Kompas Online


Sabtu, 16 Mei 1998


Halim Padat Pengungsi Warga Asing

Jakarta, Kompas

Puluhan WNI bergabung dengan lebih dari 300 warga asing AS, Eropa dan warga lainnya membanjiri Bandara Halim Perdanakusuma Jumat (15/5), dalam arus evakuasi dari Ibu Kota Jakarta yang Kamis dilanda kerusuhan. Sejumlah arus evakuasi udara yang sama, juga terjadi pada hari kerusuhan tapi hanya sebagian kecil yang bisa berangkat.

Menurut seorang awak pesawat yang mengawaki salah satu pesawat evakuasi tersebut kepada Kompas kemarin, kota tujuan adalah Singapura, menggunakan pesawat Mafira Air dan MAS dari Malaysia serta jet penumpang F-28 Pelita Air Service.

Arus pengungsian warga asing terdiri antara lain dari staf kedutaan dan expatriate tersebut, pada hari Kamis (14/5) terhalang berangkat akibat banyak dari mereka tidak bisa mencapai Halim yang bekas bandar udara internasional tersebut. "Ada penumpangnya yang sudah siap di hotel Hilton, tapi jalan menuju Halim tertutup karena ada kerusuhan, tidak bisa datang tepat waktu sehingga pesawat yang sudah tiba siang, dan pukul 15.00 tertunda keberangkatannya," ujarnya.

Mafira Air mengirim sebuah Fokker F-28 dan Malaysian Airlines System sebuah Boeing 737-400. Sementara Pelita Air Service menyediakan sebuah Fokker F-28 untuk menerbangkan arus pengungsian warga asing Kamis lalu. Menurut rencana hari itu, Mafira Air akan antar-jemput lima kali warga pengungsian Jakarta-Singapura. Namun karena tertunda lama sampai dinihari, keesokan harinya (Jumat -Red), rencana lima frekuensi batal.

Pesawat kedua maskapai Malaysia itu lepas landas dari Halim Perdanakusuma secara berturut-turut pukul 01.00 WIB (Mafira) dan 02.00 WIB (MAS), sekitar satu setengah jam menjelang pesawat MD-11 Garuda Indonesia yang ditumpangi Presiden Soeharto mendarat.

Sedang pesawat F-28 Pelita, tidak jadi diberangkatkan karena keburu wilayah bandara Halim Perdanakusuma ditutup, yakni prosedur satu jam sebelum dan setelah pesawat VVIP Kepresidenan mendarat. Sehingga baru Jumat siang dua Fokker F-28 dan sebuah RJ-146 Pelita Air Service mulai menerbangkan arus pengungsian warga asing dan WNI ke Singapura.

Selain kedua pesawat Pelita, sebuah pesawat Fokker F-28 Manunggal Air juga dicarter untuk menerbangkan para pengungsi tersebut, terutama WNI ke Batam. Menurut keterangan, dari Batam, mereka akan meneruskan perjalanan dengan ferry laut ke Singapura.

Selain Halim Perdanakusuma Jakarta, jet penumpang F-28 Pelita lainnya juga dicarter untuk mengekavuasi warga asing dari kota Medan, Sumut. Semalam, sejumlah staf Kedutaan Besar Amerika Serikat menurut keterangan yang diperoleh Kompas, juga mulai diungsikan dari kota Jakarta.

Rp 5 juta

Itu pun menurut sumber Kompas, terjadi keterlambatan lepas landas akibat mereka dikenakan fiskal Rp 5 juta/orang untuk keluar dari Indonesia di Bandara Halim Perdanakusuma. Atas pungutan tersebut, mereka keberatan untuk membayarnya sehingga pesawat yang semula dijadwalkan lepas landas pukul 11.00 WIB, hingga pukul 13.45 WIB belum berangkat.

Dari keterangan lain Kompas memperoleh informasi bahwa pihak Pelita yang pesawatnya disewa untuk penerbangan carter Jakarta-Singapura tersebut, memberi jaminan membayar fiskal tersebut. Namun, jaminan tersebut ditolak sehingga para penumpangnya harus menyelesaikan sendiri.

