Selasa, 19 Mei 1998


Menpora Agung Laksono:

Gerakan Moral Murni Mahasiswa Dinodai

Jakarta, Kompas

Akibat memanasnya suhu politik dan kenaikan harga BBM, gerakan moral murni mahasiswa di kampus, dinodai oleh adanya gerakan sekelompok orang yang tidak bertanggung jawab, sehingga jatuh korban di Universitas Trisakti dan terjadi kerusuhan, penjarahan, pembakaran, anarki yang tidak dapat dibendung, serta telah menelan ratusan korban jiwa dan kerugian trilyunan rupiah.

Demikian Menteri Negara Pemuda dan Olahraga Agung Laksono pada pembukaan Simposium Lintas Sektor Masalah Remaja dan Pemuda sebagai masukan bagi penyusunan Repelita VII di Gedung Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) di Jakarta, Senin (18/5).

"Kita menyadari bahwa seluruh aktivitas yang dilakukan oleh para mahasiswa di kampus-kampus, dalam menuntut reformasi di bidang politik, ekonomi dan hukum, adalah pencerminan dari aspirasi rakyat yang pada saat ini sedang mengalami krisis," ujar Agung Laksono.

Dikatakan, para mahasiswa dan pemuda menginginkan perubahan dan perbaikan segera, akibat krisis ekonomi yang semakin berat dan sulit. Ketidakmampuan untuk membayar uang kuliah, pembeli buku, pembayaran sewa tempat tinggal, termasuk mahalnya harga makanan dan transportasi, da-lam kehidupan sehari-hari mereka, pada kenyataannya merupakan hal mendasar yang me-micu agresivitas dan kevokalan mereka untuk menuntut pemerintah mengambil langkah-langkah yang tepat dan segera.

Menurut Agung Laksono, kerusuhan pekan lalu di Jakarta telah menjatuhkan reputasi bangsa Indonesia di mata internasional, yang berdampak pada semakin buruknya krisis ekonomi yang harus kita alami. Sebagian besar pelaku dari kekacauan dan kerusuhan tersebut adalah generasi muda, khususnya para remaja dan pemuda.

"Mereka dengan histeria dan brutalnya melakukan perusakan, penjarahan, perampokan dan pembakaran, tanpa perasaan, tanpa merasa berdosa dan seolah-olah kehilangan akal sehat dan akhlaknya. Terlepas ada atau tidaknya penggerak kelompok masyarakat yang memanfaatkan momentum ini, kondisi generasi muda ini harus mencambuk kita untuk lebih memberikan perhatian dan dukungan bagi upaya pembinaan dan pemberdayaannya," kata Agung Laksono.

Ia melihat anggaran pembangunan generasi muda atau kepemudaan pada berbagai sektor selama Pelita VI terlalu kecil, yaitu hanya sebesar sekitar Rp 145 milyar untuk kurang lebih 70 juta pemuda berusia 15-35 tahun. Artinya hanya tersedia Rp 2.000/orang/5 tahun atau Rp 400/orang/tahun. Diusulkan, anggaran pembangunan generasi muda diperbesar menjadi lebih dari 1 persen dari total APBN.

Sementara itu Dr Riwanto Tirtosudarmo, peneliti kependudukan dan tenaga kerja LIPI kepada Kompas menyatakan, diskursus yang menuding para remaja dan pemuda sebagai penjarah dalam kerusuhan pekan lalu harus diluruskan. Agresivitas mereka bisa saja merupakan manifestasi dari kondisi sosial, ekonomi dan politik yang selama ini dirasakan sudah kelewat menghimpit. Pembangunan yang menekankan pada stabilitas politik dan pertumbuhan ekonomi te-lah menimbulkan kesenjangan kaya-miskin kian lebar akibat buruknya pemerataan. (ij)