Kompas Online


Senin, 18 Mei 1998


Kesenjangan Sosial, Ekonomi, dan Politik

ANALISIS KWIK KIAN GIE

Semuanya sepakat bahwa apa yang terjadi di Tanah Air, terutama di Jakarta, dengan dan setelah gugurnya beberapa mahasiswa Universitas Trisakti, para anggota aparat keamanan, dan anggota masyarakat, termasuk kaum miskin yang melakukan penjarahan, sangat memilukan, mencemaskan, menyedihkan, mengerikan, menakutkan, dan seterusnya. Apakah kesemuanya ini masih kurang dan masih akan terjadi peristiwa-peristiwa destruktif yang lebih hebat lagi di hari-hari mendatang?

Kita tidak tahu. Yang jelas ialah betapa pendeknya ingatan kita, dan betapa besar kesenjangan antara kemampuan berpikir dan kemampuan berbuat. Sudah sejak sangat lama kita mendengar para pemimpin kita mengatakan bahwa apabila kesenjangan sosial, lebarnya jurang antara kaya dan miskin tidak diatasi secepat mungkin, niscaya akan terjadi ledakan sosial, kerusuhan, keonaran, chaos. Anehnya, setelah terus- menerus mengucapkan kalimat-kalimat tersebut, perbuatan nyata untuk mengurangi atau menghapus tidak ada. Sebaliknya, ketika ada yang mengingatkan tajamnya kesenjangan antara kekayaan dan pola serta gaya hidup orang-orang kaya dan rakyat miskin di belakang hotel-hotel mewah di Jakarta, dikatakan supaya jangan berbicara tentang pemerataan kalau produk domestik bruto masih rendah. Pasalnya, kalau secara agregat masih miskin sudah berpikir tentang pemerataan, yang diratakan hanya kemiskinannya saja. Memang yang mengatakan demikian konsisten. Karena ketika pendapatan nasional per kapita melampaui 1.000 dollar AS, banyak pikiran, gagasan, dan program pemerataan dilontarkan. Tetapi sayangnya terlambat. Proses pemupukan kekayaan oleh sekelompok kecil manusia berlangsung terlampau lama, sehingga sebelum proses pembagian kuenya diatur secara tertib melalui mekanisme pengurusan negara yang "konstitusional", rakyat sudah tidak kuat menahan dan sudah tidak sabar lagi.

Yang sangat tragis ialah adanya kelompok orang yang sejak awal sudah menentang strategi pembangunan yang membuat kaya sekelompok kecil pengusaha terlebih dahulu, baru melakukan pemerataan. Disebutlah beberapa negara sebagai contoh, bahwa di sana bisa membangun sambil merata, sedangkan pertumbuhannya lebih cepat. Tetapi tidak ada yang menggubris. Lebih tragis lagi untuk kelompok ini adalah bahwa yang menyuarakan "kaya dulu oleh sekelompok kecil, baru pemerataan", sekarang yang paling nyaring bersuara kita perlu reformasi total.

Saya menjadi bingung. Kita sekarang sudah jatuh miskin kembali. Dengan nilai rupiah yang merosot menjadi demikian rendahnya, pendapatan nasional per kapita menjadi sekitar 300 dollar AS lagi, yang mungkin akan menurun lagi di bulan-bulan mendatang. Lantas bagaimana strateginya sekarang? Kita ulangi lagi, yaitu membentuk kelompok elite baru yang terdiri atas sedikit orang yang harus menjadi lokomotif pembangunan? Dan kalau mereka sudah menjadi sangat kaya raya seiring dengan pertumbuhan ekonomi yang agregat dan bisa terjadi tanpa pemerataan dan keadilan itu, barulah kita berpikir pemerataan?

Akankah kita ulangi strategi itu, atau kita pikirkan strategi yang mulai dari memberikan kesempatan berusaha yang sama, merata dan adil buat siapa saja? Mungkin yang terakhir ini yang akan kita tempuh, karena strategi "senjang dulu, asalkan kaya, dan barulah pemerataan", ternyata gagal. Alangkah mahalnya biaya yang harus kita bayar. Banyak yang bisa saya kemukakan tentang betapa besar kerugian yang kita derita. Tetapi satu saja. Semua yang kita lihat hampir sebagian besar dibiayai oleh utang luar negeri yang dalam dollar. Sekarang dibakar habis, tetapi utangnya masih menganga, dan masih dalam dollar yang nilainya sudah melonjak empat kali lipat. Belum lagi kerugian akhlak, moral dan nilai, karena anak-anak berusia belasan tahun menjarah, merampas barang orang lain bagaikan pesta pora. Seluruh dunia menyaksikannya melalui siaran TV internasional.

Orang yang terkena jarah, rampok, pembakaran terkejut, takut, cemas, marah dan menangis. Sedikit yang berpikir dengan tenang dan mendalam, mengapa bisa terjadi seperti ini? Mengapa rakyat Indonesia yang lemah lembut itu bisa menjadi penjarah dengan suasana yang pesta pora?

***

SAYA menyempatkan waktu merekam apa yang ada di benak mereka. Ternyata beragam. Sebagian karena lapar. Sebagian mengatakan karena seumur hidupnya hanya dapat menyaksikan the haves berbelanja sambil ngiler dan membawakan barang belanjaan mereka. Sekonyong-konyong bisa mengambil barang-barang tanpa bayar. Sebagian lagi mengatakan seumur hidupnya tidak pernah memiliki televisi, VCR dan lain-lain, dan sekarang sekonyong-konyong bisa dapat gratis. Ada yang mendongkel pintu, membuka jalan, dan membiarkan massa menjarah. Dia sendiri tidak mengambil apa-apa. Dia mengatakan, "saya sudah lama muak menyaksikan betapa arogan dan keterlaluannya pola hidup mereka di tengah-tengah pemukiman yang kumuh di Jakarta". Apakah dia penjahat, ataukah ada idealisme di benaknya, yang memang salah kaprah penyalurannya? Apakah mereka penjahat, ataukah ini yang kita katakan kesenjangan sosial?