Pungutan Rp 5 juta juga dikenakan kepada para penumpang di Bandara Soekarno-Hatta, padahal ketentuan yang berlaku biaya tersebut hanya Rp 1 juta. Baik di Halim maupun di Cengkareng, para penumpang merasa jengkel tapi tidak bisa berbuat banyak karena pilihannya adalah menerima atau tidak kalau masih ingin ikut terbang ke Singapura.

Salah seorang expatriat mengemukakan bahwa ia ingin segera keluar dari Jakarta antara lain karena merasa kurang aman. Terlebih lagi setelah mendapatkan tempat tinggalnya habis dijarah para perusuh. Kamis lalu ia terpaksa menginap di salah satu hotel berbintang karena takut kembali ke tempat tinggalnya yang berada di daerah tengah diamuk massa. Jumat kemarin ia mendapatkan semua isi tempat tinggal yang disewanya, kosong akibat semua barangnya dijarah.

Sebelum menerbangkan para pengungsi asing ini, salah satu pesawat Pelita menerbangkan pengungsi WNI keturunan ke kota Pangkalpinang. Menurut keterangan dari kota ini, para pengungsi akan melanjutkan perjalanan melalui transportasi laut ke Singapura.

Selain Halim yang padat penumpang warga asing dan WNI keturunan, Terminal 2 Bandara Internasional Soekarno-Hatta juga dipadati calon penumpang yang sama, antara lain yang sudah berada di bandar udara sejak Kamis.

Banyak yang baru datang di bandara dan pergi ke loket penjualan tiket Garuda Indonesia, mendapatkan sebuah pengumuman besar bertulisan "Singapore Fully Book". Umumnya para calon penumpang tersebut tujuannya kebanyakan ke Singapura, disusul tujuan kedua Hong Kong. Tidak saja kursi pesawat Garuda, tapi semua kursi pesawat maskapai asing tujuan kedua kota ini, juga sudah habis terjual.

Lega

Seorang insinyur warga Australia, Bob Fifield, yang baru saja tiba di Bandar Udara (Bandara) Changi, Singapura, Jumat (15/5), merasa lega setelah meninggalkan Jakarta. "Setelah kerusuhan itu, kota nyaris senyap. Tak ada taksi, tak ada bus, pokoknya hampir tak ada apa-apa," paparnya.

Dia bersama beberapa rekannya Rabu lalu berniat ke Bandara Soekarno-Hatta, tetapi di tengah jalan, hujan batu para perusuh makin deras mendera kendaraannya dan memaksa mereka kembali ke hotel.

"Dengan 15 kendaraan, kami begadang di pabrik. Semalaman kami ketakutan. Keadaaan benar-benar menakutkan," ujar seorang pengusaha. Pengusaha lain mengatakan, sepanjang perjalanannya ke Bandara Soekarno-Hatta, dia melihat api kendaraan-kendaraan yang dibakar masih menyala. Demikian pula serakan batu dan pecahan botol. "Benar-benar mimpi yang menakutkan," jelasnya.

Hari Jumat (15/5), jalur penerbangan ke negara-negara Asia, terutama ke Singapura, Hongkong, Jepang, dan Australia dari Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta, padat. Manajemen Hongkong Cathay Pacific Airways menjelaskan, tiket sampai pekan depan sudah habis.

Hal serupa terjadi pada Japan Airlines dan Japan Asia Airways. Kedua maskapai penerbangan ini menggunakan pesawat-pesawat Boeing 747 dengan 340 kursi. Sementara itu perusahaan penerbangan Australia Qantas menambah 100 kursi.

Pemerintah Amerika Serikat (AS), Australia, Jepang, Taiwan, Hongkong, sejumlah negara ASEAN, Rusia, Finlandia telah menyiapkan rencana evakuasi warganya.

Dari Tokyo Sekretaris Kabinet Kanezo Muraoka mengimbau masyarakat Jepang tidak ke Indonesia, atau bila mungkin meninggalkan Indonesia.

Bank-bank dan perusahaan Jepang di Indonesia, antara lain Bank of Tokyo-Mitsubishi, Dai-Ichi Kangyo Bank Ltd, Sony Corp, Sanyo Electric Co. Ltd, Toshiba Corp, dan Sharp Corp, menutup usahanya, menghentikan produksinya dan mengingatkan karyawannya, tetap tinggal di rumah, atau kembali ke Jepang. (AFP/Rtr/AP/win/ds)