Kompas Online


Kamis, 14 Mei 1998


Insiden di Universitas Trisakti Tindak Kejahatan

Kompas/arb

Jakarta, Kompas

Insiden di kampus Universitas Trisakti Jakarta yang berlangsung Selasa (12/5) lalu, merupakan tindak kejahatan terhadap kemanusiaan. Selain cara-cara kekerasan seperti itu harus dihentikan, mereka yang terlibat juga harus dimintai pertanggungjawaban. Demikian komentar para tokoh masyarakat yang berbondong-bondong datang ke kampus Trisakti, Rabu, untuk menyatakan belasungkawa terhadap tewasnya mahasiswa perguruan tinggi itu akibat terkena peluru yang dilepaskan aparat keamanan.

Para tokoh masyarakat itu antara lain Amien Rais, Megawati Soekarnoputri, Ali Sadikin, Emil Salim, Kwik Kian Gie, Hariman Siregar, Adnan Buyung Nasution, Karlina Leksono, dan Ny Sri Bintang Pamungkas. Meski tidak diundang dan hanya untuk mengucapkan belasungkawa, mereka juga didaulat mahasiswa untuk berpidato.

Ketua PP Muhammadiyah Amien Rais mengemukakan, dari sudut pandang agama, moral, kemanusiaan, Pancasila, dan dari sudut pandang apa pun, tindakan aparat keamanan itu tidak dapat dibenarkan. Ia menyarankan agar mahasiswa tidak jera dengan terjadinya insiden itu. Ia menganjurkan agar aksi dilanjutkan sampai tuntutan reformasi menjadi kenyataan.

Hal senada juga dikemukakan oleh Karlina Leksono-Supelli. "Dengan sangat perih dan sangat pedih kita sekarang merasakan betapa kekerasan itu telah menghancurkan kemanusiaan. Kita menuntut reformasi, dan tidak akan pernah berhenti menuntut sampai tuntutan itu terwujud," ujarnya, seraya menambahkan, kekerasan ini harus diakhiri.

Megawati Soekarnoputri yang datang sekitar pukul 09.00 WIB di kampus Universitas Trisakti menyatakan, "Saya kira apa yang telah Anda lakukan selama ini merupakan bagian dari perjuangan Partai Demokrasi Indonesia (PDI). Meskipun demikian, sangat jelas bahwa perjuangan kita itu tidak akan menggunakan kekerasan. Itu merupakan suatu hal yang selama ini telah saya jalankan," kata Mega. Ia mengajak mahasiswa dan ABRI untuk secara bersama-sama menggalang persatuan. Karena bagaimanapun juga, ia menyadari mahasiswa dan ABRI merupakan satu kesatuan, bukan yang terpecah-belah.

Tim independen

Emil Salim yang datang ke Trisakti menyatakan, tindakan aparat keamanan itu patut disesalkan. Karena itu, ia menuntut pemerintah membentuk semacam komisi independen, yang anggotanya terdiri dari ABRI, unsur Universitas Trisakti, Komnas HAM, dan lembaga swadaya masyarakat (LSM). Independensi komisi ini penting, katanya, untuk dapat diketahui secara jujur dan terbuka orang-orang yang bertanggung jawab. Dengan temuan komisi itu diharapkan tidak terjadi lagi insiden serupa.

Ali Sadikin mengingatkan bahwa yang diperjuangkan mahasiswa itu bukan untuk kepentingan mahasiswa, tetapi kepentingan masyarakat, termasuk keluarga Korpri dan keluarga ABRI. Sebab itu, ia juga mengingatkan agar ABRI tidak menggunakan kekerasan dalam mengamankan aksi unjuk rasa mahasiswa. Mantan Gubernur DKI Jakarta itu mengharapkan mahasiswa terus berjuang untuk menggolkan tuntutan reformasi itu dengan cara damai.

Sementara Kwik Kian Gie, dalam pidato sangat singkat, menyatakan tidak bisa tidur setelah mendengar tragedi itu. "Tetapi, saya pesan agar tidak terpancing oleh oknum-oknum. Sebagai bagian civitas akademika, karakteristik kita adalah otak, dan berpikir. Itu yang pada akhirnya menang. Jangan tinggalkan kemampuan berpikir. Teruslah berdiskusi dan berpikir tentang masa depan bangsa," kata Kwik.

Damai dan kasih sayang

Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyampaikan belasungkawa atas jatuhnya korban dalam aksi mahasiswa. MUI menyerukan kepada seluruh lapisan masyarakat, khususnya kalangan mahasiswa dan para cendekiawan, agar dalam menyampaikan aspirasi menempuh cara damai dan penuh marhamah (kasih sayang). Ketua MUI Drs Amidhan mengatakan, seruan MUI didasarkan pada hasil rapat Forum Ukhuwah Islam yang berlangsung sejak 3 Mei dan diikuti hampir semua organisasi massa Islam. "Dalam rapat itu disepakati, MUI akan membentuk semacam posko mulai dari tingkat pusat hingga daerah," ujarnya.

Ketua LIPI Dr Soefjan Tsauri menyatakan, LIPI ikut prihatin dengan jatuhnya korban akibat kerusuhan baik di Jakarta, Yogyakarta maupun Bogor. Beberapa anggota LIPI langsung memasang sobekan kain hitam di lengan kiri bajunya sebagai ungkapan ikut berbelasungkawa. Sementara itu, 109 peneliti LIPI menyampaikan pernyataan "Keprihatinan Ke-2 109 Peneliti LIPI". Pernyataan ditandatangani antara lain oleh Taufik Abdullah, Mochtar Pabottingi, Hilman Adil, Yulfita Rahardjo, Thee Kian Wie, Samsudin Haris, Ikrar Nusa Bhakti, AS Hikam, Riza Sihbudi, dan Sri Yanuarti.

Eksponen Angkatan 66 dan mantan Menteri Keuangan Kabinet Pembangunan VI, Mar'ie Muhammad, menyatakan peristiwa 12 Mei di Universitas Trisakti yang menewaskan lima orang mahasiswa sekaligus, sebagai peristiwa yang mengerikan, memilukan, dan memalukan. Bahkan sebagai saksi sejarah, ia menilai peristiwa itu lebih buruk dibanding tahun 1966 ketika mahasiswa juga melakukan serangkaian aksi demonstrasi. Insiden di Trisakti itu, menurut Mar'ie, mendemonstrasikan kepada masyarakat termasuk dunia internasional suatu pendekatan kekuasaan dan kekuatan.

Mengenai pembentukan tim independen, juga dituntut oleh KH Yusuf Hasyim, pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Tebuireng, Jombang. "Kalau dari unsur ABRI saja, masyarakat pasti akan ragu-ragu. Ini bisa timbul masalah baru," ujarnya. "Libatkan sejumlah orang dari Komnas HAM, biro-biro hukum, tokoh masyarakat," kata putra bungsu pendiri Nahdlatul Ulama (NU) KH Hasyim Asy'ari ini. Sama seperti KH Yusuf Hasyim, KH Alawy Muhammad, pengasuh Pondok Pesantren Attaroqi Sampang (Madura) pun menyatakan penyesalannya atas tragedi ini. (pep/dis/ano/vik/bw/myr/ush/iie/oki/mba)