Kompas Online


Kamis, 14 Mei 1998


Masyarakat Berkabung

Kompas/js

Jakarta, Kompas

Ribuan massa yang terdiri dari mahasiswa berbagai perguruan tinggi di Jakarta, aktivis, tokoh masyarakat, artis, dosen, dan berbagai kelompok profesi lainnya, Rabu (13/5) siang, berbaur menjadi satu di Taman Pemakaman Umum (TPU) Tanah Kusir, untuk mengantar jenazah mahasiswa Universitas Trisakti "Pejuang Reformasi", Elang Mulya Lesmana dan Heri Hartanto, ke tempat peristirahatannya yang terakhir.

Sulit dilukiskan dengan kata-kata kepedihan yang dirasakan massa yang memadati areal Tanah Kusir. Duka, geram, dan rasa tak percaya, akhirnya berubah menjadi kepasrahan kepada Yang Maha Kuasa. Seruan Allahu Akbar sesekali bergema memecah keheningan, ketika jenazah perlahan-lahan memasuki gerbang pemakaman.

Para pelayat mulai memadati TPU Tanah Kusir sejak pukul 09.00 WIB. Mereka datang secara berkelompok, dengan menggunakan bus atau berjalan kaki dari kampusnya.

Kali ini tak ada tawa dan canda. Semua wajah tertunduk sendu. Para pelayat dengan tertib dan takzim mengumandangkan takbir dan shalawat ketika kedua jenazah mahasiswa Universitas Trisakti itu perlahan-lahan diturunkan ke liang lahat. Massa tak kuasa menahan tangis.

Jenazah Heri, mahasiswa Fakultas Teknik Industri, lebih dulu tiba di lokasi pemakaman, dimasukkan ke liang lahat sekitar pukul 13.30 WIB. Sepuluh menit kemudian datang jenazah Elang, mahasiswa Fakultas Teknik Sipil.

Sebelum kedua jenazah dikebumikan, orangtua kedua almarhum memberikan sambutan singkat serta mengucapkan rasa terima kasihnya pada segenap hadirin yang telah mengantar kepergian putra-putra mereka, sementara lagu Gugur Bunga bergema dinyanyikan para pelayat.

"Saya rela melepaskan Elang, anak saya, sebagai syuhada karena kami yakin dia merupakan salah satu yang dipilih-Nya untuk ditempatkan di sisi-Nya. Saya yakin perjuangannya tidak akan putus dan terus dilanjutkan," ujar Boy Bagus, ayahanda almarhum Elang Mulya.

Sebelum beranjak dari tempat pemakaman, puluhan ribu pelayat secara spontan berdiri dan memberikan tepuk tangan panjang untuk menghormati perjuangan kedua almarhum.

Para mahasiswa kemudian secara tertib kembali ke bus masing-masing menuju kampus. Mahasiswa juga berjanji tidak akan menggelar aksi, sesuai dengan seruan dari Senat Mahasiswa Trisakti yang meminta agar hari itu tidak ada unjuk rasa untuk menghormati suasana berkabung.

Bukan perusuh

Kompas/arb

Sebelum pemakaman, suasana duka menyelimuti kediaman keluarga Sjahir Mulyo Utomo (70) di Cempaka Putih Timur RT 18/03, Jakarta Pusat, orangtua almarhum Hery Hartanto (21). Menunggui jenazah anaknya yang baru tiba di rumah duka pagi hari, Ny Lasmiati terus menangis dan tidak bisa menerima kenyataan kenapa anaknya begitu cepat pergi. "Anak saya bukan perusuh, kenapa ditembak?" isaknya beberapa kali. Tanto memang anak kesayangannya. Ia satu-satunya anak laki-laki.

Menurut Sjahir, anak pertama dari tiga bersaudara itu selama ini tidak pernah menyusahkan keluarga. "Anaknya pendiam," katanya. Sepengetahuannya, Tanto juga bukan tipe anak yang suka berdemonstrasi atau aktif di kegiatan yang berbau politik. "Baca koran atau nonton berita di TV pun tidak pernah," lanjutnya.

Karena itu ia juga sangat kaget ketika mengetahui anaknya menjadi korban penembakan dalam demonstrasi di Trisakti. Tanto juga tidak pernah bercerita mengenai aksi mahasiswa Trisakti akhir-akhir ini. Menurut dia, Tanto meninggalkan rumah sejak Minggu (10/5) siang karena ada kegiatan di kampusnya dan dilanjutkan dengan menyelesaikan laporan mengenai penelitian mesin mobil VW yang mendekati selesai. "Tiba-tiba Selasa (12/5) malam kami mendapat kabar Tanto di rumah sakit," kata anggota legiun veteran tersebut.

Menanggapi musibah tersebut, Sjahir mempercayakan sepenuhnya kepada pimpinan Universitas Trisakti untuk me-nyelesaikannya. Secara pribadi ia menerimanya sebagai musibah yang harus diterimanya dengan tabah. Tetapi ia mengimbau pimpinan ABRI untuk memberikan sanksi kepada anak buahnya yang melakukan tindakan sewenang-wenang itu agar tidak berjatuhan korban berikutnya.