Saya tertegun, tenggorokan saya agak tersumbat ketika mendengarkan syair Rendra yang dibacakannya sendiri di lantai 12 gedung rektorat Universitas Trisakti pada hari berkabung tanggal 13 Mei 1998. Maka segera saya hampiri dia dan mohon diperkenankan memasyarakatkannya. Langsung dikirimkannya melalui faksimili kepada saya. Terima kasih Bung Rendra. Demikianlah bunyinya:

Karena kami makan akar

dan terigu menumpuk di gudangmu...

karena kami hidup berhimpitan

dan ruangmu berlebihan...

maka kita bukan sekutu.

Karena kami kucel

dan kamu gemerlapan...

Karena kami sumpek

dan kamu mengunci pintu...

maka kami mencurigaimu.

Karena kami terlantar di jalan

dan kamu memiliki semua keteduhan...

Karena kami kebanjiran

dan kamu berpesta di kapal pesiar...

maka kami tidak menyukaimu.

Karena kami dibungkam

dan kamu nrocos bicara...

Karena kami diancam

dan kamu memaksakan kekuasaan...

maka kami bilang TIDAK kepadamu.

Karena kami tidak boleh memilih

dan kamu bebas berencana...

Karena kami cuma bersandal

dan kamu bebas memakai senapan...

Karena kami harus sopan

dan kamu punya penjara...

maka TIDAK dan TIDAK kepadamu.

Karena kami arus kali

dan kamu batu tanpa hati

maka air akan mengikis batu.

***

YANG digambarkan oleh Rendra adalah kesenjangan in optima forma dalam segala bidang, yaitu sosial, ekonomi, dan politik.

Apakah Rendra pro-kekerasan, pro-penjarahan, pro-pembakaran, pro-perusakan? Mengenal Rendra, saya berani mempertaruhkan nyawa saya untuk mengatakan bahwa dia tidak demikian, bahwa dia sangat berbudaya, bahwa dia sangat peka dan perasa menangkap aspirasi, penderitaan, dambaan dan kebutuhan hidup anak Tuhan yang sama-sama memiliki negara Republik Indonesia tercinta ini. Apakah Rendra tidak setuju bahwa mereka harus ditertibkan demi ketenteraman seluruh warga? Saya yakin bahwa dia setuju. Tetapi benarkah kesenjangan dan ketidakadilan yang disuarakan oleh Rendra? Saya yakin itu benar. Benarkah suasana batin bagian terbesar rakyat Indonesia seperti yang dipuisikan oleh Rendra? Saya yakin bahwa itu betul.

Jadi terus bagaimana? Jawabnya sangat sederhana, yaitu prevensi, pencegahan. Bukan dibiarkan berlarut-larut, dan baru terpaksa menindasnya dengan kekerasan. Bagaimana caranya? Sederhana. Strategi pembangunan dan akhlak yang sesuai dengan Pancasila dan UUD 1945.

Orang mengatakan bahwa sosial, ekonomi dan politik tidak bisa dipisah-pisahkan ke dalam kotak-kotak yang satu dengan lainnya tidak saling berhubungan. Kesenjangan ekonomi yang menjadi kesenjangan sosial sudah disentuh.

Bagaimana dengan kesenjangan di bidang politik? Saya kira cukup jelas tanda-tandanya bahwa ada kesenjangan antara aspirasi rakyat dengan aspirasi para anggota MPR yang secara konstitusional mewakili rakyat. Kalau benar ada kesenjangan, maka lembaga yang konstitusional ini dalam kenyataannya sebuah struktur organisasi formal yang tidak didukung oleh aspirasi dari rakyat yang diwakilinya. Adakah struktur organisasi yang demikian, dan apa yang akan terjadi?

Dalam ilmu manajemen kita mengenal adanya organisasi yang formal dan organisasi yang nonformal. Kita mengenal adanya pemimpin formal dan pemimpin yang nonformal. Kalau aspirasi seluruh karyawan sebuah perusahaan memang tercermin dalam struktur organisasi yang lengkap dengan manusia-manusia yang duduk dalam berbagai jenjang itu, maka pemimpin formal sama dengan pemimpin nonformal. Tetapi kalau struktur organisasi digambar oleh pemilik perusahaan sebagai pemegang kekuasaan tertinggi, yang ternyata tidak mewakili aspirasi seluruh karyawan perusahaan, para karyawan tidak berdaya mengubah. Namun para karyawan secara sendiri-sendiri akan mendengarkan orang-orang yang dianggapnya sebagai pemimpinnya yang sejati, sehingga merekalah yang didengar, yang dituruti perintahnya, yang digugu. Bukan orang-orang yang tergambar dalam struktur organisasi yang formal. Dengan sendirinya organisasi yang formal menjadi lumpuh.

Wahai para anggota MPR. Mampukah Anda menangkap aspirasi rakyat yang sesungguhnya, dan mampukah Anda mengambil sikap dan keputusan yang sesuai dengan aspirasi dari rakyat yang Anda klaim sebagai konstituansi Anda? Kalau tidak, maka Anda adalah "batu tanpa hati" menurut Rendra, berhadapan dengan "arus kali" menurut Rendra, yang akan mengikis Anda yang "batu" itu menurut Rendra pula.*