Kompas Online


Jumat, 15 Mei 1998


Menhankam/Pangab:

Hentikan Penjarahan dan Pembakaran

Jakarta, Kompas

Menhankam/Pangab Jenderal TNI Wiranto mengimbau seluruh kelompok masyarakat yang memanfaatkan situasi untuk menjarah, merampok, membakar atau merusak Ibu Kota, agar menghentikan kegiatan tersebut. ABRI tidak pernah ragu untuk menindak tegas pelanggar hukum seperti itu.

Hal itu ditegaskan Menhankam/Pangab dalam jumpa pers yang berlangsung, Kamis (15/5) di Markas Besar ABRI Jakarta. Hadir dalam kesempatan itu KSAD Jenderal TNI Subagyo HS, KSAL Laksamana TNI Arief Kushariadi, Kapolri Jenderal (Pol) Dibyo Widodo, Kasum ABRI Letjen TNI Fachrul Razi, Kassospol ABRI Letjen TNI Susilo Bambang Yudhoyono, para Asisten Pangab dan Kepala Dinas Angkatan dan Kadispen Polri.

Wiranto juga menegaskan, ABRI akan tetap berusaha menghentikan penjarahan Ibu Kota. "Upaya menghentikan ini tidak akan berhasil tanpa dukungan masyarakat banyak. Karena itu saya mengajak kebersamaan kita mengatasi ini secara bersama-sama. Dan ABRI akan menindak tegas sesuai hukum yang berlaku. Percayalah, sampai saat ini ABRI akan terus melaksanakan tugasnya dengan penuh rasa tanggung jawab dengan risiko apa pun. Apalagi untuk menjaga stabilitas Ibu Kota Negara yang menjadi barometer stabilitas nasional," tuturnya.

ABRI, kata Wiranto, juga sadar bahwa mempertahankan suatu stabilitas dan keamanan memang butuh pengorbanan. "Tapi pengorbanan seperti ini sungguh sangat menyedihkan kita semua. Pengorbanan seperti yang terjadi itu sama sekali tidak kita harapkan semuanya," katanya.

"Marilah kita bersama-sama menjaga apa yang telah kita miliki dan nikmati, yang saya yakin dan pasti masih lebih baik daripada membiarkan proses perusakan ini terus berlangsung dan merajalela. Dan tentu ini membutuhkan kesabaran, kearifan, pengertian, dan kebersamaan kita bersama," paparnya.

Menurut Wiranto, beberapa kejadian yakni penjarahan dan kerusuhan pada sentra-sentra ekonomi dilakukan secara sporadis dan dilakukan sebelum aparat keamanan berada di tempat itu. "Namun sesungguhnya kita telah menggelar lebih dari 100 Satuan Setingkat Kompi (SSK). Dan kita masih punya kekuatan-kekuatan lain yang bisa saya datangkan ke Ibu Kota ini," tuturnya.

Dikatakan, kegiatan yang dilakukan massa perusuh sangat cepat dan selalu melihat peluang di mana tidak ada aparat keamanan di situ. Pada hakikatnya keamanan lingkungan tidak hanya harus dilakukan oleh ABRI. Dengan Sishankamrata, kata Pangab, sudah jelas bahwa seluruh masyarakat berkewajiban untuk menjaga keamanan. "Karena itu saya katakan, saya tidak setuju jika Ibu Kota sudah lumpuh dan para penjarah itu seenaknya berkeliaran dan melakukan aktivitasnya," katanya.

Aksi mahasiswa

Menyinggung unjuk rasa mahasiswa, Wiranto mengatakan, sampai saat ini prajurit ABRI sudah hampir tiga bulan berhadapan dengan mahasiswa, pada posisi yang berbeda. Mahasiswa merasa bahwa perlu berunjuk rasa lebih luas lagi cakupannya yakni di luar kampus, sedangkan ABRI merasa bahwa aktivitas di luar kampus seperti itu akan mengundang pihak lain memanfaatkan atau mencari keuntungan lainnya yang justru akan mencoreng nama baik mahasiswa dan merugikan masyarakat secara keseluruhan.

"Anggota kita ini berpanas-panasan dengan bekal terbatas dan beragam masalah kehidupan yang tak kunjung teratasi juga. Menampung lemparan batu dan caci maki dari sebagian pengunjuk rasa yang kurang bijak. Siapapun telah memperkirakan bahwa benturan hanya akan menunggu waktu saja untuk terjadi dalam berbagai bentuk dan kemungkinan serta skala yang tidak dikehendaki. Dan ini sudah terjadi," katanya.

