadi. Hadir dalam "Doa Reformasi" itu KH Imron Hamzah (Islam), Mgr Pandoyo Putro OCarm (Katolik), Pendeta Wismoady Wahono (Protestan), Wayan Suwarna (Hindu), Bingky Irawan (Konghucu) dan Djoko Soemono (Aliran Kepercayaan).

Kelompok aktivis PDI Pro- Megawati yang tergabung dalam AMPR (Aktivis Megawati Pro-Reformasi) di Surabaya mengungkapkan, pihaknya merasakan adanya sinyalemen bahwa massa PDI hendak dikambinghitamkan terhadap terjadinya aksi kerusuhan. AMPR menegaskan, massa PDI mengutuk para pelaku kerusuhan.

Di Ponorogo, gelombang tuntutan reformasi di segala bidang serta pelaksanaan Sidang Istimewa MPR makin gencar. Ribuan mahasiswa se-Ponorogo, Jawa Timur yang dikoordinir oleh HMI dan KAHMI, dengan menggunakan truk mendatangi Gedung DPRD Ponorogo dengan kawalan petugas keamanan. Aksi turun jalan itu berlangsung tertib, namun demikian sejumlah toko terpaksa tutup. Aksi damai itu berangkat dari kantor Sekretariat HMI. Kehadiran mereka untuk mendesak Ketua DPRD Ponorogo Sutomo agar wakil rakyat segera melaksanakan Sidang Istimewa MPR.

Gerakan pejuang reformasi itu juga menggelar sembilan tuntutan, antara lain, mendesak agar Presiden Soeharto turun dari jabatan, segera melaksanakan reformasi segala bidang, ABRI harus kembali kepada rakyat, pembungkaman media massa agar diakhiri.

Di Kupang, ratusan mahasiswa se-kota Kupang di NTT melakukan aksi damai. Ketika mendatangi kantor DPRD I NTT di Jalan El Tari, mereka membawa serta belasan spanduk yang salah satu di antaranya meminta agar Presiden Soeharto turun.

DPRD "bayangan"

Di Jambi, sekitar 3.000 mahasiswa Universitas Jambi (Unja) hari Selasa mengadakan pagelaran Sidang Peleno Terbuka DPRD, oleh Mahasiswa Tk I Jambi, menirukan sidang pleno yang dilaksanakan DPRD di halaman Gedung DPRD Propinsi Jambi.

Para mahasiswa itu mengadakan long march dengan tertib ke DPRD usai melakukan mimbar bebas di halaman Kampus Unja di Telanaipura yang berlangsung dari sekitar pukul 08.00 hingga pukul 10.30. Saat melakukan long march mahasiswa didampingi sejumlah dosen dan Purek III Unja, Drs Rasman Adiwijaya.

Mahasiswa yang mengikuti sidang pleno itu duduk dengan tertib. Sementara, Ketua DPRD Propinsi Jambi, M Chaerun, Wakil Ketua AK Juwaini, Ketua Komisi A GM Noor serta sejumlah anggota lainnya turut menyaksikan. Aparat keamanan mengawasi dan membentuk barikade di depan pintu masuk gedung. Usai sidang, seluruh peserta aksi kembali ke kampus dengan tertib kemudian membubarkan diri.

Forum Komunikasi Senat Mahasiswa Medan (FKSMM) yang terdiri dari Senat IAIN Sumut, Universitas Sumatera Utara (USU), Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU), IKIP Medan, Universitas Medan Area (UMA), Akademi Maritim Indonesia (AMI), dan Universitas Panca Budi, mendukung kebijakan pimpinan MPR/DPR yang meminta mandataris mengundurkan diri. Hal senada juga dikemukakan aktivis Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Cabang Medan saat berdelegasi ke DPRD Sumut.

Secara terpisah Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Sumut juga menyampaikan pernyataan sikap yang sama di kampus USU. Pernyataan yang ditandatangani oleh Koordinator KAMMI Sumut Ikrimah Hamidi dengan tegas mendukung Ketua PP Muhammadiyah Dr M Amien Rais sebagai kandidat presiden.

Di Ambon, kondisi Kamtibmas selama dua hari cukup menegangkan. Hari Selasa di setiap pojok persimpangan jalan dan lokasi strategis seperti kompleks pertokoan dijaga aparat keamanan bersenjata.

Di Banda Aceh, aksi mahasiswa hanya di DPRD Aceh. Ratusan anggota HMI berjalan kaki dari Sekretariat mereka di Lamnyong ke DPRD (4 km) untuk menyampaikan tuntutan reformasi. Di DPRD mereka juga sembahyang dan tahlilan untuk para korban "Tragedi Trisakti". (nal/hh/ans/tif/dth/eta/arn/ano/ody/nat/smn/edu/nj)