Rabu, 20 Mei 1998


Aparat Bubarkan Aksi Mahasiswa di Surabaya

* 21 Mahasiswa dan Seorang Petugas Terluka

Surabaya, Kompas

Tercatat 21 orang mahasiswa dan seorang anggota aparat keamanan menderita luka-luka, ketika demonstrasi sekitar 200 mahasiswa Universitas Airlangga Pro-Reformasi (MUPR) di Jl Dharmawangsa dibubarkan aparat keamanan, Selasa (19/5).

Para mahasiswa itu mengalami luka-luka, ketika dua truk militer menyeruduk kerumunan mahasiswa yang tengah melakukan aksi duduk di salah satu sisi jalan. Dua di antara mahasiswa yang terluka adalah petugas palang merah (MRU-Medical Rescue Unit), yang tengah menyertai rombongan aksi itu.

Kapolresta Surabaya Timur Letkol (Pol) Oegroseno yang datang ke IRD (Instalasi Rawat Darurat) RS Dr Soetomo membenarkan, ada 21 orang mahasiswa terluka. Seorang aparat keamanan juga terluka karena dagunya membentur aspal lantaran terjatuh dari truk yang membawanya untuk membubarkan aksi mahasiswa.

Staf IRD dr Yudhayana yang selama ini memimpin kegiatan Medical Rescue Unit aksi-aksi mahasiswa menegaskan, seluruh mahasiswa yang terluka bisa dipulangkan, kecuali beberapa yang perlu rawat inap. Sumber di lingkungan IRD menyebut, seorang mahasiswa mengalami pendarahan kepala, sehingga harus dioperasi.

Protes

Yudhayana menyampaikan protesnya kepada Oegroseno, karena ternyata aparat keamanan ikut memukuli petugas MRU yang sudah jelas-jelas menggunakan identitas palang merah berupa kain ditempel di dada dan punggung seukuran 30 x 30 cm, serta membawa tandu. "Kami sudah bersepakat dengan Polda Jatim bahwa MRU adalah petugas medis dan justru harus dilindungi," tegasnya kepada Oegroseno.

Peristiwanya terjadi pukul 13.30 WIB, ketika massa mahasiswa sekitar 200 orang berjalan keluar kampus hendak mengelilingi Jl Dharmawangsa, memutari kompleks RSUD Dr Soetomo dan masuk lagi ke kampus. Rute ini sudah berulang kali ditempuh oleh aksi-aksi mahasiswa sebelumnya. Petugas keamanan yang segera berdatangan meminta mahasiswa kembali ke kampus.

Sementara itu, 59 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi swasta di Bekasi mendatangi Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kotamadya Bekasi, hari Selasa. Selain menyampaikan tuntutan reformasi politik, mahasiwa juga menyampaikan tujuh tuntutan berkaitan dengan keadaan Bekasi. Antara lain penanggulangan pemutusan hubungan kerja (PHK), penghapusan tempat prostitusi dan sebagainya. (ano/ody/im)

***

Kronologi Peristiwa Pembubaran
Aksi Mahasiswa Unair hari Selasa (19/5)

Pukul 13.00 - 13.30 WIB

Massa mahasiswa berkumpul di depan Rektorat Unair, sekitar 200 orang. Mereka berarakan ke arah pintu gerbang sebelah barat kampus, menuju ke Jl Dharmawangsa berjalan kaki lewat Jl Prof Dr Moestopo, Jl Karangmenjangan, kembali ke kampus Unair sekitar 1,5 km

13.30 - 13.45 WIB

Ketika massa berada di Jl Dharmawangsa, sudah dihadang aparat keamanan. Mereka diminta kembali ke kampus. Mahasiswa menolak, lalu pimpinan petugas keamanan dari militer meninggalkan tempat.

13.45 - 14.45 WIB

Massa mahasiswa kembali bergerak, pimpinan demonstrasi menggiring mahasiswa ke kanan jalan, mendekati pagar RS Dr Soetomo. Aparat keamanan sebanyak 20 orang dengan pentungan dan bersenjata menghalang-halangi mahasiswa. Pimpinan demonstrasi meminta massa mahasiswa duduk di jalan.

14.45 - 15.30 WIB

Massa mengikuti komando duduk di jalan raya. Lalu sekelompok petugas bersepeda motor trail kuning, bersenjata lengkap memutar-mutar trailnya di dekat kerumunan mahasiswa. Tiba-tiba dua truk militer berjalan zig-zag melawan arus lalu lintas, menuju ke arah mahasiswa. Truk itu menyeruduk mahasiswa dengan kecepatan tinggi. Mahasiswa seketika kocar-kacir menyelamatkan diri. Dari dalam truk bermunculan puluhan petugas keamanan membawa pentungan dan bersenapan memukuli mahasiswa, termasuk warga masyarakat dan pedagang kaki lima di depan RS Dr Soetomo.

16.00 WIB

Sebanyak 21 mahasiswa yang terluka akibat terjangan truk tersebut dibawa ke gawat darurat RSUD DR Soetomo. Sementara puluhan petugas keamanan dalam truk-truk masih berjaga-jaga. Lalu lintas kembali normal.