Selasa, 19 Mei 1998


Presiden Tanggapi dengan Tegar

Jakarta, Kompas

Presiden Soeharto menanggapi imbauan untuk mengundurkan diri dengan baik, tegar, dan tenang. Bahkan, Kepala Negara menegaskan akan menjawab sendiri persoalan itu. Pandangan itu disampaikan Mendagri Hartono, Ka Bakin Letjen TNI (Purn) Moetojib, dan Menko Polkam Feisal Tanjung secara terpisah usai diterima Presiden Soeharto di kediaman Jalan Cendana, Senin (18/5) malam.

"Beliau itu seorang negarawan, seorang prajurit, ya tentu (menghadapinya) dengan wajah yang tegar. Saya kira kita semua tahu Pak Harto. Kalau memang suatu keputusan Majelis untuk Sidang Istimewa, ya sebagai prajurit, sebagai negarawan, dan sebagai warga negara, itu keputusan rakyat. Tapi sekarang pertanyaannya, sejauh mana keputusan rakyat itu, tergantung... Apakah ini akan sampai pada Sidang Istimewa, kita lihat, karena Sidang Istimewa 'kan sidangnya rakyat yang diwakili oleh anggota MPR," kata Mendagri Hartono.

"Saya lihat beliau tenang sekali. Beliau mengatakan, kalau ada seperti itu, ya sudah. Jadi, ya, nanti saya jawab besok saja," ujar Ka Bakin Moetojib. Sementara itu, dengan sangat singkat Menko Polkam Feisal Tanjung mengatakan, "Baik." Menko Polkam sekaligus menegaskan, tidak ada perpecahan dalam tubuh ABRI. "ABRI tetap solid. Tidak pecah," tegas Menko Polkam langsung masuk ke mobil.

Lebih lanjut Mendagri Hartono mengatakan, pihaknya bertanya-tanya dengan munculnya pernyataan Ketua DPR/MPR Harmoko yang mengimbau Presiden Soeharto untuk turun. "Saya cuma bertanya-tanya, sesuai dengan undang-undang, Presiden tidak bisa menjatuhkan DPR dan DPR tidak bisa menjatuhkan Presiden," kata Hartono.

"Sehingga kalau ada pernyataan begitu, walaupun kalimatnya menyebut mengimbau, mengharapkan, ya sekarang kapan mereka akan bertemu Bapak Presiden, kita tunggu saja bagaimana sikap beliau," ujar Mendagri. Ia mengingatkan kembali, adanya kesepakatan bahwa seluruhnya harus berangkat dari konstitusi. Karena itu, seorang Presiden hanya bisa diminta atau disuruh mundur melalui Sidang Umum atau Sidang Istimewa MPR.

Bertemu berbagai pihak

Dari sore hingga malam, Presiden Soeharto bertemu dengan berbagai pihak di kediaman Jalan Cendana. Di petang hari, dalam waktu yang hampir bersamaan, Kepala Negara menerima Mendagri Hartono, Menhankam/ Pangab Jenderal TNI Wiranto, dan Pangkostrad Letjen TNI Prabowo Subianto. Sesaat kemudian hadir KSAD Jenderal TNI Subagyo Hadisiswoyo. Sementara itu, terdengar pula suara helikopter yang berputar-putar dan melintas sangat rendah.

Satu per satu para pembantu Presiden itu keluar. Diawali Mendagri Hartono. Beberapa saat kemudian Menhankam/-Pangab Wiranto beserta KSAD Subagyo, dan Prabowo. Tanpa memberi keterangan sepatah kata pun, mereka langsung me-nuju ke mobil masing-masing. Beberapa saat sebelumnya, hadir Mensesneg Saadillah Mursjid.

Tepat pukul 18.49 WIB, Presiden Soeharto menerima Wakil Presiden BJ Habibie. Wapres yang biasa ramah dengan wartawan, kali ini tampak lebih serius. Wapres meninggalkan Cendana pukul 19.20 WIB. Pada saat itu, secara berurutan hadir mantan Menko Kesra Azwar Anas, Ka Bakin Moetojib, Menko Polkam Feisal Tanjung, Menko Wasbang dan PAN Hartarto, Menko Ekuin/Kepala Bappenas Ginandjar Kartasasmita, dan Menko Kesra dan Taskin Haryono Suyono.

Namun, beberapa saat kemudian Azwar Anas meninggalkan tempat, yang disusul Ka Bakin Moetojib. Sekitar pukul 20.30 WIB, keempat Menko pun meninggalkan tempat. Namun tak satu pun dari mereka yang bersedia memberikan keterangan. "Kami hanya laporan biasa soal kemiskinan," kata Haryono Suyono langsung menuju mobil. Hanya Mensesneg Saadillah Mursjid yang hingga pukul 22.30 WIB belum meninggalkan kediaman Presiden di Jalan Cendana. (rie)