Benturan ini, kata Wiranto, telah terjadi dalam skala kecil maupun besar, baik tanpa korban maupun dengan korban. Korban luka sampai dengan meninggal dunia. "Namun tentunya apa yang saya ungkapkan ini bukan menjadi faktor pemaaf bagi ABRI tentang peristiwa di Trisakti itu," tuturnya.

"ABRI akan mengusut tuntas setiap penyimpangan yang terjadi dan menyelesaikannya sesuai ketentuan hukum yang berlaku. Saya telah memerintahkan Tim Pengusut Khusus yang dipimpin Komandan Polisi Militer Kodam Jaya Kolonel CPM Hendarji untuk segera melaporkan kepada saya apa yang sebenarnya terjadi. Dan apabila ternyata terdapat penyimpangan tidak disiplin atau kesalahan prosedur dari apa yang telah ditentukan, maka saya akan memberikan sanksi yang tegas dan sepadan terhadap penyimpangan yang dilakukan oleh prajurit ABRI itu," katanya.

Juga dikatakan, ABRI tidak suka dan tidak pernah suka untuk diperhadapkan dengan mahasiswa atau komponen rakyat lainnya dalam posisi yang berseberangan. Karena ABRI selalu sadar, berasal dari rakyat, berjuang bersama rakyat dan untuk rakyat. Dan tentu suatu saat akan kembali kepada rakyat dalam kehidupan sehari-hari nantinya.

"ABRI juga selalu berprinsip yang terbaik bagi rakyat terbaik untuk ABRI. Apalagi dalam era ini. Kita sama-sama berjuang dengan tema yang sama yakni reformasi untuk masa depan yang lebih baik. Saya pikir semua komponen bangsa sependapat dengan ABRI bahwa reformasi yang kita dambakan itu haruslah berangkat dengan apa yang telah susah payah kita miliki saat ini," katanya.

Pola pikir ini, kata Wiranto, yang juga melandasi sikap ABRI dan prajurit-prajuritnya untuk rela berlelah-lelah di bawah terik Matahari untuk mencegah aksi unjuk rasa yang ke luar kampus yang mudah untuk disusupi dan dimanfaatkan oleh ide-ide massa destruktif seperti yang sedang terjadi saat ini terutama di Jakarta.

Pengunduran diri

Sementara itu, Kapolri Jenderal Pol Dibyo Widodo kepada wartawan usai acara tersebut mengatakan, hingga kini ia belum menerima surat pengunduran dari Kapolda Metro Jaya Mayjen Pol Hamami Nata. "Saya belum tahu itu. Tapi saya belum terima surat itu juga," katanya.

Menjawab pertanyaan mengenai siapa pelaku penembakan mahasiswa Trisakti, Dibyo mengatakan, sampai saat ini kasus itu terus diselidiki. "Kalau komandannya yang pasti saya. 'Kan saya Kapolri," kata Kapolri.

Ditanya apakah ada kemungkinan Brimob yang bertugas waktu itu menerima perintah lain di luar Kapolri dan jajarannya, Dibyo mengatakan, "Saya rasa tidak".

Kalau begitu ini perintah Bapak? tanya wartawan. "Kalau Anda tanya begitu itu memojokkan saya. Saya akan cek dulu semuanya. Yang pasti seluruh jajaran Polri tidak pernah ada perintah menggunakan peluru tajam. Hanya bisa menggunakan peluru hampa dan peluru karet," katanya.

Menjawab pertanyaan apakah ada kemungkinan bukan anggota polisi yang melakukan penembakan dengan peluru tajam, Kapolri mengatakan, itu masih diselidiki. "Kalau itu ditembak dari jarak jauh dengan peluru tajam, jelas belum tentu pelakunya polisi. Belum tentu anggota saya. Itu semua dalam penyelidikan," katanya.

Menahan diri

Sementara itu, mantan Wapres Try Sutrisno menyatakan bela sungkawa yang dalam terhadap korban yang meninggal dalam aksi mahasiswa di Universitas Trisakti, Selasa lalu. "Semoga keluarga yang ditinggalkan mendapatkan ketabahan dan kesabaran," ujarnya pada TVRI, Kamis.

Try Soetrisno menyerukan masyarakat agar tidak terpancing oleh perbuatan yang merusak sarana umum, termasuk sarana yang digunakan oleh masyarakat luas dan penjarahan milik orang lain. Pada akhirnya, perusakan dan penjarahan itu merugikan masyarakat luas. "Merugikan kita semua. Bahkan, merugikan keluarga kita," tegasnya.

Dengan mendengarkan aspirasi masyarakat dengan kearifan dan hati nurani yang bersih, lanjut Try, diyakini akhirnya akan ditemukan jalan keluar untuk mengatasi kemerosotan ekonomi yang dirasakan saat ini. "Saya mengimbau semua pihak mampu mengendalikan diri," ucapnya lagi. (ama/tra)