SUARA PEMBARUAN DAILY

Pius : Saya Diculik,

Diborgol Dan Disiksa

Pembaruan/Charles Ulag

DI KOMNAS HAM - Pius Lustrilanang (kiri) Sekjen SIAGA memberikan keterangan di Komnas HAM Jalan Latuharhary, Jakarta Pusat, Senin (27/4) pagi. Pius didampingi anggota Komnas HAM Mayjen TNI (Purn) Samsudin (tengah) dan Dr Albert Hasibuan SH (kanan).

Jakarta, 27 April

Sekjen Solidaritas Indonesia Untuk Amien dan Megawati (SIAGA) Pius Lustrilanang akhirnya mengungkapkan apa yang terjadi sejak ia hilang tanggal 4 Februari hingga 3 April 1998.

Menurut Pius ia diambil oleh paling tidak tiga orang tak dikenal di depan RSCM Jakarta dan dengan tangan diborgol ke belakang serta mata ditutup, dibawa ke suatu tempat yang tidak mampu diidentifikasikannya.

Selama di tempat rahasia tersebut, Pius menjalani pemeriksaan disertai penyiksaan. Ia sempat disetrum, dipukul dan direndam dalam sebuah bak. Para penculik mengajukan sejumlah pertanyaan berkaitan dengan kegiatannya sebagai Sekjen SIAGA, hubungannya dengan Ketua DPP PDI Megawati Soekarnoputri dan sejumlah LSM.

Hal tersebut diungkapkannya kepada anggota Komnas HAM, Albert Hasibuan, Mayjen Purn. Samsudin dan Clementino dos Reis Amaral di gedung Sekretariat Komnas Jakarta, Senin siang. ''Sehari sebelum keluar dari tempat penyekapan, para penculik mengingatkan saya agar tidak mengungkapkan kepada siapa pun apa yang menimpanya.''

''Saya mengatakan ini dengan risiko dibunuh. Mereka mengatakan akan mencari saya sampai kapan pun dan di mana pun jika mengungkapkan kejadian ini kepada umum,''katanya menjawab pertanyaan anggota Komnas, Samsudin.

Samsudin sebelumnya mempertanyakan kebenaran dan keakuratan laporan Pius. Secara khusus Samsudin mengharapkan wartawan agar menyebutkan bahwa acara hari ini bukan konferensi pers Pius kepada wartawan tapi laporan Pius kepada Komnas yang diliput langsung pers.

Pius, yang sejak mahasiswa dikenal kritis terhadap berbagai pelanggaran HAM, sebelumnya mengatakan bahwa para penculik memaksa dia untuk mengatakan bahwa dirinya tidak diculik tapi berada di rumah teman-temannya sebelum pulang ke rumah ibunya di Palembang. ''Saya sama sekali tidak boleh melakukan konferensi pers,''katanya.

Dalam keterangannya kepada Komnas, Pius sempat dua kali menahan tangis dan menghentikan laporannya. ''Tolong, saya minta air putih,''katanya lirih ketika mengungkapkan tindak kekerasan yang menimpanya.

Suara Pius, yang juga Sekjen Aliansi Demokrasi Rakyat (Aldera), sempat tersendat ketika mengulangi keterangan para penculik bahwa ia akan dilepaskan karena doa ibunya. Dalam keterangannya Pius juga mengungkapkan bahwa ia berada dalam suatu tempat di mana Sekjen DPP PDI Haryanto Taslam, dan Ketua LBHN Cabang Jakarta, Desmon J Mahesa berada.

Di tempat, yang menurut Pius diperkirakan berada di antara Jakarta-Bogor itu, terdapat enam sel. Di setiap sel terdapat sebuah kamera yang memonitor semua aktivitas semua penghuni sel.

''Saya baru bisa berkomunikasi dengan rekan-rekan di sel lain setelah seminggu bereda di tahanan. Kami biasanya berbicara sekitar pukul 02.00 dini hari - 05.00 WIB ketika Radio Mustang yang diputar terus menerus dengan keras,''tambahnya.

Menjawab pertanyaan Samsudin, Pius mengaku tiga kali melihat senjata api dan sekali melihat magazen sebuah senapan. ''Dalam kesempatan ini saya mengimbau rekan Desmon dan Haryanto Taslam untuk mengungkapkan apa yang terjadi supaya kasus serupa tidak menimpa orang lain,''sambungnya.

