Sulawesi
Tengah
TADULAKO BULILI
(Seri 1)
Di desa suatu desa bernama Bulili hiduplah 3 orang
tadulako atau panglima perang. |
 |
Mereka
masing-masing bernama: Bantaili, Makeku dan Molove. Mereka terkenal sangat sakti dan
pemberani. Tugas utama mereka adalah menjaga keselamatan desa itu dari serangan musuh.
Pada suatu hari Raja Sigi mempersunting
seorang gadis cantik Bulili. Mereka tinggal untuk beberapa bulan di desa itu hingga gadis
itu mengandung. Pada saat itu Raja Sigi meminta ijin untuk kembali ke kerajaannya. Dengan
berat hati perempuan itu melepas suaminya.
Sepeningal Raja Sigi itu, perempuan itu
melahirkan seorang bayi. Pemuka-pemuka Bulili lalu memutuskan untuk mengirim utusan untuk
menemui suami perempuan itu. Utusannya adalah tadulako Makeku dan Bantaili.
Sesampainya di Sigi, mereka bukannya disambut
dengan ramah. Tetapi dengan sinisnya raja itu menanyakan maksud kedatangannya. Mereka pun
menguraikan maksud itu. Mereka menyampaikan bahwa mereka diutus untuk meminta padi di
lumbung untuk anak raja yang baru lahir.
Dengan congkaknya raja Sigi menghina mereka.
Ia lalu berkata pada Tadulako itu: "kalau mampu angkatlah lumbung padi di belakang
rumah." Dengan marahnya Tadulako Bantaili mengeluarkan kesaktiannya. Ia pun lalu
mampu memanggul lumbung padi besar yang dipenuhi oleh padi. Biasanya lumbung kosong saja
hanya akan bergeser kalau diangkat oleh puluhan orang.
Makeku berjalan di belakang Bantaili untuk
mengawal lumbung padi itu. Dengan sangat geram Raja Sigi memerintahkan pasukannya untuk
mengejar mereka. Pada suatu tempat, terbentanglah sebuah sungai yang sangat lebar dan
dalam. Dengan mudahnya mereka melompati sungai itu. Meskipun sambil menggendong lumbung
padi, Bantaili berhasil melompatinya tanpa ada banyak ceceran beras dari lumbung itu.
Sedangkan pasukan yang mengejar mereka tidak berani melompati sungai yang berarus deras.
Mereka akhirnya kembali ke Sigi dengan kecewa.
(Diadaptasi
secara bebas dari Drs. A, Ghani Ali dan Kawan-kawan, "Tadulako Bulili," Cerita
Rakyat Sulawesi Selatan, Jakarta: Departemen P dan K, 1981, 113-118). |