Kompas Online


Sabtu, 16 Mei 1998


Perwira Angkatan '45 dan PB NU

Sambut Presiden untuk "Lengser Keprabon"

Jakarta, Kompas

Perwira-perwira TNI-ABRI Angkatan 1945 dan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PB NU) menyambut baik dan menghargai berita di berbagai media massa tentang kesediaan Presiden Soeharto untuk lengser keprabon (turun tahta).

Sebab itu, dalam pernyataan tertulisnya, tertanggal 15 Mei 1998, yang ditandatangani 14 perwira tinggi TNI-ABRI Angkatan 1945, dinyatakan, "untuk merealisasikan keinginan itu perlu diselenggarakan Sidang Istimewa sesegera mungkin".

Ke-14 perwira tinggi Angkatan 1945 itu antara lain adalah Letjen TNI (Purn) A Kemal Idris, Letjen TNI (Purn) Ali Sadikin, Letjen TNI (Purn) Kharis Suhud, Laksda TNI (Purn) D Pardjaman, Letjen TNI (Purn) Sayidiman S, Letjen TNI (Purn) Himawan Soetanto, Letjen TNI (Purn) Bambang Triantoro, Prof Harun Zein - TRIP Jawa, Jenderal (Purn) Rudini, Letjen TNI (Purn) Solihin GP, Marsekal TNI (Purn) Ashadi Tjahjadi, Letjen TNI (Purn) Wijogo Atmodarminto, Marsekal TNI (Purn) Sukardi.

Sementara itu, PB NU menyebutkan, kesediaan lengser keprabon itu adalah wujud kearifan memahami aspirasi masyarakat yang disuarakan mahasiswa. Sudah menjadi tradisi dan tata nilai bangsa Indonesia bahwa kepentingan dan keselamatan rakyat, bangsa dan negara harus senantiasa didahulukan.

Hal itu dikemukakan Sekjen PB NU Achmad Bagja, didampingi Ketua Rozy Munir, dalam jumpa pers di Kantor PB NU, Jakarta, Jumat (15/5). Menurut Achmad Bagja, pernyataan PB NU telah dikonsultasikan kepada jajaran tertinggi PB NU, termasuk Rais Aam KH Ilyas Ruhiat, Katib Aam KH Drs M Dawam Anwar, dan Ketua Umum PB NU Abdurrahman Wahid.

Mengenai pernyataan PB NU tentang kesediaan Presiden Soeharto untuk lengser keprabon, menurut Achmad Bagja, tidak hanya didasarkan pada pernyataan Presiden di Cairo saja, namun juga berdasarkan pernyataan-pernyataan Presiden sebelumnya yang dimuat media massa. "Jadi sudah lama ada keinginan lengser keprabon itu. Bagi NU, diralat atau tidaknya pernyataan Presiden di Cairo, tidak menjadi masalah. Karena pernyataan itu sudah ada sebelumnya," katanya.

Menjawab pertanyaan, Achmad Bagja juga mengatakan, bahwa mengingat situasi akhir-akhir ini, pernyataan NU itu sudah merupakan semestinya. "Apalagi tuntutan itu terus deras mengalir," katanya sambil menambahkan bahwa pernyataan PB NU itu sesuai petunjuk para alim ulama NU.

Menahan diri

Di bagian lain pernyataannya, PB NU menyerukan seluruh warga NU, umat Islam, dan seluruh bangsa Indonesia hendaklah menahan diri dari tindak kekerasan dan anarkis yang dapat menimbulkan perpecahan dan disintegrasi bangsa guna terciptanya suasana yang kondusif bagi proses ishlah (reformasi).

Memahami tuntutan reformasi tersebut, sekali lagi PB NU menegaskan bahwa ishlah atau reformasi mutlak perlu dilakukan secara damai dan konstitusional, terarah, dan tepat sasaran. Reformasi tidak selayaknya dilakukan dengan merusak dan mengorbankan hasil-hasil pembangunan yang selama ini dicapai, karena hanya akan merugikan dan menyengsarakan rakyat. NU, ABRI dan segenap pencinta reformasi harus menjaga agar isi, arah, dan sasaran reformasi tetap berada pada watak, semangat, dan jiwa ishlah, maslahah dan rahmah.

NU juga mengimbau, patut diresapi dan dirasakan bersama mengenai penderitaan rakyat yang berkepanjangan akibat berbagai krisis yang melanda masyarakat Indonesia. Karena itu, PB NU dan segenap jajarannya di seluruh Indonesia merasa terpanggil untuk bersama-sama ABRI dan potensi masyarakat lainnya mengambil bagian dalam menciptakan suasana yang kondusif guna memberikan kesempatan terjadinya proses suksesi yang damai dan konstitusional, sehingga punya dampak langsung terhadap ikhtiar mengatasi krisis.

Diusut secara hukum

Ketua Umum PB NU Abdurrahman Wahid bersama Ketua Umum DPP PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri, Ketua Umum Persekutuan Gereja-gereja Indonesia Pdt Sularso Sopater dan Sekretaris Eksekutif Konferensi Wali Gereja Indonesia MJ. Notoseputro MSF membuat pernyataan keprihatinan mengenai aksi keprihatinan mahasiswa yang ditanggapi dengan tindakan kekerasan dan telah menimbulkan korban. Megawati menemui Gus Dur di kediamannya di Ciganjur, Jumat pagi.

Dikatakan, semua bentuk tindak kekerasan yang telah menelan korban tersebut diusut dan diselesaikan secara hukum. Tindak kekerasan seperti itu tidak boleh terulang lagi. "Kami bersama seluruh umat beriman berdoa, kiranya mereka yang telah meninggal akibat tindak kekerasan itu memperoleh pahala di surga sesuai dengan amal bakti dan pengorbanan mereka. Kepada semua sanak keluarga yang berduka, kami menyampaikan bela sungkawa yang mendalam dari lubuk hati yang terdalam."

"Kami merasakan kesedihan dan keprihatinan yang mendalam bahwa usaha untuk melaksanakan pembaruan dan kesejahteraan seluruh bangsa telah menimbulkan tindak kekerasan di banyak tempat. Maka kami mengajak agar kita menjadikan usaha pembaruan ini menjadi usaha bersama untuk kepentingan bersama."

Pernyataan itu juga menyebutkan, agar seluruh lapisan masyarakat tetap menjaga ketenangan dan ketertiban. "Marilah kita berpikir jernih dan tenang untuk tidak larut dalam berbagai tindak kerusuhan dan kekerasan yang akan berdampak mencemari perjuangan moral mahasiswa dan seluruh lapisan masyarakat."

Disebutkan, agar aparat keamanan menanggapi aksi-aksi keprihatinan secara bijaksana dan arif supaya tidak menimbulkan korban yang lebih banyak. "Kami mendesak agar pihak aparat membantu mengayomi dan menyalurkan aspirasi mahasiswa dan masyarakat ke sasaran yang tepat." (myr/vik/ush)