Merusak Nama Baik

Pius juga secara terinci menggambarkan posisi selnya dan lima sel lainnya. Seusai mendengarkan laporan Pius, Samsudin mengatakan, kasus seperti penghilangan orang ini selain melanggar HAM juga sangat merusak nama baik Indonesia.

(Bersambung ke hal. 3 kol.4-6)

Albert Hasibuan menambahkan, semua pihak harus ikut membantu mengungkapkan siapa yang melakukan penculikan-penculikan selama ini. ''Pius juga berhak atas rehabilitasi nama dan ganti rugi atas semua yang dialaminya,''tandasnya.

Pius datang ke Jakarta dijemput anggota Komnas HAM, Albert Hasibuan dan pengurus Perhimpunan Bantuan Hukum Dan Hak Asasi Manusia Indonesia (PBHI) Paskah Irianto. Di bandara, pengacara PBHI Trimedya Panjaitan ikut pula menjemput Pius.

Penjemputan Pius dilakukan berkaitan dengan janji Komnas untuk mendatangani sekaligus meminta keterangan aktivis itu selama menghilang beberapa waktu lalu. Pius yang sejak mahasiswa dikenal sebagai aktivis yang kritis terhadap berbagai pelanggaran HAM di Indonesia mendarat di bandara Cengkareng Jakarta Minggu sekitar pukul 18.30 WIB.

Sementara itu, Direktur Eksekutif PBHI Hendardi mengingatkan Komnas untuk ikut serta mengkomunikasikan hasil pengakuan Pius selama hilang kepada pejabat pemerintah. Dengan lain perkataan, Komnas harus ikut mengupayakan terciptanya situasi yang memungkinkan Pius beserta sejumlah orang hilang yang telah kembali ke rumahnya terbebas dari rasa takut.

Hendardi yang baru usai mengikuti sidang Komisi HAM PBB di Jenewa, Swiss menamnbahkan, ia sempat melakukan dialog dengan

Kepala Komisi HAM PBB, Mary Robinson yang menaruh perhatian besar pada kasus-kasus orang hilang di Indonesia. Menurut Mery, pihaknya tengah memikirkan suatu mekanisme yang memungkinkan PBB melakukan tekanan pada negara-negara di mana terjadi kasus-kasus penghilangan orang.

''Mary Robinson berpendapat, kasus orang-orang hilang atau penghilangan sejumlah orang merupakan bentuk pelanggaran HAM yang sangat berat. Besarnya perhatian dunia internasional ini hendaknya memicu pemerintah untuk lebih menghormati HAM,''tambah Hendardi.

Kuasa Hukum Andi

Sekretaris Bidang Operasional YLBHI, Munir selaku kuasa hukum Andi Arief yang masih dalam penahanan pihak Kepolisan menilai keterangan Pius Lustrilanang kepada Komnas HAM akan memberikan petunjuk kepada masyarakat siapa sebenarnya pihak di balik penghilangan sejumlah aktivis. Selain akan membantu rekannya Andi Arief dalam proses hukum.

''Meskipun untuk hal itu sulit bagi Pius untuk mengidentifikasi aparat dari institusi mana sebenarnya yang bertanggung jawab. Yang jelas persoalan di balik penghilangan adalah proses penghilangan kemerdekaan orang dalam waktu tertentu, karena itu pelaku juga dimintai pertanggungjawaban,'' ujar Munir kepada Pembaruan Senin (27/4) pagi.

Dikatakan, keterangan Pius dapat menjadi bahan bagi pihak POM ABRI untuk melakukan penyidikan terhadap siapa saja yang terlibat dalam proses penculikan itu, dalam hal ini posisi Komnas harus benar-benar independen, sebab harus disadari ABRI mengakui tidak ada perintah dari Pangab untuk penculikan.

Selain itu, jaminan dari Pangab dan Komnas terhadap mereka yang mau memberikan keterangan maupun yang dilepas dan memberikan keterangan harus tegas ada hitam diatas putih.

Lebih dari itu, keterangan Pius yang bersangkutan kasus Andi Arief, Pius bisa memberikan kesaksian dan keterangan itu akan cukup memberikan peluang bagi polisi melepas Andi Arief.

''Setelah dibebaskan, Pius, Haryanto Taslam dan Desmond harus mendapat rehabilitasi karena kondisi keluarga mereka selama ini banyak menderita. Serta nama baik keluarga tercemar karena itu pemerintah harus bertanggung jawab dan institusi yang terlibat penculikan mendapat sanksi dari POM ABRI,'' katanya.

(A-14/E-5)


The CyberNews was brought to You by the OnLine Staff
Last modified: 4/27/98