Kompas Online


Sabtu, 16 Mei 1998


Menhankam/Pangab:

Penembakan di Trisakti Pakai Peluru Tajam

Jakarta, Kompas

Menteri Pertahanan Keamanan/Panglima ABRI (Menhankam/Pangab) Jenderal TNI Wiranto mengatakan, hasil penelitian sementara tim yang dipimpin Kolonel CPM Hendardji (Komandan Polisi Militer Kodam Jaya) terhadap kasus penembakan mahasiswa Universitas Trisakti Jakarta telah menemukan berbagai fakta. Salah satu fakta awal yang ditemukan, yakni penembakan itu dilakukan dengan peluru tajam.

Penjelasan Menhankam/ Pangab itu dikemukakan dalam acara Rapat Kerja Khusus dengan Komisi I DPR yang berlangsung, hari Jumat (15/5) malam di Jakarta. Rapat kerja yang dipimpin Ketua Komisi I Ny Aisyah Amini tersebut dihadiri seluruh Kepala Staf dan Kapolri serta seluruh pejabat teras Mabes ABRI dan Dephankam.

Menurut Wiranto, tim yang telah ditunjuk langsung Menhankam/Pangab hingga kini telah menemukan petunjuk bahwa penembakan terhadap mahasiswa Universitas Trisakti dilakukan dengan peluru tajam. "Dengan adanya petunjuk awal seperti ini jelas penembakan tersebut merupakan kesalahan prosedur dan pelanggaran disiplin," katanya.

Wiranto juga menambahkan, hasil penelitian dan penyidikan juga memberikan petunjuk bahwa penembakan itu dilakukan dari atas dan di saat para mahasiswa telah berada di dalam kampus. "Atas tindakan seperti ini yakinlah pimpinan ABRI akan memberikan sanksi yang setimpal, yang adil dan sesuai dengan hukum yang berlaku," tuturnya.

"Dalam waktu singkat ini saya akan bisa menyampaikan secara terbuka seluruh hasil penyelidikan tim ini, terutama siapa yang bertanggung jawab langsung terhadap tragedi ini," katanya.

Sedangkan menjawab pertanyaan anggota Komisi I Sofyan Lubis, jika keadaan seperti yang telah diungkapkan seperti ini siapa yang harus bertanggung jawab terhadap biaya pengobatan dan biaya-biaya lainnya yang telah dikeluarkan para korban, menurut Wiranto, ABRI akan membayar seluruh biaya pengobatan para korban ini. "Kita bertanggung jawab terhadap seluruh biaya pengobatan yang telah dikeluarkan para korban dalam insiden ini," katanya.

Akui terlambat

Jenderal Wiranto mengakui bahwa kedatangan pasukan ABRI pada beberapa lokasi kerusuhan di Jakarta ada yang terlambat. Itu terjadi karena rasio jumlah personel tidak didesain untuk mengatasi kerusuhan yang dilakukan massa secara serentak di seluruh Jakarta.

"Oleh karenanya, ABRI sengaja menggelar sejumlah kendaraan tempur utama di jalan-jalan," ujar Wiranto.

Ditanya anggota Dewan tentang bagaimana sikap ABRI terhadap Majelis Amanat Rakyat (MAR) yang telah dibentuk kemarin dan dipimpin Dr Amien Rais, menurut Wiranto, ABRI masih mempelajarinya. "ABRI akan mengkaji lebih jauh lagi hal ini," katanya.

Wiranto juga menjelaskan, sampai saat ini ABRI belum mengerti atau belum paham bagaimana sebenarnya anatomi dari MAR. Sebab itu, ABRI belum mementukan sikap terhadap MAR. Namun, tambahnya, prinsip umum yang akan dipegang ABRI yakni tidak akan setuju jika MAR ini akan menempatkan diri sebagai majelis tandingan MPR atau lembaga tertinggi negara. "Ini jelas tidak diizinkan oleh konstitusi kita. Tapi saya belum mendapatkan konfirmasi tegas mengenai MAR ini sendiri," katanya.

"Tapi kalau memang memposisikan majelis ini sejajar, sama atau bahkan lebih tinggi dari Lembaga Tinggi dan Tertinggi Negara yang sudah diatur dalam konstitusi kita, tentu ini harus ditindak tegas," tuturnya.

Kapolda Metro Jaya

Menjawab pertanyaan anggota Komisi I Usamah Hisyam yang meminta klarifikasi dari pernyataan Kapolda Metro Jaya yang siap mempertaruhkan jabatannya jika Jakarta terjadi kerusuhan, menurut Wiranto, di ABRI memutuskan hal seperti itu tidak gampang. "Di ABRI itu sulit. Mengundurkan diri itu harus ada perintah dan harus disetujui pimpinan. Walaupun sangat keras keinginannya untuk mundur tapi kalau tidak ada izin pasti tidak boleh," kata Wiranto.

Sedangkan Kapolda Metro Jaya Mayjen Pol Hamami Nata yang dimintakan konfirmasinya apakah dia akan mundur atau tidak mengatakan, tidak akan mundur. "Siapa yang pernah mengatakan itu. Saya tidak pernah mengatakan hal seperti itu," katanya justru balik bertanya.

Ketika ditanya wartawan, "Kan Bapak mengatakan bahwa akan mempertaruhkan jabatan agar Jakarta tidak terjadi kerusuhan seperti di Medan?", Hamami Nata mengatakan, tidak seperti itu. "Wartawan yang hanya melebih-lebihkan," katanya.

"Tapi Bapak mengatakan itu dan disiarkan oleh seluruh radio dan televisi?, "Saya yakin tidak seperti itu bunyinya. Mari kita putar bersama rekamannya kembali. Tidak seperti itu," katanya sambil mengelak masuk dalam mobil dinasnya. (ama)