Di kalangan rekan-rekannya di kampus, Tanto juga dikenal sebagai mahasiswa yang kocak, sedikit nekad, dan mudah bergaul sehingga banyak teman.

Di Bandung

Di Bandung, jenazah Hafidhin Alifidin Royan (23), pukul 10.30 WIB dimakamkan di kompleks pemakaman keluarga, tidak jauh dari rumah duka yang berlokasi di Jalan Sirnagalih-Padasuka, Kodya Bandung. Jenazah tiba di Bandung Rabu pagi sekitar pukul 08.45 WIB. Sepanjang perjalanan dari Jakarta ke Bandung, mobil jenazah dikawal satu regu Polisi Militer.

Ayah-ibu Hafidin, Ir H Enus Yunus-Ir Sunarmi Yunus tampak sangat terpukul dengan musibah yang menimpa putranya itu. Hafidin yang oleh keluarganya lebih akrab dipanggil Royan, merupakan anak keempat dari lima bersaudara, dan satu-satunya pria.

Sejak pukul 07.00 pagi hingga seusai acara pemakaman, ucapan belasungkawa dari berbagai kalangan tidak henti-hentinya mengalir ke rumah duka. Mahasiswa dari berbagai kampus di Bandung berdatangan melayat dengan membawa karangan bunga disertai ucapan doa. Pembacaan doa dan ucapan belasungkawa juga berlangsung di berbagai kampus, sebagai rangkaian lanjutan unjuk rasa soal reformasi.

Aksi solidaritas dan belasungkawa mahasiswa Bandung bahkan berlanjut dan terakumulasi di halaman DPRD Jabar yang diikuti tidak kurang dari puluhan ribu mahasiswa. Massa yang datang dari berbagai penjuru kota meluber hingga Lapangan Gasibu dan jalan raya di sekitarnya. Mereka mengecam tindak kesewenang-wenangan aparat yang mengakibatkan tewasnya rekan-rekan mereka. Karangan bunga yang dipampang mahasiswa di gedung DPRD berbunyi; Mendung Menggantung di Atas Bumi Pertiwi, Kabut Duka Menyelimuti Indonesia. Telah Gugur Sebagai Bunga Bangsa, Kawan-kawan Tercinta.

Pahlawan reformasi

Lima mahasiswa Universitas Trisakti (Usakti) yang tewas diterjang peluru tajam petugas keamanan -bukan enam sebagaimana diberitakan sebelumnya - didaulat sejumlah tokoh menjadi "Pahlawan Nasional Reformasi". Dengan tewasnya lima mahasiswa itu diharapkan semangat reformasi tidak menyurut dan justru sebaliknya menjadi pemicu gerakan moral yang lebih efektif menyuarakan reformasi total di Tanah Air. Ditetapkan juga bahwa tanggal 12 Mei 1998 sebagai hari berkabung nasional bagi mahasiswa dan rakyat seluruh Indonesia.

Ini merupakan intisari pendapat yang disuarakan sejumlah tokoh nasional yang mengambil bagian dalam acara mimbar bebas bertemakan kedukaan di Kampus A Usakti di Jakarta Barat, Rabu.

Kepastian tewasnya lima mahasiswa Trisakti itu didapat Kompas berdasarkan keterangan yang didapat dari staf Crisis Center Universitas Trisakti Advendi Simangunsong. Lima mahasiswa Usakti yang tewas: Hery Hartanto, Elang Mulya Lesmana, Hendriawan Lesmana, Hafidin Royan, dan Alan Mulyadi. "Dari keterangan yang kami teliti lagi sepanjang hari Rabu (12/5), ternyata saudara Vero Prasetyo tidak meninggal dunia. Setelah terjadi insiden, Vero mengalami coma di RS Sumber Waras. Tetapi sejak hari ini (Rabu, 13/5) dia sudah berada di ruang perawatan biasa," paparnya.

Dalam mimbar bebas yang berlangsung lebih dari 10 jam nonstop itu mengalir juga ucapan dan pernyataan belasungkawa yang disampaikan segenap lapisan masyarakat, profesional, dan senat mahasiswa se-Indonesia. Bahkan dukungan moril juga diberikan masyarakat dalam wujud bantuan uang bagi keluarga korban, dan bagi mahasiswa yang menggelar mimbar bebas itu.

Tercatat kiriman karangan bunga duka cita antara lain dari Mar'ie Muhammad dan Siswono Yudhohusudo, juga kartu belasungkawa dari Sarwono Kusumaatmadja dan pengusaha Arifin Panigoro. Sempat terjadi insiden "kecil" pelemparan batu terhadap Ketua Umum DPP PDI Soerjadi yang datang ke kampus bersama pengusaha dari kelompok Gemala Sofyan Wanandi. Sejumlah mahasiswa lainnya yang tanggap dibantu sejumlah staf dari Rektorat Usakti berhasil mengamankan Soerjadi dari pelemparan yang lebih brutal dan diselamatkan masuk ke lobi Gedung Syarif Thayeb. (ama/msh/pp/nar/hers/bw)