Kompas Online


Kamis, 14 Mei 1998


Selamat Jalan Bunga Reformasi

"SAYA menangis setelah membaca berita tadi pagi tentang tewasnya lima mahasiswa Universitas Trisakti dan beberapa mahasiswa lainnya yang luka-luka akibat serangan aparat. Saya hanya seorang ibu rumah tangga, sangat mengutuk perlakuan represif itu dan turut berduka cita sedalam-dalamnya atas peristiwa ini."

Kata-kata itu ditulis dengan tulisan tangan, dikirim ke Redaksi Kompas lewat faksimili oleh Nyonya Kurnia Indawati Nusanto. Sampai pukul 17.00 WIB petang, lebih dari 150 faksimili berisi ucapan belasungkawa untuk keluarga korban diterima Kompas. Pesan lewat faksimili itu masih terus mengalir, belum lagi yang melalui E-mail. Pesan datang baik dari perorangan, seperti ibu rumah tangga, pekerja kantor, anak-anak, pejabat, maupun dari lembaga swadaya masyarakat, kelompok profesi dan lain-lain. Satu faksimili bisa ditandatangani satu sampai puluhan orang.

Keluarga korban yang tengah berduka tidak perlu merasa sendirian. Semua pesan itu mengirim doa, simpati, cinta, dan belasungkawa mendalam. Di lain pihak juga kecaman keras terhadap tindakan aparat.

***

DARI bilik-bilik rumah tangga di berbagai penjuru daerah, gedung-gedung perkantoran tinggi di Jakarta, getaran perasaan dan airmata seperti tertumpah lewat surat-surat itu. "Saya beserta keluarga dan rekan-rekan di Cilacap sangat shock dan terpukul dengan insiden Trisakti kemarin," begitu tulis keluarga Toga Pangaribuan.

"Saya seorang ibu rumah tangga, membaca tewasnya enam orang mahasiswa Trisakti, saya sangat sedih. Harap keenam mahasiswa tersebut diusulkan menjadi pahlawan nasional," ungkap Ibu Ida, beralamat di Meruya Utara, Jakarta.

Ibu rumah tangga lain, Ibu Sabar dari Kalimalang, Jakarta, menulis, " ...perasaan saya hancur. Apakah aparat keamanan pemerintahan Indonesia bertindak membabi-buta melaksanakan perintah atau bayaran?"

Suara-suara para ibu rumah tangga, karyawan, atau mereka yang mengaku sebagai orang kebanyakan itu umumnya tanpa pretensi, mengungkapkan apa adanya apa yang mereka pikir dan rasakan. Beberapa nama yang cukup dikenal masyarakat, dari kalangan profesional, penegak hukum, pengajar, banyak yang mengirimkan selain ucapan bela sungkawa juga ungkapan hati mereka, melepaskan diri dari latar belakang sosial mereka sehari-hari. Mereka mengungkapkan diri sebagai manusia.

"Duka kami adalah duka para ibu yang ikhlas, perantara kehidupan anak-anak kami/Duka kami adalah duka para ibu yang penuh harapan menyaksikan pertumbuhan anak-anak kami/ Duka kami adalah duka para ibu yang dengan susah payah menanamkan nilai-nilai pada kehidupan mereka/Duka kami adalah duka para ibu yang bangga menyaksikan api-api kehidupan kami menghangati bumi, mewartakan nurani mereka/Duka kami adalah perihnya hati mendapatkan api kehidupan telah dimatikan dengan paksa/Duka kami tak bisa diobati: tidak juga dengan berubahnya dunia..."

Larik kata-kata itu dikirim Kelompok Ibu Berduka, ditandatangani antara lain oleh Henny Supolo Sitepu, Lelyana Santosa, Niniek L. Karim, Joy Ramedhan, Arie Triadi, dan lain-lain. Mereka berencana segera menemui Kapolri dan para pejabat berwenang untuk menyatakan duka mereka.

Komunitas Utan Kayu, ditandatangani antara lain Goenawan Mohamad, Sitok Srengenge, Ahmad Sahal, Asikin Hasan, dan puluhan nama lain mengeluarkan "Deklarasi Utan Kayu". Isinya antara lain: "Bersama-sama dengan para pemimpin masyarakat, seperti Amien Rais, Megawati Soekarnoputri, Emil Salim, dan Ali Sadikin, kami menyerukan dilangsungkannya masa berkabung atas gugurnya para pejuang reformasi, dengan mengibarkan bendera Merah Putih setengah tiang di depan rumah masing-masing selama tujuh hari."

***

WARTAWAN-wartawan peserta "Lokakarya Penyempurnaan Undang-Undang tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pers" di Surakarta, 12-15 Mei 1998 menyatakan merasa terkejut dan tersentuh atas gugurnya para mahasiswa. "Untuk itu kami menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya." Faksimili ditandatangani antara lain H Rosihan Anwar, Tarman Azzam, D H Assegaff, August Parengkuan.

Keluarga pemusik Addie MS dan Memes mengirimkan pesannya seperti ini: "Saya Memes dan Addie MS mengucapkan turut berduka cita yang sedalam-dalamnya atas berpulangnya lima mahasiswa Trisakti, semoga arwahnya diterima di sisi Allah SWT, dan bagi keluarga diberi kekuatan..."

Sekelompok karyawan mengirimkan puisinya: "Darah kalian berbau harum membasahi bumi Pertiwi/Menyuburkan dan menyebarkan semangat perjuangan prodemokrasi..."

Tjahjo Tamtomo dari Jakarta Selatan mengusulkan kepada pihak pimpinan Universitas Trisakti, untuk mengalokasikan suatu tempat di depan pagar atau di halaman kampus, untuk memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk bisa menaruh bunga ucapan bela sungkawa. Ini, katanya, untuk menunjukkan cinta rakyat yang besar kepada mahasiswa. "Terasa bergetar seluruh kujur tubuh saya mendengar kabar meninggalnya para pahlawan reformasi yang masih sangat muda-muda," tulisnya.

Dari Surabaya, pengirim yang mengatasnamakan kawan-kawan dari Buletin Hanif beralamat di Jagis Sidoresmo mengirim kata pujian, yang seakan juga berbau wangi bunga.

"Darah, tidak saja menetes/ Kini, mengalir deras untuk kemudian membeku, membisu, menjadi saksi mati/Satu, satu, enam, dan... entah berapa lagi kematian menjadi tumbal reformasi/Selamat jalan bunga reformasi..." (bre)